Berhenti Meminta untuk Diri Sendiri
Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (Truth Daily)
Orang percaya yang semakin dewasa semakin tidak memiliki banyak permintaan kepada Tuhan bagi dirinya sendiri. Akhirnya ia malah tidak meminta sesuatu untuk kepentingannya sendiri. Semua permohonannya kepada Tuhan adalah sesuatu yang ditujukan bagi kepentingan Tuhan sendiri. Hal ini bisa terjadi kalau seseorang sudah berhenti memperhatikan kepentingan dan kesenangannya sendiri (Flp. 2:1-3). Mereka adalah orang-orang yang berurusan dengan Tuhan bukan karena mau mempercakapkan dan menuntut haknya, melainkan karena mau mempercakapkan dan mempersoalkan kewajiban di hadapan Tuhan. Berkenaan dengan hal ini hendaknya kita tidak meragukan kesetiaan Tuhan dalam memenuhi hak-hak kita sebagai anak-anak-Nya, tetapi ragukanlah apakah diri kita sendiri telah memenuhi kewajiban kita bagi Tuhan?
Orang yang berhenti memperhatikan kepentingan dan kesenangan sendiri dan mengalihkan perhatiannya kepada Tuhan akan memperoleh pemenuhan segala kebutuhan dan kebahagiaan dari Tuhan yang mempedulikannya. Maka hendaknya kita tidak ragu-ragu untuk melepaskan naluri egoisme kita, dan menggantikannya dengan pengabdian bagi Tuhan. Kesediaan kita berpaling dari kepentingan dan kesenangan diri sendiri tidak akan mengurangi kesukaan dan kebahagian kita.
Orang-orang percaya yang telah akil balig ini menjadikan doa bukan sekedar permintaan, tetapi sebuah dialog. Dalam berdoa terjadi percakapan, sehingga yang penting adalah menemukan apa yang Tuhan kehendaki untuk dimengerti dan dilakukan. Doa bukan sarana untuk mengatur Tuhan dan membujuk-bujuk-Nya melakukan sesuatu untuk kepentingan kita, tetapi perburuan untuk mengenal Tuhan, kehendak dan rencana-Nya. Pola hidup orang percaya yang menggunakan standar ini sangat membahagiakan dan menempatkan orang percaya di tempat yang menyukakan hati Bapa. Orang-orang percaya seperti ini akan dibela Tuhan dan memiliki tempat yang istimewa di mata Tuhan. Segala kebutuhannya pasti diperhatikan Tuhan. Bukan hanya dia sendiri yang dikasihi Tuhan, melainkan juga orang yang dikasihinya.
Hanya dengan memiliki komitmen yang bulat untuk inilah kita dapat mencapai kedewasaan. Tentu untuk mencapai level ini kita harus belajar bertumbuh terus di dalam Tuhan, melalui pendalaman Firman Tuhan yang murni yang mengubah pola berpikir kita. Kedewasaan rohani inilah yang membuat seseorang akan dipercayai sebagai sahabat Tuhan, yang diperkenankan mengerti apa yang dikehendaki dan direncanakan oleh Tuhan (Yoh. 15:14-15).
Kesediaan kita berpaling dari kepentingan dan kesenangan diri sendiri tidak akan mengurangi kesukaan dan kebahagiaan kita.
Tuesday, August 18, 2009
Friday, August 14, 2009
Mengapa Harus Meniru?
Mengapa Harus Meniru?
Bacaan hari ini: Galatia 2:1-14
Ayat mas hari ini: 1 Korintus 4:1
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 1-2
Seorang rabi muda menggantikan ayahnya. Umat banyak yang protes, karena mereka sering membandingkannya dengan ayahnya, rabbi senior yang mereka hormati. Dalam pertemuan jemaat, kritik kepadanya berbunyi “Engkau tidak seperti ayahmu”. Dengan tenang rabi muda menjawab, “Kalian tahu, ayahku seorang yang tidak pernah meniru siapa pun. Kini biarkan aku menjadi diriku sendiri, tidak meniru siapa pun, termasuk meniru ayahku. Dengan begitu, bukankah aku justru mirip ayahku?”
Sebagai rasul, Paulus adalah pendatang baru. Ketokohan para senior membayanginya. Apalagi jemaat di Yerusalem masih banyak yang mencurigainya, bahkan mempertanyakan kerasulannya. Namun, Paulus tidak gentar. Ia yakin akan panggilan Tuhan baginya. Ia tahu apa tugasnya, yaitu menginjil kepada orang-orang bukan Yahudi (ayat 2,7). Ia tidak mencari popularitas. Ia tidak mencari permusuhan, malahan dengan giat membangun persekutuan (ayat 9). Namun, ia juga tidak mencari muka di depan para seniornya. Ia berpendirian teguh dan menjunjung tinggi kebenaran. Bahkan ia berani menegur Petrus (Kefas) dengan tulus (ayat 11).
Godaan untuk meniru dan menyesuaikan diri dengan harapan banyak orang sering mengusik kita. Mengapa? Karena kita ingin diterima. Kita pun sering tergoda untuk mencari muka di depan orang yang berpengaruh. Padahal mereka pun bisa salah. Hari ini kita belajar perlunya mandiri dalam bersikap, tanpa berlaku sok pintar. Teguh dalam pendirian, tanpa menjadi keras kepala. Menjadi diri sendiri, tanpa merendahkan orang lain.
TUHAN MENCIPTAKAN KITA MASING-MASING UNIK. JADI KENAPA MESTI MENIRU ORANG LAIN?
Penulis: Pipi Agus Dhali
Bacaan hari ini: Galatia 2:1-14
Ayat mas hari ini: 1 Korintus 4:1
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 1-2
Seorang rabi muda menggantikan ayahnya. Umat banyak yang protes, karena mereka sering membandingkannya dengan ayahnya, rabbi senior yang mereka hormati. Dalam pertemuan jemaat, kritik kepadanya berbunyi “Engkau tidak seperti ayahmu”. Dengan tenang rabi muda menjawab, “Kalian tahu, ayahku seorang yang tidak pernah meniru siapa pun. Kini biarkan aku menjadi diriku sendiri, tidak meniru siapa pun, termasuk meniru ayahku. Dengan begitu, bukankah aku justru mirip ayahku?”
Sebagai rasul, Paulus adalah pendatang baru. Ketokohan para senior membayanginya. Apalagi jemaat di Yerusalem masih banyak yang mencurigainya, bahkan mempertanyakan kerasulannya. Namun, Paulus tidak gentar. Ia yakin akan panggilan Tuhan baginya. Ia tahu apa tugasnya, yaitu menginjil kepada orang-orang bukan Yahudi (ayat 2,7). Ia tidak mencari popularitas. Ia tidak mencari permusuhan, malahan dengan giat membangun persekutuan (ayat 9). Namun, ia juga tidak mencari muka di depan para seniornya. Ia berpendirian teguh dan menjunjung tinggi kebenaran. Bahkan ia berani menegur Petrus (Kefas) dengan tulus (ayat 11).
Godaan untuk meniru dan menyesuaikan diri dengan harapan banyak orang sering mengusik kita. Mengapa? Karena kita ingin diterima. Kita pun sering tergoda untuk mencari muka di depan orang yang berpengaruh. Padahal mereka pun bisa salah. Hari ini kita belajar perlunya mandiri dalam bersikap, tanpa berlaku sok pintar. Teguh dalam pendirian, tanpa menjadi keras kepala. Menjadi diri sendiri, tanpa merendahkan orang lain.
TUHAN MENCIPTAKAN KITA MASING-MASING UNIK. JADI KENAPA MESTI MENIRU ORANG LAIN?
Penulis: Pipi Agus Dhali
Wednesday, August 12, 2009
Persahabatan Tanpa Kepentingan
Persahabatan Tanpa Kepentingan
Oleh : Pdt.Imanuel Kristo (Suara Pembaruan)
Persahabatan adalah kebutuhan, dan kepentingan adalah kecenderungan yang biasa muncul dalam kehidupan di antara kita. Persahabatan adalah cerminan bahwa pada kenyataan kita tidak mungkin hidup tanpa orang lain dan kita selalu membutuhkan orang lain.
Persahabatan adalah sebuah keindahan dimana dua pribadi di perjumpakan satu sama lain, saling mengisi dan saling berbagi dengan penuh sukacita dan kegembiraan. Dengan menjalin persahabatan maka setiap pribadi semakin menunjukan fungsinya bagi sesamanya, dimana yang satu menolong yang lain dan membuat yang lain menjadi semakin baik dan bermakna di hadapan yang lain.
Sementara itu, kepentingan mengurangi nilai makna yang ada di dalamnya. Persahabatan adalah kerelaan untuk memberikan diri bagi yang lain dengan tulus dan sungguh-sungguh, sementara itu, kepentingan adalah sikap egois dan egosentris yang disamarkan di dalamnya.
Tampak begitu akrab dan dekat, tetapi sesungguhnya berjarak dan bersyarat. Semakin terbentang jarak di dalamnya maka semakin sulit untuk mempraktikkan kesejatian persahabatan di antara pelakunya.
Semakin terbentang jarak di dalamnya maka semakin besar pula kepentingan yang akan mewarnai setiap persahabatan yang kita bangun. Saat itulah kita membuat syarat syarat demi untuk mengatasi jarak di antara kita.
Jika itu yang terjadi maka sesungguhnya persahabatan kita tidak lagi menjadi persahabatan yang menghadirkan kebahagiaan bagi pelakunya. Persahabatan kita melulu diwarnai oleh penilaian-penilaian, yang akan menjadi penentu bagi kita untuk menjalaninya.
Mencederai Relasi
Persahabatan tanpa kepentingan adalah persahabatan yang mambuat pelakunya menjadi orang-orang yang bahagia karena mereka menjadi orang- orang yang bebas, tidak terikat dan tidak terbelenggu. Yang akan membuat setiap pelakunya menjadi lebih dekat dan akrab tanpa harus ada syarat dan kriteria yang mengikat.
Saat itulah setiap orang menjadi orang yang layak dan pantas, tidak ada perbedaan dan tidak ada pembedaan. Siapa pun orangnya tetap dapat menjadi sahabat. Persahabatan dengan kepentingan adalah bentuk keegoisan yang di sembunyikan, persahabatan yang disertai kepentingan bukanlah persahabatan yang sesungguhnya.
Itulah kepura-puraan yang mencederai relasi dan hubungan di antara pelakunya. Orang yang demikian pastilah tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan. Demi untuk mewujudkan hal itu, pertama-tama belajarlah untuk kita menerima diri sendiri lebih dahulu. Terimalah dengan syukur segala kelebihan kita, tetapi juga jangan sangkal kekurangan kita. Penerimaan akan diri kita membantu kita untuk dapat menerima orang lain.
Setelah itu, mulailah belajar untuk menghargai setiap orang sebagai pribadi secara tulus. Tempatkanlah mereka dalam penghargaan yang sama sebagaimana kita juga ingin dihargai oleh sesama kita.
Buatlah dan perlakukanlah setiap orang secara terhormat dan tampak berharga maka mereka pun akan menempatkan dan menghormati kita dengan cara yang sama. Saat itulah kita dapat menikmati persahabatan yang tulus, tanpa ikatan dan tanpa belenggu.
Akhirnya, jalani persahabatan dengan tulus, jujur dan bermakna, maka kita pun akan mendapatkan kebahagiaan dan keindahan dari dalamnya. Jadikanlah setiap pribadi di sekitar kita sebagai pribadi yang layak untuk menjadi sahabat.
Oleh : Pdt.Imanuel Kristo (Suara Pembaruan)
Persahabatan adalah kebutuhan, dan kepentingan adalah kecenderungan yang biasa muncul dalam kehidupan di antara kita. Persahabatan adalah cerminan bahwa pada kenyataan kita tidak mungkin hidup tanpa orang lain dan kita selalu membutuhkan orang lain.
Persahabatan adalah sebuah keindahan dimana dua pribadi di perjumpakan satu sama lain, saling mengisi dan saling berbagi dengan penuh sukacita dan kegembiraan. Dengan menjalin persahabatan maka setiap pribadi semakin menunjukan fungsinya bagi sesamanya, dimana yang satu menolong yang lain dan membuat yang lain menjadi semakin baik dan bermakna di hadapan yang lain.
Sementara itu, kepentingan mengurangi nilai makna yang ada di dalamnya. Persahabatan adalah kerelaan untuk memberikan diri bagi yang lain dengan tulus dan sungguh-sungguh, sementara itu, kepentingan adalah sikap egois dan egosentris yang disamarkan di dalamnya.
Tampak begitu akrab dan dekat, tetapi sesungguhnya berjarak dan bersyarat. Semakin terbentang jarak di dalamnya maka semakin sulit untuk mempraktikkan kesejatian persahabatan di antara pelakunya.
Semakin terbentang jarak di dalamnya maka semakin besar pula kepentingan yang akan mewarnai setiap persahabatan yang kita bangun. Saat itulah kita membuat syarat syarat demi untuk mengatasi jarak di antara kita.
Jika itu yang terjadi maka sesungguhnya persahabatan kita tidak lagi menjadi persahabatan yang menghadirkan kebahagiaan bagi pelakunya. Persahabatan kita melulu diwarnai oleh penilaian-penilaian, yang akan menjadi penentu bagi kita untuk menjalaninya.
Mencederai Relasi
Persahabatan tanpa kepentingan adalah persahabatan yang mambuat pelakunya menjadi orang-orang yang bahagia karena mereka menjadi orang- orang yang bebas, tidak terikat dan tidak terbelenggu. Yang akan membuat setiap pelakunya menjadi lebih dekat dan akrab tanpa harus ada syarat dan kriteria yang mengikat.
Saat itulah setiap orang menjadi orang yang layak dan pantas, tidak ada perbedaan dan tidak ada pembedaan. Siapa pun orangnya tetap dapat menjadi sahabat. Persahabatan dengan kepentingan adalah bentuk keegoisan yang di sembunyikan, persahabatan yang disertai kepentingan bukanlah persahabatan yang sesungguhnya.
Itulah kepura-puraan yang mencederai relasi dan hubungan di antara pelakunya. Orang yang demikian pastilah tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan. Demi untuk mewujudkan hal itu, pertama-tama belajarlah untuk kita menerima diri sendiri lebih dahulu. Terimalah dengan syukur segala kelebihan kita, tetapi juga jangan sangkal kekurangan kita. Penerimaan akan diri kita membantu kita untuk dapat menerima orang lain.
Setelah itu, mulailah belajar untuk menghargai setiap orang sebagai pribadi secara tulus. Tempatkanlah mereka dalam penghargaan yang sama sebagaimana kita juga ingin dihargai oleh sesama kita.
Buatlah dan perlakukanlah setiap orang secara terhormat dan tampak berharga maka mereka pun akan menempatkan dan menghormati kita dengan cara yang sama. Saat itulah kita dapat menikmati persahabatan yang tulus, tanpa ikatan dan tanpa belenggu.
Akhirnya, jalani persahabatan dengan tulus, jujur dan bermakna, maka kita pun akan mendapatkan kebahagiaan dan keindahan dari dalamnya. Jadikanlah setiap pribadi di sekitar kita sebagai pribadi yang layak untuk menjadi sahabat.
Friday, July 31, 2009
Berani Hidup
Berani Hidup
Bacaan hari ini: Filipi 1:20-26
Ayat mas hari ini: Filipi 1:21
Bacaan Alkitab Setahun: Zefanya 1-3
Seorang pemuda Palestina melilit tubuhnya dengan rangkaian bom. Keringat dingin membasahi wajahnya. Ia tahu, sebentar lagi ia akan mati. Namun, tekadnya sudah bulat: ingin membalas kejahatan musuh. Lalu dinaikinya sebuah bus umum. Ditekannya sebuah tombol. Bom itu meledak. Tubuhnya pun hancur lebur. Bagi kelompoknya, pemuda ini dipandang sebagai pahlawan, sebab ia berani mati untuk keyakinannya. Namun, ada yang jauh lebih susah dan lebih heroik daripada sekadar berani mati, yakni berani hidup. Tegar menghadapi hidup yang penuh penderitaan dengan tabah.
Rasul Paulus bukan hanya berani mati, melainkan juga berani hidup. “Bagiku hidup adalah Kristus,” katanya. Jadi, alasan terkuat untuk hidup adalah untuk melakukan perbuatan yang memuliakan Kristus: melayani jemaat, menolong sesama, serta memberitakan kasih Allah. “Mati adalah keuntungan.” Untung, sebab bisa bertemu Kristus muka dengan muka dan beristirahat dari jerih lelah di dunia. Jadi, ia berani mati, tetapi juga berani hidup. Namun, Paulus lebih memilih untuk hidup “karena kamu”. Karena ia masih ingin berbuat banyak hal demi menjadi berkat bagi sesamanya. Ia bergairah hidup karena agenda kerjanya masih penuh cita-cita mulia.
Menjadi orang yang berani mati saja tidak cukup. Kita juga harus berani hidup. Berani menjalani hari demi hari dengan penuh semangat, walaupun banyak kesulitan menghadang. Untuk itu, kita perlu memiliki visi hidup seperti Paulus. Ia hidup bagi Tuhan dan sesama, tidak sibuk untuk diri sendiri saja. Akibatnya, hidup senang, mati pun tenang.
BERIKANLAH HIDUPMU BAGI SESAMA, MAKA TIAP HARI AKAN JADI BERMAKNA
Penulis: Juswantori Ichwan
Bacaan hari ini: Filipi 1:20-26
Ayat mas hari ini: Filipi 1:21
Bacaan Alkitab Setahun: Zefanya 1-3
Seorang pemuda Palestina melilit tubuhnya dengan rangkaian bom. Keringat dingin membasahi wajahnya. Ia tahu, sebentar lagi ia akan mati. Namun, tekadnya sudah bulat: ingin membalas kejahatan musuh. Lalu dinaikinya sebuah bus umum. Ditekannya sebuah tombol. Bom itu meledak. Tubuhnya pun hancur lebur. Bagi kelompoknya, pemuda ini dipandang sebagai pahlawan, sebab ia berani mati untuk keyakinannya. Namun, ada yang jauh lebih susah dan lebih heroik daripada sekadar berani mati, yakni berani hidup. Tegar menghadapi hidup yang penuh penderitaan dengan tabah.
Rasul Paulus bukan hanya berani mati, melainkan juga berani hidup. “Bagiku hidup adalah Kristus,” katanya. Jadi, alasan terkuat untuk hidup adalah untuk melakukan perbuatan yang memuliakan Kristus: melayani jemaat, menolong sesama, serta memberitakan kasih Allah. “Mati adalah keuntungan.” Untung, sebab bisa bertemu Kristus muka dengan muka dan beristirahat dari jerih lelah di dunia. Jadi, ia berani mati, tetapi juga berani hidup. Namun, Paulus lebih memilih untuk hidup “karena kamu”. Karena ia masih ingin berbuat banyak hal demi menjadi berkat bagi sesamanya. Ia bergairah hidup karena agenda kerjanya masih penuh cita-cita mulia.
Menjadi orang yang berani mati saja tidak cukup. Kita juga harus berani hidup. Berani menjalani hari demi hari dengan penuh semangat, walaupun banyak kesulitan menghadang. Untuk itu, kita perlu memiliki visi hidup seperti Paulus. Ia hidup bagi Tuhan dan sesama, tidak sibuk untuk diri sendiri saja. Akibatnya, hidup senang, mati pun tenang.
BERIKANLAH HIDUPMU BAGI SESAMA, MAKA TIAP HARI AKAN JADI BERMAKNA
Penulis: Juswantori Ichwan
Monday, July 27, 2009
Belajar Memahami
Belajar Memahami
Bacaan hari ini: Nehemia 5:14-19
Ayat mas hari ini: Nehemia 5:18
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 61-63
Selamat atas pernikahan putramu minggu lalu,” kata Pak Badu sambil menyalami tangan Pak Indra seusai kebaktian. “Maaf, saya tidak datang ke pestamu, soalnya saya tidak diundang!” sambungnya ketus. Rupanya Pak Badu tersinggung. Pikirnya, “Kalau ia menganggapku teman baik, seharusnya aku diundang.” Ia tidak paham bahwa Pak Indra sedang didera kesulitan keuangan, sehingga hanya mampu menyelenggarakan pesta kecil untuk kerabat dekat.
Dalam relasi dengan sesama, orang biasanya menuntut diperlakukan sesuai dengan statusnya. Status istimewa sebagai suami, istri, teman baik, penguasa, atau majikan membuat kita merasa berhak menerima perlakuan khusus. Kita marah jika mereka tidak memberi apa yang menjadi hak kita. Nehemia tidak demikian! Dua belas tahun sudah ia diangkat menjadi Bupati. Sesuai statusnya, ia berhak mendapat perlakuan khusus dari rakyat. Mereka wajib membayar upeti, apalagi Nehemia memerintah dengan penuh dedikasi. Namun, Nehemia tidak pernah mengambil jatah itu. Mengapa? Karena ia memahami bahwa “pekerjaan itu sangat menekan rakyat” (ayat 18). Pembangunan tembok Yerusalem menguras tenaga dan pikiran rakyat. Semakin Nehemia belajar mengerti kesusahan mereka, semakin ia tidak mau menuntut bagiannya.
Banyak perselisihan dalam keluarga dan masyarakat terjadi karena masing-masing pihak ingin diperlakukan khusus. Kadang kala kita menuntut lebih dari apa yang orang lain bisa berikan. Andaikan saja Anda bersikap seperti Nehemia: belajar memahami orang lebih daripada menuntut, pasti relasi Anda menjadi lebih indah!
