Wednesday, May 27, 2009

Membuktikan Allah Tritunggal (bagian 1)



Membuktikan Allah Tritunggal

Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)

Pengajaran mengenai Tritunggal atau Trinitas adalah pengajaran yang paling banyak diperdebatkan dalam gereja Tuhan dari abad ke abad. Pokok pengajaran ini membangkitkan adu argumentasi yang tiada habis-habisnya. Di pihak lain, ajaran ini juga menjadi objek serbuan agama-agama non-Kristen. Pernyataan klasik dan tetap up-to date hingga kini adalah : benarkah Allah berjumlah tiga? Pengajaran ini memang pengajaran yang paling khas dalam ke Kristenan, dan tidak ada dalam agama manapun. Menurut prasangka subjektif manusia, muncul pertanyaan yang juga merupakan tuduhan curiga : Mengapa orang Kristen menyembah tiga Allah, bukan Allah Yang Maha Esa?

Ternyata pengajaran ini telah menjadi batu sandungan bagi banyak orang beragama lain yang membuat mereka menolak kekristenan. Bahkan tidak sedikit yang menganggap agama Kristen adalah agama kafir, karena memiliki tiga Allah atau menyamakan seseorang seseorang manusia Yesus sebagai Allah. Kampanye penolakan Yesus sebagai Allah sangat kuat, baik terang-terangan maupun secara terselubung, dan jika tidak diantisipasi secara sistematis dan serius, maka banyak generasi muda Kristen bisa terhilang. (saya mengambil tema ini karena tergerak agar orang dapat memahami dengan benar apa Allah Tritunggal itu ).

Dalam sejarah gereja, memeang gereja sering berusaha untuk memformulasikan (merumuskan) doktrin Tritunggal ini, namun sering mengalami kesulitan. Untuk mengenal Allah Tritunggal, kita harus percaya bahwa konsep ini Alkitabiah. Kita harus percaya dulu baru mengerti, bukan mengerti dulu baru percaya (Ibrani 11:6). Untuk ini kita harus rela takluk kepada kebenaran Alkitab.

Selanjutnya, kita harus menerima kenyataan bahwa kebenaran mengenai Allah Tritunggal tidak akan dapat dipahami secara sempurna dan lengkap oleh akal manusia. Allah kita adalah Yang Mahabesar, tidak terbatas, transenden (melampaui jangkauan akal manusia ) dan transsempiris (melampaui pengalaman); tentu tak dapat dikenali secara sempurna. Doktrin Tritunggal harus diakui sebagai suprarasional (melampaui pikiran manusia), tetapi tidak bertentangan dengan logika (kontrarasional). Seseorang harus dengan rendah hati menerima kenyataan eksistensi Allah yang unik tersebut dan tidak melecehkan-Nya sebagai sesuatu yang nyentrik. Sayangnya banyak pihak yang menganggap pengajaran Allah Tritunggal sebagai sesuatu yang nyentrik, sehingga mereka melecehkannya dan menjadikannya bahan olok-olokan. Pengenalan terhadap Allah Tritunggal dapat terhayati melalui pergaulan konkret dengan-Nya. Dia bukan Allah yang mati tetapi Allah yang hidup, nyata dan berkenan ditemui. Jadi, pembuktian mengenai Allah Tritunggal harus dialami secara konkret dalam kehidupan, bukan hanya melalui membaca literature, mendengarkan seminar atau khotbah.

No comments:

Post a Comment