Tuesday, January 18, 2011

Umat Kristen Perlu Berpolitik


Oleh : Pdt. Bigman Sirait

PEMILIHAN umum (pemilu) masih sekitar tiga tahun lagi, tapi sudah banyak
orang yang “berbenah” dengan membentuk partai politik (parpol). Latar belakang para
pendirinya sama: berjuang demi kemakmuran rakyat, seolah-olah pemerintah yang
sekarang dan dahulu tidak pernah ada yang berjuang untuk rakyat. Dari puluhan parpol
baru itu, beberapa di antaranya berlabel Kristen.
Ada ungkapan bahwa politik itu kejam, jahat dan penuh dosa. Ungkapan ini
bukan hanya berasal dari jemaat tapi juga pemimpin gereja. Tidak sedikit pemimpin
gereja yang memandang politik secara ekstrim politik. Bagi mereka, peran gereja dalam
politik sangat sederhana: tugas gereja adalah berdoa, bukan mengurus politik. Politik
memang disorot sangat negatif, karena dalam politik terjadi berbagai pergolakan,
pertikaian, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Ini membuat wajah politik
semakin buram. Padahal, apalah beda politik dengan ekonomi atau bisnis yang
sebenarnya juga bisa jahat, bahkan sangat jahat. Bukankah karena perhitungan ekonomi
(dagang) maka seorang pengembang membebaskan tanah yang sangat luas dengan harga
sangat murah? Bukankah dia telah memiskinkan orang lain demi memperkaya diri
sendiri?
Jadi, politik maupun bisnis bisa sadis, tetapi itu sangat tergantung pada etika para
pelakunya. Ada pula ungkapan bahwa seorang politikus itu berwajah ganda: kadangkala
dia bisa tampil seperti pendeta, satu waktu dia pun bisa hitung-hitungan sebagaimana
ekonom, tampil seperti pengusaha, bicara seperti ilmuwan. Ia tampil sesuai kebutuhan,
supaya bisa diterima di mana pun. Berdasarkan ukuran ini, maka politik pun terkesan
sangat kotor dan mengerikan.
Benarkah demikian? Sebagai orang Kristen yang bertanggung jawab, kita harus
memandang politik dengan tepat dan jelas. Secara sederhana ilmu politik adalah ilmu
yang mempelajari kehidupan bernegara. Politik dan kenegaraan itu sangat dekat. Dalam
konsep modern, tekanan politik itu pada power atau kekuasaan. Namun kita mesti
mengerti konsep-konsep politik: 
- Pertama, menyangkut state yakni apa yang menjadi tujuan negara.
- Kedua, power, yaitu bagaimana menjalankan kebijakan untuk mencapai tujuan.
- Ketiga, menyangkut decision making, bagaimana mengambil keputusan.
- Keempat menyangkut policy, tata tertib, tidak boleh sembarangan.
- Kelima menyangkut distribution, pemerataan bagi masyarakat, apa yang menjadi hak dan kewajiban 
   rakyat.

Kalau semua orang masa bodoh, mau jadi apa negara ini? Siapa lagi yang akan melakukan kontrol di luar badan resmi yang ada. Kita harus tahu apakah pihak eksekutif, legislatif, yudikatif telah menjalankan fungsi sebagaimana mestinya? Di sinilah perlu pendidikan politik itu. Kehidupan suatu bangsa dikatakan sehat ketika pemerintah dan rakyat bisa saling mengisi, bergandengan tangan, membangun bangsa dan negara. Jadi,
umat Kristen pun perlu berpolitik. Apa yang perlu kita ketahui tentang politik? Pertama, politik itu harus memiliki etika, norma, aturan-aturan. Boleh menang, tetapi secara etis. Untuk itulah kita mesti peka. Berkampanye dengan uang rakyat, itu tidak benar. Fakta menunjukkan, banyak orang memanfaatkan celah, melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak etis, lantaran tidak diatur dalam hukum atau undang-undang. Sementara di negara maju, hal-hal seperti itu dilarang. Entahlah, apakah UU kita belum komplit, atau memang celah itu sengaja dibuat untuk dimainkan? Hal inilah yang perlu disadari oleh orang percaya, yang mengerti
kebenaran dan keadilan. Di sinilah kita berperan, memberi sumbangsih demi terselenggaranya pemerintahan yang adil dan jujur. Jika ada orang mulai menyeleweng, kita berteriak. Jangan setelah dia berhasil mencapai tujuan dengan cara tidak etis, baru kita berteriak. Itu sudah terlambat. Jika semua aturan main dilaksanakan dengan baik dan jujur, maka politik itu telah tampil dengan indah. Inilah seni berpolitik. Tapi di Indonesia, kita tidak melihat keindahan itu. Orang minta maaf pun susah. Di Barat, orang boleh berbeda partai, tetapi saling menghargai dalam berpendapat. Jika seseorang pejabat merasa salah, dia akan mengaku salah, minta maaf, lalu mundur. Itulah seni politik yang mengangkat harkat diri dan kehormatan, bukan pantang mundur, bukan bertahan dan menikmati apa yang dia dapat meski dengan curang.