BERJUMPA DENGAN ORANG YANG TAK SUKA MENUNTUT, SERASA BERJUMPA DENGAN KRISTUS YANG LEMAH LEMBUT
Penulis: Juswantori Ichwan
Bacaan hari ini: Nehemia 5:14-19
Ayat mas hari ini: Nehemia 5:18
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 61-63
Selamat atas pernikahan putramu minggu lalu,” kata Pak Badu sambil menyalami tangan Pak Indra seusai kebaktian. “Maaf, saya tidak datang ke pestamu, soalnya saya tidak diundang!” sambungnya ketus. Rupanya Pak Badu tersinggung. Pikirnya, “Kalau ia menganggapku teman baik, seharusnya aku diundang.” Ia tidak paham bahwa Pak Indra sedang didera kesulitan keuangan, sehingga hanya mampu menyelenggarakan pesta kecil untuk kerabat dekat.
Dalam relasi dengan sesama, orang biasanya menuntut diperlakukan sesuai dengan statusnya. Status istimewa sebagai suami, istri, teman baik, penguasa, atau majikan membuat kita merasa berhak menerima perlakuan khusus. Kita marah jika mereka tidak memberi apa yang menjadi hak kita. Nehemia tidak demikian! Dua belas tahun sudah ia diangkat menjadi Bupati. Sesuai statusnya, ia berhak mendapat perlakuan khusus dari rakyat. Mereka wajib membayar upeti, apalagi Nehemia memerintah dengan penuh dedikasi. Namun, Nehemia tidak pernah mengambil jatah itu. Mengapa? Karena ia memahami bahwa “pekerjaan itu sangat menekan rakyat” (ayat 18). Pembangunan tembok Yerusalem menguras tenaga dan pikiran rakyat. Semakin Nehemia belajar mengerti kesusahan mereka, semakin ia tidak mau menuntut bagiannya.
Banyak perselisihan dalam keluarga dan masyarakat terjadi karena masing-masing pihak ingin diperlakukan khusus. Kadang kala kita menuntut lebih dari apa yang orang lain bisa berikan. Andaikan saja Anda bersikap seperti Nehemia: belajar memahami orang lebih daripada menuntut, pasti relasi Anda menjadi lebih indah!
BERJUMPA DENGAN ORANG YANG TAK SUKA MENUNTUT, SERASA BERJUMPA DENGAN KRISTUS YANG LEMAH LEMBUT
Penulis: Juswantori Ichwan
Friday, July 24, 2009
Bunuh Diri

Bunuh Diri
Oleh Pdt.Dr.Erastus Sabdono
Saat ini angka orang yang bunuh diri grafiknya semakin meningkat. Ini justru terjadi di negara-negara maju, misalnya Jepang. Tidak sedikit remaja yang bunuh diri hanya karena masalah remeh. Ternyata modernisasi dan teknologi tidak mengurangi jumlah orang yang mengambil jalan pintas untuk mengakhiri kehidupannya.
Ini membuktikan bahwa Tuhan dan Firman-Nya sangat dibutuhkan oleh manusia, kapan saja dan di mana saja. Bila kita mencoba melihat penyebab orang yang bunuh diri, dapat ditemukan factor internal dan eksternal.
Pertama, factor internal. Kepribadian yang labil atau jiwa yang rapuh, mudah goyah oleh tekanan-tekanan yang terjadi di dalam hidupnya. Integritas orang seperti ini sangat miskin atau rendah. Orang yang berkepribadian lemah seperti ini bisa bunuh diri hanya karena masalah sepele, misalnya salah potong rambut.
Kedua, factor eksternal. Tekanan oleh karena berbagai masalah hidup yang dirasa berat. Persoalan-persoalan tersebut bisa karena masalah ekonomi, keluarga, kesehatan, ditinggal pacar, gagal masuk perguruan tinggi, gagal naik pangkat, dan sebagainya.
Dalam Alkitab kita menemukan beberapa peristiwa mengenai tokoh yang bunuh diri, antara lain Saul dan Yudas Iskariot. Saul bunuh diri karena putus asa dan kecewa tatkala kalah berperang, karena ia tidak mau mati di tangan musuhnya (1 Sam, 31:1-5). Yudas bunuh diri karena penyesalannya yang sangat dalam terhadap tindakannya yang salah (Mat 27:1-5). Mereka yang bunuh diri rata-rata sudah ditolak oleh Allah atau memberontak kepada Tuhan dan dirasuk kuasa gelap (1 Sam 16: 14-15; Yoh 13:27).
Dalam konteks kehidupan orang Kristen, jelas bunuh diri merupakan tindakan membinasakan bait Allah, suatu sikap pemberontakan terhadap Tuhan. Bunuh diri yang dilakukan dengan sengaja dan penuh kesadaran akan mendatangkan hukuman atas diri orang tersebut. Pada umumnya tindakan bunuh diri adalah tindakan yang hampir pasti membawa manusia ke dalam neraka, pergumulan seseorang yang mau mati sangat misteri, sehingga tidak boleh kita menyatakan bahwa orang yang bunuh diri pasti masuk neraka. Kita tidak pernah tahu pergumulan seseorang pada detik-detik terakhir sebelum ia menghembuskan nafas. Tetapi memang hampir pasti mereka binasa dan masuk neraka.
Disisi lain harus diakui bahwa terdapat tindakan-tindakan bunuh diri yang dilakukan manusia dalam jangka panjang, baik terhadap kehidupan jasmani dengan mengabaikan kesehatannya maupun kehidupan rohaninya dengan tidak hidup dalam kebenaran Tuhan. Tindakan ini pun harus diperhitungkan sebagai bunuh diri secara “pelan-pelan”.
Seseorang yang membiarkan atau sengaja merusak peru-parunya dengan nikotin membunuh dirinya perlahan-lahan; demikian pula dengan minuman keras yang sangat merusak kesehatan tubuh.
Agar Terhindar dari Bunuh Diri
Agar kita terhindar dari praktik bunuh diri, perhatikan uraian berikut.
Pertama, bertumbuh dalam kedewasaaan rohani sehingga integritas kita kuat sebagai anak-anak Tuhan ( Ef. 4: 11-13 ). Dengan integritas yang tinggi kita akan menjadi anak Tuhan yang tahan bantingan.
Kedua, memiliki tujuan hidup yang jelas. Bila seseorang memiliki tujuan hidup yang jelas maka apapun yang terjadi, ia tetap kuat (Luk. 4:5-8; Flp. 1:21).
Ketiga, menerima kenyataan bahwa dunia kita hari ini tidak akan semakin baik, sebaliknya semakin bergolak. Dunia bertambah jahat (Mat.24:12) dan juga bukan Firdaus. Dunia ialah tempat pelatihan untuk mempersiapkan manusia masuk ke dalam kehidupan yang sesungguhnya. Hati kita harus terus tertuju kepada janji Tuhan, bahwa ia akan datang kembali dan membangun kerajaan-Nya. Bila hal itu terjadi, maka berhentilah sudah segala letih dan kelelahan kita. Kita tidak dapat mengubah dunia yang makin rusak ini dengan cara bagaimanapun, tetapi yang kita nantikan adalah kedatangan Tuhan Yesus yang akan memulihkan kehidupan manusia di dalam kerajaan Allah yang datang secara fisik (Yoh. 14:1-3).
Keempat, mempercayai bahwa Allah tidak mendatangkan celaka. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28). Kita harus percaya bahwa Tuhan tidak akan mengizinkan persoalan besar melampaui kekuatan kita terjadi dalam hidup kita. Ia mengatur segala persoalan besar melampaui kekuatan kita terjadi dalam hidup kita (1Kor 10:13). Kita harus mempercayai Tuhan , bahwa persoalan yang besar dalam hidup ini merupakan proses pemurnian yang terjadi dalam hidup orang percaya di akhir zaman. Seperti yang disinggung sebelumnya, bahwa dunia kian jahat dan persoalan hidup semakin rumit.
Kelima, selalu menikmati damai sejahtera Allah ( Yoh. 14:27), menikmati Tuhan secara khusus dapat dikembangkan melalui Jam doa pribadi. Pada jam ini kita memuji dan menyembah Tuhan. Sangat membantu kalau seseorang berpuasa merendahkan diri dihadapan Tuhan. Di sinilah kesehatan jiwa kita terbangun.
Oleh Pdt.Dr.Erastus Sabdono
Saat ini angka orang yang bunuh diri grafiknya semakin meningkat. Ini justru terjadi di negara-negara maju, misalnya Jepang. Tidak sedikit remaja yang bunuh diri hanya karena masalah remeh. Ternyata modernisasi dan teknologi tidak mengurangi jumlah orang yang mengambil jalan pintas untuk mengakhiri kehidupannya.
Ini membuktikan bahwa Tuhan dan Firman-Nya sangat dibutuhkan oleh manusia, kapan saja dan di mana saja. Bila kita mencoba melihat penyebab orang yang bunuh diri, dapat ditemukan factor internal dan eksternal.
Pertama, factor internal. Kepribadian yang labil atau jiwa yang rapuh, mudah goyah oleh tekanan-tekanan yang terjadi di dalam hidupnya. Integritas orang seperti ini sangat miskin atau rendah. Orang yang berkepribadian lemah seperti ini bisa bunuh diri hanya karena masalah sepele, misalnya salah potong rambut.
Kedua, factor eksternal. Tekanan oleh karena berbagai masalah hidup yang dirasa berat. Persoalan-persoalan tersebut bisa karena masalah ekonomi, keluarga, kesehatan, ditinggal pacar, gagal masuk perguruan tinggi, gagal naik pangkat, dan sebagainya.
Dalam Alkitab kita menemukan beberapa peristiwa mengenai tokoh yang bunuh diri, antara lain Saul dan Yudas Iskariot. Saul bunuh diri karena putus asa dan kecewa tatkala kalah berperang, karena ia tidak mau mati di tangan musuhnya (1 Sam, 31:1-5). Yudas bunuh diri karena penyesalannya yang sangat dalam terhadap tindakannya yang salah (Mat 27:1-5). Mereka yang bunuh diri rata-rata sudah ditolak oleh Allah atau memberontak kepada Tuhan dan dirasuk kuasa gelap (1 Sam 16: 14-15; Yoh 13:27).
Dalam konteks kehidupan orang Kristen, jelas bunuh diri merupakan tindakan membinasakan bait Allah, suatu sikap pemberontakan terhadap Tuhan. Bunuh diri yang dilakukan dengan sengaja dan penuh kesadaran akan mendatangkan hukuman atas diri orang tersebut. Pada umumnya tindakan bunuh diri adalah tindakan yang hampir pasti membawa manusia ke dalam neraka, pergumulan seseorang yang mau mati sangat misteri, sehingga tidak boleh kita menyatakan bahwa orang yang bunuh diri pasti masuk neraka. Kita tidak pernah tahu pergumulan seseorang pada detik-detik terakhir sebelum ia menghembuskan nafas. Tetapi memang hampir pasti mereka binasa dan masuk neraka.
Disisi lain harus diakui bahwa terdapat tindakan-tindakan bunuh diri yang dilakukan manusia dalam jangka panjang, baik terhadap kehidupan jasmani dengan mengabaikan kesehatannya maupun kehidupan rohaninya dengan tidak hidup dalam kebenaran Tuhan. Tindakan ini pun harus diperhitungkan sebagai bunuh diri secara “pelan-pelan”.
Seseorang yang membiarkan atau sengaja merusak peru-parunya dengan nikotin membunuh dirinya perlahan-lahan; demikian pula dengan minuman keras yang sangat merusak kesehatan tubuh.
Agar Terhindar dari Bunuh Diri
Agar kita terhindar dari praktik bunuh diri, perhatikan uraian berikut.
Pertama, bertumbuh dalam kedewasaaan rohani sehingga integritas kita kuat sebagai anak-anak Tuhan ( Ef. 4: 11-13 ). Dengan integritas yang tinggi kita akan menjadi anak Tuhan yang tahan bantingan.
Kedua, memiliki tujuan hidup yang jelas. Bila seseorang memiliki tujuan hidup yang jelas maka apapun yang terjadi, ia tetap kuat (Luk. 4:5-8; Flp. 1:21).
Ketiga, menerima kenyataan bahwa dunia kita hari ini tidak akan semakin baik, sebaliknya semakin bergolak. Dunia bertambah jahat (Mat.24:12) dan juga bukan Firdaus. Dunia ialah tempat pelatihan untuk mempersiapkan manusia masuk ke dalam kehidupan yang sesungguhnya. Hati kita harus terus tertuju kepada janji Tuhan, bahwa ia akan datang kembali dan membangun kerajaan-Nya. Bila hal itu terjadi, maka berhentilah sudah segala letih dan kelelahan kita. Kita tidak dapat mengubah dunia yang makin rusak ini dengan cara bagaimanapun, tetapi yang kita nantikan adalah kedatangan Tuhan Yesus yang akan memulihkan kehidupan manusia di dalam kerajaan Allah yang datang secara fisik (Yoh. 14:1-3).
Keempat, mempercayai bahwa Allah tidak mendatangkan celaka. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28). Kita harus percaya bahwa Tuhan tidak akan mengizinkan persoalan besar melampaui kekuatan kita terjadi dalam hidup kita. Ia mengatur segala persoalan besar melampaui kekuatan kita terjadi dalam hidup kita (1Kor 10:13). Kita harus mempercayai Tuhan , bahwa persoalan yang besar dalam hidup ini merupakan proses pemurnian yang terjadi dalam hidup orang percaya di akhir zaman. Seperti yang disinggung sebelumnya, bahwa dunia kian jahat dan persoalan hidup semakin rumit.
Kelima, selalu menikmati damai sejahtera Allah ( Yoh. 14:27), menikmati Tuhan secara khusus dapat dikembangkan melalui Jam doa pribadi. Pada jam ini kita memuji dan menyembah Tuhan. Sangat membantu kalau seseorang berpuasa merendahkan diri dihadapan Tuhan. Di sinilah kesehatan jiwa kita terbangun.
Monday, July 20, 2009
Puasa Belanja
Puasa Belanja
Bacaan hari ini: Yakobus 4:1-4
Ayat mas hari ini: Matius 6:11
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 43-45
The Compact, sekelompok aktivis lingkungan Amerika, bertekad untuk puasa belanja selama setahun. Tidak membeli barang baru apa pun kecuali kebutuhan pokok. Hasilnya? Mereka belajar banyak. Seorang remaja berkata, “Banyak barang yang tadinya sangat kuinginkan, ternyata tidak kubutuhkan.” Seorang ibu menutup kartu kreditnya. Seorang bapak mengaku bisa lebih menghargai barang. Jika rusak, ia berusaha memperbaikinya dulu, tidak langsung membeli yang baru. Mereka menyimpulkan, perilaku konsumtif membuat kita berbelanja lebih dari yang kita butuhkan.
Waspadailah jebakan perilaku konsumtif. Iklan dan promosi terus meyakinkan kita bahwa hidup belumlah lengkap sebelum membeli produk mereka. Kita dipacu untuk menginginkan dan memperoleh semuanya. Jika dituruti terus, segala cara akan kita tempuh. Mulai dari menumpuk utang sampai bertengkar demi mendapat lebih banyak uang belanja. Doa pun bisa dipakai untuk memaksa Tuhan memenuhi daftar belanja. Yakobus menamakan ini “persahabatan dengan dunia” (ayat 4). Saat hawa nafsu dibiarkan berkuasa, kita akan iri pada mereka yang punya lebih (ayat 2). Doa pun jadi terkontaminasi dengan permintaan duniawi (ayat 3).
Apakah Anda selalu merasa apa yang Anda miliki kurang? Apakah Anda resah jika belum memiliki benda yang banyak orang telah memilikinya? Apakah belanja Anda tak seimbang dengan penghasilan? Apakah doa Anda didominasi permintaan materi? Jika jawabnya “ya”, Anda tengah berada dalam jerat perilaku konsumtif. Bebaskan diri segera. Tak ada salahnya mencoba puasa belanja!
Masalah kebanyakan orang bukanlah memiliki terlalu sedikit, melainkan berharap memiliki terlalu banyak
Penulis: Juswantori Ichwan
Bacaan hari ini: Yakobus 4:1-4
Ayat mas hari ini: Matius 6:11
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 43-45
The Compact, sekelompok aktivis lingkungan Amerika, bertekad untuk puasa belanja selama setahun. Tidak membeli barang baru apa pun kecuali kebutuhan pokok. Hasilnya? Mereka belajar banyak. Seorang remaja berkata, “Banyak barang yang tadinya sangat kuinginkan, ternyata tidak kubutuhkan.” Seorang ibu menutup kartu kreditnya. Seorang bapak mengaku bisa lebih menghargai barang. Jika rusak, ia berusaha memperbaikinya dulu, tidak langsung membeli yang baru. Mereka menyimpulkan, perilaku konsumtif membuat kita berbelanja lebih dari yang kita butuhkan.
Waspadailah jebakan perilaku konsumtif. Iklan dan promosi terus meyakinkan kita bahwa hidup belumlah lengkap sebelum membeli produk mereka. Kita dipacu untuk menginginkan dan memperoleh semuanya. Jika dituruti terus, segala cara akan kita tempuh. Mulai dari menumpuk utang sampai bertengkar demi mendapat lebih banyak uang belanja. Doa pun bisa dipakai untuk memaksa Tuhan memenuhi daftar belanja. Yakobus menamakan ini “persahabatan dengan dunia” (ayat 4). Saat hawa nafsu dibiarkan berkuasa, kita akan iri pada mereka yang punya lebih (ayat 2). Doa pun jadi terkontaminasi dengan permintaan duniawi (ayat 3).
Apakah Anda selalu merasa apa yang Anda miliki kurang? Apakah Anda resah jika belum memiliki benda yang banyak orang telah memilikinya? Apakah belanja Anda tak seimbang dengan penghasilan? Apakah doa Anda didominasi permintaan materi? Jika jawabnya “ya”, Anda tengah berada dalam jerat perilaku konsumtif. Bebaskan diri segera. Tak ada salahnya mencoba puasa belanja!
Masalah kebanyakan orang bukanlah memiliki terlalu sedikit, melainkan berharap memiliki terlalu banyak
Penulis: Juswantori Ichwan
Sunday, July 12, 2009
Semuanya atau Tidak Sama Sekali

Semuanya atau Tidak Sama Sekali
“Apakah sebenarnya persepuluhan itu? apakah orang Kristen masih terikat dengan perintah persepuluhan? Bolehkah persepuluhan diberikan kepada hamba-hamba Tuhan di daerah, bukan di gereja saya berbakti? Bagaimana kalau saya berikan kepada orang miskin?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menunjukkan kedangkalan orang berpikir mengenai Firman Tuhan. Alkitab jelas mengatakan bahwa hidup kita adalah milik-Nya, sebab Ia telah membeli kita dengan harga yang lunas dibayar (1Kor 6:19–20). Jadi kita tidak berhak sama sekali atas kehidupan kita sendiri; semuanya adalah milik Tuhan. Bila seseorang menghayati kebenaran ini, maka ia berhenti mempersoalkan persepuluhan dan persembahan lain di dalam gereja.
Segenap hidup kita adalah milik Tuhan, maka kita tidak boleh “perhitungan” dengan Dia. Tuhan sudah memberi yang termahal yang ada pada-Nya, yaitu diri-Nya sendiri; maka apalah artinya segala sesuatu yang ada pada kita yang nilainya tidak ada apa-apanya dibanding dengan diri Tuhan Yesus Kristus sendiri yang telah dikorbankan bagi kita. Jika semua yang ada pada kita adalah milik-Nya, bagaimana bisa kita membuat perhitungan sepuluh persen, dua puluh persen, tiga puluh persen atau jumlah yang lain. Mengapa harus dihitung-hitung dalam mengembalikan kepada-Nya, seolah-olah kita masih berhak atas milik Tuhan tersebut?
Di dalam kebaktian, sering kita dengar pemimpin puji-pujian atau pemberita Firman memotivasi jemaat agar memberi lebih banyak dengan berbagai cara penyalahgunaan ayat Alkitab. Misalnya, menjanjikan bahwa kalau kita memberi banyak, maka kita akan mendapat banyak; penjelasan ini dirangkum dalam hukum tabur tuai (padahal ketika Alkitab berbicara mengenai tabur tuai pokok persoalannya mengenai perbuatan dalam daging dan perbuatan dalam roh, bukan mengenai persembahan uang). Cara lain adalah melalui intimidasi. Jemaat ditakut-takuti dengan ancaman: bila tidak memberi persepuluhan atau persembahan yang “pantas”, maka Tuhan akan menghukum dengan mengirimkan belalang pelahap, kutuk dan berbagai tulah atau hukuman yang merusak hidup ekonomi, bisnis dan pekerjaannya. Intimidasi ini bisa efektif bagi mereka yang berasal dari agama lain, yang terbiasa dengan “Tuhan model itu”, yang suka memeras milik orang lain. Tuhan kita ialah Tuhan yang tidak memaksa, Tuhan yang menghendaki umat pilihan-Nya dengan kesadarannya sendiri mengasihi-Nya. Mengenai persembahan yang dibawa kepada Tuhan karena kita mengasihi-Nya, adapun jumlahnya tergantung dorongan Roh Kudus, karena kita hanya sebagai pengelola milik Tuhan. Di sini anak-anak Tuhan harus cerdas dalam mempertimbangkan jumlahnya dan kepekaan terhadap komando Roh Kudus. (Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono)
Artikel ini diambil dari Renungan Harian TRUTH Edisi 60/Juli, Renungan Harian yang berisi pengajaran bagi umat Kristen yang ingin bertumbuh dewasa. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut mengenai Renungan Harian dan Majalah TRUTH, hubungi (021) 68 70 7000 atau 08 7878 70 7000.
