Wednesday, October 5, 2011

Tidak Bisa Memaksa

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono
From : Truth Daily Enlightenment

Baca: Kejadian 4:6–7
Alkitab dalam setahun: Yesaya 64–66
Selama ini banyak orang Kristen berpendirian bahwa orang-orang yang tidak menjadi umat pilihan Allah—baik orang Yahudi, umat pilihan Allah secara jasmani, dan orang Kristen, umat pilihan Allah secara rohani—tidak bisa berbuat baik. Semua orang yang jatuh ke dalam dosa tidak bisa berbuat baik sama sekali. Pandangan ini sangat naif dan picik, sebab kenyataannya Ayub yang bukan orang Yahudi dan bukan orang Kristen pun memiliki kesalehan yang lebih dari orang lain pada zamannya. Dapatkah kita membantah pernyataan Alkitab bahwa Ayub seorang yang saleh dan jujur? Orang saleh seperti Ayub sebagai kekasih Tuhan mustahil tidak masuk dunia yang akan datang. Dunia yang akan datang adalah milik Tuhan yang diperuntukkan bagi semua orang yang tertulis dalam kitab kehidupan.
Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, apakah Iblis memaksa mereka untuk berbuat jahat? Perhatikan kisah Kain, anak Adam. Manakala Kain berniat menjahati adiknya, Tuhan tidak tinggal diam. Dengan kesabaran, Ia berkata kepada Kain, “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”
Dari sabda Tuhan ini jelaslah bahwa sekalipun sudah jatuh ke dalam dosa, Kain sebenarnya masih bisa menghindarkan dirinya dari kesalahan fatal, yaitu tindakan pembunuhan. Kain masih bisa berkuasa atas dosa dan memilih untuk melakukan apa yang baik. Namun Kain menolak untuk mendengarkan Tuhan, dan akhirnya membunuh adiknya.
Perbuatan Kain tersebut bukan hasil paksaan Iblis. Sebagaimana Tuhan tidak bisa memaksa Kain untuk berbuat baik, Iblis juga tidak bisa memaksa orang untuk berbuat jahat. Semua perbuatan, baik maupun buruk, merupakan tanggung jawab manusia itu sendiri.
Taurat yang tertulis dalam hati manusia (Rm. 2:12–15) seharusnya menyanggupkan seseorang berbuat yang baik menurut ukuran manusia Perjanjian Lama. Itulah sebabnya di akhir zaman nanti ada penghakiman berdasarkan perbuatan (Why. 20:12). Ini berbeda dengan orang percaya, yang menghadap takhta pengadilan untuk menerima apa yang pantas diterimanya (2Kor. 5:10) berdasarkan standar pengikut Kristus, yaitu kesempurnaan seperti Bapa (Mat. 5:48). Ini berarti setiap orang menetapkan nasibnya sendiri dari tindakan dan pilihannya.
Baik Tuhan maupun Iblis tidak memaksa manusia;
setiap manusia bertanggung jawab atas tindakan dan pilihannya sendiri.

No comments:

Post a Comment