By: Wignyo Tanto
Sebenarnya mukjizat terbesar adalah ketika manusia yang tadinya tidak mengenal Kebenaran lalu mulai mengenal, belajar, lalu mengerti, sehingga terjadi perubahan pola pikir.
Perubahan pola pikir ini akan memicu perubahan-perubahan yang lain, perubahan gaya hidup, perubahan tingkah laku, perubahan perasaan, dan perubahan sikap terhadap hidup ini sebagai manusia ciptaan Tuhan.
Inilah yang dimaksudkan oleh Paulus dengan Metamorfousthe (μεταμορφουσθε) di Roma 12:2, yaitu pembaruan cara berpikir.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Roma 12:2
Friday, June 7, 2013
Wednesday, April 3, 2013
Menjadi Orang yang Diharapkan Tuhan
Oleh : Pdt.Dr. Erastus Sabdono
Diambil dari warta Rehobot.
Ciri dan ukuran seseorang mengasihi Tuhan dengan benar adalah dari dalam dirinya ada gejolak sungguh-sungguh merindukan kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh Allah. Ini merupakan kebutuhan yang penting dan mendesak dari segala kebutuhan. Ini berarti seseorang yang menyatakan mengasihi Tuhan harus mengejar kekudusan seperti kekudusanNya atau kesempurnaan Bapa (Mat. 5:48). Hal ini harus merupakan perjuangan yang tiada henti sampai menutup mata. Sebuah perjuangan yang tidak ringan, sebab melibatkan seluruh kehidupannya. Inilah sebenarnya kunci kehidupan yang terpenting dalam kekristenan yang harus dimiliki setiap orang yang sudah diselamatkan.
Orang-orang yang mengasihi Tuhan memiliki hati yang takut akan Tuhan. Tentu takut karena mengasihi dan menghormati Tuhan. Oleh sebab itu yang harus paling dipersoalkan dalam hidup orang percaya setiap hari adalah "apakah kita benar-benar mau tunduk kepada Tuhan". Ketertundukan disini diukur dari seberapa kita bersedia melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Seseorang tidak bisa dikatakan menghormati bila tidak melakukan keinginan pribadi yang kepadanya dirinya tunduk. Dalam ketertundukan tersebut, seseorang rela melepaskan segala sesuatu demi kepentinganNya. Ia akan bersungguh-sungguh serius bergumul untuk menemukan tempat dimana ia dapat mengabdi melayani Tuhan. Ia juga akan dapat memahami apa yang dianggapnya sebagai kepentinganNya, sebab banyak kegiatan gereja yang dianggap sebagai kepentingan Tuhan, padahal kepentingan pribadi manusia.
Perlu diingatkan bahwa setiap orang diciptakan Tuhan dengan keadaan yang sangat khusus. Allah merancang dengan teliti dan memberikan kecerdasanNya yang sempurna agar kita melakukan kehendakNya. Jadi setiap orang di dalam hidupnya pasti mengandung, memuat atau memikul rencana Allah yang besar. Kalau Tuhan tidak memakai seseorang sebagai alatNya, sebab ia tidak pantas untuk itu, berarti ia menjadikan dirinya sampah abadi. Seseorang yang tidak melayani Tuhan berarti tidak tunduk kepadaNya. Melayani Tuhan bukan berarti aktif di gereja, tetapi menjadi berkat bagi orang di sekitarnya. Menjadi berkat artinya melalui hidup seorang anak Tuhan, orang lain bertumbuh dalam Tuhan dan diselamatkan. Untuk ini harus ada sesuatu yang dilakukan di bawah komandoNya. Untuk menangkap komando Tuhan, seseorang harus mengerti kebenaran Firman Tuhan agar memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah.
Memperjuangkan rencana Allah harus dilakukan tiada henti, sampai waktu yang akan menghentikannya.
Diambil dari warta Rehobot.
Ciri dan ukuran seseorang mengasihi Tuhan dengan benar adalah dari dalam dirinya ada gejolak sungguh-sungguh merindukan kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh Allah. Ini merupakan kebutuhan yang penting dan mendesak dari segala kebutuhan. Ini berarti seseorang yang menyatakan mengasihi Tuhan harus mengejar kekudusan seperti kekudusanNya atau kesempurnaan Bapa (Mat. 5:48). Hal ini harus merupakan perjuangan yang tiada henti sampai menutup mata. Sebuah perjuangan yang tidak ringan, sebab melibatkan seluruh kehidupannya. Inilah sebenarnya kunci kehidupan yang terpenting dalam kekristenan yang harus dimiliki setiap orang yang sudah diselamatkan.
Orang-orang yang mengasihi Tuhan memiliki hati yang takut akan Tuhan. Tentu takut karena mengasihi dan menghormati Tuhan. Oleh sebab itu yang harus paling dipersoalkan dalam hidup orang percaya setiap hari adalah "apakah kita benar-benar mau tunduk kepada Tuhan". Ketertundukan disini diukur dari seberapa kita bersedia melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Seseorang tidak bisa dikatakan menghormati bila tidak melakukan keinginan pribadi yang kepadanya dirinya tunduk. Dalam ketertundukan tersebut, seseorang rela melepaskan segala sesuatu demi kepentinganNya. Ia akan bersungguh-sungguh serius bergumul untuk menemukan tempat dimana ia dapat mengabdi melayani Tuhan. Ia juga akan dapat memahami apa yang dianggapnya sebagai kepentinganNya, sebab banyak kegiatan gereja yang dianggap sebagai kepentingan Tuhan, padahal kepentingan pribadi manusia.
Perlu diingatkan bahwa setiap orang diciptakan Tuhan dengan keadaan yang sangat khusus. Allah merancang dengan teliti dan memberikan kecerdasanNya yang sempurna agar kita melakukan kehendakNya. Jadi setiap orang di dalam hidupnya pasti mengandung, memuat atau memikul rencana Allah yang besar. Kalau Tuhan tidak memakai seseorang sebagai alatNya, sebab ia tidak pantas untuk itu, berarti ia menjadikan dirinya sampah abadi. Seseorang yang tidak melayani Tuhan berarti tidak tunduk kepadaNya. Melayani Tuhan bukan berarti aktif di gereja, tetapi menjadi berkat bagi orang di sekitarnya. Menjadi berkat artinya melalui hidup seorang anak Tuhan, orang lain bertumbuh dalam Tuhan dan diselamatkan. Untuk ini harus ada sesuatu yang dilakukan di bawah komandoNya. Untuk menangkap komando Tuhan, seseorang harus mengerti kebenaran Firman Tuhan agar memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah.
Memperjuangkan rencana Allah harus dilakukan tiada henti, sampai waktu yang akan menghentikannya.
Tuesday, February 26, 2013
Cepat Bertobat dan Memperbaiki Diri
Oleh : Pdt.Dr. Erastus Sabdono
Waktu sedemikian cepatnya berlalu dan kita akan memasuki tahun yang baru lagi. Kalau kita ambil waktu sejenak dan berpikir, sesungguhnya apa yang baru? Pengkotbah berkata, "Tak ada yang baru di bawah matahari" (Pkh. 1:9). Matahari tetap terbit di timur dan terbenam di sebelah barat, bumi tetap berputar pada porosnya mengelilingi matahari dan bulan tetap mengelilingi bumi. Rutinitas semesta. Meskipun demikian, kita tetap bergerak dalam perjalanan di dimensi waktu. Waktu yang selalu baru bagi kita, dan kita dapat bergerak mundur. Dengan berubahnya angka tahun dalam kalender kita, yang baru adalah kebaruan itu sendiri. Kasih setia Tuhan selalu baru tiap pagi (Rat. 3:23), demikian pula harapan dan masalah. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia akan memakai segala kejadian untuk penyempurnaan iman kita.
Semua pengalaman hidup kita, yang menyenangkan maunpun menyakitkan, merupakan sarana pembentukan pribadi kita sekaligus pengumpulan berkat abadi berupa kekayaan dalam Kerajaan Surga. Inilah pengharapan yang bernilai kekal yang membuat hidup kita semakin bergairah dan selalu teringat akan prestasi kehidupan yang tertinggi dan termulia yang dapat diraih setiap individu yaitu kesucian hidup. Mari kita terus memperhatikan hal ini. Dunia hari ini telah membuat manusia dipenuhi oleh berbagai pengharapan terutama pada kekayaan duniawi dan segala kesenangannya sehingga gairah untuk hidup dalam kesucian telah tersingkir oleh berbagai harapan dan cita-cita fana. Dengan memiliki watak ilahi, selera hidup kita menjadi selaras dengan Tuhan. Dengan demikian kesucian hidup kita akan tampak bukan pada cara hidup kita yang kasat mata secara lahiriah, seperti patuh atau tunduk kepada hukum atau peraturan, melainkan pada kelemahlembutan dan kasih tulus yang kita pancarkan. Bagaimana kesucian hidup seseorang akan terpancar dari seluruh sikap hidupnya, seluruh gerak tubuh dan perkataannya. Seseorang tidak mudah menyembunyikan watak aslinya. Tanpa harus memperhatikan sikap hidupnya setiap hari dalam waktu yang panjang, dari beberapa gejala yang ditampilkan dalam pergaulan dan pernyataan-pernyataan mulutnya pun sudah tampak kualitas kesuciannya. Untuk mengalami pertumbuhan kesucian yang baik, kita harus memiliki kerinduan yang kuat untuk memahami semua yang dikehendaki Bapa atas hidup kita, lalu berusaha memenuhi apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukan. Tidak ada yang sulit kalau sudah dilakukan dan dibiasakan. Ini akan menggerakkan kita memperhatikan langkah kita setiap detik, menit dan jam, apakah segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan kehendakNya? Mari bertobat jika berbuat salah dan memperbaikinya. Jadikan melakukan kehendak Tuhan sebagai kebiasaan, sampai kita tidak usah memaksa diri. Kiranya ini menjadi renungan untuk kita semakin lebih baik di tahun yang sesaat lagi berganti.