Sunday, July 5, 2009
Nrima Ing Pandum
Nrima Ing Pandum
Bacaan hari ini: 1 Samuel 18:6-9
Ayat mas hari ini: 1 Samuel 18:9
Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 11-14
Menurut sebuah survei, angka harapan hidup tertinggi di Indonesia dimiliki oleh Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 73 tahun. Artinya, rata-rata penduduk Yogyakarta hidup hingga usia 73 tahun. Beberapa ahli mencoba mencari tahu penyebabnya. Ternyata ditemukan bahwa selain rendahnya tingkat stres dan tingginya konsumsi serat melalui buah-buahan dan sayuran, juga karena budaya hidup orang Yogyakarta yang memegang falsafah nrima ing pandum, yang artinya menerima apa yang menjadi haknya, tidak serakah, apalagi berkeinginan mengambil hak orang lain.
Tidak puas dengan apa yang ada, iri hati terhadap apa yang orang lain capai, dan bernafsu memiliki apa yang bukan haknya, adalah awal kehancuran seseorang. Seperti yang terjadi pada Saul. Sebetulnya, Saul tidak kurang gagah. Ia berhasil memimpin bangsa Israel meraih kemenangan demi kemenangan dalam peperangan (1 Samuel 14:47-48). Namun sayangnya, ia kemudian iri hati terhadap keberhasilan Daud. Apalagi ketika Daud disambut dengan pujian dan tarian yang meriah (ayat 6). Saul lalu menjadi marah. “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkan beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya,” begitu ia berkata (ayat 8). Akhir dari kisah ini kita semua tahu, Saul mati di tangan bangsa Filistin (1 Samuel 31:1-13), dan Daud menjadi raja menggantikannya.
Kiranya kepada kita diberikan kemampuan untuk bisa menerima apa yang ada, bersyukur dengan yang kita punya. Dan, kita dijauhkan dari iri dengki terhadap orang lain, juga dari keinginan untuk memiliki apa yang bukan hak kita.
Resep hidup sehat: terima apa yang ada, jauhi iri dengki
Penulis: Ayub Yahya
Bacaan hari ini: 1 Samuel 18:6-9
Ayat mas hari ini: 1 Samuel 18:9
Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 11-14
Menurut sebuah survei, angka harapan hidup tertinggi di Indonesia dimiliki oleh Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 73 tahun. Artinya, rata-rata penduduk Yogyakarta hidup hingga usia 73 tahun. Beberapa ahli mencoba mencari tahu penyebabnya. Ternyata ditemukan bahwa selain rendahnya tingkat stres dan tingginya konsumsi serat melalui buah-buahan dan sayuran, juga karena budaya hidup orang Yogyakarta yang memegang falsafah nrima ing pandum, yang artinya menerima apa yang menjadi haknya, tidak serakah, apalagi berkeinginan mengambil hak orang lain.
Tidak puas dengan apa yang ada, iri hati terhadap apa yang orang lain capai, dan bernafsu memiliki apa yang bukan haknya, adalah awal kehancuran seseorang. Seperti yang terjadi pada Saul. Sebetulnya, Saul tidak kurang gagah. Ia berhasil memimpin bangsa Israel meraih kemenangan demi kemenangan dalam peperangan (1 Samuel 14:47-48). Namun sayangnya, ia kemudian iri hati terhadap keberhasilan Daud. Apalagi ketika Daud disambut dengan pujian dan tarian yang meriah (ayat 6). Saul lalu menjadi marah. “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkan beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya,” begitu ia berkata (ayat 8). Akhir dari kisah ini kita semua tahu, Saul mati di tangan bangsa Filistin (1 Samuel 31:1-13), dan Daud menjadi raja menggantikannya.
Kiranya kepada kita diberikan kemampuan untuk bisa menerima apa yang ada, bersyukur dengan yang kita punya. Dan, kita dijauhkan dari iri dengki terhadap orang lain, juga dari keinginan untuk memiliki apa yang bukan hak kita.
Resep hidup sehat: terima apa yang ada, jauhi iri dengki
Penulis: Ayub Yahya
Stop Mengeluh
Stop Mengeluh
Bacaan hari ini: Bilangan 11:1-3
Ayat mas hari ini: Filipi 4:4
Bacaan Alkitab Setahun: Amos 5-7
Dalam sebuah khotbahnya pada bulan Juli 2006, Pdt. Will Bowen dari Gereja One Community Spiritual Center, Kansas City, Amerika, menyerukan gerakan berhenti mengeluh. Ia lantas membagikan gelang karet berwarna ungu kepada setiap anggota jemaatnya. Aturan mainnya sederhana, gelang itu harus dipakai terus-menerus selama 21 hari di salah satu pergelangan tangan, bisa kanan atau kiri. Dan selama itu tidak boleh mengeluh. Jika hal tersebut dilanggar, maka gelang itu harus dipindahkan ke pergelangan tangan yang lain dan jumlah hari dihitung kembali lagi dari awal. Saat ini, gelang karet itu telah tersebar sebanyak enam juta buah di seluruh dunia. Banyak orang telah merasakan perubahan positif karena menjalankan program berhenti mengeluh ini, khususnya dalam berelasi dan bekerja sama dengan orang lain.
Rupanya manusia memang cenderung lebih mudah mengeluh atau bersungut-sungut daripada bersyukur; lebih mudah melihat hal-hal yang kurang daripada hal-hal baik dalam hidupnya. Seperti sikap umat Israel. Kasih dan pemeliharaan Tuhan kepada mereka selama berada di padang gurun begitu jelas—mulai dari mengirimkan tiang awan dan tiang api untuk menuntun mereka, sampai mengirimkan burung puyuh dan manna untuk makanan mereka—tetapi tetap saja mereka suka mengeluh.
Sikap suka mengeluh ini tidak ada gunanya. Dan Tuhan juga tidak senang. Karenanya harus dilawan; jangan dituruti, apalagi dijadikan kebiasaan. Caranya, fokuskan pikiran pada hal-hal yang baik dalam hidup ini, dan berusahalah untuk selalu berkata positif.
MENGELUH DAN BERSYUKUR ITU SOAL PILIHAN PILIHLAH UNTUK SELALU BERSYUKUR
Penulis: Ayub Yahya (renungan harian)
Bacaan hari ini: Bilangan 11:1-3
Ayat mas hari ini: Filipi 4:4
Bacaan Alkitab Setahun: Amos 5-7
Dalam sebuah khotbahnya pada bulan Juli 2006, Pdt. Will Bowen dari Gereja One Community Spiritual Center, Kansas City, Amerika, menyerukan gerakan berhenti mengeluh. Ia lantas membagikan gelang karet berwarna ungu kepada setiap anggota jemaatnya. Aturan mainnya sederhana, gelang itu harus dipakai terus-menerus selama 21 hari di salah satu pergelangan tangan, bisa kanan atau kiri. Dan selama itu tidak boleh mengeluh. Jika hal tersebut dilanggar, maka gelang itu harus dipindahkan ke pergelangan tangan yang lain dan jumlah hari dihitung kembali lagi dari awal. Saat ini, gelang karet itu telah tersebar sebanyak enam juta buah di seluruh dunia. Banyak orang telah merasakan perubahan positif karena menjalankan program berhenti mengeluh ini, khususnya dalam berelasi dan bekerja sama dengan orang lain.
Rupanya manusia memang cenderung lebih mudah mengeluh atau bersungut-sungut daripada bersyukur; lebih mudah melihat hal-hal yang kurang daripada hal-hal baik dalam hidupnya. Seperti sikap umat Israel. Kasih dan pemeliharaan Tuhan kepada mereka selama berada di padang gurun begitu jelas—mulai dari mengirimkan tiang awan dan tiang api untuk menuntun mereka, sampai mengirimkan burung puyuh dan manna untuk makanan mereka—tetapi tetap saja mereka suka mengeluh.
Sikap suka mengeluh ini tidak ada gunanya. Dan Tuhan juga tidak senang. Karenanya harus dilawan; jangan dituruti, apalagi dijadikan kebiasaan. Caranya, fokuskan pikiran pada hal-hal yang baik dalam hidup ini, dan berusahalah untuk selalu berkata positif.
MENGELUH DAN BERSYUKUR ITU SOAL PILIHAN PILIHLAH UNTUK SELALU BERSYUKUR
Penulis: Ayub Yahya (renungan harian)
Prioritas
Tentukan Prioritasmu!
Pada suatu hari, seorang penjaga mercusuar dipercayakan segalon minyak untuk keperluan selama seminggu. Minyak ini ditujukan untuk menjaga supaya lampu mercusuar tetap menyala dan kapal-kapal yang lewat tidak terhempas karang.
Pada esok harinya, lewat seorang nenek tua yang memohon minta sedikit persediaan minyak si penjaga ini untuk memenuhi kebutuhan memasaknya hari itu. Si penjaga ini memberikan sedikit minyak itu. Esok malamnya ada seorang anak kecil yang menangis karena lampu penuntun jalannya mati kehabisan minyak. Si penjaga ini melihat hal tersebut dengan iba dan akhirnya memberikan sedikit minyak untuk membuat anak kecil ini bisa pulang dengan selamat.
Mendekati akhir minggu itu, si penjaga juga melihat ada orang yang membutuhkan minyak untuk keperluannya, karena si penjaga ini menganggap “ Apa salahnya sih menolong orang?”, maka setiap kali ada yang meminta tolong pasti ia Bantu.
Pada hari sebelumnya akhir minggu itu, malam harinya si penjaga melihat ada kapal yang melintas dan mambutuh tuntunan dari mercusuar. Ia segera bersiap menyalakan lampunya dan mengarahkan kapal tersebut. Namun ketika ia mendapati persediaan minyaknya telah habis dan pada malam itu juga terjadi tabrakan kapal dengan karang.
Beberapa orang tewas dalam kejadian itu.
Dalam hidup ini, banyak hal yang terlihat baik dan perlu untuk kita kerjakan. Tapi pada dasarnya, hanya ada beberapa hal utama yang Tuhan ingin untuk kita lakukan supaya kita memenuhi rencanaNya dalam hidup kita.
PRIORITAS adalah memikirkan segala sesuatu berdasarkan urutan kepentingan dan melakukan segala sesuatu berdasarkan urutan kepentingan. Selamat menentukan prioritas!
(artikel diambil dari warta Rehobot Ministry)
Pada suatu hari, seorang penjaga mercusuar dipercayakan segalon minyak untuk keperluan selama seminggu. Minyak ini ditujukan untuk menjaga supaya lampu mercusuar tetap menyala dan kapal-kapal yang lewat tidak terhempas karang.
Pada esok harinya, lewat seorang nenek tua yang memohon minta sedikit persediaan minyak si penjaga ini untuk memenuhi kebutuhan memasaknya hari itu. Si penjaga ini memberikan sedikit minyak itu. Esok malamnya ada seorang anak kecil yang menangis karena lampu penuntun jalannya mati kehabisan minyak. Si penjaga ini melihat hal tersebut dengan iba dan akhirnya memberikan sedikit minyak untuk membuat anak kecil ini bisa pulang dengan selamat.
Mendekati akhir minggu itu, si penjaga juga melihat ada orang yang membutuhkan minyak untuk keperluannya, karena si penjaga ini menganggap “ Apa salahnya sih menolong orang?”, maka setiap kali ada yang meminta tolong pasti ia Bantu.
Pada hari sebelumnya akhir minggu itu, malam harinya si penjaga melihat ada kapal yang melintas dan mambutuh tuntunan dari mercusuar. Ia segera bersiap menyalakan lampunya dan mengarahkan kapal tersebut. Namun ketika ia mendapati persediaan minyaknya telah habis dan pada malam itu juga terjadi tabrakan kapal dengan karang.
Beberapa orang tewas dalam kejadian itu.
Dalam hidup ini, banyak hal yang terlihat baik dan perlu untuk kita kerjakan. Tapi pada dasarnya, hanya ada beberapa hal utama yang Tuhan ingin untuk kita lakukan supaya kita memenuhi rencanaNya dalam hidup kita.
PRIORITAS adalah memikirkan segala sesuatu berdasarkan urutan kepentingan dan melakukan segala sesuatu berdasarkan urutan kepentingan. Selamat menentukan prioritas!
(artikel diambil dari warta Rehobot Ministry)
Sunday, June 28, 2009
Firman Itu Merubah Hidupku

Firman Itu Merubah Hidupku
Oleh: Suwito Lie
Selama Hidup dari kecil saya sudah masuk Kristen karena ajaran dari Mama yang taat beribadah dan rajin membaca firman. Saya merasa selama ini ikut Tuhan hidup biasa biasa saja tidak ada kemajuan iman, ketika menikahpun hidup tidak ada perubahan, dalam ekonomi maupun iman cenderung terpuruk sampai titik nol. Saya dibukakan mata hati saya dan teringat Yesus yang sudah mengasihi kami sekeluarga.
Perubahan mulai terlihat ketika kami sudah di titik nol saat itu September 2008 saya ikut KKR di Senayan waktu itu yang kotbah Pdt.Dr.Stephen Tong mengambil tema “ Siapakah Kristus Itu?”. Tiga hari berturut- turut saya ikut, waktu itu KKR tiga hari Jumat s/d Minggu.Selanjutnya saya berkeinginan ke gerejanya Pak Tong tapi terlalu jauh dan yang penting saya tetap mengagumi Pak Tong yang di karuniai Tuhan Yesus luar bisa dalam pelayanannya kotbahnya yang keras tidak main-main dalam mengkritik semua yang menyimpang dari Firman Tuhan yaitu Alkitab.
Mulai saat itulah saya rajin mendengarkan Firman Tuhan via radio RPK dan kotbah dari berbagai macam Hamba Tuhan dari Pdt. Gilbert , Pdt.Anthony Chang, Pdt. Erastus Sabdono, Pdt.Imanuel Kristo, Pdt Bigman Sirait, dll semua firman yang disampaikan sangat berkenan bagi saya. Sebelumnya saya bergereja selama ini tidak bertumbuh akhirnya saya putuskan pindah ke GBI Rehobot dari situlah saya mengenal lebih dalam tentang kebenaran Firman Tuhan dari kotbah Pak Erastus Gembala GBI Rehobot di Suara Kebenaran sampai sekarang.
Saya memilih GBI Rehobot karena pengajarannya Alkitabiah, walaupun tata ibadah tidak sesuai dengan gereja sebelumnya saya tetap bisa menerima karena istri saya dulunya Kharismatik, jadi pas lah untuk kami. Akhirnya semua masalah kami satu persatu kami lalui dengan bimbingan Tuhan Yesus yang kami imani, kami sudah tidak kuatir lagi untuk masa depan yang penting bekerja keraslah sesuai Firman Tuhan, carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:30-34), dan jangan takut untuk menghampiri tahta kasih karunia Allah Bapa Kita (Ibrani 4 : 14 – 16). Tuhan Yesus memberkati kita semua, Amin. (Jakarta, 5 Juni 2009)
Oleh: Suwito Lie
Selama Hidup dari kecil saya sudah masuk Kristen karena ajaran dari Mama yang taat beribadah dan rajin membaca firman. Saya merasa selama ini ikut Tuhan hidup biasa biasa saja tidak ada kemajuan iman, ketika menikahpun hidup tidak ada perubahan, dalam ekonomi maupun iman cenderung terpuruk sampai titik nol. Saya dibukakan mata hati saya dan teringat Yesus yang sudah mengasihi kami sekeluarga.
Perubahan mulai terlihat ketika kami sudah di titik nol saat itu September 2008 saya ikut KKR di Senayan waktu itu yang kotbah Pdt.Dr.Stephen Tong mengambil tema “ Siapakah Kristus Itu?”. Tiga hari berturut- turut saya ikut, waktu itu KKR tiga hari Jumat s/d Minggu.Selanjutnya saya berkeinginan ke gerejanya Pak Tong tapi terlalu jauh dan yang penting saya tetap mengagumi Pak Tong yang di karuniai Tuhan Yesus luar bisa dalam pelayanannya kotbahnya yang keras tidak main-main dalam mengkritik semua yang menyimpang dari Firman Tuhan yaitu Alkitab.
Mulai saat itulah saya rajin mendengarkan Firman Tuhan via radio RPK dan kotbah dari berbagai macam Hamba Tuhan dari Pdt. Gilbert , Pdt.Anthony Chang, Pdt. Erastus Sabdono, Pdt.Imanuel Kristo, Pdt Bigman Sirait, dll semua firman yang disampaikan sangat berkenan bagi saya. Sebelumnya saya bergereja selama ini tidak bertumbuh akhirnya saya putuskan pindah ke GBI Rehobot dari situlah saya mengenal lebih dalam tentang kebenaran Firman Tuhan dari kotbah Pak Erastus Gembala GBI Rehobot di Suara Kebenaran sampai sekarang.
Saya memilih GBI Rehobot karena pengajarannya Alkitabiah, walaupun tata ibadah tidak sesuai dengan gereja sebelumnya saya tetap bisa menerima karena istri saya dulunya Kharismatik, jadi pas lah untuk kami. Akhirnya semua masalah kami satu persatu kami lalui dengan bimbingan Tuhan Yesus yang kami imani, kami sudah tidak kuatir lagi untuk masa depan yang penting bekerja keraslah sesuai Firman Tuhan, carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:30-34), dan jangan takut untuk menghampiri tahta kasih karunia Allah Bapa Kita (Ibrani 4 : 14 – 16). Tuhan Yesus memberkati kita semua, Amin. (Jakarta, 5 Juni 2009)
Cepatnya Waktu Bergulir
Cepatnya Waktu Bergulir
Bacaan hari ini:
Mazmur 90:1-12
Ayat mas hari ini: Mazmur 90:12
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 9-12
Betapa cepatnya waktu bergulir. Dari hari ke minggu, dari ke bulan ke tahun, seolah hanya sekejapan mata. Rasanya baru kemarin saya kuliah di Jogja. Masih terbayang suasana kampus dulu, teman-teman seangkatan, para dosen. Tidak terasa itu sudah lebih 15 tahun berlalu. Rasanya baru kemarin Kezia dan Karen, kedua anak kami, belajar tengkurap, merangkak, dan berjalan. Masih terbayang “repotnya sekaligus asyiknya” memandikan, mengganti pampers, membuatkan susu untuk mereka. Kini mereka sudah menjadi gadis-gadis kecil yang lincah. Betul-betul serasa baru sekejap.
Musa juga merasakan hal serupa. Dalam mazmurnya ia berkata, “Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu” (Mazmur (90:4-6). Yah, betapa singkat dan cepatnya waktu yang kita miliki di dunia ini.
Karena waktu itu singkat dan cepat berlalu, maka, pertama, jangan menunda-nunda apa yang bisa dikerjakan sekarang—melayani Tuhan, berkarya bagi sesama, serta menyatakan kasih sayang kepada orang-orang terdekat. Sebab akan ada masanya, kita tidak lagi memiliki waktu. Kedua, jangan membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna, lebih-lebih untuk hal-hal yang merugikan. Sebab menyesal kemudian, tiada guna. Ketiga, nikmati dan hargai waktu yang ada sekarang sebaik-baiknya, apa pun yang tengah kita hadapi. Sebab pada saatnya, “sekarang” akan menjadi “masa lalu”.
Waktu sangat berharga; Ia tidak akan kembali dan terulang. Maka jangan menukarnya dengan sesuatu yang tidak berharga
Penulis: Ayub Yahya
Renungan harian
Bacaan hari ini:
Mazmur 90:1-12
Ayat mas hari ini: Mazmur 90:12
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 9-12
Betapa cepatnya waktu bergulir. Dari hari ke minggu, dari ke bulan ke tahun, seolah hanya sekejapan mata. Rasanya baru kemarin saya kuliah di Jogja. Masih terbayang suasana kampus dulu, teman-teman seangkatan, para dosen. Tidak terasa itu sudah lebih 15 tahun berlalu. Rasanya baru kemarin Kezia dan Karen, kedua anak kami, belajar tengkurap, merangkak, dan berjalan. Masih terbayang “repotnya sekaligus asyiknya” memandikan, mengganti pampers, membuatkan susu untuk mereka. Kini mereka sudah menjadi gadis-gadis kecil yang lincah. Betul-betul serasa baru sekejap.
Musa juga merasakan hal serupa. Dalam mazmurnya ia berkata, “Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu” (Mazmur (90:4-6). Yah, betapa singkat dan cepatnya waktu yang kita miliki di dunia ini.
Karena waktu itu singkat dan cepat berlalu, maka, pertama, jangan menunda-nunda apa yang bisa dikerjakan sekarang—melayani Tuhan, berkarya bagi sesama, serta menyatakan kasih sayang kepada orang-orang terdekat. Sebab akan ada masanya, kita tidak lagi memiliki waktu. Kedua, jangan membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna, lebih-lebih untuk hal-hal yang merugikan. Sebab menyesal kemudian, tiada guna. Ketiga, nikmati dan hargai waktu yang ada sekarang sebaik-baiknya, apa pun yang tengah kita hadapi. Sebab pada saatnya, “sekarang” akan menjadi “masa lalu”.
Waktu sangat berharga; Ia tidak akan kembali dan terulang. Maka jangan menukarnya dengan sesuatu yang tidak berharga
Penulis: Ayub Yahya
Renungan harian
Thursday, June 11, 2009
Ketika Jalanku Berkabut
Cipt. Pdt.Dr.Erastus Sabdono
Ketika jalanku berkabut
Tak tahu apa hari esok
Ku tanya Tuhan seolah membisu
Lalu terdengar suaraNya
Jangan takut percaya saja
Masa depanmu dalam tanganKu
Reff:
Penjagaan Tuhan perlindungan Tuhan
Pembelaan Tuhan tak berkesudahan
Kasih setia Tuhan kasih setia Tuhan
Kasih setia Tuhan selamanya
KasihNya sungguh sempurna
Lebih luas dari Samudera ..oh..oh..
