Sunday, June 10, 2012

Berdoa Dalam Hati, Baikkah?


man-praying-alone.gif.jpeg
Pdt. Bigman Sirait
Bapak Pendeta yang kami hormati, saya ibu dari tiga anak yang sering kurang sepaham dengan suami tentang hal berdoa. Begini Pak Pendeta, sejak menikah, berdasarkan pengamatan saya, suami tidak pernah berdoa. Hingga kini anak kami sudah tiga, dia jarang sekali berdoa. Dia baru berdoa kalau saya minta atau bahkan paksa untuk berdoa saat makan bersama-sama. Kalau dia makan sendiri, pasti tidak berdoa. Padahal saya sendiri selalu berdoa mengucap syukur kalau makan, saat mau tidur, bangun tidur, mau bepergian, saya selalu sempatkan berdoa. Kalau saya tanyakan kepada suami kenapa dia tidak pernah berdoa, dia selalu menjawab bahwa dia selalu berdoa dalam hati. Menurutnya dia tidak mau berdoa secara demonstratif, sebab sama saja dengan orang Farisi yang berdoa di depan umum dengan suara kencang supaya semua orang lihat.
Pak Pendeta, saya sendiri sangat rindu di keluarga saya ada acara doa rutin sekeluarga dengan suami sebagai pembawa renungan dan memimpin doa. Saya khawatir sifat suami ini nanti ditiru anak-anak. Bagaimana menurut Pak Pendeta? Apakah kita hanya cukup dengan berdoa dalam hati saja? Terimakasih atas jawabannya.
    Ny. Uli
    Jakarta
REFORMATA.com - IBU Uli yang terkasih di dalam  Kristus, pertanyaan Anda cukup menarik untuk disimak. Doa yang menjadi warna kehidupan setiap umat Kristen ternyata memang disikapi berbeda oleh tiap orang. Mari kita telusuri dengan bijak. Yang pertama dan pasti adalah setiap orang percaya harus berdoa. Doa harus dipahami sebagai dialog dengan Allah, di mana kita belajar untuk semakin mengerti kehendak Allah. Dalam doa kita bersyukur dan memohon kepada-Nya. Setiap keperluan yang kita mohonkan benar menurut kita, tapi belum tentu sesuai menurut kehendak Allah. Itu sebab, dalam doa-Nya Tuhan Yesus sendiri mengajar kita untuk berkata: “Bukan kehendakku ya Bapa, melainkan kehendak-Mu-lah yang jadi (Matius 26: 39b).  Semangat itu juga sangat terasa dalam “Doa Bapa Kami”, di mana dalam memohon makanan atau rejeki, dikatakan, “Berilah kami makanan kami yang secukupnya” (Matius 6:11).
Dalam berdoa, dari hari kehari, dari pengalaman kepengalaman pemeliharaan Tuhan, kita pasti belajar untuk terus bisa menjadi benar dalam berdoa. Alkitab mengingatkan kita agar tidak berdoa hanya untuk memuaskan hawa nafsu, atau keinginan kemanusian belaka (Yakobus 4: 3), sehingga Tuhan tidak mendengarkan doa kita.
Nah, sekarang soal cara berdoa. Dalam Alkitab tidak ada keharusan cara dalam berdoa, apakah lipat tangan atau angkat tangan. Berdoa bersuara atau tidak, atau keras atau pelan. Yang dituntut oleh Tuhan dalam berdoa, adalah berdoa sebagai orang yang benar (tulus, tidak ada yang terselubung, dan untuk memuliakan Tuhan). Masalahnya memang ada kritikan Tuhan Yesus terhadap doa orang Farisi. Pertama orang Farisi yang selalu merasa suci selalu merasa hebat bahkan dalam doanya (Lukas 18: 11), itu yang Tuhan tidak suka, yaitu sikapnya, sombongnya, bukan berdoanya. Semua kita harus berdoa tapi jangan seperti orang Farisi yang sombong itu. Itu soal sikap hati.
Lalu soal berdoa di depan orang ramai. Memang ada saja orang yang berdoa dengan kepongahan ritualnya. Mereka berdoa dan mengucapkannya dengan berdiri dan suara keras tentunya, agar tampak mereka sedang berdoa dan terkesan rohani. Belum lagi, yang berdoa di tikungan jalan, betul-betul sangat pongah. Lalu doa yang dinaikkan berlomba panjang, dan mereka pikir dengan doa yang panjang Tuhan akan senang. Ironis, tetapi itu memang kenyataan perilaku agama yang salah (Matius 6: 5-7).
