Sunday, May 22, 2011

Makna Baptisan

Pdt.Dr. Erastus Sabdono

From : Truth Daily Enlightenment
Baca: Roma 6:4, Alkitab dalam setahun: Ulangan 17–20
Mengapa orang Kristen harus dibaptis setelah memberi diri ditebus oleh darah Tuhan Yesus? Firman Tuhan menyatakan dengan jelas bahwa kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian-Nya, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Dalam teks ini Rasul Paulus menunjukkan bahwa baptisan itu sebenarnya lambang kematian.
Kematian yang dimaksud di sini adalah kita berhenti dari cara hidup yang tidak dikehendaki Tuhan, atau mati dari cara hidup yang melawan kehendak Tuhan. Kesediaan untuk mematikan cara hidup yang lama dan bersedia mengenakan cara hidup yang baru ini dinyatakan di hadapan Tuhan dan di depan umum dengan baptisan.
Jadi baptisan sebenarnya adalah sebuah proklamasi kepada dunia, bahwa kita kini bersedia untuk hidup sesuai dengan cara Tuhan. Baptisan tidak boleh dijadikan sekadar syarat administrasi gereja agar kita bisa diterima sebagai anggota di salah satu denominasi gereja, menerima peneguhan pemberkatan nikah, sembuh dari penyakit, dibebaskan dari kemiskinan dan motivasi lainnya. Baptisan juga bukan sekadar agar anak-anak yang sudah mulai remaja bisa menjadi anak Tuhan yang baik.
Dengan memahami hal ini, biarpun tidak banyak yang dibaptis, gereja tidak perlu merasa kecil hati. Untuk apa membaptis orang dalam jumlah besar, kalau mereka tidak mau mati dari cara hidup yang tidak Tuhan kehendaki? Sebab tanpa kematian itu, baptisan hanya sekedar ritual, tanpa dapat membawa kita masuk Kerajaan Surga.
Pada zaman Kekristenan awal, apabila seseorang memberi diri dibaptis, berarti ia mempertaruhkan segenap hidupnya. Ia harus bersedia kehilangan hak kewarganegaraanya, kehilangan kenyamanan hidup, kehilangan harta benda dan masa depan di bumi ini. Ia bisa ditangkap, dimasukkan penjara, disiksa bahkan dibunuh. Dalam masa aniaya itu, banyak orang dianiaya dan dibunuh akibat menjadi Kristen dan dibaptis. Bagi orang dunia, ini tragis; tetapi itulah harga yang harus dibayar jika kita mau mengiring Sang Majikan Agung, Tuhan Yesus.
Apakah harga atau nilai yang tinggi dalam pengiringan kepada Kristus di masa kini telah merosot nilainya? Bagaimana dengan kita hari ini? Seberapa mahalkah harga yang kita telah bayar demi pengiringan kita kepada Tuhan Yesus? Saat dibaptis, sudahkah kita sadar bahwa itu berarti kita sudah mati dan dikuburkan bagi dunia ini? Tanpa kematian itu, kita tidak bisa hidup dalam hidup yang baru.
Makna baptisan bukan sekadar ritual, melainkan menjadikan kita
mati bersama Kristus bagi dunia ini.

Monday, May 9, 2011

Acungan Jempol Bapa

Oleh : Pdt.Dr. Erastus Sabdono
From Truth Daily Enlightenment

Baca: 1 Petrus 4:1–6
Alkitab dalam setahun: Mazmur 26–31


Mengikut Tuhan Yesus berarti mengikuti jejak-Nya. Untuk mengikuti jejak-Nya kita harus belajar secara mendalam dan lengkap apa yang ditulis di dalam Injil: semua yang diajarkan Tuhan Yesus dan para rasul-Nya. Tidak memahami Injil-Nya dengan benar berarti kita tidak pernah mengikut Dia, dan itu berarti juga tidak pernah menjadi orang percaya yang benar.
Pengalaman yang paling menyesatkan banyak orang hari ini adalah manakala seseorang sudah merasa mengalami kuasa Tuhan, sehingga yakin bahwa mereka sudah menjadi pengikut Kristus yang pasti diselamatkan. Padahal keselamatan itu proses yang dilakukan Tuhan untuk mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula, bukan sesuatu yang instan. Proses keselamatan itu adalah proses meneladani jejak kehidupan Tuhan sebagai model manusia yang harus dicapai, bukan mengalami kuasa mukjizat yang menjawab kebutuhan jasmani.
Untuk mencapai model manusia seperti Tuhan Yesus Kristus, kita harus melalui pergumulan berat yang menyita seluruh hidup dan perhatian kita. Kita seperti hidup dalam dunia sendiri, yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Semakin mengenal kebenaran Injil, kita akan semakin berbeda dengan lingkungannya. Semakin jelas bahwa dunia yang kita miliki berbeda dengan dunia yang dimiliki oleh manusia pada umumnya. Itulah sebabnya banyak orang di sekitar kita merasa heran, mengapa orang-orang percaya hidup dengan cara demikian? Biasanya mereka memandang orang-orang percaya itu ekstrem, fanatik dan tidak realistis.
Kalau selama ini kita menganggap mengikut Kristus hanyalah setia kepada salah satu denominasi gereja, melakukan liturgi dan menggumuli kuasa mukjizat-Nya—sebagaimana agama-agama lain di dunia ini—mari kita mengubah cara berpikir itu. Kita dipanggil untuk menggumuli kehidupan yang sesuai dengan selera Bapa, yaitu kehidupan yang memuaskan hati-Nya. Ini suatu gaya hidup yang tidak dimiliki oleh agama mana pun.
Kalau selama ini kita hanya berusaha memperoleh acungan jempol manusia, kita harus bertobat. Yang harus kita capai bukanlah memuaskan hati orang lain, melainkan memuaskan hati Bapa. Ini adalah suatu level kehidupan yang jarang sekali digumuli orang beragama pada umumnya—apalagi dicapai. Mari kita berusaha memperoleh acungan jempol Bapa, sehingga seperti kepada Anak-Nya Yesus (Mat. 3:17), Ia juga dengan bangga berkata tentang kita, “Inilah anakku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan”.
Mengikut jejak Kristus berarti
melalui pergumulan yang menyita seluruh hidup dan perhatian kita.