Dia slalu pedulikan umatNya
Sampai disebrang langit biru,…3x
Note: jika ingin mendengarkan lagu tersebut diatas CD/kasetnya semua dinyanyikan oleh Soedarsono bisa didapatkan di toko kaset rohani / di GBI Rehobot, ingat beli yang asli jangan bajakan, solagracia
Ketika jalanku berkabut
Tak tahu apa hari esok
Ku tanya Tuhan seolah membisu
Lalu terdengar suaraNya
Jangan takut percaya saja
Masa depanmu dalam tanganKu
Reff:
Penjagaan Tuhan perlindungan Tuhan
Pembelaan Tuhan tak berkesudahan
Kasih setia Tuhan kasih setia Tuhan
Kasih setia Tuhan selamanya
KasihNya sungguh sempurna
Lebih luas dari Samudera ..oh..oh..
Dia slalu pedulikan umatNya
Sampai disebrang langit biru,…3x
Note: jika ingin mendengarkan lagu tersebut diatas CD/kasetnya semua dinyanyikan oleh Soedarsono bisa didapatkan di toko kaset rohani / di GBI Rehobot, ingat beli yang asli jangan bajakan, solagracia
Monday, June 1, 2009
Karyawan Yang Melayani
Karyawan Yang Melayani
Penulis : Pdt.Dr. Erastus Sabdono
Saudara-saudaraku yang terkasih,Kalau kita benar-benar mengasihi Tuhan, kita akan menunjukkan kasih kita kepada Tuhan dengan memaksimalkan semua kemampuan yang ada pada kita. Orang yang gagal dalam pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, pasti akan gagal juga dalam pekerjaan yang lainnya atau sulit untuk bisa bangkit dalam pekerjaan lainnya. Kita memang perlu mempertimbangkan faktor "orang yang tepat di tempat tepat" tetapi jika seseorang selalu gagal dan tidak pernah produktif dalam suatu karyanya pasti ada yang tidak beres dalam hidupnya. Dalam Roma 12:1, firman Tuhan mengatakan "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati". Demi kemurahan Allah artinya karena Tuhan telah mengasihi kita dan memberikan kemurahanNya yang tak terhingga, maka kita pun patut untuk memberikan tubuh dan hidup kita sebagai korban yang hidup dan berkenan kepadaNya. Tentu kalau kita mempersembahkan tubuh yang mewakili hidup kita ini, kita harus mempersembahkan dengan ukuran segenap; segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, segenap kekuatan, dll. Pertanyaannya, bagaimana kita mewujudkan firman dalam Roma 12:1 ini dalam hidup kita? Ada beberapa pertimbangan penting yang harus kita miliki untuk mengubah gaya hidup kita. Pertama, kita harus menyadari bahwa apa pun pekerjaan kita (yang tidak bertentangan dengan norma dan etika kehidupan) itu adalah tempat dimana kita bekerja mencari nafkah setiap hari. Pekerjaan kita harus menjadi pelayanan yang benar dimana kita dapat menterjemahkan firman yang berkata "Jika engkau makan atau jika engkau minum atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Allah". Banyak orang yang mau mengikut Yesus secara fisik tetapi Tuhan tidak mengijinkannya. Diantara orang-orang yang tetap Tuhan kehendaki untuk memegang profesinya adalah Zakheus. Tuhan tidak menarik Zakheus untuk masuk ke dalam 12 deret barisan murid-muridNya. Padahal belum tentu murid-muridNya yang lain dapat memiliki sikap pertobatan yang lebih baik dari Zakheus. Oleh sebab itu jangan sampai kita membagi-bagi mana yang termasuk pekerjaan rohani dan mana yang pekerjaan duniawi. Itu keliru! Ke dua, tempat kita bekerja adalah laboratorium di mana Tuhan mengembangkan kedewasaan rohani kita. Di tempat itulah kita didewasakan Tuhan melalui keadaan yang khusus untuk kita. Jadi jangan berharap tempat kita bekerja adalah tempat yang nyaman. banyak orang Kristen gagal mengalami kedewasaan rohnaninya karena hal ini. Sadarilah bahwa tidak ada kedewasaan tanpa ketidaknyamanan. Jika kita ingin menjadi dewasa, maka kita harus tahan banting dengan keadaan yang tidak nyaman. Untuk itu jangan sampai kita pindah kerja sebelum Tuhan sendiri yang memindahkan kita dari tempat itu. Ke tiga, tempat kita bekerja itu adalah laboratorium Tuhan untuk menjadikan kita berkat bagi orang lain. KIta harus berpikir bahwa kita adalah pendeta, mentor dan teladan bagi orang-orang dimana kita berada. Tetapi jangan pernah kita menawarkan diri untuk menjadi terang di situ sebab Tuhan yang akan mempromosikan kita di situ. Pelita itu akan Tuhan taruh di tengah rumah untuk menerangi banyak orang, bukan malah kita membawa diri kita sendiri untuk menjadi sok terang. Solagracia.
Penulis : Pdt.Dr. Erastus Sabdono
Saudara-saudaraku yang terkasih,Kalau kita benar-benar mengasihi Tuhan, kita akan menunjukkan kasih kita kepada Tuhan dengan memaksimalkan semua kemampuan yang ada pada kita. Orang yang gagal dalam pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, pasti akan gagal juga dalam pekerjaan yang lainnya atau sulit untuk bisa bangkit dalam pekerjaan lainnya. Kita memang perlu mempertimbangkan faktor "orang yang tepat di tempat tepat" tetapi jika seseorang selalu gagal dan tidak pernah produktif dalam suatu karyanya pasti ada yang tidak beres dalam hidupnya. Dalam Roma 12:1, firman Tuhan mengatakan "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati". Demi kemurahan Allah artinya karena Tuhan telah mengasihi kita dan memberikan kemurahanNya yang tak terhingga, maka kita pun patut untuk memberikan tubuh dan hidup kita sebagai korban yang hidup dan berkenan kepadaNya. Tentu kalau kita mempersembahkan tubuh yang mewakili hidup kita ini, kita harus mempersembahkan dengan ukuran segenap; segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, segenap kekuatan, dll. Pertanyaannya, bagaimana kita mewujudkan firman dalam Roma 12:1 ini dalam hidup kita? Ada beberapa pertimbangan penting yang harus kita miliki untuk mengubah gaya hidup kita. Pertama, kita harus menyadari bahwa apa pun pekerjaan kita (yang tidak bertentangan dengan norma dan etika kehidupan) itu adalah tempat dimana kita bekerja mencari nafkah setiap hari. Pekerjaan kita harus menjadi pelayanan yang benar dimana kita dapat menterjemahkan firman yang berkata "Jika engkau makan atau jika engkau minum atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Allah". Banyak orang yang mau mengikut Yesus secara fisik tetapi Tuhan tidak mengijinkannya. Diantara orang-orang yang tetap Tuhan kehendaki untuk memegang profesinya adalah Zakheus. Tuhan tidak menarik Zakheus untuk masuk ke dalam 12 deret barisan murid-muridNya. Padahal belum tentu murid-muridNya yang lain dapat memiliki sikap pertobatan yang lebih baik dari Zakheus. Oleh sebab itu jangan sampai kita membagi-bagi mana yang termasuk pekerjaan rohani dan mana yang pekerjaan duniawi. Itu keliru! Ke dua, tempat kita bekerja adalah laboratorium di mana Tuhan mengembangkan kedewasaan rohani kita. Di tempat itulah kita didewasakan Tuhan melalui keadaan yang khusus untuk kita. Jadi jangan berharap tempat kita bekerja adalah tempat yang nyaman. banyak orang Kristen gagal mengalami kedewasaan rohnaninya karena hal ini. Sadarilah bahwa tidak ada kedewasaan tanpa ketidaknyamanan. Jika kita ingin menjadi dewasa, maka kita harus tahan banting dengan keadaan yang tidak nyaman. Untuk itu jangan sampai kita pindah kerja sebelum Tuhan sendiri yang memindahkan kita dari tempat itu. Ke tiga, tempat kita bekerja itu adalah laboratorium Tuhan untuk menjadikan kita berkat bagi orang lain. KIta harus berpikir bahwa kita adalah pendeta, mentor dan teladan bagi orang-orang dimana kita berada. Tetapi jangan pernah kita menawarkan diri untuk menjadi terang di situ sebab Tuhan yang akan mempromosikan kita di situ. Pelita itu akan Tuhan taruh di tengah rumah untuk menerangi banyak orang, bukan malah kita membawa diri kita sendiri untuk menjadi sok terang. Solagracia.
Friday, May 29, 2009
Membuktikan Allah Tritunggal (bagian 4)
Siapakah Roh Kudus Itu?
Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)
Sebenarnya Roh Kudus bukan sekedar tenaga aktif yang berasal dari Allah seperti yang ditafsirkan oleh beberapa teolog. Ada pandangan yang menganalogikan hal ini dengan aliran tenaga listrik. Allah digambarkan sebagai pusat tenaga listriknya , dan Roh Kudus adalah arusnya. Ini tidak tepat, Roh Kudus keberadaan-Nya bersama Allah Bapa dan Allah Anak; maka tentulah Ia sama hakikatnya dengan Allah. Oleh sebab itu kita harus menanggapi dan menerima - Nya sebagaimana kita menyambut Bapa dan Anak. Roh Kudus menyaksikan bahwa kita anak Allah (Roma 8:15-16). Dalam bahasa Yunani, kata “menjadikan” dalam Roma 8:15 ditulis (huiothesias), artinya “mengangkat menjadi anak” (adopsi). Jadi pengertian dari Roma 8:15 adalah, sebutan Bapa yang kita tujukan kepada Allah benar diterima hanya jika Roh Kudus diam di dalam diri kita, sebab sebutan itu mengalir dari hati yang didiami Roh Kudus. Efesus 1:13, Roh disebut sebagai meterai. Jadi benarlah pernyataan bahwa jika seseorang tidak memiliki Roh Kudus, ia tidak akan masuk ke surga. Namun ini jangan diubah menjadi “bila orang tidak berbahasa Roh, ia tidak akan masuk surga.”
Roh Kudus membawa kita kepada segala kebenaran (Yohanes 16:13), Kebenaran disini adalah kebenaran Allah, bukan kebenaran hasil pikiran manusia seperti yang sedang digandrungi orang pada zaman Injil Yohanes ditulis, yaitu filsafat Yunani populer. Dalam 1 Yohanes 2:27 tertulis bahwa pengurapan akan mengajar orang percaya. Maksud “tidak perlu diajar” dalam ayat ini adalah bahwa hanya oleh karena pimpinan Roh Kuduslah kita dapat mengerti Firman Tuhan. Oleh karenanya pula Tuhan Yesus berkata bahwa Roh Kudus akan mengingatkan apa yang Tuhan Yesus telah katakan (Yohanes 14:26).
Roh Kudus menolong kita berbuah (Galatia 5:22-23). Harus dibedakan antara buah dan karunia. Karunia diberikan Tuhan tanpa sangat dipengaruhi oleh waktu dan pergumulan, sementara buah dianugerahkan-Nya kepada kita melalui sebuah pergumulan dan proses yang panjang, dalam tuntunan Roh Kudus. Selanjutnya Roh Kudus memberi kekuatan batin (Efesus 3:16), yaitu menyangkut penghiburan dan keteguhan hati. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyebut Roh itu sebagai “Penghibur” (Yohanes 16:7).
Dapat kita lihat, sebelum Pentakosta, Petrus begitu penakut sampai-sampai menyangkali Tuhan Yesus. Tetapi setelah dipenuhi Roh Kudus, ia menjadi begitu tenang walau di ambang hukuman mati (Kisah Rasul 12). Roh Kudus membantu kita berdoa (Roma 8:26). Ibadah yang benar adalah yang dilakukan hanya oleh orang yang dipimpin Roh Kudus, jadi percuma kita beragama, melakukan liturgi dan upacara-upacara agama kalau tidak dalam pimpinan Roh Kudus.
Roh Kudus menyaksikan bahwa kita anak Allah, memeteraikan kita, membawa kita kepada kebenaran, dan menolong kita berbuah.
Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)
Sebenarnya Roh Kudus bukan sekedar tenaga aktif yang berasal dari Allah seperti yang ditafsirkan oleh beberapa teolog. Ada pandangan yang menganalogikan hal ini dengan aliran tenaga listrik. Allah digambarkan sebagai pusat tenaga listriknya , dan Roh Kudus adalah arusnya. Ini tidak tepat, Roh Kudus keberadaan-Nya bersama Allah Bapa dan Allah Anak; maka tentulah Ia sama hakikatnya dengan Allah. Oleh sebab itu kita harus menanggapi dan menerima - Nya sebagaimana kita menyambut Bapa dan Anak. Roh Kudus menyaksikan bahwa kita anak Allah (Roma 8:15-16). Dalam bahasa Yunani, kata “menjadikan” dalam Roma 8:15 ditulis (huiothesias), artinya “mengangkat menjadi anak” (adopsi). Jadi pengertian dari Roma 8:15 adalah, sebutan Bapa yang kita tujukan kepada Allah benar diterima hanya jika Roh Kudus diam di dalam diri kita, sebab sebutan itu mengalir dari hati yang didiami Roh Kudus. Efesus 1:13, Roh disebut sebagai meterai. Jadi benarlah pernyataan bahwa jika seseorang tidak memiliki Roh Kudus, ia tidak akan masuk ke surga. Namun ini jangan diubah menjadi “bila orang tidak berbahasa Roh, ia tidak akan masuk surga.”
Roh Kudus membawa kita kepada segala kebenaran (Yohanes 16:13), Kebenaran disini adalah kebenaran Allah, bukan kebenaran hasil pikiran manusia seperti yang sedang digandrungi orang pada zaman Injil Yohanes ditulis, yaitu filsafat Yunani populer. Dalam 1 Yohanes 2:27 tertulis bahwa pengurapan akan mengajar orang percaya. Maksud “tidak perlu diajar” dalam ayat ini adalah bahwa hanya oleh karena pimpinan Roh Kuduslah kita dapat mengerti Firman Tuhan. Oleh karenanya pula Tuhan Yesus berkata bahwa Roh Kudus akan mengingatkan apa yang Tuhan Yesus telah katakan (Yohanes 14:26).
Roh Kudus menolong kita berbuah (Galatia 5:22-23). Harus dibedakan antara buah dan karunia. Karunia diberikan Tuhan tanpa sangat dipengaruhi oleh waktu dan pergumulan, sementara buah dianugerahkan-Nya kepada kita melalui sebuah pergumulan dan proses yang panjang, dalam tuntunan Roh Kudus. Selanjutnya Roh Kudus memberi kekuatan batin (Efesus 3:16), yaitu menyangkut penghiburan dan keteguhan hati. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyebut Roh itu sebagai “Penghibur” (Yohanes 16:7).
Dapat kita lihat, sebelum Pentakosta, Petrus begitu penakut sampai-sampai menyangkali Tuhan Yesus. Tetapi setelah dipenuhi Roh Kudus, ia menjadi begitu tenang walau di ambang hukuman mati (Kisah Rasul 12). Roh Kudus membantu kita berdoa (Roma 8:26). Ibadah yang benar adalah yang dilakukan hanya oleh orang yang dipimpin Roh Kudus, jadi percuma kita beragama, melakukan liturgi dan upacara-upacara agama kalau tidak dalam pimpinan Roh Kudus.
Roh Kudus menyaksikan bahwa kita anak Allah, memeteraikan kita, membawa kita kepada kebenaran, dan menolong kita berbuah.
Membuktikan Allah Tritunggal (bagian 3)
Bukan “Aku”, tetapi “Kami”
Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)
Orang Kristen percaya kepada Allah Yang Maha Esa, tetapi kata “Esa” dalam kekristenan bukanlah tunggal secara matematis, melainkan satu dalam kejamakan yang unik. Dalam bahasa Ibrani kata “satu” (אחד, ekhad) bisa bermakna “kesatuan, dalam pengertian memiliki lebih dari satu unsur”. Dalam kejadian 2:24 tertulis : “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging “. Tentu “satu” dalam teks ini bukan satu dalam arti matematis. Juga dalam bahasa Yunani, kata “satu” (ula, mia) tidak selalu menyatakan jumlah yang dapat dihitung (1 Korintus 6:16-17). Karena ketritunggalan Allah merupakan cara keberadaan dan penyataan Allah dalam mengungkapkan diri-Nya, maka kebenaran ini sangat penting untuk dipahami. Menolak ketritunggalan Allah menyebabkan seseorang tidak mengenal Allah dan karya-Nya dengan benar. Dengan memahami yang diwahyukan Allah tentang Tritunggal, kita giring untuk memahami karya-Nya secara utuh dan lengkap.
Walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Perjanjian Lama, nyata-nyata bahwa Perjanjian Lama menyiratkan adanya Tritunggal. Bukti-bukti tersebut dapat dilihat antara lain : (El) adalah sebutan Allah yang artinya “Yang Mahakuasa”. Nama (Elohim) adalah bentuk jamaknya. Bila hanya El tanpa akhiran - im, itu maknanya tunggal, tetapi Elohim itu jamak . Ternyata dalam Alkitab dapat ditemukan kurang lebih 3000 kali kata Elohim dipakai untuk menyebut “Allah” dalam Perjanjian Lama, dan lebih dari 2300 kali digunakan untuk Allah Israel.
Kata “Kita “ dalam Kejadian 1 : 26; 11:7 juga menunjukan kejamakan. Dari informasi ini maka tidak dapt dibantah bahwa kebenaran mengenai Allah Tritunggal sudah ada di kalangan orang-orang dalam agama Yahudi (Yudaisme) atau agama Musa. Agama Yahudi adalah agama monoteisme pertama sebelum Kristen dan Islam. Monoteisme artinya meyakini bahwa Allah itu Esa. Perlu diingat bahwa Alkitab mulai ditulis sekitar tahun 1440 SM, yaitu 1500 tahun sebelum agama Kristen dan sekitar 2100 tahun sebelum agama Islam ada.
Dalam Yesaya 6 : 6 ketika Tuhan berkata, “ Siapakah yang akan pergi untuk Aku?” kata “Aku” dalam bahasa aslinya sebenarnya adalah “Kami” ( lanu artinya “untuk Kami”). Dalam Alkitab versi King James diterjemahkan: “….and who will go for Us?” Pernyataan Yesaya ini lebih meneguhkan kenyataan mengenai Allah Tritunggal yang tidak dapat disangkali
Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)
Orang Kristen percaya kepada Allah Yang Maha Esa, tetapi kata “Esa” dalam kekristenan bukanlah tunggal secara matematis, melainkan satu dalam kejamakan yang unik. Dalam bahasa Ibrani kata “satu” (אחד, ekhad) bisa bermakna “kesatuan, dalam pengertian memiliki lebih dari satu unsur”. Dalam kejadian 2:24 tertulis : “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging “. Tentu “satu” dalam teks ini bukan satu dalam arti matematis. Juga dalam bahasa Yunani, kata “satu” (ula, mia) tidak selalu menyatakan jumlah yang dapat dihitung (1 Korintus 6:16-17). Karena ketritunggalan Allah merupakan cara keberadaan dan penyataan Allah dalam mengungkapkan diri-Nya, maka kebenaran ini sangat penting untuk dipahami. Menolak ketritunggalan Allah menyebabkan seseorang tidak mengenal Allah dan karya-Nya dengan benar. Dengan memahami yang diwahyukan Allah tentang Tritunggal, kita giring untuk memahami karya-Nya secara utuh dan lengkap.
Walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Perjanjian Lama, nyata-nyata bahwa Perjanjian Lama menyiratkan adanya Tritunggal. Bukti-bukti tersebut dapat dilihat antara lain : (El) adalah sebutan Allah yang artinya “Yang Mahakuasa”. Nama (Elohim) adalah bentuk jamaknya. Bila hanya El tanpa akhiran - im, itu maknanya tunggal, tetapi Elohim itu jamak . Ternyata dalam Alkitab dapat ditemukan kurang lebih 3000 kali kata Elohim dipakai untuk menyebut “Allah” dalam Perjanjian Lama, dan lebih dari 2300 kali digunakan untuk Allah Israel.
Kata “Kita “ dalam Kejadian 1 : 26; 11:7 juga menunjukan kejamakan. Dari informasi ini maka tidak dapt dibantah bahwa kebenaran mengenai Allah Tritunggal sudah ada di kalangan orang-orang dalam agama Yahudi (Yudaisme) atau agama Musa. Agama Yahudi adalah agama monoteisme pertama sebelum Kristen dan Islam. Monoteisme artinya meyakini bahwa Allah itu Esa. Perlu diingat bahwa Alkitab mulai ditulis sekitar tahun 1440 SM, yaitu 1500 tahun sebelum agama Kristen dan sekitar 2100 tahun sebelum agama Islam ada.