Sebagai orang Kristen yang melek politik, janganlah memilih orang karena “apa yang dikatakan”, tetapi pilihlah orang setelah melihat “apa yang telah dia kerjakan”. Hati-hati dengan politik retorika, karena dia manis di bibir, tapi pahit di realita. Umat Kristen secara pribadi harus berpolitik. Tetapi harus dibedakan, gereja sebagai institusi tidak boleh berpolitik. Saya kurang setuju kalau parpol membawa-bawa  nama Kristen. Sampai kapan pun, akan lebih banyak ruginya jika nama Kristen  dipertaruhkan untuk sebuah politik. Umat Kristen harus sadar berpolitik, tetapi tidak dengan cara membuat partai yang memakai nama Kristen. Banyak cara lain, misalnya mendidik jemaat di gereja tentang politik dengan baik. Itu cara yang bertanggung jawab. Kristen itu nama yang terlalu tinggi dan harum untuk dipertaruhkan demi kepentingan politik sesaat, yang tidak pernah bersifat kekal. Kalau seorang politikus Kristen korupsi, dari partai Kristen pula, yang malu kan orang Kristen. Pakai nama Kristen mesti bertanggung jawab. Akhirnya, umat Kristen harus berkarya di Bumi, menjadi garam dan terang. Orang Kristen harus memainkan politik yang bernafaskan etika kekristenan sehingga betul-betul memberikan sumbangsih bagi kemajuan bangsa dan negara.(Diringkas dari
kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)

Friday, December 17, 2010

Yang Merendahkan Hati, akan Ditinggikan


Oleh : Pdt.Bigman Sirait

Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa
meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan
ditinggikan. (Matius 23:11-12)

Dari segi tata bahasa, kata “rendah” adalah antonim (lawan) dari “tinggi”.
Dalam pengertian bahasa dan kehidupan sehari-hari, kedua kata di atas jelas berbeda.
Dan perbedaan semacam ini cukup banyak mewarnai Alkitab. Di sini kita dapat melihat adanya perbenturan yang sangat dahsyat antara nilai yang ditetapkan oleh Yesus dengan nilai yang diterapkan oleh dunia. Perbenturan semacam ini sebenarnya tidak menyenangkan bagi banyak kalangan, termasuk para ahli Taurat yang merasa memiliki nilai tersendiri. Kalimat di atas muncul ketika Yesus mengkritik orang-orang Farisi dan ahli Taurat.

 Mereka memang mengajarkan Taurat tentang kebenaran, mengajarkan supaya setiap orang berperilaku benar. Namun, perilaku mereka sendiri tidak benar. Mereka tidak melakukan hal-hal yang semestinya mereka lakukan sebagai konsekuensi pengajaran mereka. Artinya mereka telah berbuat kesalahan. Tragis, khotbah yang mereka sampaikan tidak lebih hanya berupa konsumsi yang diberikan mulut ke kuping. Tingkah laku mereka sehari-hari berlawanan dengan isi  khotbah mereka. Ini tentu saja suatu penipuan, penyelewengan, yang tidak disukai oleh Tuhan.

