Thursday, June 24, 2010

Salah Melihat


Salah Melihat

Bacaan hari ini: Matius 7:1-5
Ayat mas hari ini: Matius 7:3
Bacaan Alkitab Setahun: Ester 3-5; Kisah Para Rasul 5:22-42



Sir Percival Lowell adalah astronom ternama pada akhir abad ke-19. Ketika melihat planet Mars dari teleskop raksasa di Arizona, ia melihat ada garis-garis di planet itu. Menurutnya, itu adalah kanal-kanal buatan makhluk planet Mars. Lowell mengabdikan seluruh hidupnya untuk memetakan garis-garis itu. Namun, foto satelit kini membuktikan tidak ada kanal di Mars. Lantas apa yang dilihat Lowell? Ternyata ia melihat pembuluh-pembuluh darah di matanya sendiri saat melihat teleskop! Ia menderita penyakit langka yang kini disebut “Sindrom Lowell”.
Sama seperti Lowell, kita pun bisa salah memandang orang lain. Sifat-sifat buruk orang lain tampak begitu besar dan nyata, sehingga kita terdorong untuk menegur dan menghakiminya. Padahal tanpa sadar kita pun punya sifat buruk itu, bahkan mungkin lebih parah! Ini ibarat orang yang mau mengeluarkan serpihan kayu dari mata orang lain, padahal ada balok di matanya sendiri. Sebuah perbuatan munafik yang tidak akan berhasil. Seseorang harus menyadari dulu sifat-sifat buruknya sendiri, lalu berusaha mengatasinya. “Balok di matanya” harus dikeluarkan, sebelum bisa menegur orang dengan penuh wibawa.
Sikap suka menghakimi kerap muncul dalam keluarga. Bisa terjadi dalam hubungan antara orangtua dan anak, atau suami dan istri. Kedekatan membuat kita sangat mengenal cacat cela orang-orang yang kita kasihi. Akibatnya, kita menjadi sangat mudah menemukan kesalahan mereka. Ini yang harus kita waspadai. Lain kali, sebelum menuduh dan mencaci-maki, periksalah diri sendiri dulu. Belum tentu kita lebih baik dari mereka. Jadi, lebih baik saling menasihati daripada saling menghakimi.

Dengan menghakimi kita merasa diri hebat
Dengan saling menasihati kita akan merasa diri sederajat

Penulis: Juswantori Ichwan

Kena Batunya

Kena Batunya

Bacaan hari ini: 2 Samuel 9
Ayat mas hari ini: 2 Samuel 5:8
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 1,2; Kisah Para Rasul 7:22-43


Pengalaman buruk tertentu bisa membuat orang sentimen setengah mati kepada sesuatu atau seseorang. Sebagai contoh, karena pernah ditipu orang dari suku tertentu, seseorang menjadi benci pada semua orang dari suku itu; gusar pada segala hal yang berbau suku tersebut. Padahal itu penyamarataan yang keliru.
Dulu, ketika hendak menyerang Yerusalem, Daud pernah dihina orang Yebus, penduduk Yerusalem. Mereka menyebutnya pecundang; yang akan dikalahkan orang-orang buta dan timpang. Daud pun merasa harga dirinya diinjak-injak. Dan sejak itu, ia menjadi benci pada orang-orang timpang dan buta (2 Samuel 5:8). Namun, di kemudian hari Tuhan mengizinkan sesuatu yang aneh terjadi. Ketika ia bertekad memenuhi janji kepada sahabatnya Yonatan yang telah meninggal, yaitu menunjukkan kasih kepada keturunannya, dibawalah kepadanya anak Yonatan yang bernama Mefiboset—yang timpang kakinya! Demi membuktikan tekadnya untuk mengasihi, setiap hari Daud makan semeja dengannya. Lantas kita katakan: Daud kena batunya.
Perasaan sentimen bisa jadi cukup akrab dengan kita. Padahal perasaan itu menghalangi kita untuk bersikap adil dan mengasihi. Sentimen membuat kita cenderung menyamaratakan; pukul rata saja. Akibatnya, mungkin ada pihak tak bersalah yang jadi sasaran. Belum lagi jika perasaan sentimen itu kita tularkan pada orang-orang di sekeliling kita. Semua jadi ikut curiga, takut, dan tendensius akibat sebuah sentimen pribadi.
Mari bersikap lebih jujur dan adil dengan belajar mengatasi sentimen pribadi. Tak perlu menunggu sampai Tuhan mengizinkan pengalaman serupa Daud terjadi pada kita, bukan?

KASIH KERAP KALI PERLU DITUNJUKKAN DENGAN BUKTI
KHUSUSNYA PADA ORANG YANG KITA KECUALIKAN UNTUK DIKASIHI

Penulis: Pipi Agus Dhali

Monday, May 31, 2010

Eling


Eling

Bacaan hari ini: Ulangan 26:1-11
Ayat mas hari ini: Yosua 1:13
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 15-16; Yohanes 12:27-50


”Agama: eks kristen.” Saya kaget membaca informasi ini di akun Facebook mantan teman sekolah saya. Dulu ia termasuk rajin ke gereja. Tidak jelas apa yang terjadi atas dirinya dalam dua puluh tahun terakhir. Yang jelas kini ia telah menjadi orang berada. Memimpin perusahaan ternama. Kerja kerasnya mengumpulkan harta rupanya tidak dipandang sebagai berkat Tuhan, melainkan hasil usaha sendiri. Sayang! Ia kehilangan sikap eling. Sikap ingat asal-usul, sadar bahwa kita bisa menjadi seperti sekarang—selamat, sukses, sehat—karena campur tangan Tuhan.
Orang Israel punya cara unik untuk menjaga sikap eling. Setiap kali panen tiba, tiap keluarga harus menyisihkan hasil panen mereka untuk dipersembahkan. Sebelum diberikan, sang ayah harus memberi kesaksian tentang kebaikan Tuhan pada masa lalu, di depan imam dan keluarganya. Ia menceritakan bagaimana Tuhan telah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, menuntun di sepanjang jalan sampai tiba di Tanah Perjanjian. Ia harus menyatakan bahwa hasil panen yang ada di tangannya adalah bukti pemeliharaan Tuhan. Lalu persembahan diberikan dan semuanya sujud di hadapan Tuhan. Ritual ini menolong mereka untuk terus mengakui penyertaan Tuhan. Eling. Tidak takabur.
Supaya kita selalu eling, sering-seringlah bersaksi tentang kebaikan Tuhan. Anda baru sembuh dari sakit? Mendapat berkat? Mengalami pertolongan Tuhan? Jangan diam saja. Saksikan pada keluarga dan rekan. Katakan bahwa semua itu Anda alami karena kebaikan Tuhan. Niscaya Anda akan selalu eling. Dan, tidak pernah menjadi “eks kristen”.

TUHAN MEMBERI ANDA HIDUP SELAMA 86.400 DETIK HARI INI
BERAPA YANG ANDA GUNAKAN UNTUK MENGINGAT KEBAIKAN-NYA?

Penulis: Juswantori Ichwan

Saturday, May 15, 2010

Hari-Hari Hidup


Hari-Hari Hidup

Cipt.Pdt.Dr.Erastus Sabdono.

Hari-hari hidup datang dan berlalu
Bagaikan deret awan yang ditiup angin
Hatiku bertanya, Kau bri ku jawabnya
Mengapa ku disini, di kembara dunia

Reff: Kau buka mataku, hati dan pengertianku
Hidup ini tuk mengabdi
BagiMu disingkat hariku

Kaulah tujuanku, indah kerajaan-Mu
Diujung jalanku tampak matahari
Kehidupan yang tak pernah terbenam.

Note: lagu ini dipopulerkan oleh Albert Fakdawer, dan disetiap kotbah Pak Eras sering menyanyikan lagu ini. Lagu ini mengingatkan agar kita harus merubah sikap hidup kita sesuai kebenaran Firman Tuhan, agar dapat masuk Kerajaan-Nya.

Friday, May 14, 2010

sumber kekuatan


Sumber Kekuatan

Bacaan hari ini: 1 Samuel 30:1-19
Ayat mas hari ini: 1 Samuel 30:6
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 13-14; Yohanes 2

Seorang ibu muda bercerita, “Anak kami lahir autis, suami tidak bisa menerima. Ia menyalahkan saya. Katanya, saya tidak bisa menjaga diri selama masa kehamilan. Sejak itu sikapnya berubah jadi kasar; kata-katanya pedas dan menyakitkan, bahkan tidak jarang main pukul. Tiap hari saya harus menerima kekasarannya. Lebih-lebih ketika usahanya bangkrut. Ia menganggap saya ini biang kesialan hidupnya. Saya benar-benar habis akal. Mengurus anak yang autis, menghadapai suami yang ‘gila’, belum lagi harus mencari nafkah. Kalau bukan karena iman kepada Tuhan, mungkin saya sudah nekat ambil jalan pintas.”
Ya, iman kepada Tuhan adalah jangkar yang kokoh dalam kita menjalani roda kehidupan. Terlebih di tengah kesusahan dan musibah yang terjadi. Daud merasakan betul kebenaran ini. Ketika ia dan tentaranya kembali dari perjalanan ke beberapa daerah, mereka mendapati rumah dan harta benda mereka habis dibumihanguskan orang-orang Amalek. Keluarga mereka dijadikan tawanan. Mereka begitu pedih dengan kenyataan itu (ayat 4). Dari pedih, rakyat banyak itu berubah menjadi marah kepada Daud. Hampir saja terjadi pertumpahan darah di antara mereka sendiri. Daud lalu menguatkan kepercayaan mereka kepada Tuhan (ayat 6), sehingga keadaan dapat dikendalikan.
Saat ini mungkin kita tengah mengalami pencobaan; rupa-rupa tekanan hidup dan persoalan seolah tidak kunjung berhenti, berbagai kesulitan menghantam. Dalam situasi demikian, yang terbaik adalah memperteguh iman kita kepada Tuhan. Kuatkan kepercayaan kita kepada-Nya. Ingat kasih-Nya. Berharap kepada-Nya. Dengan begitu kita akan dijaga dari tindakan yang salah.

IMAN SEUMPAMA TIANG YANG KOKOH
BAGI SEBUAH RUMAH

Penulis: Ayub Yahya

Friday, April 16, 2010

Penyakit Rohani



Penyakit Rohani

Bacaan hari ini: Galatia 5:16-24
Ayat mas hari ini: Galatia 5:24
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 27-29; Lukas 13:1-22


Yang namanya penyakit: ada penyakit jasmani, ada penyakit rohani. Penyakit rohani lebih berbahaya daripada penyakit jasmani, karena berlaku tidak hanya di dunia ini saja, tetapi juga dalam kehidupan nanti sesudah kehidupan di dunia ini. Tidak ada, misalnya, orang yang masuk neraka karena menderita diabetes atau darah tinggi. Selain itu penyakit rohani biasanya tidak disadari, kecuali oleh orang lain. Orang yang tamak, misalnya, ia tidak akan sadar kalau dirinya tamak. Malah bisa jadi tersinggung kalau dibilang tamak.
Bagaimana mengatasi penyakit rohani? Pertama-tama, kenali jenis-jenis penyakit rohani yang ada. Paulus menyebut penyakit rohani ini sebagai “perbuatan daging” (ayat 19). Lalu, lakukan “check-up” rutin, yaitu dengan melakukan evaluasi dan introspeksi diri; bisa secara pribadi, bisa bersama orang terdekat—apakah kita mengidap salah satu atau beberapa dari penyakit rohani tersebut?
Apabila ada, segeralah lakukan “penyembuhan”, bisa dengan meminta nasihat orang-orang yang kita percayai, bisa juga dengan membaca buku-buku rohani yang sesuai. Dan yang paling utama, berdoalah kepada Tuhan. Salah satu contoh bagus doa agar terbebas dari penyakit rohani ada di Amsal 30:7-9, “Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa Tuhan itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.
Kita jangan hanya peduli dengan penyakit jasmani
kita juga perlu peduli dengan penyakit rohani dalam diri kita

Penulis: Ayub Yahya

Wednesday, April 7, 2010

Jadwal Radio Suara Kebenaran Dan TV Indovision dll.



