Tuesday, December 29, 2009

Pengujung Tahun 2009

Pengujung Tahun


Bacaan hari ini: Yakobus 4:13-16

Ayat mas hari ini: Yakobus 4:14

Bacaan Alkitab Setahun: Wahyu 16-18


Kita sudah berada di pengujung tahun 2009. Sebetulnya pengujung tahun atau bukan, itu hanya soal penanggalan (kalender). Di dunia ini ada banyak sekali penanggalan; ada kalender Yahudi, kalender Persia, kalender Jawa, kalender Hindu, kalender China, dan sebaginya. Setiap kalender memiliki perhitungan sendiri. Tahun ini seperti yang kita kenal sekarang adalah penanggalan barat (tahun masehi). Kalender ini adalah karya Paus Gregorius XIII tahun 1508 (karena itu sering juga disebut Kalender Gregorius), perhitungannya dimulai dari kelahiran Tuhan Yesus.

Akan tetapi, terlepas kalender apa pun yang digunakan, pemahaman tentang “pengujung tahun” tetaplah sangat penting. Itu mengingatkan kita akan kefanaan hidup ini, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan berakhir. Hidup kita, dengan segala suka dan dukanya, kesuksesan dan kegagalannya, cepat atau lambat akan berlalu. Yakobus mengumpamakan hidup ini seperti uap “yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (ayat 14). Ya, betapa ringkih dan rapuhnya hidup kita di dunia ini.

Maka, baiklah kita bijak dalam menjalani hari-hari kita, agar kita tidak salah melangkah, yaitu dengan senantiasa melibatkan Tuhan dalam setiap rencana (ayat 15). Jangan berpikir, bahwa kita akan mampu menentukan dan melakukan segala-galanya seorang diri, tanpa Tuhan. Itu adalah sebuah kecongkakan (ayat 16). Sebab, betapa pun hebatnya kita, tetaplah kita ini mahluk yang fana. Mari, dalam setiap langkah, kita selalu ingat dan lekat pada Sang Pencipta. Hanya dengan demikian hidup kita akan terjaga. Selamat menyongsong tahun yang baru.

Hidup ini bukan warisan yang bisa kita pergunakan seenaknya, melainkan titipan Tuhan yang harus kita pertanggungjawabkan.


Penulis: Ayub Yahya

Tuesday, December 15, 2009

Menunggu Dengan Sabar

Menunggu Dengan Sabar

Oleh : Pdt Dr.Erastus Sabdono.

Setiap kita pasti mengalami persoalan-persoalan hidup yang membuat hidup kita terasa sukar. Pada saat-saat seperti itu kita pasti menantikan datangnya pertolongan Tuhan. Masalahnya adalah bagaimana kita menunggu dan mengalami pertolongan Tuhan itu? Ketika kita ada dalam satu persoalan hidup yang berat, yang harus kita percayai adalah pribadi Allah yang tidak mungkin membiarkan kita menghadapi cobaan yang melebihi kekuatan kita. Namun kadang kita menjadi lemah dan putus asa ketika persoalan itu menjadi semakin berat, sementara kita berdoa tak kunjung datang pertolongan-Nya. Untuk ini kita perlu belajar bagaimana caranya menunggu dengan tenang datangnya pertolongan Tuhan tersebut. Ada beberapa sikap hati yang harus kita terapkan di sini dalam menunggu dengan tenang datangnya pertolongan Tuhan tersebut.
Pertama, kita harus berani untuk bersabar dalam menunggu datangnya pertolongan Tuhan tersebut. Pada umumnya kita cenderung untuk mendesak Tuhan supaya Ia segera memberikan pertolongan-Nya. Tetapi sebagai orang percaya yang dewasa, kita harus mempercayai Tuhan bahwa Ia memiliki waktu-Nya sendiri. Menunggu waktunya Tuhan merupakan pergumulan untuk percaya sepenuhnya kepada pribadi Tuhan yang bijaksana. Pada akhirnya Tuhan akan memberi pertolongan walaupun kelihatannya waktu sudah semakin habis dan keadaan terlihat sudah tertolong lagi. Dalam hal ini kita harus belajar untuk mengikuti jadwalnya Tuhan, dan bukan jadwalnya kita. Dan yakinlah bahwa Tuhan tidak akan pernah terlambat sedetikpun dalam memberikan pertolongan-Nya.
Kedua, Kita harus menutup mata dan teliga kita terhadap sumber lain. Kita harus menaruh harap hanya kepada Tuhan saja. Dengan mengharapkan pertolongan yang datang dari Tuhan saja, maka Tuhan akan memperkenalkan diri-Nya kepada kita supaya terbangun sebuah hubungan intim antara kita dengan-Nya. Ia ingin kita dapat mempercayai-Nya sebagai mempelai pria yang tidak pernah ingkar janji terhadap kita sebagai mempelai wanitaNya. Ia mau membuktikan pada kita bahwa Ia adalah Allah yang selalu bertanggung jawab atas keadaan kita. Untuk itulah diperlukan keintiman antara kita dengan-Nya supaya kita memiliki keyakinan penuh kepada-Nya dan tidak menyeleweng kepada sumber lain selain daripada diri-Nya.
Ketiga, kita harus tetap beriman kepada-Nya. Kadang saat kita bersabar dalam menantikan pertolongan-Nya, iman kita mulai memudar sedikit demi sedikit. Dalam Ibr. 6:12 kita dinasehati untuk “… Jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” Haruskah kita merasa heran atau patah semangat bila setelah menerima janji dari Tuhan, penggenapannya mulai tampak semakin jauh? Kesabaran adalah peragaan dari iman, namun hanya sedikit orang yang memahami hal ini. Karena gagal memahaminya, hanya sedikit orang yang dapat mencapai penggenapan dari janji Allah dalam hidup mereka. Tanpa iman, kesabaran tidak akan dapat bertahan lama. Tanpa kesabaran, iman tidak akan mendatangkan hasil.
Keempat, Kita harus meyakini bahwa apapun jawaban Tuhan atas doa kita, walaupun itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tetapi itulah yang terbaik bagi kita. Mengapa demikian? Karena manusia sering meminta yang baik dari Allah, tetapi Allah selalu memiliki yang terbaik untuk manusia.

Solagracia

Friday, November 20, 2009

Buang Rasa Khawatir, Jangan Tumpuk Harta

Buang Rasa Khawatir, Jangan Tumpuk Harta

Oleh : Pdt. Bigman Sirait

HARTA adalah anugerah Allah kepada manusia untuk menghidupi hidup-nya. Harta adalah sesuatu yang Tuhan sediakan. Di Mazmur 127 dikatakan bahwa ketika kita masih tidur Tuhan sudah menyediakan roti yang kita butuhkan untuk esok pagi. Tapi ayat ini tidak untuk mengajarkan kita tidak perlu bekerja. Ayat ini justru mengajarkan bahwa ada jaminan yang Allah sediakan bagi kita, tetapi Allah mau kita bertindak di dalam kehidupan secara bertanggung jawab, yaitu dengan otak, tenaga, dan talenta yang Tuhan berikan. Itu kita pakai mengelola hidup, untuk mendapatkan apa yang Tuhan sudah sediakan bagi kita.


Kenapa kita khawatir? Karena ada keterbatasan kita di dalam ruang dan waktu. Keterbatasan membuat kita tidak mengetahui apa yang terjadi besok. Menurut hitung-hitungan kita, jika tidak punya uang tidak bisa makan. Kalau tidak punya deposito cukup, berat menyekolahkan anak. Hitungan-hitungan itu memang tidak salah. Dalam keterbatasan, kita berpikir seperti itu. Seluruh yang ada itu bisa kita hitung sedemikian rupa: sebab-akibatnya dan logika jalannya. Dalam keterba-tasan itu kita mampu berhitung dengan jitu dan tepat.
Jadi, masak kita tidak mau belajar pada realita umum yang disebut sebagai anugerah umum common grace. Kalau rajin be-lajar pasti pintar. Kalau Anda baik, dihargai orang dan banyak sahabat, mereka pasti meno-longmu. Secara common grace, semua orang diperlihara oleh kasih Tuhan. Karena Tuhan me-ngatakan bahwa Dia memberikan matahari bukan hanya untuk orang baik, tetapi juga orang jahat. Maka secara anugerah umum tadi kita sadar ada berkat Tuhan yang mengalir dalam hidup. Tetapi jangan kaitkan ini dengan special grace, kese-lamatan. Maka dalam common grace tadi, orang bisa belajar, bisa bertumbuh di dalam ke-imanannya, memahami kebenar-an kasih setia Allah. Maka di dalam keimanannya itu, ia akan bertumbuh dan makin kuat menaruh harapannya kepada Tuhan, dan pengharapannya itu akan merangsang dia untuk bekerja secara betanggung jawab di hadapan Tuhan.
Jadi, kalau secara umum orang baik membuka peluang masa depan bagi dirinya, apalagi orang yang takut Tuhan. Orang takut Tuhan pasti baik kan? Tapi jangan mengaku percaya Tuhan, tetapi Anda terkenal sebagai pekerja yang tidak jujur, tidak suka menolong. Jangan mengaku cinta Yesus tetapi Anda dikenal sebagai teman kerja yang tidak bisa diandalkan. Lalu kau berdoa marah-marah sama Tuhan. “Di manakah pemeliharaan-Mu?...” Lalu muncullah rasa khawatirmu tentang hidup ini, maka doamu selalu menuntut apa yang kau perlukan dalam hidupmu. Maka kau melupakan prinsip yang Tuhan ajarkan: “Cari dahulu kerajaan Allah semuanya akan ditambahkan bagimu” (Matius 6: 33). Orang yang mencari kerajaan Allah adalah yang melakukan kehendak-kehendak Allah dalam hidupnya. Maka dia jujur, bisa diandalkan, rekan yang baik dan menyenangkan. Maka dengan sendirinya dia akan mendapatkan penghargaan, bukan?

Nikmati porsi masing-masing
Jadi, mencari kerajaan Allah itu musti diterjemahkan secara praktikal dalam hidup. Jangan dijadikan semacam ayat yang menyembunyikan kesulitan kita dan mencoba lari dan bersembunyi di balik itu. Itu membunuh tanggung jawab kita untuk hidup seperti apa yang Tuhan kehendaki dalam rangka mencari kerajaan itu.
Karena itu mari kita hidup seperti yang Tuhan kehendaki. Cari kerajaan-Nya itu, lakukan kehendak-Nya, jangan sampai salah langkah, salah kaprah. Oleh karena itulah harta yang ada di dalam hidup ini tidak boleh kita khawatirkan. Kekhawatiran terhadap harta atau hidup ini hanya menunjukkan kesalahpahaman kita tentang arti pemeliharaan Tuhan. Jadi karena itu, jangan kamu khawatir akan hidupmu, apa yang hendak kamu makan atau minum. Jangan khawatir akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup lebih penting dari makanan? Tubuh lebih penting dari pakaian, dan hidup kita dipelihara Tuhan.
Khawatirlah kalau hidupmu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Khawatirlah kalau kamu bukan mencari kerajaan Tuhan, tetapi mencari kerajaanmu sendiri. Khawatirlah sekalipun dalam pencarian kerajaan itu saudara mempunyai banyak harta benda, karena harta benda itu bisa menjadi malapetaka. Kaya-miskin hanyalah dinamika dalam hidup yang harus disikapi dengan lapang dada. Yang kaya tidak besar kepala. Yang miskin tidak kecil hati, tetapi bagaimana menikmati masing-masing porsi yang Tuhan berikan pada kita. Karena tujuan utama kita bukan bagaimana kita bekerja untuk mendapatkan banyak harta tetapi bagaimana hidup memuliakan Tuhan.
Oleh karena itu tempatkanlah harta itu sebagai alat dalam kehidupan, bukan tujuan utama. Jangan pernah khawatir terhadap hal itu sekalipun manusia riskan atas hal itu, tetapi itulah perjuangan kita melawan rasa khawatir. Selama rasa khawatir itu kita biarkan bertumbuh berkembang bahkan menguasai kehidupan kita maka selama itu kita tidak akan pernah mengalami pertumbuhan iman yang utuh. Selama rasa khawatir itu melanda kehidupan maka selama itu pula kita tidak bisa apa-apa dalam membangun semangat keberimanan.
Karena itu belajarlah untuk membuang rasa khawatir itu dengan hidup bergantung pada Tuhan, bukan dengan menumpuk segala apa yang kau anggap bisa menjamin masa depanmu. Tidak ada yang salah dengan kekayaan. Yang salah sikap terhadap kekayaan. Tak ada yang salah dengan harta. Yang salah sikap terhadap harta itu. Jangan harta menjadi jaminan hidupmu, tetapi Tuhan. Tetapi kalau kau bilang Tuhan jaminan hidupmu, itu harus tampak benar-benar dalam aktivitasmu.
Jangan khawatir tentang apa yang akan kau makan, minum, pakai. Kekhawatiran tidak akan mengubah apa pun, tetapi bersyukurlah di dalam kekhawatiran yang sudah salah itu, toh Tuhan berbelas kasihan, mendidik membimbing menuntun kita. Karena itu mulailah dengan belajar mencari dulu kerajaan Allah supaya kau tidak terjebak dalam lilitan persoalan. (Artikel diambil dari Tabloid Reformata)

Wednesday, November 18, 2009

Saya Juga Munafik

Saya Juga Munafik

Bacaan hari ini: Matius 7:1-5
Ayat mas hari ini: Matius 7:5
Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 7-10


Kathleen Norris, dalam The Cloister Walk, bercerita tentang pengalamannya bergereja. Suatu ketika ia ditanyai seorang mahasiswa, mengapa ia terus pergi ke gereja dan bisa tahan menghadapi kemunafikan orang-orang kristiani. Ia merasa memperoleh ilham yang jitu, dan menjawab, ”Satu-satunya orang munafik yang perlu saya cemaskan pada hari Minggu pagi adalah diri saya sendiri.” Kathleen mengelakkan kecenderungan untuk mempersalahkan orang lain, dan memilih untuk berintrospeksi diri.

Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia cenderung gampang melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Ia cepat melihat dan menghakimi pelanggaran orang lain, tetapi lamur terhadap pelanggarannya sendiri. Ketika dirinya yang melakukan pelanggaran, ia segera sibuk menuding orang lain sebagai penyebab pelanggarannya itu. Tuhan Yesus menghardik sikap munafik semacam itu. Dia tidak mengajari kita untuk menutup mata terhadap pelanggaran, tetapi mengarahkan kita untuk memulai pemeriksaan dari tempat yang benar: dari diri kita sendiri. Kita masing-masing memiliki “balok’”, kecenderungan untuk melakukan dosa dan pelanggaran. Kita perlu terlebih dahulu merendahkan diri dan meminta pertolongan Tuhan untuk mengeluarkan balok tersebut. Pandangan kita pun akan menjadi jernih, sehingga nantinya kita bisa menuntun saudara yang lain untuk mengeluarkan serpihan kayu dari matanya.

Hadapilah, oleh anugerah Tuhan dan ketaatan pada firman-Nya, dosa yang mencobai Anda. Kemenangan atas dosa itu akan memampukan Anda untuk menolong orang lain mengatasi dosa yang serupa.


JANGAN MENGHAKIMI DOSA ORANG LAIN KALAU ANDA TIDAK BERSEDIA MENOLONG ORANG ITU MENGATASI DOSANYA

Penulis: Arie Saptaji

Menjaga Rahasia

Menjaga Rahasia

Bacaan hari ini: Matius 17:1-9
Ayat mas hari ini: Matius 17:9
Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 4-6


Bayangkan. Suatu hari Anda bertemu dengan aktor film terkenal di ruang tunggu bandara. Ia duduk di sebelah Anda, bahkan mengajak Anda bicara. Apa yang akan Anda lakukan? Mungkin Anda akan mengajaknya foto bersama; mengabadikan peristiwa langka itu. Sesampainya di rumah, pasti Anda tidak tahan lagi untuk menceritakan pengalaman istimewa itu pada semua orang.

Petrus, Yohanes, dan Yakobus juga pernah punya pengalaman istimewa ketika mereka diajak Yesus naik gunung. Di situ mereka menyaksikan pemandangan spektakuler. Tuhan Yesus berubah rupa. Bercahaya. Keilahian-Nya terpancar keluar. Lalu mereka melihat Musa dan Elia, dua nabi terbesar dalam sejarah Israel. Tak seorang pun pernah menyaksikan peristiwa sedahsyat ini! Ketiganya sudah tak sabar lagi menceritakan apa yang mereka lihat. Ini wajar, tetapi Yesus melarang mereka bercerita. Saatnya belum tiba. Lagipula Yesus tak ingin ketiganya jadi besar kepala. Mereka harus tutup mulut. Ini tidak mudah. Menjaga rahasia berarti melawan keinginan untuk dipandang hebat. Perlu pengendalian diri. Syukurlah Petrus berhasil. Puluhan tahun kemudian, baru ia ceritakan kejadian ini dalam suratnya (Baca 2 Petrus 1:17,18).

Bisakah Anda menjaga rahasia? Orang kerap membocorkan rahasia, lantas berkata: ”Jangan bilang kepada siapa-siapa lagi.” Dengan begitu orang berpikir tak akan menimbulkan masalah. Toh ”hanya” satu-dua orang yang tahu. Namun akhirnya, rahasia itu bocor ke mana-mana; menimbulkan masalah; melukai hati. Kita perlu belajar mengendalikan diri seperti ketiga murid Yesus. Ada saatnya diam adalah emas.


KEGAGALAN MENJAGA RAHASIA MEMBUAT ORANG TAK LAGI PANTAS DIPERCAYA

Penulis: Juswantori Ichwan

Friday, October 30, 2009

Mati Bagi Diri Sendiri

Mati Bagi Diri Sendiri

Oleh: Pdt.DR.Erastus Sabdono.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang harus dan patut kita teladani. Dalam Yoh. 12:24 kita menemukan rahasia kehidupan yang berbuah. Kehidupan yang menjadi berkat bagi orang lain. Biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati merupakan kiasan dari kenyataan hidup Yesus yang dikorbankan di atas kayu salib yang oleh karenanya dunia diselamatkan. Dari kenyataan ini kita dapat menimba kebenaran: Bahwa sebagaimana Yesus telah mengorbankan diri mati dan menjadi berkat bagi orang lain, maka nafas kebenaran ini juga kita miliki yaitu: Rela mati untuk menjadi berkat bagi orang lain. Mati disini tentu bukan mati fisik. Inilah kematian bagi diri sendiri, pribadi yang menjadi seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Seorang yang telah mati bagi diri sendiri adalah:

Pertama, pribadi yang tidak mempertahankan reputasi dan harga diri tatkala ia tidak dihargai dalam pelayanan maupun pekerjaannya. Ia tidak perlu layak menerima penghargaan oleh karena prestasinya dalam pelayanan maupun pekerjaannya. Menjadi orang yang melayani Tuhan adalah menjadi hamba dan pencuci kaki orang lain. Prinsip Yesus ini tidak boleh ditanggalkan. Aku datang bukan untuk dilayani tetapi melayani (Mat. 20:28).

Kedua, pribadi yang tidak merasa berhak menerima upah sekalipun telah berjerih lelah lebih dari orang lain. Ia akan berkata seperti Paulus berkata: “Inilah upahku yaitu kalau aku boleh memberitakan Injil tanpa upah” (1Kor. 9:18). Bahkan ucapan terima kasih pun tidak perlu dituntut dari orang yang telah makan budi baik dan menikmati pelayanan kita. Adalah kebahagian kalau kita beroleh tempat pelayanan yang jemaat tidak mampu membalas kebaikan kita.

Ketiga, pribadi yang telah menyerahkan seluruh miliknya sebagai korban persembahan kepada Raja di atas segala raja – Tuhan Yesus Kristus. Kita harus belajar untuk merasa tidak bermilik dan memang kita dipanggil untuk tidak bermilik (Luk. 9:58). Hidup di dunia ini hanya sementara, untuk itu hidup kita ini harus menjadi korban persembahan dan bukan malah makan korban.

Keempat, pribadi yang taat seperti yang dicontohkan Yesus bagi kita. Ia taat bahkan sampai mati di kayu salib. Ketaatan yang membuahkan keselamatan bagi orang lain. Oleh sebab itu untuk menjadi berkat bagi sesama, kita harus rela masuki “kematian” setiap hari, supaya kehidupan Yesus nyata dalam diri kita. Alkitab berkata bahwa kita semua adalah surat yang terbuka yang dibaca setiap orang. Dari situlah nama Tuhan akan dipermuliakan atau akan dipermalukan lewat kehidupan kita.

SolaGracia.

Friday, October 16, 2009

Alasan Untuk Memaafkan

Alasan untuk Memaafkan

Bacaan hari ini: Matius 18:21-35
Ayat mas hari ini: Matius 6:12
Bacaan Alkitab Setahun: Matius 1-4


Di sebuah ruang pengadilan, seorang pemuda duduk di kursi terdakwa. Ia didakwa membunuh teman sebayanya. Sebelum hakim membaca keputusan, ia bertanya kepada ayah anak yang menjadi korban, “Pemuda ini terbukti bersalah telah membunuh putra Anda. Menurut Anda hukuman apa yang setimpal untuknya?” Bapak tua itu menjawab, “Pak Hakim, anak saya satu-satunya telah meninggal. Hukuman apa pun tidak akan mengembalikan hidupnya. Saya sangat mengasihinya, dan sekarang tidak punya siapa-siapa untuk saya kasihi. Tolong kirimkan terdakwa ke rumah saya, untuk menjadi anak saya.”

Apa reaksi kita terhadap orang yang pernah menyakiti kita? Ingin menghukumnya? Mencoba untuk membuatnya merasakan penderitaan yang kita rasakan, bahkan kalau bisa lebih menderita; biar tahu rasa? Memaafkan memang bukan perkara semudah membalikkan telapak tangan. Namun, begitulah yang Tuhan ingin kita lakukan (ayat 22). Lalu, bagaimana melaksanakan kehendak Tuhan itu di tengah keterbatasan kita?

Pertama, sadari bahwa ibarat orang berutang, kita lebih punya banyak utang kepada Tuhan, daripada orang lain kepada kita. Dosa kita yang begitu banyak, oleh kasih Kristus lunas dibayar di kayu salib. Jadi, kalau utang kita yang segitu banyaknya sudah Tuhan bayar lunas, mengapa kita masih terus menuntut orang lain ”membayar” utangnya kepada kita (ayat 33)? Kedua, sadari bahwa menyimpan dendam dan kebencian dalam hati hanya akan menimbulkan ketidaksejahteraan. Hanya menambah beban. Dengan memaafkan sebetulnya kita tengah berbuat baik kepada diri sendiri.


Kekuatan seseorang terletak ketika ia bisa memaafkan orang yang menyakitinya

Penulis: Ayub Yahya

Monday, October 5, 2009

Tanda-tanda Zaman

Tanda-tanda Zaman

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono

Sebagai mahluk kekal, setiap manusia menghadapi resiko kekekalan dalam hidupnya yang singkat. Oleh sebab itu manusia yang tidak mempertimbangkan hal ini adalah manusia bodoh, tidak berakal. Kesukaran-kesukaran hidup yang terjadi dalam hidup kita sebenarnya hendak mengajak kita untuk berpaling kepada Tuhan dan mencari apa yang bernilai abadi. Planet yang kita huni ini bukanlah dunia yang menjanjikan. Kebakaran hutan, menipisnya lapisan ozon, gejala-gejala yang aneh dan menakutkan, makin berkurangnya sumber kekayaan alam, krisis-krisis hidup manusia (ekonomi,moral, politik,keamanan yang berkaitan dengan ancaman nuklir dan senjata perang pemusnah lain), dan berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidup manusia seperti berbagai penyakit yang muncul tanpa ada terapinya, ancaman asteroid yang bisa menabrak bumi dan sebagainya.

Berbahagialah mereka yang dapat membaca tanda zaman ini dan berpaling kepada Tuhan dan mencari-Nya. Jika kita termasuk pencari Tuhan, kita tergolong dalam kelompok yang sempat tertolong. Banyak kelompok yang tidak sempat tertolong lagi, sebab pandangan hidup mereka tertuju kepada dunia ini semata-mata. Mereka tidak percaya Tuhan Yesus akan datang sesegera mungkin. Mereka berpikir bahwa Tuhan Yesus datang barangkali 100 tahun lagi atau lebih.

Sebagaimana seseorang dapat mengenali cuaca dengan tanda-tanda yang ada, demikian pula seorang anak Tuhan harus dapat menemukan tanda-tanda zaman untuk mengerti saat-saat penting tersebut, kita dapat mengambil tindakan-tindakan yang perlu (Mat.24:45-51). Tanda-tanda zaman yang kita dapat baca ini akan menggerakan kita melakukan tindakan yang penting.

Kalau ternyata planet yang kita huni ini tidak menjanjikan kehidupan yang sejahtera, bahkan makin mencemaskan, maka kita didorong untuk mencari kehidupan di dunia lain yang menjanjikan suatu kehidupan yang indah dan bernilai kekal. Kehidupan seperti ini tidak dapat kita jumpai dalam agama dan ajaran manapun, kecuali apa yang diajarkan Tuhan Yesus (Yoh.15:1-4). Itu sebabnya Tuhan Yesus berkali-kali menasehati agar kita mencari dan mengutamakan harta surgawi yang memiliki nilai kekal (Mat.6:19-21). Paulus pun demikian (Kol.3:1-4). Yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan dalam kehidupan pribadi kita, agar kita diperkenankan bertemu dengan Tuhan di awan-awan permai (1 Tes.4:17).

Artikel ini diambil dari : Truth Daily Enlightenment.

Wednesday, September 9, 2009

Mitra Sejajar

Mitra Sejajar

Bacaan hari ini: Hakim-hakim 4:1-10
Ayat mas hari ini: Hakim-hakim 4:8
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 26-29


Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu. Namun, ada kala pria tak berdaya. Tekuk lutut di sudut kerling wanita.” Demikian petikan syair lagu lama berjudul Sabda Alam, ciptaan Ismail Marzuki. Ungkapan “wanita dijajah pria” dan “pria tekuk lutut di sudut kerling wanita”, menggambarkan seolah-olah pria dan wanita berhadapan sebagai lawan. Namun, harus diakui bahwa penggambaran seperti itulah yang kerap terjadi dalam kenyataan. Pria dan wanita tidak berdampingan sebagai mitra, tetapi sebagai pesaing; tidak saling mendukung, tetapi saling menundukkan; tidak saling melengkapi, tetapi saling mempreteli.