Waktu sedemikian cepatnya berlalu dan kita akan memasuki tahun yang baru lagi. Kalau kita ambil waktu sejenak dan berpikir, sesungguhnya apa yang baru? Pengkotbah berkata, "Tak ada yang baru di bawah matahari" (Pkh. 1:9). Matahari tetap terbit di timur dan terbenam di sebelah barat, bumi tetap berputar pada porosnya mengelilingi matahari dan bulan tetap mengelilingi bumi. Rutinitas semesta. Meskipun demikian, kita tetap bergerak dalam perjalanan di dimensi waktu. Waktu yang selalu baru bagi kita, dan kita dapat bergerak mundur. Dengan berubahnya angka tahun dalam kalender kita, yang baru adalah kebaruan itu sendiri. Kasih setia Tuhan selalu baru tiap pagi (Rat. 3:23), demikian pula harapan dan masalah. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia akan memakai segala kejadian untuk penyempurnaan iman kita.
Semua pengalaman hidup kita, yang menyenangkan maunpun menyakitkan, merupakan sarana pembentukan pribadi kita sekaligus pengumpulan berkat abadi berupa kekayaan dalam Kerajaan Surga. Inilah pengharapan yang bernilai kekal yang membuat hidup kita semakin bergairah dan selalu teringat akan prestasi kehidupan yang tertinggi dan termulia yang dapat diraih setiap individu yaitu kesucian hidup. Mari kita terus memperhatikan hal ini. Dunia hari ini telah membuat manusia dipenuhi oleh berbagai pengharapan terutama pada kekayaan duniawi dan segala kesenangannya sehingga gairah untuk hidup dalam kesucian telah tersingkir oleh berbagai harapan dan cita-cita fana. Dengan memiliki watak ilahi, selera hidup kita menjadi selaras dengan Tuhan. Dengan demikian kesucian hidup kita akan tampak bukan pada cara hidup kita yang kasat mata secara lahiriah, seperti patuh atau tunduk kepada hukum atau peraturan, melainkan pada kelemahlembutan dan kasih tulus yang kita pancarkan. Bagaimana kesucian hidup seseorang akan terpancar dari seluruh sikap hidupnya, seluruh gerak tubuh dan perkataannya. Seseorang tidak mudah menyembunyikan watak aslinya. Tanpa harus memperhatikan sikap hidupnya setiap hari dalam waktu yang panjang, dari beberapa gejala yang ditampilkan dalam pergaulan dan pernyataan-pernyataan mulutnya pun sudah tampak kualitas kesuciannya. Untuk mengalami pertumbuhan kesucian yang baik, kita harus memiliki kerinduan yang kuat untuk memahami semua yang dikehendaki Bapa atas hidup kita, lalu berusaha memenuhi apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukan. Tidak ada yang sulit kalau sudah dilakukan dan dibiasakan. Ini akan menggerakkan kita memperhatikan langkah kita setiap detik, menit dan jam, apakah segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan kehendakNya? Mari bertobat jika berbuat salah dan memperbaikinya. Jadikan melakukan kehendak Tuhan sebagai kebiasaan, sampai kita tidak usah memaksa diri. Kiranya ini menjadi renungan untuk kita semakin lebih baik di tahun yang sesaat lagi berganti.
Wednesday, January 30, 2013
Menjadi Seorang yang Mempersiapkan Diri
Oleh : Pdt. Dr. Erastus Sabdono
Tidak terasa kita sudah di awal tahun 2013. Kita mengakui bahwa kehidupan ini bisa berlangsung karena kehadiran Tuhan di dalamnya. Senantiasa kita diingatkan akan kehidupan yang akan datang. Kalau demi hal-hal yang tidak pasti tersebut kita bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya, mengapa untuk hal yang pasti kita akan alami, tidak kita persiapkan diri lebih serius? Ingatlah bahwa kuasa kegelapan berusaha membuat manusia melupakan realitas kematian ini. Berbagai filosofi hidup yang salah disuntikkan ke dalam pikiran melalui berbagai media, agar manusia tidak mempedulikan realitas tersebut. Demikianlah kenyataannya, bahwa banyak orang kini menggulirkan hari hidupnya tanpa kesadaran sama sekali bahwa hari hidupnya tersebut bisa berhenti setiap saat. Mereka bersikap seakan-akan perjalanan hidup ini akan berlangsung tiada akhir. Mereka berpikir kematian bukan bagian hidup mereka. Betapa malangnya. Kenyataan yang bisa dilihat dengan jelas, banyak orang yang hanyut dan tenggelam dengan berbagai kegiatan, kesibukan, masalah dan lain sebagainya sedang dibawa ke pembantaian abadi atau dipersiapkan menjadi sampah kekal.
Karena kematian adalah realitas yang tidak pernah diprediksi kapan terjadinya, maka persiapan harus dilakukan sejak sekarang. Ya, selalu sekarang. Untuk ini pertobatan harus dilakukan sekarang, tiap hari. Sepanjang tahun 2012, jangan-jangan kita tidak melakukan pertobatan yang serius sampai akhirnya mungkin kita tidak menyadari kesalahan/dosa yang terus menerus kita lakukan. Hari ini kita diberi kesempatan untuk mempersiapkannya kembali, berjaga-jaga dengan doa yang tak berkeputusan, suatu relasi yang dibangun dengan Tuhan. Banyak hal yang bisa diabaikan dan dianggap tidak penting. Yang tidak penting harus bisa disingkirkan, tetapi persiapan menyongsong kematian tidak boleh ditunda. Ini harus dianggap penting dan darurat. Kita harus selalu berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir kita hidup. Besok tidak ada kesempatan lagi. Jadi setiap kali disebut hari ini, berarti kesempatan sangat berharga untuk membenahi diri. Bila kita membiasakan diri memiliki sikap seperti ini, maka barulah kita pahami dan dapat melakukan apa yang dimaksud dengan mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaranNya (Mat. 6:33).
Karena rahmat Allah telah melahirkan kita kembali kepada suatu hidup yang penuh harapan, selalu ada kesempatan bagi setiap orang yang mau serius mempersiapkan diri menjadikannya sebuah pengharapan yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu yang tersimpan di Sorga bagi kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia akan memakai segala kejadian untuk penyempurnaan iman kita. Semua pengalaman hidup kita, yang menyenangkan maupun menyakitkan, merupakan sarana pembentukan pribadi kita sekaligus pengumpulan berkat abadi berupa kekayaan dalam Kerajaan Sorga. Inilah pengharapan yang bernilai kekal yang membuat kita semakin bergairah. Mari selalu persiapkan diri dengan terus mengasah hati nurani kita setiap saat. Sehingga ketika hari itu tiba, kita bisa menjadi orang yang diharapkan Tuhan.
Tidak terasa kita sudah di awal tahun 2013. Kita mengakui bahwa kehidupan ini bisa berlangsung karena kehadiran Tuhan di dalamnya. Senantiasa kita diingatkan akan kehidupan yang akan datang. Kalau demi hal-hal yang tidak pasti tersebut kita bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya, mengapa untuk hal yang pasti kita akan alami, tidak kita persiapkan diri lebih serius? Ingatlah bahwa kuasa kegelapan berusaha membuat manusia melupakan realitas kematian ini. Berbagai filosofi hidup yang salah disuntikkan ke dalam pikiran melalui berbagai media, agar manusia tidak mempedulikan realitas tersebut. Demikianlah kenyataannya, bahwa banyak orang kini menggulirkan hari hidupnya tanpa kesadaran sama sekali bahwa hari hidupnya tersebut bisa berhenti setiap saat. Mereka bersikap seakan-akan perjalanan hidup ini akan berlangsung tiada akhir. Mereka berpikir kematian bukan bagian hidup mereka. Betapa malangnya. Kenyataan yang bisa dilihat dengan jelas, banyak orang yang hanyut dan tenggelam dengan berbagai kegiatan, kesibukan, masalah dan lain sebagainya sedang dibawa ke pembantaian abadi atau dipersiapkan menjadi sampah kekal.
Karena kematian adalah realitas yang tidak pernah diprediksi kapan terjadinya, maka persiapan harus dilakukan sejak sekarang. Ya, selalu sekarang. Untuk ini pertobatan harus dilakukan sekarang, tiap hari. Sepanjang tahun 2012, jangan-jangan kita tidak melakukan pertobatan yang serius sampai akhirnya mungkin kita tidak menyadari kesalahan/dosa yang terus menerus kita lakukan. Hari ini kita diberi kesempatan untuk mempersiapkannya kembali, berjaga-jaga dengan doa yang tak berkeputusan, suatu relasi yang dibangun dengan Tuhan. Banyak hal yang bisa diabaikan dan dianggap tidak penting. Yang tidak penting harus bisa disingkirkan, tetapi persiapan menyongsong kematian tidak boleh ditunda. Ini harus dianggap penting dan darurat. Kita harus selalu berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir kita hidup. Besok tidak ada kesempatan lagi. Jadi setiap kali disebut hari ini, berarti kesempatan sangat berharga untuk membenahi diri. Bila kita membiasakan diri memiliki sikap seperti ini, maka barulah kita pahami dan dapat melakukan apa yang dimaksud dengan mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaranNya (Mat. 6:33).
Karena rahmat Allah telah melahirkan kita kembali kepada suatu hidup yang penuh harapan, selalu ada kesempatan bagi setiap orang yang mau serius mempersiapkan diri menjadikannya sebuah pengharapan yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu yang tersimpan di Sorga bagi kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia akan memakai segala kejadian untuk penyempurnaan iman kita. Semua pengalaman hidup kita, yang menyenangkan maupun menyakitkan, merupakan sarana pembentukan pribadi kita sekaligus pengumpulan berkat abadi berupa kekayaan dalam Kerajaan Sorga. Inilah pengharapan yang bernilai kekal yang membuat kita semakin bergairah. Mari selalu persiapkan diri dengan terus mengasah hati nurani kita setiap saat. Sehingga ketika hari itu tiba, kita bisa menjadi orang yang diharapkan Tuhan.
