Sunday, July 31, 2011

Selain Kau Tiada Yang Lain



Ciptaan :
Pdt.Ir. Welyar Kauntu.

Selain Kau tiada yang lain

Ada padaku di Surga
Selain Kau tiada yang lain
Yang kuingini di bumi
Yang kuingini di bumi

Reff :
Sekalipun dagingku
dan hatiku habis lenyap
Gunung batuku dan bagianku
Tetaplah Allah selama-lamanya.


(bacaan :  Mazmur 73 : 1 - 28)

Monday, July 25, 2011

Sikap Hati dalam Berdoa


Oleh : Pdt. Dr. Erastus Sabdono
From: Truth Daily Enlightenment


Baca: Mazmur 127:1–2
Alkitab dalam setahun: 2 Samuel 1–3

Banyak orang berdoa dengan sikap hati yang salah pada waktu mohon pimpinan Tuhan, mohon berkat Tuhan dan perlindungan-Nya. Permohonan doa tersebut dipanjatkan dengan anggapan dan sikap—sering tidak sadar—bahwa Tuhan seolah-olah tidak memimpin atau kurang memimpin secara benar. Seakan-akan Tuhan kurang memberkati atau secara proporsional dan tidak melindungi umat-Nya dengan sempurna jika kita tidak meminta kepada-Nya. Kalau kita berdoa, barulah Tuhan memimpin atau meningkatkan kualitas pimpinan-Nya, memberkati atau menambah berkat-Nya secara memadai dan melindungi secara pantas. Sebenarnya sikap seperti ini tidak hormat atau kurang ajar terhadap Tuhan. Ini adalah sikap kurang atau tidak percaya.
Mungkin kita tidak sadar atas sikap yang kurang pantas ini, tetapi mari kita uji diri kita. Pernahkah kita menyalahkan diri kita atau orang lain saat jatuh ke dalam dosa, dengan mengatakan itu akibat kurang berdoa? Kalau pernah, berarti secara tidak langsung kita telah mempersalahkan Tuhan. Kita telah menuduh Tuhan ikut bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh umat-Nya, sebab akibat pengabaian-Nya terhadap umat yang tidak berdoa, kesalahan itu terjadi.
Sejajar pula dengan ini, jika kita memanjatkan doa agar Tuhan memberkati umat dengan berkat jasmani. Secara tidak sadar, sikap hati yang timbul adalah bahwa Tuhan masih menahan berkat-Nya, sehingga anak-anak-Nya tidak tercukupi apabila tidak meminta. Tuhan menunggu, dan kalau tidak diminta, Ia cuek. Ini salah, sebab Alkitab menyatakan bahwa Bapa menyediakan apa yang diperlukan anak-anak-Nya di luar pengertian mereka. Dalam mazmurnya, Salomo mengatakan bahwa Allah memberikan berkat kepada yang dicintai-Nya pada saat mereka tidur.
Kesalahan yang sering terjadi pula adalah pada doa yang dipanjatkan untuk mohon perlindungan kepada Bapa. Apakah Bapa tidak melindungi anak-anak-Nya jika tidak diminta? Saat kita mengalami kesulitan, apakah doa kita berkesan menuduh Tuhan secara tidak langsung kurang atau lalai menjagai kita? Ini tampak tatkala kita berkata, “Tuhan, mengapa ini harus terjadi?”
Sejatinya Tuhan sudah memberi porsi yang cukup bagi kita, bahkan berlimpah. Ia pasti memberkati dengan berlimpah dan melindungi kita dengan sempurna. Ia yang setia sudah mengarahkan kita kepada keselamatan yang sejati; barang tentu pula Ia memenuhi bagian-Nya. Tinggal tanggung jawab kitalah untuk hidup menjadi anak-anak yang dicintai-Nya.
Bapa yang sudah mengarahkan kita pada keselamatan yang sejati
pasti memberkati dan melindungi kita dengan sempurna.

