Thursday, October 4, 2012

Dua Jenis Kiamat



From: Renungan harian Truth

Banyak orang tidak mengerti bahwa ada dua jenis kiamat, kiamat secara umum yaitu kiamatnya dunia dimana sejarah dunia diakhiri, tetapi juga ada kiamat khusus, yaitu kiamat pribadi dimana seseorang menghembuskan nafas yang terakhir. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kedatangan-Nya seperti pencuri, ini berarti tidak ada seorang pun manusia yang tahu kapan hari kedatangan-Nya. Itulah sebabnya setiap orang harus berjaga-jaga. Harus diingat bahwa hari kiamat bukan hanya hari kedatangan-Nya saja, tetapi juga ketika seseorang menghembuskan nafas terakhir. Dalam hal ini umumnya masing-masing orang memiliki hari kiamat yang berbeda. Biasanya orang hanya melihat kiamat secara umum tetapi tidak memberi perhatian pada realitas kiamat yang lain.
Kuasa kegelapan akan berusaha untuk menutupi fakta ini agar seseorang tidak memiliki sikap berjaga-jaga. Inilah yang terjadi dalam kehidupan hampir semua orang, dalam dirinya mereka berpikir, berhubung hari kiamat (kedatangan Tuhan) masih jauh, maka ia tidak berjaga-jaga Ia tidak sadar bahwa ada kiamatnya sendiri yang bisa menghampirinya setiap saat (Luk. 12:20; 16:22-23). Betapa mengerikannya kalau seseorang tidak menyadari realita hari kiamatnya. Baginya kedatangan Tuhan seperti jerat (Luk. 21:34). Hal ini terjadi atas mereka yang hidup dalam kesenangannya sendiri bukan kesukaan Tuhan. Jika seseorang selalu ada dalam suasana tidak memiliki sikap berjaga-jaga seperti ini, maka ia tidak pernah siap pada hari kedatangan Tuhan dan tidak pernah siap menyongsong hari terakhirnya di bumi sebelum ia mengembuskan nafas terakhir.
Di lain pihak yang harus diwaspadai Iblis dengan kecerdikannya membuat seseorang menjadi lemah atau rapuh. Manusia adalah makhluk kompleks. Di dalam dirinya ada jiwa yang tidak sekokoh beton atau sekeras baja. Pada umumnya manusia bisa tidak stabil, ada saat-saat dimana jiwa menjadi lemah. Lemah di sini maksudnya mudah berbuat salah. Dalam 1 Petrus 1:14 disebut sebagai “pada waktu kebodohan”. Dalam teks bahasa Inggris teks ini diterjemahkan in your ignorence. Dalam teks Yunaninya adalah agnoia (ἀγνοίᾳ) yang artinya keadaan yang tidak dapat dimaafkan. Ini menunjuk keadaan bahaya. Pada saat-saat tertentu seseorang ada dalam situasi yang berbahaya. Situasi saat itu adalah situasi yang rentan. Iblis cakap membawa seseorang dalam keadaan bahaya seperti ini. Itu lah sebabnya kita harus serius tidak membawa diri kita kepada bahaya, sebab kita tidak tahu kapan kiamat kita masing-masing. Adalah bijaksana kalau kita berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir kita.
Tidak ada seorangpun yang kebal terhadap hari kiamat,
Karena itu berjaga-jagalah senantiasa

Thursday, September 27, 2012

Jika Jiwaku Berdoa ( KJ. 460)

Syair: Leer mij, Heer, als in gebeden, P. I. Moeton,
Terjemahan: I. S. Kijne (1899 – 1970) dengan perubahan,
Lagu: Anni F. Harrison

do = f
4 ketuk


Jika jiwaku berdoa
kepadaMu, Tuhanku,
ajar aku t’rima saja
pemberian tanganMu
dan mengaku s’perti Yesus
di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.

 Apa juga yang Kautimbang
baik untuk hidupku,
biar aku pun setuju
dengan maksud hikmatMu,
menghayati dan percaya,
walau hatiku lemah:
Jangan kehendakku, Bapa,
kehendakMu jadilah.

 Aku cari penghiburan
hanya dalam kasihMu.
Dalam susah Dikau saja
perlindungan hidupku.
‘Ku mengaku, s’perti Yesus
di depan sengsaraNya:
Jangan kehendakku Bapa,
kehendakMu jadilah.

