Sunday, July 20, 2014

Kehendak Allah Yang Terutama

Oleh : Pdt. Dr. Erastus Sabdono
artikel dari Warta Rehobot.



Ketika Petrus dihardik oleh Tuhan Yesus karena ia tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah, Petrus diidentifikasi sebagai iblis (Mat. 16:23). Cara berpikir manusia adalah cara berpikir iblis, artinya cara berpikir hasil asuhan dunia yang ada dalam kekuasaan iblis. Banyak orang menganggap cara hidup demikian itu sebagai suatu kewajaran. Betapa sulitnya menyadarkan orang bahwa mereka sebenarnya sudah tersesat. Kehidupan wajar bagi manusia pada umumnya adalah cara berpikir yang tidak sesuai dengan Tuhan. Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa itu batu sandungan bagi Tuhan Yesus. Batu sandungan dalam teks aslinya adalah skandalon (σκάνδαλον) yang juga memiliki pengertian sesuatu yang menjatuhkan atau menghambat. Sebagai Penebus, Tuhan Yesus hendak mengambil alih segenap hidup orang percaya untuk diubah sesuai dengan kehendak-Nya. Sehingga hidup orang percaya menjadi kehidupan yang memperagakan pribadi-Nya. Tetapi cara berpikir yang salah yang menjadi penghambat perubahan itu. Tuhan hendak mengkloning setiap orang percaya menjadi “foto copy” atau duplikat-Nya. Kata foto kopi atau duplikat terdapat dalam kejadian 1:26-27 sama artinya dengan menurut rupa (tselem; םֶלֶצ) dan gambar Allah (demuth; תוּמְדּ). Karya Allah yang dirusak iblis di Eden akan diperbaiki atau dipulihkan kembali sekarang di dalam kehidupan orang percaya. Bagi mereka yang bersedia diperbaiki ulang atau dipulihkan harus bersedia diubah setting berpikirnya. Perubahan cara berpikir ini harus menjadi proyek yang sepanjang umur hidup sampai menghadap Bapa. Untuk masuk proyek ini seseorang harus menyediakan diri dengan segenap hidup dan harus bersedia meninggalkan segala sesuatu, di dalamnya yang terutama adalah cara berpikir yang salah (Luk. 14:33). Inilah yang dimaksud mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Kalau seseorang bersedia menerima pembentukan oleh Tuhan, ia dapat menjadi manusia Allah (man of God). Mereka adalah orang-orang yang mengenakan kodrat Ilahi (2 Ptr. 1:3-4). Tentu saja semua tindakan dan perbuatannya tidak bercacat di hadapan Allah. Mereka adalah orang-orang yang dapat dijadikan saudara oleh Tuhan Yesus Kristus (Rm. 8:28-29). Mereka juga orang-orang yang bisa diajak sependeritaan dengan Tuhan (Rm. 8:17), segenap hidupnya dipersembahkan bagi kepentingan Tuhan. Sehingga mereka akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kehidupan orang percaya harus menjadi cermin yang dapat merefleksikan atau menunjukkan pribadi Tuhan Yesus sendiri, dengan demikian seseorang barulah menjadi saksi Kristus. Saksi Kristus bukan melalui perkataan atau perdebatan adu argumentasi, tetapi kehidupan yang agung yang memancarkan pribadi Allah sendiri. -Solagracia-

No comments:

Post a Comment