Tuesday, July 21, 2015

Arah Hidup Orang Percaya

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono
Diambil dari surat Gembala Warta Rehobot.


Kiblat adalah kata dalam bahasa Arab yang searti dengan arah. Kata ini biasanya digunakan dalam kaitannya dengan arah fisik pada waktu berdoa. Ratusan tahun sebelum agama-agama monotheisme besar ada (Kristen dan Islam), orang-orang Yahudi kalau berdoa mengarahkan diri ke Yerusalem. Seperti Daniel, setiap kali menaikkan jam-jam doanya, ia berdoa dengan berkiblat ke Yerusalem, di mana terdapat Bait Allah yang dibangun oleh Salomo sebagai lambang kehadiran Elohim Yahwe. Menurut catatan sejarah, orang-orang Islam pada mulanya juga kalau bersembahyang berkiblat ke arah Yerusalem juga yang dikenal sebagai Baitul Maqdis. Tetapi kemudian hari mengarah atau berkiblat ke Ka’abah di Mekah sampai sekarang. Kita meminjam istilah kiblat sebab kata ini berhubungan dengan urusan penyembahan dan beribadah kepada Tuhan. Sedangkan kata arah lebih bersifat umum. Namun perlu ditegaskan bahwa orang Kristen tidak mengenal pola berdoa atau sembahyang seperti orang Yahudi dan Muslim yang memiliki kiblat secara harafiah. Bahkan orang Kristen tidak memiliki teknik-teknik berdoa seperti banyak agama dan kepercayaan.
Sesuai dengan petunjuk Tuhan Yesus bahwa orang percaya beribadah kepada Allah dalam Roh dan kebenaran (Yoh 4:24). Ini berarti sebuah ibadah yang tidak diatur oleh tata cara ibadah tertentu, itulah sebabnya dalam kekristenan tidak ada ajaran mengenai teknik-teknik berdoa (harus melipat tangan, sujud secara fisik, angkat tangan dan lain-lain). Tetapi dalam kekristenan yang penting adalah kehidupan yang diarahkan atau diorientasikan kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya setiap hari.
Kalau berbicara mengenai kiblat, kiblat orang percaya bukanlah tempat atau arah secara harafiah tetapi sikap orientasi hati atau tujuan hidup. Berbicara mengenai kiblat dalam kehidupan orang percaya, kiblat orang percaya pertama, Tuhan sebagai Pusat Kehidupan, yang artinya Tuhan menjadi tujuan hidup ini. Segala sesuatu yang kita lakukan, kita lakukan bagi Dia. Kedua, Tuhan sebagai kebahagiaan atau kesenangan, artinya suasana jiwa kita ditentukan oleh damai sejahtera Tuhan bukan fasilitas kekayaan atau materi dunia, kehormatan manusia serta segala hiburannya. Terakhir, mewujudkan rencana Allah. Hidup kita harus sepenuhnya diarahkan pada rencana perwujudan Kerajaan Allah dengan berusaha menjadi corpus delicti dan menolong orang lain menjadi corpus delicti pula. Amin. – Solagracia -


Berbicara mengenai kiblat, kiblat orang percaya bukanlah tempat atau arah secara harafiah tetapi sikap orientasi hati atau tujuan hidup.

