Thursday, April 28, 2011

Pantaskah?

Oleh: Pdt. Juswantori Ichwan, M.Th
Bacaan hari ini: Amsal 31: 1-9
Ayat mas hari ini: Amsal 31:4
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 3-5
Sari berang. Istri pendeta tadi menegurnya di gereja, karena ia mengenakan kaus dan rok mini ketika mengikuti ibadah Minggu. “Kita perlu berpakaian pantas saat beribadah,” kata istri sang pendeta. Di dalam hati Sari mengumpat, “Apanya yang tidak pantas? Tidak bolehkah aku mengikuti perkembangan mode? Apakah menurut Alkitab, memakai rok mini itu dosa?”
Pantas artinya cocok, sesuai, patut, atau layak. Berbicara soal kepantasan tidak selalu berkaitan dengan dosa. Ini menyangkut hikmat dalam membawa diri, sesuai dengan status dan lingkungan. Di Israel, misalnya, tidak ada larangan bagi raja untuk meminum anggur. Rakyat jelata pun biasa minum anggur sampai mabuk guna melupakan sejenak susahnya hidup (ayat 6,7). Dalam pesta perjamuan raja, minum anggur adalah hal biasa. Namun, Lemuel dinasihati ibunya untuk tidak meminum anggur. “Tidaklah pantas bagi raja meminum anggur,” katanya. Mengapa? Minuman keras bisa memabukkan. Jika seorang kepala negara mabuk, ia tidak dapat memutuskan perkara dengan benar dan adil. Akibatnya, rakyat bisa menjadi korban ketidakadilan dan penindasan!
Bicara soal kepantasan bukan melulu mempersoalkan benar-salahnya suatu tindakan. Ada hal yang tidak salah, tetapi tidak pantas dilakukan oleh seorang dengan status atau jabatan tertentu. Orang bisa tersandung jika melakukannya. Setiap kita berstatus “orang kristiani”. Sebagian lagi bahkan pemimpin kristiani. Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri: Sudahkah saya bersikap, berperilaku, berbicara dan berpenampilan pantas, sesuai status yang saya sandang?
HANYA ANAK KECIL YANG SELALU BERTANYA
“BOLEH ATAU TIDAK”
SEORANG DEWASA PERLU BERTANYA “PANTAS ATAU TIDAK”

Thursday, April 7, 2011

Kekristenan Tidak Bertentangan Dengan Ilmu Pengetahuan

Pdt.Dr. Erastus Sabdono
(Truth Daily Enlightenment)

Baca: Amsal 1:2–7
Alkitab dalam setahun: Imamat 26–27

Ada ajaran yang menyiratkan bahwa beragama tidak boleh membawa pikiran, sebab pikiran mengakibatkan seseorang tidak beriman secara benar. Kemudian konsep ini dilantunkan selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad. Karna konsep yang salah ini, banyak orang tiba pada kesimpulan bahwa semua yang rasional tidak boleh masuk wilayah keyakinan dan komitmen pribadi dengan Tuhan. Agama dianggap tidak akan dapat berdampingan dengan ilmu pengetahuan, bahkan bertentangan dengan ilmu pengetahuan.
Akibat konsep ini, hati dan pikiran banyak rohaniwan dan teolog menjadi tertutup sehingga tak sanggup melihat dengan mata terbuka dan jujur tentang perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka menganggap khotbah yang menghubungkan Alkitab dengan ilmu pengetahuan sebagai mengada-ada atau bahkan sesat. Padahal ilmu pengetahuan tidak mungkin bisa berjalan tanpa dikawal oleh kebenaran Firman Tuhan (ay. 7). Memang Alkitab bukan buku sains, tetapi Alkitab menyimpan banyak rahasia yang bertalian dengan sains, sebab yang memiliki dan mengilhami Alkitab adalah Pribadi yang menciptakan sains itu sendiri. Orang beriman yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan akan semakin kagum melihat bukti bahwa Tuhan adalah Pribadi Mahacerdas yang menciptakan alam semesta, manusia dan juga ilmu pengetahuan.
Sementara itu banyak orang di luar gereja yang menjadi berpikir bahwa agama hanyalah untuk orang yang buta sains, dengan kata lain orang beragama adalah orang bodoh; agama adalah candu masyarakat. Ini semua akibat konsep keliru yang menyesatkan tadi. Ini diperkuat oleh kenyataan bahwa banyak orang bodoh yang memberi diri menjadi pelayan gereja, seakan-akan melayani dan mengurus jemaat Tuhan tidak perlu kecerdasan dan profesionalitas. Mereka menganggap kalau di marketplace—perdagangan, hukum, medis, TI dan berbagai profesi lainnya—dituntut kecerdasan dan profesionalisme; sedangkan untuk melayani Tuhan tidak perlu. Ditambah lagi dengan keyakinan bahwa Tuhan mengerjakan semuanya; manusia tak perlu ikut campur; cukup diam saja, berserah penuh dan menunggu mukjizat. Hasilnya adalah sikap yang tidak bertanggung jawab di dalam gereja.
Sejatinya Kekristenan tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Allah yang menciptakan segala ilmu, Ia juga menginginkan kita menggunakan pikiran kita untuk kemuliaan-Nya di segala bidang. Sebagaimana kita harus profesional di pekerjaan sehari-hari, kita juga harus profesional dalam pelayanan di gereja.
Pikiran kita harus dipakai secara optimal dalam segala bidang,
termasuk dalam pelayanan di gereja.