Jadwal Siaran Suara Kebenaran & Renungan Harian Truth

Update jadwal program radio Suara Kebenaran dan Renungan Harian TRUTH per Februari 2010. Ikuti terus program Suara Kebenaran dan Renungan Harian TRUTH untuk memperoleh kebenaran Firman Tuhan yang murni.
STASIUN RADIO YANG MENYIARKAN PROGRAM SUARA KEBENARAN (SK) DAN RENUNGAN HARIAN TRUTH

• Bajawa: Radio Pemulihan Kasih 96.5 FM (TRUTH: setiap hari 06.30; SK: Sen/Sel/Jum 09.00, setiap hari 18.30)
• Banjarmasin: Radio Khana 89.7 FM (TRUTH: setiap hari 22.00; SK: Senin s.d. Jumat 19.00, Sabtu 19.00)
• Barong Tongkok: Radio Suaka 103 FM (TRUTH: setiap hari 06.00; SK: Minggu 06.30)
• Blitar: Radio Harmoni 107.1 FM (TRUTH: setiap hari 22.00; SK: setiap hari 05.00)
• Comal: Radio Yobel 107.9 FM (TRUTH: Setiap hari 06.30; SK: Sel/Kam 11.30)
Jabodetabek: Radio Pelita Kasih 96.3 FM (SK: Selasa 21.00, Sabtu 05.00), Heartline 100.6 FM (SK: Senin 19.00), Ravi 576 AM (SK: Selasa 06.00), RS PGI Cikini (TRUTH: setiap hari 05.00, SK: setiap hari 07.30)
• Jayapura: Radio Rock 101 FM (TRUTH: setiap hari 23.45)
• Kediri: Radio Syalom 107.2 FM (TRUTH: Senin s.d. Sabtu 12.00; SK: Minggu 06.00)
• Kotamobagu: Radio El Shaddai 105.1 FM (TRUTH: Senin s.d. Jumat 06.00; SK: Senin s.d. Jumat 12.00)
• Kuala Kapuas: Radio Bahtera Hayat 91.4 FM (TRUTH: setiap hari 06.00; SK: Sen/Rab/Sab 18.30, Jumat/Minggu 08.30)
• Kupang: Radio Lizbeth 98.4 FM (TRUTH: setiap hari 05.00; SK: Minggu 05.30, Rabu 21.00)
• Magelang: Radio GKL 106.4 FM (SK: Minggu 21.00)
• Malang: Radio Solagracia 97.4 FM (TRUTH: setiap hari 05.15, 21.45; SK: Senin s.d. Sabtu 20.00, Rabu 23.15)
• Manado: Radio Sumber Kasih 90.2 FM (TRUTH: setiap hari 15.00), Mitra Kawanua 91.0 FM (SK: Selasa 10.00), ROM2 102 FM (SK: Selasa 10.00, Kamis 06.00), Kidung Syalom 107.8 FM (TRUTH: setiap hari 05.00; SK: setiap hari 15.00, 21.00)
• Manokwari: Radio Suara Kemenangan 101 FM (TRUTH: setiap hari 06.45; SK: setiap hari 05.30)
• Masohi: Radio Kidung Syalom 91.2 FM (TRUTH: setiap hari 05.00; SK: setiap hari 15.00, 21.00)
• Nabire: Radio Swara Menara Kasih 101.1 FM (TRUTH: setiap hari 05.00; SK: Senin/Kamis 21.00)
• Palu: Radio Proskuneo 105.8 FM (TRUTH: setiap hari 22.00; SK: Kamis 16.00)
• Palangkaraya: Radio Kidung Syalom 91.6 FM (TRUTH: setiap hari 06.00; SK: Senin s.d. Jumat 19.00), Evella Channel 96.7 FM (TRUTH: setiap hari 06.00, 23.30; SK: Minggu 06.30)
• Pematangsiantar: Radio Suara Kidung Kebenaran 87.8 FM (TRUTH: setiap hari 05.30; SK: setiap hari 21.00), Siantar 94.9 FM (SK: setiap hari 06.00, Senin 19.00), Epi Ginosko 104.7 FM (SK: setiap hari 06.00, Senin 19.00)
• Probolinggo: Radio BKSM 98.8 FM (TRUTH: setiap hari 05.30; SK: setiap hari 05.45)
• Salatiga: Radio Suara Agape 107.9 FM (TRUTH: setiap hari 08.00; SK: Senin, Selasa, Rabu 18.00)
• Samarinda: Radio One Way 95.2 FM (SK: Rabu 22.00, Minggu 19.00)
• Semarang: Radio Agape 94.5 FM (TRUTH: setiap hari 09.00; SK: Minggu dan Senin 12.00), Good News 94.9 FM (TRUTH: setiap hari 22.00; SK: setiap hari 22.15), BeFM (TRUTH: setiap hari 06.00 & 15.00;
SK: setiap hari 05.30, Kamis 19.00), Keruxon 107.7 FM (SK: Sen/Rab/Jum 22.00)
• Sintang: Radio Pola Rekso 104.2 FM (SK: Minggu 07.00)
• Solo: Radio Immanuel 91.3 FM (TRUTH: setiap hari 23.15)
• Surabaya: Radio Bahtera Yuda 96.4 FM (TRUTH: setiap hari 07.00, 23.00; SK: Selasa s.d. Minggu 21.00), Nafiri 107.1 FM (SK: setiap hari 07.30, 17.00, 22.00), Sangkakala 1062 AM (SK: Rabu/Kamis 05.00, 21.00)
• Tarakan: Radio Suara Kasih 91.2 FM (TRUTH: setiap hari 09.30, 19.00; SK: Sen/Rab/Jum/Sab 15.00, Sen/Sab 23.00)
• Tarutung: Radio Bonafit 90.1 FM (TRUTH: setiap hari 23.00; SK: Senin/Rabu/Jumat 23.15)
• Tegal: Radio Swara Wacana 107.7 FM (SK: Rabu 12.00 & 21.00)
• Tomohon: Radio Kabar Baik 100 FM (SK: Rabu 22.00)
• Tondano: Radio Geovani Mart 96.5 FM (TRUTH: setiap hari 05.00; SK: Senin/Rabu 04.30, setiap hari 21.00)
• Ungaran: Radio Sahabat Sejati 107.7 FM (TRUTH: setiap hari 17.00; SK: Senin s.d. Sabtu 06.00, Rabu 21.00)
STASIUN TELEVISI YANG MENAYANGKAN PROGRAM SUARA KEBENARAN
• U Channel — Indovision Channel 95: Rabu, 07.30 WIB; Sabtu, 22.00 WIB
• Pacific TV Manado: Selasa/Kamis/Sabtu, 07.30 WITA
• TV 5 Manado: Senin s.d. Kamis, 21.30 WITA
• TV Bangka: Setiap Minggu pertama dan ketiga, 18.00 WIB
• TV Borobudur Semarang: Minggu, 14.00 WIB

Tuesday, March 30, 2010

Jangan Berhenti Memeriksa Diri


Jangan Berhenti Memeriksa Diri

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono.

Jika seseorang tidak memperagakan pribadi Kristus, berarti ia memperagakan pribadi setan. Mengenakan pribadi setan berarti ikut menceraiberaikan, bukan mengumpulkan.

Matius 16:23 dikatakan “Enyahlah iblis Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Perkataan Tuhan Yesus kepada Petrus ini sangat mengejutkan : bagaimana bisa Petrus yang selama ini telah bersama-sama dengan Tuhan Yesus tidak mengerti pikiran Tuhan? Ia mencoba menghalangi rencana Tuhan atau menjadi batu sandungan Tuhan yang mau ke Yerusalem untuk memikul salib. Petrus menjadi alat iblis yang terselubung, padahal tentunya Petrus seperti murid yang lain pernah mengusir setan, Sungguh ironis.

Ini memberikan pelajaran yang berharga bagi kita bahwa kedekatan seseorang secara fisik dengan Tuhan pun tidak menjamin ia memiliki pikiran Tuhan dan mengerti kehendak-NYa. Kalau Petrus murid Tuhan Yesus yang terkemuka bisa kerasukan setan, bukan tidak mungkin orang-orang yang selama ini dianggap rohani atau dekat dengan Tuhan dan aktif dalam pelayanan gereja bisa juga menjadi alat pelayan gereja bisa juga menjadi alat setan yang sangat terselubung. Hal ini harus kita waspadai dengan seksama.

Sebagai perenungan : Apakah kita yakin semua orang Kristen mengerti pikiran Tuhan? Orang yang mengerti pikiran Tuhan pasti memperagakan pikiran dan perasaan Tuhan. Inilah kehidupan seorang yang mengenakan pribadi Kristus. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang pasti mengubah orang lain. Sesungguhnya inilah yang dimaksud menjadi terang dan garam dunia, kehidupan sebagia saksi Kristus yang efektif. Anak Tuhan menjadi surat yang terbuka yang dibaca setiap orang (2 Kor.3:2-3). Orang yang diselamatkan karena melihat perbuatan baik seorang anak Tuhan akan menjadi orang Kristen yang sejati. Mekanisme yang benar dalam proses penyelamatan adalah : bila orang kafir melihat perbuatan baik anak Tuhan, ia dipertobatkan dan lalu didewasakan.

Sebenarnya Tuhan memiliki rencana untuk menyelamatkan orang-orang di sekitar kita bagi kerajaan Allah, tetapi berhubung kelemahan watak dan karakter kita yang terekspresikan melalui perbuatan, maka mereka tidak menjadi orang percaya yang gagal membawa orang lain kepada Tuhan menjadi batu sandungan. Orang yang tidak mengenakan pikiran Kristus akan mengenakan pikiran sendiri, sehingga semua yang dilakukannya merupakan ekspresi dari diri sendiri yang fasik. Tokoh besar dari India, Mahatma Gandi pernah menyatakan bahwa yang membuat ia tidak akan pernah menjadi orang Kristen adalah orang-orang Kristen sendiri yang tidak menampilkan kehidupan seperti Gurunya, Tuhan Yesus Kristus . Oleh sebab itu dalam pelayanan kita, kita harus menampilkan kehidupan Tuhan Yesus. Sayangnya hari ini banyak “hamba Tuhan “ lebih dekat untuk untuk disebut “selebriti”, daripada seorang “hamba” seperti Guru dan Tuhannya.

Memang untuk menjadi saksi Kristus bagi orang lain harganya sangat mahal, yaitu harus mematikan segala hal yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, sehingga dapat memperagakan pribadi setan. Mengenakan pribadi setan berarti ikut menceraiberaikan, bukan mengumpulkan. Dengan ini sekali lagi kita ditantang untuk mengambil sikap, di pihak siapa kita berdiri : Tuhan atau setan? Akhirnya jangan berhenti memeriksa diri, apakah kita masih berjalan dalam kehendak Tuhan atau tidak dalam setiap butir kehidupan yang kita jalani. Solagracia.

Friday, March 26, 2010

Korma


Korma

Bacaan hari ini: Mazmur 92
Ayat mas hari ini: Mazmur 92:13,14
Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-hakim 1-3; Lukas 4:1-30


Pohon korma itu istimewa. Ia mampu tumbuh di tengah gurun gersang di Timur Tengah. Di tengah cuaca panas dan persediaan air yang minim, korma bukan sekedar bisa bertahan hidup. Ia pun mampu berbuah. Bahkan, buahnya manis. Makin tua pohonnya, makin manis buahnya! Daya tahan pohon korma terletak pada akarnya. Ketika biji korma tumbuh, akarnya lebih dulu tumbuh menghunjam jauh ke dalam tanah. Mencari air. Baru setelah itu tumbuh batang dan daunnya.
Pemazmur menggambarkan orang beriman bagaikan pohon korma yang ditanam di bait Tuhan. Firman dan kehadiran Tuhan menjadi makanannya. Ini membuatnya bertumbuh sehat dari tahun ke tahun. Hasilnya? Setelah menjadi tua, ia tetap dapat berbuah manis sekalipun tubuh makin renta dan sakit-penyakit melanda. Ketika kecantikan fisik memudar, kecantikan batin makin nampak. Ia puas terhadap Tuhan. Ia tidak menuduh Tuhan curang (ayat 16), sehingga dapat bersaksi tentang kebaikan-Nya. Sebaliknya, orang tak beriman digambarkan seperti tumbuh-tumbuhan yang tak berbuah (ayat 8). Bertambahnya usia membuat hati mereka menjadi makin pahit, bukan makin manis. Tumpukan persoalan, dendam, dan kekecewaan memenuhi hati. Bagi mereka, masa tua menakutkan dan menyedihkan.
Cobalah periksa; dari tahun ke tahun, hidup Anda makin manis atau makin pahit? Makin suka bersyukur atau mengeluh? Makin puas dengan Tuhan dan sesama, atau makin kecewa? Makin mudah mengampuni atau makin menumpuk dendam? Tanamlah diri Anda di Bait Tuhan. Serap dan taati firman-Nya. Hidup Anda pun akan berbuah manis bagai korma!