Thursday, July 9, 2015

Sikap Terhadap Dunia Yang Sukar


Oleh : Pdt.Dr.Eastus Sabdono
diambil dari surat gembala warta Rehobot


Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat (Mat. 24:7). Ada pertanyaan yang harus kita jawab yaitu, mengapa kehadiran Tuhan Yesus di dunia ini tidak membenahi dunia supaya lebih baik? Mengapa justru menubuatkan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan manusia pada umumnya? Padahal manusia menghendaki agar hidupnya bahagia dan memiliki damai sejahtera.
Harus kita pahami bahwa Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa. Rasul Yohanes juga menegaskan bahwa janganlah kita mengasihi dunia dan isinya, karena jika demikian seseorang tidak akan mengasihi Bapa (1Yoh. 2:15). Percintaan dengan dunia berujung pada kebinasaan. Mencintai Tuhan tidak bisa secara instan, tetapi harus dilatih melalui segala peristiwa hidup. Oleh karena itu, Tuhan tidak tertarik membenahi dunia yang sudah rusak, tetapi Dia lebih tertarik membenahi karakter manusia yang sudah rusak. Mengapa demikian? Karena Ia sudah menyiapkan langit baru dan bumi yang baru, di mana orang percaya dipersiapkan untuk mengelolanya sebagaimana Allah memberi mandat kepada Adam ketika ia belum jatuh dalam dosa.
Memahami hal tersebut, bagaimana sikap kita seharusnya dalam menghadapi dunia yang sukar seperti sekarang ini? Ada dua hal penting yang harus kita pahami. Pertama, setiap orang harus berdamai dengan Tuhan, jika seseorang sudah berdamai dengan Tuhan, sebesar apa pun kesukaran hidup yang dialami maka tidak akan menggoyahkan cintanya kepada Tuhan. Oleh karena itu berdamai dengan Tuhan menjadi sangat penting. Orang percaya harus memiliki prinsip: Tuhan, Engkaulah perhentianku, Engkaulah pelabuhan terakhirku. Untuk memiliki prinsip seperti ini, orang percaya harus berlatih terus-menerus sampai benar-benar pada titik tidak bisa berpaling.
Kedua, Tuhan adalah pribadi yang bertanggung jawab, dengan demikian hal itu yang Dia ajarkan kepada orang percaya. Setiap permasalahan hidup yang terjadi dalam diri seseorang maka harus dihadapi dengan tanggung jawab, bukan hanya dengan doa. Banyak orang salah memahami doa, doa dianggap sebagai cara mudah untuk memperoleh jaminan penyelesaian masalah hidup. Sejatinya doa adalah dialog dengan Tuhan agar seseorang mampu memahami pikiran dan perasaan-Nya. Tuhan tidak berjanji menghindarkan manusia dari kesukaran, tetapi Ia berjanji memberi kekuatan untuk menghadapi segala kesukaran. Oleh karena itu temukan Tuhan dalam kesukaran hidup kita karena Dia-lah pribadi yang akan kita temui di kekekalan kelak. Amin. – Solagracia -


Mencintai Tuhan tidak bisa secara instan, tetapi harus dilatih melalui segala peristiwa hidup.

Saturday, June 27, 2015

Tuhan Kebahagiaan

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono
Diambil dari surat Gembala warta Rehobot


Setiap manusia yang hidup pasti mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya. Manusia menempuh segala cara untuk mendapatkannya, seluruh pikiran, tenaga dan waktunya dihabiskannya demi hal itu. Kebahagiaan adalah sebuah keadaan tenteram lahir batin atau keberuntungan lahir batin (KBBI, 2015). Jika kita mau jujur, kebahagiaan secara materi banyak orang bisa mendapatkan dengan cara apapun, tetapi bicara hal batin, hampir-hampir tidak banyak orang yang bisa mendapatkannya. Mengapa demikian? Seorang ahli fisika dari Perancis yang bernama Blaise Pascal (1662) berkata, “Ada ruang kosong dalam diri manusia yang tidak dapat diisi dengan hal-hal materi, tetapi hanya dapat diisi oleh hal yang ilahi”. Paulus memberikan penjelasan yang sangat jelas bahwa akibat jatuh dalam dosa, semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah atau karakter ilahi (Rm. 3:23). Keadaan inilah yang membuat manusia memiliki ruang kosong itu.
Allah adalah sumber kebahagiaan artinya, Dia tidak akan pernah kehabisan kebahagiaan itu. Seharusnya manusia mencari kebahagiaan hanya kepada-Nya, tetapi karena dosa, manusia mencarinya bukan kepada Allah tetapi kepada dunia. Kebahagiaan diukur dari apa yang dimiliki yaitu kekayaan, kehormatan dan kebanggaan hidup. Manusia terus menggulirkan hidupnya kepada kenyataan ini, tetapi mereka lupa bahwa semuanya itu akan terhenti kapan pun dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Jika keadaan itu terus dilakukan maka seseorang tidak akan pernah memiliki hubungan yang bernilai tinggi dengan Allah. Hubungan dengan Allah akan dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun kebahagiaan di bumi ini.
Yang dimaksud dengan Tuhan kebahagiaanku adalah, keberanian seseorang untuk hidup tanpa apa pun dan tanpa siapa pun, tetapi tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Sebesar apa pun kenikmatan hidup, pasti akan berakhir pada hitungan-hitungan waktu, demikian halnya dengan kesulitan hidup, tetapi yang terpenting adalah mampukah kita mempertahankan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup kita? Harus kita tahu bahwa suka dan duka pasti terjadi dalam setiap kehidupan anak manusia, itu pun tidak ada yang permanen. Oleh karena itu betapa bersyukurnya kita jika mampu memilih Tuhan sebagai satu-satunya kebahagian hidup. Tuhan adalah sahabat abadi, betapa bijaknya jika selama kita hidup menumpang di bumi ini terus membangun hubungan yang ideal dengan Tuhan, karena Dia-lah Sang pemilik kekekalan. Kekecewaan kita terhadap dunia seharusnya menjadi penyemangat untuk membuktikan bahwa Tuhanlah satu-satunya kebahagiaanku. Amin. – Solagracia.