Tuhan Belum Dipuaskan
Oleh : Pdt. Dr. Erastus Sabdono
Banyak orang Kristen yang berpendapat, kalau sudah tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar moral dan rajin pergi ke gereja, berarti sudah memiliki pertobatan yang benar. Mereka juga beranggapan kalau sudah bisa mengikuti liturgi, memuji nama Tuhan dan melakukan kegiatan gereja berarti mereka sudah memuaskan hati Tuhan. Mereka juga berpikir kalau berani percaya kepada kuasa dan kebaikan Tuhan, berarti Tuhan dimuliakan dan mereka merasa sudah di pihak Tuhan. Setelah itu tidak ada lagi yang perlu digumuli secara serius kecuali mempertahankan kehidupan yang tidak bertentangan dengan moral dan rajin ke gereja. Pandangan hidup ini sejatinya masih meleset dari kebenaran. Lebih celaka lagi kalau berurusan dengan Tuhan hanya karena mau mengurusi masalah pemenuhan kebutuhan jasmani.
Sejatinya Tuhan belum merasa puas kalau hanya berpindah dari agama lain atau tidak melakukan praktek perdukunan. Seakan-akan Tuhan membutuhkan pengikut untuk menyenangkan hatiNya. Padahal langkah orang Kristen seperti itu hanya merupakan usaha memanfaatkan dan memanipulasi Allah. Mereka masih berdiri di pihaknya sendiri, bukan di pihak Tuhan. Mereka masih egois, hidup untuk dirinya sendiri, tidak mengabdi kepada Tuhan dan belum menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang harus dipatuhi secara mutlak. Sebenarnya Tuhan mereka adalah perut mereka sendiri (Flp. 3:18-21). Mereka masih berstatus sebagai musuh salib Kristus yang artinya memiliki hidup belum sepadan atau belum sesuai dengan maksud salib Tuhan diadakan. Salib diadakan agar manusia hidup sebagai warga Kerajaan Sorga yang baik, yaitu hidup dalam kehendak Tuhan. Dalam hal ini kita jumpai banyak orang Kristen yang tidak bertumbuh. Kalau pikiran mereka tidak dibongkar oleh Firman Tuhan, mereka tidak akan pernah mengenali keadaan mereka yang sebenarnya belum menjadi warga Kerajaan Sorga yang baik. Mereka dikunci Iblis dalam kebodohan sehingga mereka tidak pernah menjadi anak Allah. Ingat, bahwa yang menjadi anak Allah adalah mereka yang telah ditebus dari cara hidup yang sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang (1 Ptr. 1:1-17). Menjadi orang baik yang bergereja belum berarti sudah ditebus dari cara hidup yang sia-sia. Cara hidup yang sia-sia adalah cara hidup yang hanya menuruti kehendaknya sendiri, bukan kehendak Allah. Betapa malangnya orang-orang Kristen yang merasa telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus padahal mereka menolak menjadi anak tebusan. Menjadi anak tebusan berarti bersedia hidup dengan cara hidup yang baru. Cara hidup yang baru itu adalah hidup dalam kehendak Tuhan.
Banyak orang Kristen yang berpendapat, kalau sudah tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar moral dan rajin pergi ke gereja, berarti sudah memiliki pertobatan yang benar. Mereka juga beranggapan kalau sudah bisa mengikuti liturgi, memuji nama Tuhan dan melakukan kegiatan gereja berarti mereka sudah memuaskan hati Tuhan. Mereka juga berpikir kalau berani percaya kepada kuasa dan kebaikan Tuhan, berarti Tuhan dimuliakan dan mereka merasa sudah di pihak Tuhan. Setelah itu tidak ada lagi yang perlu digumuli secara serius kecuali mempertahankan kehidupan yang tidak bertentangan dengan moral dan rajin ke gereja. Pandangan hidup ini sejatinya masih meleset dari kebenaran. Lebih celaka lagi kalau berurusan dengan Tuhan hanya karena mau mengurusi masalah pemenuhan kebutuhan jasmani.
Sejatinya Tuhan belum merasa puas kalau hanya berpindah dari agama lain atau tidak melakukan praktek perdukunan. Seakan-akan Tuhan membutuhkan pengikut untuk menyenangkan hatiNya. Padahal langkah orang Kristen seperti itu hanya merupakan usaha memanfaatkan dan memanipulasi Allah. Mereka masih berdiri di pihaknya sendiri, bukan di pihak Tuhan. Mereka masih egois, hidup untuk dirinya sendiri, tidak mengabdi kepada Tuhan dan belum menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang harus dipatuhi secara mutlak. Sebenarnya Tuhan mereka adalah perut mereka sendiri (Flp. 3:18-21). Mereka masih berstatus sebagai musuh salib Kristus yang artinya memiliki hidup belum sepadan atau belum sesuai dengan maksud salib Tuhan diadakan. Salib diadakan agar manusia hidup sebagai warga Kerajaan Sorga yang baik, yaitu hidup dalam kehendak Tuhan. Dalam hal ini kita jumpai banyak orang Kristen yang tidak bertumbuh. Kalau pikiran mereka tidak dibongkar oleh Firman Tuhan, mereka tidak akan pernah mengenali keadaan mereka yang sebenarnya belum menjadi warga Kerajaan Sorga yang baik. Mereka dikunci Iblis dalam kebodohan sehingga mereka tidak pernah menjadi anak Allah. Ingat, bahwa yang menjadi anak Allah adalah mereka yang telah ditebus dari cara hidup yang sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang (1 Ptr. 1:1-17). Menjadi orang baik yang bergereja belum berarti sudah ditebus dari cara hidup yang sia-sia. Cara hidup yang sia-sia adalah cara hidup yang hanya menuruti kehendaknya sendiri, bukan kehendak Allah. Betapa malangnya orang-orang Kristen yang merasa telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus padahal mereka menolak menjadi anak tebusan. Menjadi anak tebusan berarti bersedia hidup dengan cara hidup yang baru. Cara hidup yang baru itu adalah hidup dalam kehendak Tuhan.
Wednesday, December 12, 2012
Natal Lagi
Pdt.Bigman Sirait.
Desember, berujung pada Natal, dan bersambung
pada Tahun baru. Tiap tahun ini menjadi suasana tersendiri dalam perjalanan
kehidupan umat Kristen. Natal mengingatkan kita akan kerelaan Yesus Kristus
mengosongkan diri Nya, untuk menjadi sama dengan manusia yang terkurung dalam
ruang dan waktu. Melepas atribut ke Illahian Nya, dan menjadi manusia,
sekaligus Allah yang mengosongkan diri. Sebuah pergumulan teologis tersendiri,
pemaknaan yang sangat dalam, itulah Natal. Semangat natal sudah semestinya
mewarnai, bahkan mendominasi, kehidupan orang percaya. Ya, tiap kali Natal kita
diingatkan untuk merenung diri, apakah kita sudah hidup sesuai dengan apa yang
menjadi kehendak Allah. Apakah kita sudah hidup sesuai dengan tujuan natal?
Orang percaya digugat untuk berani melepas kecintaan pada diri, dengan belajar
mencintai sesama yang tersisihkan dari panggung kehidupan. Ada terlalu banyak
hal yang bisa diperbuat dalam mengisi Natal. Hanya saja, sayang, juga ada
terlalu banyak acara yang membuat kebanyakan kita terlena pada kenikmatan diri.
Acara yang sudah pasti bernuansa pesta, menerima kenyamanan, dan bukan berbagi
diri. Tak ada yang salah dengan suasana ini, tetapi jadi masalah besar ketika
kita terjebak dan berhenti disana. Lalu berpikir kita sudah natalan. Jelas
tidak. Natalan adalah kesadaran dan keberanian untuk berbagi. Semangat yang
harus diwujudkan, dan sangat mengena dengan situasi kekinian dimana cinta diri
semakin menguasai manusia modern. Seharusnyalah semangat natal bisa memberikan
secercah harapan kebersamaan, kepedulian, dan kerelaan untuk hidup berbagi.
Natal lagi, adalah tema untuk sebuah perenungan yang coba mengingatkan diri,
jangan-jangan ini hanya sebuah pengulangan dalam perputaran waktu. Tak ada yang
baru, baik dalam paradigma, apalagi tindakan yang semestinya. Natal lagi, agar
orang percaya tak hanya mengulang, sebaliknya, terus mencipta pembaharuan
kehidupan. Membuat perubahan demi perubahan menuju hidup yang lebih baik,
beradab, dan beriman sungguh. Mampu mengaplikasi iman dalam keseharian,
sehingga makna natal itu mendarap dikehidupan. Natal, adalah kesempatan bagi
orang lain merasakan artinya sebuah penyangkalan diri. Seperti Kristus
menyagkali ke Illahian Nya dengan menjadi manusia, begitulah kita menyangkali
diri dengan menggantungkan keegoan diri. Sebuah semangat natal yang bukan
sekedar natal lagi. Sementara tahun baru, yang menanti jangan melunturkan
semangat natal itu, tetapi sebaliknya, menjadi perpacuan waktu untuk terus
menerus menjadi semakin baru. Sehingga dengan semangat natal, tercipta
perubahan menuju hidup yang lebih baik dan benar.
Setiap tahun baru, berarti
waktu mengkalkulasi apakah semangat natal mencapai titik maksimal dalam
mencipta perubahan? Dengan demikian, akan tercipta sebuah perputaran yang akan
terus menerus memperbaharui apa yang ada. Sehingga kehidupan umat tak terjebak
pada comfort zona, melainkan terus menerus bergerak menuju titik puncak
pengabdian. Bukankah hal ini akan membuat hidup menjadi amat sangat bermakna.
Dan juga, akan membuat hidup menjadi lebih hidup karena sangat menghidupkan.
