Sunday, June 26, 2011

Dihakimi Menurut Perbuatan

Oleh : Pdt. Dr.Erastus Sabdono
Dari : Truth Daily Enlightenment
 
Baca: Roma 2:6–15
Alkitab dalam setahun: Yesaya 9–12

Apakah kita menganggap hanya orang Kristen saja yang mempunyai kesalehan? Menganggap bahwa dalam kehidupan orang-orang non-Kristen tidak ada orang-orang saleh yang memiliki kualitas yang luar biasa dibanding dengan manusia kebanyakan adalah anggapan yang tidak jujur. Tentu pengertian saleh disini tidak boleh diukur dengan kesalehan standar sempurna bagi umat Perjanjian Baru.
Bila kita mengamati kesalehan Ayub, maka kita menemukan kesalehan orang non-Yahudi dan juga non-Kristen yang luar biasa. Ayub hidup pada zaman sebelum Abraham, dan ia bukan termasuk orang Yahudi umat pilihan Allah (Ayb. 1:1). Tentu masih banyak lagi orang-orang yang memiliki kesalehan seperti mereka. Demikian juga Yitro, mertua Musa. Ia orang Midian yang mengenal Allah Israel. Ia memuji Tuhan dan mempersembahkan korban bagi Allah Israel (Kel 18:12).
Mengapa ada orang non-Yahudi dan non-Kristen bisa mengenal Allah, bahkan disebut imam? Sebab Tuhan yang menulis Taurat-Nya di dalam hati mereka (Rm. 2:15). Mereka bisa menjadi orang-orang yang berprestasi moral yang baik menurut kitab yang mereka miliki, yang akan menjadi tolok ukur penghakiman bagi mereka (Why. 20:12–13). Penghakiman yang digambarkan di sini diselenggarakan tidak berdasarkan iman kepada Juruselamat, tetapi berdasarkan perbuatan (Rm. 2:6). Tentu ini berlaku bagi mereka yang tidak pernah mendengar Injil. Dalam hal ini, akan ditemukan orang-orang yang memiliki kasih kepada sesamanya dalam standar masing-masing, sesuai dengan hukum yang tertulis dalam “kitab-kitab itu”.
Siapa berani mengatakan orang sesaleh Ayub masuk neraka? Tuhan itu Mahaadil. Ia memberi peluang bagi orang-orang yang tidak pernah mendengar Injil, apakah mereka memperoleh perkenanan-Nya atau tidak. Jadi penghakiman Allah tidak hanya untuk menujukkan kesalahan atau menjatuhkan hukuman. Ia bukan Allah yang kejam. Ia akan menunjukkan keadilan-Nya bagi orang-orang yang dipuji-Nya sebagai tidak bercela, seperti Ayub (Ayb. 1:8).
Berarti kita harus menerima bahwa nanti ada banyak orang yang tidak pernah menjadi bangsa Israel, tidak pernah menjadi Kristen, dan tidak pernah dicap sebagai orang saleh menurut kacamata orang Yahudi dan orang Kristen, tetapi memasuki kehidupan yang akan datang. Merekalah orang-orang yang melalui penghakiman lalu diperkenankan masuk sebagai masyarakat dalam dunia yang akan datang di langit dan bumi yang baru. Tidak mungkin Tuhan menulis Taurat-Nya di dalam hati manusia hanya sekedar untuk pajangan dan tidak berdampak bagi manusia.
Kita harus menerima kenyataan bahwa ada orang yang memperoleh perkenanan Allah melalui penghakiman-Nya lalu memasuki kehidupan yang akan datang.