Dalam Yesaya 6 : 6 ketika Tuhan berkata, “ Siapakah yang akan pergi untuk Aku?” kata “Aku” dalam bahasa aslinya sebenarnya adalah “Kami” ( lanu artinya “untuk Kami”). Dalam Alkitab versi King James diterjemahkan: “….and who will go for Us?” Pernyataan Yesaya ini lebih meneguhkan kenyataan mengenai Allah Tritunggal yang tidak dapat disangkali
Thursday, May 28, 2009
Membuktikan Allah Tritunggal (bagian 2)
Tetap Bisa Dimengerti
Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)
Memang dalam Alkitab, istilah Tritunggal tidak tertulis secara nyata, namun kebenaran mengenai hal ini nyata-nyata ada. Konsep Tritunggal bukan doktrin hasil rekayasa spekulasi pikiran manusia, tetapi kebenaran yang diungkapkan Alkitab dengan jelas. Orang pertama yang memakai istilah Tritunggal dan memformulasikan doktrin tersebut adalah Tertulianus (sekitar 160-220 M). Sebenarnya sebelum Tertulianus memopulerkan ajaran ini, Theofilus, seorang theology dari Anthiokia sudah menyinggung konsep ini dengan menggunakan istilah dalam bahasa Yunani Trias. Setelah Tertulianus memformulasikan Tritunggal menurut teologianya, Origenes menyempurnakannya. Akhirnya pada 325 M, konsili di Nicea menetapkan untuk pertama kalinya formulasi Allah Tritunggal.
Harus tegas ditolak bila ada tuduhan yang mengatakan bahwa agama Kristen memiliki tiga Allah(triteisme), yang juga berarti menyamakan agama Kristen sejarar dengan agama-agama kafir yang memiliki banyak dewa atau ilah (politeisme). Yang benar adalah bahwa orang Kristen tidak menganut paham triteisme atau politeisme, melainkan monoteisme. Allah Tritunggal bukanlah tiga Allah, sebab Tritunggal dapat dimengerti sebagai kejamakan di dalam satu. Kejamakan pribadi disini bukanlah beberapa Allah, sebab kejamakan tersebut adalah kesatuan yang tak terpisahkan. Tritunggal juga berarti tiga cara keberadaan Allah dalam masing-masing karya-Nya dengan satu maksud agung yaitu keselamatan manusia.
Tritunggal menunjuk penyataan pengungkapan diri Allah dalam berkomunikasi dengan ciptaan-Nya, namun harus diingat bahwa ini tidak berarti ada satu Allah yang menyatakan diri dalam tiga penyataan. Misalnya, Erastus Sabdono di rumah dipanggil Papa; di lingkungan keluarga dipanggil Sabdono; dan di lingkungan lain dipanggil Pak Pendeta, padahal ketiga-tiganya adalah orang yang sama. Ini bukan Trinitas tetapi Unitas, konsep yang tidak Alkitabiah.
Harus diakui, memang ada Allah Bapa dan ada Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita. Dalam hal ini, tidak perlu kita malu atau ragu-ragu mengakui menyembah Allah Bapa dan Allah Anak. Kalu ada orang berkata, Mengapa bisa begitu? Jawablah Mengapa tidak boleh begitu? Apa ukurannya? Siapa yang menetapkan ukuran harus begini atau begitu? Petrus dengan tegas berkata dalam ilham Roh bahwa Allah telah membuat Yesus, yang telah disalibkan, menjadi Tuhan dan Kristus (Kisah Rasul 2:36). Jangan biarkan kebenaran yang kita peroleh dari sumber yang benar Alkitab diukur dan dinilai oleh kepalsuan. Yesuslah satu-satunya jalan (Yohanes 14:6), dan hanya Alkitab yang dapat dipercayai.
Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)
Memang dalam Alkitab, istilah Tritunggal tidak tertulis secara nyata, namun kebenaran mengenai hal ini nyata-nyata ada. Konsep Tritunggal bukan doktrin hasil rekayasa spekulasi pikiran manusia, tetapi kebenaran yang diungkapkan Alkitab dengan jelas. Orang pertama yang memakai istilah Tritunggal dan memformulasikan doktrin tersebut adalah Tertulianus (sekitar 160-220 M). Sebenarnya sebelum Tertulianus memopulerkan ajaran ini, Theofilus, seorang theology dari Anthiokia sudah menyinggung konsep ini dengan menggunakan istilah dalam bahasa Yunani Trias. Setelah Tertulianus memformulasikan Tritunggal menurut teologianya, Origenes menyempurnakannya. Akhirnya pada 325 M, konsili di Nicea menetapkan untuk pertama kalinya formulasi Allah Tritunggal.
Harus tegas ditolak bila ada tuduhan yang mengatakan bahwa agama Kristen memiliki tiga Allah(triteisme), yang juga berarti menyamakan agama Kristen sejarar dengan agama-agama kafir yang memiliki banyak dewa atau ilah (politeisme). Yang benar adalah bahwa orang Kristen tidak menganut paham triteisme atau politeisme, melainkan monoteisme. Allah Tritunggal bukanlah tiga Allah, sebab Tritunggal dapat dimengerti sebagai kejamakan di dalam satu. Kejamakan pribadi disini bukanlah beberapa Allah, sebab kejamakan tersebut adalah kesatuan yang tak terpisahkan. Tritunggal juga berarti tiga cara keberadaan Allah dalam masing-masing karya-Nya dengan satu maksud agung yaitu keselamatan manusia.
Tritunggal menunjuk penyataan pengungkapan diri Allah dalam berkomunikasi dengan ciptaan-Nya, namun harus diingat bahwa ini tidak berarti ada satu Allah yang menyatakan diri dalam tiga penyataan. Misalnya, Erastus Sabdono di rumah dipanggil Papa; di lingkungan keluarga dipanggil Sabdono; dan di lingkungan lain dipanggil Pak Pendeta, padahal ketiga-tiganya adalah orang yang sama. Ini bukan Trinitas tetapi Unitas, konsep yang tidak Alkitabiah.
Harus diakui, memang ada Allah Bapa dan ada Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita. Dalam hal ini, tidak perlu kita malu atau ragu-ragu mengakui menyembah Allah Bapa dan Allah Anak. Kalu ada orang berkata, Mengapa bisa begitu? Jawablah Mengapa tidak boleh begitu? Apa ukurannya? Siapa yang menetapkan ukuran harus begini atau begitu? Petrus dengan tegas berkata dalam ilham Roh bahwa Allah telah membuat Yesus, yang telah disalibkan, menjadi Tuhan dan Kristus (Kisah Rasul 2:36). Jangan biarkan kebenaran yang kita peroleh dari sumber yang benar Alkitab diukur dan dinilai oleh kepalsuan. Yesuslah satu-satunya jalan (Yohanes 14:6), dan hanya Alkitab yang dapat dipercayai.
Wednesday, May 27, 2009
Membuktikan Allah Tritunggal (bagian 1)

Membuktikan Allah Tritunggal
Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)
Pengajaran mengenai Tritunggal atau Trinitas adalah pengajaran yang paling banyak diperdebatkan dalam gereja Tuhan dari abad ke abad. Pokok pengajaran ini membangkitkan adu argumentasi yang tiada habis-habisnya. Di pihak lain, ajaran ini juga menjadi objek serbuan agama-agama non-Kristen. Pernyataan klasik dan tetap up-to date hingga kini adalah : benarkah Allah berjumlah tiga? Pengajaran ini memang pengajaran yang paling khas dalam ke Kristenan, dan tidak ada dalam agama manapun. Menurut prasangka subjektif manusia, muncul pertanyaan yang juga merupakan tuduhan curiga : Mengapa orang Kristen menyembah tiga Allah, bukan Allah Yang Maha Esa?
Ternyata pengajaran ini telah menjadi batu sandungan bagi banyak orang beragama lain yang membuat mereka menolak kekristenan. Bahkan tidak sedikit yang menganggap agama Kristen adalah agama kafir, karena memiliki tiga Allah atau menyamakan seseorang seseorang manusia Yesus sebagai Allah. Kampanye penolakan Yesus sebagai Allah sangat kuat, baik terang-terangan maupun secara terselubung, dan jika tidak diantisipasi secara sistematis dan serius, maka banyak generasi muda Kristen bisa terhilang. (saya mengambil tema ini karena tergerak agar orang dapat memahami dengan benar apa Allah Tritunggal itu ).
Dalam sejarah gereja, memeang gereja sering berusaha untuk memformulasikan (merumuskan) doktrin Tritunggal ini, namun sering mengalami kesulitan. Untuk mengenal Allah Tritunggal, kita harus percaya bahwa konsep ini Alkitabiah. Kita harus percaya dulu baru mengerti, bukan mengerti dulu baru percaya (Ibrani 11:6). Untuk ini kita harus rela takluk kepada kebenaran Alkitab.
Selanjutnya, kita harus menerima kenyataan bahwa kebenaran mengenai Allah Tritunggal tidak akan dapat dipahami secara sempurna dan lengkap oleh akal manusia. Allah kita adalah Yang Mahabesar, tidak terbatas, transenden (melampaui jangkauan akal manusia ) dan transsempiris (melampaui pengalaman); tentu tak dapat dikenali secara sempurna. Doktrin Tritunggal harus diakui sebagai suprarasional (melampaui pikiran manusia), tetapi tidak bertentangan dengan logika (kontrarasional). Seseorang harus dengan rendah hati menerima kenyataan eksistensi Allah yang unik tersebut dan tidak melecehkan-Nya sebagai sesuatu yang nyentrik. Sayangnya banyak pihak yang menganggap pengajaran Allah Tritunggal sebagai sesuatu yang nyentrik, sehingga mereka melecehkannya dan menjadikannya bahan olok-olokan. Pengenalan terhadap Allah Tritunggal dapat terhayati melalui pergaulan konkret dengan-Nya. Dia bukan Allah yang mati tetapi Allah yang hidup, nyata dan berkenan ditemui. Jadi, pembuktian mengenai Allah Tritunggal harus dialami secara konkret dalam kehidupan, bukan hanya melalui membaca literature, mendengarkan seminar atau khotbah.
Penulis : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (from Truth Daily Englightenment)
Pengajaran mengenai Tritunggal atau Trinitas adalah pengajaran yang paling banyak diperdebatkan dalam gereja Tuhan dari abad ke abad. Pokok pengajaran ini membangkitkan adu argumentasi yang tiada habis-habisnya. Di pihak lain, ajaran ini juga menjadi objek serbuan agama-agama non-Kristen. Pernyataan klasik dan tetap up-to date hingga kini adalah : benarkah Allah berjumlah tiga? Pengajaran ini memang pengajaran yang paling khas dalam ke Kristenan, dan tidak ada dalam agama manapun. Menurut prasangka subjektif manusia, muncul pertanyaan yang juga merupakan tuduhan curiga : Mengapa orang Kristen menyembah tiga Allah, bukan Allah Yang Maha Esa?
Ternyata pengajaran ini telah menjadi batu sandungan bagi banyak orang beragama lain yang membuat mereka menolak kekristenan. Bahkan tidak sedikit yang menganggap agama Kristen adalah agama kafir, karena memiliki tiga Allah atau menyamakan seseorang seseorang manusia Yesus sebagai Allah. Kampanye penolakan Yesus sebagai Allah sangat kuat, baik terang-terangan maupun secara terselubung, dan jika tidak diantisipasi secara sistematis dan serius, maka banyak generasi muda Kristen bisa terhilang. (saya mengambil tema ini karena tergerak agar orang dapat memahami dengan benar apa Allah Tritunggal itu ).
Dalam sejarah gereja, memeang gereja sering berusaha untuk memformulasikan (merumuskan) doktrin Tritunggal ini, namun sering mengalami kesulitan. Untuk mengenal Allah Tritunggal, kita harus percaya bahwa konsep ini Alkitabiah. Kita harus percaya dulu baru mengerti, bukan mengerti dulu baru percaya (Ibrani 11:6). Untuk ini kita harus rela takluk kepada kebenaran Alkitab.
Selanjutnya, kita harus menerima kenyataan bahwa kebenaran mengenai Allah Tritunggal tidak akan dapat dipahami secara sempurna dan lengkap oleh akal manusia. Allah kita adalah Yang Mahabesar, tidak terbatas, transenden (melampaui jangkauan akal manusia ) dan transsempiris (melampaui pengalaman); tentu tak dapat dikenali secara sempurna. Doktrin Tritunggal harus diakui sebagai suprarasional (melampaui pikiran manusia), tetapi tidak bertentangan dengan logika (kontrarasional). Seseorang harus dengan rendah hati menerima kenyataan eksistensi Allah yang unik tersebut dan tidak melecehkan-Nya sebagai sesuatu yang nyentrik. Sayangnya banyak pihak yang menganggap pengajaran Allah Tritunggal sebagai sesuatu yang nyentrik, sehingga mereka melecehkannya dan menjadikannya bahan olok-olokan. Pengenalan terhadap Allah Tritunggal dapat terhayati melalui pergaulan konkret dengan-Nya. Dia bukan Allah yang mati tetapi Allah yang hidup, nyata dan berkenan ditemui. Jadi, pembuktian mengenai Allah Tritunggal harus dialami secara konkret dalam kehidupan, bukan hanya melalui membaca literature, mendengarkan seminar atau khotbah.
Tuesday, May 5, 2009
Asuransi Terbaik

ASURANSI TERBAIK DI DUNIA
TRAKTAT: ASURANSI
Anda bingung menentukan asuransi mana yang ingin dibeli? Kami ingin menawarkan sebuah perusahaan asuransi yang pasti tidak mengecewakan. Berikut fiturnya:
PERUSAHAAN ASURANSI INI MENJAMIN:
Kehidupan
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16).
Kesehatan.
Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu (Mazmur 103:3)
Pakaian.
Jadi, Jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya! (Lukas 12:28)
Kebutuhan Sehari-hari.
Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19 )
Kenyamanan.
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. (Yohanes 14:1)
Persahabatan.
Dan ketahuilah “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhirzaman.” (Matius 28:20)
Kedamaian.
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Yohanes 14:27)
Rumah yang abadi.
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempatbagimu. (Yohanes 14:2)
ALASAN-ALASAN UNTUK IKUT ASURANSI INI:
1. Adalah perusahaan asuransi paling tua di dunia.
2. Satu-satunya perusahaan asuransi yang mengasuransikan berbagai kehilangan dalam api zaman akhir.
3. Satu-satunya perusahaan asuransi yang mencakup area yang kekekalan.
4. Kebijakannya tidak pernah berubah.
5. Manajemennya tidak pernah berganti.
6. Aset perusahaan terlalu banyak untuk dihitung.
7. Satu-satunya perusahaan asuransi yang membayarkan premi anda.
PREMI
Roma 5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Efesus 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah
I Korintus 6:20Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
PROSEDUR APLIKASI
Kisah Para Rasul 5:8Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu,maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.
Kisah Para Rasul 16:31“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat! ..”Semua premi untuk aplikasi ini telah dibayar oleh YESUS.
Lamar Boschman - “When I worship, I would rather my heart be without wordsthan my words be without hearth”.
Monday, May 4, 2009
Kuingat KebaikanMu
Kuingat KebaikanMu
Cipt.Pdt.Dr.Erastus Sabdono
Hidupku dulu bagai bejana
nyata telah hancur tiada berarti lagi
kehidupanku gelap gulita tiada menentu
Namun tanganMu mengangkat aku
membentukku lagi jadi bejana baru
masa depanku indah terancang dalam tanganMU
Reff:
Selamanya kuingat kebaikanMu
yang telah Kau berikan pada diriku
sekarang apa kubuat bagiMu Tuhan
sampai akhir hayatku dengan segenap
hatiku, melayaniMu
Note : Lagu ini sangat dalam maknanya, maka belajarlah firman Tuhan cari kebenaranNya
Tuhan Yesus memberkati Pak Eras agar dapat mencipta lagu yang lainnya, amin
Cipt.Pdt.Dr.Erastus Sabdono
Hidupku dulu bagai bejana
nyata telah hancur tiada berarti lagi
kehidupanku gelap gulita tiada menentu
Namun tanganMu mengangkat aku
membentukku lagi jadi bejana baru
masa depanku indah terancang dalam tanganMU
Reff:
Selamanya kuingat kebaikanMu
yang telah Kau berikan pada diriku
sekarang apa kubuat bagiMu Tuhan
sampai akhir hayatku dengan segenap
hatiku, melayaniMu
Note : Lagu ini sangat dalam maknanya, maka belajarlah firman Tuhan cari kebenaranNya
Tuhan Yesus memberkati Pak Eras agar dapat mencipta lagu yang lainnya, amin
Sunday, April 12, 2009
Oikoumene dan masalah-masalah di sekitarnya (1)

Oikoumene dan masalah-masalah di sekitarnya (1)
Oleh: Pdt Budhiadi Henoch
PendahuluanGereja Kristen berasal dari Timur Tengah dan hadir di Indonesia sejak akhir abad XIV bersamaan dengan kedatangan bangsa-bangsa Eropa yang mencari rempah-rempah di Hindia Timur. Pada dasarnya gereja Kristen bersifat universal (meliputi umat manusia), tetapi juga partikular (bangsa dan suku bangsa). Karena itu kita mengenal gereja Kristen yang am (umum), yakni gereja yang meliputi bangsa-bangsa di dunia, di samping yang khusus misalnya Gereja Kristen Indonesia (nasional) dan gereja-gereja suku Batak, Toraja dan Minahasa. Kendati gereja-gereja suku itu pun membuka diri menerima anggota-anggotanya dari suku lain.
Dalam pengamalan kehidupan gereja, tugas gereja tak hanya mengurus urusan di sorga, sesudah orang meninggal dunia, tetapi juga mengurus urusan di dunia, selagi orang masih hidup sekarang ini. Itulah sebabnya, gereja juga terpanggil untuk ikut serta membangun bangsa, negara dan masyarakat, di mana gereja itu ditempatkan Tuhan. Keterlibatan dalam pembangunan benar-benar dinampakkan; kepedulian terhadap masalah kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan juga dinyatakan; sikap kritis terhadap masalah keadilan, pemerataan dan kesejahteraan ditampilkan, karena memang begitu seharusnya kehidupan gereja dan orang-orang Kristen yang menjadi anggotanya. Landasannya: pesan Tuhan Yesus, agar apa yang telah dilakukan-Nya dilanjutkan oleh para pengikut-Nya (Lukas 4:18-21; Yohanes 13:12-17).
Berikutnya, gereja Kristen bukan lembaga eksklusif atau isolatif, yang menutup diri dan tidak berhubungan dengan pihak-pihak lain, sebaliknya, bahwa gereja Kristen itu inklusif dan partisipatif, terhisap dan terlibat dalam menanggulangi problem-problem sosial kemasyarakatan bekerja sama dengan pihak-pihak lain, baik pemerintah, maupun kelompok-kelompok masyarakat yang lain.
Dengan memperhatikan prinsip hidup dan hakekat gereja Kristen, maka gereja Kristen adalah mitra pemerintah dan mitra kelompok-kelompok masyarakat dalam kaitan dengan hal-hal yang konstruktif.
Selanjutnya, secara khusus dan sempit hendak difokuskan perhatian kita kepada lingkungan gerejawi dan Kristiani dari gereja Kristen itu sendiri. Maksudnya siapa dan bagaimana gereja itu dan siapa dan bagaimana kelompok Kristen itu. Hal itni penting, mengingat ada begitu banyak denominasi (aliran) gereja, padahal semuanya menyatakan diri sebagai kelompok Kristen. Untuk orang Kristen sendiri sering ‘merk’ gereja yang begitu banyak amat membingungkan, apalagi untuk orang non-Kristen. Itulah sebabnya perlu ada penjelasan.
PengertianDi tengah begitu banyak gereja Kristen dengan pelbagai nama dan sejarah asal-usul, pembentukan dan berdirinya masing-masing, ternyata muncul kata ‘oikoumene’ yang menyatakan kerinduan semua gereja itu untuk mempersekutukan diri dalam semangat kerja sama dan saling membantu. Oikoumene bersal dari dua kata Yunani ‘oikos’ (rumah) dan ‘menein’ (tinggal) yang secara harafiah berarti ‘tinggal bersama dalam satu rumah’. Selanjutnya, pemahaman terhadap kata oikoumene diperluaskan meliputi seluruh dunia dan semua manusia. Sekalipun dalam arti sempit hendak mengungkapkan suasana bersekutu dan bersaudara dalam lingkungan gereja dan orang Kristen. Secara populrer dipahami di tengah jemaat-jemaat Kristen, bahwa ‘oikoumene’ adalah apabila selaku orang yang sama-sama mengakui Tuhan Yesus dan Juru selamat dapat mengusahakan kerja sama dan persekutuan anak-anak dari satu Bapa.
Banyak anggota, tetapi tubuh satuPesan dalam Alkitab sudah jelas, bahwa tubuh Kristus hanya satu saja, sedang anggota-anggotanya banyak dan semuanya dipersatukan dalam satu Tuhan, satu iman dan satu baptisan (I Korintus 12:12-27; Efesus 4:3-6). Juga Tuhan Yesus melukiskan persekutuan itu dalam perumpamaan pokok anggur yang benar dengan ranting-rantingnya (Yohanes 15:1-8); kawanan domba yang dipimpin oleh seorang Gembala yang baik yakni Tuhan Yesus sendiri (Yohanes 10:10b-14); Ia pun mendoakan, ‘supaya semuanya menjadi satu’ (Yohanes 17:21).
Dalam wujud gereja dan kesatuan-kesatuan organisasi gereja, ternyata sejarah mencatat ada begitu banyak kesatuan organisasi gereja di dunia dan di Indonesia, sehingga sering membuat orang bertanya: kenapa gereja tidak satu saja organisasinya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu menelusuri jejak-jejak sejarah gereja sejak zaman dahulu sampai zaman sekarang ini. Boleh dikatakan, bahwa gereja memang mengalami proses kehidupan yang tidak selalu mulus. Ada banyak persoalan dan pergumulan yang susul-menyusul, sehingga membentuk — berdasarkan pokok-pokok ajarannya masing-masing — adanya denominasi (aliran) gereja. Itulah yang kemudian diwariskan kepada kita yang hidup pada masa kini.