Thursday, September 13, 2012

Penghakiman Berdasarkan Perbuatan



Diambil dari renungan harian Truth.
Baca: Roma 2:12-16
Alkitab dalam setahun: 2 Raja-Raja 15-17

Penghakiman Berdasarkan Perbuatan Kalau bagi umat Israel dosa berarti pelanggaran terhadap torat lalu bagaimana dengan orang non Yahudi yang tidak memiliki Torat tertulis dalam kitab. Untuk menjawab persoalan ini Paulus mengemukakan kebenaran dalam Roma 2:12-16. Bagi orang non Israel, dosa berarti pelanggaran terhadap hukum yang tertulis di hati. Dalam teks tersebut disinggung oleh Paulus bahwa orang yang tidak memiliki torat yang tertulis di kitab memiliki torat di dalam hati mereka. Dalam hal ini Tuhan yang akan menghakimi seseorang berdasarkan pengertian tentang hukum (tindakan kasih) yang dimiliki masing-masing individu.

Penghakiman Tuhan ini sangat rahasia kepada masing-masing individu. Hati nurani mereka akan menjadi saksi (Rm. 3:15). Hati nurani dan teks aslinya adalah suneidesis(συνείδησις). Kata suneidesis gabungan dari dua kata, sun dan eido. Sun berarti bersama dan eido artinya tahu, jadi suneidesis berarti bersama ikut tahu. Bagaimana pun hati nurani akan ikut terlibat dalam memberi kesaksian atas keadaan setiap individu. Sekecil apapun suara itu dalam hati nurani. Dalam hal ini setiap orang memiliki kesadaran nurani apakah dirinya melakukan suatu kesalahan atau tidak. Dengan demikian kita tidak mudah menjatuhkan vonis bahwa orang yang hidup di luar bangsa pilihan Allah pasti masuk neraka atau tidak diperkenan masuk kehidupan yang akan datang.

Dalam Alkitab kita menemukan pernyataan yang diulang-ulang bahwa manusia akan dihakimi menurut perbuatannya. Dalam hal ini jelas bahwa perbuatan baik seseorang itu penting, sebab menjadi ukuran penghakiman (Why. 20:12; Mat. 25:34-43). Penghakiman berdasarkan perbuatan  ini juga berlaku bagi orang yang hidup pada jaman anugerah, yaitu atas mereka yang tidak atau belum mendengar Injil. Juga bagi mereka yang tidak mendengar Injil secara benar. Sebab mendengar Injil yang salah sama dengan tidak mendengar Injil. Tuhan menghakimi berdasarkan perbuatan. 

Penghakiman ini adalah penghakiman untuk menentukan seberapa mereka pantas untuk masuk dunia yang akan datang. Kata penghakiman untuk ini lebih sering digunakan kata krisis (κρίσις). Apakah mereka yang dihakimi menurut perbuatan bisa masuk Sorga? Menjawab pertanyaan ini seharusnya memahami dulu apa Sorga itu. Secara cepat bisa dijawab, bisa saja mereka masuk dunia yang akan datang (kalau tidak boleh disebut Sorga), tetapi mereka bukan sebagai anggota Kerajaan yang memerintah bersama dengan Kristus, tetapi hanya menjadi anggota masyarakat saja. Dalam hal ini harus bisa dibedakan antara dimuliakan bersama dengan Kristus dengan hanya masuk dunia yang akan datang. 
Apa yang kita lakukan selama kita hidup
akan dijadikan ukuran untuk hari penghakiman.

Wednesday, August 1, 2012

Cinta Yang Dewasa


Sumber : Renungan Harian Truth

Cinta kepada Tuhan yang tidak dewasa, belum bisa dinikmati dan memuaskan hati Tuhan, sebab kualitas cinta yang demikian masih sangat rendah. Cinta kepada Tuhan yang tidak dewasa sering dipenuhi dengan intrik-intrik memanfaatkan Tuhan. Cinta seperti ini tidak memerlukan perjuangan, bisa ditumbuhkan dalam sekejap. Tetapi kalau mengasihi dan mencintai Tuhan dengan segenap hidup, seseorang harus didewasakan rohaninya, dan seiring dengan proses pendewasaan rohaninya berlanjut terus proses mengasihi Tuhan (Mat. 22:37-40). Cinta yang berkualitas yang diinginkan Tuhan, tidak bisa dibangun dalam sehari atau setahun. Ternyata  cinta yang dewasa  kepada Tuhan harus diperjuangkan.