Mereka ingin menempatkan diri sebagai Musa pada jaman mereka. Mereka menempatkan diri menjadi tinggi, hebat, luar biasa melebihi siapa pun. Yang lebih parah, mereka juga sudah menempatkan diri sebagai wakil Tuhan. Maka terjadilah penekanan para pemimpin agama terhadap umat. Tidak heran, jika banyak umat menjadi bodoh, karena tidak mau mencari kebenaran Allah, tetapi hanya mau mengarahkan telinga ke khotbah-khotbah yang seringkali tidak benar. Kondisi semacam ini benar-benar mengerikan, apalagi umat sendiri pun kelihatannya kurang bergairah dalam membaca Alkitab dengan kritis dan teliti. Umat menjadi korban yang mudah di-ninabobo-kan oleh berbagai kepalsuan. Umat tidak lagi selektif atau sensitive untuk memperhatikan ayat demi ayat, kata demi kata.

 Dengan menempatkan diri sebagai rabbi, para ahli Taurat juga menempatkan diri sebagai pusat segalanya, yang tahu segalanya. Artinya mereka meninggikan diri dengan merebut porsi Allah, dengan segala kepongahan. Dengan sikap seperti itu, mereka telah bermusuhan dengan Allah. Sebab Allah sangat benci terhadap orang yang sombong, pongah, yang hanya gemar meninggikan diri. Dalam doanya pun, mereka hanya menonjol-nonjolkan dirinya di hadapan Tuhan. Sebaliknya orang lain  dijelek-jelekkan, seperti bunyi salah satu doa berikut: “Tuhan, beruntunglah aku. Aku seorang ahli Taurat, Farisi, yang seminggu berpuasa dua kali, tidak seperti si pemungut cukai yang berdosa itu…” Jebakan-jebakan keagamaan memang mengerikan. Karena itu hati-hatilah agar jangan sampai membuat suatu pengakuan sepihak bahwa kita adalah yang terbaik. Jangan sampai seperti ahli Taurat yang karena merasa dirinya paling suci, paling hebat, paling jago, malah berusaha merebut kekuasaan Allah. Dan karena itulah Tuhan memperingatkan, “Barangsiapa meninggikan dirinya, dia akan direndahkan.” Sebaliknya, berbahagialah mereka yang merendahkan dirinya.

 Merendahkan diri bukan berarti menempatkan diri lebih rendah dengan membungkukkan badan, misalnya. Merendahkan diri yang dimaksudkan di sini menyangkut sikap hati yang takluk pada kebenaran Allah, tunduk dan menyadari diri sebagai orang berdosa. Status seperti ini sangat penting kita miliki. Ketika orang dekat dengan Tuhan, kesadarannya sangat tinggi. Hal seperti ini juga pernah dialami oleh Petrus. Saking merasa sangat rendah di hadapan Tuhan, dia malah meminta agar Tuhan menjauhinya, “Tuhan, menjauhlah dariku, orang berdosa ini.” Sementara orang yang pongah dan besar kepala justru mengangkat diri dan senantiasa berbuat dosa. Saat berbuat dosa pun dia sudah tidak sadar. Jika dinasihati, malah marah. Akhirnya dia semakin dalam terperosok ke dalam kesombongan, merasa diri sebagai orang yang paling hebat, paling baik. Lucifer, malaikat yang membuat dirinya sama dengan Allah, akhirnya dibuang dari surga.

 Nasib sama menimpa Adam dan Hawa. Karena ingin sama dengan Allah, keduanya diusir dari Taman Eden. Oleh karena itulah, setiap orang Kristen seharusnya mencerminkan suatu kerendahan hati. Wujud kerendahan hati seorang kaya bukan dengan cara mengenakan pakaian sederhana. Kerendahan dalam konteks ini menyangkut sikap hati, bukan bagaimana penampilan diri. Suatu kesadaran bahwa diri kita bukanlah apa-apa, merupakan salah satu wujud kerendahan hati. Jika seseorang menyadari kalau dirinya bukan apa-apa, maka apa pun yang ada padanya bukan dianggap sebagai miliknya.

