Pdt. Bigman Sirait
Bapak
Pendeta yang kami hormati, saya ibu dari tiga anak yang sering kurang
sepaham dengan suami tentang hal berdoa. Begini Pak Pendeta, sejak
menikah, berdasarkan pengamatan saya, suami tidak pernah berdoa. Hingga
kini anak kami sudah tiga, dia jarang sekali berdoa. Dia baru berdoa
kalau saya minta atau bahkan paksa untuk berdoa saat makan bersama-sama.
Kalau dia makan sendiri, pasti tidak berdoa. Padahal saya sendiri
selalu berdoa mengucap syukur kalau makan, saat mau tidur, bangun tidur,
mau bepergian, saya selalu sempatkan berdoa. Kalau saya tanyakan kepada
suami kenapa dia tidak pernah berdoa, dia selalu menjawab bahwa dia
selalu berdoa dalam hati. Menurutnya dia tidak mau berdoa secara
demonstratif, sebab sama saja dengan orang Farisi yang berdoa di depan
umum dengan suara kencang supaya semua orang lihat.
Pak Pendeta, saya
sendiri sangat rindu di keluarga saya ada acara doa rutin sekeluarga
dengan suami sebagai pembawa renungan dan memimpin doa. Saya khawatir
sifat suami ini nanti ditiru anak-anak. Bagaimana menurut Pak Pendeta?
Apakah kita hanya cukup dengan berdoa dalam hati saja? Terimakasih atas
jawabannya.
Ny. Uli
Jakarta
REFORMATA.com
- IBU Uli yang terkasih di dalam Kristus, pertanyaan Anda cukup
menarik untuk disimak. Doa yang menjadi warna kehidupan setiap umat
Kristen ternyata memang disikapi berbeda oleh tiap orang. Mari kita
telusuri dengan bijak. Yang pertama dan pasti adalah setiap orang
percaya harus berdoa. Doa harus dipahami sebagai dialog dengan Allah, di
mana kita belajar untuk semakin mengerti kehendak Allah. Dalam doa kita
bersyukur dan memohon kepada-Nya. Setiap keperluan yang kita mohonkan
benar menurut kita, tapi belum tentu sesuai menurut kehendak Allah. Itu
sebab, dalam doa-Nya Tuhan Yesus sendiri mengajar kita untuk berkata:
“Bukan kehendakku ya Bapa, melainkan kehendak-Mu-lah yang jadi (Matius
26: 39b). Semangat itu juga sangat terasa dalam “Doa Bapa Kami”, di
mana dalam memohon makanan atau rejeki, dikatakan, “Berilah kami makanan
kami yang secukupnya” (Matius 6:11).
Dalam berdoa, dari hari
kehari, dari pengalaman kepengalaman pemeliharaan Tuhan, kita pasti
belajar untuk terus bisa menjadi benar dalam berdoa. Alkitab
mengingatkan kita agar tidak berdoa hanya untuk memuaskan hawa nafsu,
atau keinginan kemanusian belaka (Yakobus 4: 3), sehingga Tuhan tidak
mendengarkan doa kita.
Nah, sekarang soal cara berdoa. Dalam Alkitab
tidak ada keharusan cara dalam berdoa, apakah lipat tangan atau angkat
tangan. Berdoa bersuara atau tidak, atau keras atau pelan. Yang dituntut
oleh Tuhan dalam berdoa, adalah berdoa sebagai orang yang benar (tulus,
tidak ada yang terselubung, dan untuk memuliakan Tuhan). Masalahnya
memang ada kritikan Tuhan Yesus terhadap doa orang Farisi. Pertama orang
Farisi yang selalu merasa suci selalu merasa hebat bahkan dalam doanya
(Lukas 18: 11), itu yang Tuhan tidak suka, yaitu sikapnya, sombongnya,
bukan berdoanya. Semua kita harus berdoa tapi jangan seperti orang
Farisi yang sombong itu. Itu soal sikap hati.
Lalu soal berdoa di
depan orang ramai. Memang ada saja orang yang berdoa dengan kepongahan
ritualnya. Mereka berdoa dan mengucapkannya dengan berdiri dan suara
keras tentunya, agar tampak mereka sedang berdoa dan terkesan rohani.
Belum lagi, yang berdoa di tikungan jalan, betul-betul sangat pongah.
Lalu doa yang dinaikkan berlomba panjang, dan mereka pikir dengan doa
yang panjang Tuhan akan senang. Ironis, tetapi itu memang kenyataan
perilaku agama yang salah (Matius 6: 5-7).