Friday, June 24, 2011

Bukan Sekadar Masuk Dunia yang Akan Datang

Oleh : Pdt. Dr.Erastus Sabdono
Dari : Truth Daily Enlightenment

Baca: Yohanes 5:21–23  Alkitab dalam setahun: Yesaya 13–17
Tuhan tidak akan dengan mudah membuang manusia ke dalam api kekal, sebab roh yang ditaruh Tuhan di dalam diri manusia itu berasal dari Dia (Yak 4:5; Ibr 12:9). Roh yang ada pada manusia adalah roh dari Allah yang sangat luar biasa. Jadi jangan heran kalau manusia di luar Israel atau di luar Kristen bisa melakukan perbuatan-perbuatan baik yang sangat menakjubkan.
Dengan mengemukakan fakta ini, sama sekali tidak ada maksud untuk mengajarkan bahwa ada keselamatan di luar Kristus. Kita percaya sepenuhnya bahwa tidak ada manusia yang dapat selamat tanpa kurban Kristus. Dialah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29) sebab tidak seorang pun bisa melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Memang tidak seorang pun yang sanggup melakukan hukum Taurat atau Sepuluh Perintah Allah dengan sempurna, tetapi ketidaksempurnaan itu tidak berarti Tuhan lantas membinasakan mereka. Mereka akan dihakimi menurut pemahaman mereka sesuai dengan hukum yang mereka miliki.
Ketidaksempurnaan itu ditopang oleh kurban Tuhan Yesus di kayu salib. Sebagaimana setiap insan tanpa kehendaknya sendiri terlahir sebagai orang yang ada di bawah hukum dosa dan kebinasaan, maka di luar sepengetahuannya pun ada orangorang yang memiliki jaminan penghakiman dimungkinkan menerima kesempatan hidup di dunia yang akan datang.
Bila tidak ada kurban di kayu salib, maka tidak ada penghakiman, semua manusia otomatis masuk neraka. Itulah sebabnya Ia yang menyerahkan nyawa-Nya memperoleh hak menghakimi. Ia pun juga berhak membangkitkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Tuhan Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib untuk menebus semua orang, bukan hanya orang Kristen saja (Rm. 5:15; 2Kor. 5:14–15).
Penjelasan ini dimaksudkan agar kita dapat memahami perbedaan antara orang percaya kepada Tuhan Yesus yang menerima hak (ξουσία, eksusía) supaya menjadi anak-anak Allah dan mereka yang tidak memiliki hak itu. Hak itu bukan sekadar untuk memasuki dunia yang akan datang, karena kita yang menjadi anakanak Allah bukan sekadar masuk dunia yang akan datang, tetapi ikut memerintah bersama dengan Tuhan Yesus. Tapi syaratnya, kesalehan seperti orang-orang bukan pilihan Allah belum cukup. Orang percaya harus memiliki target sempurna seperti Bapa. Bila Tuhan yang memerintahkannya, ini bukan sesuatu yang mustahil diwujudkan. Biarlah penjelasan ini juga memicu kita untuk lebih sungguh-sungguh dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita, yaitu mengikuti jejak Tuhan Yesus.
Ikut memerintah bersama dengan Tuhan Yesus mensyaratkan kita menuju target kesempurnaan.

Tuesday, June 14, 2011

Ucapkanlah Syukur

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono
From : Truth Daily Enlightenment

Baca: 1 Tesalonika 5:18
Alkitab dalam setahun: Yesaya 36–41


Dalam suatu program interaktif di radio yang mengangkat pembicaraan mengenai kenaikan harga-harga komoditas dan tarif dasar listrik belakangan ini, seorang pendengar menelepon untuk mengatakan, “Mengucap syukur sajalah, karena itulah yang dikehendaki Tuhan. Tidak perlu protes. Saya sudah menjual mobil dan saya sekarang ke mana-mana naik angkot, tapi saya mengucap syukur. Cabai mahal, ya tidak perlu nyambal, gitu aja kok repot. Mengucap syukur saja.” Sepintas kedengarannya rohani, dan mungkin kita spontan menyahut “Amin” tatkala mendengar teman kita mengatakan hal senada.
Mengucap syukur berarti menyatakan penghargaan dan rasa terima kasih kepada Allah. Kita menyampaikannya dalam pujian dan doa dengan hati yang penuh sukacita. Tetapi perlu diingat bahwa Rasul Paulus tidak menasihati kita agar kita mengucap syukur untuk segala yang terjadi dalam hidup kita; tetapi agar kita mengucap syukur dalam segala hal. Perbedaannya terletak pada mengapa kita mengucap syukur. Saat suatu kejahatan terjadi dalam kehidupan kita, kita tidak mengucap syukur kepada-Nya untuk kejahatan tersebut, sebab kejahatan tidak berasal dari Tuhan. Saat kita jatuh ke dalam dosa, kita tidak mengucap syukur untuk dosa itu, sebab dosa tidak berasal dari Tuhan. Mana mungkin kita mengucap syukur dalam nama Yesus (Ef. 5:20) untuk sesuatu yang dibenci Tuhan?
Tetapi seharusnya kita mengucap syukur karena kita tahu Tuhan selalu beserta dengan kita di dalam keadaan yang menurut kita seburuk apa pun. Ia tidak pernah meninggalkan kita. Jika kita bersalah pada-Nya, Ia bersedia mengampuni kita (1Yoh 1:9). Dan kita bersyukur bahwa jika kita mengasihi-Nya, Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28) dan Ia memberikan kekuatan sehingga kita bisa menanggung segala kondisi yang diizinkan-Nya (Flp. 4:13).
Jadi mengucap syukur tidak berarti menerima segala hal yang terjadi begitu saja, dan pasif, tidak mau berjuang untuk keluar dari hal tersebut. Justru sebaliknya, kualitas kita sebagai anak Tuhan akan tampak dari perjuangan kita menghadapi masalah. Harga naik? Kita harus menyikapinya dengan hidup hemat mengurangi pengeluaran, tetapi kita juga perlu berjuang untuk meningkatkan penghasilan kita. Kalau menyuarakan kesulitan dan ketidakpuasan kita kepada Pemerintah, itu tidak boleh diartikan kita kurang bersyukur. Kita bersyukur karena penyertaan Tuhan di tengah kesulitan, bukan karena Tuhan memberikan kesulitan itu. Lakukan bagian kita dengan bertanggung jawab, dan Tuhan juga melakukan bagian-Nya.


Mengucap syukur dalam segala hal tidak berarti meninggalkan tanggung jawab.