Natal tak boleh hanya menjadi natal lagi, natal harus menjadi natal yang terus
menerus mengingatkan semangat peniadaan diri demi pengabdian kepada yang
Illahi. Hidup dibumi untuk berbagi, mengangkat harkat hidup orang yang
terpuruk. Terpuruk karena berbagai hal, baik ekonomi, moral, kesehatan, bahkan
mereka yang patah dan kehilangan semangat hidup. Natal harus menyentuh
semuanya, membuat orang kuat diposisinya masing-masing.
Tahun baru, harus
diingat, bahwa yang baru itu bukan soal sandang, pangan, papan, melainkan
semangat dan arah kehidupan. Dunia memang sangat menggoda dengan tawaran
kenikmatannya. Natal dan tahun baru telah dijadikan tahun menampuk rejeki oleh
dunia industri. Sebuah usaha legal, namun harus disikapi dengan kritis dan
komprehensif, agar umat tak sekedar menjadi ladang tempat mendulang rejeki.
Selamat natal, selamat berbagi, dan memberi hidup. Selamat tahun baru, selamat
berparadigma baru, tentang makna hidup yang berbagi. Tuhan memberkati
Sunday, December 9, 2012
Winning the Battle
by Joyce Meyer
One thing I’ve learned over the years is that the more intimate we are with Him, the more powerful our lives will be. That’s because we begin to resemble and act like those we spend time with. So, if we “hang out” with Christ, we will eventually become more like Christ. The trouble is many of us don’t spend a whole lot of time with Him.
Intimacy Takes Time—and Truth
It’s seems like so many people are afraid to make time to get to know Him, to study His character. Or we’re scared to seek wisdom and guidance from Him because of what we think He might tell us. It looks as if we’re terrified of simply being with Him. And so that kind of power—the kind that makes the devil nervous when we wake up in the morning—often doesn’t develop very much in our lives.
God’s Word tells us that the truth will make us free. And in the book of Psalms, it says that David sought one thing of the Lord and basically, that was time with Him.
So, to develop intimacy that cultivates power with God, we have to face the truth that God reveals to us about ourselves. We must get a hold on our thoughts—thoughts about ourselves, our past or future, even thoughts about God. God loves us very much, but He is not willing to leave us in our mess. He is always ready and waiting to change us from the inside out.
“ He is always ready and waiting to change us from the inside out. ”
It takes time for that to happen because we first need to be able to see the truth about ourselves, and many times, that is the hardest part of growing because we don’t like what we see. We may pray for God to change our circumstances, but we need to be able to face the fact that He wants to change us—regardless of the circumstances. So many times the Holy Spirit will reveal things that we just don’t want to see about ourselves. But remember, the truth will set us free! So don’t be afraid to change; be more afraid of staying the same!
How God Really Sees You
But God is not mad at us. If you’re a parent just think of this: Can you love any of your children more than you do right now? Do you still want to see changes in their behavior? Well, it’s the same way with our heavenly Father. He loves us—period. He loves us now as much as He ever will. That will not change. But He still wants to see us grow and mature and experience the best He has planned for us.
God really does love us, and He always has our best interest in mind. The more we trust Him, the more we’ll want to spend time with Him. The more time we spend with Him, the more we change and the more His power develops in our lives. And the more powerful our lives are, the more nervous the devil will be when we open our eyes and get out of bed in the morning!
So, schedule a few private meetings with God. Talk to Him about your problems. Face the truth He reveals to you about yourself. Trust that He is always working for you to live an abundant, fruitful, powerful life!
One thing I’ve learned over the years is that the more intimate we are with Him, the more powerful our lives will be. That’s because we begin to resemble and act like those we spend time with. So, if we “hang out” with Christ, we will eventually become more like Christ. The trouble is many of us don’t spend a whole lot of time with Him.
Intimacy Takes Time—and Truth
It’s seems like so many people are afraid to make time to get to know Him, to study His character. Or we’re scared to seek wisdom and guidance from Him because of what we think He might tell us. It looks as if we’re terrified of simply being with Him. And so that kind of power—the kind that makes the devil nervous when we wake up in the morning—often doesn’t develop very much in our lives.
God’s Word tells us that the truth will make us free. And in the book of Psalms, it says that David sought one thing of the Lord and basically, that was time with Him.
So, to develop intimacy that cultivates power with God, we have to face the truth that God reveals to us about ourselves. We must get a hold on our thoughts—thoughts about ourselves, our past or future, even thoughts about God. God loves us very much, but He is not willing to leave us in our mess. He is always ready and waiting to change us from the inside out.
“ He is always ready and waiting to change us from the inside out. ”
It takes time for that to happen because we first need to be able to see the truth about ourselves, and many times, that is the hardest part of growing because we don’t like what we see. We may pray for God to change our circumstances, but we need to be able to face the fact that He wants to change us—regardless of the circumstances. So many times the Holy Spirit will reveal things that we just don’t want to see about ourselves. But remember, the truth will set us free! So don’t be afraid to change; be more afraid of staying the same!
How God Really Sees You
But God is not mad at us. If you’re a parent just think of this: Can you love any of your children more than you do right now? Do you still want to see changes in their behavior? Well, it’s the same way with our heavenly Father. He loves us—period. He loves us now as much as He ever will. That will not change. But He still wants to see us grow and mature and experience the best He has planned for us.
God really does love us, and He always has our best interest in mind. The more we trust Him, the more we’ll want to spend time with Him. The more time we spend with Him, the more we change and the more His power develops in our lives. And the more powerful our lives are, the more nervous the devil will be when we open our eyes and get out of bed in the morning!
So, schedule a few private meetings with God. Talk to Him about your problems. Face the truth He reveals to you about yourself. Trust that He is always working for you to live an abundant, fruitful, powerful life!
Wednesday, December 5, 2012
Mempersiapkan diri untuk Hidup Kekal
Wignyo Tanto (from : Facebook)
Persiapan
akan suatu pesta pernikahan itu luar biasa. Biasanya dipersiapkan
selama 1 tahun dan melibatkan banyak pihak, baik keluarga pria maupun
wanita dan bahkan teman-teman juga. Persiapan yang cukup lama yang
memakan waktu dan biaya cukup besar ini hanyalah untuk menyelenggarakan
pesta yang berlangsung 2 jam saja. Bayangkan, pesta 2 jam dipersiapkan
selama 1 tahun, hebat bukan?
Nah, bagaimana persiapan kita
selama hidup 70 tahun ini untuk menyongsong pesta di kekekalan yang
durasinya tak terhingga, yaitu selama-lamanya.
Sayangnya
pengertian inipun belum tentu menggerakkan seseorang untuk berubah dan
serius menginvestasikan seluruh hidupnya di Bumi ini untuk hidup
selamanya di Bumi yang baru, yaitu di Surga nanti.
Anak Allah hidup di dunia ini cuma satu tujuannya, mempersiapkan diri untuk hidup kekal.
Wahyu 21:1-4
Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang
pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada
lagi.
Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru,
turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan
yang berdandan untuk suaminya.
Lalu aku mendengar suara yang
nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di
tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.
Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.
Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak
akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau
dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
Anak Allah hidup di dunia ini cuma satu tujuannya, mempersiapkan diri untuk hidup kekal.
Wahyu 21:1-4
Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.
Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.
Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
Thursday, November 29, 2012
Hidup Yang Bertanggung Jawab
Oleh : Wignyo Tanto (di ambil dari status facebook)
Tuhan
itu baik, itu pasti, justru kerena Tuhan baik, maka Dia tidak akan
memanjakan manusia secara sembarangan. Dia pasti lebih mengutamakan
untuk mendidik karakter manusia daripada mengabulkan setiap permintaan
manusia yang tidak dewasa.
Justru manusia yang kekanak-kanakan
lah yang selalu minta kepada Tuhan hal-hal yang hanya akan menyenangkan
pihak manusia. Sungguh bodoh jika manusia berpikir bahwa Tuhan pasti
memberi segala sesuatu yang manusia minta, Tuhan itu baik, jika
permintaan itu tidak ada gunanya, bahkan akan mengakibatkan manusia
malas, maka tentu saja tidak akan dikabulkan. Atau jika permintaan itu
berbahaya, akan membuat sombong, maka tentu juga tidak dikabulkan.
Manusia yang tidak dewasa akan minta hal-hal yang tidak berhubungan
dengan kekekalan, seperti kekayaan, harta, rumah, mobil, pekerjaan,
jodoh, bahkan tas yang mahal, dan lain-lain, yang untuk kebutuhan
duniawi saja.
Ini sebenarnya
tidak bertanggung jawab dan sangat tidak dewasa. Kalau seseorang mau
punya uang ya harus bekerja keras, kalau mau sehat ya jaga kesehatan,
ubah pola hidup, kalau mau punya jodoh ya harus punya kepribadian yang
menarik. Bukannya mengharapkan mukjizat agar segalanya mudah.
Orang-orang yang tidak dewasa ini akan berpikir seakan-akan selalu ada
promosi dari Surga.
Anak-anak Tuhan adalah manusia yang sangat
menghormati dan mengasihi Tuhan sebagai Bapa kita. Anak-anak Tuhan pasti
hidup bertanggung jawab dalam segala hal agar Tuhan senang, bukan
sebaliknya. Hanya manusia yang dewasa rohaninya yang bisa menyenangkan
hati Bapa di Surga.
1 Korintus 13:11
Ketika aku
kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti
kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku
menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Ini sebenarnya tidak bertanggung jawab dan sangat tidak dewasa. Kalau seseorang mau punya uang ya harus bekerja keras, kalau mau sehat ya jaga kesehatan, ubah pola hidup, kalau mau punya jodoh ya harus punya kepribadian yang menarik. Bukannya mengharapkan mukjizat agar segalanya mudah. Orang-orang yang tidak dewasa ini akan berpikir seakan-akan selalu ada promosi dari Surga.