Bisa menghadapi tiap hari dengan senyuman
adalah berkat istimewa dari Tuhan

Penulis: Juswantori Ichwan

Thursday, March 25, 2010

Masygullah hati- Nya / Mengapa Yesus Menangis?


Mengapa Yesus Menangis?

Baca : Yohanes 11:32-34
Alkitab dalam setahun : Lukas 23-24


artikel ini diambil dari : Renungan Truth edisi Maret 2010

Pasti kita sudah akrab dengan kisah Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus.
Dalam kisah tersebut terdapat ayat yang dalam bahasa aslinya terpendek diseluruh Alkitab: "Maka menangislah Yesus" (ayat 35).Mengapa Yesus menangis? Dengan pengertian yang benar, ayat yang terpendek ini akan menjadi ayat sangat kuat.

Penting diketahui, kata yang digunakan dalam ayat ini berbeda dengan kata yang digunakan untuk menggambarkan tangisan Maria dan orang-orang Yahudi (ayat.33). Di sana digunakan kata (klaio)yang artinya "menangis meraung-raung". Sementara Yesus hanya meneteskan air mata (edakrusen, dari akar kata (drakruo)), jauh dari kecengengan. Tetapi perlu diketahui bahwa setegar-tegarnya Tuhan Yesus, ia pun mempunyai emosi yang bisa tersentuh dan sedih yang termanifestasi dalam tangisan. Tentu Ia tidak sedih karena kehilangan sahabat-Nya, karena Ia tahu bahwa ia akan segera membangkitkan Lazarus. Jadi mengapa?

Pertama, Yesus menangis karena Ia teringat akan akibat dosa. Sebagai Allah yang Kudus, Ia benci terhadap dosa. Menyaksikan bagaimana dosa bisa merusak dan membunuh sangat menyedihkan bagi-Nya. Apakah kita merasakan hal ini juga, bagaimana dosa bisa merusak, dan membuat orang lain mati, bahkan mati tanpa pengenalan akan Tuhan yang benar, sehingga berakibat kebinasaan kekal?

Kedua, Ia melihat ketidakpercayaan pada orang-orang yang dikasihi-Nya. Ia telah mengatakan bahwa Lazarus akan bangkit, tetapi tidak ada yang percaya. Bahkan Maria, orang terakhir yang diharapkan-Nya untuk percaya, ternyata juga tidak percaya (ay.32). Demikianlah, Yesus sedih jika kita tidak percaya kepada-Nya. Hati-Nya sakit menyaksikan kita menyangsikan kebenaran Injil-Nya, seperti kebaikan-Nya dalam segala hal, termasuk dalam penderitaan (Rm.8:28).

Ketiga, Ia melihat kemunafikan orang Yahudi yang menangis meraung-raung (ay.33). ini dibuktikan dengan penggunaan kata "masygul" (embrimaomai), artinya "marah terhadap kesalahan atau ketidakadilan". Yesus sedih melihat praktik keagamaan yang munafik, yang tidak menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran, tetapi dalam daging dan kepalsuan.

Masihkah kita melakukan hal-hal yang membuat Tuhan meneteskan air mata-Nya? Masihkah kita tidak percaya kepada-Nya dan kepada Injil yang murni? Masihkah kita hanya menjadi Kristen agamawi, dan belum mau menyerahkan sepenuh hidup kita kepada-Nya? Bertobatlah.

Tinggalkanlah hal-hal yang membuat Tuhan meneteskan air mata-Nya .

Wednesday, March 24, 2010

Spektakuler (untuk mengingat kematian Tuhan Yesus)


Spektakuler

Bacaan hari ini: Yohanes 12:12-19
Ayat mas hari ini: Yohanes 12:18
Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 10-12; Lukas 1:39-56


Olimpiade ke-29 dibuka di Beijing, Cina, 8 Agustus 2008, jam 8.08 waktu setempat. Sekitar 90.000 penonton yang hadir di Stadion Bird Nest dan empat miliar pasang mata di seluruh dunia yang menyaksikan lewat televisi, dibuat terpukau dengan atraksi pembukaan berbiaya hingga US$40 miliar itu. Esok harinya headline surat kabar di seluruh dunia memuji pesta akbar pembukaan yang disebut-sebut terhebat sepanjang sejarah Olimpiade. Pujian tak pelak diberikan pada panitia penyelenggara. Satu kata yang bisa menggambarkannya: spektakuler.
Kejadian spektakuler memang mengagumkan. Orang akan dibuat kagum ketika sesuatu yang tidak terpikirkan akal, tidak pernah terbayangkan, tidak pernah diduga, terjadi. Kejadian seperti ini biasanya akan menyebar dengan cepat menjadi buah bibir. Itulah yang dialami oleh Tuhan Yesus sesaat ketika Dia memasuki Yerusalem. Orang banyak itu telah menyaksikan kejadian “spektakuler” yang Tuhan Yesus buat; orang buta melihat, orang sakit disembuhkan, orang mati dibangkitkan, orang lumpuh berjalan.
Itu sebabnya Yesus bukannya senang, tetapi justru menangisinya (Lukas 19:41). Dia tidak ingin orang-orang mengikut Dia karena kejadian spektakuler. Maka, Dia kerap berpesan kepada orang-orang yang melihat mukjizat-Nya, supaya mereka tidak bercerita kepada siapa-siapa (Markus 7:36, Matius 9:30, Lukas 8:56). Dia ingin orang mengikut Dia dengan tulus hati. Dia tahu, iman yang berpangkal pada kejadian spektakuler itu sangat rapuh. Buktinya orang banyak di Yerusalem itu; hari ini mereka mengelu-elukan Dia, beberapa hari kemudian mereka berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

DASARKAN IMAN BUKAN PADA KEJADIAN DI LUAR DIRI
TETAPI PADA KASIH DAN KETULUSAN DI DALAM HATI

Penulis: Ayub Yahya

Tuesday, February 23, 2010

Menyenangkan Tuhan


Menyenangkan Tuhan

Bacaan hari ini: 1 Tesalonika 2:1-6
Ayat mas hari ini: 1 Tesalonika 2:4
Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 4-6; Markus 4:1-20

Ada cerita tentang seorang bapak dengan anak laki-laki dan keledainya. Mereka menuntun keledainya hendak ke pasar. Sang bapak berjalan di samping, sedang anaknya duduk di atas keledai. Beberapa orang yang melihat berkata, “Anak itu tidak memiliki rasa hormat kepada orangtua, masak bapaknya berjalan, dianya sendiri naik keledai?” Tidak enak mendengar kata-kata itu, sang bapak gantian duduk di atas keledai, dan anaknya berjalan.
Orang-orang yang melihat berkata pula, “Kok tega sekali orangtua itu, enak-enak duduk di atas keledai sedang anaknya dibiarkan berjalan?” Mendengar itu, sang bapak meminta anaknya duduk di atas keledai bersamanya. Namun, orang-orang yang melihat berkata, “Kejam sekali, masak keledai tua begitu ditunggangi dua orang?” Bapak dan anak itu pun turun dari keledai dan berjalan beriringan. Ternyata omongan orang-orang tidak berhenti sampai di situ. Beberapa orang yang melihat mereka berkata pula, “Dasar bodoh, punya keledai kok tidak ditunggangi?”
Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Apabila kita berusaha menyenangkan semua orang, seperti bapak-anak dalam cerita di atas, kita akan “capek” dan “bingung” sendiri. Panggilan kita hidup di dunia ini bukanlah untuk menyenangkan hati manusia, tetapi menyenangkan hati Tuhan. Karena itu, standar atau ukuran atas sikap dan perilaku kita adalah Tuhan sendiri; apakah sikap dan tindakan kita menyenangkan Tuhan. Seperti kata Rasul Paulus, “Maka kami berbicara, bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk menyenangkan Allah yang menguji hati kita” (ayat 4).

PANGGILAN HIDUP KITA ADALAH MENYENANGKAN TUHAN

Penulis: Ayub Yahya

Monday, February 8, 2010

Berusaha Menjadi Sempurna

Berusaha Menjadi Sempurna

Oleh : Pdt.Dr. Erastus Sabdono

Mengapa begitu rendahnya hasrat atau minat seseorang untuk berusaha menjadi warga Kerajaan Surga yang baik? Sebab hasrat atau minat mereka telah diarahkan dalam pertualangan panjang mengingini perkara-perkara di bumi, bukan perkara-perkara yang diatas (Kol 3:1-3). Kalau kita masih tidak dapat mengikuti Tuhan Yesus dengan benar, mari kita periksa diri kita dengan jujur, masihkah kita dibelenggu oleh hasrat atau minat kepada hal-hal duniawi?

Memang selama hidup di dunia ini kita mempunyai kebutuhan hidup jasmani itu. Namun segala usaha kita untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani itu tidak boleh mengurangi usaha untuk mencapai kesempurnaan di dalam Tuhan. Jika sesorang menganggap bahwa mengusahakan kebutuhan jasmani lebih penting daripada mencapai kesempurnaan, berarti ia mempertuhankan perut dan berkategori duniawi (Fil 3:19). Pernyataan ini terkesan berlebihan dan menekan, tetapi inilah kenyataannya, bahwa Tuhan memang menghendaki orang percaya sempurna dalam seluruh kegiatan hidupnya. Untuk ini seseorang harus menanggalkan beban dan dosa (Ibr 12:1). Beban artinya keterikatan dengan dunia ini, atau percintaan dunia. Dosa yang dimaksud disini adalah keterikatan seseorang dengan keinginan daging atau hasrat dosa dalam dagingnya.

Alkitab mengatakan bahwa usaha menuju kesempurnaan ini sebagai perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Dan perlombaan ini menuntut iman yang sempurna seperti Yesus, yang ditandai dengan ketaatan-Nya kepada Bapa di Surga ( Ibr.12:2), karena itu sering disebut “perlombaan iman”. Kalau perlombaan ini wajib, mengapa hari ini banyak orang Kristen lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan jasmaninya daripada mengejar kesempurnaan? Berusaha menjadi sempurna tidak mengurangi waktu kerja, tidak berarti harus menjadi aktivis gereja, bahkan tidak harus menjadi pendeta. Berusaha menjadi sempurna berarti selalu dalam sikap berjaga-jaga, terus belajar melakukan segala sesuatu tepat seperti yang Bapa kehendaki.
Belajar memenuhi apa yang dikatakan Firman Tuhan, yaitu “jika kita makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, kita harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan. (1 kor.10:31). Berarti, justru pergumulan dalam latihan melakukan kehendak Tuhan dengan benar adalah pada waktu kita ada di kantor, toko, tempat kerja yang lain, sekolah, pergaulan, di tengah-tengah keluarga, dll. Kesempurnaan bukan hanya ditemukan pada waktu kita melakukan kegiatan di lingkungan gereja. Justru proses pembelajarannya lebih efektif saat kita di luar lingkungan kegiatan gereja, disitulah kita harus menunjukkan bahwa Kristus ada didalam diri kita dan kita tidak hanyut dalam gelombang dunia yang bergulir lebih cepat menuju kegelapan abadi, tetapi sebaliknya kita memiliki langkah maju dalam kedewasaan rohani dan sepenanggungan dengan Tuhan.

Bagi orang yang terlatih mengikuti perlombaan iman ini, maka irama hidupnya pasti selalu ingin mengutamakan Tuhan. Baginya ini adalah kebutuhan, bukan kewajiban. Ini sebagai menu kehidupan yang mutlak harus terselenggara.

Segala usaha kita untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani itu tidak boleh mengurangi usaha untuk mencapai kesempurnaan di dalam Tuhan.

Monday, February 1, 2010

Tos Kitu

Tos Kitu
Truth Daily Enlightenment (edisi January 2010)
Baca: Roma 8:18-30, Alkitab setahun: Matius 5-6

Masuk ke Desa Cibeo di daerah Baduy dalam, Rani adityasari, seorang wartawan sebuah harian nasional, menceritakan bahwa dia disambut oleh penduduk setempat di dalam teras rumah yang terbuat dari jalinan bambu dan kayu tanpa menggunakan paku satu pun. Rakitan rumah tradisional tanpa paku yang sudah turun temurun itu, menurut penduduk setempat,“Tos kitu – ya sudah begitu”. Tradisi yang kuat diwariskan dari generasi ke generasi, tanpa pedoman tertulis, namun dilakukan sangat disiplin. Seperti halnya tradisi saba desa (kunjungan ke desa lain). Praktiknya, mereka pergi ke Jakarta dalam rombongan tiga orang, dimana dua orang diantaranya sudah pernah pergi sebelumnya, kemudian pulang untuk menceritakan pengalamannya sewaktu menginap beberapa waktu di Jakarta. Uniknya, mereka berjalan ke Jakarta memakan waktu tiga hari, karena pergi tanpa beralas kaki dan tidak boleh naik kendaraan. Apabila ada anggota yang melanggar , entah bagaimana pasti ketahuan. Sekembalinya ke desa dia akan segera diusir dari Baduy Dalam. Ketika ditanya mengapa tidak boleh pakai alas kaki dan kendaraan, maka dijawab dengan senyum dan suara halus , “Tos kitu.”

