Sunday, July 20, 2014

Kehendak Allah Yang Terutama

Oleh : Pdt. Dr. Erastus Sabdono
artikel dari Warta rehobot.



Ketika Petrus dihardik oleh Tuhan Yesus karena ia tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah, Petrus diidentifikasi sebagai iblis (Mat. 16:23). Cara berpikir manusia adalah cara berpikir iblis, artinya cara berpikir hasil asuhan dunia yang ada dalam kekuasaan iblis. Banyak orang menganggap cara hidup demikian itu sebagai suatu kewajaran. Betapa sulitnya menyadarkan orang bahwa mereka sebenarnya sudah tersesat. Kehidupan wajar bagi manusia pada umumnya adalah cara berpikir yang tidak sesuai dengan Tuhan. Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa itu batu sandungan bagi Tuhan Yesus. Batu sandungan dalam teks aslinya adalah skandalon (σκάνδαλον) yang juga memiliki pengertian sesuatu yang menjatuhkan atau menghambat. Sebagai Penebus, Tuhan Yesus hendak mengambil alih segenap hidup orang percaya untuk diubah sesuai dengan kehendak-Nya. Sehingga hidup orang percaya menjadi kehidupan yang memperagakan pribadi-Nya. Tetapi cara berpikir yang salah yang menjadi penghambat perubahan itu. Tuhan hendak mengkloning setiap orang percaya menjadi “foto copy” atau duplikat-Nya. Kata foto kopi atau duplikat terdapat dalam kejadian 1:26-27 sama artinya dengan menurut rupa (tselem; םֶלֶצ) dan gambar Allah (demuth; תוּמְדּ). Karya Allah yang dirusak iblis di Eden akan diperbaiki atau dipulihkan kembali sekarang di dalam kehidupan orang percaya. Bagi mereka yang bersedia diperbaiki ulang atau dipulihkan harus bersedia diubah setting berpikirnya. Perubahan cara berpikir ini harus menjadi proyek yang sepanjang umur hidup sampai menghadap Bapa. Untuk masuk proyek ini seseorang harus menyediakan diri dengan segenap hidup dan harus bersedia meninggalkan segala sesuatu, di dalamnya yang terutama adalah cara berpikir yang salah (Luk. 14:33). Inilah yang dimaksud mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Kalau seseorang bersedia menerima pembentukan oleh Tuhan, ia dapat menjadi manusia Allah (man of God). Mereka adalah orang-orang yang mengenakan kodrat Ilahi (2 Ptr. 1:3-4). Tentu saja semua tindakan dan perbuatannya tidak bercacat di hadapan Allah. Mereka adalah orang-orang yang dapat dijadikan saudara oleh Tuhan Yesus Kristus (Rm. 8:28-29). Mereka juga orang-orang yang bisa diajak sependeritaan dengan Tuhan (Rm. 8:17), segenap hidupnya dipersembahkan bagi kepentingan Tuhan. Sehingga mereka akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kehidupan orang percaya harus menjadi cermin yang dapat merefleksikan atau menunjukkan pribadi Tuhan Yesus sendiri, dengan demikian seseorang barulah menjadi saksi Kristus. Saksi Kristus bukan melalui perkataan atau perdebatan adu argumentasi, tetapi kehidupan yang agung yang memancarkan pribadi Allah sendiri. -Solagracia-

Efektif Bagi Tuhan

Oleh : Pdt. Dr. Erastus Sabdono
artikel dari Warta Rehobot.


Perjuangan untuk mencapai perkenan Tuhan seharusnya menghiasi hidup orang percaya yang tidak dikurangi intensitasnya oleh perjuangan untuk hal lain. Mestinya inilah satu-satunya perjuangan yang harus dimiliki orang percaya. Karena perjuangan ini maka hidup digerakkan melakukan segala sesuatu. Ini bukan berarti perjuangan dalam memiliki kesehatan yang baik, studi, berkarir dan mencari nafkah menjadi kurang bergairah. Harus dimengerti bahwa perjuangan studi, karir dan mencari nafkah adalah sarana atau kendaraan untuk mengolah batin menjadi orang yang berkenan. Semua itu harus diperjuangkan sebagai bagian dari tanggungjawab dan panggilan orang percaya memperjuangkan kepentingan-Nya. Seseorang tidak akan efektif bagi Tuhan kalau tidak memiliki keahlian dalam bidang tertentu dan tidak berpotensi mendukung pekerjaan Tuhan. Jadi, segala kegiatan hidup harus dimotori oleh tujuan bagaimana menjadi pribadi yang berkenan kepada Bapa. Melalui segala perjuangan hidup maka mental seorang anak Tuhan juga bertumbuh sehingga kehidupan rohaninya juga bertumbuh. Tidak mungking orang yang tidak dewasa mental bisa dewasa rohani. Dalam hal ini yang penting adalah motivasi hidup yang dimiliki seseorang. Apakah bertendensi ke Tuhan dan Kerajaan-Nya atau ke arah yang lain. Untuk bertendensi ke Tuhan dan kerajaan-Nya seseorang harus mengalami pembaharuan pikiran terus menerus. Untuk hal ini harus disediakan waktu belajar kebenaran Firman Tuhan. Pergumulan hidup dengan segala persoalannya adalah perpustakaan kehidupan dimana seseorang dapat menemukan pembentukan kedewasaannya. Tetapi cara membacanya melalui kebenaran Firman yang dipelajari di dalam Alkitab melalui pelayanan gereja. Dalam hal ini gereja harus memberi makan domba-doma Tuhan berupa Firman yang keluar dari mulut Allah artinya kebenaran yang murni dari hati Bapa. Hanya dengan cara ini jemaat memiliki iman, sebab iman datang dari pendengaran (Rm. 10:17), juga mengalami kelahiran baru sebab seseorang dilahirkan oleh Firman (1Ptr. 1:23). Firman Tuhan juga menguduskan artinya membuat seseorang memiliki karakter Ilahi (Yoh. 17:17). Dengan menujukan hidup pada Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka masalah-masalah besar menjadi terasa kecil. Sebab tujuan memiliki kesehatan yang baik, studi, karir dan bisnis bukanlah meraih sukses dari hal tersebut tetapi pengolahan batin demi kedewasaan melalui pegumulannya. Tentu saja kalau serius mengerjakannya biasanya berhasil baik. Dalam hal ini seseorang dapat menjalani hidup seperti atlit yang berlaga tanpa beban. Tentu saja berusaha untuk menang, tetapi lebih dari kemenangan secara score, yang penting memaksimalkan sermua potensi dan keahlian. Tentu saja bisanya akan menjadi pemenang. -Solagracia-

Tuesday, May 13, 2014

Semangat Hidup dari Tuhan Yesus

Oleh : Pdt. Dr. Erastus Sabdono
artikel dari Warta rehobot.