Tetapi itu bukanlah
alasan untuk kita tidak berdoa, karena Tuhan sendiri mengajar dan
memerintahkan kita berdoa. Kita perlu berdoa bersuara jika sedang
memimpin doa dalam sebuah kelompok persekutuan. Silahkan pula dalam
hati, jika Anda memang sedang sendiri di tengah keramaian. Atau berdoa
dalam hati di malam hari ketika sendiri, namun tidaklah juga salah jika
Anda berdoa bersuara. Itu hanya soal sikap yang tampak, dari sebuah
kegiatan berdoa, namun yang terpenting adalah sikap hati kita, yang
justru tidak terlihat mata. Jadi berdoa merupakan bagian hidup yang
tidak terpisahkan dari keimanan kita yang benar.
Soal suami tidak
mau berdoa, saya pikir perlu pendekatan yang kondusif dan intim.
Artinya, kita harus mencari tahu mengapa suami tidak suka berdoa dengan
bersuara, atau selagi bersama-sama. Siapa tahu ada latar belakang
tertentu yang membuatnya tidak mau berdoa bersama. Apalagi tampaknya
suami punya alasan, sekalipun kebenaran alasan itu juga perlu
dibuktikan. Sehingga semuanya betul-betul menjadi terang. Karena sungguh
tidak nyaman jika untuk berdoa ada percekcokan di antara kita. Itu
suasana yang tidak baik, karena Tuhan menuntut kesehatian dalam kita
berdoa bersama.
Jadi Ibu Uli yang dikasihi Tuhan, usahakan ngobrol
berdua dengan Bapak, dengan alasan untuk kebaikan bersama sebagai
keluarga. Soal anak-anak, tentu saja mereka mudah terprovokasi oleh
sikap kita. Saya sependapat bahwa kebiasaan tidak berdoa bisa jadi
pengaruh buruk bagi anak-anak. Karena itulah perlu diskusi mendalam.
Namun sementara usaha berbicara dengan Bapak, Ibu juga harus memberi
penjelasan yang baik kepada anak anak, agar jangan sampai mereka
berpikir tidak perlu berdoa. Kerinduan Ibu agar keluarga memiliki
persekutuan tersendiri sangatlah terpuji. Ini bisa menjadi benih yang
baik di dalam kebahagian rumah tangga, dan dalam pertumbuhan kerohanian
anak-anak kita. Semua hal ini jadikan bahan pembicaraan dengan suami,
semoga dia menyadarinya dan melakukannya dalam kesadaran yang penuh
sebagi orang percaya.
Berdoa tidak mungkin kita abaikan, karena
berdoa adalah nafas hidup keimanan kita. Terus dorong anak anak berdoa,
dan mendoakan ayah mereka agar mau berdoa bersama. Tapi jangan memberi
penjelasan yang salah pada anak-anak sehingga menjadi antipati terhadap
ayah mereka. Di sini Ibu harus bertindak bijak. Saya menyadari ini
tidaklah mudah, tetapi akan menjadi sangat menyenangkan jika mendapatkan
keluarga kita menjadi keluarga yang berdoa.
Jadi Ibu Uli yang
dikasihi Tuhan, sekali lagi saya sampaikan, berdoa memang bukan soal
bersuara atau tidak (dalam hati), tetapi lebih kepada soal sikap hati.
Tapi jika kita berdoa bersama tentu saja harus bersuara, agar dapat
dipahami oleh yang lainnya, dan bisa diaminkan. Sebaliknya jika
sendirian, silakan memilih yang nyaman bagi kita pribadi. Contoh-contoh
yang salah, tentu saja jangan ditiru, tetapi juga jangan dijadikan
alasan untuk tidak berdoa. Biarlah menjadi pokok doa Ibu agar waktunya
segera tiba keluarga menjadi keluarga yang berdoa. Saya percaya
kerinduan yang baik pasti dikabulkan oleh Tuhan. Biarlah kiranya Tuhan
menggerakkan hati Bapak, bahkan seluruh keluarga sehingga memiliki
semangat yang sama dalam berdoa.
Maju terus, dan jangan pernah
berhenti untuk hidup di dalam doa, karena berhenti berdoa berarti kita
menghentikan kehidupan iman kita. Berdoa agar Bapak bisa menjadi imam
dalam rumah. Ada banyak kesaksian para ibu yang sangat meneguhkan,
bagaimana mereka berdoa sehingga suami menyadari tugas keimamannya, dan
keluarga mereka menjadi keluarga yang berdoa. Kiranya untuk kesempatan
berikut Ibu akan menjadiorang yang menyaksikannya. Selamat berjuang,
Tuhan pasti menyertai dan memampukan Ibu menjadi berkat didalam
kehidupan rumah tangga (1 Korintus 7: 14). Kiranya jawaban ini boleh
menjadi berkat bagi kita semua