Jika kita membaca Alkitab, maka kita menemukan bahwa penulis Alkitab tidak berusaha untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada, sebab memang mereka mengalami sendiri bergaul dengan Tuhan sesuai dengan pola masing-masing yang khas. Jika bertemu orang atheis yang mempertanyakan keberadaan Tuhan, daripada berdebat, kita lebih baik menjawab “ Tos kitu”. Tuhan ada dan dapat dirasakan keberadaan-Nya buat mereka yang serius ingin mengenal Dia. Para atheis tidak merasakan Tuhan ada bukan karena tidak ada bukti, melainkan karena mereka menindas bukti-bukti itu.

Namun perlu diingat bahwa menggunakan pikiran itu bukan duniawi, sebab pikiran itu diciptakan oleh Tuhan untuk memperlengkapi kita agar kita tidak bisa kita diperdaya dengan pengajaran yang mengatasnamakan Tuhan tapi menyelewengkan kebenaran Alkitab. Pengajaran yang keliru tidak boleh dibungkus dengan kalimat rohani yang mengisyaratkan kita untuk “Percaya saja”. Dalam Rm.8:28 kita diajarkan bahwa Allah turut bekerja di dalam segala hal yang mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Jadi kita harus terus menguji hati kita, apakah kita mengasihi Dia? Jika ditanya, kenapa harus begitu, ya kita jawab saja “ Tos kitu”. Dimana kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikan-Nya dengan tekun.

Iman kepada Tuhan tidak perlu bertanya mengapa harus demikian, namun harus berjalan walaupun banyak ketidakpastian.

Monday, January 25, 2010

Baptisan yang Membingungkan

Baptisan yang Membingungkan

Pdt. Bigman Sirait


Reformata.com, soal baptisan, selam atau percik, dewasa atau anak-anak, memang seringkali menimbulkan perdebatan yang sesungguhnya tidak perlu. Karena semua perdebatan lebih berwarna tafsir denominasi ketimbang pesan Alkitab itu sendiri. Mari kita coba pahami pesan Alkitab tentang baptisan. Apakah ini sejak Perjanjian Lama (PL) atau baru di Perjanjian Baru (PB). Kita mulai dengan surat Paulus yang sangat jelas dalam Kolose 2:11-12, yang menghubungkan sekaligus mempararel antara sunat dalam PL dengan baptisan dalam PB.
Dalam ayat 11 Paulus menyebut sunat yang benar bukan sekadar sunat yang dilakukan manusia melainkan Kristus. Di sini jelas sekali Yesus Kristus (PB), dihubungkan dengan sunat (PL), yaitu ritual sunat yang mencucurkan darah sebagai lambang perjanjian antara manusia yang percaya dengan Allah. Ini dengan jelas dapat kita baca dalam Kejadian 17. Seluruh anak laki-laki yang ada di rumah Abraham disunat, mulai dari Abraham (99 tahun), Ismael (13 tahun), dan semua orang yang ada di rumah Abraham, apakah itu ke-luarga atau pembantu. Ini menjadi tanda keterikatan perjanjian Abraham dengan Allah, dan semua orang yang ada di rumahnya juga mendapat berkat perjanjian karena Abraham.


Namun dalam ketentuan berikutnya, anak disunat pada usia 8 hari (Kejadian 17:12). Darah yang tertumpah itu sebagai simbol perjanjian telah digenapi dalam diri Yesus, yang darah-Nya tertumpah di kayu salib. Sama seperti dalam PL, darah domba menjadi korban penebusan dosa, yang juga digenapi dalam darah Kristus. Sangat jelas, semua yang bayang-bayang dalam PL telah genap dalam PB (Ibrani 10). Itu sebab Yesus Kristus berkata: “Aku datang bukan untuk meniadakan Taurat melainkan untuk menggenapinya” (Ma-tius 5:17). Setelah kematian Kristus di kayu salib tidak ada lagi korban domba sebagai penebus dosa. Demikian juga tidak ada lagi sunat (tertumpahnya darah) sebagai simbol perjanjian. Ganti domba korban penebus dosa, sudah jelas yaitu doa pengakuan dosa dengan hati sungguh-sungguh (1 Yohanes 1: 8-9). Lalu ganti sunat apa? Dalam Kolose, Paulus jelas mengingatkan umat, bahwa baptisan adalah ganti sunat. Baptisan adalah simbol perjanjian anugerah. Ini juga dengan jelas diungkapan oleh Petrus dalam Kisah 2:38-39. Bahwa janji Tuhan bagimu dan anak-anakmu. Apa itu karunia Roh Kudus yang dimaksud oleh Petrus, jelas jika dibaca dari ayat 1, yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus, yaitu penggenapan janji Allah. Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dan kini digenapi, Dia adalah Raja Shaloom dan kini telah datang.
Nah, sekarang soal anak atau dewasa yang dibaptis, dengan jelas pula ada contoh di Alkitab dalam kasus penyunatan keluarga Abraham. Dikatakan, ketika Abraham disunat berumur 99 tahun, dan Ismael 13 tahun. Ishak sudah pasti mengikuti peraturan yaitu 8 hari karena lahir kemudian, demikian juga dengan Yesus sebagai anak Maria dan Yusuf (Lukas 2: 21). Artinya anak-anak dibaptis itu sejalan dengan Alkitab. Namun bukan berarti dewasa tidak bisa, tapi itu tergantung pada kondisi pengenalannya akan Tuhan. Arti-nya, jika dia anak dari keluarga beriman tentu saja sejak anak-anak. Tetapi jika dia bukan dari keluarga beriman, lalu kemudian hari menerima Yesus Kristus tentu saja pada waktu itu (berapa pun usianya).


Soal pendapat bahwa anak-anak belum mengerti apa-apa, sangat tidak sejalan dengan konsep kasih karunia. Adakah orang yang mampu mengerti perjanjian kasih karunia Allah. Dan, ini juga sama dengan mengatakan bahwa ketika Allah menuntut Abraham untuk menyunatkan anak pada usia 8 hari sebagai yang salah. Karena usia 8 hari anak-anak mengerti apa? Perlu diingat bahwa ini bukan soal intelektual, atau psikologis, si anak, tetapi soal teologis yaitu kemurahan Allah kepada umat kepunyaan-Nya. Ingat pula, bukan kita yang memilih Allah tetapi Allahlah yang berinisiatif dalam perjanjian-Nya. Jadi, jika sebuah gereja membaptis anak atau dewasa dapat mempertimbangkannya dengan baik, tapi yang pasti adalah jangan melakukan baptis ulang, karena itu sama saja mengabaikan baptisan yang dilakukan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Semua baptisan formulanya kan sama, yang berbeda adalah pemahaman gerejanya. Sudah waktunya gereja bisa memilah mana yang esensial atau tidak, sehingga tidak membingungkan umat. Dibaptis itu harus, anak atau dewasa silahkan dipikirkan matang.
Sekarang soal cara baptis. Kata “baptiso” (Yunani) dalam Alkitab memiliki beberapa arti, sebagai berikut: membersihkan (Markus 7: 4, band Bilangan 19:18); membasuh (Lukas 11: 38,1 Korintus 10:1-2); memerciki (Ibrani 9:10,19,21); mencelupkan (Matius 26: 23), yang juga berarti menenggelamkan, atau selam. Jadi kata “baptiso” memiliki beberapa arti dan dipakai dalam Alkitab. Ada seorang penulis menuliskan arti kata “baptiso” dengan mengambil sebagian dan mengabaikan yang lain, ini menjadi penggelapan arti dan kurang bijaksana. Tidak jelas apakah karena memang yang dia tahu hanya itu, sehingga tindakannya tidak sengaja, entahlah. Sementara contoh baptisan yang sering dikutip adalah ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis.


Pertama harus disadari bahwa baptisan Yohanes Pembaptis berbeda dengan baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Yohanes Pembaptis membaptis dengan air dan sebagai bukti pertobatan (Matius 3:11), manusia berinisiatif. Sementara Yesus dengan kuasa Roh Kudus (tidak kelihatan, dan akan menjadi kelihatan dalam kehidupan yang benar yaitu buah Roh, (Galatia 5:22-23), dengan ritual baptisan yaitu air. Yohanes tidak membaptis dalam formula Allah Tritunggal. Sementara dalam praktek cara pembaptisan tidak jelas di sana. Dalam Matius 4:16; kata Yesus keluar dari air, sama sekali tidak menunjukkan cara, dalam bahasa Yunani memakai kata depan apo yang artinya sangat jelas, yaitu keluar dari sebuah tempat air (sungai) bukan dari air (tenggelam). Begitu pula dalam kasus sida-sida Ethiopia (Kisah 8: 38-39), tidak menunjukkan cara, karena ada yang berkata mereka keluar dari air. Jika memang begitu berarti Filipus juga telah ikut tenggelam bersama-sama.
Jadi tak satu pun kasus pembaptisan di Alkitab yang mengacu kepada caranya. Bagi saya ini mengagumkan karena menjadi ujian bagi kedewasaan umat dalam beriman. Dan sekaligus tuntutan yang tinggi untuk memahami pesan Alkitab itu sendiri, dan bukan sekadar mewarisi perbedaan di waktu lampau. Jika Anda ingin selam atau percik silahkan saja. Karena dibaptis bukan soal cara, melainkan iman kepada Allah Tri-tunggal itu, dan keterikatan kepada perjanjian kasih karunia. Hanya saja baptisan ulang jangan dipraktekkan oleh gereja sebagai tubuh Kristus. Berbahagialah anak orang beriman, karena janji itu bukan hanya untuk orang tua mereka saja melainkan juga anak-anaknya. Dan kepada setiap orang tua, ajarkanlah kepada anak-anak-mu yang sudah terikat pada perjanjian Allah, berulangkali, kapan dan di mana pun, tentang kebenaran Firman Tuhan (Ulangan 6: 4-9).

Take Me Out, Lord

Take Me Out, Lord

Bacaan : Matius 25:1-13
Alkitab Setahun : Kejadian 27-29
Diambil dari : Renungan Harian Truth Januari 2010

Para peserta realty show di salah satu stasiun tv nasional yang masih menyalakan lampunya berlomba memberikan jawaban yang sesuai dengan kehendak seorang lawan jenis yang sedang berdiri melontarkan pertayaan kepada mereka. Setiap mereka tentunya ingin dipilih oleh si lawan jenis ini, namun si penanya hanya boleh memilih satu orang saja yang paling sesuai dengan keinginan hatinya untuk menjadi pasangannya. Sebisa-bisanya peserta merangkai kalimat menjawab pertayaan si lawan jenis agar ia terpilih dan dibawa keluar dari arena realty show tersebut. Yang terpikir hanya bagaimana agar jawaban itu disukai si penanya bagaimana agar terpilih.

Di hadapan manusia, memang kita bisa memberikan jawaban yang sesuai dengan keinginan si penanya agar kita dipandang berkenan. Kita bisa tampil palsu, munafik, dan bahkan bisa berbohong. Namun tidaklah demikian ketika kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus kelak. Dihadapan- Nya kita harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan yang kita lakukan selama kita hidup (Rm.14:12). Apa yang kita tabur hari ini akan menjadi sesuatu yang harus kita tuai suatu hari, dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Itulah sebabnya kita harus terus bergumul dalam hidup ini, tetap mengerjakan keselamatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita, terus mencari kehendak Tuhan dalam hidup kita, dan melakukan kehendak-Nya dalam hidup kita sehari-hari.