 Maka pengendalian diri dari dalam, menjadi sesuatu yang paling penting. Dalam dunia kerja, kita sebagai pekerja pun seharusnya menyikapi ini semua dengan kesungguhan yang utuh. Nikmati apa yang ada, yang Tuhan berikan. Kita tidak perlu berpura-pura merendahkan diri dengan mengenakan pakaian compangcamping ke kantor. Kalau kita memang bisa, kenapa tidak memakai pakaian yang bagus? Tidak perlu memakai sandal jepit jika kita sanggup beli sepatu. Tetapi jangan pula membeli pakaian bagus dari tumpahan darah atau keringat orang lain. Sekali lagi, bukan penampilan luar yang berbicara tentang kerendahan hati, tetapi sikap hati. Sehingga kita merasa lebih bukan karena punya banyak uang, bukan pula karena kita
punya jabatan. Sebaliknya, kita merasa kurang bukan lantaran tidak punya uang, atau tidak punya jabatan. Tetapi yang penting, lebih atau kurangnya kita dalam kehidupan,kita perlu senantiasa menanyakan apakah kita dekat dengan Tuhan? Jika kita dekat dengan Tuhan, DIA-lah nilai lebih kita. Sebab kalau kita bersama Tuhan maka DIA akan mengangkat kita. Jikalau kita bersama dengan Tuhan, DIA akan meninggikan kita. Karena kebenaran, kita direndahkan. Oleh kebenaran pula kita akan ditinggikan. Oleh karena kebenaran kita diangkat oleh Tuhan. Tetapi
barangsiapa meninggikan diri melewati kebenaran, dia akan direndahkan. Jika mendapat penghinaan, atau direndahkan, puji Tuhan. Itu kesempatan untuk merendahkan hati, bukan untuk merendahkan diri. Tetapi jika kita kecewa atau marah terhadap tekanan, berarti kita telah membuang harta benda yang luar biasa nilainya. Kesempatan seperti itu ibarat mutiara yang terindah, pemberian Tuhan. Jadi jangan dibuang. * (Diringkas dari Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)

Wednesday, December 15, 2010

Makna Yang Baru

Oleh: Pdt.Dr.Erastus Sabdono
(Truth Daily Enlightenment)
Baca: Mazmur 42:2–6
Alkitab dalam setahun: Nehemia 1–3

Dalam Mazmur 42, Pemazmur menggambarkan umat Allah seperti rusa yang merindukan sungai yang berair. Pernyataan ini merupakan suatu gambaran betapa tergantungnya umat kepada Tuhan. Umat Perjanjian Lama merindukan Tuhan, karena membutuhkan pertolongan-Nya dari segala ancaman yang menghadang mereka dan karena banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Tuhan menjadi andalan mereka yang harus dimintai pertolongan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani.
Sampai hari ini, kata-kata puitis dalam kitab Mazmur masih menjadi kalimat doa orang Yahudi di Tembok Ratapan (Wailing Wall). Tentu ayat dalam Mazmur 42 ini juga digunakan sebagai kalimat doa mereka. Sewaktu masih muda, penulis juga suka menggunakan ayat-ayat ini sebagai kalimat doa.
Juga sampai hari ini, banyak orang Kristen masih menggunakan kata-kata Mazmur sebagai kalimat doanya dan menjadikan ayat-ayat dalam kitab Mazmur sebagai landasan imannya. Ini patut diwaspadai, sebab dengan hal ini, orang Kristen bisa menyamakan standar iman orang Yahudi—umat Perjanjian Lama—dengan umat Perjanjian Baru. Seharusnya tidak demikian, sebab standar iman umat Perjanjian Baru jauh lebih tinggi dibandingkan standar iman umat Perjanjian Lama.
Tentu kita masih menggunakan kitab Perjanjian Lama umumnya dan Mazmur khususnya, sebab di dalamnya termuat banyak pelajaran rohani atau hikmah yang berharga. Tetapi kita harus memaknainya dengan cara yang berbeda dengan cara orang Yahudi memaknainya.
Ketika kita mengatakan bahwa kita seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, kita harus sadar bahwa ketergantungan kita kepada Tuhan bukanlah karena hal-hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, sebab itu semua telah disediakan oleh Tuhan (Mat. 6:32). Dengan demikian, kita bisa hidup tanpa kekhawatiran sama sekali, sebab Bapa telah menyediakan apa yang kita butuhkan. Yang penting bagi kita adalah berusaha atau bekerja keras untuk meraihnya.
Maka pernyataan “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair” harus dimaknai baru. Maknanya adalah, kita membutuhkan Tuhan karena Dialah Pencipta kita. Kita baru menjadi berarti kalau menemukan fungsi kita dalam rencana atau kehendak-Nya. Dia berarti bagi kita, kalau kita menyadari bahwa hanya Dialah kesukaan hidup ini—tidak ada kesukaan yang lain. Dia berarti bagi kita, kalau kita menyadari betapa mengagumkan hikmat dan kebijaksanaan-Nya, sehingga kita mengerti apa yang dikehendaki-Nya untuk kita lakukan.

