Thursday, March 15, 2012

Semeron

Oleh : Pdt. Dr.Erastus Sabdono
From : Truth Daily



Baca: Ibrani 3:15

Alkitab dalam setahun: Markus 13

Dalam Ibrani 3:15 tertulis: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.” Kata hari ini, dalam teks Yunaninya adalah semeron (Σμερον), yang menunjuk kepada hari yang tertentu. Tuhan bekerja pada hari tertentu bagi setiap individu. Ia ketat dengan jadwal yang ditentukan-Nya. Mengenai jadwal yang ketat ini dapat ditemukan dalam pernyataan Firman Tuhan bahwa kedatangan anak-Nya telah ditentukan kapan masanya (Gal. 4:2-4). Hal ini berbicara mengenai momentum atau dalam bahasa Yunaninya kairos (καιρς). Betapa mahal harga suatu kesempatan saat Tuhan menyediakan “berkat”-Nya bagi orang-orang yang dikasihi-Nya. Perlu ditambahkan di sini bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan menjadi orang yang menerima anugerah. Hal ini sangat tergantung pada hak “prerogative” (hak istimewa) Allah, siapa yang ditunjuk untuk menerima anugerah-Nya. Ditunjuk menerima anugerah-Nya tidak berarti otomatis pasti selamat, sebab respon seseorang terhadap anugerah Allah sangatlah menentukan selamat atau tidaknya orang tersebut.
Selain itu waktunya ditentukan, durasi atau kesempatannya pun juga ter­batas. Penghargaan seseorang terhadap momentum dan kesempatan yang ter­batas tersebut sama dengan penghargaan kepada Tuhan yang menyediakan mo­mentum dan kesempatan tersebut. Apabila seseorang menyia-nyiakan momentum tersebut dan kesempatannya, maka ia tidak akan memperoleh belas kasihan sama sekali. Ini sama artinya dengan tidak mengindahkan Allah sendiri. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan agar kita tidak menyia-nyiakan keselamatan (Ibr. 2:3).
Kesalahan banyak orang Kristen hari ini adalah mereka tidak merasa tidak menghargai Tuhan hanya dengan menunda apa yang seharusnya dilakukan bagi Tu­han. Tindakan menunda terhadap apa yang seharusnya dilakukan bagi Tuhan “pada waktunya” merupakan tindakan “mengeraskan hati”, sampai seseorang tidak pernah bisa mendengar peringatan Tuhan. Pada dasarnya orang yang murtad adalah orang yang hatinya keras sampai tidak bisa menerima tegoran lagi. Inilah stadium atau level saat seseorang dikategorikan menghujat roh. Sampai level ini seseorang tidak perlu lagi didoakan, sebab percuma. Ini sama dengan penduduk Yehuda pada ja­man Yeremia yang tidak perlu didoakan sebab Tuhan sudah pasti akan menghukum mereka karena kejahatan mereka.
Segala sesuatu ada urutan waktunya, ada momentumnya, dan ada durasinya.
Hitunglah hari-hari Anda.

Friday, March 2, 2012

Prospheno


Oleh : Pdt. Dr.Erastus Sabdono
From : Truth Daily

Baca: Ibrani 5:7
Alkitab dalam setahun: Markus 14

Mengapa Tuhan Yesus bangkit? Apakah karena kuasa Allah yang luar biasa yang membangkitkan-Nya? Kalau karena kuasa Allah yang membangkitkan tanpa mempertimbangkan kelakuan dalam kehidupan Tuhan Yesus, maka berarti Allah tidak adil dan nepotisme. Sejatinya Tuhan Yesus bangkit karena Tuhan Yesus “saleh”. Dalam Ibrani 5:7 tersurat, “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” Perhatikan kalimat “karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” Kalau Tuhan Yesus tidak saleh Ia akan tetap ada dalam kubur. Jadi kebangkitan Tuhan Yesus adalah prestasi-Nya sendiri yang menyediakan diri untuk hidup dalam kesalehan. Kebangkitan-Nya bukti bahwa ia “lulus”, taat kepada Bapa, taat sampai mati bahkan mati di kayu salib. Itu adalah prestasi-Nya sendiri. Maksudnya bahwa Bapa tidak memberikan kemudahan-kemudahan agar Ia dapat menang atau bisa hidup saleh dengan mudah. Alkitab menegaskan bahwa “dalam segala hal Ia disamakan dengan saudara-saudaraNya,” Yang dimaksud dengan “saudara” disini adalah manusia (Ibr. 2:17). Ia juga walaupun Anak (Anak Tunggal Allah), Ia belajar taat dari apa yang diderita-Nya (Ibr. 5:8). Dalam hal ini kita bisa mengerti mengapa Ia sampai menaikkan doa dengan ratap tangis dan keluhan.
Kata saleh dalam teks aslinya adalah prosenengkas (προσενγκας,) dari akar kata prospheno (προσφρω) yang lebih bisa berarti menyerahkan diri atau mengarahkan diri (to bear towards; bring (to, unto), deal with, do, offer (unto, up), present unto, put to). Tentu maksud mengarahkan diri atau menyerahkan diri di sini adalah mengarahkan diri atau menyerahkan diri kepada kehendak Allah Bapa. Hal ini sebenarnya menunjuk pada pengakuan Tuhan Yesus di Taman Getsemani bahwa Ia menyerah kepada kehendak Bapa, bukan kehendak-Nya sendiri. Dalam hal ini kita menemukan kehidupan Tuhan Yesus yang diarahkan sepenuh kepada kehendak Bapa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tuhan Yesus sebelumnya, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya,” (Yoh. 4:34). Filosofi ini bertentangan atau kebalikan dari filosofinya Lusifer. Filosofi Lusifer adalah, “Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi,” (Yes. 14:14). Dua pribadi yang sangat kontras. Orang percaya ditantang hendak memilih yang mana? Mau ikut siapa? Setiap orang harus menentukan sikap, tidak bisa menghindarinya.
Kepada siapa Anda serahkan diri Anda?
Hanya ada dua pilihan, Tuhan Yesus atau Lusifer.