Kenyataan yang ada sekarang ini banyak orang Kristen yang tidak siap memasuki kehidupan yang luar biasa sebagai anak-anak Allah yang memiliki Injil Kerajaan Allah. Karena mereka tidak bersedia menjadi anak-anak Allah, maka Injil tidak menjadi kabar baik yang mengubah hidup mereka. Ketidak sediaan mereka nampak dari keengganan dan kemalasan mereka belajar Injil dan tidak bersedia meninggalkan percintaan dengan dunia ini. Berkenaan dengan hal ini, dalam Injil ditunjukkan orang-orang yang tidak bersedia mengikut Tuhan Yesus sehingga kehilangan kesempatan yang sangat berharga. Diantaranya tertulis dalam Lukas 9:57-62. Mereka mau mengikut Tuhan Yesus tetapi tidak mau membayar harga pengikutannya. Banyak orang Kristen tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa mengikut Tuhan Yesus ada harganya yang sangat mahal. Mereka mau serba gratis. Memang kalau hanya beragama Kristen harganya murah dan nyaris gratis, tetapi tidak memiliki keselamatan. Sedangkan mengikut Tuhan Yesus artinya mengikuti cara hidup-Nya dan melakukan apa yang diajarkan Tuhan Yesus. Harganya sangat mahal, tetapi inilah keselamatan yang sesungguhnya. Jika tidak melakukan hal ini (mengikuti cara hidupnya dan melakukan apa yang diajarkan Tuhan Yesus), berarti menolak keselamatan. Hal ini sebenarnya sama dengan menukar hak kesulungan dengan semangkuk makanan (Ibr. 12:16-17). Banyak orang Kristen tidak menyadari hal ini, mereka berpikir bahwa hak keselamatan sudah mereka miliki dengan sendirinya dan tidak pernah bisa hilang. Mengikut Tuhan Yesus harus bersedia hidup seperti Tuhan Yesus, yaitu tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala, artinya bersedia tidak mencari kenyamanan hidup. Inilah hal tersulit yang dihadapi orang Kristen, sebab dengan mengenakan kebenaran ini maka ia mulai merasa hidup tidak wajar. Tetapi sesungguhnya inilah cara menghargai hidup. Pada umumnya manusia hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya dan mengingini apa yang orang lain miliki sesuai dengan semangat jaman. Kalau hal ini dilakukan orang yang hidup sebelum jaman anugerah atau orang di luar orang percaya, bisa dimaklumi, tetapi kalau orang percaya mengabaikannya, betapa celakanya. Semangat hidup orang percaya adalah semangat dari tempat Maha Tinggi, yaitu mengenakan gairah hidup Tuhan Yesus “tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya”. Kehidupan Tuhan Yesus adalah kehidupan yang hanya diperuntukkan bagi Allah Bapa, yaitu melakukan segala kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Orang percaya akan meletakkan kepala di langit baru dan bumi yang baru dalam Kerajaan-Nya nanti, sedangkan di bumi ini bekerja keras untuk roti yang tidak binasa (Yoh. 6:27). -Solagracia-

Kekuatan dalam Kelemahan

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono. Diambil dari warta surat Gembala. Ketika murid-murid dan orang-orang yang selama ini mengikut Tuhan Yesus dan berharap dapat mengubah nasib mereka melihat bahwa Tuhan
Yesus tunduk kepada kekuatan Roma, maka semangat mereka menjadi patah. Terus terang saja, selama ini mereka mengikut Tuhan Yesus dengan mempertaruhkan segenap hidup mereka, meninggalkan segala sesuatu karena mereka hendak mengubah nasib atau keadaan hidup mereka. Dengan ditangkapnya Tuhan Yesus, disiksa dan dihukum mati, maka mereka menjadi tawar hati dan meninggalkan Tuhan Yesus. Murid-murid yang terutama, yang selama itu ada di samping Tuhan Yesus begitu kecewanya sampai mereka bermaksud kembali ke profesi semula, diantaranya sebagai penjala ikan. Bisa dibayangkan bagaimana dengan profesi Matius sebagai pemungut cukai, tidak mudah ia dapat menduduki kembali jabatan yang pernah didudukinya. Langit hidup mereka menjadi runtuh. Kebersamaan dengan Tuhan Yesus selama tiga setengah sekejap. Mereka memandangnya seperti sebuah mimpi sangat buruk. Sulit bagi mereka menerima kenyataan itu. Apa yang mereka saksikan dan mereka alami sangat jauh dari apa yang selama ini diharapkan dan dimimpikan. Mereka benar-benar tergoncang. Hal itu terjadi sebab mereka tidak tahu rencana Allah dan kebenaran-Nya. Mereka memaksakan rencana mereka sendiri dan membangun kebenaran mereka sendiri pula. Pada dasarnya mereka tidak mengikut Tuhan Yesus, tetapi mereka bermaksud agar Tuhan Yesus mengikut mereka. Kejayaan yang mereka maksudkan dan harapkan adalah kejayaan dan kemuliaan yang berbeda dengan konsep Tuhan. Hal ini memberi pelajaran yang mahal bagi kita orang percaya sekarang ini. Inti kekristenan adalah mengenakan cara berpikir Tuhan. Ketidak berdayaan-Nya menghadapi kekuatan agama Yahudi dan Roma bukanlah sebuah kekalahan, justru itulah kekuatan. Tuhan Yesus bukan tidak sanggup membela diri dengan menurunkan malaikat dari Sorga, tetapi Ia harus sampai salib dan mati. Dengan cara itulah Ia memuliakan Allah Bapa. Itulah kekuatan. Sesuatu disebut sebagai kekuatan kalau melakukan apa yang Allah Bapa kehendaki. Walau di mata manusia adalah kelemahan dan ketidakberdayaan. Dalam kehidupan orang percaya yang benar, kita diajar untuk memberi diri mengikuti jejak Tuhan Yesus dengan mentaati kehendak-Nya. Walau untuk itu kita dianggap lemah, tidak berdaya dan bodoh. Dengan mengikuti kehendak Bapa kita bisa dianggap tidak beruntung dibanding mereka yang berani berlaku curang. Demi kebenaran kita harus berani tidak memiliki kelimpahan materi seperti mereka yang ada di jalan orang fasik. Bahkan kita harus berani tidak memiliki apa-apa demi kehidupan yang akan datang. -Solagracia-