Kita baru berarti jika menemukan fungsi dalam rencana Tuhan.

Konsumtif pada Firman Tuhan


Oleh : Pdt. Bigman Sirait

KONSUMTIF adalah sifat yang tidak produktif. Sifat ini menghabiskan, bukan menghasilkan.
 Orang yang konsumtif membelanjakan banyak hal yang sifatnya sementara. Mungkin dia konsumtif terhadap makanan, pakaian atau dandanan, sehingga tampak berlebihan. Untuk itu dia memerlukan biaya yang sangat besar, sampai-sampai tidak punya dana untuk pekerjaan Tuhan, misalnya. Sifat seperti ini, secara rohani tidak benar. Secara umum pun bisa sangat membahayakan. Bayangkan jika seluruh orang Indonesia bersifat konsumtif, tidak pernah produktif, maka kita akan mengimpor terus, tidak pernah mengekspor.

 Maka bagaimanapun sikap konsumtif harus dimusuhi, karena bisa menimbulkan kecemburuan sosial. Yang satu belanjanya banyak, sementara yang lain tidak sanggup beli makanan. Dan yang jelas, konsumtif bersifat sementara, hari ini punya, besok bisa tidak punya. Tetapi, ada sifat konsumtif yang memang kita perlukan. Konsumtif yang bagaimana? Dalam Mazmur 1: 1-2, ada satu kalimat yang menganjurkan untuk “konsumtif” terhadap firman Tuhan. Kalimat itu bunyinya kira-kira demikian, “berbahagialah orang yang kesukaannya adalah Taurat Tuhan”. Jika orang begitu kuat mengonsumsi apa yang menyenangkan dirinya, bukankah seharusnya kita pun punya sikap yang sama untuk mengonsumsi firman Tuhan dalam hidup? Mungkin banyak waktu yang kita pakai untuk aktivitas gerejawi: menjadi panitia Paskah, Natal, dan sebagainya. Bahkan tidak sedikit pendeta yang mengonsumsi terlalu banyak waktu untuk berkhotbah. Namun ketika kita menggunakan banyak waktu untuk aktivitas gerejawi itu, muncul pertanyaan serius: Berapa banyak waktu yang kita pakai untuk mengonsumsi firman hidup? Ini penting direnungkan. Seorang pengkhotbah tentu bukan sekadar tukang khotbah, pasti ada saat jeda yang dia perlukan. Tapi, apakah saat menikmati waktu-waktu jeda itu dia duduk membaca, mengonsumsi firman Tuhan? Awas, kita tidak boleh terjebak pada aktivitas dan rutinitas sampai akhirnya lalai mengonsumsi kebenaran firman itu.