Hal ini jelas tidak sesuai dengan rencana Allah ketika menciptakan pria dan wanita. Di dalam Kejadian 1:27 dikatakan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Artinya, baik pria maupun wanita sama-sama segambar dengan Allah; keduanya sama penting di hadapan Allah. Sederajat. Sepadan.

Debora dan Barak memberi contoh yang sangat baik tentang makna kemitraan pria dan wanita. Mereka bahu-membahu memimpin umat Israel mengalahkan musuhnya. Kuncinya adalah merendahkan hati untuk menyadari dan mengakui, bahwa masing-masing, pria dan wanita, saling membutuhkan. Pria tidak lengkap tanpa wanita, wanita tidak lengkap tanpa pria. Begitu juga dalam keluarga. Suami dan istri sama-sama pentingnya. Kalau suami itu “kepala” keluarga, istri adalah “leher” keluarga. Dengan kesadaran dan pengakuan demikian, pria dan wanita bisa membangun relasi berdasarkan saling menghargai dan menghormati.


KEMITRAAN PRIA DAN WANITA AKAN TERJALIN BAIK KALAU MASING-MASING PUNYA RASA RESPEK DAN HORMAT

Penulis: Ayub Yahya

Wednesday, September 2, 2009

Rapor Merah Gereja


Jangan Karikaturkan Tuhan

Artikel diambil dari : Majalah Truth edisi 17 “Rapor Merah Gereja”

Tokoh besar dari India, Mohandas Gandhi ( Mahatma Gandhi) pernah menyatakan bahwa yang membuatnya tidak pernah menjadi orang Kristen adalah orang-orang Kristen sendiri yang tidak menampilkan kehidupan seperti guruNya, Tuhan Yesus Kristus. Dengan nada penuh kekaguman kepada Tuhan Yesus dan kekecewaan serta keprihatinan terhadap gereja, sang pemimpin India dan pujangga itu berkata, “ I like your Christ, I do not like your Christian, your Christian are so unlike your Christ” ( Saya suka Kristusmu, saya tidak suka Kristenmu –artinya anggota gereja, Kristenmu tidak ada miripnya dengan Kristusmu).

Sejatinya tak seorang pun sanggup menolak Yesus Kristus, yang mereka tolak adalah “karikatur” tentang Yesus Kristus. Siapa yang mengarikaturkan “wajah Tuhan Yesus ? Siapa lagi kalau bukan gereja yang dirancang menampilkan “wajah” Tuhan. Ternyata gambar itu adalah gambar melenceng.

Gereja masa kini masih jauh dari menampilkan wajah Tuhan yang semestinya. Masih banyak orang sulit menemukan wajah Tuhan, melalui gereja. Gereja memang sibuk “menyembah” Tuhan, tetapi benarkah anggota gereja menyembah Tuhan? Penyembah itu tunduk kepada yang disembah, penyembah itu takluk tanpa batas kepada yang disembah.

Tetapi perhatikanlah “hidup” gereja, mulai pemimpinnya sampai kepada jemaat yang ada. Para pemimpin gereja lebih layak disebut selebriti daripada seseorang hamba bagi Yesus Kristus.

Akibatnya, gereja menjadi bahan cibiran, Fasih berbicara mengenai kasih dan kesucian, tetapi ternyata kelakuannya tidak berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya banyak orang diluar gereja tidak pernah mengenal injil Tuhan Yesus Kristus dan tidak pernah diselamatkan.
Seorang pemimpin jemaat harus dapat menampilkan kehidupan Yesus Kristus dalam seluruh perilakunya. Bila tidak, akibatnya sangat mengerikan. Seorang pemimpin mengimpartasikan “spirit” kepada yang dipimpin. Akibatnya bisa diterka, gereja akan semakin menjadi bahan olokan. Seorang pemimpin jemaat harus dapat menjadi “role model” bagi seluruh jemaatnya. Dari kualitas pemimpin jemaat, dapat dilihat kualitas seluruh pegiatnya dan jemaat yang dilayani, kalau rapor kehidupan seseorang pemimpin jemaat sudah merah, maka hampir dipastikan bahwa nilai rapor kehidupan jemaatnya juga pasti merah.

Friday, August 28, 2009

Pemuas Dahaga

Pemuas Dahaga

Bacaan hari ini: Yohanes 4:12-19
Ayat mas hari ini: Yohanes 4:15
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 20-23


Pernah ibu saya dirawat di ICU karena gagal jantung. Dokter memasukkan selang-selang plastik ke dalam mulutnya dari mesin pompa darah. Ketika sadar, ia tak bisa bicara. Bibirnya yang kering mencoba berbisik: “Haus ... haus ....” Ia haus luar biasa, tetapi saya dilarang memberinya minum. Saya hanya boleh mengolesi bibirnya dengan kapas yang dibasahi air. Sungguh pedih melihat ia menderita kehausan, sementara yang saya lakukan tak cukup untuk memuaskan dahaganya.

Kehausan adalah penderitaan hebat. Orang bisa membayar berapa pun untuk memuaskan dahaga. Perempuan Samaria yang ditemui Yesus juga kehausan luar biasa. Bukan haus akan air, tetapi haus kasih sayang. Ia mengira, dengan menikahi seorang laki-laki, dahaganya akan kasih dapat terpuaskan. Nyatanya tidak. Ia mencoba lagi dengan laki-laki lain. Sama saja. Sampai lelaki keenam, ia tetap dahaga. Yesus berkata, yang perempuan itu butuhkan ialah “air hidup.” Maksudnya, Roh Kudus (bandingkan dengan Yohanes 7:38,39). Hanya Roh Kudus yang dapat mengisi ruang kosong di hati kita. Memberi kehangatan kasih sejati yang tak dapat manusia berikan. Jika kasih-Nya melimpah di hati, kita akan merasa puas. Tidak lagi menuntut terlalu banyak dari kasih manusia yang terbatas dan bersyarat.

Apakah Anda sering kecewa karena merasa kurang dikasihi? Apakah Anda berharap terlalu banyak pada orang terdekat? Berhentilah menjadikan orang lain sebagai sumber kasih. Minta Roh Kudus memenuhi hati Anda dengan kasih-Nya. Anda akan diubahkan oleh-Nya menjadi penyalur kasih, bukan pengemis kasih.


JADIKAN TUHAN SUMBER KASIH. ANDA TAK AKAN LAGI MENJADI PENGEMIS KASIH

Penulis: Juswantori Ichwan

Wednesday, August 26, 2009

Rasa Bersalah Palsu

Rasa Bersalah Palsu

Bacaan hari ini: 2 Korintus 7:1-10
Ayat mas hari ini: 2 Korintus 7:10
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 7-9


Sudah setahun Anton selingkuh dengan teman kantornya. Akhirnya ketahuan juga oleh istri dan teman-teman gereja. Pendeta datang membesuk dan menegurnya. Anton mengaku bersalah. Ia menyesal, tetapi tak rela meninggalkan kekasihnya. “Kasihan,” katanya, “Ia belum menikah. Ke mana ia harus pergi? Saya yang berbuat, kini saya harus bertanggung jawab. Jika saya mencampakkannya, saya akan dikejar rasa bersalah!” Anton lupa, dengan mempertahankan hubungan gelap itu, justru ia bersalah lebih besar terhadap istri dan anak-anaknya.

Rasa bersalah tak selalu mendorong orang bertobat. Menurut Rasul Paulus, ada rasa bersalah sejati, ada juga yang palsu. Rasa bersalah sejati adalah “dukacita menurut kehendak Allah”. Datangnya dari teguran ilahi. Jemaat Korintus pernah menerima surat teguran yang keras dari Paulus, karena mereka membiarkan guru-guru palsu mengacaukan jemaat. Teguran ini membuat mereka menyesal, meratapi dosanya, lalu bertobat (ayat 8,9). Tidaklah demikian dengan rasa bersalah palsu; “dukacita yang dari dunia.” Di sini sang pelaku meratapi akibat dosanya, bukan dosa itu sendiri. Anton bersedih karena perbuatannya ketahuan. Ia berduka karena tak rela meninggalkan selingkuhannya, bukan karena menyadari dosanya pada Tuhan dan keluarga. Rasa bersalah palsu membuatnya berusaha menutupi dosa, bahkan meneruskannya karena “sudah kepalang tanggung”.

Ketika Anda ditegur karena berbuat dosa, bagaimana reaksi Anda? Mengakuinya atau berusaha menutupi? Rasa bersalah seperti apa yang muncul? Mintalah Tuhan memberi Anda rasa bersalah sejati.


RASA BERSALAH YANG TIDAK DIIKUTI DENGAN PERTOBATAN, BUKAN RASA BERSALAH YANG DARI TUHAN

Penulis: Juswantori Ichwan

Thursday, August 20, 2009

Pelayanan Tanpa Batas

Ibadah Adalah Pelayanan

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono

Kerajaan manusia di gereja harus diganti menjadi Kerajaan Tuhan; artinya pemerintahan Tuhan harus terselenggara dalam kehidupan orang percaya dalam seluruh kegiatannya, bukan hanya dalam lingkungan gereja. Pelayanan yang benar adalah pelayanan tanpa batas, artinya usaha yang dilakukan demi kepentingan atau keuntungan Tuhan, sehingga memuaskan dan menyenangkan hati-Nya (Gal. 1:10). Ini pelayanan yang tidak dibatasi oleh ruangan, berarti bukan hanya di lingkungan gereja dan lembaga-lembaga Kristen. Tempat pelayanannya adalah seluruh wilayah di mana mereka dapat menyelenggarakan hidup bagi kepentingan sesama.
Dalam hal ini, kita harus belajar apa yang dimaksud dengan ibadah. Ibadah atau yang juga sering disebut sebagai kebaktian bukan hanya terselenggara di gereja, tetapi di mana pun orang percaya berada harus beribadah atau berbakti kepada Tuhan. Rm. 12:1 mengatakan, “… Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Artinya, ketika seseorang menggunakan seluruh potensi dalam kehidupannya untuk kepentingan Tuhan, itu sebuah ibadah. Untuk Tuhan berarti bukan hanya ditujukan bagi kegiatan gereja, tetapi ditujukan untuk kepentingan sesama manusia. Kata “ibadah” dalam ayat ini adalah λατρεία (latria) yang lebih tepat diterjemahkan “service” atau “pelayanan”. Jadi kalau selama ini banyak orang berpikir bahwa pelayanan adalah kegiatan gereja semata-mata, itu suatu pembodohan.
Dalam Mat. 25:31–46, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa segala perbuatan baik yang telah kita lakukan bagi orang yang membutuhkan pertolongan, yang membuat mereka mengenal Juruselamat dan dipersiapkan masuk kerajaan Surga, adalah perbuatan baik Tuhan sendiri. Ini berarti bahwa justru pelayanan yang benar dan nyata adalah perjalanan hidup kita setiap hari di tempat kita menyelenggarakan hidup, baik di rumah, toko, kantor, pergaulan, sekolah, kampus, dan sebagainya. Di tempat aktivitas kita setiap harilah pelayanan yang sesungguhnya. Pelayanan ini pasti jauh lebih berdampak. Harus diingat bahwa garam bukan hanya di toko. Garam dibutuhkan di dapur, bukan di ruang tamu. Bila ditempatkan di ruangan yang salah, garam tidak akan efektif sesuai fungsinya. Garam di ruang tamu tidak berdampak. Garam justru berdaya guna di dapur atau di tempat di mana ia dibutuhkan. Gereja tidak terlalu membutuhkan orang Kristen berkiprah, tetapi justru di tengah-tengah masyarakatlah kiprah kita diperlukan. Gereja adalah gudang garamnya.

Pelayanan yang benar adalah pelayanan tanpa batas, artinya usaha yang dilakukan demi kepentingan atau keuntungan Tuhan, sehingga memuaskan dan menyenangkan hati-Nya.

Tuesday, August 18, 2009

Berhenti Meminta untuk Diri Sendiri

Berhenti Meminta untuk Diri Sendiri

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (Truth Daily)

Orang percaya yang semakin dewasa semakin tidak memiliki banyak permintaan kepada Tuhan bagi dirinya sendiri. Akhirnya ia malah tidak meminta sesuatu untuk kepentingannya sendiri. Semua permohonannya kepada Tuhan adalah sesuatu yang ditujukan bagi kepentingan Tuhan sendiri. Hal ini bisa terjadi kalau seseorang sudah berhenti memperhatikan kepentingan dan kesenangannya sendiri (Flp. 2:1-3). Mereka adalah orang-orang yang berurusan dengan Tuhan bukan karena mau mempercakapkan dan menuntut haknya, melainkan karena mau mempercakapkan dan mempersoalkan kewajiban di hadapan Tuhan. Berkenaan dengan hal ini hendaknya kita tidak meragukan kesetiaan Tuhan dalam memenuhi hak-hak kita sebagai anak-anak-Nya, tetapi ragukanlah apakah diri kita sendiri telah memenuhi kewajiban kita bagi Tuhan?