Friday, March 28, 2014

Berbuah Dalam Ketekunan

Oleh: Pdt.Dr.Erastus Sabdono.
Disadur dari Surat Gembala warta Rehobot Persoalan yang paling penting dalam kehidupan orang percaya adalah apakah ketika menghadap Tuhan nanti ada buah-buah kehidupan yang dapat dipersembahkan kepada-Nya? Buah itu adalah melakukan dengan baik dan tekun segala sesuatu yang Tuhan inginkan. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak harus dipenuhi, sebab memang manusia diciptakan untuk melakukan kehendak-Nya. Jadi, buah di sini adalah perbuatan, perilaku dan sikap hati yang memberi kepuasan di hati Tuhan, sampai seseorang memiliki “hati melakukan kehendak-Nya”; memiliki nature melakukan kehendak Tuhan tanpa dipaksa atau ditekan oleh hukum. Inilah ciri dari anak Allah yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Selanjutnya, Tuhan memberikan kemampuan untuk bisa berbuah, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa beralasan mengapa tidak berbuah dalam kehidupannya. Dalam perumpamaan mengenai Penabur benih, dikisahkan bahwa tidak semua orang yang mendengar Firman Tuhan bisa bertumbuh dan berbuah (Luk. 8:5-15). Kelompok pertama adalah gambaran dari orang-orang yang walaupun mendengar Injil tetapi tidak pernah menjadi orang percaya (Luk. 8:12). Ini disebabkan karena kuasa antikris telah mengunci mereka, sehingga mereka tidak pernah bisa menerima pribadi Tuhan Yesus Kristus. Kelompok kedua adalah gambaran mereka yang mendengar Injil, menjadi orang Kristen tetapi tidak berani membayar harga percayanya. Pada zaman itu kalau orang berani percaya kepada Tuhan Yesus akan mengalami aniaya (Luk. 8:13). Banyak orang lebih menyelamatkan nyawanya dari pada kehilangan nyawanya. Kelompok ke tiga adalah orang-orang yang tidak mengalami aniaya, tidak menolak Tuhan Yesus, tetapi masih mencintai dunia. Mereka memang berbuah tetapi buahnya tidak matang (Luk. 8:14). Kata matang dalam teks aslinya adalah telesphoreo (τελεσφορέω) yang artinya dewasa. Jadi buah yang dihasilkan tidak dewasa. Tuhan menghendaki kedewasaan. Kehendak Tuhan harus dituruti secara mutlak. Kelompok ke empat adalah orang-orang yang mendengar Firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik; mengeluarkan buah dalam ketekunan (Luk. 8:15). Mengeluarkan buah dalam ketekunan menunjukkan bahwa untuk berbuah, seseorang harus berjuang keras. Kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dituntut untuk berbuah (Yoh. 15:1-7). Jika tidak berbuah akan dipotongnya, tetapi yang berbuah akan dibuat semakin lebat buahnya. Dalam Lukas 13:6-7 mengenai perumpamaan seorang peladang yang memiliki kebun anggur, di dalamnya terdapat pohon ara. Ketika dilihatnya pohon ara tidak berbuah, ia mengatakan bahwa percuma pohon itu tumbuh di kebunnya. Ia menghendaki agar pohon itu dikeratnya saja. Dalam perumpamaan ini Tuhan menghendaki agar setiap orang percaya berbuah yang memuaskan hati-Nya. -Solagracia-

Wednesday, July 10, 2013

Suara Kebenaran 35: Iman yang Memindahkan Gunung

http://www.youtube.com/embed/PZ_DtwSjclY

Suara Kebenaran 34: Puas Diri

http://www.youtube.com/embed/J6LActJXUjE

Suara Kebenaran 33: Perhitungan Upah

http://www.youtube.com/embed/mz0t5dtqsuY

Suara Kebenaran 32: Yang Terdahulu Menjadi yang Terakhir

http://www.youtube.com/embed/C4D12OUu564

Suara Kebenaran 31: Berasal dari Bapa

http://www.youtube.com/embed/CIl9w-3GFzI

Suara Kebenaran 30: Dibawa kepada Kualitas yang Tinggi

http://www.youtube.com/embed/7dJqHxbPFBY

Suara Kebenaran 29: Berharga di Mata Tuhan

http://www.youtube.com/embed/_qRK3gWNtic

Suara Kebenaran 28: Gambar dan Rupa Allah

http://www.youtube.com/embed/JHaixPfwODc

Friday, June 7, 2013

Mukjizat Terbesar

By: Wignyo Tanto

Sebenarnya mukjizat terbesar adalah ketika manusia yang tadinya tidak mengenal Kebenaran lalu mulai mengenal, belajar, lalu mengerti, sehingga terjadi perubahan pola pikir.

Perubahan pola pikir ini akan memicu perubahan-perub­ahan yang lain, perubahan gaya hidup, perubahan tingkah laku, perubahan perasaan, dan perubahan sikap terhadap hidup ini sebagai manusia ciptaan Tuhan.

Inilah yang dimaksudkan oleh Paulus dengan Metamorfousthe (μεταμορφουσθε)­ di Roma 12:2, yaitu pembaruan cara berpikir.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Roma 12:2

Wednesday, April 3, 2013

Menjadi Orang yang Diharapkan Tuhan

Oleh : Pdt.Dr. Erastus Sabdono

Diambil dari warta Rehobot.


Ciri dan ukuran seseorang mengasihi Tuhan dengan benar adalah dari dalam dirinya ada gejolak sungguh-sungguh merindukan kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh Allah. Ini merupakan kebutuhan yang penting dan mendesak dari segala kebutuhan. Ini berarti seseorang yang menyatakan mengasihi Tuhan harus mengejar kekudusan seperti kekudusanNya atau kesempurnaan Bapa (Mat. 5:48). Hal ini harus merupakan perjuangan yang tiada henti sampai menutup mata. Sebuah perjuangan yang tidak ringan, sebab melibatkan seluruh kehidupannya. Inilah sebenarnya kunci kehidupan yang terpenting dalam kekristenan yang harus dimiliki setiap orang yang sudah diselamatkan.
Orang-orang yang mengasihi Tuhan memiliki hati yang takut akan Tuhan. Tentu takut karena mengasihi dan menghormati Tuhan. Oleh sebab itu yang harus paling dipersoalkan dalam hidup orang percaya setiap hari adalah "apakah kita benar-benar mau tunduk kepada Tuhan". Ketertundukan disini diukur dari seberapa kita bersedia melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Seseorang tidak bisa dikatakan menghormati bila tidak melakukan keinginan pribadi yang kepadanya dirinya tunduk. Dalam ketertundukan tersebut, seseorang rela melepaskan segala sesuatu demi kepentinganNya. Ia akan bersungguh-sungguh serius bergumul untuk menemukan tempat dimana ia dapat mengabdi melayani Tuhan. Ia juga akan dapat memahami apa yang dianggapnya sebagai kepentinganNya, sebab banyak kegiatan gereja yang dianggap sebagai kepentingan Tuhan, padahal kepentingan pribadi manusia.
Perlu diingatkan bahwa setiap orang diciptakan Tuhan dengan keadaan yang sangat khusus. Allah merancang dengan teliti dan memberikan kecerdasanNya yang sempurna agar kita melakukan kehendakNya. Jadi setiap orang di dalam hidupnya pasti mengandung, memuat atau memikul rencana Allah yang besar. Kalau Tuhan tidak memakai seseorang sebagai alatNya, sebab ia tidak pantas untuk itu, berarti ia menjadikan dirinya sampah abadi. Seseorang yang tidak melayani Tuhan berarti tidak tunduk kepadaNya. Melayani Tuhan bukan berarti aktif di gereja, tetapi menjadi berkat bagi orang di sekitarnya. Menjadi berkat artinya melalui hidup seorang anak Tuhan, orang lain bertumbuh dalam Tuhan dan diselamatkan. Untuk ini harus ada sesuatu yang dilakukan di bawah komandoNya. Untuk menangkap komando Tuhan, seseorang harus mengerti kebenaran Firman Tuhan agar memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah.
Memperjuangkan rencana Allah harus dilakukan tiada henti, sampai waktu yang akan menghentikannya.