Cinta yang tidak dewasa kepada Tuhan dalam hidup seseorang yang belum lama menjadi orang Kristen, diterima dan dimaklumi oleh Tuhan. Sama seperti orang tua yang mendengar anaknya yang masih kecil berkata, “aku sayang mama”. Orang tua menerima cinta anak itu dan bisa menikmatinya. Berbeda dengan keadaan ketika anak itu sudah dewasa. Ia tidak pernah berkata lagi kepada mamanya, ’I love you, mom’. Tetapi tindakannya akan menunjukkan bahwa ia mencintai mamanya. Mamanya bisa menikmati dan merasakan cinta anak tersebut tanpa perkataannya. Mamanya dapat menikmati cinta anak itu lebih dari menikmati pemberiannya. Apalagi orang tua yang sudah tidak bisa makan enak atau naik mobil mewah, ia tidak dapat menikmati barang pemberian anaknya, tetapi gelora cinta anaknya yang tulus, dirasakannya sebagai sebuah cinta yang berkualitas.

Sama dengan jika seorang pria mencintai seorang wanita secara utuh, se­benarnya juga membutuhkan proses yang tidak singkat. Ada orang yang merasa telah mencintai pasangannya, tetapi sebenarnya cintanya belum dewasa. Cintanya hanya didorong oleh libido semata atau faktor lainnya, misalnya karena harta orang tua si wanita. Kalau libidonya surut entah karena usia atau berbagai faktor lainnya, maka belum tentu cintanya masih utuh. Kalau harta warisan yang diberikan oleh orang tua wanita habis, ia akan mudah meninggalkannya. Kalau pasangannya berbuat suatu kesalahan belum tentu juga ia masih mencintai. Itulah sebabnya dalam fakta kehidupan ini, kita menjumpai banyak pasangan yang mudah bercerai walau belum lama menikah, atau sudah lama menikah tetapi cintanya tidak ber­tumbuh dewasa, akhirnya cerai. Kalau tidak bercerai, mereka masih hidup bersama hanya karena faktor malu bila cerai atau faktor anak-anak. Relasi seperti ini adalah relasi yang tidak ideal. Sebuah relasi yang akan melukai salah satu pasangannya
Jangan kita mengaku mencintai Tuhan,
jika ada kebohongan di balik ungkapan tersebut .

Saturday, July 21, 2012

Bukan Sekadar Status

 Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono

Kalau ada orang Kristen yang tidak mengerti Injil, itu berarti ia tidak memiliki keselamatan.

Apa maksud kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia ini ? Jawaban yang umum diberikan dengan cepat oleh seorang Kristen adalah bahwa kedatangan-Nya adalah untuk menyelamatkan umat manusia. Itu benar, tetapi kalau ditanyakan bagaimana mekanisme proses penyelamatan tersebut, tidak banyak orang yang mengerti.
Jika kita mau memahami apa sebenarnya maksud inti kedatangan-Nya ke dalam dunia, kita akan tertumbuk dua hal yang sangat penting. Pertama, Ia datang untuk membuka pikiran manusia agar mengenal hikmat dari Allah. Hikmat itu seperti buku petunjuk untuk menyelenggarakan hidup sebagai manusia yang diperkenan oleh Allah. Untuk itu Tuhan Yesus mengajar dan memberi teladan nyata bagaimana seharusnya seseorang hidup dalam kebenaran dan kesucian Allah. Itulah sebabnya Ia tidak sekadar turun ke bumi untuk disalib, tetapi juga mengajar selama sekitar tiga setengah tahun. Yang diajarkan Yesus dan seluruh kehidupan-Nya itulah yang disebut Injil, sebab dari pengajaran-Nya yang dipersembahkan bagi Bapalah kita memperoleh keselamatan ( Roma 1:16 ). Memahami hal ini membuat kita akan sangat menghargai Injil yang kita miliki dengan mempelajarinya secara serius. Maka kalau ada orang Kristen yang tidak mengerti Injil, sesungguhnya itu berarti ia tidak memiliki keselamatan.
Kedua, kedatangan-Nya ke dalam dunia adalah untuk membuktikan bahwa ada manusia yang bisa taat kepada Bapa di Sorga dalam kebenaran dan kesucian yang sesunggunya ( Filipi 2:5-10 ). Ketaatan itulah yang “meluluskan” dirinya sebagai Pokok Keselamatan bagi mereka yang taat ( Ibrani 5:9 ). Bagi mereka yang taat artinya bagi mereka yang meneladani ketaatan-Nya.
Jadi harus diingat bahwa keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya. Tuhan Yesus adalah model manusia yang sesuai dengan kehendak Bapa. Dengan demikian keselamatan itu tidak akan bisa dialami atau diterima oleh orang yang tidak mau memahamikebenaran yang Tuhan ajarkan dan tidak mau mengenakan cara hidup Tuhan Yesus. Keselamatan bukan sekadar mengenakan status sebagai seseorang yang beragama Kristen.
Percaya kepada Tuhan Yesus bukanlah sekadar mengaku bahwa Ia adalah Tuhan, tetapi menjalani kebenaran dan cara hidup-Nya. Pernyataan serupa ini menghiasi sekuruh Injil, tapi sedih sekali, banyak orang Kristen mengabaikannya. Mari kita kembali kepada Injil yang benar, agar kita tidak terjerembab ke dalam kebodohan yang membinasakan.