Orang yang berhenti memperhatikan kepentingan dan kesenangan sendiri dan mengalihkan perhatiannya kepada Tuhan akan memperoleh pemenuhan segala kebutuhan dan kebahagiaan dari Tuhan yang mempedulikannya. Maka hendaknya kita tidak ragu-ragu untuk melepaskan naluri egoisme kita, dan menggantikannya dengan pengabdian bagi Tuhan. Kesediaan kita berpaling dari kepentingan dan kesenangan diri sendiri tidak akan mengurangi kesukaan dan kebahagian kita.

Orang-orang percaya yang telah akil balig ini menjadikan doa bukan sekedar permintaan, tetapi sebuah dialog. Dalam berdoa terjadi percakapan, sehingga yang penting adalah menemukan apa yang Tuhan kehendaki untuk dimengerti dan dilakukan. Doa bukan sarana untuk mengatur Tuhan dan membujuk-bujuk-Nya melakukan sesuatu untuk kepentingan kita, tetapi perburuan untuk mengenal Tuhan, kehendak dan rencana-Nya. Pola hidup orang percaya yang menggunakan standar ini sangat membahagiakan dan menempatkan orang percaya di tempat yang menyukakan hati Bapa. Orang-orang percaya seperti ini akan dibela Tuhan dan memiliki tempat yang istimewa di mata Tuhan. Segala kebutuhannya pasti diperhatikan Tuhan. Bukan hanya dia sendiri yang dikasihi Tuhan, melainkan juga orang yang dikasihinya.

Hanya dengan memiliki komitmen yang bulat untuk inilah kita dapat mencapai kedewasaan. Tentu untuk mencapai level ini kita harus belajar bertumbuh terus di dalam Tuhan, melalui pendalaman Firman Tuhan yang murni yang mengubah pola berpikir kita. Kedewasaan rohani inilah yang membuat seseorang akan dipercayai sebagai sahabat Tuhan, yang diperkenankan mengerti apa yang dikehendaki dan direncanakan oleh Tuhan (Yoh. 15:14-15).

Kesediaan kita berpaling dari kepentingan dan kesenangan diri sendiri tidak akan mengurangi kesukaan dan kebahagiaan kita.

Friday, August 14, 2009

Mengapa Harus Meniru?

Mengapa Harus Meniru?

Bacaan hari ini: Galatia 2:1-14
Ayat mas hari ini: 1 Korintus 4:1
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 1-2


Seorang rabi muda menggantikan ayahnya. Umat banyak yang protes, karena mereka sering membandingkannya dengan ayahnya, rabbi senior yang mereka hormati. Dalam pertemuan jemaat, kritik kepadanya berbunyi “Engkau tidak seperti ayahmu”. Dengan tenang rabi muda menjawab, “Kalian tahu, ayahku seorang yang tidak pernah meniru siapa pun. Kini biarkan aku menjadi diriku sendiri, tidak meniru siapa pun, termasuk meniru ayahku. Dengan begitu, bukankah aku justru mirip ayahku?”

Sebagai rasul, Paulus adalah pendatang baru. Ketokohan para senior membayanginya. Apalagi jemaat di Yerusalem masih banyak yang mencurigainya, bahkan mempertanyakan kerasulannya. Namun, Paulus tidak gentar. Ia yakin akan panggilan Tuhan baginya. Ia tahu apa tugasnya, yaitu menginjil kepada orang-orang bukan Yahudi (ayat 2,7). Ia tidak mencari popularitas. Ia tidak mencari permusuhan, malahan dengan giat membangun persekutuan (ayat 9). Namun, ia juga tidak mencari muka di depan para seniornya. Ia berpendirian teguh dan menjunjung tinggi kebenaran. Bahkan ia berani menegur Petrus (Kefas) dengan tulus (ayat 11).

Godaan untuk meniru dan menyesuaikan diri dengan harapan banyak orang sering mengusik kita. Mengapa? Karena kita ingin diterima. Kita pun sering tergoda untuk mencari muka di depan orang yang berpengaruh. Padahal mereka pun bisa salah. Hari ini kita belajar perlunya mandiri dalam bersikap, tanpa berlaku sok pintar. Teguh dalam pendirian, tanpa menjadi keras kepala. Menjadi diri sendiri, tanpa merendahkan orang lain.


TUHAN MENCIPTAKAN KITA MASING-MASING UNIK. JADI KENAPA MESTI MENIRU ORANG LAIN?

Penulis: Pipi Agus Dhali

Wednesday, August 12, 2009

Persahabatan Tanpa Kepentingan

Persahabatan Tanpa Kepentingan

Oleh : Pdt.Imanuel Kristo (Suara Pembaruan)

Persahabatan adalah kebutuhan, dan kepentingan adalah kecenderungan yang biasa muncul dalam kehidupan di antara kita. Persahabatan adalah cerminan bahwa pada kenyataan kita tidak mungkin hidup tanpa orang lain dan kita selalu membutuhkan orang lain.

Persahabatan adalah sebuah keindahan dimana dua pribadi di perjumpakan satu sama lain, saling mengisi dan saling berbagi dengan penuh sukacita dan kegembiraan. Dengan menjalin persahabatan maka setiap pribadi semakin menunjukan fungsinya bagi sesamanya, dimana yang satu menolong yang lain dan membuat yang lain menjadi semakin baik dan bermakna di hadapan yang lain.

Sementara itu, kepentingan mengurangi nilai makna yang ada di dalamnya. Persahabatan adalah kerelaan untuk memberikan diri bagi yang lain dengan tulus dan sungguh-sungguh, sementara itu, kepentingan adalah sikap egois dan egosentris yang disamarkan di dalamnya.

Tampak begitu akrab dan dekat, tetapi sesungguhnya berjarak dan bersyarat. Semakin terbentang jarak di dalamnya maka semakin sulit untuk mempraktikkan kesejatian persahabatan di antara pelakunya.

Semakin terbentang jarak di dalamnya maka semakin besar pula kepentingan yang akan mewarnai setiap persahabatan yang kita bangun. Saat itulah kita membuat syarat syarat demi untuk mengatasi jarak di antara kita.

Jika itu yang terjadi maka sesungguhnya persahabatan kita tidak lagi menjadi persahabatan yang menghadirkan kebahagiaan bagi pelakunya. Persahabatan kita melulu diwarnai oleh penilaian-penilaian, yang akan menjadi penentu bagi kita untuk menjalaninya.

Mencederai Relasi
Persahabatan tanpa kepentingan adalah persahabatan yang mambuat pelakunya menjadi orang-orang yang bahagia karena mereka menjadi orang- orang yang bebas, tidak terikat dan tidak terbelenggu. Yang akan membuat setiap pelakunya menjadi lebih dekat dan akrab tanpa harus ada syarat dan kriteria yang mengikat.

Saat itulah setiap orang menjadi orang yang layak dan pantas, tidak ada perbedaan dan tidak ada pembedaan. Siapa pun orangnya tetap dapat menjadi sahabat. Persahabatan dengan kepentingan adalah bentuk keegoisan yang di sembunyikan, persahabatan yang disertai kepentingan bukanlah persahabatan yang sesungguhnya.

Itulah kepura-puraan yang mencederai relasi dan hubungan di antara pelakunya. Orang yang demikian pastilah tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan. Demi untuk mewujudkan hal itu, pertama-tama belajarlah untuk kita menerima diri sendiri lebih dahulu. Terimalah dengan syukur segala kelebihan kita, tetapi juga jangan sangkal kekurangan kita. Penerimaan akan diri kita membantu kita untuk dapat menerima orang lain.

Setelah itu, mulailah belajar untuk menghargai setiap orang sebagai pribadi secara tulus. Tempatkanlah mereka dalam penghargaan yang sama sebagaimana kita juga ingin dihargai oleh sesama kita.

Buatlah dan perlakukanlah setiap orang secara terhormat dan tampak berharga maka mereka pun akan menempatkan dan menghormati kita dengan cara yang sama. Saat itulah kita dapat menikmati persahabatan yang tulus, tanpa ikatan dan tanpa belenggu.

Akhirnya, jalani persahabatan dengan tulus, jujur dan bermakna, maka kita pun akan mendapatkan kebahagiaan dan keindahan dari dalamnya. Jadikanlah setiap pribadi di sekitar kita sebagai pribadi yang layak untuk menjadi sahabat.

Friday, July 31, 2009

Berani Hidup

Berani Hidup

Bacaan hari ini: Filipi 1:20-26
Ayat mas hari ini: Filipi 1:21
Bacaan Alkitab Setahun: Zefanya 1-3


Seorang pemuda Palestina melilit tubuhnya dengan rangkaian bom. Keringat dingin membasahi wajahnya. Ia tahu, sebentar lagi ia akan mati. Namun, tekadnya sudah bulat: ingin membalas kejahatan musuh. Lalu dinaikinya sebuah bus umum. Ditekannya sebuah tombol. Bom itu meledak. Tubuhnya pun hancur lebur. Bagi kelompoknya, pemuda ini dipandang sebagai pahlawan, sebab ia berani mati untuk keyakinannya. Namun, ada yang jauh lebih susah dan lebih heroik daripada sekadar berani mati, yakni berani hidup. Tegar menghadapi hidup yang penuh penderitaan dengan tabah.

Rasul Paulus bukan hanya berani mati, melainkan juga berani hidup. “Bagiku hidup adalah Kristus,” katanya. Jadi, alasan terkuat untuk hidup adalah untuk melakukan perbuatan yang memuliakan Kristus: melayani jemaat, menolong sesama, serta memberitakan kasih Allah. “Mati adalah keuntungan.” Untung, sebab bisa bertemu Kristus muka dengan muka dan beristirahat dari jerih lelah di dunia. Jadi, ia berani mati, tetapi juga berani hidup. Namun, Paulus lebih memilih untuk hidup “karena kamu”. Karena ia masih ingin berbuat banyak hal demi menjadi berkat bagi sesamanya. Ia bergairah hidup karena agenda kerjanya masih penuh cita-cita mulia.

Menjadi orang yang berani mati saja tidak cukup. Kita juga harus berani hidup. Berani menjalani hari demi hari dengan penuh semangat, walaupun banyak kesulitan menghadang. Untuk itu, kita perlu memiliki visi hidup seperti Paulus. Ia hidup bagi Tuhan dan sesama, tidak sibuk untuk diri sendiri saja. Akibatnya, hidup senang, mati pun tenang.


BERIKANLAH HIDUPMU BAGI SESAMA, MAKA TIAP HARI AKAN JADI BERMAKNA
Penulis: Juswantori Ichwan

Monday, July 27, 2009

Belajar Memahami

Belajar Memahami

Bacaan hari ini: Nehemia 5:14-19
Ayat mas hari ini: Nehemia 5:18
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 61-63


Selamat atas pernikahan putramu minggu lalu,” kata Pak Badu sambil menyalami tangan Pak Indra seusai kebaktian. “Maaf, saya tidak datang ke pestamu, soalnya saya tidak diundang!” sambungnya ketus. Rupanya Pak Badu tersinggung. Pikirnya, “Kalau ia menganggapku teman baik, seharusnya aku diundang.” Ia tidak paham bahwa Pak Indra sedang didera kesulitan keuangan, sehingga hanya mampu menyelenggarakan pesta kecil untuk kerabat dekat.

Dalam relasi dengan sesama, orang biasanya menuntut diperlakukan sesuai dengan statusnya. Status istimewa sebagai suami, istri, teman baik, penguasa, atau majikan membuat kita merasa berhak menerima perlakuan khusus. Kita marah jika mereka tidak memberi apa yang menjadi hak kita. Nehemia tidak demikian! Dua belas tahun sudah ia diangkat menjadi Bupati. Sesuai statusnya, ia berhak mendapat perlakuan khusus dari rakyat. Mereka wajib membayar upeti, apalagi Nehemia memerintah dengan penuh dedikasi. Namun, Nehemia tidak pernah mengambil jatah itu. Mengapa? Karena ia memahami bahwa “pekerjaan itu sangat menekan rakyat” (ayat 18). Pembangunan tembok Yerusalem menguras tenaga dan pikiran rakyat. Semakin Nehemia belajar mengerti kesusahan mereka, semakin ia tidak mau menuntut bagiannya.

Banyak perselisihan dalam keluarga dan masyarakat terjadi karena masing-masing pihak ingin diperlakukan khusus. Kadang kala kita menuntut lebih dari apa yang orang lain bisa berikan. Andaikan saja Anda bersikap seperti Nehemia: belajar memahami orang lebih daripada menuntut, pasti relasi Anda menjadi lebih indah!


BERJUMPA DENGAN ORANG YANG TAK SUKA MENUNTUT, SERASA BERJUMPA DENGAN KRISTUS YANG LEMAH LEMBUT

Penulis: Juswantori Ichwan

Friday, July 24, 2009

Bunuh Diri



Bunuh Diri
Oleh Pdt.Dr.Erastus Sabdono

Saat ini angka orang yang bunuh diri grafiknya semakin meningkat. Ini justru terjadi di negara-negara maju, misalnya Jepang. Tidak sedikit remaja yang bunuh diri hanya karena masalah remeh. Ternyata modernisasi dan teknologi tidak mengurangi jumlah orang yang mengambil jalan pintas untuk mengakhiri kehidupannya.