Menggunakan Nalar

Pdt.Dr. Erastus Sabdono
(Truth Daily Enlightenment)

Baca: 2 Petrus 3:5–13
Alkitab dalam setahun: Imamat 24–25
Kalau kita mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi kita, artinya kita harus menggunakan dan mengasah akal budi kita dalam berurusan dengan Tuhan. Pikiran kita harus diperbarui setiap hari. Kita harus semakin cerdas, semakin mengerti kebenaran, membuang semua konsep yang keliru, lalu mengenakan konsep yang benar.
Contohnya, seorang anak menganggap pelangi adalah lukisan spidol Tuhan di langit. Semakin ia dewasa, ia mengalami pembaruan pikiran dan tahu bahwa pelangi adalah pembiasan sinar matahari oleh titik-titik air. Ketika Nuh diberi Tuhan tanda pelangi sebagai janji bahwa Ia tidak akan menghukum dunia dengan air bah lagi,
Nuh yang belum mengenal ilmu fisika pasti berpikir bahwa pelangi adalah suatu benda yang berwarna. Tetapi sekarang kita tahu, bahwa maksud Tuhan dengan pelangi tersebut adalah, selama matahari masih bersinar di bumi ini, maka bumi masih eksis. Sebab suatu hari nanti, saat bumi dihukum di akhir zaman, cahaya matahari akan terhalang karena berbagai fenomena di langit (Mat. 24:29). Kita juga tahu bahwa dunia tidak akan dihukum dengan air, tetapi api (ay. 10).
Demikian pula kita harus menerima pernyataan-pernyataan Tuhan Yesus dengan akal budi yang cerdas. Misalnya, saat Yesus bersabda mengenai iman yang memindahkan gunung (Mrk. 11:23), maksudnya pasti bukan gunung secara harfiah, sebab selain Ia tidak pernah memindahkan gunung, memindahkan gunung juga bisa mendatangkan bencana dan tidak jelas kegunaan positifnya. Contoh lain, tidak mungkin Tuhan melipatgandakan berkat-Nya atas persembahan yang diberikan umat-Nya, kalau mereka memberi hanya karena mencari keuntungan pribadi tanpa kerja keras dan tidak bisa dipercayai Tuhan. Itu justru membuat mereka menjadi sombong karena hidup dalam kesenangan daging. Yang benar, Tuhan akan melipatgandakan berkat-Nya atas anak-anak Tuhan yang menggunakan berkat itu untuk kemuliaan-Nya. Semua ini harus dipecahkan dengan nalar yang sehat dan jujur.
Sayangnya hari ini banyak kebohongan yang disampaikan terus-menerus dengan berani, sehingga banyak orang memercayainya dan menerimanya sebagai kebenaran. Apalagi kalau kebohongan itu disampaikan dengan menggunakan nama Tuhan, oleh orang yang mengaku dirinya utusan Tuhan, pernah bertemu langsung dengan Tuhan dan menerima visi langsung dari Tuhan. Di masyarakat yang biasa berpikir mistis dan tidak logis, praktik kebohongan yang sesungguhnya perdukunan ini menjadi subur. Kita tidak akan terjerat jika kita menggunakan nalar.
Pembaruan pikiran berarti kita semakin cerdas dalam mengerti kebenaran
dan membuang konsep yang keliru.