Wednesday, July 4, 2012

Tragis, ternyata tidak dikenal Bapa


Oleh :  Pdt. Dr. Erastus Sabdono.
Dari : Warta Rehobot Ministry

Menerima keselamatan adalah usaha untuk melakukan kehendak Bapa.

Untuk mewujudkan keselamatan, yaitu mengerti apa yang diajarkan Tuhan dan melakukan kebenaran agar serupa dengan diri-Nya, kita harus mempertaruhkan segenap hidupnya. Keselamatan yang benar dan murni tidak akan terwujud dalam kehidupan, kalau kita tidak mempertaruhkan segenap hidup kita.

Di sinilah kita temukan letak mahalnya harga keselamatan itu. Keselamatan untuk manusia telah diperjuangkan oleh Tuhan Yesus di kayu salib dengan memberikan segenap diri-Nya. Itu pengorbanan yang sangat mahal, dan tidak dapat kita lakukan sendiri, karenanya disebut anugerah. Tetapi anugerah membutuhkan respons dari kita, supaya menjadi terwujud dalam kehidupan kita.

Respons ini tidak sederhana. Tidak cukup hanya dengan mengucapkan kalimat syahadat bahwa Yesus adalah Tuhan, lalu sah menjadi anak-anak Allah. Pandangan ini merupakan penyesatan dan mengakibatkan banyak orang yang mengira dirinya selamat, ternyata berakhir di kebinasaan. keselamatan yang tidak ternilai harganya membutuhkan respons yang juga sangat mahal, yaitu mempertaruhkan segenap hidup kita.

Tuhan Yesus berkata agar kita yang mau selamat berusaha untuk memasuki pintu yang sesak. Artinya berjuang mempertaruhkan segenap hidup kita. Bagi manusia, jelas ini hal yang sangat berat. Tidak banyak orang yang berani melakukannya. Kalau jujur, kita bisa melihat bahwa sebagian besar orang Kristen hari ini masih berpikir dirinya bisa masuk surga tanpa perjuangan, dan memiliki kehidupan kekal tanpa kehilangan kehidupan di dunia ini. Ingat, tidak ada jalan mudah untuk selamat. Tanpa kehilangan kehidupan, seseorang tidak akan dapat memperolehnya ( Matius 10:39 ). Itulah harga yang tidak bisa dikurangi.

Dengan memahami hal ini kita tidak heran lagi bahwa ada orang-orang Kristen yang merasa dirinya sudah istimewa di mata Allah, tetapi tragis sekali sebab mereka ternyata tidak dikenal Bapa, sebab tidak melakukan kehendak-Nya ( Matius 7:21-23 ). Memberikan segenap hidup kita artinya bahwa tidak ada yang lebih dicari dalam kehidupan ini selain melakukan kehendak Bapa. Dengan demikian pada dasarnya menerima keselamatan adalah usaha untuk melakukan kehendak Bapa.

Sekali lagi ditegaskan bahwa kebenaran ini mendukung prinsip Sola Gratia ( hanya oleh anugerah ). Tanpa keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus yang turun ke dunia, tidak ada seorang pun bisa melakukan kehendak Allah. Inilah anugerah itu. Tetapi kita harus meresponi anugerah itu dengan berjuang agar dapat melakukan kehendak Allah. Itu tidak mustahi bagi mereka yang rela kehilangan kehidupannya.

Monday, June 25, 2012

Krisis yang Kudus


Oleh:  Pdt.Dr.Erastus Sabdono

Oleh karena Tuhan adalah rahasia terbesar dalam kehidupan, maka seluruh waktu hidup kita semestinya dihabiskan untuk mengenal Dia.