 Sekaitan dengan konsumsi firman, ada beberapa jenis orang yang kita kemukakan dalam kesempatan ini.
Jenis pertama, orang yang tidak mengenal Tuhan, dalam pengertian tidak “serius” dengan Tuhan. Dia ini orang Kristen, tetapi tidak “serius”. Orang seperti ini tidak menempatkan firman sebagai prioritas utama. Banyak aktivitas yang dia lakukan, tetapi apa yang dia dapat? Dia berjalan seperti yang dia mau. Orang seperti ini akan sulit diharapkan untuk bisa menghargai kebenaran dan cinta kasih. Orang seperti ini akan sulit diharapkan untuk melakukan sesuatu hal yang menyenangkan hati Tuhan. Dia tidak punya kekuatan untuk melakukan hal yang menyenangkan hati Tuhan, karena kurang “vitamin”. Dia kurang mengonsumsi firman Tuhan.
 Orang kedua adalah orang yang cukup aktif di gereja, dalam hal pelayanan di gereja. Tetapi ternyata dia tidak mengonsumsi firman Tuhan secara baik. Apa yang kita dapat dari orang seperti ini? Dia bisa saja sangat mudah tersinggung. Sedikit masalah bisa menjadi pertikaian, perselisihan dan ribut. Ini tentu aneh, sebab jika biasanya orang ributnya di luar gereja, maka orang ini ributnya di dalam gereja. Beginilah jadinya seseorang yang aktivitas gerejanya tinggi, tetapi kurang mengonsumsi firman Tuhan. Orang seperti ini tentu kurang bisa dipercaya.
 Yang ketiga, orang yang sudah sampai pada tahap bersaksi atau berkhotbah terlepas dari, apakah dia seorang pendeta atau bukan. Bahkan kesaksian atau khotbahnya bisa sangat bombastis, hebat, luar biasa, mengagumkan. Tetapi ketika orang-orang mengetahui perilakunya, orang-orang tentu kaget. Kok bisa begitu? Karena terlalu banyak pendengar yang membodohi dirinya sendiri, tidak kritis tentang apa yang dia dengar. Pendengar tidak bisa membedakan antara pembicara dengan kelakuannya. Yang kita dengar mungkin sebuah kebenaran, tetapi yang kita lihat mungkin sebuah kesalahan. Itu sebab Yesus berkata, “Lihat orang Farisi itu. Dengarkan apa yang dikatakannya, tapi jangan tiru kelakuannya!” Kok bisa begitu? Karena banyak orang menjadi “calo” rohani, ngomong hebat, mengantarkan orang ke surga, tetapi dia sendiri tidak sampai-sampai ke sana. Tetapi biarlah itu menjadi urusan masing-masing. Yang penting bagi kita adalah bisa memilah antara manusianya dan yang dibicarakannya. Jangan terjebak hanya karena mendengar apa yang dibicarakan, lalu kita menganggap sang pembicara itu manusia super, kemudian mengidolakannya, lalu lupa pada Tuhan. Orang yang pada tahap seperti ini sudah sampai pada tahap tinggi, bahkan sampai bisa “menghipnotis” pendengarnya. Tapi ternyata tidak sedikit yang sudah kronis, karena tidak mengonsumsi firman. Sehingga mereka merasa benar sendiri, tidak bisa dikritik, tidak bisa diomongin. Keyakinannya begitu tebal atas prinsip dan kebenaran dirinya. Jadi, dia benar sendiri. Kenapa bisa begitu? Sekali lagi, karena dia kurang mengonsumsi firman, sehingga dia tidak diseleksi, tidak dibersihkan, tidak digunting oleh firman itu. Dia tidak pernah bercermin. Yang dia lihat hanya dirinya, dan kebenaran dirinya berdasarkan jam terbang khotbahnya, dan aktivitas pelayanannya.Maka hati-hatilah menyikapi hal yang demikian.

Firman Tuhan itu berfungsi mengikis sifat-sifat yang kurang baik. Apalagi Alkitab berkata, bahwa firman itu akan memberikan kita bijaksana untuk mengoreksi diri, menunjukkan kesalahan sehingga kita bisa berubah. Tetapi kalau firman itu tidak kita konsumsi, wajar saja jika kemudian mendatangkan akibat-akibat yang fatal. Nah oleh karena itu, jangan hitung berapa banyak kegiatanmu di gereja. Jangan hitung berapa kali kamu berdiri untuk bersaksi. Jangan hitung berapa kali kamu berkhotbah dan berapa ribu orang yang mendengarkan. Tetapi coba hitung berapa banyak kamu mengonsumsi kebenaran firman Tuhan itu? Kamu akan menemukan kepuasan, kebahagiaan karenanya. (Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)