Tuesday, February 26, 2013

Cepat Bertobat dan Memperbaiki Diri

Oleh : Pdt.Dr. Erastus Sabdono

Waktu sedemikian cepatnya berlalu dan kita akan memasuki tahun yang baru lagi. Kalau kita ambil waktu sejenak dan berpikir, sesungguhnya apa yang baru? Pengkotbah berkata, "Tak ada yang baru di bawah matahari" (Pkh. 1:9). Matahari tetap terbit di timur dan terbenam di sebelah barat, bumi tetap berputar pada porosnya mengelilingi matahari dan bulan tetap mengelilingi bumi. Rutinitas semesta. Meskipun demikian, kita tetap bergerak dalam perjalanan di dimensi waktu. Waktu yang selalu baru bagi kita, dan kita dapat bergerak mundur. Dengan berubahnya angka tahun dalam kalender kita, yang baru adalah kebaruan itu sendiri. Kasih setia Tuhan selalu baru tiap pagi (Rat. 3:23), demikian pula harapan dan masalah. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia akan memakai segala kejadian untuk penyempurnaan iman kita.
Semua pengalaman hidup kita, yang menyenangkan maunpun menyakitkan, merupakan sarana pembentukan pribadi kita sekaligus pengumpulan berkat abadi berupa kekayaan dalam Kerajaan Surga. Inilah pengharapan yang bernilai kekal yang membuat hidup kita semakin bergairah dan selalu teringat akan prestasi kehidupan yang tertinggi dan termulia yang dapat diraih setiap individu yaitu kesucian hidup. Mari kita terus memperhatikan hal ini. Dunia hari ini telah membuat manusia dipenuhi oleh berbagai pengharapan terutama pada kekayaan duniawi dan segala kesenangannya sehingga gairah untuk hidup dalam kesucian telah tersingkir oleh berbagai harapan dan cita-cita fana. Dengan memiliki watak ilahi, selera hidup kita menjadi selaras dengan Tuhan. Dengan demikian kesucian hidup kita akan tampak bukan pada cara hidup kita yang kasat mata secara lahiriah, seperti patuh atau tunduk kepada hukum atau peraturan, melainkan pada kelemahlembutan dan kasih tulus yang kita pancarkan. Bagaimana kesucian hidup seseorang akan terpancar dari seluruh sikap hidupnya, seluruh gerak tubuh dan perkataannya. Seseorang tidak mudah menyembunyikan watak aslinya. Tanpa harus memperhatikan sikap hidupnya setiap hari dalam waktu yang panjang, dari beberapa gejala yang ditampilkan dalam pergaulan dan pernyataan-pernyataan mulutnya pun sudah tampak kualitas kesuciannya. Untuk mengalami pertumbuhan kesucian yang baik, kita harus memiliki kerinduan yang kuat untuk memahami semua yang dikehendaki Bapa atas hidup kita, lalu berusaha memenuhi apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukan. Tidak ada yang sulit kalau sudah dilakukan dan dibiasakan. Ini akan menggerakkan kita memperhatikan langkah kita setiap detik, menit dan jam, apakah segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan kehendakNya? Mari bertobat jika berbuat salah dan memperbaikinya. Jadikan melakukan kehendak Tuhan sebagai kebiasaan, sampai kita tidak usah memaksa diri. Kiranya ini menjadi renungan untuk kita semakin lebih baik di tahun yang sesaat lagi berganti.

Wednesday, January 30, 2013

Menjadi Seorang yang Mempersiapkan Diri

Oleh : Pdt. Dr. Erastus Sabdono 

Tidak terasa kita sudah di awal tahun 2013. Kita mengakui bahwa kehidupan ini bisa berlangsung karena kehadiran Tuhan di dalamnya. Senantiasa kita diingatkan akan kehidupan yang akan datang. Kalau demi hal-hal yang tidak pasti tersebut kita bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya, mengapa untuk hal yang pasti kita akan alami, tidak kita persiapkan diri lebih serius? Ingatlah bahwa kuasa kegelapan berusaha membuat manusia melupakan realitas kematian ini. Berbagai filosofi hidup yang salah disuntikkan ke dalam pikiran melalui berbagai media, agar manusia tidak mempedulikan realitas tersebut. Demikianlah kenyataannya, bahwa banyak orang kini menggulirkan hari hidupnya tanpa kesadaran sama sekali bahwa hari hidupnya tersebut bisa berhenti setiap saat. Mereka bersikap seakan-akan perjalanan hidup ini akan berlangsung tiada akhir. Mereka berpikir kematian bukan bagian hidup mereka. Betapa malangnya. Kenyataan yang bisa dilihat dengan jelas, banyak orang yang hanyut dan tenggelam dengan berbagai kegiatan, kesibukan, masalah dan lain sebagainya sedang dibawa ke pembantaian abadi atau dipersiapkan menjadi sampah kekal.
Karena kematian adalah realitas yang tidak pernah diprediksi kapan terjadinya, maka persiapan harus dilakukan sejak sekarang. Ya, selalu sekarang. Untuk ini pertobatan harus dilakukan sekarang, tiap hari. Sepanjang tahun 2012, jangan-jangan kita tidak melakukan pertobatan yang serius sampai akhirnya mungkin kita tidak menyadari kesalahan/dosa yang terus menerus kita lakukan. Hari ini kita diberi kesempatan untuk mempersiapkannya kembali, berjaga-jaga dengan doa yang tak berkeputusan, suatu relasi yang dibangun dengan Tuhan. Banyak hal yang bisa diabaikan dan dianggap tidak penting. Yang tidak penting harus bisa disingkirkan, tetapi persiapan menyongsong kematian tidak boleh ditunda. Ini harus dianggap penting dan darurat. Kita harus selalu berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir kita hidup. Besok tidak ada kesempatan lagi. Jadi setiap kali disebut hari ini, berarti kesempatan sangat berharga untuk membenahi diri. Bila kita membiasakan diri memiliki sikap seperti ini, maka barulah kita pahami dan dapat melakukan apa yang dimaksud dengan mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaranNya (Mat. 6:33).
Karena rahmat Allah telah melahirkan kita kembali kepada suatu hidup yang penuh harapan, selalu ada kesempatan bagi setiap orang yang mau serius mempersiapkan diri menjadikannya sebuah pengharapan yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu yang tersimpan di Sorga bagi kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia akan memakai segala kejadian untuk penyempurnaan iman kita. Semua pengalaman hidup kita, yang menyenangkan maupun menyakitkan, merupakan sarana pembentukan pribadi kita sekaligus pengumpulan berkat abadi berupa kekayaan dalam Kerajaan Sorga. Inilah pengharapan yang bernilai kekal yang membuat kita semakin bergairah. Mari selalu persiapkan diri dengan terus mengasah hati nurani kita setiap saat. Sehingga ketika hari itu tiba, kita bisa menjadi orang yang diharapkan Tuhan.

Tuhan Belum Dipuaskan

Oleh : Pdt. Dr. Erastus Sabdono

Banyak orang Kristen yang berpendapat, kalau sudah tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar moral dan rajin pergi ke gereja, berarti sudah memiliki pertobatan yang benar. Mereka juga beranggapan kalau sudah bisa mengikuti liturgi, memuji nama Tuhan dan melakukan kegiatan gereja berarti mereka sudah memuaskan hati Tuhan. Mereka juga berpikir kalau berani percaya kepada kuasa dan kebaikan Tuhan, berarti Tuhan dimuliakan dan mereka merasa sudah di pihak Tuhan. Setelah itu tidak ada lagi yang perlu digumuli secara serius kecuali mempertahankan kehidupan yang tidak bertentangan dengan moral dan rajin ke gereja. Pandangan hidup ini sejatinya masih meleset dari kebenaran. Lebih celaka lagi kalau berurusan dengan Tuhan hanya karena mau mengurusi masalah pemenuhan kebutuhan jasmani.