Ini membuktikan bahwa Tuhan dan Firman-Nya sangat dibutuhkan oleh manusia, kapan saja dan di mana saja. Bila kita mencoba melihat penyebab orang yang bunuh diri, dapat ditemukan factor internal dan eksternal.

Pertama, factor internal. Kepribadian yang labil atau jiwa yang rapuh, mudah goyah oleh tekanan-tekanan yang terjadi di dalam hidupnya. Integritas orang seperti ini sangat miskin atau rendah. Orang yang berkepribadian lemah seperti ini bisa bunuh diri hanya karena masalah sepele, misalnya salah potong rambut.

Kedua, factor eksternal. Tekanan oleh karena berbagai masalah hidup yang dirasa berat. Persoalan-persoalan tersebut bisa karena masalah ekonomi, keluarga, kesehatan, ditinggal pacar, gagal masuk perguruan tinggi, gagal naik pangkat, dan sebagainya.

Dalam Alkitab kita menemukan beberapa peristiwa mengenai tokoh yang bunuh diri, antara lain Saul dan Yudas Iskariot. Saul bunuh diri karena putus asa dan kecewa tatkala kalah berperang, karena ia tidak mau mati di tangan musuhnya (1 Sam, 31:1-5). Yudas bunuh diri karena penyesalannya yang sangat dalam terhadap tindakannya yang salah (Mat 27:1-5). Mereka yang bunuh diri rata-rata sudah ditolak oleh Allah atau memberontak kepada Tuhan dan dirasuk kuasa gelap (1 Sam 16: 14-15; Yoh 13:27).

Dalam konteks kehidupan orang Kristen, jelas bunuh diri merupakan tindakan membinasakan bait Allah, suatu sikap pemberontakan terhadap Tuhan. Bunuh diri yang dilakukan dengan sengaja dan penuh kesadaran akan mendatangkan hukuman atas diri orang tersebut. Pada umumnya tindakan bunuh diri adalah tindakan yang hampir pasti membawa manusia ke dalam neraka, pergumulan seseorang yang mau mati sangat misteri, sehingga tidak boleh kita menyatakan bahwa orang yang bunuh diri pasti masuk neraka. Kita tidak pernah tahu pergumulan seseorang pada detik-detik terakhir sebelum ia menghembuskan nafas. Tetapi memang hampir pasti mereka binasa dan masuk neraka.

Disisi lain harus diakui bahwa terdapat tindakan-tindakan bunuh diri yang dilakukan manusia dalam jangka panjang, baik terhadap kehidupan jasmani dengan mengabaikan kesehatannya maupun kehidupan rohaninya dengan tidak hidup dalam kebenaran Tuhan. Tindakan ini pun harus diperhitungkan sebagai bunuh diri secara “pelan-pelan”.
Seseorang yang membiarkan atau sengaja merusak peru-parunya dengan nikotin membunuh dirinya perlahan-lahan; demikian pula dengan minuman keras yang sangat merusak kesehatan tubuh.

Agar Terhindar dari Bunuh Diri

Agar kita terhindar dari praktik bunuh diri, perhatikan uraian berikut.

Pertama, bertumbuh dalam kedewasaaan rohani sehingga integritas kita kuat sebagai anak-anak Tuhan ( Ef. 4: 11-13 ). Dengan integritas yang tinggi kita akan menjadi anak Tuhan yang tahan bantingan.

Kedua, memiliki tujuan hidup yang jelas. Bila seseorang memiliki tujuan hidup yang jelas maka apapun yang terjadi, ia tetap kuat (Luk. 4:5-8; Flp. 1:21).

Ketiga, menerima kenyataan bahwa dunia kita hari ini tidak akan semakin baik, sebaliknya semakin bergolak. Dunia bertambah jahat (Mat.24:12) dan juga bukan Firdaus. Dunia ialah tempat pelatihan untuk mempersiapkan manusia masuk ke dalam kehidupan yang sesungguhnya. Hati kita harus terus tertuju kepada janji Tuhan, bahwa ia akan datang kembali dan membangun kerajaan-Nya. Bila hal itu terjadi, maka berhentilah sudah segala letih dan kelelahan kita. Kita tidak dapat mengubah dunia yang makin rusak ini dengan cara bagaimanapun, tetapi yang kita nantikan adalah kedatangan Tuhan Yesus yang akan memulihkan kehidupan manusia di dalam kerajaan Allah yang datang secara fisik (Yoh. 14:1-3).

Keempat, mempercayai bahwa Allah tidak mendatangkan celaka. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28). Kita harus percaya bahwa Tuhan tidak akan mengizinkan persoalan besar melampaui kekuatan kita terjadi dalam hidup kita. Ia mengatur segala persoalan besar melampaui kekuatan kita terjadi dalam hidup kita (1Kor 10:13). Kita harus mempercayai Tuhan , bahwa persoalan yang besar dalam hidup ini merupakan proses pemurnian yang terjadi dalam hidup orang percaya di akhir zaman. Seperti yang disinggung sebelumnya, bahwa dunia kian jahat dan persoalan hidup semakin rumit.

Kelima, selalu menikmati damai sejahtera Allah ( Yoh. 14:27), menikmati Tuhan secara khusus dapat dikembangkan melalui Jam doa pribadi. Pada jam ini kita memuji dan menyembah Tuhan. Sangat membantu kalau seseorang berpuasa merendahkan diri dihadapan Tuhan. Di sinilah kesehatan jiwa kita terbangun.

Monday, July 20, 2009

Puasa Belanja

Puasa Belanja

Bacaan hari ini: Yakobus 4:1-4
Ayat mas hari ini: Matius 6:11
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 43-45


The Compact, sekelompok aktivis lingkungan Amerika, bertekad untuk puasa belanja selama setahun. Tidak membeli barang baru apa pun kecuali kebutuhan pokok. Hasilnya? Mereka belajar banyak. Seorang remaja berkata, “Banyak barang yang tadinya sangat kuinginkan, ternyata tidak kubutuhkan.” Seorang ibu menutup kartu kreditnya. Seorang bapak mengaku bisa lebih menghargai barang. Jika rusak, ia berusaha memperbaikinya dulu, tidak langsung membeli yang baru. Mereka menyimpulkan, perilaku konsumtif membuat kita berbelanja lebih dari yang kita butuhkan.

Waspadailah jebakan perilaku konsumtif. Iklan dan promosi terus meyakinkan kita bahwa hidup belumlah lengkap sebelum membeli produk mereka. Kita dipacu untuk menginginkan dan memperoleh semuanya. Jika dituruti terus, segala cara akan kita tempuh. Mulai dari menumpuk utang sampai bertengkar demi mendapat lebih banyak uang belanja. Doa pun bisa dipakai untuk memaksa Tuhan memenuhi daftar belanja. Yakobus menamakan ini “persahabatan dengan dunia” (ayat 4). Saat hawa nafsu dibiarkan berkuasa, kita akan iri pada mereka yang punya lebih (ayat 2). Doa pun jadi terkontaminasi dengan permintaan duniawi (ayat 3).

Apakah Anda selalu merasa apa yang Anda miliki kurang? Apakah Anda resah jika belum memiliki benda yang banyak orang telah memilikinya? Apakah belanja Anda tak seimbang dengan penghasilan? Apakah doa Anda didominasi permintaan materi? Jika jawabnya “ya”, Anda tengah berada dalam jerat perilaku konsumtif. Bebaskan diri segera. Tak ada salahnya mencoba puasa belanja!


Masalah kebanyakan orang bukanlah memiliki terlalu sedikit, melainkan berharap memiliki terlalu banyak

Penulis: Juswantori Ichwan

Sunday, July 12, 2009

Semuanya atau Tidak Sama Sekali


Semuanya atau Tidak Sama Sekali


“Apakah sebenarnya persepuluhan itu? apakah orang Kristen masih terikat dengan perintah persepuluhan? Bolehkah persepuluhan diberikan kepada hamba-hamba Tuhan di daerah, bukan di gereja saya berbakti? Bagaimana kalau saya berikan kepada orang miskin?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menunjukkan kedangkalan orang berpikir mengenai Firman Tuhan. Alkitab jelas mengatakan bahwa hidup kita adalah milik-Nya, sebab Ia telah membeli kita dengan harga yang lunas dibayar (1Kor 6:19–20). Jadi kita tidak berhak sama sekali atas kehidupan kita sendiri; semuanya adalah milik Tuhan. Bila seseorang menghayati kebenaran ini, maka ia berhenti mempersoalkan persepuluhan dan persembahan lain di dalam gereja.
Segenap hidup kita adalah milik Tuhan, maka kita tidak boleh “perhitungan” dengan Dia. Tuhan sudah memberi yang termahal yang ada pada-Nya, yaitu diri-Nya sendiri; maka apalah artinya segala sesuatu yang ada pada kita yang nilainya tidak ada apa-apanya dibanding dengan diri Tuhan Yesus Kristus sendiri yang telah dikorbankan bagi kita. Jika semua yang ada pada kita adalah milik-Nya, bagaimana bisa kita membuat perhitungan sepuluh persen, dua puluh persen, tiga puluh persen atau jumlah yang lain. Mengapa harus dihitung-hitung dalam mengembalikan kepada-Nya, seolah-olah kita masih berhak atas milik Tuhan tersebut?
Di dalam kebaktian, sering kita dengar pemimpin puji-pujian atau pemberita Firman memotivasi jemaat agar memberi lebih banyak dengan berbagai cara penyalahgunaan ayat Alkitab. Misalnya, menjanjikan bahwa kalau kita memberi banyak, maka kita akan mendapat banyak; penjelasan ini dirangkum dalam hukum tabur tuai (padahal ketika Alkitab berbicara mengenai tabur tuai pokok persoalannya mengenai perbuatan dalam daging dan perbuatan dalam roh, bukan mengenai persembahan uang). Cara lain adalah melalui intimidasi. Jemaat ditakut-takuti dengan ancaman: bila tidak memberi persepuluhan atau persembahan yang “pantas”, maka Tuhan akan menghukum dengan mengirimkan belalang pelahap, kutuk dan berbagai tulah atau hukuman yang merusak hidup ekonomi, bisnis dan pekerjaannya. Intimidasi ini bisa efektif bagi mereka yang berasal dari agama lain, yang terbiasa dengan “Tuhan model itu”, yang suka memeras milik orang lain. Tuhan kita ialah Tuhan yang tidak memaksa, Tuhan yang menghendaki umat pilihan-Nya dengan kesadarannya sendiri mengasihi-Nya. Mengenai persembahan yang dibawa kepada Tuhan karena kita mengasihi-Nya, adapun jumlahnya tergantung dorongan Roh Kudus, karena kita hanya sebagai pengelola milik Tuhan. Di sini anak-anak Tuhan harus cerdas dalam mempertimbangkan jumlahnya dan kepekaan terhadap komando Roh Kudus. (Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono)

Artikel ini diambil dari Renungan Harian TRUTH Edisi 60/Juli, Renungan Harian yang berisi pengajaran bagi umat Kristen yang ingin bertumbuh dewasa. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut mengenai Renungan Harian dan Majalah TRUTH, hubungi (021) 68 70 7000 atau 08 7878 70 7000.

Sunday, July 5, 2009

Nrima Ing Pandum

Nrima Ing Pandum

Bacaan hari ini: 1 Samuel 18:6-9
Ayat mas hari ini: 1 Samuel 18:9
Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 11-14


Menurut sebuah survei, angka harapan hidup tertinggi di Indonesia dimiliki oleh Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 73 tahun. Artinya, rata-rata penduduk Yogyakarta hidup hingga usia 73 tahun. Beberapa ahli mencoba mencari tahu penyebabnya. Ternyata ditemukan bahwa selain rendahnya tingkat stres dan tingginya konsumsi serat melalui buah-buahan dan sayuran, juga karena budaya hidup orang Yogyakarta yang memegang falsafah nrima ing pandum, yang artinya menerima apa yang menjadi haknya, tidak serakah, apalagi berkeinginan mengambil hak orang lain.

Tidak puas dengan apa yang ada, iri hati terhadap apa yang orang lain capai, dan bernafsu memiliki apa yang bukan haknya, adalah awal kehancuran seseorang. Seperti yang terjadi pada Saul. Sebetulnya, Saul tidak kurang gagah. Ia berhasil memimpin bangsa Israel meraih kemenangan demi kemenangan dalam peperangan (1 Samuel 14:47-48). Namun sayangnya, ia kemudian iri hati terhadap keberhasilan Daud. Apalagi ketika Daud disambut dengan pujian dan tarian yang meriah (ayat 6). Saul lalu menjadi marah. “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkan beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya,” begitu ia berkata (ayat 8). Akhir dari kisah ini kita semua tahu, Saul mati di tangan bangsa Filistin (1 Samuel 31:1-13), dan Daud menjadi raja menggantikannya.