Thursday, December 9, 2010

Orang Suka Memberi, Biasanya Bahagia


Pdt.Bigman Sirait

ALASAN memberi,
pertama, karena itu perintah Tuhan. Hal ini sudah diatur dalam perjanjian Lama (PL) sampai Perjanjian Baru (PB), sehingga muncul berbagai hal yang
memberikan indikasi yang sangat kental supaya kita memberi.
Kedua, karena kita sudah menerima apapun dari Tuhan, apa yang kita punya adalah milik Tuhan. Itu sebab kita harus memberi. Sehingga istilah “diberi untuk memberi, diberkati untuk memberkati”, ini sangat penting. Jadi, kita memberi bukan supaya menerima dari Tuhan.
Alasan ketiga, karena memang harta atau uang yang kita miliki itu diberikan Tuhan untuk memuliakan
nama-Nya. 
Alasan keempat, demi harta sorgawi. Di Alkitab ada tertulis bahwa harta yang kita simpan di dunia, akan dimakan ngengat, tetapi jika disimpan di surga, harta itu abadi. Memberi tidak sama dengan masuk surga. Tapi karena Tuhan sudah memberi, maka kita memberi, dan dengan memberi terbukti bahwa kita memang milik surga. Maka jangan berhitung dengan uang persembahan, sebab harta atau uang datang dari Dia, maka
harus dikembalikan pada Dia untuk kemuliaan nama-Nya. Jadi, alasan-alasan untuk memberi harus dipahami dalam empat prinsip di atas. Kita memberi karena memang Tuhan yang memerintahkan, bukan suka-suka kita.
Sekarang kita membahas tujuan memberi:
1) Untuk rumah Tuhan, supaya pelayanan itu berjalan. Tuhan marah kepada orang Israel yang setelah pulang dari pembuangan anteng-anteng saja. Waktu mereka habis untuk memikirkan diri sendiri. Tuhan marah karena rumah-Nya dibiarkan kosong. Tuhan tidak mau rumah-Nya diabaikan.
2) Untuk hamba Tuhan, supaya ada kesejahteraan. Tetapi kesejahteraan tidak sama dengan bertumpuk harta dan kelimpahan. Pendeta perlu punya mobil untuk pelayanan, rumah yang layak, dana untuk menyekolahkan anak. Jadi, hamba Tuhan tidak dianjurkan untuk berlebih-lebihan. Kekayaan itu mestinya karena banyak memberi, bukan karena memiliki banyak.
3) Supaya ada keseimbangan. Yang kaya tidak terlalu kaya, yang miskin tidak terlalu miskin.

Sementara, syarat-syarat memberi adalah: 
 Pertama, dengan rasa syukur mengingat berkat Tuhan. Ingat, waktu kita memberi, itu karena kita sudah menerima. Maka memberi adalah sebuah kehormatan. Adanya rasa syukur, maka kita memberi.
Kedua, memberi dengan sukarela. Karena ada kesadaran diri, maka kita memberi, dan kita melakukan itu karena relasi dengan Tuhan. Kita mestinya merasa gelisah kalau tidak memberi. Itu sebab kita harus memberi dengan penuh kerelaan untuk mewujudkan rasa syukur.
Yang ketiga, jangan memberi karena paksaan. Jangan memberi hanya karena termakan retorika pengkhotbah.
Keempat, memberi harus mendatangkan suka cita yang luar biasa. Orang yang suka memberi itu biasanya bahagia. Ketika memberi dia merasa senang, dan dengan memberi kita boleh berterimakasih kepada Tuhan.
Kelima, memberi dengan tepat. Artinya, jangan memberi mutiara kepada babi. Jangan memberi persembahan kepada gereja yang hanya memperkaya diri.

Memberi bersyarat
Orang yang memberi bersyarat adalah yang berpikir bahwa dengan memberi maka dia akan menerima berlipat ganda, tetapi bukan dalam bentuk materi, kapital atau uang. Tentang ini baca baik-baik Lukas 18: 28-30, II Korintus 9: 10. Yang akan kita terima berlipat ganda adalah dalam kualitas, bukan kuantitas. Ujungnya itu hanya kebahagiaan, membuat kita lebih mampu berbuat baik lagi. Orang Kristen harus memberi dan menerima secara elegan karena Tuhan adalah sumber berkat yang luar biasa. Kita harus mencontoh Ayub. Meski harta benda dan anak anaknya habis, dia tetap mengucap syukur, dan berkata, “Tuhan yang memberi Tuhan juga yang mengambil”. Ada pula orang memberi sebagai satu wujud iman yang benar.
Contoh, janda miskin yang memberi dua peser. Dengan memberi uang itu, janda itu tidak punya uang hari itu. 
Kemudian tentang orang Samaria yang baik hati. Dia tidak tahu siapa yang dia tolong. Dia tidak peduli meskipun gara-gara menolong orang itu bisnisnya terganggu, uang, waktu, tenaga terbuang. Lalu Dorkas si pemurah. Kematiannya diratapi semua orang karena selama hidupnya selalu memberi kepada sesama.
Memberi bisa juga sebagai wujud moral yang baik. Kisah tentang seorang perwira Roma, meski kafir tetapi suka membantu membangun rumah ibadah. 