Kita bayangkan, bahwa gereja mengalami pergumulan ajaran gereja sejak tahun-tahun permulaan kehadiran gereja. Kita mengenal tokoh-tokoh seperti Augustinus, Origenes, Tertullianus, Athanasius dll., dengan kemahirannya masing-masing dalam menghayati ajaran gereja. Lalu tersusunlah Pengakuan Iman Rasuli pada sekitar abad IV Masehi. Kemudian sampailah pada Skisma (Perpecahan) Pertama pada tahun 1054 dan terbentuk gereja Yunani Katolik dan Roma Katolik dengan kekhususannya masing-masing. Pada tanggal 31 Oktober 1517 Martin Luther memulai Reformasinya dengan memasang 95 dalil di pintu gereja Wittenberg di Jerman dan muncul aliran Protestan. Lalu pada tahun 1534 hadir gereja Anglican yang tidak berangkat karena perbedaan ajaran, tetapi usaha Raja Henry VIII dalam memikirkan suksesi bagi takhtanya. Sesudah itu bermunculanlah aliran-aliran gereja baru di kalangan kaum Protestan, sehingga makin ramailah suasana kehidupan gereja Protestan dan orang lain menyebutnya sebagai ‘penyakit Protestanisme’ yakni perpecahan demi perpecahan. Maka kita mengenal aliran-aliran seperti Lutheran, Calvinis dengan Reformed dan Re-reformed (Gereformeerd)-nya, Baptis, Methodis dengan perpecahan berikutnya Bala Keselamatan, Pentakosta, Adven, Injili dll.
Sesudah hadir begitu banyak gereja dengan namanya masing-masing, maka datanglah kerinduan untuk bersekutu dalam wadah oikoumenis. Maka muncullah World Council of Churches (Dewan Gereja Se-Dunia, DGD) pada tahun 1948 di Amsterdam, negeri Belanda, sebagai wadah gereja-gereja yang bersatu. Dalam perkembangan ternyata muncul pula International Council of Churches (Dewan Gereja Internasional), yang tentu saja mengurangi makna kebersatuan semua gereja Kristen di dunia ini. Tak juga boleh dilupakan munculnya World Alliance of Refoormed Churches (WARC), Reformed Ecumenical Synod (REC), Lutheran World Federation (LWF) yang mengharubirukan suasana oikoumenis yang mendunia menjadi tersekat-sekat kembali. Dalam tingkat regional hal itu kita jumpai dalam wujud Christian Conference of Asia (CCA) dan tentu juga ada ikatan-ikatan gereja di benua-benua yang lain yang dibentuk karena alasan geografis.
Di Indonesia kita mengenal wadah oikoumenis yakni Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI, dahulu DGI atau Dewan Gereja-gereja di Indonesia), berdiri pada tanggal 25 Mei 1950. PGI meliputi sekitar 80% orang Kristen Protestan di Indonesia. Ternyata hadir pula Dewan Pentakosta Indonesia (DPI), Persekutuan Injili Indonesia (PII), Gabungan Gereja-gereja Baptis (GGB) dll, masuk semuanya pada aras nasional Indonesia. Adakah semua gereja telah masuk dalam wadah-wadah oikoumenis di tingkat nasional itu? Dalam kenyataannya tidak, ibarat 10 tak habis dibagi 3, begitulah sifat gereja dan orang Kristen, sehingga ada saja yang tercecer, tidak masuk dalam salah satu wadah tersebut.
Dengan memperhatikan data-data di atas, pahamlah kita bahwa gereja-gereja baik di tingkat internasional, nasional, regional maupun lokal berkecenderungan seperti pendulum, goyang ke kanan dan kekiri secara timbal balik. Pada saat tertentu ingin gabung dan beroikoumene, pada saat yang lain ingin sendiri-sendiri.
Kita berharap bahwa prinsip ‘banyak anggota, tetapi satu tubuh’ selalu kita jadikan pegangan untuk beroikoumene. Karena prinsip inilah yang sesungguhnya dirindukan juga oleh Tuhan Yesus yang menjadi Raja kita semua.
Note : Penulis adalah Pdt.Em.Budhiadi Henoch dari GKI Cibunut Bandung, saya post artikel ini karena tertarik untuk di pahami tentang oikumene tsb, Tuhan Yesus memberkati Pelayanan Om Henoch dan Keluarganya, Amin.
Oikoumene dan masalah-masalah di sekitarnya (2)

Oikoumene dan masalah-masalah di sekitarnya (2)
Oleh: Pdt Budhiadi Henoch
Gereja, kelompok persekutuan dan bidatDefinisi “gereja” dijelaskan dalam prinsip dan hakekat gereja yakni “persekutuan orang-orang yang dipanggil untuk dijadikan milik Tuhan”. Definisi ini diambil dari kata Yunani ekklesia (ek-kaleo, memanggil keluar) dan kuriake atau kuriakon (milik kurios yaitu Tuhan). Selanjutnya gereja mewujudkan persekutuan dan melakukan panggilannya dalam bersaksi dan melayani. Itu berarti gereja membentuk organisasinya lengkap dengan perangkat kepengurusannya; ada kegiatan yang dilakukan oleh para anggota jemaatnya yang disebut pelayanan, baik berupa ibadah rutin pada hari Minggu (Domingo, hari Tuhan) untuk memperingati kebangkitan Tuhan Yesus dari antara orang mati, maupun kegiatan yang sesuai dengan tugasnya.
Kelompok-kelompok persekutuan biasanya muncul dalam kehidupan di tengah jemaat sesuatu gereja, terdiri dari anggota-anggota jemaat yang merasa perlu mengoreksi, melengkapi dan mencari bentuk-bentuk kegiatan baru, menyimpang dari program gerejanya. Mula-mula kegiatan mereka adalah berdoa, sehingga sebutan awal mereka adalah kelompok persekutuan doa. Dalam perkembangan diperluaskan dengan kegiatan-kegiatan lain seperti berbahasa lidah, penengkingan setan, baptisan Roh Kudus, kesembuhan, nubuat, perjamuan kudus, baptisan air (selam) dll. Kelompok tersebut sering merasa terpanggil untuk menjadi “garam gereja” (bukan garam dunia) dan terbeban untuk mengoreksi gereja karena kesuaman dan merosotnya iman jemaat, tak terkecuali menuding pula iman pendetanya. Kegiatan-kegiatan yang paralel dengan gereja itu memberi kesan terbentuknya “gereja di dalam gereja”. Bila kelompok ini sudah merasa maju, mereka menyebut dirinya sebagai kelompok kharismatik (kharisma = karunia), yang merasa punya kelebihan karunia rohani ketimbang anggota jemaat pada umumnya.
Bagaimana gereja resmi mengambil sikap terhadap kelompok persekutuan ini? Pada umumnya tidak mengambil sikap drastis, namun menjelaskan kepada seluruh anggota prinsip-prinsip Alkitabiah mengenai karunia-karunia, sebagaimana diberitakan khususnya dalam 1 Korintus 12-14 itu. Pada sisi lain, menasehati pengikut kelmpok itu untuk taat pada Tata Gereja yang berlaku, apabila yang bersangkutan masih ingin menjadi anggota dari jemaat tersebut. Dalam hal ini terasa sulit menghadapi dualisme pandangan mereka, mengingat yang bersangkutan sering ingin tampil beda dengan apa yang menjadi pola hidup jemaat itu, namun mereka juga ingin tetap menjadi anggotanya. Mungkin karena alasan emosional, mungkin juga karena “nama besar” dari jemaat itu.
Dalam praktek mereka tidak hadir lagi di tengah kehidupan jemaat asal mereka, karena acara hidup mereka kini lebih banyak dalam lingkungan persekutuan. Dapatkah dikatakan bahwa mereka undur secara diam-diam? Mungkin benar demikian. Agaknya, pimpinan gereja perlu secara lebih tegas mengambil tindakan terhadap mereka, agar posisi dan status mereka jelas: kehidupan rohani mereka tidak lagi menjadi tanggung jawab gereja asal mereka.
Berikutnya berbicara tentang bidat-bidat cukup gamblang, sebab bidat-bidat itu sebenarnya bukan Kristen, kendati mereka menggunakan Alkitab kita dan memasang nama “Tuhan Yesus” atau sebutan “Kristen” untuk golongan mereka itu. Bidat-bidat yang lazim disebut adalah Saksi Yehova yang sering pula memakai nama “siswa-siswa Alkitab”, ilegal di Indonesia; Gereja Yesus Kristus dari Orang Suci Zaman Akhir yakni aliran Mormon dengan pusatnya di Salt Lake City, Utah (USA), legal di Indonesia; Christian Science (Ilmu Pengetahuan Kristen), legal di Indonesia; Children of God (Anak-anak Allah), yang pernah menghebohkan masyarakat Indonesia pada tahun 1984 dan sejak saat itu dilarang dan lain-lain. Dalam praktek kehidupan gereja secara tidak pasti kadang-kadang muncul aliran aneh seperti Aliran Tubuh Kristus di Jakarta dengan cara berdoa nungging, anti materi dan menganggap tak perlu gereja. Terhadap semua bentuk peyimpangan dari budaya dan kehidupan gereja yang umum, hendaknya kita mewaspadainya.
Sekarang kita telah paham bahwa gereja, kelompok persekutuan dan bidat mempunyai definisinya masing-masing. Masalahnya: dapatkah kita melaksanakan tugas secara kritis mengamati setiap ajaran gereja yang disampaikan oleh para pengajar misalnya pendeta, penatua, penginjil dan lain-lain? Juga beredar di luar dan masuk ke dalam gereja kita? Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik (1 Tesalonika 5:21)
Note : Penulis adalah Pdt.Em.Budhiadi Henoch dari GKI Cibunut Bandung, saya post artikel ini karena tertarik untuk di pahami tentang oikumene tsb, Tuhan Yesus memberkati Pelayanan Om Henoch dan Keluarganya, Amin.
Oikoumene dan masalah-masalah di sekitarnya (3)

Oikoumene dan masalah-masalah di sekitarnya (3)
Oleh: Pdt Budhiadi Henoch
Sejarah gerakan oikoumenisSebenarnya kesadaran untuk mempersatukan diri dalam kesatuan gereja secara oikoumenis sudah muncul bersamaan dengan kesadaran bahwa perpecahan gereja adalah tak dikehendaki Tuhan. Hugo de Groot berusaha mendamaikan gereja Roma Katolik dengan gereja-gereja reformatoris. Juga Friedrich Wilhelm III dari Prusia yang menghimpun orang ‘Lutheran’ dan ‘Reformatoris’ dalam gereja kesatuan. Namun usaha itu tak berhasil sehingga suasana tak bersekutu terus berlangsung.
Perkembangan kehidupan gereja-gereja di pelbagai tempat pada kurun waktu berikutnya telah menghangatkan lagi dan memungkinkan gerakan oikoumenis dapat berkembang dengan baik, antara lain lewat lembaga-lembaga Alkitab (1804), aliansi Evangelis (1846), YMCS (1855), YWCA (1884), WSCF (1895), konperensi Lambeth yang menghimpun para uskup dari gereja Anglican (1867) dan selanjutnya konperensi Pekabaran Injil Internasional di Yerusalem (1928) dan Tambaran (1938). Memang ada peristiwa-peristiwa lain yang mendorong terciptanya suasana yang baik untuk gerakan oikoumenis. Tak terkecuali, yang dikenal sebagai bapak gerakan oikoumene, Dr John R. Mott (25 Mei 1865 – 31 Januari 1955) melakukan kegiatan-kegiatan oikoumenis secara lebih luas lagi, sehingga makin semaraklah semua usaha oikoumenis sampai terbentuknya Dewan Gereja-Gereja Sedunia di Amsterdam (1948). Ialah yang pernah berucap: “Tuhan Allah telah mengerjakan hal-hal besar bagi kita, sebab itu kita pun berhutang untuk mengerjakan hal-hal besar bagi-Nya.”
Bagaimana dengan Indonesia? Orang Kristen Indonesia telah ikut serta dalam berbagai pertemuan internasional pada masa lalu dan meningkatkan kesadaran oikoumenisnya antara lain dengan menyelenggarakan konperensi mahasiswa Kristen internasional di Citeureup (1933), ikut serta dalam konperensi Pekabaran Injil di Whitby (Kanada) dan konperensi pemuda Kristen di Oslo (1947), ikut dalam pembentukan Dewan Gereja Sedunia di Amsterdam (1948) dan ikut membentuk East Asia Christian Conference (EACC, kini CCA) di Bangkok (1949). Dengan pelbagai pengalaman beroikoumenis itu wajar apabila gerakan oikoumenis di Indonesia pun berkembang sampai terbentuknya Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI, kini PGI) pada tanggal 25 Mei 1950 di Jakarta.
Selanjutnya menjadi tugas kita pada masa kini untuk melestarikan gerakan oikoumenis sebagaimana telah dirintis oleh para pendahulu kita seperti W.J. Rumambi, T.B. Simatupang dan lain-lain. Gerakan oikoumenis masih berlanjut dan akan mempunyai bentuk-bentuknya yang baru sesuai dengan perkembangan zaman. Seminar Pertumbuhan Gereja pada tahun 1989 diadakan di Jakarta dengan tokoh-tokoh gerakan oikoumenis pada masa kini mulai bermunculan. Amat diharapkan bahwa mereka dapat mengembangkan roh oikoumenis sesuai dengan zamannya, sehingga gereja dan denominasi pada masa kini dapat memikirkan langkah-langkah bersamanya dengan baik.
Syarat-syarat beroikoumeneTentu untuk dapat mewujudkan suasana oikoumenis yang baik diperlukan pemenuhan syarat-syaratnya. Kita mencoba dengan mengemukakan hal-hal sebagai berikut:
Perkembangan kehidupan gereja-gereja di pelbagai tempat pada kurun waktu berikutnya telah menghangatkan lagi dan memungkinkan gerakan oikoumenis dapat berkembang dengan baik, antara lain lewat lembaga-lembaga Alkitab (1804), aliansi Evangelis (1846), YMCS (1855), YWCA (1884), WSCF (1895), konperensi Lambeth yang menghimpun para uskup dari gereja Anglican (1867) dan selanjutnya konperensi Pekabaran Injil Internasional di Yerusalem (1928) dan Tambaran (1938). Memang ada peristiwa-peristiwa lain yang mendorong terciptanya suasana yang baik untuk gerakan oikoumenis. Tak terkecuali, yang dikenal sebagai bapak gerakan oikoumene, Dr John R. Mott (25 Mei 1865 – 31 Januari 1955) melakukan kegiatan-kegiatan oikoumenis secara lebih luas lagi, sehingga makin semaraklah semua usaha oikoumenis sampai terbentuknya Dewan Gereja-Gereja Sedunia di Amsterdam (1948). Ialah yang pernah berucap: “Tuhan Allah telah mengerjakan hal-hal besar bagi kita, sebab itu kita pun berhutang untuk mengerjakan hal-hal besar bagi-Nya.”
Bagaimana dengan Indonesia? Orang Kristen Indonesia telah ikut serta dalam berbagai pertemuan internasional pada masa lalu dan meningkatkan kesadaran oikoumenisnya antara lain dengan menyelenggarakan konperensi mahasiswa Kristen internasional di Citeureup (1933), ikut serta dalam konperensi Pekabaran Injil di Whitby (Kanada) dan konperensi pemuda Kristen di Oslo (1947), ikut dalam pembentukan Dewan Gereja Sedunia di Amsterdam (1948) dan ikut membentuk East Asia Christian Conference (EACC, kini CCA) di Bangkok (1949). Dengan pelbagai pengalaman beroikoumenis itu wajar apabila gerakan oikoumenis di Indonesia pun berkembang sampai terbentuknya Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI, kini PGI) pada tanggal 25 Mei 1950 di Jakarta.
Selanjutnya menjadi tugas kita pada masa kini untuk melestarikan gerakan oikoumenis sebagaimana telah dirintis oleh para pendahulu kita seperti W.J. Rumambi, T.B. Simatupang dan lain-lain. Gerakan oikoumenis masih berlanjut dan akan mempunyai bentuk-bentuknya yang baru sesuai dengan perkembangan zaman. Seminar Pertumbuhan Gereja pada tahun 1989 diadakan di Jakarta dengan tokoh-tokoh gerakan oikoumenis pada masa kini mulai bermunculan. Amat diharapkan bahwa mereka dapat mengembangkan roh oikoumenis sesuai dengan zamannya, sehingga gereja dan denominasi pada masa kini dapat memikirkan langkah-langkah bersamanya dengan baik.
Syarat-syarat beroikoumeneTentu untuk dapat mewujudkan suasana oikoumenis yang baik diperlukan pemenuhan syarat-syaratnya. Kita mencoba dengan mengemukakan hal-hal sebagai berikut:
- Jangan memandang gereja/denominasi-ku lebih baik dan lebih superior dari yang lain, sebaliknya hendaknya saling membangun (Efesus 4:11-16).
- Akuilah mereka sebagai saudara seiman yang sepihak dengan kita (Markus 9:40; Lukas
9:50; Matius 12:30).
- Berilah toleransi untuk kekurangan pihak lain dan terimalah kelebihan pihak lain dengan hati terbuka.
- Pandanglah ladang bersama, sehingga dapat bersama-sama melayani pekerjaan Tuhan yang semakin luas dan berat. Tak usah berebut ‘domba’, sebab sesungguhnya ‘dombaku’ dan ‘dombanya’ adalah hamba Tuhan Yesus.
- Berilah toleransi untuk kekurangan pihak lain dan terimalah kelebihan pihak lain dengan hati terbuka.
- Pandanglah ladang bersama, sehingga dapat bersama-sama melayani pekerjaan Tuhan yang semakin luas dan berat. Tak usah berebut ‘domba’, sebab sesungguhnya ‘dombaku’ dan ‘dombanya’ adalah hamba Tuhan Yesus.
Kita berharap bahwa kita taat azas untuk melaksanakan kesediaan beroikoumene bersama pihak-pihak lain. Carilah persamaannya, sehingga di samping membangkitkan simpati juga meniadakan kecurigaan. Jangan terhambat oleh perbedaan, kendati tak menutup mata terhadap adanya perbedaan itu. Usahakan agar dapat melakukan pekerjaan bersama pihak lain yang gilirannya juga dapat bekerja sama dengan pemerintah. Kesemuanya itu dilandasi dengan semangat kerukunan. Ingat tri-kerukunan: kerukunan intern umat beragama, kerukunan antara umat beragama dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah.
Untuk selanjutnya silahkan menyusun program kerja yang bersifat oikoumenis agar seluruh kegiatan gerejawi yang kita laksanakan benar-benar mewujudkan kerinduan yang mendalam beroikoumene. Hasilnya akan dapat kita nikmati bersama baik dilingkungan gereja khususnya maupun di lingkungan masyarakat pada umumnya.
PenutupPada akhirnya langkah beroikoumene kita amat bergantung pada kesediaan setiap orang yang terlibat di dalamnya, dinyatakan dengan tulus hati dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Sampai pada titik ini kita tak dapat menentukan lebih dahulu sebelum teruji di medan pelayanan dan kehidupan gerejawi kita setiap hari. Singkatnya: Jangan kita berkata saja, tetapi juga bertindak nyata dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat kita. Kesemuanya itu akan dinilai oleh semua orang yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan oikoumene tersebut.
Note : Penulis adalah Pdt.Em.Budhiadi Henoch dari GKI Cibunut Bandung, saya post artikel ini karena tertarik untuk di pahami tentang oikumene tsb, Tuhan Yesus memberkati Pelayanan Om Henoch dan Keluarganya, Amin.
Friday, April 3, 2009
Yang Menyelamatkan Nyawa Akan Kehilangan Nyawa

Yang Menyelamatkan Nyawa Akan Kehilangan Nyawa
Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
RENUNGAN MINGGU, 8 MARET 2009
Tahun C: Pra-Paska II
Warna: Ungu
YANG MENYELAMATKAN NYAWA AKAN KEHILANGAN NYAWA
Kej. 17:1-7, 15-16; Mzm. 22:23-32; Rom. 4:13-25; Mark. 8:31-38
Pengantar
Naluri untuk menyelamatkan nyawa bukanlah hasil latihan dan didikan lingkungan, tetapi sesuatu yang sudah diberikan (“be given”) dari yang memberi hidup, yaitu Allah. Saat menghadapi suatu bahaya apapun kita akan segera refleks untuk melindungi dan menyelamatkan nyawa. Apabila kita tidak mampu melawan, karena kalah kuat ya kita akan segera memilih untuk melarikan diri. Saat kita terluka, maka kita akan segera mencari upaya untuk segera menghentikan luka tersebut. Saya ingat bagaimana seseorang yang paru-parunya mulai tidak berfungsi bersedia menjual apapun yang dimiliki agar dapat memiliki alat pacu untuk paru-parunya. Waktu itu saya memperoleh informasi bahwa harga alat pacu tersebut mencapai 1 milyar rupiah yang setiap hari harus dikontrol oleh beberapa orang dokter dan beberapa orang perawat. Saya tidak tahu biaya pengeluaran untuk operasional peralatan tersebut setiap bulan. Pasti keluarga tersebut harus mengeluarkan dana rutin di atas 50 juta rupiah setiap bulan agar dapat menjaga kelangsungan hidup dari orang yang mereka kasihi. Bahkan setiap mahluk hidup seperti hewan pada umumnya juga memiliki naluri yang sangat tinggi untuk menyelamatkan nyawanya. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka bersedia mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan yang ada, apakah dengan cara berlari sekencang-kencangnya, melakukan perlawanan yang sengit, mengeluarkan senjata berupa racun atau bisa yang dapat mematikan lawan atau menyembunyikan diri selama berminggu-minggu. Jika naluri menyelamatkan merupakan suatu karunia dari Tuhan agar setiap mahluk hidup khususnya manusia dapat tetap hidup, mengapa Tuhan Yesus justru berkata: “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Mark. 8:35).