Sebagian orang tidak mau tahu dan tidak peduli akan hari penghakiman tersebut, sehingga mereka hidup ceroboh seperti lima gadis yang bodoh dalam perumpamaan yang diberikan Tuhan Yesus, salah satu penyebabnya adalah karena nilai kebenaran Firman Tuhan telah didegradasi sehingga keselamatan itu kelihatannya gampang. Tuhan akan mempersilakan kita masuk dalam kemuliaan abadi bukan karena jawaban kita yang menyenangkan hati Tuhan saat itu, namun lewat iman kita kepada-Nya, yang dibuktikan dengan perbuatan kita selama kita hidup di dunia ini. Apa pun yang kita lakukan selama hidup akan berdampak pada kekekalan. Karena itu marilah kita memperthatikan bagaimana cara kita hidup: jangan seperti orang bodoh, namun kita harus berusaha mengerti dan melakukan kehendak Tuhan (Ef.5:17)
Suatu hari kelak kita dapat berseru, “Take me out, Lord,” bukan karena jawaban kita yang munafik, namun Tuhan melihat bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Dia dan beriman pada-Nya selama hidup di dunia ini.

Berjaga-jagalah dengan melakukan kehendak-Nya, sebab hari penghakiman akan segera datang.

Wednesday, January 13, 2010

Lewat Batas

Lewat Batas

Bacaan hari ini: 1 Samuel 2:12-17
Ayat mas hari ini: Amsal 4:23
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 33-35; Matius 10:1-20

Seorang pekerja asing mengaku kaget waktu pertama kali datang ke Jakarta. Ia melihat banyak iklan rokok bertebaran di bandara maupun jalan-jalan raya. Padahal, di hampir 170 negara di dunia, pemasangan iklan rokok dilarang di ruang publik, untuk mencegah orang menjadi pecandu rokok. Kita, di Indonesia, sudah sangat terbiasa melihat iklan rokok, sehingga tidak lagi merasa itu salah. Apa yang di mata dunia salah, sudah kita anggap lumrah!

Kitab 1 Samuel 2 menceritakan betapa keterlaluan sikap kedua anak Eli. Mereka disebut “orang dursila” (ayat 12) karena kelancangan yang kelewat batas. Perilaku dursila ini tidak terbentuk dalam semalam. Mula-mula mereka “hanya” mengambil sebagian daging korban yang sedang dimasak umat untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Padahal menurut aturan, daging baru boleh diambil sesudah selesai dipersembahkan. Saat itu Imam Eli tidak tegas menegur. Karena dibiarkan, lama-kelamaan keduanya makin nekat. Belum lagi sempat dimasak, daging korban sudah diminta (ayat 13,14). Bahkan mereka berani memintanya dengan paksa dari tangan umat (ayat 15,16). Sikap keduanya mengejutkan umat. Perbuatan anak-anak imam ini sudah jelas salah, tetapi keduanya menganggap itu lumrah.

Dosa yang dibiarkan bisa membutakan hati nurani. Membuat kita berani melakukannya terang-terangan tanpa rasa bersalah lagi. Penangkalnya cuma satu: menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Kita perlu sering introspeksi. Bercermin pada firman Tuhan. Dari situ kita akan disadarkan jika ada yang tidak beres. Tidak menganggap dosa itu lumrah.

KETIKA DOSA SUDAH DIANGGAP LUMRAH, KITA KEHILANGAN RASA BERSALAH

Penulis: Juswantori Ichwan

Monday, January 11, 2010

2012


2012
artikel diambil dari : Truth Daily Enlightenment

Gema akhir zaman semakin santer setelah film berjudul 2012 yang di sutradarai oleh Roland Emmerich dan didistribusikan oleh Columbia Pictures ditayangkan di bioskop-bioskop. Dari perspektif financial, film itu terbilang sangat sukses, sebab dengan modal sekitar US$ 200 juta, film ini meraup US$ 235 juta hanya dalam satu akhir minggu ketika film tersebut dibuka pertama kali, jika ingin membuktikan bahwa topik ini memang sedang heboh, cobalah cari “2012” di Google dan ada 260 juta link yang ditemukan “2012 apocalypse” (kiamat) ada 2.3 juta link.

Banyak isu yang layak dipikirkan ketika menonton film ini dengan pikiran yang positif dan diterangi kebenaran Injil. Misalnya apa yang akan dilakukan pemerintah-pemerintah di planet ini untuk menyelamatkan 6 milyar rakyatnya? Mengapa akhirnya mereka tidak banyak berbuat apa-apa, selain berkonspirasi untuk mencari selamat sendiri? Kalau melihat keadaan dunia hari ini seperti pemanasan global dan polusi yang makin parah, populasi manusia yang tumbuh tidak terbendung, ditambah dengan abainya para politisi terhadap kesejahteraan rakyat, maka film ini sebaiknya mengundang kita berkontemplasi, apakah kita akan meneruskan cara hidup seperti manusia pada umumnya yaitu mengejar pemuasan kebutuhan duniawi belaka, atau memilih untuk menuruti firman Tuhan untuk menjaga hati kita agar tidak sarat dengan pesta pora, kemabukan dan kepentingan-kepentingan duniawi seperti yang diingatkan dalam Luk.21:34, sebab buat orang-orang yang tidak waspada, hari kedatangan Tuhan akan menjadi sesuatu yang tiba-tiba dan menakutkan. Artinya kalau kita mau berjaga-jaga, kita akan terus di dalam pengertian baru mengenai apa yang harus kita lakukan di bumi yang sudah tua ini. Bila Tuhan benar-benar datang tahun 2012 ataupun mungkin malah 2010, kita seharusnya sudah siap.

Tuhan Yesus sudah mengungkapkan tanda-tandanya. Bukankah sekarang ini Firman-Nya sudah tergenapi? Sudah begitu banyak orang datang menggunakan nama Tuhan dan mengaku diri Tuhan. Kita terkejut bahwa kita kini tidak lagi terkejut mendengar berita peperangan dan pemberontakan, dan terbiasa mendengar berita tentang gempa bumi yang dahsyat, kelaparan dan tanda zaman lainnya. Menarik untuk kita cermati bahwa Tuhan menjelaskan bahwa kita akan dibenci semua orang karena nama-Nya. Memang wajar bahwa kekristenan itu beresiko bagi kita sementara masih di dunia ini. Jika sekarang kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum kedatangan Tuhan, teruslah melangkah di dalam Kristus yang tidak akan meninggalkan kita.

Berjaga-jagalah sehingga kita senantiasa siap menghadapi hari Tuhan.

Tuesday, December 29, 2009

Pengujung Tahun 2009

Pengujung Tahun


Bacaan hari ini: Yakobus 4:13-16

Ayat mas hari ini: Yakobus 4:14

Bacaan Alkitab Setahun: Wahyu 16-18


Kita sudah berada di pengujung tahun 2009. Sebetulnya pengujung tahun atau bukan, itu hanya soal penanggalan (kalender). Di dunia ini ada banyak sekali penanggalan; ada kalender Yahudi, kalender Persia, kalender Jawa, kalender Hindu, kalender China, dan sebaginya. Setiap kalender memiliki perhitungan sendiri. Tahun ini seperti yang kita kenal sekarang adalah penanggalan barat (tahun masehi). Kalender ini adalah karya Paus Gregorius XIII tahun 1508 (karena itu sering juga disebut Kalender Gregorius), perhitungannya dimulai dari kelahiran Tuhan Yesus.

Akan tetapi, terlepas kalender apa pun yang digunakan, pemahaman tentang “pengujung tahun” tetaplah sangat penting. Itu mengingatkan kita akan kefanaan hidup ini, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan berakhir. Hidup kita, dengan segala suka dan dukanya, kesuksesan dan kegagalannya, cepat atau lambat akan berlalu. Yakobus mengumpamakan hidup ini seperti uap “yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (ayat 14). Ya, betapa ringkih dan rapuhnya hidup kita di dunia ini.

Maka, baiklah kita bijak dalam menjalani hari-hari kita, agar kita tidak salah melangkah, yaitu dengan senantiasa melibatkan Tuhan dalam setiap rencana (ayat 15). Jangan berpikir, bahwa kita akan mampu menentukan dan melakukan segala-galanya seorang diri, tanpa Tuhan. Itu adalah sebuah kecongkakan (ayat 16). Sebab, betapa pun hebatnya kita, tetaplah kita ini mahluk yang fana. Mari, dalam setiap langkah, kita selalu ingat dan lekat pada Sang Pencipta. Hanya dengan demikian hidup kita akan terjaga. Selamat menyongsong tahun yang baru.

Hidup ini bukan warisan yang bisa kita pergunakan seenaknya, melainkan titipan Tuhan yang harus kita pertanggungjawabkan.


Penulis: Ayub Yahya

Tuesday, December 15, 2009

Menunggu Dengan Sabar

Menunggu Dengan Sabar

Oleh : Pdt Dr.Erastus Sabdono.

Setiap kita pasti mengalami persoalan-persoalan hidup yang membuat hidup kita terasa sukar. Pada saat-saat seperti itu kita pasti menantikan datangnya pertolongan Tuhan. Masalahnya adalah bagaimana kita menunggu dan mengalami pertolongan Tuhan itu? Ketika kita ada dalam satu persoalan hidup yang berat, yang harus kita percayai adalah pribadi Allah yang tidak mungkin membiarkan kita menghadapi cobaan yang melebihi kekuatan kita. Namun kadang kita menjadi lemah dan putus asa ketika persoalan itu menjadi semakin berat, sementara kita berdoa tak kunjung datang pertolongan-Nya. Untuk ini kita perlu belajar bagaimana caranya menunggu dengan tenang datangnya pertolongan Tuhan tersebut. Ada beberapa sikap hati yang harus kita terapkan di sini dalam menunggu dengan tenang datangnya pertolongan Tuhan tersebut.
Pertama, kita harus berani untuk bersabar dalam menunggu datangnya pertolongan Tuhan tersebut. Pada umumnya kita cenderung untuk mendesak Tuhan supaya Ia segera memberikan pertolongan-Nya. Tetapi sebagai orang percaya yang dewasa, kita harus mempercayai Tuhan bahwa Ia memiliki waktu-Nya sendiri. Menunggu waktunya Tuhan merupakan pergumulan untuk percaya sepenuhnya kepada pribadi Tuhan yang bijaksana. Pada akhirnya Tuhan akan memberi pertolongan walaupun kelihatannya waktu sudah semakin habis dan keadaan terlihat sudah tertolong lagi. Dalam hal ini kita harus belajar untuk mengikuti jadwalnya Tuhan, dan bukan jadwalnya kita. Dan yakinlah bahwa Tuhan tidak akan pernah terlambat sedetikpun dalam memberikan pertolongan-Nya.
Kedua, Kita harus menutup mata dan teliga kita terhadap sumber lain. Kita harus menaruh harap hanya kepada Tuhan saja. Dengan mengharapkan pertolongan yang datang dari Tuhan saja, maka Tuhan akan memperkenalkan diri-Nya kepada kita supaya terbangun sebuah hubungan intim antara kita dengan-Nya. Ia ingin kita dapat mempercayai-Nya sebagai mempelai pria yang tidak pernah ingkar janji terhadap kita sebagai mempelai wanitaNya. Ia mau membuktikan pada kita bahwa Ia adalah Allah yang selalu bertanggung jawab atas keadaan kita. Untuk itulah diperlukan keintiman antara kita dengan-Nya supaya kita memiliki keyakinan penuh kepada-Nya dan tidak menyeleweng kepada sumber lain selain daripada diri-Nya.
Ketiga, kita harus tetap beriman kepada-Nya. Kadang saat kita bersabar dalam menantikan pertolongan-Nya, iman kita mulai memudar sedikit demi sedikit. Dalam Ibr. 6:12 kita dinasehati untuk “… Jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” Haruskah kita merasa heran atau patah semangat bila setelah menerima janji dari Tuhan, penggenapannya mulai tampak semakin jauh? Kesabaran adalah peragaan dari iman, namun hanya sedikit orang yang memahami hal ini. Karena gagal memahaminya, hanya sedikit orang yang dapat mencapai penggenapan dari janji Allah dalam hidup mereka. Tanpa iman, kesabaran tidak akan dapat bertahan lama. Tanpa kesabaran, iman tidak akan mendatangkan hasil.
Keempat, Kita harus meyakini bahwa apapun jawaban Tuhan atas doa kita, walaupun itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tetapi itulah yang terbaik bagi kita. Mengapa demikian? Karena manusia sering meminta yang baik dari Allah, tetapi Allah selalu memiliki yang terbaik untuk manusia.