Yang dimaksud dengan Tuhan kebahagiaanku adalah, keberanian seseorang untuk hidup tanpa apa pun dan tanpa siapa pun, tetapi tidak bisa hidup tanpa Tuhan.

Wednesday, June 24, 2015

Mengandalkan Tuhan

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono
Diambil dari surat Gembala warta Rehobot


Kata mengandalkan berasal dari kata dasar andal yang berarti dapat dipercayai, sedangkan mengandalkan, memiliki arti menaruh kepercayaan kepada yang dipercayai atau yang diandalkan (KBBI, 2015). Apa yang dimaksud dengan mengadalkan Tuhan?
Banyak orang memiliki pemahaman yang salah dalam hal ini. Mengandalkan Tuhan dipahami sebagai keadaan pasrah tanpa berbuat apa pun maka Tuhan akan memberikan pertolongan. Harus kita tahu, Tuhan kita mengajarkan tanggungjawab, bukan hidup sembrono dan tak produktif.
Dari pihak kita harus ada upaya maksimal, dan dalam kesemuanya itu harus kita kunci dengan pengertian, bahwa apa pun hasilnya pasti baik adanya karena Tuhan-pun turut bekerja (Roma 8: 28). Ada beberapa pengertian tentang mengandalkan Tuhan, yang pertama adalah menerima apa pun keadaan yang terjadi, setelah kita berusaha maksimal tentunya. Kebaikan yang kita harapkan tidak boleh kita paksakan sebagai sesuatu yang harus terjadi dan sesuai dengan kehendak kita. Tuhan memiliki integritas dan otoritas mutlak dalam segala hal. Tuhan lebih peduli dengan karakter seseorang dibanding dengan kekayaannya (Mat. 19:21). Harta dan kekayaan hanya mampu menemani kita selama 70 tahun hidup di bumi.
Yang kedua, mengandalkan Tuhan berarti, menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup walaupun tidak sesuai dengan harapan kita. Setiap permasalahan yang Tuhan izinkan terjadi kepada setiap orang percaya merupakan kurikulum Tuhan dengan maksud untuk mengubah karakter duniawi menjadi karakter illahi sampai pada titik tertentu orang percaya tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini.
Kita tidak boleh menggunakan pengalaman bangsa Israel sebagai patokan dalam hal mengandalkan Tuhan. Dalam hal ini, bangsa Israel hanya mengaitkan dirinya dengan kepenuhan kebutuhan jasmani, walaupun pada kenyataannya Tuhan tidak bermaksud demikian (Pkh 5: 18-19). Bagi orang percaya zaman Perjanjian Baru, mengandalkan Tuhan bukan berarti tanpa berusaha keras maka berkat dan perlindungan Tuhan diberikan, tetapi manusia dikembalikan pada porsinya dimana segala sesuatu harus dijalani secara bertanggungjawab dengan benar sesuai pikiran dan perasaan Kristus.
Untuk kebutuhan makan, minum dan pakai, Tuhan sudah sediakan asal kita mau bekerja keras. Satu-satunya pergumulan kita yang terberat adalah mengubah karakter kita, dalam hal inilah kita harus mengandalkan Tuhan, karena Iblis terus berjuang memanfaatkan natur dosa dalam diri kita agar kita gagal menjadi Corpus Delictinya Tuhan. Waspadalah! – Solagracia -

Mengandalkan Tuhan berarti manjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup walaupun tidak sesuai harapan kita.