Penghayatan yang benar terhadap realitas hidup yang dipandu oleh kebenaran Firman Tuhan akan membangkitkan perasaan krisis yang kudus. Perasaan krisis tersebut adalah gentarnya diri kita terhadap kedahsyatan kekekalan dan kedahsyatan singkatnya perjalanan hidup ini. Bukan hanya kekekalan yang dahsyat; singkatnya hidup ini juga dahsyat atau mengerikan. Kuasa kegelapan berusaha menyembunyikan kenyataan ini dengan cara menciptakan suatu suasana dunia yang seakan-akan tidak pernah ada ujungnya, sehingga membuat orang melupakan realitas kehidupan yang dahsyat.

Pemazmur mengajarkan doa, agar Tuhan mengajar kita menghitung hari-hari hidup kita. Itu tentu dimaksudkan agar kita memiliki hati yang bijaksana. Hati yang bijaksana adalah hati yang takut akan Tuhan secara benar, yaitu takut karena mengasihi dan menghormatiNya. Ini akan menggerakkan kita untuk berusaha mengenal Tuhan, melakukan kehendakNya dan hidup dalam perdamaian senantiasa dengan Dia. Jadi, orang yang tidak menyadari singkatnya waktu hidup ini adalah orang-orang yang pasti tidak bijaksana.

Perasaan krisis tersebut juga akan mendorong seseorang berusaha mengalami Tuhan secara nyata dan berlimpah. Tanpa pengalaman dengan Tuhan, kita tidak akan merasa nyaman dan tenang dalam hidup ini. Oleh karena Tuhan adalah rahasia terbesar dalam kehidupan, maka seluruh waktu hidup kita semestinya dihabiskan untuk mengenal Dia. Bukankah Paulus mengatakan bahwa yang dikehendaki adalah mengenal Tuhan dan kuasa kebangkitanNya (Flp. 3:10)? Kuasa kebangkitanNya hendak menunjuk pengalaman nyata dengan Allah yang hidup.

Kebutuhan akan perasaan krisis yang kudus ini perlu kita serukan sebab sebagian besar manusia hari ini tidak merasakannya. Mereka lebih mempunyai perasaan krisis yang tidak kudus, yang mendorong mereka memenuhi pikirannya dengan perencanaan-perencanaan pribadi tanpa memperhitungkan bahwa tenggat waktu akhir hidupnya bisa terjadi setiap saat. Itulah yang disebut Firman Tuhan sebagai kecongkakan (Yak. 4:13-16).

Atmosfer kehidupan seperti ini juga memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan anak-anak Tuhan, sehingga mereka hidup dalam kecerobohan yang sangat membahayakan. Hal ini menjadi subur dewasa ini, sebab pokok pemberitaan di mimbar gereja juga hanya seputar berkat jasmani dan janji-janji kemakmuran di bumi. Marilah kita belajar menghitung hari-hari hidup kita ini, dan jika serius melakukannya, pasti kita akan menjadi semakin bijaksana.

Sunday, June 10, 2012

Berdoa Dalam Hati, Baikkah?