Sejatinya Tuhan belum merasa puas kalau hanya berpindah dari agama lain atau tidak melakukan praktek perdukunan. Seakan-akan Tuhan membutuhkan pengikut untuk menyenangkan hatiNya. Padahal langkah orang Kristen seperti itu hanya merupakan usaha memanfaatkan dan memanipulasi Allah. Mereka masih berdiri di pihaknya sendiri, bukan di pihak Tuhan. Mereka masih egois, hidup untuk dirinya sendiri, tidak mengabdi kepada Tuhan dan belum menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang harus dipatuhi secara mutlak. Sebenarnya Tuhan mereka adalah perut mereka sendiri (Flp. 3:18-21). Mereka masih berstatus sebagai musuh salib Kristus yang artinya memiliki hidup belum sepadan atau belum sesuai dengan maksud salib Tuhan diadakan. Salib diadakan agar manusia hidup sebagai warga Kerajaan Sorga yang baik, yaitu hidup dalam kehendak Tuhan. Dalam hal ini kita jumpai banyak orang Kristen yang tidak bertumbuh. Kalau pikiran mereka tidak dibongkar oleh Firman Tuhan, mereka tidak akan pernah mengenali keadaan mereka yang sebenarnya belum menjadi warga Kerajaan Sorga yang baik. Mereka dikunci Iblis dalam kebodohan sehingga mereka tidak pernah menjadi anak Allah. Ingat, bahwa yang menjadi anak Allah adalah mereka yang telah ditebus dari cara hidup yang sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang (1 Ptr. 1:1-17). Menjadi orang baik yang bergereja belum berarti sudah ditebus dari cara hidup yang sia-sia. Cara hidup yang sia-sia adalah cara hidup yang hanya menuruti kehendaknya sendiri, bukan kehendak Allah. Betapa malangnya orang-orang Kristen yang merasa telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus padahal mereka menolak menjadi anak tebusan. Menjadi anak tebusan berarti bersedia hidup dengan cara hidup yang baru. Cara hidup yang baru itu adalah hidup dalam kehendak Tuhan.

Wednesday, December 12, 2012

Natal Lagi

Pdt.Bigman Sirait.
 
Desember, berujung pada Natal, dan bersambung pada Tahun baru. Tiap tahun ini menjadi suasana tersendiri dalam perjalanan kehidupan umat Kristen. Natal mengingatkan kita akan kerelaan Yesus Kristus mengosongkan diri Nya, untuk menjadi sama dengan manusia yang terkurung dalam ruang dan waktu. Melepas atribut ke Illahian Nya, dan menjadi manusia, sekaligus Allah yang mengosongkan diri. Sebuah pergumulan teologis tersendiri, pemaknaan yang sangat dalam, itulah Natal. Semangat natal sudah semestinya mewarnai, bahkan mendominasi, kehidupan orang percaya. Ya, tiap kali Natal kita diingatkan untuk merenung diri, apakah kita sudah hidup sesuai dengan apa yang menjadi kehendak Allah. Apakah kita sudah hidup sesuai dengan tujuan natal? 
Orang percaya digugat untuk berani melepas kecintaan pada diri, dengan belajar mencintai sesama yang tersisihkan dari panggung kehidupan. Ada terlalu banyak hal yang bisa diperbuat dalam mengisi Natal. Hanya saja, sayang, juga ada terlalu banyak acara yang membuat kebanyakan kita terlena pada kenikmatan diri. Acara yang sudah pasti bernuansa pesta, menerima kenyamanan, dan bukan berbagi diri. Tak ada yang salah dengan suasana ini, tetapi jadi masalah besar ketika kita terjebak dan berhenti disana. Lalu berpikir kita sudah natalan. Jelas tidak. Natalan adalah kesadaran dan keberanian untuk berbagi. Semangat yang harus diwujudkan, dan sangat mengena dengan situasi kekinian dimana cinta diri semakin menguasai manusia modern. Seharusnyalah semangat natal bisa memberikan secercah harapan kebersamaan, kepedulian, dan kerelaan untuk hidup berbagi. 
Natal lagi, adalah tema untuk sebuah perenungan yang coba mengingatkan diri, jangan-jangan ini hanya sebuah pengulangan dalam perputaran waktu. Tak ada yang baru, baik dalam paradigma, apalagi tindakan yang semestinya. Natal lagi, agar orang percaya tak hanya mengulang, sebaliknya, terus mencipta pembaharuan kehidupan. Membuat perubahan demi perubahan menuju hidup yang lebih baik, beradab, dan beriman sungguh. Mampu mengaplikasi iman dalam keseharian, sehingga makna natal itu mendarap dikehidupan. Natal, adalah kesempatan bagi orang lain merasakan artinya sebuah penyangkalan diri. Seperti Kristus menyagkali ke Illahian Nya dengan menjadi manusia, begitulah kita menyangkali diri dengan menggantungkan keegoan diri. Sebuah semangat natal yang bukan sekedar natal lagi. Sementara tahun baru, yang menanti jangan melunturkan semangat natal itu, tetapi sebaliknya, menjadi perpacuan waktu untuk terus menerus menjadi semakin baru. Sehingga dengan semangat natal, tercipta perubahan menuju hidup yang lebih baik dan benar. 
Setiap tahun baru, berarti waktu mengkalkulasi apakah semangat natal mencapai titik maksimal dalam mencipta perubahan? Dengan demikian, akan tercipta sebuah perputaran yang akan terus menerus memperbaharui apa yang ada. Sehingga kehidupan umat tak terjebak pada comfort zona, melainkan terus menerus bergerak menuju titik puncak pengabdian. Bukankah hal ini akan membuat hidup menjadi amat sangat bermakna. Dan juga, akan membuat hidup menjadi lebih hidup karena sangat menghidupkan. Natal tak boleh hanya menjadi natal lagi, natal harus menjadi natal yang terus menerus mengingatkan semangat peniadaan diri demi pengabdian kepada yang Illahi. Hidup dibumi untuk berbagi, mengangkat harkat hidup orang yang terpuruk. Terpuruk karena berbagai hal, baik ekonomi, moral, kesehatan, bahkan mereka yang patah dan kehilangan semangat hidup. Natal harus menyentuh semuanya, membuat orang kuat diposisinya masing-masing. 
Tahun baru, harus diingat, bahwa yang baru itu bukan soal sandang, pangan, papan, melainkan semangat dan arah kehidupan. Dunia memang sangat menggoda dengan tawaran kenikmatannya. Natal dan tahun baru telah dijadikan tahun menampuk rejeki oleh dunia industri. Sebuah usaha legal, namun harus disikapi dengan kritis dan komprehensif, agar umat tak sekedar menjadi ladang tempat mendulang rejeki. Selamat natal, selamat berbagi, dan memberi hidup. Selamat tahun baru, selamat berparadigma baru, tentang makna hidup yang berbagi. Tuhan memberkati

Sunday, December 9, 2012

Winning the Battle

by Joyce Meyer

One thing I’ve learned over the years is that the more intimate we are with Him, the more powerful our lives will be. That’s because we begin to resemble and act like those we spend time with. So, if we “hang out” with Christ, we will eventually become more like Christ. The trouble is many of us don’t spend a whole lot of time with Him.
Intimacy Takes Time—and Truth

It’s seems like so many people are afraid to make time to get to know Him, to study His character. Or we’re scared to seek wisdom and guidance from Him because of what we think He might tell us. It looks as if we’re terrified of simply being with Him. And so that kind of power—the kind that makes the devil nervous when we wake up in the morning—often doesn’t develop very much in our lives.