Solagracia

Friday, November 20, 2009

Buang Rasa Khawatir, Jangan Tumpuk Harta

Buang Rasa Khawatir, Jangan Tumpuk Harta

Oleh : Pdt. Bigman Sirait

HARTA adalah anugerah Allah kepada manusia untuk menghidupi hidup-nya. Harta adalah sesuatu yang Tuhan sediakan. Di Mazmur 127 dikatakan bahwa ketika kita masih tidur Tuhan sudah menyediakan roti yang kita butuhkan untuk esok pagi. Tapi ayat ini tidak untuk mengajarkan kita tidak perlu bekerja. Ayat ini justru mengajarkan bahwa ada jaminan yang Allah sediakan bagi kita, tetapi Allah mau kita bertindak di dalam kehidupan secara bertanggung jawab, yaitu dengan otak, tenaga, dan talenta yang Tuhan berikan. Itu kita pakai mengelola hidup, untuk mendapatkan apa yang Tuhan sudah sediakan bagi kita.


Kenapa kita khawatir? Karena ada keterbatasan kita di dalam ruang dan waktu. Keterbatasan membuat kita tidak mengetahui apa yang terjadi besok. Menurut hitung-hitungan kita, jika tidak punya uang tidak bisa makan. Kalau tidak punya deposito cukup, berat menyekolahkan anak. Hitungan-hitungan itu memang tidak salah. Dalam keterbatasan, kita berpikir seperti itu. Seluruh yang ada itu bisa kita hitung sedemikian rupa: sebab-akibatnya dan logika jalannya. Dalam keterba-tasan itu kita mampu berhitung dengan jitu dan tepat.
Jadi, masak kita tidak mau belajar pada realita umum yang disebut sebagai anugerah umum common grace. Kalau rajin be-lajar pasti pintar. Kalau Anda baik, dihargai orang dan banyak sahabat, mereka pasti meno-longmu. Secara common grace, semua orang diperlihara oleh kasih Tuhan. Karena Tuhan me-ngatakan bahwa Dia memberikan matahari bukan hanya untuk orang baik, tetapi juga orang jahat. Maka secara anugerah umum tadi kita sadar ada berkat Tuhan yang mengalir dalam hidup. Tetapi jangan kaitkan ini dengan special grace, kese-lamatan. Maka dalam common grace tadi, orang bisa belajar, bisa bertumbuh di dalam ke-imanannya, memahami kebenar-an kasih setia Allah. Maka di dalam keimanannya itu, ia akan bertumbuh dan makin kuat menaruh harapannya kepada Tuhan, dan pengharapannya itu akan merangsang dia untuk bekerja secara betanggung jawab di hadapan Tuhan.
Jadi, kalau secara umum orang baik membuka peluang masa depan bagi dirinya, apalagi orang yang takut Tuhan. Orang takut Tuhan pasti baik kan? Tapi jangan mengaku percaya Tuhan, tetapi Anda terkenal sebagai pekerja yang tidak jujur, tidak suka menolong. Jangan mengaku cinta Yesus tetapi Anda dikenal sebagai teman kerja yang tidak bisa diandalkan. Lalu kau berdoa marah-marah sama Tuhan. “Di manakah pemeliharaan-Mu?...” Lalu muncullah rasa khawatirmu tentang hidup ini, maka doamu selalu menuntut apa yang kau perlukan dalam hidupmu. Maka kau melupakan prinsip yang Tuhan ajarkan: “Cari dahulu kerajaan Allah semuanya akan ditambahkan bagimu” (Matius 6: 33). Orang yang mencari kerajaan Allah adalah yang melakukan kehendak-kehendak Allah dalam hidupnya. Maka dia jujur, bisa diandalkan, rekan yang baik dan menyenangkan. Maka dengan sendirinya dia akan mendapatkan penghargaan, bukan?

Nikmati porsi masing-masing
Jadi, mencari kerajaan Allah itu musti diterjemahkan secara praktikal dalam hidup. Jangan dijadikan semacam ayat yang menyembunyikan kesulitan kita dan mencoba lari dan bersembunyi di balik itu. Itu membunuh tanggung jawab kita untuk hidup seperti apa yang Tuhan kehendaki dalam rangka mencari kerajaan itu.
Karena itu mari kita hidup seperti yang Tuhan kehendaki. Cari kerajaan-Nya itu, lakukan kehendak-Nya, jangan sampai salah langkah, salah kaprah. Oleh karena itulah harta yang ada di dalam hidup ini tidak boleh kita khawatirkan. Kekhawatiran terhadap harta atau hidup ini hanya menunjukkan kesalahpahaman kita tentang arti pemeliharaan Tuhan. Jadi karena itu, jangan kamu khawatir akan hidupmu, apa yang hendak kamu makan atau minum. Jangan khawatir akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup lebih penting dari makanan? Tubuh lebih penting dari pakaian, dan hidup kita dipelihara Tuhan.
Khawatirlah kalau hidupmu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Khawatirlah kalau kamu bukan mencari kerajaan Tuhan, tetapi mencari kerajaanmu sendiri. Khawatirlah sekalipun dalam pencarian kerajaan itu saudara mempunyai banyak harta benda, karena harta benda itu bisa menjadi malapetaka. Kaya-miskin hanyalah dinamika dalam hidup yang harus disikapi dengan lapang dada. Yang kaya tidak besar kepala. Yang miskin tidak kecil hati, tetapi bagaimana menikmati masing-masing porsi yang Tuhan berikan pada kita. Karena tujuan utama kita bukan bagaimana kita bekerja untuk mendapatkan banyak harta tetapi bagaimana hidup memuliakan Tuhan.
Oleh karena itu tempatkanlah harta itu sebagai alat dalam kehidupan, bukan tujuan utama. Jangan pernah khawatir terhadap hal itu sekalipun manusia riskan atas hal itu, tetapi itulah perjuangan kita melawan rasa khawatir. Selama rasa khawatir itu kita biarkan bertumbuh berkembang bahkan menguasai kehidupan kita maka selama itu kita tidak akan pernah mengalami pertumbuhan iman yang utuh. Selama rasa khawatir itu melanda kehidupan maka selama itu pula kita tidak bisa apa-apa dalam membangun semangat keberimanan.
Karena itu belajarlah untuk membuang rasa khawatir itu dengan hidup bergantung pada Tuhan, bukan dengan menumpuk segala apa yang kau anggap bisa menjamin masa depanmu. Tidak ada yang salah dengan kekayaan. Yang salah sikap terhadap kekayaan. Tak ada yang salah dengan harta. Yang salah sikap terhadap harta itu. Jangan harta menjadi jaminan hidupmu, tetapi Tuhan. Tetapi kalau kau bilang Tuhan jaminan hidupmu, itu harus tampak benar-benar dalam aktivitasmu.
Jangan khawatir tentang apa yang akan kau makan, minum, pakai. Kekhawatiran tidak akan mengubah apa pun, tetapi bersyukurlah di dalam kekhawatiran yang sudah salah itu, toh Tuhan berbelas kasihan, mendidik membimbing menuntun kita. Karena itu mulailah dengan belajar mencari dulu kerajaan Allah supaya kau tidak terjebak dalam lilitan persoalan. (Artikel diambil dari Tabloid Reformata)

Wednesday, November 18, 2009

Saya Juga Munafik

Saya Juga Munafik

Bacaan hari ini: Matius 7:1-5
Ayat mas hari ini: Matius 7:5
Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 7-10


Kathleen Norris, dalam The Cloister Walk, bercerita tentang pengalamannya bergereja. Suatu ketika ia ditanyai seorang mahasiswa, mengapa ia terus pergi ke gereja dan bisa tahan menghadapi kemunafikan orang-orang kristiani. Ia merasa memperoleh ilham yang jitu, dan menjawab, ”Satu-satunya orang munafik yang perlu saya cemaskan pada hari Minggu pagi adalah diri saya sendiri.” Kathleen mengelakkan kecenderungan untuk mempersalahkan orang lain, dan memilih untuk berintrospeksi diri.

Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia cenderung gampang melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Ia cepat melihat dan menghakimi pelanggaran orang lain, tetapi lamur terhadap pelanggarannya sendiri. Ketika dirinya yang melakukan pelanggaran, ia segera sibuk menuding orang lain sebagai penyebab pelanggarannya itu. Tuhan Yesus menghardik sikap munafik semacam itu. Dia tidak mengajari kita untuk menutup mata terhadap pelanggaran, tetapi mengarahkan kita untuk memulai pemeriksaan dari tempat yang benar: dari diri kita sendiri. Kita masing-masing memiliki “balok’”, kecenderungan untuk melakukan dosa dan pelanggaran. Kita perlu terlebih dahulu merendahkan diri dan meminta pertolongan Tuhan untuk mengeluarkan balok tersebut. Pandangan kita pun akan menjadi jernih, sehingga nantinya kita bisa menuntun saudara yang lain untuk mengeluarkan serpihan kayu dari matanya.

Hadapilah, oleh anugerah Tuhan dan ketaatan pada firman-Nya, dosa yang mencobai Anda. Kemenangan atas dosa itu akan memampukan Anda untuk menolong orang lain mengatasi dosa yang serupa.


JANGAN MENGHAKIMI DOSA ORANG LAIN KALAU ANDA TIDAK BERSEDIA MENOLONG ORANG ITU MENGATASI DOSANYA

Penulis: Arie Saptaji

Menjaga Rahasia

Menjaga Rahasia

Bacaan hari ini: Matius 17:1-9
Ayat mas hari ini: Matius 17:9
Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 4-6


Bayangkan. Suatu hari Anda bertemu dengan aktor film terkenal di ruang tunggu bandara. Ia duduk di sebelah Anda, bahkan mengajak Anda bicara. Apa yang akan Anda lakukan? Mungkin Anda akan mengajaknya foto bersama; mengabadikan peristiwa langka itu. Sesampainya di rumah, pasti Anda tidak tahan lagi untuk menceritakan pengalaman istimewa itu pada semua orang.

Petrus, Yohanes, dan Yakobus juga pernah punya pengalaman istimewa ketika mereka diajak Yesus naik gunung. Di situ mereka menyaksikan pemandangan spektakuler. Tuhan Yesus berubah rupa. Bercahaya. Keilahian-Nya terpancar keluar. Lalu mereka melihat Musa dan Elia, dua nabi terbesar dalam sejarah Israel. Tak seorang pun pernah menyaksikan peristiwa sedahsyat ini! Ketiganya sudah tak sabar lagi menceritakan apa yang mereka lihat. Ini wajar, tetapi Yesus melarang mereka bercerita. Saatnya belum tiba. Lagipula Yesus tak ingin ketiganya jadi besar kepala. Mereka harus tutup mulut. Ini tidak mudah. Menjaga rahasia berarti melawan keinginan untuk dipandang hebat. Perlu pengendalian diri. Syukurlah Petrus berhasil. Puluhan tahun kemudian, baru ia ceritakan kejadian ini dalam suratnya (Baca 2 Petrus 1:17,18).

Bisakah Anda menjaga rahasia? Orang kerap membocorkan rahasia, lantas berkata: ”Jangan bilang kepada siapa-siapa lagi.” Dengan begitu orang berpikir tak akan menimbulkan masalah. Toh ”hanya” satu-dua orang yang tahu. Namun akhirnya, rahasia itu bocor ke mana-mana; menimbulkan masalah; melukai hati. Kita perlu belajar mengendalikan diri seperti ketiga murid Yesus. Ada saatnya diam adalah emas.


KEGAGALAN MENJAGA RAHASIA MEMBUAT ORANG TAK LAGI PANTAS DIPERCAYA

Penulis: Juswantori Ichwan

Friday, October 30, 2009

Mati Bagi Diri Sendiri

Mati Bagi Diri Sendiri

Oleh: Pdt.DR.Erastus Sabdono.

Tuhan Yesus adalah pribadi yang harus dan patut kita teladani. Dalam Yoh. 12:24 kita menemukan rahasia kehidupan yang berbuah. Kehidupan yang menjadi berkat bagi orang lain. Biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati merupakan kiasan dari kenyataan hidup Yesus yang dikorbankan di atas kayu salib yang oleh karenanya dunia diselamatkan. Dari kenyataan ini kita dapat menimba kebenaran: Bahwa sebagaimana Yesus telah mengorbankan diri mati dan menjadi berkat bagi orang lain, maka nafas kebenaran ini juga kita miliki yaitu: Rela mati untuk menjadi berkat bagi orang lain. Mati disini tentu bukan mati fisik. Inilah kematian bagi diri sendiri, pribadi yang menjadi seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Seorang yang telah mati bagi diri sendiri adalah:

Pertama, pribadi yang tidak mempertahankan reputasi dan harga diri tatkala ia tidak dihargai dalam pelayanan maupun pekerjaannya. Ia tidak perlu layak menerima penghargaan oleh karena prestasinya dalam pelayanan maupun pekerjaannya. Menjadi orang yang melayani Tuhan adalah menjadi hamba dan pencuci kaki orang lain. Prinsip Yesus ini tidak boleh ditanggalkan. Aku datang bukan untuk dilayani tetapi melayani (Mat. 20:28).

