Tuesday, February 23, 2010

Menyenangkan Tuhan


Menyenangkan Tuhan

Bacaan hari ini: 1 Tesalonika 2:1-6
Ayat mas hari ini: 1 Tesalonika 2:4
Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 4-6; Markus 4:1-20

Ada cerita tentang seorang bapak dengan anak laki-laki dan keledainya. Mereka menuntun keledainya hendak ke pasar. Sang bapak berjalan di samping, sedang anaknya duduk di atas keledai. Beberapa orang yang melihat berkata, “Anak itu tidak memiliki rasa hormat kepada orangtua, masak bapaknya berjalan, dianya sendiri naik keledai?” Tidak enak mendengar kata-kata itu, sang bapak gantian duduk di atas keledai, dan anaknya berjalan.
Orang-orang yang melihat berkata pula, “Kok tega sekali orangtua itu, enak-enak duduk di atas keledai sedang anaknya dibiarkan berjalan?” Mendengar itu, sang bapak meminta anaknya duduk di atas keledai bersamanya. Namun, orang-orang yang melihat berkata, “Kejam sekali, masak keledai tua begitu ditunggangi dua orang?” Bapak dan anak itu pun turun dari keledai dan berjalan beriringan. Ternyata omongan orang-orang tidak berhenti sampai di situ. Beberapa orang yang melihat mereka berkata pula, “Dasar bodoh, punya keledai kok tidak ditunggangi?”
Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Apabila kita berusaha menyenangkan semua orang, seperti bapak-anak dalam cerita di atas, kita akan “capek” dan “bingung” sendiri. Panggilan kita hidup di dunia ini bukanlah untuk menyenangkan hati manusia, tetapi menyenangkan hati Tuhan. Karena itu, standar atau ukuran atas sikap dan perilaku kita adalah Tuhan sendiri; apakah sikap dan tindakan kita menyenangkan Tuhan. Seperti kata Rasul Paulus, “Maka kami berbicara, bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk menyenangkan Allah yang menguji hati kita” (ayat 4).

PANGGILAN HIDUP KITA ADALAH MENYENANGKAN TUHAN

Penulis: Ayub Yahya

Monday, February 8, 2010

Berusaha Menjadi Sempurna

Berusaha Menjadi Sempurna

Oleh : Pdt.Dr. Erastus Sabdono

Mengapa begitu rendahnya hasrat atau minat seseorang untuk berusaha menjadi warga Kerajaan Surga yang baik? Sebab hasrat atau minat mereka telah diarahkan dalam pertualangan panjang mengingini perkara-perkara di bumi, bukan perkara-perkara yang diatas (Kol 3:1-3). Kalau kita masih tidak dapat mengikuti Tuhan Yesus dengan benar, mari kita periksa diri kita dengan jujur, masihkah kita dibelenggu oleh hasrat atau minat kepada hal-hal duniawi?

Memang selama hidup di dunia ini kita mempunyai kebutuhan hidup jasmani itu. Namun segala usaha kita untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani itu tidak boleh mengurangi usaha untuk mencapai kesempurnaan di dalam Tuhan. Jika sesorang menganggap bahwa mengusahakan kebutuhan jasmani lebih penting daripada mencapai kesempurnaan, berarti ia mempertuhankan perut dan berkategori duniawi (Fil 3:19). Pernyataan ini terkesan berlebihan dan menekan, tetapi inilah kenyataannya, bahwa Tuhan memang menghendaki orang percaya sempurna dalam seluruh kegiatan hidupnya. Untuk ini seseorang harus menanggalkan beban dan dosa (Ibr 12:1). Beban artinya keterikatan dengan dunia ini, atau percintaan dunia. Dosa yang dimaksud disini adalah keterikatan seseorang dengan keinginan daging atau hasrat dosa dalam dagingnya.