God’s Word tells us that the truth will make us free. And in the book of Psalms, it says that David sought one thing of the Lord and basically, that was time with Him.

So, to develop intimacy that cultivates power with God, we have to face the truth that God reveals to us about ourselves. We must get a hold on our thoughts—thoughts about ourselves, our past or future, even thoughts about God. God loves us very much, but He is not willing to leave us in our mess. He is always ready and waiting to change us from the inside out.
“ He is always ready and waiting to change us from the inside out. ”

It takes time for that to happen because we first need to be able to see the truth about ourselves, and many times, that is the hardest part of growing because we don’t like what we see. We may pray for God to change our circumstances, but we need to be able to face the fact that He wants to change us—regardless of the circumstances. So many times the Holy Spirit will reveal things that we just don’t want to see about ourselves. But remember, the truth will set us free! So don’t be afraid to change; be more afraid of staying the same!
How God Really Sees You

But God is not mad at us. If you’re a parent just think of this: Can you love any of your children more than you do right now? Do you still want to see changes in their behavior? Well, it’s the same way with our heavenly Father. He loves us—period. He loves us now as much as He ever will. That will not change. But He still wants to see us grow and mature and experience the best He has planned for us.

God really does love us, and He always has our best interest in mind. The more we trust Him, the more we’ll want to spend time with Him. The more time we spend with Him, the more we change and the more His power develops in our lives. And the more powerful our lives are, the more nervous the devil will be when we open our eyes and get out of bed in the morning!

So, schedule a few private meetings with God. Talk to Him about your problems. Face the truth He reveals to you about yourself. Trust that He is always working for you to live an abundant, fruitful, powerful life!

Wednesday, December 5, 2012

Mempersiapkan diri untuk Hidup Kekal

Wignyo Tanto (from : Facebook)
Persiapan akan suatu pesta pernikahan itu luar biasa. Biasanya dipersiapkan selama 1 tahun dan melibatkan banyak pihak, baik keluarga pria maupun wanita dan bahkan teman-teman juga. Persiapan yang cukup lama yang memakan waktu dan biaya cukup besar ini hanyalah untuk menyelenggarakan pesta yang berlangsung 2 jam saja. Bayangkan, pesta 2 jam dipersiapkan selama 1 tahun, hebat bukan?

Nah, bagaimana persiapan kita selama hidup 70 tahun ini untuk menyongsong pesta di kekekalan yang durasinya tak terhingga, yaitu selama-lamanya.

Sayangnya pengertian inipun belum tentu menggerakkan seseorang untuk berubah dan serius menginvestasikan seluruh hidupnya di Bumi ini untuk hidup selamanya di Bumi yang baru, yaitu di Surga nanti.

Anak Allah hidup di dunia ini cuma satu tujuannya, mempersiapkan diri untuk hidup kekal.

Wahyu 21:1-4

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.

Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.

Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."

Thursday, November 29, 2012

Hidup Yang Bertanggung Jawab

Oleh : Wignyo Tanto (di ambil dari status facebook)
 Tuhan itu baik, itu pasti, justru kerena Tuhan baik, maka Dia tidak akan memanjakan manusia secara sembarangan. Dia pasti lebih mengutamakan untuk mendidik karakter manusia daripada mengabulkan setiap permintaan manusia yang tidak dewasa.

Justru manusia yang kekanak-kanakan lah yang selalu minta kepada Tuhan hal-hal yang hanya akan menyenangkan pihak manusia. Sungguh bodoh jika manusia berpikir bahwa Tuhan pasti memberi segala sesuatu yang manusia minta, Tuhan itu baik, jika permintaan itu tidak ada gunanya, bahkan akan mengakibatkan manusia malas, maka tentu saja tidak akan dikabulkan. Atau jika permintaan itu berbahaya, akan membuat sombong, maka tentu juga tidak dikabulkan.

Manusia yang tidak dewasa akan minta hal-hal yang tidak berhubungan dengan kekekalan, seperti kekayaan, harta, rumah, mobil, pekerjaan, jodoh, bahkan tas yang mahal, dan lain-lain, yang untuk kebutuhan duniawi saja.

Ini sebenarnya tidak bertanggung jawab dan sangat tidak dewasa. Kalau seseorang mau punya uang ya harus bekerja keras, kalau mau sehat ya jaga kesehatan, ubah pola hidup, kalau mau punya jodoh ya harus punya kepribadian yang menarik. Bukannya mengharapkan mukjizat agar segalanya mudah. Orang-orang yang tidak dewasa ini akan berpikir seakan-akan selalu ada promosi dari Surga.

Anak-anak Tuhan adalah manusia yang sangat menghormati dan mengasihi Tuhan sebagai Bapa kita. Anak-anak Tuhan pasti hidup bertanggung jawab dalam segala hal agar Tuhan senang, bukan sebaliknya. Hanya manusia yang dewasa rohaninya yang bisa menyenangkan hati Bapa di Surga.

1 Korintus 13:11
Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

Sunday, November 25, 2012

Free Will (Kehendak Bebas)


Oleh:  Pdt.Suryadi.

Salah satu sifat-ilahi yang diberikan Allah bagi manusia adalah “Kehendak Bebas”.
Anugrah Allah mengenai “Kehendak Bebas” bagi manusia ini secara implisit disaksikan di dalam Kitab Kejadian, tt Kisah Penciptaan:
“Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara d

an atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." aka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kejadian 1:26-27).

Manusia diciptakan Allah menurut “gambar dan rupa Allah”, ini bukan dalam artian secara jasmaniah dan phisik, tetapi dalam hal sifat-sifat Ilahi. Artinya, berbagai sifat-sifat Allah, diantaranya: KASIH, KUASA, KUDUS, MULIA, BAIK & KEHENDAK BEBAS telah diberikan kepada umat manusia.

Karena itulah, keberadaan manusia tidak sama dengan mesin atau robot (yang tidak mempunyai kemampuan berkehendak dan mengambil keputusan), melainkan bisa “berkehendak bebas” untuk memilih dan bertindak apa pun juga yang diinginkannya. Manusia memiliki kemampuan untuk menimbang, memilih, berkata, dan melakukan apa saja yang menjadi keputusan hidupnya.