Kiranya kepada kita diberikan kemampuan untuk bisa menerima apa yang ada, bersyukur dengan yang kita punya. Dan, kita dijauhkan dari iri dengki terhadap orang lain, juga dari keinginan untuk memiliki apa yang bukan hak kita.


Resep hidup sehat: terima apa yang ada, jauhi iri dengki

Penulis: Ayub Yahya

Stop Mengeluh

Stop Mengeluh

Bacaan hari ini: Bilangan 11:1-3
Ayat mas hari ini: Filipi 4:4
Bacaan Alkitab Setahun: Amos 5-7


Dalam sebuah khotbahnya pada bulan Juli 2006, Pdt. Will Bowen dari Gereja One Community Spiritual Center, Kansas City, Amerika, menyerukan gerakan berhenti mengeluh. Ia lantas membagikan gelang karet berwarna ungu kepada setiap anggota jemaatnya. Aturan mainnya sederhana, gelang itu harus dipakai terus-menerus selama 21 hari di salah satu pergelangan tangan, bisa kanan atau kiri. Dan selama itu tidak boleh mengeluh. Jika hal tersebut dilanggar, maka gelang itu harus dipindahkan ke pergelangan tangan yang lain dan jumlah hari dihitung kembali lagi dari awal. Saat ini, gelang karet itu telah tersebar sebanyak enam juta buah di seluruh dunia. Banyak orang telah merasakan perubahan positif karena menjalankan program berhenti mengeluh ini, khususnya dalam berelasi dan bekerja sama dengan orang lain.

Rupanya manusia memang cenderung lebih mudah mengeluh atau bersungut-sungut daripada bersyukur; lebih mudah melihat hal-hal yang kurang daripada hal-hal baik dalam hidupnya. Seperti sikap umat Israel. Kasih dan pemeliharaan Tuhan kepada mereka selama berada di padang gurun begitu jelas—mulai dari mengirimkan tiang awan dan tiang api untuk menuntun mereka, sampai mengirimkan burung puyuh dan manna untuk makanan mereka—tetapi tetap saja mereka suka mengeluh.

Sikap suka mengeluh ini tidak ada gunanya. Dan Tuhan juga tidak senang. Karenanya harus dilawan; jangan dituruti, apalagi dijadikan kebiasaan. Caranya, fokuskan pikiran pada hal-hal yang baik dalam hidup ini, dan berusahalah untuk selalu berkata positif.


MENGELUH DAN BERSYUKUR ITU SOAL PILIHAN PILIHLAH UNTUK SELALU BERSYUKUR
Penulis: Ayub Yahya (renungan harian)

Prioritas

Tentukan Prioritasmu!

Pada suatu hari, seorang penjaga mercusuar dipercayakan segalon minyak untuk keperluan selama seminggu. Minyak ini ditujukan untuk menjaga supaya lampu mercusuar tetap menyala dan kapal-kapal yang lewat tidak terhempas karang.

Pada esok harinya, lewat seorang nenek tua yang memohon minta sedikit persediaan minyak si penjaga ini untuk memenuhi kebutuhan memasaknya hari itu. Si penjaga ini memberikan sedikit minyak itu. Esok malamnya ada seorang anak kecil yang menangis karena lampu penuntun jalannya mati kehabisan minyak. Si penjaga ini melihat hal tersebut dengan iba dan akhirnya memberikan sedikit minyak untuk membuat anak kecil ini bisa pulang dengan selamat.

Mendekati akhir minggu itu, si penjaga juga melihat ada orang yang membutuhkan minyak untuk keperluannya, karena si penjaga ini menganggap “ Apa salahnya sih menolong orang?”, maka setiap kali ada yang meminta tolong pasti ia Bantu.

Pada hari sebelumnya akhir minggu itu, malam harinya si penjaga melihat ada kapal yang melintas dan mambutuh tuntunan dari mercusuar. Ia segera bersiap menyalakan lampunya dan mengarahkan kapal tersebut. Namun ketika ia mendapati persediaan minyaknya telah habis dan pada malam itu juga terjadi tabrakan kapal dengan karang.
Beberapa orang tewas dalam kejadian itu.

Dalam hidup ini, banyak hal yang terlihat baik dan perlu untuk kita kerjakan. Tapi pada dasarnya, hanya ada beberapa hal utama yang Tuhan ingin untuk kita lakukan supaya kita memenuhi rencanaNya dalam hidup kita.

PRIORITAS adalah memikirkan segala sesuatu berdasarkan urutan kepentingan dan melakukan segala sesuatu berdasarkan urutan kepentingan. Selamat menentukan prioritas!

(artikel diambil dari warta Rehobot Ministry)

Sunday, June 28, 2009

Firman Itu Merubah Hidupku


Firman Itu Merubah Hidupku
Oleh: Suwito Lie

Selama Hidup dari kecil saya sudah masuk Kristen karena ajaran dari Mama yang taat beribadah dan rajin membaca firman. Saya merasa selama ini ikut Tuhan hidup biasa biasa saja tidak ada kemajuan iman, ketika menikahpun hidup tidak ada perubahan, dalam ekonomi maupun iman cenderung terpuruk sampai titik nol. Saya dibukakan mata hati saya dan teringat Yesus yang sudah mengasihi kami sekeluarga.

Perubahan mulai terlihat ketika kami sudah di titik nol saat itu September 2008 saya ikut KKR di Senayan waktu itu yang kotbah Pdt.Dr.Stephen Tong mengambil tema “ Siapakah Kristus Itu?”. Tiga hari berturut- turut saya ikut, waktu itu KKR tiga hari Jumat s/d Minggu.Selanjutnya saya berkeinginan ke gerejanya Pak Tong tapi terlalu jauh dan yang penting saya tetap mengagumi Pak Tong yang di karuniai Tuhan Yesus luar bisa dalam pelayanannya kotbahnya yang keras tidak main-main dalam mengkritik semua yang menyimpang dari Firman Tuhan yaitu Alkitab.

Mulai saat itulah saya rajin mendengarkan Firman Tuhan via radio RPK dan kotbah dari berbagai macam Hamba Tuhan dari Pdt. Gilbert , Pdt.Anthony Chang, Pdt. Erastus Sabdono, Pdt.Imanuel Kristo, Pdt Bigman Sirait, dll semua firman yang disampaikan sangat berkenan bagi saya. Sebelumnya saya bergereja selama ini tidak bertumbuh akhirnya saya putuskan pindah ke GBI Rehobot  dari situlah saya mengenal lebih dalam tentang kebenaran Firman Tuhan dari kotbah Pak Erastus Gembala GBI Rehobot di Suara Kebenaran sampai sekarang.

Saya memilih GBI Rehobot karena pengajarannya Alkitabiah, walaupun tata ibadah tidak sesuai dengan gereja sebelumnya saya tetap bisa menerima karena istri saya dulunya Kharismatik, jadi pas lah untuk kami. Akhirnya semua masalah kami satu persatu kami lalui dengan bimbingan Tuhan Yesus yang kami imani, kami sudah tidak kuatir lagi untuk masa depan yang penting bekerja keraslah sesuai Firman Tuhan, carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:30-34), dan jangan takut untuk menghampiri tahta kasih karunia Allah Bapa Kita (Ibrani 4 : 14 – 16). Tuhan Yesus memberkati kita semua, Amin. (Jakarta, 5 Juni 2009)

Cepatnya Waktu Bergulir

Cepatnya Waktu Bergulir
Bacaan hari ini:
Mazmur 90:1-12
Ayat mas hari ini: Mazmur 90:12
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 9-12


Betapa cepatnya waktu bergulir. Dari hari ke minggu, dari ke bulan ke tahun, seolah hanya sekejapan mata. Rasanya baru kemarin saya kuliah di Jogja. Masih terbayang suasana kampus dulu, teman-teman seangkatan, para dosen. Tidak terasa itu sudah lebih 15 tahun berlalu. Rasanya baru kemarin Kezia dan Karen, kedua anak kami, belajar tengkurap, merangkak, dan berjalan. Masih terbayang “repotnya sekaligus asyiknya” memandikan, mengganti pampers, membuatkan susu untuk mereka. Kini mereka sudah menjadi gadis-gadis kecil yang lincah. Betul-betul serasa baru sekejap.

Musa juga merasakan hal serupa. Dalam mazmurnya ia berkata, “Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu” (Mazmur (90:4-6). Yah, betapa singkat dan cepatnya waktu yang kita miliki di dunia ini.

Karena waktu itu singkat dan cepat berlalu, maka, pertama, jangan menunda-nunda apa yang bisa dikerjakan sekarang—melayani Tuhan, berkarya bagi sesama, serta menyatakan kasih sayang kepada orang-orang terdekat. Sebab akan ada masanya, kita tidak lagi memiliki waktu. Kedua, jangan membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna, lebih-lebih untuk hal-hal yang merugikan. Sebab menyesal kemudian, tiada guna. Ketiga, nikmati dan hargai waktu yang ada sekarang sebaik-baiknya, apa pun yang tengah kita hadapi. Sebab pada saatnya, “sekarang” akan menjadi “masa lalu”.


Waktu sangat berharga; Ia tidak akan kembali dan terulang. Maka jangan menukarnya dengan sesuatu yang tidak berharga

Penulis: Ayub Yahya
Renungan harian

Thursday, June 11, 2009

Ketika Jalanku Berkabut

Cipt. Pdt.Dr.Erastus Sabdono

Ketika jalanku berkabut
Tak tahu apa hari esok
Ku tanya Tuhan seolah membisu

Lalu terdengar suaraNya
Jangan takut percaya saja
Masa depanmu dalam tanganKu

Reff:
Penjagaan Tuhan perlindungan Tuhan
Pembelaan Tuhan tak berkesudahan
Kasih setia Tuhan kasih setia Tuhan
Kasih setia Tuhan selamanya

KasihNya sungguh sempurna
Lebih luas dari Samudera ..oh..oh..
Dia slalu pedulikan umatNya
Sampai disebrang langit biru,…3x

Note: jika ingin mendengarkan lagu tersebut diatas CD/kasetnya semua dinyanyikan oleh Soedarsono bisa didapatkan di toko kaset rohani / di GBI Rehobot, ingat beli yang asli jangan bajakan, solagracia

Monday, June 1, 2009

Karyawan Yang Melayani

Karyawan Yang Melayani

Penulis : Pdt.Dr. Erastus Sabdono

Saudara-saudaraku yang terkasih,Kalau kita benar-benar mengasihi Tuhan, kita akan menunjukkan kasih kita kepada Tuhan dengan memaksimalkan semua kemampuan yang ada pada kita. Orang yang gagal dalam pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, pasti akan gagal juga dalam pekerjaan yang lainnya atau sulit untuk bisa bangkit dalam pekerjaan lainnya. Kita memang perlu mempertimbangkan faktor "orang yang tepat di tempat tepat" tetapi jika seseorang selalu gagal dan tidak pernah produktif dalam suatu karyanya pasti ada yang tidak beres dalam hidupnya. Dalam Roma 12:1, firman Tuhan mengatakan "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati". Demi kemurahan Allah artinya karena Tuhan telah mengasihi kita dan memberikan kemurahanNya yang tak terhingga, maka kita pun patut untuk memberikan tubuh dan hidup kita sebagai korban yang hidup dan berkenan kepadaNya. Tentu kalau kita mempersembahkan tubuh yang mewakili hidup kita ini, kita harus mempersembahkan dengan ukuran segenap; segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, segenap kekuatan, dll. Pertanyaannya, bagaimana kita mewujudkan firman dalam Roma 12:1 ini dalam hidup kita? Ada beberapa pertimbangan penting yang harus kita miliki untuk mengubah gaya hidup kita. Pertama, kita harus menyadari bahwa apa pun pekerjaan kita (yang tidak bertentangan dengan norma dan etika kehidupan) itu adalah tempat dimana kita bekerja mencari nafkah setiap hari. Pekerjaan kita harus menjadi pelayanan yang benar dimana kita dapat menterjemahkan firman yang berkata "Jika engkau makan atau jika engkau minum atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Allah". Banyak orang yang mau mengikut Yesus secara fisik tetapi Tuhan tidak mengijinkannya. Diantara orang-orang yang tetap Tuhan kehendaki untuk memegang profesinya adalah Zakheus. Tuhan tidak menarik Zakheus untuk masuk ke dalam 12 deret barisan murid-muridNya. Padahal belum tentu murid-muridNya yang lain dapat memiliki sikap pertobatan yang lebih baik dari Zakheus. Oleh sebab itu jangan sampai kita membagi-bagi mana yang termasuk pekerjaan rohani dan mana yang pekerjaan duniawi. Itu keliru! Ke dua, tempat kita bekerja adalah laboratorium di mana Tuhan mengembangkan kedewasaan rohani kita. Di tempat itulah kita didewasakan Tuhan melalui keadaan yang khusus untuk kita. Jadi jangan berharap tempat kita bekerja adalah tempat yang nyaman. banyak orang Kristen gagal mengalami kedewasaan rohnaninya karena hal ini. Sadarilah bahwa tidak ada kedewasaan tanpa ketidaknyamanan. Jika kita ingin menjadi dewasa, maka kita harus tahan banting dengan keadaan yang tidak nyaman. Untuk itu jangan sampai kita pindah kerja sebelum Tuhan sendiri yang memindahkan kita dari tempat itu. Ke tiga, tempat kita bekerja itu adalah laboratorium Tuhan untuk menjadikan kita berkat bagi orang lain. KIta harus berpikir bahwa kita adalah pendeta, mentor dan teladan bagi orang-orang dimana kita berada. Tetapi jangan pernah kita menawarkan diri untuk menjadi terang di situ sebab Tuhan yang akan mempromosikan kita di situ. Pelita itu akan Tuhan taruh di tengah rumah untuk menerangi banyak orang, bukan malah kita membawa diri kita sendiri untuk menjadi sok terang. Solagracia.