Ajaran dan perkataan Tuhan Yesus sepertinya bertentangan dengan naluri yang telah diberikan oleh Allah kepada setiap umatNya. Bukankah kita justru mengecam orang-orang yang membiarkan nyawanya terancam tanpa ada upaya sama sekali, misalnya: tidak segera menghindar saat bahaya maut menerpa mereka, mengabaikan kesehatan dengan cara terlalu bekerja keras, sikap yang terlalu berani tanpa perhitungan, sengaja menempatkan diri dalam bahaya, atau tindakan yang dapat mengarah kepada bunuh diri? Bukankah nilai kehidupan ini begitu berharga? Nyawa setiap orang sangat berharga sehingga sistem keselamatan kerja dalam suatu seluruh bidang pekerjaan mutlak diberlakukan. Negara-negara maju telah menerapkan sistem asuransi kesehatan dan kecelakaan bagi setiap warga-negaranya agar mereka dapat memperoleh pelayanan medis yang baik saat mereka mengalami gangguan kesehatan atau mengalami musibah. Pada intinya disadari betapa berharganya nilai suatu kehidupan, sehingga perlu diperjuangkan dan dijaga secara bertanggungjawab. Itu sebabnya pasar alat kesehatan di Amerika Serikat tahun 2005 mencapai 80,3 miliar dollar, dan pada tahun 2010 akan mencapai angka 100 juta miliar dollar. Kemudian pasar global untuk alat-alat kedokteran implant mikroelektrik adalah 11,9 miliar dolar pada tahun 2004 diperkirakan akan meningkat rata-rata 22,1 persen per-tahun sehingga pada tahun 2009 ini akan mencapai 32,3 miliar dollar. Semua data tersebut mau menyatakan perlunya menjaga dan menyelamatkan nyawa sebagai suatu karunia Tuhan dengan sikap yang bertanggungjawab. Jika demikian, apa relevansinya ajaran dan perkataan Tuhan Yesus tersebut dalam kehidupan kita? Tentunya yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus dengan makna “menyelamatkan nyawa” tidak terkait dengan tugas kewajiban dan tanggungjawab kita untuk menjaga keselamatan nyawa saat kita menghadapi suatu bahaya sebagaimana diuraikan di atas. Sebab kewajiban dan tanggungjawab untuk menjaga keselamatan nyawa telah menjadi suatu hukum alam yang perlu diwujudkan dalam suatu sistem dan pola kehidupan yang lebih beradab, sehingga setiap orang tanpa terkecuali juga bertanggungjawab atas keselamatan nyawa sesamanya.
Memperoleh Dunia
Ungkapan “nyawa” jelas menunjuk kepada esensi yang paling fundamental dalam kehidupan manusia. Dalam konteks ini pengertian “nyawa” diidentiikan dengan “roh” yang pada hakikatnya menunjuk kepada keseluruhan diri atau hakikat dari kepribadian manusia. Sehingga sikap berkorban dengan mempertaruhkan nyawa (put life on the line) berarti memberikan sesuatu yang paling berharga atau segala-galanya dari keseluruhan diri. Tidak ada yang lebih tinggi dari pada sikap mau berkorban dengan rela kehilangan nyawa untuk keselamatan orang lain. Pemahaman inilah yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ketika Dia menyampaikan misi kedatanganNya ke dunia ini, yaitu untuk memenuhi ketetapan Ilahi yang harus menanggung banyak penderitaan, ditolak oleh para pemimpin agama lalu dibunuh tetapi bangkit sesudah tiga hari (Mark. 8:31). Tetapi bagi para murid, khususnya Petrus sikap Tuhan Yesus tersebut sungguh mengejutkan. Mereka percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Messias Allah, tetapi sulit bagi mereka untuk menerima kenyataan apabila Dia harus menderita lalu dibunuh. Bagi mereka, seorang Messias senantiasa ditandai oleh kemenangan demi kemenangan, kesuksesan demi kesuksesan dan tentunya memiliki kuasa untuk memiliki apa yang dia kehendaki. Tepatnya Messias yang mereka harapkan adalah seorang Messias pembebas dan penakluk yang memiliki kuasa politik dan militer yang hebat sehingga kuasa penjajahan dari bangsa Roma dapat dipatahkan. Itu sebabnya ketika mereka melihat kuasa Ilahi yang dinyatakan dalam diri Tuhan Yesus, timbullah pengharapan dan kerinduan yang semakin menguat bahwa Dia dapat menjadi seorang Messias yang mampu mengalahkan atau menaklukkan kekuasaan dan penjajahan bangsa Romawi. Bahkan di dalam diri Yesus, mereka mengharapkan peran sebagai Messias yang mampu menaklukkan seluruh kerajaan dunia di bawah kekuasaan militer atau politik dari kerajaan yang didirikanNya. Sehingga dengan gambaran Messias demikian, para murid Yesus mengharapkan bahwa Tuhan Yesus dapat memperoleh seluruh dunia dan kekuasaannya. Jadi inti pengharapan para murid Yesus pada prinsipnya didasarkan kepada pemahaman bahwa kekuasaan yang besar dapat dipakai untuk memperoleh kekayaan dunia yang sebesar-besarnya.
Kita sering memaknai arti menyelamatkan nyawa dengan pola berpikir/pengertian para murid Yesus. Semakin kita diserahi atau dapat memiliki kekuasaan yang besar, maka kita merasa berhak untuk memperoleh kekayaan dunia yang sebesar-besarnya. Tidaklah mengherankan jikalau kekuasaan dalam berbagai bentuk seringkali dikejar dengan cara apapun agar kita dapat memanfaatkan kekuasaan tersebut untuk kepentingan duniawi. Begitu banyak orang yang bersedia mempertaruhkan nyawa mereka agar mereka mencapai kekuasaan atau posisi yang sebesar-besarnya. Mereka menjadi orang-orang yang sangat ambisius, mabuk kekuasaan dan kerap tidak segan untuk menghalalkan segala macam cara. Seakan-akan apabila mereka dapat menguasai dan memperoleh banyak hal dari dunia ini, mereka berhasil menyelamatkan nyawanya. Arti “nyawa” dalam konteks ini dihayati sebagai kekuatan yang dihidupi oleh berbagai dorongan ambisi dan dilengkapi oleh berbagai macam strategi untuk meraih banyak hal. Sehingga arti “menyelamatkan nyawa” identik dengan kemampuan untuk meraih semua hal yang diinginkan. Akibatnya apabila ada orang yang merasa tidak berhasil meraih semua hal yang diinginkan, maka dia menganggap dirinya tidak berhasil “menyelamatkan nyawanya”. Dia menganggap dirinya telah kalah atau gagal meraih kemenangan dalam kehidupan ini. Itu sebabnya orang-orang dengan filosofi demikian berupaya untuk selalu merebut, mengambil, dan merampas apa saja yang dia inginkan walaupun dengan konsekuensi banyak sesama yang akan menjadi korbannya. Mereka mencoba untuk membangun kebahagiaan dan kemenangan palsu di atas penderitaan dan ketidakberdayaan orang lain. Nyawa orang yang demikian lebih tepat disebut sebagai nyawa orang serakah sebab hatinya tidak pernah puas dan mensyukuri berkat Tuhan yang telah dia terima. Karena dia tidak pernah mensyukuri berkat Tuhan yang ada, maka dia ingin selalu merebut berkat Tuhan yang telah dimiliki oleh sesamanya. Padahal semua ambisi dan keserakahan tersebut justru merupakan tanda dari kemiskinan hatinya atau nyawa yang telah binasa sebab telah menjauhkan diri dari rahmat dan keselamatan Allah. Sehingga sangatlah tepat ketika Tuhan Yesus berkata: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? “ (Mark. 8:36-37).
Menyangkal Diri
Panggilan Kristus untuk menyangkal diri sangatlah bertolak belakang dengan upaya untuk memperoleh isi dan kuasa dunia. Sebab makna “menyangkal diri” justru secara bersengaja menolak untuk bersikap serakah, tidak haus kekuasaan, mampu mengendalikan hawa-nafsu, mencukupkan diri dengan berkat yang dimiliki dan mengutamakan kehendak Allah di atas segala-galanya. Dengan demikian ciri kehidupan umat beriman seharusnya ditandai oleh sikap penyangkalan diri. Semakin kita mampu menyangkal diri, maka kita dimampukan untuk menyelamatkan nyawa dalam arti yang sesungguhnya. Sebab “nyawa” kita berhasil dikendalikan sedemikian rupa sehingga orientasi dari “nyawa” kita tersebut tetap terarah kepada Allah. Di kitab Kej. 17:1-2, Allah menyatakan diriNya kepada Abraham dengan suatu perjanjian kekal, yaitu: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak". Abraham dipanggil oleh Allah untuk hidup di hadapanNya dengan tidak bercela atau sempurna (Ibr “tamim”: perfect, complete) sebagai syarat terwujudnya ikatan perjanjian kekal. Di sini muncul suatu hubungan ide antara sikap menyangkal diri dengan hidup yang tidak bercela. Sebab bukankah salah satu tujuan utama dari penyangkalan diri adalah pola hidup yang benar, yaitu hidup yang tidak bercela di hadapan Allah dan sesama? Pada pihak lain suatu pola hidup yang tidak bercela tidaklah mungkin diwujudkan tanpa sikap penyangkalan diri. Kedua aspek sikap etis-moril tersebut ditempatkan di bawah otoritas Allah sebagai Yang Mahakuasa. Sebagaimana diketahui bahwa dalam penyataan kepada Abraham, Allah menyebut diriNya sebagai “Yang Mahakuasa” אל שדי ) ), “El Shaddai” yang berarti “to overpower” dan juga “to destroy”. Allah pada hakikatnya adalah Yang Mahakuasa dan yang mampu membinasakan setiap orang yang hidup bercela. Sehingga mereka yang tidak mau menyangkal diri, maka pastilah akan berhadapan dengan Allah Yang Mahakuasa. Dengan demikian makna menyangkal diri merupakan suatu panggilan yang mutlak, apabila manusia ingin tetap hidup dalam ikatan perjanjian kekal dengan Allah. Dengan arti yang sama, Tuhan Yesus juga menempatkan sikap menyangkal diri sebagai syarat utama untuk mengikut Dia: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mark. 8:34).
Di tengah-tengah zaman yang serba bebas dan modern ini kita sering mencoba untuk melunakkan makna menyangkal diri. Sebab kita sering mengalami kesulitan untuk hidup benar atau tanpa cela sebagai wujud dari sikap penyangkalan diri. Untuk itu makna penyangkalan diri sering terbatas pada upaya “membatasi” suatu kegemaran tertentu saja seperti: merokok, menonton film yang tidak senonoh, mengurangi makanan daging dan lemak, minuman yang beralkohol, pola hidup yang royal, dan sebagainya. Tentunya beberapa upaya “diet” yang bersengaja untuk membatasi diri tersebut di atas sangat positif dan bermanfaat. Tetapi perlu dipahami pula bahwa makna menyangkal diri lebih luas dan dalam dari pada sekedar upaya “diet” fisik dan “diet” rohaniah. Sebab tidak secara otomatis mereka yang memberlakukan “diet” fisik dan rohaniah mampu hidup benar dan tidak bercela di hadapan Allah. Kita mungkin berhasil hidup sehat secara jasmaniah dan rohaniah, tetapi justru sering gagal untuk mengendalikan hawa-nafsu dan keserakahan yang secara substansial lebih berbahaya dari pada sekedar tidak menonton film yang cabul atau hidup yang berhemat. Misalnya: tidak suka menonton film cabul tetapi suka mempraktekkan perzinahan, tidak suka royal dalam berbelanja tapi suka merebut hak milik orang lain, tidak suka minuman beralkohol tetapi suka menipu sesama, tidak suka merokok tetapi suka menyebar fitnah, tidak makan daging dan lemak tapi suka melampiaskan kemarahan. Sikap penyangkalan diri lebih terkait dengan kesediaan untuk terus mengendalikan seluruh elemen kepribadian yang cenderung dan menyukai apa yang bercela atau yang duniawi. Karena itu sikap penyangkalan diri senantiasa merupakan respon iman yang selalu bersedia untuk menilai keadaan diri sendiri secara jujur dan obyektif agar semakin tersedia ruang yang leluasa bagi karya pembaharuan Allah. Hasilnya adalah karya pembaharuan Allah yang akan memampukan kita untuk hidup benar di hadapanNya. Yang mana pola hidup benar tersebut kita lakukan berdasarkan panggilan iman, dan bukan karena ketaatan legalistik kepada hukum-hukum Allah. Dengan demikian pola kehidupan kita seperti yang dilakukan oleh Abraham, yang senantiasa dilandasi oleh iman yang kokoh kepada Allah. Rasul Paulus berkata: “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (Rom. 4:20-21).
Belajar Dari Iman AbrahamBapa Abraham sangat diberkati dengan kasih karunia Allah yang istimewa, tetapi pada pihak lain dia tidak segera memperoleh apa yang diinginkan. Sesungguhnya Abraham sejak dia menikah telah sangat merindukan kehadiran seorang anak yang dilahirkan oleh Sara. Tetapi sampai dia dan Sara berusia uzur, Allah belum mengaruniakan seorang anak. Padahal Abraham waktu itu telah berusia 99 tahun dan Sara berusia sekitar 89 tahun. Secara medis tidaklah mungkin seorang wanita dapat melahirkan dalam usia 80 tahun lebih, karena proses persalinannya akan sangat berbahaya. Juga tidaklah mungkin, dalam usia lanjut seorang wanita dapat melahirkan karena pastilah dia telah mati haid. Apa yang tidak mungkin terjadi secara manusiawi, secara khusus dalam kasus ini menjadi suatu kemungkinan. Padahal nama Abram yang artinya: bapa yang mulia/luhur diubah oleh Allah menjadi “Abraham” yang artinya: bapa orang banyak. Tetapi ternyata dia dan Sara dalam usia yang sangat lanjut tetap belum memiliki seorang anak. Selama proses penantian yang begitu panjang tentunya merupakan proses yang sangat sulit, berat, kadang timbul rasa bimbang, kuatir dan putus-asa. Tetapi satu hal yang tidak pernah berubah dalam diri Abraham adalah sikap iman dan kesetiaannya. Proses “penyangkalan diri” Abraham untuk melawan semua kebimbangannya atau rasa kuatirnya sebagai seorang manusia bukanlah suatu perkara yang gampang. Ritme imannya dapat “naik-turun”. Tetapi yang luar biasa Abraham tidak pernah kehilangan kesetiaan kepada Allah yang telah berjanji akan mengaruniakan keturunan yang banyaknya seperti bintang di langit (Kej. 15:5). Itu sebabnya rasul Paulus menyatakan: “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah” (Rom. 4:19-20). Tepatnya Abraham dalam menantikan janji Allah menjelang usia lanjut senantiasa dipenuhi oleh pergumulan yang sangat berat untuk melawan dan menyangkal kehendak dirinya untuk segera memperoleh seorang keturunan dari rahim Sara. Tetapi proses penyangkalan diri yang dilakukan oleh Abraham tersebut tidak didasarkan kepada kekuatan dan kemampuan dirinya, tetapi didasarkan kepada imannya yang percaya penuh kepada janji Allah di depan.
Dalam sikap penyangkalan diri untuk mengikut Kristus seharusnya kita mau meneladani sikap iman Abraham. Abraham tetap percaya kepada janji Allah di depan, walau dia sering dipenuhi oleh berbagai pergumulan dan ketidakpastian, rasa kuatir dan bimbang. Kegagalan kita untuk menyangkal diri disebabkan karena kita sering kehilangan perspektif iman ke depan. Masa depan sering kita anggap serba kelabu dan kelam, sehingga kita merasa tidaklah mungkin dapat mengalami realisasi dari janji Allah. Akibatnya kita kehilangan iman dan kesetiaan kepada Kristus. Penyangkalan diri bukanlah sekedar suatu upaya pembebasan diri dari belenggu dan godaan atau pencobaan di masa kini, tetapi juga suatu langkah untuk merealisasikan sikap iman yang selalu siap untuk menyambut uluran janji keselamatan Allah di depan. Itu sebabnya gambaran dari orang yang menyangkal diri dan mengikut salib tidak pernah ditempatkan di depan Tuhan Yesus, tetapi berada di belakang Tuhan Yesus. Kita seharusnya berjalan dengan iman di belakang Tuhan Yesus. Bahkan tepatnya Tuhan Yesus adalah manifestasi dari masa depan tersebut. Sehingga ketika Kristus berjalan menuju salib, maka seharusnya kita berjalan mengikuti Dia. Tetapi realitanya sikap kita seperti Petrus yang segera menegor Tuhan Yesus (Mark. 8:32). Kita menghendaki agar Kristus mau menjauh dari salib dan kematian agar Dia semakin leluasa untuk memperoleh kuasa dunia. Sehingga kalau Kristus memiliki seluruh kuasa dunia ini, bukankah kita juga beruntung sebab dapat memperoleh kuasa dunia tersebut? Pola pikir kita sering hanya memikirkan keinginan manusiawi, tetapi mengabaikan apa yang dipikirkan dan dikehendaki oleh Allah. Tetapi tidaklah demikian sikap Abraham, dia tetap mengedepankan sikap iman dan kesetiaannya agar seluruh kehendak dan rencana Allah terwujud sesuai dengan janjiNya.
PanggilanProses pengujian untuk menyangkal diri sangat nyata ketika harapan dan keinginan kita tidak terpenuhi dalam waktu yang singkat. Karena umumnya kita menghendaki dalam waktu singkat dapat meraih banyak hal dalam kehidupan ini. Itu sebabnya kita sering tidak sabar saat menantikan janji Allah yang kadang begitu lama perwujudannya. Mengikut Kristus membutuhkan kesabaran dan kerelaan untuk dipimpin ke arah yang Dia kehendaki. Bagi dunia, salib dan penderitaan merupakan cela. Tetapi bagi Allah, salib merupakan wujud dari dimensi kasih Allah yang membenarkan setiap orang percaya. Melalui salib Kristus, Allah menganugerahkan keselamatan agar umat hidup dalam perjanjian dan keselamatan kekal. Ini terjadi karena Kristus mau menyerahkan nyawaNya bagi kita. Jika demikian, bagaimanakah sikap kita: apakah kita lebih memilih mempertahankan nyawa; atau kita mau menyerahkan nyawa kita untuk kemuliaanNya? Selain itu apakah hidup kita terus terarah ke depan yaitu kepada Kristus yang menguasai seluruh kehidupan manusia? Ataukah hidup kita lebih terarah untuk merebut banyak hal agar kita merasa diri lebih kaya dan aman? Tuhan Yesus berkata: “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Mark. 8:35). Bagaimanakah jawaban saudara? Amin.
Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
RENUNGAN MINGGU, 8 MARET 2009
Tahun C: Pra-Paska II
Warna: Ungu
YANG MENYELAMATKAN NYAWA AKAN KEHILANGAN NYAWA
Kej. 17:1-7, 15-16; Mzm. 22:23-32; Rom. 4:13-25; Mark. 8:31-38
Pengantar
Naluri untuk menyelamatkan nyawa bukanlah hasil latihan dan didikan lingkungan, tetapi sesuatu yang sudah diberikan (“be given”) dari yang memberi hidup, yaitu Allah. Saat menghadapi suatu bahaya apapun kita akan segera refleks untuk melindungi dan menyelamatkan nyawa. Apabila kita tidak mampu melawan, karena kalah kuat ya kita akan segera memilih untuk melarikan diri. Saat kita terluka, maka kita akan segera mencari upaya untuk segera menghentikan luka tersebut. Saya ingat bagaimana seseorang yang paru-parunya mulai tidak berfungsi bersedia menjual apapun yang dimiliki agar dapat memiliki alat pacu untuk paru-parunya. Waktu itu saya memperoleh informasi bahwa harga alat pacu tersebut mencapai 1 milyar rupiah yang setiap hari harus dikontrol oleh beberapa orang dokter dan beberapa orang perawat. Saya tidak tahu biaya pengeluaran untuk operasional peralatan tersebut setiap bulan. Pasti keluarga tersebut harus mengeluarkan dana rutin di atas 50 juta rupiah setiap bulan agar dapat menjaga kelangsungan hidup dari orang yang mereka kasihi. Bahkan setiap mahluk hidup seperti hewan pada umumnya juga memiliki naluri yang sangat tinggi untuk menyelamatkan nyawanya. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka bersedia mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan yang ada, apakah dengan cara berlari sekencang-kencangnya, melakukan perlawanan yang sengit, mengeluarkan senjata berupa racun atau bisa yang dapat mematikan lawan atau menyembunyikan diri selama berminggu-minggu. Jika naluri menyelamatkan merupakan suatu karunia dari Tuhan agar setiap mahluk hidup khususnya manusia dapat tetap hidup, mengapa Tuhan Yesus justru berkata: “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Mark. 8:35).