Anak-anak Tuhan adalah manusia yang sangat menghormati dan mengasihi Tuhan sebagai Bapa kita. Anak-anak Tuhan pasti hidup bertanggung jawab dalam segala hal agar Tuhan senang, bukan sebaliknya. Hanya manusia yang dewasa rohaninya yang bisa menyenangkan hati Bapa di Surga.
1 Korintus 13:11
Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Sunday, November 25, 2012
Free Will (Kehendak Bebas)
Oleh: Pdt.Suryadi.
Salah satu sifat-ilahi yang diberikan Allah bagi manusia adalah “Kehendak Bebas”.
Anugrah Allah mengenai “Kehendak Bebas” bagi manusia ini secara implisit disaksikan di dalam Kitab Kejadian, tt Kisah Penciptaan:
“Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara d
an atas ternak
dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di
bumi." aka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut
gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya
mereka.” (Kejadian 1:26-27).
Manusia diciptakan Allah menurut “gambar dan rupa Allah”, ini bukan dalam artian secara jasmaniah dan phisik, tetapi dalam hal sifat-sifat Ilahi. Artinya, berbagai sifat-sifat Allah, diantaranya: KASIH, KUASA, KUDUS, MULIA, BAIK & KEHENDAK BEBAS telah diberikan kepada umat manusia.
Karena itulah, keberadaan manusia tidak sama dengan mesin atau robot (yang tidak mempunyai kemampuan berkehendak dan mengambil keputusan), melainkan bisa “berkehendak bebas” untuk memilih dan bertindak apa pun juga yang diinginkannya. Manusia memiliki kemampuan untuk menimbang, memilih, berkata, dan melakukan apa saja yang menjadi keputusan hidupnya.
Pemberian Tuhan bagi manusia berupa “Kehendak Bebas” itu, tentu juga disertai dengan anugrah “Akal Budi”, “Hati Nurani” & “Kondisi Spiritual”. Sehingga pelaksanaan & pemanfaatan “Kehendak Bebas” manusia itu semestinya tidak berdiri sendiri, tetapi juga dengan pertimbangan-pertimbangan akal budi, hati nurani, dan keimanannya kepada Allah. Dan karena manusia diciptakan seturut “gambar dan rupa Allah”, itu juga berarti manusia bertanggung jawab untuk meneladani/melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Allah. Allah yang Mahakuasa, Mahakasih, telah menggunakan kuasaNya itu untuk menciptakan kehidupan, memelihara manusia dan memberkati ciptaanNya. Maka demikianlah seharusnya manusia menggunakan “kehendak bebas”nya itu untuk menciptakan kehidupan, berkarya kebaikan, kuasanya untuk mengasihi, dan menyatakan sifat-sifat Allah & pekerjaanNya dalam memberkati manusia.
SAYANG SEKALI, BANYAK ORANG YANG SETELAH DIBERIKAN “FREE WILL” LEBIH MENGAGUNG-AGUNGKAN “FREE WILL” ITU SENDIRI DARIPADA MENGAGUNGKAN PRIBADI SANG PEMBERI, YAKNI ALLAH, PENCIPTA LANGIT & BUMI.
Sayang sekali bahwa manusia setelah diciptakan Allah sebagai “gambar dan rupa Allah” itu, telah menyalah-gunakan pemberian Allah untuk berbuat dosa, yaitu: tidak percaya, melawan dan menentang Allah. Manusia bukannya bersyukur kepada Tuhan, beribadah dan berbakti kepada Tuhan, tetapi (sebagaimana disaksikan di Kejadian 3) telah memutuskan untuk mengikuti bujukan dan tipu daya “ular”, sehingga telah melanggar perintah yang ditetapkan oleh TUHAN. Itulah yang dinaman DOSA. Kemampuan (kuasa) dan kehendak bebas yang Allah berikan kepada manusia, telah digunakan secara keliru untuk berbuat menentang dan melawan Allah. Manusia telah mengartikan dan menerapkan karunia Allah berupa “kehendak bebas” dengan berbuat sekehendak hatinya, merusak, mengganggu, membunuh sesama manusia, melawan Tuhan dan melakukan berbagai kejahatan. Dan karena dosanya inilah “gambar dan rupa Allah” yang semula begitu mulia telah menjadi rusak, manusia menjadi hamba-hamba dosa. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).
“Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” (Yohanes 8:34).
Dalam situasi yang begitu buruk itulah, maka Tuhan berfirman kepada manusia, memberikan Alkitab, agar manusia kembali kepada citranya yang semua, yaitu tidak lagi diperhamba oleh dosa, tetapi dimerdekakan dari perhambaan dosa. Karena itulah Allah selain berfirman melalui para nabi-nabiNya, tetapi kemudian mengutus Yesus Kristus, Sang Firman Allah yang sejati dan kekal, datang ke dunia ini, dalam rangka untuk memerdekakan manusia dari perhambaan dosa (yang membawa kematian):
“Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu….Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." (Yohanes 8:31-32, 36).
Karya kasih Tuhan untuk memerdekakan manusia dari perhambaan dosa itu dengan tujuan pokok:
1) MENUSIA MENGALAMI HIDUP KEKAL:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)
“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23)
(2) MANUSIA YANG PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS, MENJADI SERUPA DENGAN “GAMBAR ANAK ALLAH YANG TUNGGAL (SERUPA DENGAN YESUS KRISTUS):
“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8:29-30).
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus..” (Filipi 2:5).
(3) MEMULIAKAN ALLAH DENGAN CARA BERBUAH LEBAT
“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8).
RANGKUMAN:
Manusia mempunyai “Kehendak Bebas”. “Kehendak Bebas” ini adalah anugrah kasih Tuhan baginya. Tetapi sayangnya, “kehendak bebas” ini telah digunakan dengan sebebas-bebasnya, tanpa batas, dan secara salah untuk berbuat dosa dan melawan Allah. Penggunaan “Kehendak Bebas” seperti ini tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Akibatnya manusia telah menjadi hamba dosa. “Gambar dan rupa Allah” dalam diri manusia yang semula mulia, telah menjadi rusak, dan klimaksnya: akibat dosa adalah maut (kematian kekal yang mengerikan).
TETAPI ALLAH TELAH MENGUTUS YESUS KRISTUS, SANG FIRMAN ALLAH SEJATI, UNTUK MEMERDEKAKAN MANUSIA DARI PERHAMBAAN DOSA DAN DARI MAUT, AGAR MANUSIA YANG PERCAYA MEMPEROLEH HIDUP YANG KEKAL.
SETELAH MANUSIA DISELAMATKAN, HIDUPNYA DIPANGGIL UNTUK MEMULIAKAN & MENGASIHI TUHAN, DENGAN CARA MENAATI PERINTAH ALLAH.
JADI BAGI UMAT KRISTEN: KEHENDAK BEBAS YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH SETELAH PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS, HARUS DIGUNAKAN SECARA BERTANGGUNG JAWAB. DENGAN KEHENDAK BEBASNYA ITU, UMAT KRISTEN TELAH DIPANGGIL MENJADI “SERUPA DENGAN YESUS KRISTUS” (MEMPUNYAI & MENAMPAKKAN KARAKTER KRISTUS) dan karena itu umat Kristen WAJIB MENJADI SAKSI KRISTUS DI TENGAH DUNIA INI, sebagai realisasi penggunaan KEHENDAK BEBAS-nya.
Adanya “kehendak bebas” dalam diri manusia, tidak otomatis memberikan hak kepada tiap orang untuk berbuat sebebas-bebasnya, dan juga berbuat jahat terhadap sesamanya. Pemanfaatan “kehendak bebas” dengan sebebas-bebasnya untuk berbuat jahat, hakikatnya adalah DOSA. Kiranya kita, umat Tuhan yang telah diterangi oleh Firman Allah, memilih/memutuskan untuk menggunakan kehendak bebas kita dalam menjalani kehidupan yang taat kepada Tuhan, dan menjadi saksi Kristus. AMIN !.
Manusia diciptakan Allah menurut “gambar dan rupa Allah”, ini bukan dalam artian secara jasmaniah dan phisik, tetapi dalam hal sifat-sifat Ilahi. Artinya, berbagai sifat-sifat Allah, diantaranya: KASIH, KUASA, KUDUS, MULIA, BAIK & KEHENDAK BEBAS telah diberikan kepada umat manusia.
Karena itulah, keberadaan manusia tidak sama dengan mesin atau robot (yang tidak mempunyai kemampuan berkehendak dan mengambil keputusan), melainkan bisa “berkehendak bebas” untuk memilih dan bertindak apa pun juga yang diinginkannya. Manusia memiliki kemampuan untuk menimbang, memilih, berkata, dan melakukan apa saja yang menjadi keputusan hidupnya.
Pemberian Tuhan bagi manusia berupa “Kehendak Bebas” itu, tentu juga disertai dengan anugrah “Akal Budi”, “Hati Nurani” & “Kondisi Spiritual”. Sehingga pelaksanaan & pemanfaatan “Kehendak Bebas” manusia itu semestinya tidak berdiri sendiri, tetapi juga dengan pertimbangan-pertimbangan akal budi, hati nurani, dan keimanannya kepada Allah. Dan karena manusia diciptakan seturut “gambar dan rupa Allah”, itu juga berarti manusia bertanggung jawab untuk meneladani/melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Allah. Allah yang Mahakuasa, Mahakasih, telah menggunakan kuasaNya itu untuk menciptakan kehidupan, memelihara manusia dan memberkati ciptaanNya. Maka demikianlah seharusnya manusia menggunakan “kehendak bebas”nya itu untuk menciptakan kehidupan, berkarya kebaikan, kuasanya untuk mengasihi, dan menyatakan sifat-sifat Allah & pekerjaanNya dalam memberkati manusia.
SAYANG SEKALI, BANYAK ORANG YANG SETELAH DIBERIKAN “FREE WILL” LEBIH MENGAGUNG-AGUNGKAN “FREE WILL” ITU SENDIRI DARIPADA MENGAGUNGKAN PRIBADI SANG PEMBERI, YAKNI ALLAH, PENCIPTA LANGIT & BUMI.