Kedua, pribadi yang tidak merasa berhak menerima upah sekalipun telah berjerih lelah lebih dari orang lain. Ia akan berkata seperti Paulus berkata: “Inilah upahku yaitu kalau aku boleh memberitakan Injil tanpa upah” (1Kor. 9:18). Bahkan ucapan terima kasih pun tidak perlu dituntut dari orang yang telah makan budi baik dan menikmati pelayanan kita. Adalah kebahagian kalau kita beroleh tempat pelayanan yang jemaat tidak mampu membalas kebaikan kita.

Ketiga, pribadi yang telah menyerahkan seluruh miliknya sebagai korban persembahan kepada Raja di atas segala raja – Tuhan Yesus Kristus. Kita harus belajar untuk merasa tidak bermilik dan memang kita dipanggil untuk tidak bermilik (Luk. 9:58). Hidup di dunia ini hanya sementara, untuk itu hidup kita ini harus menjadi korban persembahan dan bukan malah makan korban.

Keempat, pribadi yang taat seperti yang dicontohkan Yesus bagi kita. Ia taat bahkan sampai mati di kayu salib. Ketaatan yang membuahkan keselamatan bagi orang lain. Oleh sebab itu untuk menjadi berkat bagi sesama, kita harus rela masuki “kematian” setiap hari, supaya kehidupan Yesus nyata dalam diri kita. Alkitab berkata bahwa kita semua adalah surat yang terbuka yang dibaca setiap orang. Dari situlah nama Tuhan akan dipermuliakan atau akan dipermalukan lewat kehidupan kita.

SolaGracia.

Friday, October 16, 2009

Alasan Untuk Memaafkan

Alasan untuk Memaafkan

Bacaan hari ini: Matius 18:21-35
Ayat mas hari ini: Matius 6:12
Bacaan Alkitab Setahun: Matius 1-4


Di sebuah ruang pengadilan, seorang pemuda duduk di kursi terdakwa. Ia didakwa membunuh teman sebayanya. Sebelum hakim membaca keputusan, ia bertanya kepada ayah anak yang menjadi korban, “Pemuda ini terbukti bersalah telah membunuh putra Anda. Menurut Anda hukuman apa yang setimpal untuknya?” Bapak tua itu menjawab, “Pak Hakim, anak saya satu-satunya telah meninggal. Hukuman apa pun tidak akan mengembalikan hidupnya. Saya sangat mengasihinya, dan sekarang tidak punya siapa-siapa untuk saya kasihi. Tolong kirimkan terdakwa ke rumah saya, untuk menjadi anak saya.”

Apa reaksi kita terhadap orang yang pernah menyakiti kita? Ingin menghukumnya? Mencoba untuk membuatnya merasakan penderitaan yang kita rasakan, bahkan kalau bisa lebih menderita; biar tahu rasa? Memaafkan memang bukan perkara semudah membalikkan telapak tangan. Namun, begitulah yang Tuhan ingin kita lakukan (ayat 22). Lalu, bagaimana melaksanakan kehendak Tuhan itu di tengah keterbatasan kita?

Pertama, sadari bahwa ibarat orang berutang, kita lebih punya banyak utang kepada Tuhan, daripada orang lain kepada kita. Dosa kita yang begitu banyak, oleh kasih Kristus lunas dibayar di kayu salib. Jadi, kalau utang kita yang segitu banyaknya sudah Tuhan bayar lunas, mengapa kita masih terus menuntut orang lain ”membayar” utangnya kepada kita (ayat 33)? Kedua, sadari bahwa menyimpan dendam dan kebencian dalam hati hanya akan menimbulkan ketidaksejahteraan. Hanya menambah beban. Dengan memaafkan sebetulnya kita tengah berbuat baik kepada diri sendiri.


Kekuatan seseorang terletak ketika ia bisa memaafkan orang yang menyakitinya

Penulis: Ayub Yahya

Monday, October 5, 2009

Tanda-tanda Zaman

Tanda-tanda Zaman

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono

Sebagai mahluk kekal, setiap manusia menghadapi resiko kekekalan dalam hidupnya yang singkat. Oleh sebab itu manusia yang tidak mempertimbangkan hal ini adalah manusia bodoh, tidak berakal. Kesukaran-kesukaran hidup yang terjadi dalam hidup kita sebenarnya hendak mengajak kita untuk berpaling kepada Tuhan dan mencari apa yang bernilai abadi. Planet yang kita huni ini bukanlah dunia yang menjanjikan. Kebakaran hutan, menipisnya lapisan ozon, gejala-gejala yang aneh dan menakutkan, makin berkurangnya sumber kekayaan alam, krisis-krisis hidup manusia (ekonomi,moral, politik,keamanan yang berkaitan dengan ancaman nuklir dan senjata perang pemusnah lain), dan berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidup manusia seperti berbagai penyakit yang muncul tanpa ada terapinya, ancaman asteroid yang bisa menabrak bumi dan sebagainya.

Berbahagialah mereka yang dapat membaca tanda zaman ini dan berpaling kepada Tuhan dan mencari-Nya. Jika kita termasuk pencari Tuhan, kita tergolong dalam kelompok yang sempat tertolong. Banyak kelompok yang tidak sempat tertolong lagi, sebab pandangan hidup mereka tertuju kepada dunia ini semata-mata. Mereka tidak percaya Tuhan Yesus akan datang sesegera mungkin. Mereka berpikir bahwa Tuhan Yesus datang barangkali 100 tahun lagi atau lebih.

Sebagaimana seseorang dapat mengenali cuaca dengan tanda-tanda yang ada, demikian pula seorang anak Tuhan harus dapat menemukan tanda-tanda zaman untuk mengerti saat-saat penting tersebut, kita dapat mengambil tindakan-tindakan yang perlu (Mat.24:45-51). Tanda-tanda zaman yang kita dapat baca ini akan menggerakan kita melakukan tindakan yang penting.

Kalau ternyata planet yang kita huni ini tidak menjanjikan kehidupan yang sejahtera, bahkan makin mencemaskan, maka kita didorong untuk mencari kehidupan di dunia lain yang menjanjikan suatu kehidupan yang indah dan bernilai kekal. Kehidupan seperti ini tidak dapat kita jumpai dalam agama dan ajaran manapun, kecuali apa yang diajarkan Tuhan Yesus (Yoh.15:1-4). Itu sebabnya Tuhan Yesus berkali-kali menasehati agar kita mencari dan mengutamakan harta surgawi yang memiliki nilai kekal (Mat.6:19-21). Paulus pun demikian (Kol.3:1-4). Yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan dalam kehidupan pribadi kita, agar kita diperkenankan bertemu dengan Tuhan di awan-awan permai (1 Tes.4:17).

Artikel ini diambil dari : Truth Daily Enlightenment.

Wednesday, September 9, 2009

Mitra Sejajar

Mitra Sejajar

Bacaan hari ini: Hakim-hakim 4:1-10
Ayat mas hari ini: Hakim-hakim 4:8
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 26-29


Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu. Namun, ada kala pria tak berdaya. Tekuk lutut di sudut kerling wanita.” Demikian petikan syair lagu lama berjudul Sabda Alam, ciptaan Ismail Marzuki. Ungkapan “wanita dijajah pria” dan “pria tekuk lutut di sudut kerling wanita”, menggambarkan seolah-olah pria dan wanita berhadapan sebagai lawan. Namun, harus diakui bahwa penggambaran seperti itulah yang kerap terjadi dalam kenyataan. Pria dan wanita tidak berdampingan sebagai mitra, tetapi sebagai pesaing; tidak saling mendukung, tetapi saling menundukkan; tidak saling melengkapi, tetapi saling mempreteli.

Hal ini jelas tidak sesuai dengan rencana Allah ketika menciptakan pria dan wanita. Di dalam Kejadian 1:27 dikatakan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Artinya, baik pria maupun wanita sama-sama segambar dengan Allah; keduanya sama penting di hadapan Allah. Sederajat. Sepadan.

Debora dan Barak memberi contoh yang sangat baik tentang makna kemitraan pria dan wanita. Mereka bahu-membahu memimpin umat Israel mengalahkan musuhnya. Kuncinya adalah merendahkan hati untuk menyadari dan mengakui, bahwa masing-masing, pria dan wanita, saling membutuhkan. Pria tidak lengkap tanpa wanita, wanita tidak lengkap tanpa pria. Begitu juga dalam keluarga. Suami dan istri sama-sama pentingnya. Kalau suami itu “kepala” keluarga, istri adalah “leher” keluarga. Dengan kesadaran dan pengakuan demikian, pria dan wanita bisa membangun relasi berdasarkan saling menghargai dan menghormati.


KEMITRAAN PRIA DAN WANITA AKAN TERJALIN BAIK KALAU MASING-MASING PUNYA RASA RESPEK DAN HORMAT

Penulis: Ayub Yahya

Wednesday, September 2, 2009

Rapor Merah Gereja


Jangan Karikaturkan Tuhan

Artikel diambil dari : Majalah Truth edisi 17 “Rapor Merah Gereja”

Tokoh besar dari India, Mohandas Gandhi ( Mahatma Gandhi) pernah menyatakan bahwa yang membuatnya tidak pernah menjadi orang Kristen adalah orang-orang Kristen sendiri yang tidak menampilkan kehidupan seperti guruNya, Tuhan Yesus Kristus. Dengan nada penuh kekaguman kepada Tuhan Yesus dan kekecewaan serta keprihatinan terhadap gereja, sang pemimpin India dan pujangga itu berkata, “ I like your Christ, I do not like your Christian, your Christian are so unlike your Christ” ( Saya suka Kristusmu, saya tidak suka Kristenmu –artinya anggota gereja, Kristenmu tidak ada miripnya dengan Kristusmu).

Sejatinya tak seorang pun sanggup menolak Yesus Kristus, yang mereka tolak adalah “karikatur” tentang Yesus Kristus. Siapa yang mengarikaturkan “wajah Tuhan Yesus ? Siapa lagi kalau bukan gereja yang dirancang menampilkan “wajah” Tuhan. Ternyata gambar itu adalah gambar melenceng.

Gereja masa kini masih jauh dari menampilkan wajah Tuhan yang semestinya. Masih banyak orang sulit menemukan wajah Tuhan, melalui gereja. Gereja memang sibuk “menyembah” Tuhan, tetapi benarkah anggota gereja menyembah Tuhan? Penyembah itu tunduk kepada yang disembah, penyembah itu takluk tanpa batas kepada yang disembah.

Tetapi perhatikanlah “hidup” gereja, mulai pemimpinnya sampai kepada jemaat yang ada. Para pemimpin gereja lebih layak disebut selebriti daripada seseorang hamba bagi Yesus Kristus.

Akibatnya, gereja menjadi bahan cibiran, Fasih berbicara mengenai kasih dan kesucian, tetapi ternyata kelakuannya tidak berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya banyak orang diluar gereja tidak pernah mengenal injil Tuhan Yesus Kristus dan tidak pernah diselamatkan.
Seorang pemimpin jemaat harus dapat menampilkan kehidupan Yesus Kristus dalam seluruh perilakunya. Bila tidak, akibatnya sangat mengerikan. Seorang pemimpin mengimpartasikan “spirit” kepada yang dipimpin. Akibatnya bisa diterka, gereja akan semakin menjadi bahan olokan. Seorang pemimpin jemaat harus dapat menjadi “role model” bagi seluruh jemaatnya. Dari kualitas pemimpin jemaat, dapat dilihat kualitas seluruh pegiatnya dan jemaat yang dilayani, kalau rapor kehidupan seseorang pemimpin jemaat sudah merah, maka hampir dipastikan bahwa nilai rapor kehidupan jemaatnya juga pasti merah.

Friday, August 28, 2009

Pemuas Dahaga

Pemuas Dahaga

Bacaan hari ini: Yohanes 4:12-19
Ayat mas hari ini: Yohanes 4:15
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 20-23


Pernah ibu saya dirawat di ICU karena gagal jantung. Dokter memasukkan selang-selang plastik ke dalam mulutnya dari mesin pompa darah. Ketika sadar, ia tak bisa bicara. Bibirnya yang kering mencoba berbisik: “Haus ... haus ....” Ia haus luar biasa, tetapi saya dilarang memberinya minum. Saya hanya boleh mengolesi bibirnya dengan kapas yang dibasahi air. Sungguh pedih melihat ia menderita kehausan, sementara yang saya lakukan tak cukup untuk memuaskan dahaganya.