man-praying-alone.gif.jpeg
Pdt. Bigman Sirait
Bapak Pendeta yang kami hormati, saya ibu dari tiga anak yang sering kurang sepaham dengan suami tentang hal berdoa. Begini Pak Pendeta, sejak menikah, berdasarkan pengamatan saya, suami tidak pernah berdoa. Hingga kini anak kami sudah tiga, dia jarang sekali berdoa. Dia baru berdoa kalau saya minta atau bahkan paksa untuk berdoa saat makan bersama-sama. Kalau dia makan sendiri, pasti tidak berdoa. Padahal saya sendiri selalu berdoa mengucap syukur kalau makan, saat mau tidur, bangun tidur, mau bepergian, saya selalu sempatkan berdoa. Kalau saya tanyakan kepada suami kenapa dia tidak pernah berdoa, dia selalu menjawab bahwa dia selalu berdoa dalam hati. Menurutnya dia tidak mau berdoa secara demonstratif, sebab sama saja dengan orang Farisi yang berdoa di depan umum dengan suara kencang supaya semua orang lihat.
Pak Pendeta, saya sendiri sangat rindu di keluarga saya ada acara doa rutin sekeluarga dengan suami sebagai pembawa renungan dan memimpin doa. Saya khawatir sifat suami ini nanti ditiru anak-anak. Bagaimana menurut Pak Pendeta? Apakah kita hanya cukup dengan berdoa dalam hati saja? Terimakasih atas jawabannya.
    Ny. Uli
    Jakarta
REFORMATA.com - IBU Uli yang terkasih di dalam  Kristus, pertanyaan Anda cukup menarik untuk disimak. Doa yang menjadi warna kehidupan setiap umat Kristen ternyata memang disikapi berbeda oleh tiap orang. Mari kita telusuri dengan bijak. Yang pertama dan pasti adalah setiap orang percaya harus berdoa. Doa harus dipahami sebagai dialog dengan Allah, di mana kita belajar untuk semakin mengerti kehendak Allah. Dalam doa kita bersyukur dan memohon kepada-Nya. Setiap keperluan yang kita mohonkan benar menurut kita, tapi belum tentu sesuai menurut kehendak Allah. Itu sebab, dalam doa-Nya Tuhan Yesus sendiri mengajar kita untuk berkata: “Bukan kehendakku ya Bapa, melainkan kehendak-Mu-lah yang jadi (Matius 26: 39b).  Semangat itu juga sangat terasa dalam “Doa Bapa Kami”, di mana dalam memohon makanan atau rejeki, dikatakan, “Berilah kami makanan kami yang secukupnya” (Matius 6:11).
Dalam berdoa, dari hari kehari, dari pengalaman kepengalaman pemeliharaan Tuhan, kita pasti belajar untuk terus bisa menjadi benar dalam berdoa. Alkitab mengingatkan kita agar tidak berdoa hanya untuk memuaskan hawa nafsu, atau keinginan kemanusian belaka (Yakobus 4: 3), sehingga Tuhan tidak mendengarkan doa kita.
Nah, sekarang soal cara berdoa. Dalam Alkitab tidak ada keharusan cara dalam berdoa, apakah lipat tangan atau angkat tangan. Berdoa bersuara atau tidak, atau keras atau pelan. Yang dituntut oleh Tuhan dalam berdoa, adalah berdoa sebagai orang yang benar (tulus, tidak ada yang terselubung, dan untuk memuliakan Tuhan). Masalahnya memang ada kritikan Tuhan Yesus terhadap doa orang Farisi. Pertama orang Farisi yang selalu merasa suci selalu merasa hebat bahkan dalam doanya (Lukas 18: 11), itu yang Tuhan tidak suka, yaitu sikapnya, sombongnya, bukan berdoanya. Semua kita harus berdoa tapi jangan seperti orang Farisi yang sombong itu. Itu soal sikap hati.
Lalu soal berdoa di depan orang ramai. Memang ada saja orang yang berdoa dengan kepongahan ritualnya. Mereka berdoa dan mengucapkannya dengan berdiri dan suara keras tentunya, agar tampak mereka sedang berdoa dan terkesan rohani. Belum lagi, yang berdoa di tikungan jalan, betul-betul sangat pongah. Lalu doa yang dinaikkan berlomba panjang, dan mereka pikir dengan doa yang panjang Tuhan akan senang. Ironis, tetapi itu memang kenyataan perilaku agama yang salah (Matius 6: 5-7).