Sayang sekali bahwa manusia setelah diciptakan Allah sebagai “gambar dan rupa Allah” itu, telah menyalah-gunakan pemberian Allah untuk berbuat dosa, yaitu: tidak percaya, melawan dan menentang Allah. Manusia bukannya bersyukur kepada Tuhan, beribadah dan berbakti kepada Tuhan, tetapi (sebagaimana disaksikan di Kejadian 3) telah memutuskan untuk mengikuti bujukan dan tipu daya “ular”, sehingga telah melanggar perintah yang ditetapkan oleh TUHAN. Itulah yang dinaman DOSA. Kemampuan (kuasa) dan kehendak bebas yang Allah berikan kepada manusia, telah digunakan secara keliru untuk berbuat menentang dan melawan Allah. Manusia telah mengartikan dan menerapkan karunia Allah berupa “kehendak bebas” dengan berbuat sekehendak hatinya, merusak, mengganggu, membunuh sesama manusia, melawan Tuhan dan melakukan berbagai kejahatan. Dan karena dosanya inilah “gambar dan rupa Allah” yang semula begitu mulia telah menjadi rusak, manusia menjadi hamba-hamba dosa. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).
“Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” (Yohanes 8:34).
Dalam situasi yang begitu buruk itulah, maka Tuhan berfirman kepada manusia, memberikan Alkitab, agar manusia kembali kepada citranya yang semua, yaitu tidak lagi diperhamba oleh dosa, tetapi dimerdekakan dari perhambaan dosa. Karena itulah Allah selain berfirman melalui para nabi-nabiNya, tetapi kemudian mengutus Yesus Kristus, Sang Firman Allah yang sejati dan kekal, datang ke dunia ini, dalam rangka untuk memerdekakan manusia dari perhambaan dosa (yang membawa kematian):
“Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu….Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." (Yohanes 8:31-32, 36).
Karya kasih Tuhan untuk memerdekakan manusia dari perhambaan dosa itu dengan tujuan pokok:
1) MENUSIA MENGALAMI HIDUP KEKAL:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)
“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23)
(2) MANUSIA YANG PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS, MENJADI SERUPA DENGAN “GAMBAR ANAK ALLAH YANG TUNGGAL (SERUPA DENGAN YESUS KRISTUS):
“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8:29-30).
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus..” (Filipi 2:5).
(3) MEMULIAKAN ALLAH DENGAN CARA BERBUAH LEBAT
“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8).
RANGKUMAN:
Manusia mempunyai “Kehendak Bebas”. “Kehendak Bebas” ini adalah anugrah kasih Tuhan baginya. Tetapi sayangnya, “kehendak bebas” ini telah digunakan dengan sebebas-bebasnya, tanpa batas, dan secara salah untuk berbuat dosa dan melawan Allah. Penggunaan “Kehendak Bebas” seperti ini tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Akibatnya manusia telah menjadi hamba dosa. “Gambar dan rupa Allah” dalam diri manusia yang semula mulia, telah menjadi rusak, dan klimaksnya: akibat dosa adalah maut (kematian kekal yang mengerikan).
TETAPI ALLAH TELAH MENGUTUS YESUS KRISTUS, SANG FIRMAN ALLAH SEJATI, UNTUK MEMERDEKAKAN MANUSIA DARI PERHAMBAAN DOSA DAN DARI MAUT, AGAR MANUSIA YANG PERCAYA MEMPEROLEH HIDUP YANG KEKAL.
SETELAH MANUSIA DISELAMATKAN, HIDUPNYA DIPANGGIL UNTUK MEMULIAKAN & MENGASIHI TUHAN, DENGAN CARA MENAATI PERINTAH ALLAH.
JADI BAGI UMAT KRISTEN: KEHENDAK BEBAS YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH SETELAH PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS, HARUS DIGUNAKAN SECARA BERTANGGUNG JAWAB. DENGAN KEHENDAK BEBASNYA ITU, UMAT KRISTEN TELAH DIPANGGIL MENJADI “SERUPA DENGAN YESUS KRISTUS” (MEMPUNYAI & MENAMPAKKAN KARAKTER KRISTUS) dan karena itu umat Kristen WAJIB MENJADI SAKSI KRISTUS DI TENGAH DUNIA INI, sebagai realisasi penggunaan KEHENDAK BEBAS-nya.
Adanya “kehendak bebas” dalam diri manusia, tidak otomatis memberikan hak kepada tiap orang untuk berbuat sebebas-bebasnya, dan juga berbuat jahat terhadap sesamanya. Pemanfaatan “kehendak bebas” dengan sebebas-bebasnya untuk berbuat jahat, hakikatnya adalah DOSA. Kiranya kita, umat Tuhan yang telah diterangi oleh Firman Allah, memilih/memutuskan untuk menggunakan kehendak bebas kita dalam menjalani kehidupan yang taat kepada Tuhan, dan menjadi saksi Kristus. AMIN !.
Thursday, November 1, 2012
Kasih Yesus Bagi Kita
Ciptaan. Pdt.Kristianus FreddyYesus Oh Yesus
Kaulah Tuhanku
Mulialah Nama Mu
Dahsyat karya Mu
Kau Datang ke dunia
Kau mengasihi aku
Orang berdosa untuk di selamatkan
Kau korbankan diri Mu, disalib hina
Demi umat manusia
Reff:
Oh Yesus siapakah aku ini
Sehingga berharga dimata Mu
Ku mau menyenangkan Mu di hidup ini
Sepanjang umur hidupku
Sampai akhir hayatku
Thursday, October 4, 2012
Dua Jenis Kiamat
From: Renungan harian
Truth
Banyak orang tidak mengerti bahwa ada dua jenis kiamat,
kiamat secara umum yaitu kiamatnya dunia dimana sejarah dunia diakhiri, tetapi
juga ada kiamat khusus, yaitu kiamat pribadi dimana seseorang menghembuskan
nafas yang terakhir. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kedatangan-Nya seperti
pencuri, ini berarti tidak ada seorang pun manusia yang tahu kapan hari
kedatangan-Nya. Itulah sebabnya setiap orang harus berjaga-jaga. Harus diingat
bahwa hari kiamat bukan hanya hari kedatangan-Nya saja, tetapi juga ketika
seseorang menghembuskan nafas terakhir. Dalam hal ini umumnya masing-masing
orang memiliki hari kiamat yang berbeda. Biasanya orang hanya melihat kiamat
secara umum tetapi tidak memberi perhatian pada realitas kiamat yang lain.
Kuasa kegelapan akan berusaha untuk menutupi fakta ini agar
seseorang tidak memiliki sikap berjaga-jaga. Inilah yang terjadi dalam
kehidupan hampir semua orang, dalam dirinya mereka berpikir, berhubung hari kiamat
(kedatangan Tuhan) masih jauh, maka ia tidak berjaga-jaga Ia tidak sadar bahwa
ada kiamatnya sendiri yang bisa menghampirinya setiap saat (Luk. 12:20;
16:22-23). Betapa mengerikannya kalau seseorang tidak menyadari realita hari
kiamatnya. Baginya kedatangan Tuhan seperti jerat (Luk. 21:34). Hal ini terjadi
atas mereka yang hidup dalam kesenangannya sendiri bukan kesukaan Tuhan. Jika
seseorang selalu ada dalam suasana tidak memiliki sikap berjaga-jaga seperti
ini, maka ia tidak pernah siap pada hari kedatangan Tuhan dan tidak pernah siap
menyongsong hari terakhirnya di bumi sebelum ia mengembuskan nafas terakhir.
Di lain pihak yang harus diwaspadai Iblis dengan
kecerdikannya membuat seseorang menjadi lemah atau rapuh. Manusia adalah
makhluk kompleks. Di dalam dirinya ada jiwa yang tidak sekokoh beton atau
sekeras baja. Pada umumnya manusia bisa tidak stabil, ada saat-saat dimana jiwa
menjadi lemah. Lemah di sini maksudnya mudah berbuat salah. Dalam 1 Petrus 1:14
disebut sebagai “pada waktu kebodohan”. Dalam teks bahasa Inggris teks ini
diterjemahkan in your ignorence. Dalam teks Yunaninya adalah agnoia (ἀγνοίᾳ) yang
artinya keadaan yang tidak dapat dimaafkan. Ini menunjuk keadaan bahaya. Pada
saat-saat tertentu seseorang ada dalam situasi yang berbahaya. Situasi saat itu
adalah situasi yang rentan. Iblis cakap membawa seseorang dalam keadaan bahaya
seperti ini. Itu lah sebabnya kita harus serius tidak membawa diri kita kepada
bahaya, sebab kita tidak tahu kapan kiamat kita masing-masing. Adalah bijaksana
kalau kita berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir kita.
Tidak ada seorangpun yang kebal terhadap hari kiamat,
Karena itu berjaga-jagalah senantiasa
Thursday, September 27, 2012
Jika Jiwaku Berdoa ( KJ. 460)
Syair: Leer mij, Heer, als in gebeden, P. I. Moeton,
Terjemahan: I. S. Kijne (1899 – 1970) dengan perubahan,
Lagu: Anni F. Harrison
do = f
4 ketuk
Jika jiwaku berdoa
kepadaMu, Tuhanku,
ajar aku t’rima saja
pemberian tanganMu
dan mengaku s’perti Yesus
di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.
Apa juga yang Kautimbang
baik untuk hidupku,
biar aku pun setuju
dengan maksud hikmatMu,
menghayati dan percaya,
walau hatiku lemah:
Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.
Aku cari penghiburan
hanya dalam kasihMu.
Dalam susah Dikau saja
perlindungan hidupku.
‘Ku mengaku, s’perti Yesus
di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku Bapa,
kehendakMu jadilah.
Terjemahan: I. S. Kijne (1899 – 1970) dengan perubahan,
Lagu: Anni F. Harrison
do = f
4 ketuk
Jika jiwaku berdoa
kepadaMu, Tuhanku,
ajar aku t’rima saja
pemberian tanganMu
dan mengaku s’perti Yesus
di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.