 Tetapi itu bukanlah alasan untuk kita tidak berdoa, karena Tuhan sendiri mengajar dan memerintahkan kita berdoa. Kita perlu berdoa bersuara jika sedang memimpin doa dalam sebuah kelompok persekutuan. Silahkan pula dalam hati, jika Anda memang sedang sendiri di tengah keramaian. Atau berdoa dalam hati di malam hari ketika sendiri, namun tidaklah juga salah jika Anda berdoa bersuara. Itu hanya soal sikap yang tampak, dari sebuah kegiatan berdoa, namun yang terpenting adalah sikap hati kita, yang justru tidak terlihat mata. Jadi berdoa merupakan bagian hidup yang tidak terpisahkan dari keimanan kita yang benar.
Soal suami tidak mau berdoa, saya pikir perlu pendekatan yang kondusif dan intim. Artinya, kita harus mencari tahu mengapa suami tidak suka berdoa dengan bersuara, atau selagi bersama-sama. Siapa tahu ada latar belakang tertentu yang membuatnya tidak mau berdoa bersama. Apalagi tampaknya suami punya alasan, sekalipun kebenaran alasan itu juga perlu dibuktikan. Sehingga semuanya betul-betul menjadi terang. Karena sungguh tidak nyaman jika untuk berdoa ada percekcokan di antara kita. Itu suasana yang tidak baik, karena Tuhan menuntut kesehatian dalam kita berdoa bersama.
Jadi Ibu Uli yang dikasihi Tuhan, usahakan ngobrol berdua dengan Bapak, dengan alasan untuk kebaikan bersama sebagai keluarga. Soal anak-anak, tentu saja mereka mudah terprovokasi oleh sikap kita. Saya sependapat bahwa kebiasaan tidak berdoa bisa jadi pengaruh buruk bagi anak-anak. Karena itulah perlu diskusi mendalam. Namun sementara usaha berbicara dengan Bapak, Ibu juga harus memberi penjelasan yang baik kepada anak anak, agar jangan sampai mereka berpikir tidak perlu berdoa. Kerinduan Ibu agar keluarga memiliki persekutuan tersendiri sangatlah terpuji. Ini bisa menjadi benih yang baik di dalam kebahagian rumah tangga, dan dalam pertumbuhan kerohanian anak-anak kita. Semua hal ini jadikan bahan pembicaraan dengan suami, semoga dia menyadarinya dan melakukannya dalam kesadaran yang penuh sebagi orang percaya.
Berdoa tidak mungkin kita abaikan, karena berdoa adalah nafas hidup keimanan kita. Terus dorong anak anak berdoa, dan mendoakan ayah mereka agar mau berdoa bersama. Tapi jangan memberi penjelasan yang salah pada anak-anak sehingga menjadi antipati terhadap ayah mereka. Di sini Ibu harus bertindak bijak. Saya menyadari ini tidaklah mudah, tetapi akan menjadi sangat menyenangkan jika mendapatkan keluarga kita menjadi keluarga yang berdoa.
Jadi Ibu Uli yang dikasihi Tuhan, sekali lagi saya sampaikan, berdoa memang bukan soal bersuara atau tidak (dalam hati), tetapi lebih kepada soal sikap hati. Tapi jika kita berdoa bersama tentu saja harus bersuara, agar dapat dipahami oleh yang lainnya, dan bisa diaminkan. Sebaliknya jika sendirian, silakan memilih yang nyaman bagi kita pribadi. Contoh-contoh yang salah, tentu saja jangan ditiru, tetapi juga jangan dijadikan alasan untuk tidak berdoa. Biarlah menjadi pokok doa Ibu agar waktunya segera tiba keluarga menjadi keluarga yang berdoa. Saya percaya kerinduan yang baik pasti dikabulkan oleh Tuhan. Biarlah kiranya Tuhan menggerakkan hati Bapak, bahkan seluruh keluarga sehingga memiliki semangat yang sama dalam berdoa.
Maju terus, dan jangan pernah berhenti untuk hidup di dalam doa, karena berhenti berdoa berarti kita menghentikan kehidupan iman kita. Berdoa agar Bapak bisa menjadi imam dalam rumah. Ada banyak kesaksian para ibu yang sangat meneguhkan, bagaimana mereka berdoa sehingga suami menyadari tugas keimamannya, dan keluarga mereka menjadi keluarga yang berdoa. Kiranya untuk kesempatan berikut Ibu akan menjadiorang yang menyaksikannya. Selamat berjuang, Tuhan pasti menyertai dan memampukan Ibu menjadi berkat didalam kehidupan rumah tangga (1 Korintus 7: 14). Kiranya jawaban ini boleh menjadi berkat bagi kita semua