Alkitab mengatakan bahwa usaha menuju kesempurnaan ini sebagai perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Dan perlombaan ini menuntut iman yang sempurna seperti Yesus, yang ditandai dengan ketaatan-Nya kepada Bapa di Surga ( Ibr.12:2), karena itu sering disebut “perlombaan iman”. Kalau perlombaan ini wajib, mengapa hari ini banyak orang Kristen lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan jasmaninya daripada mengejar kesempurnaan? Berusaha menjadi sempurna tidak mengurangi waktu kerja, tidak berarti harus menjadi aktivis gereja, bahkan tidak harus menjadi pendeta. Berusaha menjadi sempurna berarti selalu dalam sikap berjaga-jaga, terus belajar melakukan segala sesuatu tepat seperti yang Bapa kehendaki.
Belajar memenuhi apa yang dikatakan Firman Tuhan, yaitu “jika kita makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, kita harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan. (1 kor.10:31). Berarti, justru pergumulan dalam latihan melakukan kehendak Tuhan dengan benar adalah pada waktu kita ada di kantor, toko, tempat kerja yang lain, sekolah, pergaulan, di tengah-tengah keluarga, dll. Kesempurnaan bukan hanya ditemukan pada waktu kita melakukan kegiatan di lingkungan gereja. Justru proses pembelajarannya lebih efektif saat kita di luar lingkungan kegiatan gereja, disitulah kita harus menunjukkan bahwa Kristus ada didalam diri kita dan kita tidak hanyut dalam gelombang dunia yang bergulir lebih cepat menuju kegelapan abadi, tetapi sebaliknya kita memiliki langkah maju dalam kedewasaan rohani dan sepenanggungan dengan Tuhan.

Bagi orang yang terlatih mengikuti perlombaan iman ini, maka irama hidupnya pasti selalu ingin mengutamakan Tuhan. Baginya ini adalah kebutuhan, bukan kewajiban. Ini sebagai menu kehidupan yang mutlak harus terselenggara.

Segala usaha kita untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani itu tidak boleh mengurangi usaha untuk mencapai kesempurnaan di dalam Tuhan.

Monday, February 1, 2010

Tos Kitu

Tos Kitu
Truth Daily Enlightenment (edisi January 2010)
Baca: Roma 8:18-30, Alkitab setahun: Matius 5-6

Masuk ke Desa Cibeo di daerah Baduy dalam, Rani adityasari, seorang wartawan sebuah harian nasional, menceritakan bahwa dia disambut oleh penduduk setempat di dalam teras rumah yang terbuat dari jalinan bambu dan kayu tanpa menggunakan paku satu pun. Rakitan rumah tradisional tanpa paku yang sudah turun temurun itu, menurut penduduk setempat,“Tos kitu – ya sudah begitu”. Tradisi yang kuat diwariskan dari generasi ke generasi, tanpa pedoman tertulis, namun dilakukan sangat disiplin. Seperti halnya tradisi saba desa (kunjungan ke desa lain). Praktiknya, mereka pergi ke Jakarta dalam rombongan tiga orang, dimana dua orang diantaranya sudah pernah pergi sebelumnya, kemudian pulang untuk menceritakan pengalamannya sewaktu menginap beberapa waktu di Jakarta. Uniknya, mereka berjalan ke Jakarta memakan waktu tiga hari, karena pergi tanpa beralas kaki dan tidak boleh naik kendaraan. Apabila ada anggota yang melanggar , entah bagaimana pasti ketahuan. Sekembalinya ke desa dia akan segera diusir dari Baduy Dalam. Ketika ditanya mengapa tidak boleh pakai alas kaki dan kendaraan, maka dijawab dengan senyum dan suara halus , “Tos kitu.”

Jika kita membaca Alkitab, maka kita menemukan bahwa penulis Alkitab tidak berusaha untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada, sebab memang mereka mengalami sendiri bergaul dengan Tuhan sesuai dengan pola masing-masing yang khas. Jika bertemu orang atheis yang mempertanyakan keberadaan Tuhan, daripada berdebat, kita lebih baik menjawab “ Tos kitu”. Tuhan ada dan dapat dirasakan keberadaan-Nya buat mereka yang serius ingin mengenal Dia. Para atheis tidak merasakan Tuhan ada bukan karena tidak ada bukti, melainkan karena mereka menindas bukti-bukti itu.

Namun perlu diingat bahwa menggunakan pikiran itu bukan duniawi, sebab pikiran itu diciptakan oleh Tuhan untuk memperlengkapi kita agar kita tidak bisa kita diperdaya dengan pengajaran yang mengatasnamakan Tuhan tapi menyelewengkan kebenaran Alkitab. Pengajaran yang keliru tidak boleh dibungkus dengan kalimat rohani yang mengisyaratkan kita untuk “Percaya saja”. Dalam Rm.8:28 kita diajarkan bahwa Allah turut bekerja di dalam segala hal yang mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Jadi kita harus terus menguji hati kita, apakah kita mengasihi Dia? Jika ditanya, kenapa harus begitu, ya kita jawab saja “ Tos kitu”. Dimana kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikan-Nya dengan tekun.

Iman kepada Tuhan tidak perlu bertanya mengapa harus demikian, namun harus berjalan walaupun banyak ketidakpastian.