 Tetapi itu bukanlah alasan untuk kita tidak berdoa, karena Tuhan sendiri mengajar dan memerintahkan kita berdoa. Kita perlu berdoa bersuara jika sedang memimpin doa dalam sebuah kelompok persekutuan. Silahkan pula dalam hati, jika Anda memang sedang sendiri di tengah keramaian. Atau berdoa dalam hati di malam hari ketika sendiri, namun tidaklah juga salah jika Anda berdoa bersuara. Itu hanya soal sikap yang tampak, dari sebuah kegiatan berdoa, namun yang terpenting adalah sikap hati kita, yang justru tidak terlihat mata. Jadi berdoa merupakan bagian hidup yang tidak terpisahkan dari keimanan kita yang benar.
Soal suami tidak mau berdoa, saya pikir perlu pendekatan yang kondusif dan intim. Artinya, kita harus mencari tahu mengapa suami tidak suka berdoa dengan bersuara, atau selagi bersama-sama. Siapa tahu ada latar belakang tertentu yang membuatnya tidak mau berdoa bersama. Apalagi tampaknya suami punya alasan, sekalipun kebenaran alasan itu juga perlu dibuktikan. Sehingga semuanya betul-betul menjadi terang. Karena sungguh tidak nyaman jika untuk berdoa ada percekcokan di antara kita. Itu suasana yang tidak baik, karena Tuhan menuntut kesehatian dalam kita berdoa bersama.
Jadi Ibu Uli yang dikasihi Tuhan, usahakan ngobrol berdua dengan Bapak, dengan alasan untuk kebaikan bersama sebagai keluarga. Soal anak-anak, tentu saja mereka mudah terprovokasi oleh sikap kita. Saya sependapat bahwa kebiasaan tidak berdoa bisa jadi pengaruh buruk bagi anak-anak. Karena itulah perlu diskusi mendalam. Namun sementara usaha berbicara dengan Bapak, Ibu juga harus memberi penjelasan yang baik kepada anak anak, agar jangan sampai mereka berpikir tidak perlu berdoa. Kerinduan Ibu agar keluarga memiliki persekutuan tersendiri sangatlah terpuji. Ini bisa menjadi benih yang baik di dalam kebahagian rumah tangga, dan dalam pertumbuhan kerohanian anak-anak kita. Semua hal ini jadikan bahan pembicaraan dengan suami, semoga dia menyadarinya dan melakukannya dalam kesadaran yang penuh sebagi orang percaya.
Berdoa tidak mungkin kita abaikan, karena berdoa adalah nafas hidup keimanan kita. Terus dorong anak anak berdoa, dan mendoakan ayah mereka agar mau berdoa bersama. Tapi jangan memberi penjelasan yang salah pada anak-anak sehingga menjadi antipati terhadap ayah mereka. Di sini Ibu harus bertindak bijak. Saya menyadari ini tidaklah mudah, tetapi akan menjadi sangat menyenangkan jika mendapatkan keluarga kita menjadi keluarga yang berdoa.
Jadi Ibu Uli yang dikasihi Tuhan, sekali lagi saya sampaikan, berdoa memang bukan soal bersuara atau tidak (dalam hati), tetapi lebih kepada soal sikap hati. Tapi jika kita berdoa bersama tentu saja harus bersuara, agar dapat dipahami oleh yang lainnya, dan bisa diaminkan. Sebaliknya jika sendirian, silakan memilih yang nyaman bagi kita pribadi. Contoh-contoh yang salah, tentu saja jangan ditiru, tetapi juga jangan dijadikan alasan untuk tidak berdoa. Biarlah menjadi pokok doa Ibu agar waktunya segera tiba keluarga menjadi keluarga yang berdoa. Saya percaya kerinduan yang baik pasti dikabulkan oleh Tuhan. Biarlah kiranya Tuhan menggerakkan hati Bapak, bahkan seluruh keluarga sehingga memiliki semangat yang sama dalam berdoa.
Maju terus, dan jangan pernah berhenti untuk hidup di dalam doa, karena berhenti berdoa berarti kita menghentikan kehidupan iman kita. Berdoa agar Bapak bisa menjadi imam dalam rumah. Ada banyak kesaksian para ibu yang sangat meneguhkan, bagaimana mereka berdoa sehingga suami menyadari tugas keimamannya, dan keluarga mereka menjadi keluarga yang berdoa. Kiranya untuk kesempatan berikut Ibu akan menjadiorang yang menyaksikannya. Selamat berjuang, Tuhan pasti menyertai dan memampukan Ibu menjadi berkat didalam kehidupan rumah tangga (1 Korintus 7: 14). Kiranya jawaban ini boleh menjadi berkat bagi kita semua