Ajaran dan perkataan Tuhan Yesus sepertinya bertentangan dengan naluri yang telah diberikan oleh Allah kepada setiap umatNya. Bukankah kita justru mengecam orang-orang yang membiarkan nyawanya terancam tanpa ada upaya sama sekali, misalnya: tidak segera menghindar saat bahaya maut menerpa mereka, mengabaikan kesehatan dengan cara terlalu bekerja keras, sikap yang terlalu berani tanpa perhitungan, sengaja menempatkan diri dalam bahaya, atau tindakan yang dapat mengarah kepada bunuh diri? Bukankah nilai kehidupan ini begitu berharga? Nyawa setiap orang sangat berharga sehingga sistem keselamatan kerja dalam suatu seluruh bidang pekerjaan mutlak diberlakukan. Negara-negara maju telah menerapkan sistem asuransi kesehatan dan kecelakaan bagi setiap warga-negaranya agar mereka dapat memperoleh pelayanan medis yang baik saat mereka mengalami gangguan kesehatan atau mengalami musibah. Pada intinya disadari betapa berharganya nilai suatu kehidupan, sehingga perlu diperjuangkan dan dijaga secara bertanggungjawab. Itu sebabnya pasar alat kesehatan di Amerika Serikat tahun 2005 mencapai 80,3 miliar dollar, dan pada tahun 2010 akan mencapai angka 100 juta miliar dollar. Kemudian pasar global untuk alat-alat kedokteran implant mikroelektrik adalah 11,9 miliar dolar pada tahun 2004 diperkirakan akan meningkat rata-rata 22,1 persen per-tahun sehingga pada tahun 2009 ini akan mencapai 32,3 miliar dollar. Semua data tersebut mau menyatakan perlunya menjaga dan menyelamatkan nyawa sebagai suatu karunia Tuhan dengan sikap yang bertanggungjawab. Jika demikian, apa relevansinya ajaran dan perkataan Tuhan Yesus tersebut dalam kehidupan kita? Tentunya yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus dengan makna “menyelamatkan nyawa” tidak terkait dengan tugas kewajiban dan tanggungjawab kita untuk menjaga keselamatan nyawa saat kita menghadapi suatu bahaya sebagaimana diuraikan di atas. Sebab kewajiban dan tanggungjawab untuk menjaga keselamatan nyawa telah menjadi suatu hukum alam yang perlu diwujudkan dalam suatu sistem dan pola kehidupan yang lebih beradab, sehingga setiap orang tanpa terkecuali juga bertanggungjawab atas keselamatan nyawa sesamanya.
Memperoleh Dunia
Ungkapan “nyawa” jelas menunjuk kepada esensi yang paling fundamental dalam kehidupan manusia. Dalam konteks ini pengertian “nyawa” diidentiikan dengan “roh” yang pada hakikatnya menunjuk kepada keseluruhan diri atau hakikat dari kepribadian manusia. Sehingga sikap berkorban dengan mempertaruhkan nyawa (put life on the line) berarti memberikan sesuatu yang paling berharga atau segala-galanya dari keseluruhan diri. Tidak ada yang lebih tinggi dari pada sikap mau berkorban dengan rela kehilangan nyawa untuk keselamatan orang lain. Pemahaman inilah yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ketika Dia menyampaikan misi kedatanganNya ke dunia ini, yaitu untuk memenuhi ketetapan Ilahi yang harus menanggung banyak penderitaan, ditolak oleh para pemimpin agama lalu dibunuh tetapi bangkit sesudah tiga hari (Mark. 8:31). Tetapi bagi para murid, khususnya Petrus sikap Tuhan Yesus tersebut sungguh mengejutkan. Mereka percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Messias Allah, tetapi sulit bagi mereka untuk menerima kenyataan apabila Dia harus menderita lalu dibunuh. Bagi mereka, seorang Messias senantiasa ditandai oleh kemenangan demi kemenangan, kesuksesan demi kesuksesan dan tentunya memiliki kuasa untuk memiliki apa yang dia kehendaki. Tepatnya Messias yang mereka harapkan adalah seorang Messias pembebas dan penakluk yang memiliki kuasa politik dan militer yang hebat sehingga kuasa penjajahan dari bangsa Roma dapat dipatahkan. Itu sebabnya ketika mereka melihat kuasa Ilahi yang dinyatakan dalam diri Tuhan Yesus, timbullah pengharapan dan kerinduan yang semakin menguat bahwa Dia dapat menjadi seorang Messias yang mampu mengalahkan atau menaklukkan kekuasaan dan penjajahan bangsa Romawi. Bahkan di dalam diri Yesus, mereka mengharapkan peran sebagai Messias yang mampu menaklukkan seluruh kerajaan dunia di bawah kekuasaan militer atau politik dari kerajaan yang didirikanNya. Sehingga dengan gambaran Messias demikian, para murid Yesus mengharapkan bahwa Tuhan Yesus dapat memperoleh seluruh dunia dan kekuasaannya. Jadi inti pengharapan para murid Yesus pada prinsipnya didasarkan kepada pemahaman bahwa kekuasaan yang besar dapat dipakai untuk memperoleh kekayaan dunia yang sebesar-besarnya.
Kita sering memaknai arti menyelamatkan nyawa dengan pola berpikir/pengertian para murid Yesus. Semakin kita diserahi atau dapat memiliki kekuasaan yang besar, maka kita merasa berhak untuk memperoleh kekayaan dunia yang sebesar-besarnya. Tidaklah mengherankan jikalau kekuasaan dalam berbagai bentuk seringkali dikejar dengan cara apapun agar kita dapat memanfaatkan kekuasaan tersebut untuk kepentingan duniawi. Begitu banyak orang yang bersedia mempertaruhkan nyawa mereka agar mereka mencapai kekuasaan atau posisi yang sebesar-besarnya. Mereka menjadi orang-orang yang sangat ambisius, mabuk kekuasaan dan kerap tidak segan untuk menghalalkan segala macam cara. Seakan-akan apabila mereka dapat menguasai dan memperoleh banyak hal dari dunia ini, mereka berhasil menyelamatkan nyawanya. Arti “nyawa” dalam konteks ini dihayati sebagai kekuatan yang dihidupi oleh berbagai dorongan ambisi dan dilengkapi oleh berbagai macam strategi untuk meraih banyak hal. Sehingga arti “menyelamatkan nyawa” identik dengan kemampuan untuk meraih semua hal yang diinginkan. Akibatnya apabila ada orang yang merasa tidak berhasil meraih semua hal yang diinginkan, maka dia menganggap dirinya tidak berhasil “menyelamatkan nyawanya”. Dia menganggap dirinya telah kalah atau gagal meraih kemenangan dalam kehidupan ini. Itu sebabnya orang-orang dengan filosofi demikian berupaya untuk selalu merebut, mengambil, dan merampas apa saja yang dia inginkan walaupun dengan konsekuensi banyak sesama yang akan menjadi korbannya. Mereka mencoba untuk membangun kebahagiaan dan kemenangan palsu di atas penderitaan dan ketidakberdayaan orang lain. Nyawa orang yang demikian lebih tepat disebut sebagai nyawa orang serakah sebab hatinya tidak pernah puas dan mensyukuri berkat Tuhan yang telah dia terima. Karena dia tidak pernah mensyukuri berkat Tuhan yang ada, maka dia ingin selalu merebut berkat Tuhan yang telah dimiliki oleh sesamanya. Padahal semua ambisi dan keserakahan tersebut justru merupakan tanda dari kemiskinan hatinya atau nyawa yang telah binasa sebab telah menjauhkan diri dari rahmat dan keselamatan Allah. Sehingga sangatlah tepat ketika Tuhan Yesus berkata: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? “ (Mark. 8:36-37).
Menyangkal Diri
Panggilan Kristus untuk menyangkal diri sangatlah bertolak belakang dengan upaya untuk memperoleh isi dan kuasa dunia. Sebab makna “menyangkal diri” justru secara bersengaja menolak untuk bersikap serakah, tidak haus kekuasaan, mampu mengendalikan hawa-nafsu, mencukupkan diri dengan berkat yang dimiliki dan mengutamakan kehendak Allah di atas segala-galanya. Dengan demikian ciri kehidupan umat beriman seharusnya ditandai oleh sikap penyangkalan diri. Semakin kita mampu menyangkal diri, maka kita dimampukan untuk menyelamatkan nyawa dalam arti yang sesungguhnya. Sebab “nyawa” kita berhasil dikendalikan sedemikian rupa sehingga orientasi dari “nyawa” kita tersebut tetap terarah kepada Allah. Di kitab Kej. 17:1-2, Allah menyatakan diriNya kepada Abraham dengan suatu perjanjian kekal, yaitu: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak". Abraham dipanggil oleh Allah untuk hidup di hadapanNya dengan tidak bercela atau sempurna (Ibr “tamim”: perfect, complete) sebagai syarat terwujudnya ikatan perjanjian kekal. Di sini muncul suatu hubungan ide antara sikap menyangkal diri dengan hidup yang tidak bercela. Sebab bukankah salah satu tujuan utama dari penyangkalan diri adalah pola hidup yang benar, yaitu hidup yang tidak bercela di hadapan Allah dan sesama? Pada pihak lain suatu pola hidup yang tidak bercela tidaklah mungkin diwujudkan tanpa sikap penyangkalan diri. Kedua aspek sikap etis-moril tersebut ditempatkan di bawah otoritas Allah sebagai Yang Mahakuasa. Sebagaimana diketahui bahwa dalam penyataan kepada Abraham, Allah menyebut diriNya sebagai “Yang Mahakuasa” אל שדי ) ), “El Shaddai” yang berarti “to overpower” dan juga “to destroy”. Allah pada hakikatnya adalah Yang Mahakuasa dan yang mampu membinasakan setiap orang yang hidup bercela. Sehingga mereka yang tidak mau menyangkal diri, maka pastilah akan berhadapan dengan Allah Yang Mahakuasa. Dengan demikian makna menyangkal diri merupakan suatu panggilan yang mutlak, apabila manusia ingin tetap hidup dalam ikatan perjanjian kekal dengan Allah. Dengan arti yang sama, Tuhan Yesus juga menempatkan sikap menyangkal diri sebagai syarat utama untuk mengikut Dia: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mark. 8:34).
Di tengah-tengah zaman yang serba bebas dan modern ini kita sering mencoba untuk melunakkan makna menyangkal diri. Sebab kita sering mengalami kesulitan untuk hidup benar atau tanpa cela sebagai wujud dari sikap penyangkalan diri. Untuk itu makna penyangkalan diri sering terbatas pada upaya “membatasi” suatu kegemaran tertentu saja seperti: merokok, menonton film yang tidak senonoh, mengurangi makanan daging dan lemak, minuman yang beralkohol, pola hidup yang royal, dan sebagainya. Tentunya beberapa upaya “diet” yang bersengaja untuk membatasi diri tersebut di atas sangat positif dan bermanfaat. Tetapi perlu dipahami pula bahwa makna menyangkal diri lebih luas dan dalam dari pada sekedar upaya “diet” fisik dan “diet” rohaniah. Sebab tidak secara otomatis mereka yang memberlakukan “diet” fisik dan rohaniah mampu hidup benar dan tidak bercela di hadapan Allah. Kita mungkin berhasil hidup sehat secara jasmaniah dan rohaniah, tetapi justru sering gagal untuk mengendalikan hawa-nafsu dan keserakahan yang secara substansial lebih berbahaya dari pada sekedar tidak menonton film yang cabul atau hidup yang berhemat. Misalnya: tidak suka menonton film cabul tetapi suka mempraktekkan perzinahan, tidak suka royal dalam berbelanja tapi suka merebut hak milik orang lain, tidak suka minuman beralkohol tetapi suka menipu sesama, tidak suka merokok tetapi suka menyebar fitnah, tidak makan daging dan lemak tapi suka melampiaskan kemarahan. Sikap penyangkalan diri lebih terkait dengan kesediaan untuk terus mengendalikan seluruh elemen kepribadian yang cenderung dan menyukai apa yang bercela atau yang duniawi. Karena itu sikap penyangkalan diri senantiasa merupakan respon iman yang selalu bersedia untuk menilai keadaan diri sendiri secara jujur dan obyektif agar semakin tersedia ruang yang leluasa bagi karya pembaharuan Allah. Hasilnya adalah karya pembaharuan Allah yang akan memampukan kita untuk hidup benar di hadapanNya. Yang mana pola hidup benar tersebut kita lakukan berdasarkan panggilan iman, dan bukan karena ketaatan legalistik kepada hukum-hukum Allah. Dengan demikian pola kehidupan kita seperti yang dilakukan oleh Abraham, yang senantiasa dilandasi oleh iman yang kokoh kepada Allah. Rasul Paulus berkata: “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (Rom. 4:20-21).
Belajar Dari Iman AbrahamBapa Abraham sangat diberkati dengan kasih karunia Allah yang istimewa, tetapi pada pihak lain dia tidak segera memperoleh apa yang diinginkan. Sesungguhnya Abraham sejak dia menikah telah sangat merindukan kehadiran seorang anak yang dilahirkan oleh Sara. Tetapi sampai dia dan Sara berusia uzur, Allah belum mengaruniakan seorang anak. Padahal Abraham waktu itu telah berusia 99 tahun dan Sara berusia sekitar 89 tahun. Secara medis tidaklah mungkin seorang wanita dapat melahirkan dalam usia 80 tahun lebih, karena proses persalinannya akan sangat berbahaya. Juga tidaklah mungkin, dalam usia lanjut seorang wanita dapat melahirkan karena pastilah dia telah mati haid. Apa yang tidak mungkin terjadi secara manusiawi, secara khusus dalam kasus ini menjadi suatu kemungkinan. Padahal nama Abram yang artinya: bapa yang mulia/luhur diubah oleh Allah menjadi “Abraham” yang artinya: bapa orang banyak. Tetapi ternyata dia dan Sara dalam usia yang sangat lanjut tetap belum memiliki seorang anak. Selama proses penantian yang begitu panjang tentunya merupakan proses yang sangat sulit, berat, kadang timbul rasa bimbang, kuatir dan putus-asa. Tetapi satu hal yang tidak pernah berubah dalam diri Abraham adalah sikap iman dan kesetiaannya. Proses “penyangkalan diri” Abraham untuk melawan semua kebimbangannya atau rasa kuatirnya sebagai seorang manusia bukanlah suatu perkara yang gampang. Ritme imannya dapat “naik-turun”. Tetapi yang luar biasa Abraham tidak pernah kehilangan kesetiaan kepada Allah yang telah berjanji akan mengaruniakan keturunan yang banyaknya seperti bintang di langit (Kej. 15:5). Itu sebabnya rasul Paulus menyatakan: “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah” (Rom. 4:19-20). Tepatnya Abraham dalam menantikan janji Allah menjelang usia lanjut senantiasa dipenuhi oleh pergumulan yang sangat berat untuk melawan dan menyangkal kehendak dirinya untuk segera memperoleh seorang keturunan dari rahim Sara. Tetapi proses penyangkalan diri yang dilakukan oleh Abraham tersebut tidak didasarkan kepada kekuatan dan kemampuan dirinya, tetapi didasarkan kepada imannya yang percaya penuh kepada janji Allah di depan.
Dalam sikap penyangkalan diri untuk mengikut Kristus seharusnya kita mau meneladani sikap iman Abraham. Abraham tetap percaya kepada janji Allah di depan, walau dia sering dipenuhi oleh berbagai pergumulan dan ketidakpastian, rasa kuatir dan bimbang. Kegagalan kita untuk menyangkal diri disebabkan karena kita sering kehilangan perspektif iman ke depan. Masa depan sering kita anggap serba kelabu dan kelam, sehingga kita merasa tidaklah mungkin dapat mengalami realisasi dari janji Allah. Akibatnya kita kehilangan iman dan kesetiaan kepada Kristus. Penyangkalan diri bukanlah sekedar suatu upaya pembebasan diri dari belenggu dan godaan atau pencobaan di masa kini, tetapi juga suatu langkah untuk merealisasikan sikap iman yang selalu siap untuk menyambut uluran janji keselamatan Allah di depan. Itu sebabnya gambaran dari orang yang menyangkal diri dan mengikut salib tidak pernah ditempatkan di depan Tuhan Yesus, tetapi berada di belakang Tuhan Yesus. Kita seharusnya berjalan dengan iman di belakang Tuhan Yesus. Bahkan tepatnya Tuhan Yesus adalah manifestasi dari masa depan tersebut. Sehingga ketika Kristus berjalan menuju salib, maka seharusnya kita berjalan mengikuti Dia. Tetapi realitanya sikap kita seperti Petrus yang segera menegor Tuhan Yesus (Mark. 8:32). Kita menghendaki agar Kristus mau menjauh dari salib dan kematian agar Dia semakin leluasa untuk memperoleh kuasa dunia. Sehingga kalau Kristus memiliki seluruh kuasa dunia ini, bukankah kita juga beruntung sebab dapat memperoleh kuasa dunia tersebut? Pola pikir kita sering hanya memikirkan keinginan manusiawi, tetapi mengabaikan apa yang dipikirkan dan dikehendaki oleh Allah. Tetapi tidaklah demikian sikap Abraham, dia tetap mengedepankan sikap iman dan kesetiaannya agar seluruh kehendak dan rencana Allah terwujud sesuai dengan janjiNya.
PanggilanProses pengujian untuk menyangkal diri sangat nyata ketika harapan dan keinginan kita tidak terpenuhi dalam waktu yang singkat. Karena umumnya kita menghendaki dalam waktu singkat dapat meraih banyak hal dalam kehidupan ini. Itu sebabnya kita sering tidak sabar saat menantikan janji Allah yang kadang begitu lama perwujudannya. Mengikut Kristus membutuhkan kesabaran dan kerelaan untuk dipimpin ke arah yang Dia kehendaki. Bagi dunia, salib dan penderitaan merupakan cela. Tetapi bagi Allah, salib merupakan wujud dari dimensi kasih Allah yang membenarkan setiap orang percaya. Melalui salib Kristus, Allah menganugerahkan keselamatan agar umat hidup dalam perjanjian dan keselamatan kekal. Ini terjadi karena Kristus mau menyerahkan nyawaNya bagi kita. Jika demikian, bagaimanakah sikap kita: apakah kita lebih memilih mempertahankan nyawa; atau kita mau menyerahkan nyawa kita untuk kemuliaanNya? Selain itu apakah hidup kita terus terarah ke depan yaitu kepada Kristus yang menguasai seluruh kehidupan manusia? Ataukah hidup kita lebih terarah untuk merebut banyak hal agar kita merasa diri lebih kaya dan aman? Tuhan Yesus berkata: “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Mark. 8:35). Bagaimanakah jawaban saudara? Amin.
Motivasi

Motivasi
Oleh : Pdt. Dr. Erastus Sabdono
Saudara-saudaraku jemaat Tuhan yang kekasih,
Selama ini kita sering menyebut-nyebut kata motivasi. Biasanya kata motivasi dalam lingkungan Gereja dikaitkan dengan pelayanan atau pengiringan kepada Tuhan Yesus. Sebelum membahas hal kemurnian motivasi pelayanan, terlebih dahulu perlu ditinjau apa yang dimaksud dengan motivasi itu. Motivasi berasal dari bahasa latin movere yang artinya bergerak. Kata movere memberikan impresi yang jelas atau menunjuk sesuatu yang aktif, dinamis dan juga bisa menunjukkan sesuatu yang berkembang atau progresif. Secara etimologis (asal usul kata); kata motivasi berasal dari kata motif, yang artinya dorongan, kehendak alasan atau kemauan. Maka motivasi adalah dorongan-dorongan (forces) yang membangkitkan dan menggerakkan kelakuan individu. Motivasi bukanlah tingkah laku, melainkan kondisi internal yang komplek, dan tidak dapat diamati secara langsung, akan tetapi mempengaruhi tingkah laku seseorang. Itulah sebabnya kita dapat melihat motivasi seseorang berdasarkan tingkah lakunya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didiskripsikan bahwa motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Deskripsi ini memiliki kesamaan dengan pengertian motivasi di atas bila ditinjau dari etimologinya, yaitu movere. Dengan penjelasan diatas ini dapatlah ditarik konklusi bahwa motivasi menunjuk kepada sikap hati yang menghasilkan suatu dorongan untuk berbuat sesuatu secara konkret. Itulah sebabnya dalam bukunya yang berjudul Teori Motivasi, penulisnya mengatakan bahwa motivasi menentukan kuat-lemahnya tingkah laku atau gerakan untuk mencapai tujuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Pada dasarnya motivasi timbul karena dilandaskan pada kebutuhan-kebutuhan manusia yang harus dipenuhi.
Seorang penulis buku lain mengatakan mengenai motivasi sebagai berikut: Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan, tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan. Sejajar dengan ungkapan pernyataan diatas, penulis lain juga mengatakan bahwa motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Motif yang dimaksud ialah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Dalam ungkapannya tersebut hendak menekankan bahwa motivasi merupakan proses yang menggerakkan sebuah kegiatan atau proyek demi tercapainya sebuah tujuan tertentu dengan melahirkan atau menciptakan motif-motif lain sebagai pendukungnya.
Berkenaan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam motivasi, seorang penulis buku mengenai motivasi dari Barat mengatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya rasa dan tanggapan terhadap adanya tujuan. Selanjutnya ia mengemukakan bahwa motivasi sangat berkorelasi dengan tujuan. Jika tidak ada motivasi maka tujuannya pun tidak jelas. Disini nyatalah bahwa motivasi adalah daya penggerak yang telah diaktifkan.
Fenomena ini ditegaskan oleh pendapat tokoh pemikir yang bernama Callahan dan Clark bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Jadi berbicara mengenai kemurnian motivasi, maka hendak dijabarkan mengenai motivasi yang seharusnya dimiliki seorang anak Tuhan dan pelayan Tuhan dalam Gereja Tuhan. Tidak ada motivasi lain dalam hidup kita kecuali mengenal Dia untuk mengabdi kepadaNya. Diluar hal ini berarti pemberontakan dan menuju kebinasaan, api kekal.
Subscribe to:
Posts (Atom)