Pemberian Tuhan bagi manusia berupa “Kehendak Bebas” itu, tentu juga disertai dengan anugrah “Akal Budi”, “Hati Nurani” & “Kondisi Spiritual”. Sehingga pelaksanaan & pemanfaatan “Kehendak Bebas” manusia itu semestinya tidak berdiri sendiri, tetapi juga dengan pertimbangan-pertimbangan akal budi, hati nurani, dan keimanannya kepada Allah. Dan karena manusia diciptakan seturut “gambar dan rupa Allah”, itu juga berarti manusia bertanggung jawab untuk meneladani/melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Allah. Allah yang Mahakuasa, Mahakasih, telah menggunakan kuasaNya itu untuk menciptakan kehidupan, memelihara manusia dan memberkati ciptaanNya. Maka demikianlah seharusnya manusia menggunakan “kehendak bebas”nya itu untuk menciptakan kehidupan, berkarya kebaikan, kuasanya untuk mengasihi, dan menyatakan sifat-sifat Allah & pekerjaanNya dalam memberkati manusia.

SAYANG SEKALI, BANYAK ORANG YANG SETELAH DIBERIKAN “FREE WILL” LEBIH MENGAGUNG-AGUNGKAN “FREE WILL” ITU SENDIRI DARIPADA MENGAGUNGKAN PRIBADI SANG PEMBERI, YAKNI ALLAH, PENCIPTA LANGIT & BUMI.

Sayang sekali bahwa manusia setelah diciptakan Allah sebagai “gambar dan rupa Allah” itu, telah menyalah-gunakan pemberian Allah untuk berbuat dosa, yaitu: tidak percaya, melawan dan menentang Allah. Manusia bukannya bersyukur kepada Tuhan, beribadah dan berbakti kepada Tuhan, tetapi (sebagaimana disaksikan di Kejadian 3) telah memutuskan untuk mengikuti bujukan dan tipu daya “ular”, sehingga telah melanggar perintah yang ditetapkan oleh TUHAN. Itulah yang dinaman DOSA. Kemampuan (kuasa) dan kehendak bebas yang Allah berikan kepada manusia, telah digunakan secara keliru untuk berbuat menentang dan melawan Allah. Manusia telah mengartikan dan menerapkan karunia Allah berupa “kehendak bebas” dengan berbuat sekehendak hatinya, merusak, mengganggu, membunuh sesama manusia, melawan Tuhan dan melakukan berbagai kejahatan. Dan karena dosanya inilah “gambar dan rupa Allah” yang semula begitu mulia telah menjadi rusak, manusia menjadi hamba-hamba dosa. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).

“Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” (Yohanes 8:34).

Dalam situasi yang begitu buruk itulah, maka Tuhan berfirman kepada manusia, memberikan Alkitab, agar manusia kembali kepada citranya yang semua, yaitu tidak lagi diperhamba oleh dosa, tetapi dimerdekakan dari perhambaan dosa. Karena itulah Allah selain berfirman melalui para nabi-nabiNya, tetapi kemudian mengutus Yesus Kristus, Sang Firman Allah yang sejati dan kekal, datang ke dunia ini, dalam rangka untuk memerdekakan manusia dari perhambaan dosa (yang membawa kematian):

“Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu….Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." (Yohanes 8:31-32, 36).

Karya kasih Tuhan untuk memerdekakan manusia dari perhambaan dosa itu dengan tujuan pokok:

1) MENUSIA MENGALAMI HIDUP KEKAL:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23)

(2) MANUSIA YANG PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS, MENJADI SERUPA DENGAN “GAMBAR ANAK ALLAH YANG TUNGGAL (SERUPA DENGAN YESUS KRISTUS):
“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8:29-30).

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus..” (Filipi 2:5).

(3) MEMULIAKAN ALLAH DENGAN CARA BERBUAH LEBAT

“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8).

RANGKUMAN:
Manusia mempunyai “Kehendak Bebas”. “Kehendak Bebas” ini adalah anugrah kasih Tuhan baginya. Tetapi sayangnya, “kehendak bebas” ini telah digunakan dengan sebebas-bebasnya, tanpa batas, dan secara salah untuk berbuat dosa dan melawan Allah. Penggunaan “Kehendak Bebas” seperti ini tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Akibatnya manusia telah menjadi hamba dosa. “Gambar dan rupa Allah” dalam diri manusia yang semula mulia, telah menjadi rusak, dan klimaksnya: akibat dosa adalah maut (kematian kekal yang mengerikan).

TETAPI ALLAH TELAH MENGUTUS YESUS KRISTUS, SANG FIRMAN ALLAH SEJATI, UNTUK MEMERDEKAKAN MANUSIA DARI PERHAMBAAN DOSA DAN DARI MAUT, AGAR MANUSIA YANG PERCAYA MEMPEROLEH HIDUP YANG KEKAL.
SETELAH MANUSIA DISELAMATKAN, HIDUPNYA DIPANGGIL UNTUK MEMULIAKAN & MENGASIHI TUHAN, DENGAN CARA MENAATI PERINTAH ALLAH.

JADI BAGI UMAT KRISTEN: KEHENDAK BEBAS YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH SETELAH PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS, HARUS DIGUNAKAN SECARA BERTANGGUNG JAWAB. DENGAN KEHENDAK BEBASNYA ITU, UMAT KRISTEN TELAH DIPANGGIL MENJADI “SERUPA DENGAN YESUS KRISTUS” (MEMPUNYAI & MENAMPAKKAN KARAKTER KRISTUS) dan karena itu umat Kristen WAJIB MENJADI SAKSI KRISTUS DI TENGAH DUNIA INI, sebagai realisasi penggunaan KEHENDAK BEBAS-nya.

Adanya “kehendak bebas” dalam diri manusia, tidak otomatis memberikan hak kepada tiap orang untuk berbuat sebebas-bebasnya, dan juga berbuat jahat terhadap sesamanya. Pemanfaatan “kehendak bebas” dengan sebebas-bebasnya untuk berbuat jahat, hakikatnya adalah DOSA. Kiranya kita, umat Tuhan yang telah diterangi oleh Firman Allah, memilih/memutuskan untuk menggunakan kehendak bebas kita dalam menjalani kehidupan yang taat kepada Tuhan, dan menjadi saksi Kristus. AMIN !.