Apa juga yang Kautimbang
baik untuk hidupku,
biar aku pun setuju
dengan maksud hikmatMu,
menghayati dan percaya,
walau hatiku lemah:
Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.
Aku cari penghiburan
hanya dalam kasihMu.
Dalam susah Dikau saja
perlindungan hidupku.
‘Ku mengaku, s’perti Yesus
di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku Bapa,
kehendakMu jadilah.
Thursday, September 13, 2012
Penghakiman Berdasarkan Perbuatan
Diambil dari renungan harian Truth.
Baca: Roma 2:12-16
Alkitab dalam setahun: 2
Raja-Raja 15-17
Penghakiman Berdasarkan Perbuatan Kalau
bagi umat Israel dosa berarti pelanggaran terhadap torat lalu bagaimana dengan
orang non Yahudi yang tidak memiliki Torat tertulis dalam kitab. Untuk menjawab
persoalan ini Paulus mengemukakan kebenaran dalam Roma 2:12-16. Bagi orang non
Israel, dosa berarti pelanggaran terhadap hukum yang tertulis di hati. Dalam
teks tersebut disinggung oleh Paulus bahwa orang yang tidak memiliki torat yang
tertulis di kitab memiliki torat di dalam hati mereka. Dalam hal ini Tuhan yang
akan menghakimi seseorang berdasarkan pengertian tentang hukum (tindakan kasih)
yang dimiliki masing-masing individu.
Penghakiman Tuhan ini sangat rahasia
kepada masing-masing individu. Hati nurani mereka akan menjadi saksi (Rm.
3:15). Hati nurani dan teks aslinya adalah suneidesis(συνείδησις). Kata
suneidesis gabungan dari dua kata, sun dan eido. Sun berarti bersama dan eido
artinya tahu, jadi suneidesis berarti bersama ikut tahu. Bagaimana pun hati
nurani akan ikut terlibat dalam memberi kesaksian atas keadaan setiap individu.
Sekecil apapun suara itu dalam hati nurani. Dalam hal ini setiap orang memiliki
kesadaran nurani apakah dirinya melakukan suatu kesalahan atau tidak. Dengan
demikian kita tidak mudah menjatuhkan vonis bahwa orang yang hidup di luar
bangsa pilihan Allah pasti masuk neraka atau tidak diperkenan masuk kehidupan
yang akan datang.
Dalam Alkitab kita menemukan pernyataan yang
diulang-ulang bahwa manusia akan dihakimi menurut perbuatannya. Dalam hal ini
jelas bahwa perbuatan baik seseorang itu penting, sebab menjadi ukuran
penghakiman (Why. 20:12; Mat. 25:34-43). Penghakiman berdasarkan perbuatan ini juga berlaku bagi orang yang hidup pada
jaman anugerah, yaitu atas mereka yang tidak atau belum mendengar Injil. Juga
bagi mereka yang tidak mendengar Injil secara benar. Sebab mendengar Injil yang
salah sama dengan tidak mendengar Injil. Tuhan menghakimi berdasarkan perbuatan.
Penghakiman ini adalah penghakiman untuk menentukan seberapa mereka pantas
untuk masuk dunia yang akan datang. Kata penghakiman untuk ini lebih sering
digunakan kata krisis (κρίσις). Apakah mereka yang dihakimi menurut perbuatan
bisa masuk Sorga? Menjawab pertanyaan ini seharusnya memahami dulu apa Sorga
itu. Secara cepat bisa dijawab, bisa saja mereka masuk dunia yang akan datang
(kalau tidak boleh disebut Sorga), tetapi mereka bukan sebagai anggota Kerajaan
yang memerintah bersama dengan Kristus, tetapi hanya menjadi anggota masyarakat
saja. Dalam hal ini harus bisa dibedakan antara dimuliakan bersama dengan
Kristus dengan hanya masuk dunia yang akan datang.
Apa yang kita
lakukan selama kita hidup
akan
dijadikan ukuran untuk hari penghakiman.
Wednesday, August 1, 2012
Cinta Yang Dewasa
Cinta kepada Tuhan yang tidak dewasa, belum bisa dinikmati
dan memuaskan hati Tuhan, sebab kualitas cinta yang demikian masih sangat
rendah. Cinta kepada Tuhan yang tidak dewasa sering dipenuhi dengan intrik-intrik
memanfaatkan Tuhan. Cinta seperti ini tidak memerlukan perjuangan, bisa
ditumbuhkan dalam sekejap. Tetapi kalau mengasihi dan mencintai Tuhan dengan
segenap hidup, seseorang harus didewasakan rohaninya, dan seiring dengan proses
pendewasaan rohaninya berlanjut terus proses mengasihi Tuhan (Mat. 22:37-40).
Cinta yang berkualitas yang diinginkan Tuhan, tidak bisa dibangun dalam sehari
atau setahun. Ternyata cinta yang dewasa
kepada Tuhan harus diperjuangkan.
Cinta yang tidak dewasa kepada Tuhan dalam hidup seseorang
yang belum lama menjadi orang Kristen, diterima dan dimaklumi oleh Tuhan. Sama
seperti orang tua yang mendengar anaknya yang masih kecil berkata, “aku sayang
mama”. Orang tua menerima cinta anak itu dan bisa menikmatinya. Berbeda dengan
keadaan ketika anak itu sudah dewasa. Ia tidak pernah berkata lagi kepada
mamanya, ’I love you, mom’. Tetapi tindakannya akan menunjukkan bahwa ia
mencintai mamanya. Mamanya bisa menikmati dan merasakan cinta anak tersebut
tanpa perkataannya. Mamanya dapat menikmati cinta anak itu lebih dari menikmati
pemberiannya. Apalagi orang tua yang sudah tidak bisa makan enak atau naik
mobil mewah, ia tidak dapat menikmati barang pemberian anaknya, tetapi gelora
cinta anaknya yang tulus, dirasakannya sebagai sebuah cinta yang berkualitas.
Sama dengan jika
seorang pria mencintai seorang wanita secara utuh, sebenarnya juga membutuhkan
proses yang tidak singkat. Ada orang yang merasa telah mencintai pasangannya,
tetapi sebenarnya cintanya belum dewasa. Cintanya hanya didorong oleh libido
semata atau faktor lainnya, misalnya karena harta orang tua si wanita. Kalau
libidonya surut entah karena usia atau berbagai faktor lainnya, maka belum
tentu cintanya masih utuh. Kalau harta warisan yang diberikan oleh orang tua
wanita habis, ia akan mudah meninggalkannya. Kalau pasangannya berbuat suatu
kesalahan belum tentu juga ia masih mencintai. Itulah sebabnya dalam fakta
kehidupan ini, kita menjumpai banyak pasangan yang mudah bercerai walau belum
lama menikah, atau sudah lama menikah tetapi cintanya tidak bertumbuh dewasa,
akhirnya cerai. Kalau tidak bercerai, mereka masih hidup bersama hanya karena
faktor malu bila cerai atau faktor anak-anak. Relasi seperti ini adalah relasi
yang tidak ideal. Sebuah relasi yang akan melukai salah satu pasangannya
Jangan kita mengaku mencintai Tuhan,
jika ada kebohongan di balik ungkapan tersebut .
Saturday, July 21, 2012
Bukan Sekadar Status
Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono
Kalau ada orang Kristen yang tidak mengerti Injil, itu berarti ia tidak memiliki keselamatan.
Apa maksud kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia ini ? Jawaban yang umum diberikan dengan cepat oleh seorang Kristen adalah bahwa kedatangan-Nya adalah untuk menyelamatkan umat manusia. Itu benar, tetapi kalau ditanyakan bagaimana mekanisme proses penyelamatan tersebut, tidak banyak orang yang mengerti.
Jika kita mau memahami apa sebenarnya maksud inti kedatangan-Nya ke dalam dunia, kita akan tertumbuk dua hal yang sangat penting. Pertama, Ia datang untuk membuka pikiran manusia agar mengenal hikmat dari Allah. Hikmat itu seperti buku petunjuk untuk menyelenggarakan hidup sebagai manusia yang diperkenan oleh Allah. Untuk itu Tuhan Yesus mengajar dan memberi teladan nyata bagaimana seharusnya seseorang hidup dalam kebenaran dan kesucian Allah. Itulah sebabnya Ia tidak sekadar turun ke bumi untuk disalib, tetapi juga mengajar selama sekitar tiga setengah tahun. Yang diajarkan Yesus dan seluruh kehidupan-Nya itulah yang disebut Injil, sebab dari pengajaran-Nya yang dipersembahkan bagi Bapalah kita memperoleh keselamatan ( Roma 1:16 ). Memahami hal ini membuat kita akan sangat menghargai Injil yang kita miliki dengan mempelajarinya secara serius. Maka kalau ada orang Kristen yang tidak mengerti Injil, sesungguhnya itu berarti ia tidak memiliki keselamatan.
Kedua, kedatangan-Nya ke dalam dunia adalah untuk membuktikan bahwa ada manusia yang bisa taat kepada Bapa di Sorga dalam kebenaran dan kesucian yang sesunggunya ( Filipi 2:5-10 ). Ketaatan itulah yang “meluluskan” dirinya sebagai Pokok Keselamatan bagi mereka yang taat ( Ibrani 5:9 ). Bagi mereka yang taat artinya bagi mereka yang meneladani ketaatan-Nya.
Jadi harus diingat bahwa keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya. Tuhan Yesus adalah model manusia yang sesuai dengan kehendak Bapa. Dengan demikian keselamatan itu tidak akan bisa dialami atau diterima oleh orang yang tidak mau memahamikebenaran yang Tuhan ajarkan dan tidak mau mengenakan cara hidup Tuhan Yesus. Keselamatan bukan sekadar mengenakan status sebagai seseorang yang beragama Kristen.