Sunday, March 1, 2015

Ciri Orang Yang Menermukan Tuhan

Oleh : Pdt.Dr. Erastus Sabdono
Diambil dari surat Gembala Warta Rehobot



Orang yang sungguh-sungguh menemukan Tuhan pasti memiliki ciri-ciri yang jelas dalam hidupnya. Ciri yang paling utama adalah memiliki karakter seperti Allah sendiri. Umat Perjanjian Lama mencari Tuhan dengan mempelajari Torat atau ilmu agama sehingga mereka menguasai Torat dan bertindak sesuai dengan Torat tersebut. Mereka menjadi orang-orang saleh yang ditandai dengan melakukan hukum torat serta melakukan segala syariatnya. Tetapi umat Perjanjian Baru yang menjadikan Tuhan sebagai hukumnya, bila menemukan Tuhan pasti akan ditandai dengan mampu bertindak seperti Allah bertindak.
Karena hal inilah maka orang-orang Kristen yang benar akan mengalami frustasi yang kudus ketika ia mendapati dirinya belum melakukan apa yang tepat seperti yang Tuhan kehendaki. Dengan penjelasan lain, belum merasa bahwa ia bertindak seperti Tuhan Yesus; belum bisa berkata “hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”. Frustasi yang kudus ini sama dengan “kehausan dan kelaparan akan kebenaran” (Mat 5:6). Biasanya orang frustasi karena masalah ekonomi, jabatan, sakit hati karena dilukai dan berbagai penyebab lain, tetapi orang percaya yang benar akan merasa frustasi karena dirinya belum menjadi pribadi yang memuaskan hati Bapa di Sorga. Orang-orang seperti ini pasti mengalami perubahan yang nyata atau nampak jelas. Sesuai janji Tuhan, Tuhan pasti akan memuaskan mereka, artinya Tuhan akan membuat mereka mampu melakukannya. Betapa bahagianya bisa mencapai hal ini.
menemukan Tuhan maka ia ada dalam kesadaran penuh bahwa tubuhnya adalah bait Roh Kudus, maka dengan sendirinya ia menjauhkan diri dari dosa yang bertalian dengan kenajisan tubuh. Kalau ia berbuat salah berkenaan dengan tubuhnya akan ada dukacita yang sangat dalam, sampai ia takut melakukan dosa yang sama. Dalam hal ini kekudusan seseorang terbangun secara natural dan sejati. Selanjutnya orang yang menemukan Tuhan akan berusaha mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan perubahan segenap hidupku. Ia akan membela pekerjaan Tuhan tanpa batas. Baginya pekerjaan Tuhan adalah seluruh hidupnya; segenap nyawanya. Ia tidak akan perhitungan sama sekali untuk Tuhan yang sudah ditemukannya (Flp. 3:7-8).
Akhirnya orang yang menemukan Tuhan pasti memiliki keberanian yang hebat menghadapi apa pun juga, bahkan kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Keberanian hidup muncul secara natural atau dengan sendirinya. – Solagracia -

Orang yang menjadikan Tuhan sebagai hukumnya, bila menemukan Tuhan pasti akan bertindak seperti Allah bertindak.

Bahasa Keakraban Yang Natural

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono
Diambil dari surat Gembala warta Rehobot


Memuji dan menyembah Allah haruslah menjadi irama otomatis yang mengalir keluar dari hati, bukan sesuatu yang dipaksakan. Seseorang yang memiliki kehidupan sikap hati memberi nilai tinggi Tuhan atau menghormatinya dengan pantas secara otomatis atau dengan sendirinya memiliki “spirit menyembah” secara terus menerus tiada henti. Ia tidak perlu berusaha untuk menyembah sebab dengan sendirinya irama menyembah itu sudah permanen ada, tinggal mengekspresikan kapan saja dan di mana saja. Untuk mengekspresikannya tidak tergantung suasana, tempat, liturgi, musik dan lain sebagainya. Sikap menyembah bisa diekspresikan tanpa bisa dihambat oleh apapun juga.
Kalau ia seorang pembicara atau pengkhotbah, worship leader dan singer, dengan ringan tanpa beban bisa menyembah Tuhan di depan jemaat dengan tulus. Ia tidak perlu mencari-cari wajah Tuhan atau melakukan pemanasan untuk menemukan hadirat Tuhan. Kenyataan yang kita lihat, tidak banyak orang yang memiliki spirit penyembahan seperti ini. Oleh sebab itu pelayananan puji-pujian dan penyembahan harus dilakukan oleh mereka yang terus menerus belajar menyembah Allah setiap hari sehingga memiliki spirit menyembah dengan benar atau berkualitas tinggi. Dan seorang pembicara harus memiliki spirit menyembah, walaupun tidak bisa menyanyi dengan baik, tetapi spirit penyembahan akan menolongnya mampu mengajak orang untuk menyembah Allah.
Memang untuk melayani mimbar seseorang tidak harus menunggu sempurna baru mengambil bagian dalam pelayanan ini, tetapi asal sungguh-sungguh belajar untuk menyembah Allah dengan benar, maka ia mulai akan dapat memancarkan “spirit” pujian dan penyembahan yang benar. Dalam pergaulan dengan Tuhan seseorang akan menemukan bahasa keakraban yang natural, spontan dan tulus. Sebuah percakapan yang tidak ada unsur protokuler. Sebuah percakapan dari hati ke hati. Percakapan yang menyentuh hadirat Tuhan menciptakan kerendahan hati yang tulus dan natural. Akan ada jalur komunikasi dengan Tuhan yang bisa dirasakan orang lain. Seorang pembicara, worship leader dan singer mutlak memilikinya. Oleh karena tidak belajar menyembah Allah, maka banyak orang Kristen yang sebenarnya belum menyembah Allah dengan benar. Mereka hanya menyanyi dalam gereja bahkan mereka bersikap lahiriah memuji dan menyembah Allah, padahal sebenarnya mereka hanya berpura-pura menyembah Tuhan. Mereka ini adalah manusia munafik yang mencoba menipu Tuhan. – Solagracia -
Dalam pergaulan dengan Tuhan seseorang akan menemukan bahasa keakraban yang natural, spontan dan tulus.