Monday, May 28, 2012

Khamisyim Yom


Oleh : Pdt.Dr. Erastus Sabdono
From Truth Daily

Baca: Kisah Rasul 2:1-47
Alkitab dalam setahun: 1 Tesalonika

Banyak orang Kristen sering menyebut kata Pentakosta ini dan merayakan hari Pentakosta tetapi tidak mengerti apa sebenarnya Pentakosta itu. Sebenarnya Pentakosta adalah hari raya milik orang Yahudi yang mereka sebut “ khamisyim yom” (Imamat 23:16, םיִׁ֣שִּמח םוֹ֑י). Khamisyim artinya lima puluh, sedangkan yom artinya hari jadi. Khamisyim yom artinya hari ke lima puluh. Disebut hari ke lima puluh maksudnya hendak menunjuk kepada jumlah hari mulai dihitung dari persembahan berkas jelai pada permulaan hari raya Paskah. Pada hari ke lima puluh tersebut dijadikan hari raya mereka. Hari raya ini juga disebut sebagai hari raya menuai (khag haqqatsir), juga disebut sebagai hari raya buah bungaran (yom habbbikurim). Hari raya ini diumumkan sebagai “pertemuan kudus”. Pada hari itu laki-laki tidak boleh bekerja keras, mereka semua berkumpul di tempat kudus untuk beribadah kepada Tuhan. Pentakosta adalah hari sukaria, dimana mereka mensyukuri berkat tuaian gandum sekaligus menunjukkan rasa takut dan hormat mereka kepada Yahweh. Pada hari raya tersebut mereka diperintahkan untuk membawa persembahan kepada Tuhan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan.
Pada hari itu digunakan mereka juga memperingati pembebasan dari perbudakan bangsa Mesir. Pada perkembangannya hari raya ini juga dipakai untuk memperingati pemberian hukum taurat di Sinai. Dalam bahasa Yunani “khamisyim yom” diterjemahkan pentekonta hemera, yang artinya hari ke lima puluh. Pentakosta diambil dari kata ini. Tuhan memakai momentum ini untuk menyatakan kemuliaan-Nya, yaitu turun-Nya Roh Kudus yang dijanjikan sebagai “pentabisan gereja Tuhan” (Kis. 2:1-13). Pada hari Pentakosta tersebut murid-murid berkumpul di Yerusalem berdoa dan berpuasa, Tuhan mencurahkan Roh Kudus sebagaI nubuatan nabi Yoel (Kis. 2:17-21). Pada waktu itulah murid-murid dipenuhi Roh Kudus dan mulai berkata dalam bahasa-bahasa lain (lalein heterais gloossais). Lalein heterais gloossais bisa berarti bahwa murid-murid Yesus berbicara dalam berbagai bahasa yang mereka sendiri tidak pernah belajar, tetapi lalein heterais gloossais juga adalah berbahasa dalam satu bahasa yang dimengerti oleh banyak orang dari berbagai kelompok seolah-olah murid-murid itu berbicara dalam bahasa mereka. Inilah menjadi hari kelahiran gereja Tuhan di dunia. Mata dunia dibuka untuk melihat peristiwa besar yaitu penuangan Roh Kudus sebagai konfirmasi bahwa karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus adalah jalan keselamatan dari Tuhan dan Allah telah menggenapi semua perjanjian dan nubuatan-Nya.
Pencurahan Roh Kudus menggenapi karya keselamatan
manusia oleh Allah Bapa melalui Yesus Kristus.

Thursday, May 24, 2012

Synergeo



Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono


Proses pembentukan karakter kita membutuhkan kerjasama Tuhan dan kita dalam segala keadaan dan kejadian yang kita alami. 

Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus menyangkut proses yang berlangsung dalam diri kita. Tetapi sebelum kita membahas proses tersebut, sebelumnya kita harus mengetahui dan mempercayai prinsip yang terpenting, bahwa keselamatan hanya ada di dalam Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada jalan lain di luar karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Tidak ada peluang untuk mempercayai ada keselamatan di luar Kristus.
Setelah itu, kita harus memahami titik berat proses keselamatan. Dewasa ini banyak orang yang menganggap titik berat keselamatan adalah bahwa Tuhan Yesus menyelesaikan semua masalah dalam hidup ini, seperti kemiskinan, sakit penyakit, pekerjaan, jodoh, dan sebagainya. Ini pandangan yang keliru dan menyesatkan. Harus ditegaskan bahwa proses keselamatan tidak menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan pembentukan karakter (character building) (Rm. 14:17). Oleh karena itu, pelayanan gereja yang menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan jasmani sejatinya menyesatkan, sebab akan sangat menghambat usaha Tuhan mengembalikan manusia pada rancangan semula, membentuk manusia seperti yang dikehendakiNya.
Proses keselamatan, yakni pembentukan karakter ini merupakan suatu proses yang membutuhkan waktu, sebab mustahil seseorang mendadak menjadi sempurna. Ini berarti proses keselamatan berlangsung melalui segala keadaan dan kejadian yang dialami seseorang dan terjadi dalam keterlibatan Tuhan. Oleh sebab itu dibutuhkan kerja sama atau usaha dua pihak - Tuhan dan kita - untuk mewujudkannya.
Perlu diketahui bahwa kata "turut bekerja" dalam Roma 8:28 adalah synergeo yang merupakan gabungan dua kata, syn yang berarti "bersama" dan ergon yang berarti "bekerja". Synergeo berarti "bekerja sama" atau "bekerja sebagai mitra untuk mencapai tujuan bersama". Dari kata inilah kita mengenal kata modern sinergi, yang mengalami penyempitan makna sebagai "bekerja sama untuk memperoleh hasil gabungan yang lebih tinggi daripada jumlah hasil jika masing-masing pihak bekerja sendiri". Jadi jelas bahwa Allah tidak bekerja sendiri dalam hal ini; kita pun harus ikut terlibat. Pengharapan kehidupan di dunia ini hanyalah Kerajaan Surga. Hidup di dunia ini hanyalah persiapan untuk kehidupan di dunia yang akan datang, seperti persemaian. Kita disemai untuk kehidupan yang akan datang, yang merupakan tujuan kita. Fokuskan diri kita untuk meraihnya dengan bekerja sama dalam proses keselamatan.