Percaya kepada Tuhan Yesus bukanlah sekadar mengaku bahwa Ia adalah Tuhan, tetapi menjalani kebenaran dan cara hidup-Nya. Pernyataan serupa ini menghiasi sekuruh Injil, tapi sedih sekali, banyak orang Kristen mengabaikannya. Mari kita kembali kepada Injil yang benar, agar kita tidak terjerembab ke dalam kebodohan yang membinasakan.
Kalau ada orang Kristen yang tidak mengerti Injil, itu berarti ia tidak memiliki keselamatan.
Apa maksud kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia ini ? Jawaban yang umum diberikan dengan cepat oleh seorang Kristen adalah bahwa kedatangan-Nya adalah untuk menyelamatkan umat manusia. Itu benar, tetapi kalau ditanyakan bagaimana mekanisme proses penyelamatan tersebut, tidak banyak orang yang mengerti.
Jika kita mau memahami apa sebenarnya maksud inti kedatangan-Nya ke dalam dunia, kita akan tertumbuk dua hal yang sangat penting. Pertama, Ia datang untuk membuka pikiran manusia agar mengenal hikmat dari Allah. Hikmat itu seperti buku petunjuk untuk menyelenggarakan hidup sebagai manusia yang diperkenan oleh Allah. Untuk itu Tuhan Yesus mengajar dan memberi teladan nyata bagaimana seharusnya seseorang hidup dalam kebenaran dan kesucian Allah. Itulah sebabnya Ia tidak sekadar turun ke bumi untuk disalib, tetapi juga mengajar selama sekitar tiga setengah tahun. Yang diajarkan Yesus dan seluruh kehidupan-Nya itulah yang disebut Injil, sebab dari pengajaran-Nya yang dipersembahkan bagi Bapalah kita memperoleh keselamatan ( Roma 1:16 ). Memahami hal ini membuat kita akan sangat menghargai Injil yang kita miliki dengan mempelajarinya secara serius. Maka kalau ada orang Kristen yang tidak mengerti Injil, sesungguhnya itu berarti ia tidak memiliki keselamatan.
Kedua, kedatangan-Nya ke dalam dunia adalah untuk membuktikan bahwa ada manusia yang bisa taat kepada Bapa di Sorga dalam kebenaran dan kesucian yang sesunggunya ( Filipi 2:5-10 ). Ketaatan itulah yang “meluluskan” dirinya sebagai Pokok Keselamatan bagi mereka yang taat ( Ibrani 5:9 ). Bagi mereka yang taat artinya bagi mereka yang meneladani ketaatan-Nya.
Jadi harus diingat bahwa keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya. Tuhan Yesus adalah model manusia yang sesuai dengan kehendak Bapa. Dengan demikian keselamatan itu tidak akan bisa dialami atau diterima oleh orang yang tidak mau memahamikebenaran yang Tuhan ajarkan dan tidak mau mengenakan cara hidup Tuhan Yesus. Keselamatan bukan sekadar mengenakan status sebagai seseorang yang beragama Kristen.
Percaya kepada Tuhan Yesus bukanlah sekadar mengaku bahwa Ia adalah Tuhan, tetapi menjalani kebenaran dan cara hidup-Nya. Pernyataan serupa ini menghiasi sekuruh Injil, tapi sedih sekali, banyak orang Kristen mengabaikannya. Mari kita kembali kepada Injil yang benar, agar kita tidak terjerembab ke dalam kebodohan yang membinasakan.
Wednesday, July 4, 2012
Tragis, ternyata tidak dikenal Bapa
Oleh : Pdt. Dr. Erastus
Sabdono.
Dari : Warta Rehobot Ministry
Menerima keselamatan adalah usaha
untuk melakukan kehendak Bapa.
Untuk mewujudkan keselamatan, yaitu
mengerti apa yang diajarkan Tuhan dan melakukan kebenaran agar serupa dengan
diri-Nya, kita harus mempertaruhkan segenap hidupnya. Keselamatan yang benar
dan murni tidak akan terwujud dalam kehidupan, kalau kita tidak mempertaruhkan
segenap hidup kita.
Di sinilah kita temukan letak
mahalnya harga keselamatan itu. Keselamatan untuk manusia telah diperjuangkan
oleh Tuhan Yesus di kayu salib dengan memberikan segenap diri-Nya. Itu
pengorbanan yang sangat mahal, dan tidak dapat kita lakukan sendiri, karenanya
disebut anugerah. Tetapi anugerah membutuhkan respons dari kita, supaya menjadi
terwujud dalam kehidupan kita.
Respons ini tidak sederhana. Tidak
cukup hanya dengan mengucapkan kalimat syahadat bahwa Yesus adalah Tuhan, lalu
sah menjadi anak-anak Allah. Pandangan ini merupakan penyesatan dan
mengakibatkan banyak orang yang mengira dirinya selamat, ternyata berakhir di
kebinasaan. keselamatan yang tidak ternilai harganya membutuhkan respons yang
juga sangat mahal, yaitu mempertaruhkan segenap hidup kita.
Tuhan Yesus berkata agar kita yang
mau selamat berusaha untuk memasuki pintu yang sesak. Artinya berjuang
mempertaruhkan segenap hidup kita. Bagi manusia, jelas ini hal yang sangat
berat. Tidak banyak orang yang berani melakukannya. Kalau jujur, kita bisa
melihat bahwa sebagian besar orang Kristen hari ini masih berpikir dirinya bisa
masuk surga tanpa perjuangan, dan memiliki kehidupan kekal tanpa kehilangan
kehidupan di dunia ini. Ingat, tidak ada jalan mudah untuk selamat. Tanpa
kehilangan kehidupan, seseorang tidak akan dapat memperolehnya ( Matius 10:39
). Itulah harga yang tidak bisa dikurangi.
Dengan memahami hal ini kita tidak
heran lagi bahwa ada orang-orang Kristen yang merasa dirinya sudah istimewa di
mata Allah, tetapi tragis sekali sebab mereka ternyata tidak dikenal Bapa,
sebab tidak melakukan kehendak-Nya ( Matius 7:21-23 ). Memberikan segenap hidup
kita artinya bahwa tidak ada yang lebih dicari dalam kehidupan ini selain
melakukan kehendak Bapa. Dengan demikian pada dasarnya menerima keselamatan
adalah usaha untuk melakukan kehendak Bapa.
Sekali lagi ditegaskan bahwa kebenaran ini mendukung prinsip Sola Gratia ( hanya oleh anugerah ). Tanpa keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus yang turun ke dunia, tidak ada seorang pun bisa melakukan kehendak Allah. Inilah anugerah itu. Tetapi kita harus meresponi anugerah itu dengan berjuang agar dapat melakukan kehendak Allah. Itu tidak mustahi bagi mereka yang rela kehilangan kehidupannya.
Monday, June 25, 2012
Krisis yang Kudus
Oleh: Pdt.Dr.Erastus Sabdono
Oleh karena Tuhan adalah rahasia terbesar dalam kehidupan, maka seluruh waktu hidup kita semestinya dihabiskan untuk mengenal Dia.
Penghayatan yang benar terhadap realitas hidup yang dipandu oleh kebenaran Firman Tuhan akan membangkitkan perasaan krisis yang kudus. Perasaan krisis tersebut adalah gentarnya diri kita terhadap kedahsyatan kekekalan dan kedahsyatan singkatnya perjalanan hidup ini. Bukan hanya kekekalan yang dahsyat; singkatnya hidup ini juga dahsyat atau mengerikan. Kuasa kegelapan berusaha menyembunyikan kenyataan ini dengan cara menciptakan suatu suasana dunia yang seakan-akan tidak pernah ada ujungnya, sehingga membuat orang melupakan realitas kehidupan yang dahsyat.
Pemazmur mengajarkan doa, agar Tuhan mengajar kita menghitung hari-hari hidup kita. Itu tentu dimaksudkan agar kita memiliki hati yang bijaksana. Hati yang bijaksana adalah hati yang takut akan Tuhan secara benar, yaitu takut karena mengasihi dan menghormatiNya. Ini akan menggerakkan kita untuk berusaha mengenal Tuhan, melakukan kehendakNya dan hidup dalam perdamaian senantiasa dengan Dia. Jadi, orang yang tidak menyadari singkatnya waktu hidup ini adalah orang-orang yang pasti tidak bijaksana.
Perasaan krisis tersebut juga akan mendorong seseorang berusaha mengalami Tuhan secara nyata dan berlimpah. Tanpa pengalaman dengan Tuhan, kita tidak akan merasa nyaman dan tenang dalam hidup ini. Oleh karena Tuhan adalah rahasia terbesar dalam kehidupan, maka seluruh waktu hidup kita semestinya dihabiskan untuk mengenal Dia. Bukankah Paulus mengatakan bahwa yang dikehendaki adalah mengenal Tuhan dan kuasa kebangkitanNya (Flp. 3:10)? Kuasa kebangkitanNya hendak menunjuk pengalaman nyata dengan Allah yang hidup.
Kebutuhan akan perasaan krisis yang kudus ini perlu kita serukan sebab sebagian besar manusia hari ini tidak merasakannya. Mereka lebih mempunyai perasaan krisis yang tidak kudus, yang mendorong mereka memenuhi pikirannya dengan perencanaan-perencanaan pribadi tanpa memperhitungkan bahwa tenggat waktu akhir hidupnya bisa terjadi setiap saat. Itulah yang disebut Firman Tuhan sebagai kecongkakan (Yak. 4:13-16).
Atmosfer kehidupan seperti ini juga memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan anak-anak Tuhan, sehingga mereka hidup dalam kecerobohan yang sangat membahayakan. Hal ini menjadi subur dewasa ini, sebab pokok pemberitaan di mimbar gereja juga hanya seputar berkat jasmani dan janji-janji kemakmuran di bumi. Marilah kita belajar menghitung hari-hari hidup kita ini, dan jika serius melakukannya, pasti kita akan menjadi semakin bijaksana.
Subscribe to:
Posts (Atom)