Kehausan adalah penderitaan hebat. Orang bisa membayar berapa pun untuk memuaskan dahaga. Perempuan Samaria yang ditemui Yesus juga kehausan luar biasa. Bukan haus akan air, tetapi haus kasih sayang. Ia mengira, dengan menikahi seorang laki-laki, dahaganya akan kasih dapat terpuaskan. Nyatanya tidak. Ia mencoba lagi dengan laki-laki lain. Sama saja. Sampai lelaki keenam, ia tetap dahaga. Yesus berkata, yang perempuan itu butuhkan ialah “air hidup.” Maksudnya, Roh Kudus (bandingkan dengan Yohanes 7:38,39). Hanya Roh Kudus yang dapat mengisi ruang kosong di hati kita. Memberi kehangatan kasih sejati yang tak dapat manusia berikan. Jika kasih-Nya melimpah di hati, kita akan merasa puas. Tidak lagi menuntut terlalu banyak dari kasih manusia yang terbatas dan bersyarat.

Apakah Anda sering kecewa karena merasa kurang dikasihi? Apakah Anda berharap terlalu banyak pada orang terdekat? Berhentilah menjadikan orang lain sebagai sumber kasih. Minta Roh Kudus memenuhi hati Anda dengan kasih-Nya. Anda akan diubahkan oleh-Nya menjadi penyalur kasih, bukan pengemis kasih.


JADIKAN TUHAN SUMBER KASIH. ANDA TAK AKAN LAGI MENJADI PENGEMIS KASIH

Penulis: Juswantori Ichwan

Wednesday, August 26, 2009

Rasa Bersalah Palsu

Rasa Bersalah Palsu

Bacaan hari ini: 2 Korintus 7:1-10
Ayat mas hari ini: 2 Korintus 7:10
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 7-9


Sudah setahun Anton selingkuh dengan teman kantornya. Akhirnya ketahuan juga oleh istri dan teman-teman gereja. Pendeta datang membesuk dan menegurnya. Anton mengaku bersalah. Ia menyesal, tetapi tak rela meninggalkan kekasihnya. “Kasihan,” katanya, “Ia belum menikah. Ke mana ia harus pergi? Saya yang berbuat, kini saya harus bertanggung jawab. Jika saya mencampakkannya, saya akan dikejar rasa bersalah!” Anton lupa, dengan mempertahankan hubungan gelap itu, justru ia bersalah lebih besar terhadap istri dan anak-anaknya.

Rasa bersalah tak selalu mendorong orang bertobat. Menurut Rasul Paulus, ada rasa bersalah sejati, ada juga yang palsu. Rasa bersalah sejati adalah “dukacita menurut kehendak Allah”. Datangnya dari teguran ilahi. Jemaat Korintus pernah menerima surat teguran yang keras dari Paulus, karena mereka membiarkan guru-guru palsu mengacaukan jemaat. Teguran ini membuat mereka menyesal, meratapi dosanya, lalu bertobat (ayat 8,9). Tidaklah demikian dengan rasa bersalah palsu; “dukacita yang dari dunia.” Di sini sang pelaku meratapi akibat dosanya, bukan dosa itu sendiri. Anton bersedih karena perbuatannya ketahuan. Ia berduka karena tak rela meninggalkan selingkuhannya, bukan karena menyadari dosanya pada Tuhan dan keluarga. Rasa bersalah palsu membuatnya berusaha menutupi dosa, bahkan meneruskannya karena “sudah kepalang tanggung”.

Ketika Anda ditegur karena berbuat dosa, bagaimana reaksi Anda? Mengakuinya atau berusaha menutupi? Rasa bersalah seperti apa yang muncul? Mintalah Tuhan memberi Anda rasa bersalah sejati.


RASA BERSALAH YANG TIDAK DIIKUTI DENGAN PERTOBATAN, BUKAN RASA BERSALAH YANG DARI TUHAN

Penulis: Juswantori Ichwan

Thursday, August 20, 2009

Pelayanan Tanpa Batas

Ibadah Adalah Pelayanan

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono

Kerajaan manusia di gereja harus diganti menjadi Kerajaan Tuhan; artinya pemerintahan Tuhan harus terselenggara dalam kehidupan orang percaya dalam seluruh kegiatannya, bukan hanya dalam lingkungan gereja. Pelayanan yang benar adalah pelayanan tanpa batas, artinya usaha yang dilakukan demi kepentingan atau keuntungan Tuhan, sehingga memuaskan dan menyenangkan hati-Nya (Gal. 1:10). Ini pelayanan yang tidak dibatasi oleh ruangan, berarti bukan hanya di lingkungan gereja dan lembaga-lembaga Kristen. Tempat pelayanannya adalah seluruh wilayah di mana mereka dapat menyelenggarakan hidup bagi kepentingan sesama.
Dalam hal ini, kita harus belajar apa yang dimaksud dengan ibadah. Ibadah atau yang juga sering disebut sebagai kebaktian bukan hanya terselenggara di gereja, tetapi di mana pun orang percaya berada harus beribadah atau berbakti kepada Tuhan. Rm. 12:1 mengatakan, “… Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Artinya, ketika seseorang menggunakan seluruh potensi dalam kehidupannya untuk kepentingan Tuhan, itu sebuah ibadah. Untuk Tuhan berarti bukan hanya ditujukan bagi kegiatan gereja, tetapi ditujukan untuk kepentingan sesama manusia. Kata “ibadah” dalam ayat ini adalah λατρεία (latria) yang lebih tepat diterjemahkan “service” atau “pelayanan”. Jadi kalau selama ini banyak orang berpikir bahwa pelayanan adalah kegiatan gereja semata-mata, itu suatu pembodohan.
Dalam Mat. 25:31–46, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa segala perbuatan baik yang telah kita lakukan bagi orang yang membutuhkan pertolongan, yang membuat mereka mengenal Juruselamat dan dipersiapkan masuk kerajaan Surga, adalah perbuatan baik Tuhan sendiri. Ini berarti bahwa justru pelayanan yang benar dan nyata adalah perjalanan hidup kita setiap hari di tempat kita menyelenggarakan hidup, baik di rumah, toko, kantor, pergaulan, sekolah, kampus, dan sebagainya. Di tempat aktivitas kita setiap harilah pelayanan yang sesungguhnya. Pelayanan ini pasti jauh lebih berdampak. Harus diingat bahwa garam bukan hanya di toko. Garam dibutuhkan di dapur, bukan di ruang tamu. Bila ditempatkan di ruangan yang salah, garam tidak akan efektif sesuai fungsinya. Garam di ruang tamu tidak berdampak. Garam justru berdaya guna di dapur atau di tempat di mana ia dibutuhkan. Gereja tidak terlalu membutuhkan orang Kristen berkiprah, tetapi justru di tengah-tengah masyarakatlah kiprah kita diperlukan. Gereja adalah gudang garamnya.

Pelayanan yang benar adalah pelayanan tanpa batas, artinya usaha yang dilakukan demi kepentingan atau keuntungan Tuhan, sehingga memuaskan dan menyenangkan hati-Nya.

Tuesday, August 18, 2009

Berhenti Meminta untuk Diri Sendiri

Berhenti Meminta untuk Diri Sendiri

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (Truth Daily)

Orang percaya yang semakin dewasa semakin tidak memiliki banyak permintaan kepada Tuhan bagi dirinya sendiri. Akhirnya ia malah tidak meminta sesuatu untuk kepentingannya sendiri. Semua permohonannya kepada Tuhan adalah sesuatu yang ditujukan bagi kepentingan Tuhan sendiri. Hal ini bisa terjadi kalau seseorang sudah berhenti memperhatikan kepentingan dan kesenangannya sendiri (Flp. 2:1-3). Mereka adalah orang-orang yang berurusan dengan Tuhan bukan karena mau mempercakapkan dan menuntut haknya, melainkan karena mau mempercakapkan dan mempersoalkan kewajiban di hadapan Tuhan. Berkenaan dengan hal ini hendaknya kita tidak meragukan kesetiaan Tuhan dalam memenuhi hak-hak kita sebagai anak-anak-Nya, tetapi ragukanlah apakah diri kita sendiri telah memenuhi kewajiban kita bagi Tuhan?

Orang yang berhenti memperhatikan kepentingan dan kesenangan sendiri dan mengalihkan perhatiannya kepada Tuhan akan memperoleh pemenuhan segala kebutuhan dan kebahagiaan dari Tuhan yang mempedulikannya. Maka hendaknya kita tidak ragu-ragu untuk melepaskan naluri egoisme kita, dan menggantikannya dengan pengabdian bagi Tuhan. Kesediaan kita berpaling dari kepentingan dan kesenangan diri sendiri tidak akan mengurangi kesukaan dan kebahagian kita.

Orang-orang percaya yang telah akil balig ini menjadikan doa bukan sekedar permintaan, tetapi sebuah dialog. Dalam berdoa terjadi percakapan, sehingga yang penting adalah menemukan apa yang Tuhan kehendaki untuk dimengerti dan dilakukan. Doa bukan sarana untuk mengatur Tuhan dan membujuk-bujuk-Nya melakukan sesuatu untuk kepentingan kita, tetapi perburuan untuk mengenal Tuhan, kehendak dan rencana-Nya. Pola hidup orang percaya yang menggunakan standar ini sangat membahagiakan dan menempatkan orang percaya di tempat yang menyukakan hati Bapa. Orang-orang percaya seperti ini akan dibela Tuhan dan memiliki tempat yang istimewa di mata Tuhan. Segala kebutuhannya pasti diperhatikan Tuhan. Bukan hanya dia sendiri yang dikasihi Tuhan, melainkan juga orang yang dikasihinya.

Hanya dengan memiliki komitmen yang bulat untuk inilah kita dapat mencapai kedewasaan. Tentu untuk mencapai level ini kita harus belajar bertumbuh terus di dalam Tuhan, melalui pendalaman Firman Tuhan yang murni yang mengubah pola berpikir kita. Kedewasaan rohani inilah yang membuat seseorang akan dipercayai sebagai sahabat Tuhan, yang diperkenankan mengerti apa yang dikehendaki dan direncanakan oleh Tuhan (Yoh. 15:14-15).

Kesediaan kita berpaling dari kepentingan dan kesenangan diri sendiri tidak akan mengurangi kesukaan dan kebahagiaan kita.

Friday, August 14, 2009

Mengapa Harus Meniru?

Mengapa Harus Meniru?

Bacaan hari ini: Galatia 2:1-14
Ayat mas hari ini: 1 Korintus 4:1
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 1-2


Seorang rabi muda menggantikan ayahnya. Umat banyak yang protes, karena mereka sering membandingkannya dengan ayahnya, rabbi senior yang mereka hormati. Dalam pertemuan jemaat, kritik kepadanya berbunyi “Engkau tidak seperti ayahmu”. Dengan tenang rabi muda menjawab, “Kalian tahu, ayahku seorang yang tidak pernah meniru siapa pun. Kini biarkan aku menjadi diriku sendiri, tidak meniru siapa pun, termasuk meniru ayahku. Dengan begitu, bukankah aku justru mirip ayahku?”

Sebagai rasul, Paulus adalah pendatang baru. Ketokohan para senior membayanginya. Apalagi jemaat di Yerusalem masih banyak yang mencurigainya, bahkan mempertanyakan kerasulannya. Namun, Paulus tidak gentar. Ia yakin akan panggilan Tuhan baginya. Ia tahu apa tugasnya, yaitu menginjil kepada orang-orang bukan Yahudi (ayat 2,7). Ia tidak mencari popularitas. Ia tidak mencari permusuhan, malahan dengan giat membangun persekutuan (ayat 9). Namun, ia juga tidak mencari muka di depan para seniornya. Ia berpendirian teguh dan menjunjung tinggi kebenaran. Bahkan ia berani menegur Petrus (Kefas) dengan tulus (ayat 11).

Godaan untuk meniru dan menyesuaikan diri dengan harapan banyak orang sering mengusik kita. Mengapa? Karena kita ingin diterima. Kita pun sering tergoda untuk mencari muka di depan orang yang berpengaruh. Padahal mereka pun bisa salah. Hari ini kita belajar perlunya mandiri dalam bersikap, tanpa berlaku sok pintar. Teguh dalam pendirian, tanpa menjadi keras kepala. Menjadi diri sendiri, tanpa merendahkan orang lain.


TUHAN MENCIPTAKAN KITA MASING-MASING UNIK. JADI KENAPA MESTI MENIRU ORANG LAIN?

Penulis: Pipi Agus Dhali