Friday, May 29, 2009

Membuktikan Allah Tritunggal (bagian 4)

Siapakah Roh Kudus Itu?

Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)

Sebenarnya Roh Kudus bukan sekedar tenaga aktif yang berasal dari Allah seperti yang ditafsirkan oleh beberapa teolog. Ada pandangan yang menganalogikan hal ini dengan aliran tenaga listrik. Allah digambarkan sebagai pusat tenaga listriknya , dan Roh Kudus adalah arusnya. Ini tidak tepat, Roh Kudus keberadaan-Nya bersama Allah Bapa dan Allah Anak; maka tentulah Ia sama hakikatnya dengan Allah. Oleh sebab itu kita harus menanggapi dan menerima - Nya sebagaimana kita menyambut Bapa dan Anak. Roh Kudus menyaksikan bahwa kita anak Allah (Roma 8:15-16). Dalam bahasa Yunani, kata “menjadikan” dalam Roma 8:15 ditulis (huiothesias), artinya “mengangkat menjadi anak” (adopsi). Jadi pengertian dari Roma 8:15 adalah, sebutan Bapa yang kita tujukan kepada Allah benar diterima hanya jika Roh Kudus diam di dalam diri kita, sebab sebutan itu mengalir dari hati yang didiami Roh Kudus. Efesus 1:13, Roh disebut sebagai meterai. Jadi benarlah pernyataan bahwa jika seseorang tidak memiliki Roh Kudus, ia tidak akan masuk ke surga. Namun ini jangan diubah menjadi “bila orang tidak berbahasa Roh, ia tidak akan masuk surga.”

Roh Kudus membawa kita kepada segala kebenaran (Yohanes 16:13), Kebenaran disini adalah kebenaran Allah, bukan kebenaran hasil pikiran manusia seperti yang sedang digandrungi orang pada zaman Injil Yohanes ditulis, yaitu filsafat Yunani populer. Dalam 1 Yohanes 2:27 tertulis bahwa pengurapan akan mengajar orang percaya. Maksud “tidak perlu diajar” dalam ayat ini adalah bahwa hanya oleh karena pimpinan Roh Kuduslah kita dapat mengerti Firman Tuhan. Oleh karenanya pula Tuhan Yesus berkata bahwa Roh Kudus akan mengingatkan apa yang Tuhan Yesus telah katakan (Yohanes 14:26).

Roh Kudus menolong kita berbuah (Galatia 5:22-23). Harus dibedakan antara buah dan karunia. Karunia diberikan Tuhan tanpa sangat dipengaruhi oleh waktu dan pergumulan, sementara buah dianugerahkan-Nya kepada kita melalui sebuah pergumulan dan proses yang panjang, dalam tuntunan Roh Kudus. Selanjutnya Roh Kudus memberi kekuatan batin (Efesus 3:16), yaitu menyangkut penghiburan dan keteguhan hati. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyebut Roh itu sebagai “Penghibur” (Yohanes 16:7).

Dapat kita lihat, sebelum Pentakosta, Petrus begitu penakut sampai-sampai menyangkali Tuhan Yesus. Tetapi setelah dipenuhi Roh Kudus, ia menjadi begitu tenang walau di ambang hukuman mati (Kisah Rasul 12). Roh Kudus membantu kita berdoa (Roma 8:26). Ibadah yang benar adalah yang dilakukan hanya oleh orang yang dipimpin Roh Kudus, jadi percuma kita beragama, melakukan liturgi dan upacara-upacara agama kalau tidak dalam pimpinan Roh Kudus.

Roh Kudus menyaksikan bahwa kita anak Allah, memeteraikan kita, membawa kita kepada kebenaran, dan menolong kita berbuah.

Membuktikan Allah Tritunggal (bagian 3)

Bukan “Aku”, tetapi “Kami”

Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)

Orang Kristen percaya kepada Allah Yang Maha Esa, tetapi kata “Esa” dalam kekristenan bukanlah tunggal secara matematis, melainkan satu dalam kejamakan yang unik. Dalam bahasa Ibrani kata “satu” (אחד, ekhad) bisa bermakna “kesatuan, dalam pengertian memiliki lebih dari satu unsur”. Dalam kejadian 2:24 tertulis : “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging “. Tentu “satu” dalam teks ini bukan satu dalam arti matematis. Juga dalam bahasa Yunani, kata “satu” (ula, mia) tidak selalu menyatakan jumlah yang dapat dihitung (1 Korintus 6:16-17). Karena ketritunggalan Allah merupakan cara keberadaan dan penyataan Allah dalam mengungkapkan diri-Nya, maka kebenaran ini sangat penting untuk dipahami. Menolak ketritunggalan Allah menyebabkan seseorang tidak mengenal Allah dan karya-Nya dengan benar. Dengan memahami yang diwahyukan Allah tentang Tritunggal, kita giring untuk memahami karya-Nya secara utuh dan lengkap.

Walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Perjanjian Lama, nyata-nyata bahwa Perjanjian Lama menyiratkan adanya Tritunggal. Bukti-bukti tersebut dapat dilihat antara lain : (El) adalah sebutan Allah yang artinya “Yang Mahakuasa”. Nama (Elohim) adalah bentuk jamaknya. Bila hanya El tanpa akhiran - im, itu maknanya tunggal, tetapi Elohim itu jamak . Ternyata dalam Alkitab dapat ditemukan kurang lebih 3000 kali kata Elohim dipakai untuk menyebut “Allah” dalam Perjanjian Lama, dan lebih dari 2300 kali digunakan untuk Allah Israel.

Kata “Kita “ dalam Kejadian 1 : 26; 11:7 juga menunjukan kejamakan. Dari informasi ini maka tidak dapt dibantah bahwa kebenaran mengenai Allah Tritunggal sudah ada di kalangan orang-orang dalam agama Yahudi (Yudaisme) atau agama Musa. Agama Yahudi adalah agama monoteisme pertama sebelum Kristen dan Islam. Monoteisme artinya meyakini bahwa Allah itu Esa. Perlu diingat bahwa Alkitab mulai ditulis sekitar tahun 1440 SM, yaitu 1500 tahun sebelum agama Kristen dan sekitar 2100 tahun sebelum agama Islam ada.

Dalam Yesaya 6 : 6 ketika Tuhan berkata, “ Siapakah yang akan pergi untuk Aku?” kata “Aku” dalam bahasa aslinya sebenarnya adalah “Kami” ( lanu artinya “untuk Kami”). Dalam Alkitab versi King James diterjemahkan: “….and who will go for Us?” Pernyataan Yesaya ini lebih meneguhkan kenyataan mengenai Allah Tritunggal yang tidak dapat disangkali

Thursday, May 28, 2009

Membuktikan Allah Tritunggal (bagian 2)

Tetap Bisa Dimengerti

Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)

Memang dalam Alkitab, istilah Tritunggal tidak tertulis secara nyata, namun kebenaran mengenai hal ini nyata-nyata ada. Konsep Tritunggal bukan doktrin hasil rekayasa spekulasi pikiran manusia, tetapi kebenaran yang diungkapkan Alkitab dengan jelas. Orang pertama yang memakai istilah Tritunggal dan memformulasikan doktrin tersebut adalah Tertulianus (sekitar 160-220 M). Sebenarnya sebelum Tertulianus memopulerkan ajaran ini, Theofilus, seorang theology dari Anthiokia sudah menyinggung konsep ini dengan menggunakan istilah dalam bahasa Yunani Trias. Setelah Tertulianus memformulasikan Tritunggal menurut teologianya, Origenes menyempurnakannya. Akhirnya pada 325 M, konsili di Nicea menetapkan untuk pertama kalinya formulasi Allah Tritunggal.

Harus tegas ditolak bila ada tuduhan yang mengatakan bahwa agama Kristen memiliki tiga Allah(triteisme), yang juga berarti menyamakan agama Kristen sejarar dengan agama-agama kafir yang memiliki banyak dewa atau ilah (politeisme). Yang benar adalah bahwa orang Kristen tidak menganut paham triteisme atau politeisme, melainkan monoteisme. Allah Tritunggal bukanlah tiga Allah, sebab Tritunggal dapat dimengerti sebagai kejamakan di dalam satu. Kejamakan pribadi disini bukanlah beberapa Allah, sebab kejamakan tersebut adalah kesatuan yang tak terpisahkan. Tritunggal juga berarti tiga cara keberadaan Allah dalam masing-masing karya-Nya dengan satu maksud agung yaitu keselamatan manusia.

Tritunggal menunjuk penyataan pengungkapan diri Allah dalam berkomunikasi dengan ciptaan-Nya, namun harus diingat bahwa ini tidak berarti ada satu Allah yang menyatakan diri dalam tiga penyataan. Misalnya, Erastus Sabdono di rumah dipanggil Papa; di lingkungan keluarga dipanggil Sabdono; dan di lingkungan lain dipanggil Pak Pendeta, padahal ketiga-tiganya adalah orang yang sama. Ini bukan Trinitas tetapi Unitas, konsep yang tidak Alkitabiah.
Harus diakui, memang ada Allah Bapa dan ada Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita. Dalam hal ini, tidak perlu kita malu atau ragu-ragu mengakui menyembah Allah Bapa dan Allah Anak. Kalu ada orang berkata, Mengapa bisa begitu? Jawablah Mengapa tidak boleh begitu? Apa ukurannya? Siapa yang menetapkan ukuran harus begini atau begitu? Petrus dengan tegas berkata dalam ilham Roh bahwa Allah telah membuat Yesus, yang telah disalibkan, menjadi Tuhan dan Kristus (Kisah Rasul 2:36). Jangan biarkan kebenaran yang kita peroleh dari sumber yang benar Alkitab diukur dan dinilai oleh kepalsuan. Yesuslah satu-satunya jalan (Yohanes 14:6), dan hanya Alkitab yang dapat dipercayai.

Wednesday, May 27, 2009

Membuktikan Allah Tritunggal (bagian 1)



Membuktikan Allah Tritunggal

Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)

Pengajaran mengenai Tritunggal atau Trinitas adalah pengajaran yang paling banyak diperdebatkan dalam gereja Tuhan dari abad ke abad. Pokok pengajaran ini membangkitkan adu argumentasi yang tiada habis-habisnya. Di pihak lain, ajaran ini juga menjadi objek serbuan agama-agama non-Kristen. Pernyataan klasik dan tetap up-to date hingga kini adalah : benarkah Allah berjumlah tiga? Pengajaran ini memang pengajaran yang paling khas dalam ke Kristenan, dan tidak ada dalam agama manapun. Menurut prasangka subjektif manusia, muncul pertanyaan yang juga merupakan tuduhan curiga : Mengapa orang Kristen menyembah tiga Allah, bukan Allah Yang Maha Esa?

Ternyata pengajaran ini telah menjadi batu sandungan bagi banyak orang beragama lain yang membuat mereka menolak kekristenan. Bahkan tidak sedikit yang menganggap agama Kristen adalah agama kafir, karena memiliki tiga Allah atau menyamakan seseorang seseorang manusia Yesus sebagai Allah. Kampanye penolakan Yesus sebagai Allah sangat kuat, baik terang-terangan maupun secara terselubung, dan jika tidak diantisipasi secara sistematis dan serius, maka banyak generasi muda Kristen bisa terhilang. (saya mengambil tema ini karena tergerak agar orang dapat memahami dengan benar apa Allah Tritunggal itu ).

Dalam sejarah gereja, memeang gereja sering berusaha untuk memformulasikan (merumuskan) doktrin Tritunggal ini, namun sering mengalami kesulitan. Untuk mengenal Allah Tritunggal, kita harus percaya bahwa konsep ini Alkitabiah. Kita harus percaya dulu baru mengerti, bukan mengerti dulu baru percaya (Ibrani 11:6). Untuk ini kita harus rela takluk kepada kebenaran Alkitab.

Selanjutnya, kita harus menerima kenyataan bahwa kebenaran mengenai Allah Tritunggal tidak akan dapat dipahami secara sempurna dan lengkap oleh akal manusia. Allah kita adalah Yang Mahabesar, tidak terbatas, transenden (melampaui jangkauan akal manusia ) dan transsempiris (melampaui pengalaman); tentu tak dapat dikenali secara sempurna. Doktrin Tritunggal harus diakui sebagai suprarasional (melampaui pikiran manusia), tetapi tidak bertentangan dengan logika (kontrarasional). Seseorang harus dengan rendah hati menerima kenyataan eksistensi Allah yang unik tersebut dan tidak melecehkan-Nya sebagai sesuatu yang nyentrik. Sayangnya banyak pihak yang menganggap pengajaran Allah Tritunggal sebagai sesuatu yang nyentrik, sehingga mereka melecehkannya dan menjadikannya bahan olok-olokan. Pengenalan terhadap Allah Tritunggal dapat terhayati melalui pergaulan konkret dengan-Nya. Dia bukan Allah yang mati tetapi Allah yang hidup, nyata dan berkenan ditemui. Jadi, pembuktian mengenai Allah Tritunggal harus dialami secara konkret dalam kehidupan, bukan hanya melalui membaca literature, mendengarkan seminar atau khotbah.