Jadi, banyak orang kafir tercatat sebagai orang baik. Karunia Tuhan selalu dekat kepada orang yang baik. Moral baik, meski tidak beriman, selangkah lagi akan bisa berubah menjadi iman. Semoga kita orang yang beriman benar sekaligus bermoral bagus. Tuhan memberi supaya kita memberi.

Jadi jangan sombong kalau bisa memberi. Sebaiknya bersyukur jika bisa memberi, sebab itu cuma kemurahan Tuhan. Orang yang kuat dalam memberi, dia belajar bergantung pada Tuhan. Makin lepas dari keterikatan pada uang, hidup makin merdeka. Ada uang, puji Tuhan, tak ada uang puji Tuhan. Orang seperti ini luar biasa, selalu happy, tidak ada yang bisa mengganggunya. Hanya satu yang bisa ganggu dia, kalau dia jatuh dan bikin dosa. Jadi sekali lagi, memberi untuk bertambah bukan berarti bertambah duitnya menjadi 20 kali lipat dan seterusnya. Jika bertambah lipat 20 sampai 30 kali lipat, itu
berbicara tentang penabur benih dan jatuh pada tanah yang subur. Dalam hal ini, bertambah artinya mengalami perubahan: yang dulu sombong jadi baik, yang dulu pelit jadi murah hati, dan sebagainya. 
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)

Tuesday, November 30, 2010

Merasa Sudah Mengenal

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono

01 Desember 2010
Baca: Mazmur 35:10; 86:8
Alkitab dalam setahun: Wahyu 17–19

Banyak orang Kristen dewasa ini menyerukan bahwa Allah kita tidak sama dengan allah lain. Ini didasari oleh ayat-ayat dalam Perjanjian Lama. Banyak lagu yang digubah dengan syair yang memuat pernyataan ini, dan jemaat pun menyanyikannya dengan penuh keyakinan dan kebanggaan. Para worship leader dan pengkhotbah pun sering mengucapkan kalimat bernada demikian, “Siapa seperti Allah kita? Tidak ada allah yang seperti Dia!”
Pernahkah kita persoalkan, bagaimana kita tahu bahwa Allah kita berbeda dengan allah agama lain? Apanya yang berbeda? Kita tidak bisa mengatakan di mana perbedaannya, apabila kita tidak mengenal secara mendalam Allah kita, dan mengenal pula allah agama lain.
Bagaimana mungkin seseorang berkata bahwa “suatu barang” yang ada padanya adalah sesuatu yang istimewa kalau ia tidak memahami keistimewaannya? Apalagi kalau ia berkata bahwa apa yang dimilikinya itu berbeda dengan barang lain yang sejenis, tanpa pernah mempelajari atau paling tidak mengenal barang yang sejenis tersebut. Tidakkah itu bodoh? Demikianlah, kenyataannya ada orang Kristen yang bodoh seperti itu. Dengan yakin dan bangga mereka mendeklarasikan Allah kita berbeda, tetapi pernyataan itu tanpa pengertian.
Orang Kristen yang menyatakan bahwa Allahnya berbeda dengan allah yang lain berarti menyatakan bahwa ia sudah mengenal Allah dengan benar dan memahami perbedaannya dengan allah lain. Kalau sebetulnya ia belum mengenal-Nya dengan baik, sebenarnya ini menunjukkan betapa kacaunya kehidupan imannya. Keadaan seperti ini membangun damai semu, ketenangan semu dan iman yang semu pula. Sebab kalau seseorang tidak mengenal Allah yang benar, maka keadaan batiniahnya pun pasti tidak benar.
Sungguh berbahaya kebodohan orang yang merasa sudah mengenal Allah dengan benar, padahal tidak. Ia merasa berhak menasihati, bukan dinasihati. Ia merasa tidak perlu dikoreksi oleh siapapun. Paling parah, kalau ia merasa tidak perlu belajar untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Tidak jarang mereka justru menyerang ajaran yang benar atau melawan kebenaran.
Menghadapi hal ini, mari kita terus belajar kebenaran Firman Tuhan dengan benar, agar kita mengenal Allah kita dengan benar pula. Pengenalan ini akan membuka pengertian kita terhadap perbedaan antara Allah yang kita sembah dengan allah lain.
Belajarlah kebenaran Firman Tuhan dengan benar,
agar kita mengenal Allah kita dengan benar.