Thursday, July 21, 2011

Menurut Ukurannya Sendiri

Oleh : Pdt. Dr.Erastus Sabdono
From : Truth Daily Enlightenment

Baca: Filipi 3:9–11
Alkitab dalam setahun: Ibrani 1–6
Banyak orang Kristen yang merasa telah mengabdi kepada Allah, berdasarkan ukuran yang dibuatnya sendiri. Mereka merasa tidak menduakan Tuhan; dengan menjadi Kristen, mereka merasa tidak menyembah kepada allah-allah lain. Lagipula mereka tidak hidup dalam pelanggaran moral umum. Mereka rajin beribadah di gereja, mengambil bagian dalam kegiatan gereja, memberi dukungan keuangan dan sebagainya. Bahkan ada yang merasa bahwa cukup dengan pergi ke gereja, itu berarti sudah mengabdi kepada Tuhan dan berada di pihak Tuhan. Pengertian ini sangat dangkal dan miskin, tetapi faktanya inilah pemahaman yang dimiliki banyak orang Kristen hari ini.
Firman Tuhan mengatakan bahwa kita tidak bisa berada di dalam Kristus dengan kebenaran kita sendiri, atau kebenaran berdasarkan ukuran yang kita buat sendiri. Menaati hukum sebetulnya masih ukuran kebenaran kita sendiri. Kebenaran yang mempersatukan kita dengan Kristus adalah kebenaran karena kepercayaan kita kepada-Nya dengan cara yang benar adalah pengenalan akan-Nya, kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya.
Berarti untuk bisa mengabdi kepada Tuhan, harus dimulai dari pembenahan diri kita secara serius dan memadai. Kita mesti mengalami pembaharuan pikiran oleh kebenaran Injil. Pengertian-pengertian kita mengenai hidup ini, siapa Tuhan dan siapa manusia harus benar dan lengkap atau memadai. Selanjutnya, karakternya, watak atau mentalnya harus diubahkan sampai level mengenakan kodrat Ilahi yaitu berwatak seperti Tuhan. Idealnya, seiring dengan mengenakan kodrat Ilahi inilah seseorang mengambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Atau sementara dalam proses pertumbuhan yang benar, maka seseorang sudah boleh mengambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan.
Pengabdian kepada Tuhan dimulai dari setiap perkataan yang kita ucapkan, setiap pikiran yang masuk ke dalam diri kita dan perbuatan-perbuatan kita setiap hari. Ke gereja—bahkan turut mengambil bagian dalam pelayanan—tidak bisa menggantikan kebenaran hidup setiap hari. Tanpa kehidupan yang benar setiap harinya, kegiatan gereja dan pelayanan hanyalah kegiatan rohani yang tidak berdaya guna mengantar manusia memiliki keselamatan yang sesungguhnya. Oleh sebab itu seharusnya segala sesuatu yang kita lakukan bagi Tuhan, seperti beribadah di gereja, memberi persembahan dan lain sebagainya dimotori oleh sikap hati yang terlebih dahulu digarap oleh Tuhan melalui proses pendewasaan.
Pikiran, perkataan dan perbuatan kita menunjukkan
apakah diri kita mengabdi kepada Tuhan atau tidak.

Monday, July 4, 2011

Jangan Menyelewengkan Kabar Baik

Oleh : Pdt. Dr.Erastus Sabdono
From : Truth Daily Enlightenment

Baca: Galatia 1:6–10
Alkitab dalam setahun: Roma 4–7

Jika kita menjadi orang percaya, berarti kita menjadi orang yang dirancang untuk mencapai tingkat-tingkat kesempurnaan tanpa batas yang disediakan oleh Tuhan. Tidak ada kabar baik lebih dari kabar yang satu ini, yaitu manusia dapat dikembalikan menjadi seperti manusia yang dirancang oleh Tuhan. Sehebat apa pun dan bagaimana pun seseorang, tetapi jika tidak menjadi manusia seperti yang dirancang Tuhan, percuma dia menjadi manusia. Inilah satu-satunya yang memberi nilai atas manusia.
Jadi yang memberi nilai atas manusia bukan pada penampilan lahiriahnya, bukan pada kekayaan atau harta yang dihimpunnya, pangkat atau kekuasaan yang diraih, pendidikan yang dicapainya dan segala hal yang selama ini dipandang bernilai. Kalau selama ini kita berpikir seseorang diberkati oleh Tuhan berdasarkan nilai-nilai yang keliru tersebut, sekaranglah waktunya bagi kita untuk mengubah pandangan tersebut.
Selama kita hidup di dunia ini, kebutuhan akan berkat jasmani tidak perlu diragukan lagi. Tuhan pasti mencukupi kita, sejauh kita bertanggung jawab. Yang harus diutamakan adalah bagaimana kita mengalami tingkat kesempurnaan yang dikehendaki oleh Allah.
Oleh karena itu kalau kita menyampaikan Kabar Baik ini dari Tuhan, hendaknya tidak kita selewengkan dengan isi yang salah. Kabar Baik di sini bukan hanya berisi kabar bahwa manusia bisa terhindar dari neraka. Apalagi kalau Kabar Baik dipahami sebagai pemulihan ekonomi, kesehatan, keluarga dan sebagainya yang tidak menyangkut pemulihan gambar Allah dalam kehidupan kita masing-masing, itu sesungguhnya sama sekali bukan kabar baik, melainkan kabar yang menyesatkan dan membinasakan.
Paulus menulis bahwa orang yang memberitakan Injil yang berbeda dengan yang telah diberitakannya, “Terkutuklah dia” (ay. 8). Jadi jangan mudah memercayai suatu kabar yang diberitakan di gereja. Ukuran megahnya gedung gereja dan jumlah jemaat sama sekali bukan ukuran bahwa sebuah gereja diberkati oleh Tuhan. Bahkan fasilitas dan aset gereja bukanlah ukuran bahwa suatu gereja disertai oleh Tuhan. Perlu kita pelajari sejarah gereja. Tidak sedikit gereja yang umurnya ratusan tahun dengan berbagai kemajuan secara fisik ternyata adalah ajaran yang bertentangan dengan kebenaran Allah. Karena itu yang penting adalah Kabar Baik yang benar, bukan penampilan fisiknya. Jangan mudah tertipu.

Injil yang tidak mengembalikan manusia kepada rancangan awal Allah semula
                                                    adalah Injil yang diselewengkan.