Tuesday, October 5, 2010

Berpikir Benar agar Berlaku Benar

Berpikir Benar agar Berlaku Benar
Oleh : Pdt.DR. Erastus Sabdono


Pikiran itu berjalan sekian langkah mendahului. Pikiran menunjukkan identitas sejati seseorang, sekaligus menuntun langkahnya ke depan. Yang dimaksud pikiran di sini bukan sekadar pikiran yang muncul secara mendadak, tetapi lebih bermakna pola pikir. Karenanya jangan anggap enteng apalagi remeh teologi.
Teologi adalah kerangka pikir yang dilandasi oleh kesaksian Alkitab, baik yang jelas tersurat maupun yang secara sekilas tersirat. Menampik berteologi pada galibnya sama halnya menampik untuk berpikir benar, agar berlaku dan bersikap benar. Sayangnya, malahan banyak orang percaya yang fobia terhadap theologi. Atau paling tidak merasa hal itu tidaklah terlalu urgen bagi kehidupan keberimanan kepada Kristus. Namun disadari atau tidak, justru sikap semacam inilah yang akhirnya menjerumuskan gereja Tuhan ke jurang kesesatan.
Untuk itulah edisi TRUTH kali ini kami ketengahkan satu topik bahasan, Bahaya Ateologi. Mungkin kata ateologi terasa sangat asing atau bahkan janggal, sebab istilah ini jarang digunakan. Pada lembar-lembar awal yang akan pembaca simak, kami sajikan penjelasan arti ateologi. Dari situ kami berangkat menuju kepada pokok bahasan utamanya, untuk mengungkap adanya bahaya sebagai akibat suatu penyikapan yang kurang bertanggung jawab atas hidup keberimanan gereja.
Tanpa mengurangi arti anugerah, bahwasanya keselamatan menuntut penyikapan yang bertanggung jawab dan dewasa. Kalau Alkitab dengan tegas dan jelas memerintahkan gereja untuk bertanggung jawab atas pengharapan—yang juga bermakna keimanan—alasan apa lagi yang hendak dibuat orang untuk melalaikan tugas agung ini?
Di sini dampak ateologi bukan sekadar tak mampu menjawab tuntutan pertanggungjawaban atas keimanan gereja, tetapi juga melahirkan dekadensi moral dan degradasi nilai-nilai gereja Tuhan.
Untuk itulah edisi kali ini kami unggah untuk menyuluhi keberadaan umat Tuhan, agar terhenyak dari lelap berkepanjangan akan tanggung jawabnya menjadi umat yang dipanggil untuk hidup dalam kebenaran. Tiada kehidupan yang benar tanpa pemahaman yang benar atas makna dan nilai-nilai kehidupan yang benar, dan tidak ada kebenaran murni yang lahir di luar Kitab Suci, maka dengan tegas kami nyatakan, menggali kebenaran Kitab Suci adalah harga mati. Mari berpikir benar agar berlaku benar, seusai menyadari adanya bahaya ateologi.
Dapatkan Majalah TRUTH Edisi 20, “Bahaya Ateologi” dengan menghubungi:
Rehobot Literature
Gedung Roxy Square Lt. 3, Jl. Kyai Tapa No. 1
Jakarta 11450
Indonesia
Telepon: +62-21-5695 4546 ext. 30, +62-21-68 70 7000, 08 7878 70 7000
Email: info@truth-media.com

Monday, September 6, 2010

Video kotbah Pdt .Dr.Erastus Sabdono

Shalom,



Mari kita awali minggu ini dengan Firman Tuhan... saksikan video khotbah Pdt. Dr. Erastus Sabdono "Harta yang Sesungguhnya" di YouTube:

Bagian 1
http://www.youtube.com/watch?v=bdt-qFdDCeU

Bagian 2
http://www.youtube.com/watch?v=nkHqI8xe97Y

Sampaikan kepada keluarga dan teman-teman.... Tuhan memberkati.
Thanks Buat Pak Eras dan Pak Mark yang sudah share video ini. Tuhan Yesus Memberkati.

Monday, August 30, 2010

Bersyukur PadaMu

Bersyukur PadaMu

Cipt. Tertius Denny S.B

Bersyukur padaMu itu kesukaanku
Karna ku mau slalu bersyukur
Bersyukur padaMu itu kerinduanku
Karna ku mau slalu bersyukur


Reff : Ku tahu Engkaulah Tuhan penyelamatku
Ditangan Mu ada perlindungan Mu
Ku tahu Engkaulah yang menolong hidupku
Setiap waktu
Ku mau slalu bersyukur




Note : Lagu tersebut dinyanyikan oleh Soedarsono dalam Album vol.2 “Bersyukur” Produksi Solagracia Record.

Friday, August 27, 2010

Mati adalah Keuntungan


Mati adalah Keuntungan
Bacaan hari ini: Filipi 1:21-24
Ayat mas hari ini:
Filipi 1:21
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 120-122; 1 Korintus 9
Coyote adalah sejenis serigala yang berkembang biak sangat pesat di Amerika bagian utara. Para petani di sana memiliki pandangan yang berbeda terha­dap binatang itu. Sebagian memandang coyote sebagai binatang perusak, karena menjadi ancaman bagi hewan peliharaan, seperti kucing dan anjing. Sebagian lagi me­­­mandang coyote sebagai binatang yang bermanfaat, karena dapat melin­dungi ta­nam­an dari hama tikus dan he­wan pe­nge­rat lainnya.
Begitulah, satu hal atau keadaan da­pat dilihat dari dua sisi yang berbeda; sisi terang dan sisi kelam. Demikian juga hal kematian. Pada satu sisi kematian bisa di­lihat sebagai peristiwa kelam. Karena itu, orang akan berduka jika mengetahui saat menghadapi kematiannya mendekat. Akan tetapi, dari sisi iman, ke­matian juga bisa dilihat secara optimis. Itulah yang dilakukan oleh Paulus. Ia sedang berada di penjara, dan ia dapat merasakan betul, bahwa kematiannya tidak akan lama lagi. Namun sebaliknya, dari­pa­da berduka dan patah arang, Paulus justru menghadapinya de­ngan penuh pengharapan. “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,” demikian ia menulis (ayat 21).
Kita suatu saat, cepat atau lambat, akan diperhadapkan pa­da kenyataan ini—atau mungkin sekarang kita tengah mengha­dapi­nya, bahwa hidup kita di dunia tidak akan lama lagi. Dalam situasi demikian, marilah kita berpegang pada iman dan pengharapan kita di dalam Kristus, sehingga kita dapat menghadapinya dengan tetap tenang, tidak kehilangan sukacita. Kita dapat menyongsong saat-saat kematian yang mendekat dengan hati lapang dan kepala tegak.
DI DALAM KRISTUS KITA HADAPI KEMATIAN DENGAN SENYUM

Penulis:
Ayub Yahya

Thursday, August 26, 2010

Yesus Jalan Kebenaran dan Hidup


Yesus Jalan Kebenaran dan Hidup
Lirik dan Lagu : