Wednesday, December 12, 2012

Natal Lagi

Pdt.Bigman Sirait.
 
Desember, berujung pada Natal, dan bersambung pada Tahun baru. Tiap tahun ini menjadi suasana tersendiri dalam perjalanan kehidupan umat Kristen. Natal mengingatkan kita akan kerelaan Yesus Kristus mengosongkan diri Nya, untuk menjadi sama dengan manusia yang terkurung dalam ruang dan waktu. Melepas atribut ke Illahian Nya, dan menjadi manusia, sekaligus Allah yang mengosongkan diri. Sebuah pergumulan teologis tersendiri, pemaknaan yang sangat dalam, itulah Natal. Semangat natal sudah semestinya mewarnai, bahkan mendominasi, kehidupan orang percaya. Ya, tiap kali Natal kita diingatkan untuk merenung diri, apakah kita sudah hidup sesuai dengan apa yang menjadi kehendak Allah. Apakah kita sudah hidup sesuai dengan tujuan natal? 
Orang percaya digugat untuk berani melepas kecintaan pada diri, dengan belajar mencintai sesama yang tersisihkan dari panggung kehidupan. Ada terlalu banyak hal yang bisa diperbuat dalam mengisi Natal. Hanya saja, sayang, juga ada terlalu banyak acara yang membuat kebanyakan kita terlena pada kenikmatan diri. Acara yang sudah pasti bernuansa pesta, menerima kenyamanan, dan bukan berbagi diri. Tak ada yang salah dengan suasana ini, tetapi jadi masalah besar ketika kita terjebak dan berhenti disana. Lalu berpikir kita sudah natalan. Jelas tidak. Natalan adalah kesadaran dan keberanian untuk berbagi. Semangat yang harus diwujudkan, dan sangat mengena dengan situasi kekinian dimana cinta diri semakin menguasai manusia modern. Seharusnyalah semangat natal bisa memberikan secercah harapan kebersamaan, kepedulian, dan kerelaan untuk hidup berbagi. 
Natal lagi, adalah tema untuk sebuah perenungan yang coba mengingatkan diri, jangan-jangan ini hanya sebuah pengulangan dalam perputaran waktu. Tak ada yang baru, baik dalam paradigma, apalagi tindakan yang semestinya. Natal lagi, agar orang percaya tak hanya mengulang, sebaliknya, terus mencipta pembaharuan kehidupan. Membuat perubahan demi perubahan menuju hidup yang lebih baik, beradab, dan beriman sungguh. Mampu mengaplikasi iman dalam keseharian, sehingga makna natal itu mendarap dikehidupan. Natal, adalah kesempatan bagi orang lain merasakan artinya sebuah penyangkalan diri. Seperti Kristus menyagkali ke Illahian Nya dengan menjadi manusia, begitulah kita menyangkali diri dengan menggantungkan keegoan diri. Sebuah semangat natal yang bukan sekedar natal lagi. Sementara tahun baru, yang menanti jangan melunturkan semangat natal itu, tetapi sebaliknya, menjadi perpacuan waktu untuk terus menerus menjadi semakin baru. Sehingga dengan semangat natal, tercipta perubahan menuju hidup yang lebih baik dan benar. 
Setiap tahun baru, berarti waktu mengkalkulasi apakah semangat natal mencapai titik maksimal dalam mencipta perubahan? Dengan demikian, akan tercipta sebuah perputaran yang akan terus menerus memperbaharui apa yang ada. Sehingga kehidupan umat tak terjebak pada comfort zona, melainkan terus menerus bergerak menuju titik puncak pengabdian. Bukankah hal ini akan membuat hidup menjadi amat sangat bermakna. Dan juga, akan membuat hidup menjadi lebih hidup karena sangat menghidupkan. Natal tak boleh hanya menjadi natal lagi, natal harus menjadi natal yang terus menerus mengingatkan semangat peniadaan diri demi pengabdian kepada yang Illahi. Hidup dibumi untuk berbagi, mengangkat harkat hidup orang yang terpuruk. Terpuruk karena berbagai hal, baik ekonomi, moral, kesehatan, bahkan mereka yang patah dan kehilangan semangat hidup. Natal harus menyentuh semuanya, membuat orang kuat diposisinya masing-masing. 
Tahun baru, harus diingat, bahwa yang baru itu bukan soal sandang, pangan, papan, melainkan semangat dan arah kehidupan. Dunia memang sangat menggoda dengan tawaran kenikmatannya. Natal dan tahun baru telah dijadikan tahun menampuk rejeki oleh dunia industri. Sebuah usaha legal, namun harus disikapi dengan kritis dan komprehensif, agar umat tak sekedar menjadi ladang tempat mendulang rejeki. Selamat natal, selamat berbagi, dan memberi hidup. Selamat tahun baru, selamat berparadigma baru, tentang makna hidup yang berbagi. Tuhan memberkati

Sunday, December 9, 2012

Winning the Battle

by Joyce Meyer

One thing I’ve learned over the years is that the more intimate we are with Him, the more powerful our lives will be. That’s because we begin to resemble and act like those we spend time with. So, if we “hang out” with Christ, we will eventually become more like Christ. The trouble is many of us don’t spend a whole lot of time with Him.
Intimacy Takes Time—and Truth

It’s seems like so many people are afraid to make time to get to know Him, to study His character. Or we’re scared to seek wisdom and guidance from Him because of what we think He might tell us. It looks as if we’re terrified of simply being with Him. And so that kind of power—the kind that makes the devil nervous when we wake up in the morning—often doesn’t develop very much in our lives.

God’s Word tells us that the truth will make us free. And in the book of Psalms, it says that David sought one thing of the Lord and basically, that was time with Him.

So, to develop intimacy that cultivates power with God, we have to face the truth that God reveals to us about ourselves. We must get a hold on our thoughts—thoughts about ourselves, our past or future, even thoughts about God. God loves us very much, but He is not willing to leave us in our mess. He is always ready and waiting to change us from the inside out.
“ He is always ready and waiting to change us from the inside out. ”

It takes time for that to happen because we first need to be able to see the truth about ourselves, and many times, that is the hardest part of growing because we don’t like what we see. We may pray for God to change our circumstances, but we need to be able to face the fact that He wants to change us—regardless of the circumstances. So many times the Holy Spirit will reveal things that we just don’t want to see about ourselves. But remember, the truth will set us free! So don’t be afraid to change; be more afraid of staying the same!
How God Really Sees You

But God is not mad at us. If you’re a parent just think of this: Can you love any of your children more than you do right now? Do you still want to see changes in their behavior? Well, it’s the same way with our heavenly Father. He loves us—period. He loves us now as much as He ever will. That will not change. But He still wants to see us grow and mature and experience the best He has planned for us.

God really does love us, and He always has our best interest in mind. The more we trust Him, the more we’ll want to spend time with Him. The more time we spend with Him, the more we change and the more His power develops in our lives. And the more powerful our lives are, the more nervous the devil will be when we open our eyes and get out of bed in the morning!

So, schedule a few private meetings with God. Talk to Him about your problems. Face the truth He reveals to you about yourself. Trust that He is always working for you to live an abundant, fruitful, powerful life!

Wednesday, December 5, 2012

Mempersiapkan diri untuk Hidup Kekal

Wignyo Tanto (from : Facebook)
Persiapan akan suatu pesta pernikahan itu luar biasa. Biasanya dipersiapkan selama 1 tahun dan melibatkan banyak pihak, baik keluarga pria maupun wanita dan bahkan teman-teman juga. Persiapan yang cukup lama yang memakan waktu dan biaya cukup besar ini hanyalah untuk menyelenggarakan pesta yang berlangsung 2 jam saja. Bayangkan, pesta 2 jam dipersiapkan selama 1 tahun, hebat bukan?

Nah, bagaimana persiapan kita selama hidup 70 tahun ini untuk menyongsong pesta di kekekalan yang durasinya tak terhingga, yaitu selama-lamanya.

Sayangnya pengertian inipun belum tentu menggerakkan seseorang untuk berubah dan serius menginvestasikan seluruh hidupnya di Bumi ini untuk hidup selamanya di Bumi yang baru, yaitu di Surga nanti.

Anak Allah hidup di dunia ini cuma satu tujuannya, mempersiapkan diri untuk hidup kekal.

Wahyu 21:1-4

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.

Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.

Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."