Thursday, November 1, 2012

Kasih Yesus Bagi Kita

Ciptaan. Pdt.Kristianus Freddy

Yesus Oh Yesus
Kaulah Tuhanku
Mulialah Nama Mu
Dahsyat karya Mu
Kau Datang ke dunia

Kau mengasihi aku
Orang berdosa untuk di selamatkan
Kau korbankan diri Mu, disalib hina
Demi umat manusia

Reff:

Oh Yesus siapakah aku ini
Sehingga berharga dimata Mu
Ku mau menyenangkan Mu di hidup ini
Sepanjang umur hidupku
Sampai akhir hayatku

Thursday, October 4, 2012

Dua Jenis Kiamat



From: Renungan harian Truth

Banyak orang tidak mengerti bahwa ada dua jenis kiamat, kiamat secara umum yaitu kiamatnya dunia dimana sejarah dunia diakhiri, tetapi juga ada kiamat khusus, yaitu kiamat pribadi dimana seseorang menghembuskan nafas yang terakhir. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kedatangan-Nya seperti pencuri, ini berarti tidak ada seorang pun manusia yang tahu kapan hari kedatangan-Nya. Itulah sebabnya setiap orang harus berjaga-jaga. Harus diingat bahwa hari kiamat bukan hanya hari kedatangan-Nya saja, tetapi juga ketika seseorang menghembuskan nafas terakhir. Dalam hal ini umumnya masing-masing orang memiliki hari kiamat yang berbeda. Biasanya orang hanya melihat kiamat secara umum tetapi tidak memberi perhatian pada realitas kiamat yang lain.
Kuasa kegelapan akan berusaha untuk menutupi fakta ini agar seseorang tidak memiliki sikap berjaga-jaga. Inilah yang terjadi dalam kehidupan hampir semua orang, dalam dirinya mereka berpikir, berhubung hari kiamat (kedatangan Tuhan) masih jauh, maka ia tidak berjaga-jaga Ia tidak sadar bahwa ada kiamatnya sendiri yang bisa menghampirinya setiap saat (Luk. 12:20; 16:22-23). Betapa mengerikannya kalau seseorang tidak menyadari realita hari kiamatnya. Baginya kedatangan Tuhan seperti jerat (Luk. 21:34). Hal ini terjadi atas mereka yang hidup dalam kesenangannya sendiri bukan kesukaan Tuhan. Jika seseorang selalu ada dalam suasana tidak memiliki sikap berjaga-jaga seperti ini, maka ia tidak pernah siap pada hari kedatangan Tuhan dan tidak pernah siap menyongsong hari terakhirnya di bumi sebelum ia mengembuskan nafas terakhir.
Di lain pihak yang harus diwaspadai Iblis dengan kecerdikannya membuat seseorang menjadi lemah atau rapuh. Manusia adalah makhluk kompleks. Di dalam dirinya ada jiwa yang tidak sekokoh beton atau sekeras baja. Pada umumnya manusia bisa tidak stabil, ada saat-saat dimana jiwa menjadi lemah. Lemah di sini maksudnya mudah berbuat salah. Dalam 1 Petrus 1:14 disebut sebagai “pada waktu kebodohan”. Dalam teks bahasa Inggris teks ini diterjemahkan in your ignorence. Dalam teks Yunaninya adalah agnoia (ἀγνοίᾳ) yang artinya keadaan yang tidak dapat dimaafkan. Ini menunjuk keadaan bahaya. Pada saat-saat tertentu seseorang ada dalam situasi yang berbahaya. Situasi saat itu adalah situasi yang rentan. Iblis cakap membawa seseorang dalam keadaan bahaya seperti ini. Itu lah sebabnya kita harus serius tidak membawa diri kita kepada bahaya, sebab kita tidak tahu kapan kiamat kita masing-masing. Adalah bijaksana kalau kita berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir kita.
Tidak ada seorangpun yang kebal terhadap hari kiamat,
Karena itu berjaga-jagalah senantiasa

Thursday, September 27, 2012

Jika Jiwaku Berdoa ( KJ. 460)

Syair: Leer mij, Heer, als in gebeden, P. I. Moeton,
Terjemahan: I. S. Kijne (1899 – 1970) dengan perubahan,
Lagu: Anni F. Harrison

do = f
4 ketuk


Jika jiwaku berdoa
kepadaMu, Tuhanku,
ajar aku t’rima saja
pemberian tanganMu
dan mengaku s’perti Yesus
di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.

 Apa juga yang Kautimbang
baik untuk hidupku,
biar aku pun setuju
dengan maksud hikmatMu,
menghayati dan percaya,
walau hatiku lemah:
Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.

 Aku cari penghiburan
hanya dalam kasihMu.
Dalam susah Dikau saja
perlindungan hidupku.
‘Ku mengaku, s’perti Yesus
di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku Bapa,
kehendakMu jadilah.

Thursday, September 13, 2012

Penghakiman Berdasarkan Perbuatan



Diambil dari renungan harian Truth.
Baca: Roma 2:12-16
Alkitab dalam setahun: 2 Raja-Raja 15-17

Penghakiman Berdasarkan Perbuatan Kalau bagi umat Israel dosa berarti pelanggaran terhadap torat lalu bagaimana dengan orang non Yahudi yang tidak memiliki Torat tertulis dalam kitab. Untuk menjawab persoalan ini Paulus mengemukakan kebenaran dalam Roma 2:12-16. Bagi orang non Israel, dosa berarti pelanggaran terhadap hukum yang tertulis di hati. Dalam teks tersebut disinggung oleh Paulus bahwa orang yang tidak memiliki torat yang tertulis di kitab memiliki torat di dalam hati mereka. Dalam hal ini Tuhan yang akan menghakimi seseorang berdasarkan pengertian tentang hukum (tindakan kasih) yang dimiliki masing-masing individu.

Penghakiman Tuhan ini sangat rahasia kepada masing-masing individu. Hati nurani mereka akan menjadi saksi (Rm. 3:15). Hati nurani dan teks aslinya adalah suneidesis(συνείδησις). Kata suneidesis gabungan dari dua kata, sun dan eido. Sun berarti bersama dan eido artinya tahu, jadi suneidesis berarti bersama ikut tahu. Bagaimana pun hati nurani akan ikut terlibat dalam memberi kesaksian atas keadaan setiap individu. Sekecil apapun suara itu dalam hati nurani. Dalam hal ini setiap orang memiliki kesadaran nurani apakah dirinya melakukan suatu kesalahan atau tidak. Dengan demikian kita tidak mudah menjatuhkan vonis bahwa orang yang hidup di luar bangsa pilihan Allah pasti masuk neraka atau tidak diperkenan masuk kehidupan yang akan datang.

Dalam Alkitab kita menemukan pernyataan yang diulang-ulang bahwa manusia akan dihakimi menurut perbuatannya. Dalam hal ini jelas bahwa perbuatan baik seseorang itu penting, sebab menjadi ukuran penghakiman (Why. 20:12; Mat. 25:34-43). Penghakiman berdasarkan perbuatan  ini juga berlaku bagi orang yang hidup pada jaman anugerah, yaitu atas mereka yang tidak atau belum mendengar Injil. Juga bagi mereka yang tidak mendengar Injil secara benar. Sebab mendengar Injil yang salah sama dengan tidak mendengar Injil. Tuhan menghakimi berdasarkan perbuatan. 

Penghakiman ini adalah penghakiman untuk menentukan seberapa mereka pantas untuk masuk dunia yang akan datang. Kata penghakiman untuk ini lebih sering digunakan kata krisis (κρίσις). Apakah mereka yang dihakimi menurut perbuatan bisa masuk Sorga? Menjawab pertanyaan ini seharusnya memahami dulu apa Sorga itu. Secara cepat bisa dijawab, bisa saja mereka masuk dunia yang akan datang (kalau tidak boleh disebut Sorga), tetapi mereka bukan sebagai anggota Kerajaan yang memerintah bersama dengan Kristus, tetapi hanya menjadi anggota masyarakat saja. Dalam hal ini harus bisa dibedakan antara dimuliakan bersama dengan Kristus dengan hanya masuk dunia yang akan datang. 
Apa yang kita lakukan selama kita hidup
akan dijadikan ukuran untuk hari penghakiman.