Tuesday, May 5, 2009

Asuransi Terbaik


ASURANSI TERBAIK DI DUNIA


TRAKTAT: ASURANSI

Anda bingung menentukan asuransi mana yang ingin dibeli? Kami ingin menawarkan sebuah perusahaan asuransi yang pasti tidak mengecewakan. Berikut fiturnya:


PERUSAHAAN ASURANSI INI MENJAMIN:

Kehidupan
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16).
Kesehatan.
Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu (Mazmur 103:3)

Pakaian.
Jadi, Jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya! (Lukas 12:28)

Kebutuhan Sehari-hari.
Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19 )

Kenyamanan.
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. (Yohanes 14:1)
Persahabatan.
Dan ketahuilah “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhirzaman.” (Matius 28:20)

Kedamaian.
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Yohanes 14:27)

Rumah yang abadi.
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempatbagimu. (Yohanes 14:2)

ALASAN-ALASAN UNTUK IKUT ASURANSI INI:

1. Adalah perusahaan asuransi paling tua di dunia.

2. Satu-satunya perusahaan asuransi yang mengasuransikan berbagai kehilangan dalam api zaman akhir.

3. Satu-satunya perusahaan asuransi yang mencakup area yang kekekalan.

4. Kebijakannya tidak pernah berubah.

5. Manajemennya tidak pernah berganti.

6. Aset perusahaan terlalu banyak untuk dihitung.

7. Satu-satunya perusahaan asuransi yang membayarkan premi anda.

PREMI

Roma 5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Efesus 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah
I Korintus 6:20Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
PROSEDUR APLIKASI
Kisah Para Rasul 5:8Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu,maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.
Kisah Para Rasul 16:31“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat! ..”Semua premi untuk aplikasi ini telah dibayar oleh YESUS.

Lamar Boschman - “When I worship, I would rather my heart be without wordsthan my words be without hearth”.

Monday, May 4, 2009

Kuingat KebaikanMu

Kuingat KebaikanMu

Cipt.Pdt.Dr.Erastus Sabdono


Hidupku dulu bagai bejana
nyata telah hancur tiada berarti lagi
kehidupanku gelap gulita tiada menentu

Namun tanganMu mengangkat aku
membentukku lagi jadi bejana baru
masa depanku indah terancang dalam tanganMU

Reff:
Selamanya kuingat kebaikanMu
yang telah Kau berikan pada diriku
sekarang apa kubuat bagiMu Tuhan
sampai akhir hayatku dengan segenap
hatiku, melayaniMu



Note : Lagu ini sangat dalam maknanya, maka belajarlah firman Tuhan cari kebenaranNya
Tuhan Yesus memberkati Pak Eras agar dapat mencipta lagu yang lainnya, amin

Sunday, April 12, 2009

Oikoumene dan masalah-masalah di sekitarnya (1)


Oikoumene dan masalah-masalah di sekitarnya (1)


Oleh: Pdt Budhiadi Henoch


PendahuluanGereja Kristen berasal dari Timur Tengah dan hadir di Indonesia sejak akhir abad XIV bersamaan dengan kedatangan bangsa-bangsa Eropa yang mencari rempah-rempah di Hindia Timur. Pada dasarnya gereja Kristen bersifat universal (meliputi umat manusia), tetapi juga partikular (bangsa dan suku bangsa). Karena itu kita mengenal gereja Kristen yang am (umum), yakni gereja yang meliputi bangsa-bangsa di dunia, di samping yang khusus misalnya Gereja Kristen Indonesia (nasional) dan gereja-gereja suku Batak, Toraja dan Minahasa. Kendati gereja-gereja suku itu pun membuka diri menerima anggota-anggotanya dari suku lain.
Dalam pengamalan kehidupan gereja, tugas gereja tak hanya mengurus urusan di sorga, sesudah orang meninggal dunia, tetapi juga mengurus urusan di dunia, selagi orang masih hidup sekarang ini. Itulah sebabnya, gereja juga terpanggil untuk ikut serta membangun bangsa, negara dan masyarakat, di mana gereja itu ditempatkan Tuhan. Keterlibatan dalam pembangunan benar-benar dinampakkan; kepedulian terhadap masalah kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan juga dinyatakan; sikap kritis terhadap masalah keadilan, pemerataan dan kesejahteraan ditampilkan, karena memang begitu seharusnya kehidupan gereja dan orang-orang Kristen yang menjadi anggotanya. Landasannya: pesan Tuhan Yesus, agar apa yang telah dilakukan-Nya dilanjutkan oleh para pengikut-Nya (Lukas 4:18-21; Yohanes 13:12-17).
Berikutnya, gereja Kristen bukan lembaga eksklusif atau isolatif, yang menutup diri dan tidak berhubungan dengan pihak-pihak lain, sebaliknya, bahwa gereja Kristen itu inklusif dan partisipatif, terhisap dan terlibat dalam menanggulangi problem-problem sosial kemasyarakatan bekerja sama dengan pihak-pihak lain, baik pemerintah, maupun kelompok-kelompok masyarakat yang lain.
Dengan memperhatikan prinsip hidup dan hakekat gereja Kristen, maka gereja Kristen adalah mitra pemerintah dan mitra kelompok-kelompok masyarakat dalam kaitan dengan hal-hal yang konstruktif.
Selanjutnya, secara khusus dan sempit hendak difokuskan perhatian kita kepada lingkungan gerejawi dan Kristiani dari gereja Kristen itu sendiri. Maksudnya siapa dan bagaimana gereja itu dan siapa dan bagaimana kelompok Kristen itu. Hal itni penting, mengingat ada begitu banyak denominasi (aliran) gereja, padahal semuanya menyatakan diri sebagai kelompok Kristen. Untuk orang Kristen sendiri sering ‘merk’ gereja yang begitu banyak amat membingungkan, apalagi untuk orang non-Kristen. Itulah sebabnya perlu ada penjelasan.
PengertianDi tengah begitu banyak gereja Kristen dengan pelbagai nama dan sejarah asal-usul, pembentukan dan berdirinya masing-masing, ternyata muncul kata ‘oikoumene’ yang menyatakan kerinduan semua gereja itu untuk mempersekutukan diri dalam semangat kerja sama dan saling membantu. Oikoumene bersal dari dua kata Yunani ‘oikos’ (rumah) dan ‘menein’ (tinggal) yang secara harafiah berarti ‘tinggal bersama dalam satu rumah’. Selanjutnya, pemahaman terhadap kata oikoumene diperluaskan meliputi seluruh dunia dan semua manusia. Sekalipun dalam arti sempit hendak mengungkapkan suasana bersekutu dan bersaudara dalam lingkungan gereja dan orang Kristen. Secara populrer dipahami di tengah jemaat-jemaat Kristen, bahwa ‘oikoumene’ adalah apabila selaku orang yang sama-sama mengakui Tuhan Yesus dan Juru selamat dapat mengusahakan kerja sama dan persekutuan anak-anak dari satu Bapa.
Banyak anggota, tetapi tubuh satuPesan dalam Alkitab sudah jelas, bahwa tubuh Kristus hanya satu saja, sedang anggota-anggotanya banyak dan semuanya dipersatukan dalam satu Tuhan, satu iman dan satu baptisan (I Korintus 12:12-27; Efesus 4:3-6). Juga Tuhan Yesus melukiskan persekutuan itu dalam perumpamaan pokok anggur yang benar dengan ranting-rantingnya (Yohanes 15:1-8); kawanan domba yang dipimpin oleh seorang Gembala yang baik yakni Tuhan Yesus sendiri (Yohanes 10:10b-14); Ia pun mendoakan, ‘supaya semuanya menjadi satu’ (Yohanes 17:21).
Dalam wujud gereja dan kesatuan-kesatuan organisasi gereja, ternyata sejarah mencatat ada begitu banyak kesatuan organisasi gereja di dunia dan di Indonesia, sehingga sering membuat orang bertanya: kenapa gereja tidak satu saja organisasinya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu menelusuri jejak-jejak sejarah gereja sejak zaman dahulu sampai zaman sekarang ini. Boleh dikatakan, bahwa gereja memang mengalami proses kehidupan yang tidak selalu mulus. Ada banyak persoalan dan pergumulan yang susul-menyusul, sehingga membentuk — berdasarkan pokok-pokok ajarannya masing-masing — adanya denominasi (aliran) gereja. Itulah yang kemudian diwariskan kepada kita yang hidup pada masa kini.
Kita bayangkan, bahwa gereja mengalami pergumulan ajaran gereja sejak tahun-tahun permulaan kehadiran gereja. Kita mengenal tokoh-tokoh seperti Augustinus, Origenes, Tertullianus, Athanasius dll., dengan kemahirannya masing-masing dalam menghayati ajaran gereja. Lalu tersusunlah Pengakuan Iman Rasuli pada sekitar abad IV Masehi. Kemudian sampailah pada Skisma (Perpecahan) Pertama pada tahun 1054 dan terbentuk gereja Yunani Katolik dan Roma Katolik dengan kekhususannya masing-masing. Pada tanggal 31 Oktober 1517 Martin Luther memulai Reformasinya dengan memasang 95 dalil di pintu gereja Wittenberg di Jerman dan muncul aliran Protestan. Lalu pada tahun 1534 hadir gereja Anglican yang tidak berangkat karena perbedaan ajaran, tetapi usaha Raja Henry VIII dalam memikirkan suksesi bagi takhtanya. Sesudah itu bermunculanlah aliran-aliran gereja baru di kalangan kaum Protestan, sehingga makin ramailah suasana kehidupan gereja Protestan dan orang lain menyebutnya sebagai ‘penyakit Protestanisme’ yakni perpecahan demi perpecahan. Maka kita mengenal aliran-aliran seperti Lutheran, Calvinis dengan Reformed dan Re-reformed (Gereformeerd)-nya, Baptis, Methodis dengan perpecahan berikutnya Bala Keselamatan, Pentakosta, Adven, Injili dll.
Sesudah hadir begitu banyak gereja dengan namanya masing-masing, maka datanglah kerinduan untuk bersekutu dalam wadah oikoumenis. Maka muncullah World Council of Churches (Dewan Gereja Se-Dunia, DGD) pada tahun 1948 di Amsterdam, negeri Belanda, sebagai wadah gereja-gereja yang bersatu. Dalam perkembangan ternyata muncul pula International Council of Churches (Dewan Gereja Internasional), yang tentu saja mengurangi makna kebersatuan semua gereja Kristen di dunia ini. Tak juga boleh dilupakan munculnya World Alliance of Refoormed Churches (WARC), Reformed Ecumenical Synod (REC), Lutheran World Federation (LWF) yang mengharubirukan suasana oikoumenis yang mendunia menjadi tersekat-sekat kembali. Dalam tingkat regional hal itu kita jumpai dalam wujud Christian Conference of Asia (CCA) dan tentu juga ada ikatan-ikatan gereja di benua-benua yang lain yang dibentuk karena alasan geografis.
Di Indonesia kita mengenal wadah oikoumenis yakni Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI, dahulu DGI atau Dewan Gereja-gereja di Indonesia), berdiri pada tanggal 25 Mei 1950. PGI meliputi sekitar 80% orang Kristen Protestan di Indonesia. Ternyata hadir pula Dewan Pentakosta Indonesia (DPI), Persekutuan Injili Indonesia (PII), Gabungan Gereja-gereja Baptis (GGB) dll, masuk semuanya pada aras nasional Indonesia. Adakah semua gereja telah masuk dalam wadah-wadah oikoumenis di tingkat nasional itu? Dalam kenyataannya tidak, ibarat 10 tak habis dibagi 3, begitulah sifat gereja dan orang Kristen, sehingga ada saja yang tercecer, tidak masuk dalam salah satu wadah tersebut.
Dengan memperhatikan data-data di atas, pahamlah kita bahwa gereja-gereja baik di tingkat internasional, nasional, regional maupun lokal berkecenderungan seperti pendulum, goyang ke kanan dan kekiri secara timbal balik. Pada saat tertentu ingin gabung dan beroikoumene, pada saat yang lain ingin sendiri-sendiri.
Kita berharap bahwa prinsip ‘banyak anggota, tetapi satu tubuh’ selalu kita jadikan pegangan untuk beroikoumene. Karena prinsip inilah yang sesungguhnya dirindukan juga oleh Tuhan Yesus yang menjadi Raja kita semua.

Note : Penulis adalah Pdt.Em.Budhiadi Henoch dari GKI Cibunut Bandung, saya post artikel ini karena tertarik untuk di pahami tentang oikumene tsb, Tuhan Yesus memberkati Pelayanan Om Henoch dan Keluarganya, Amin.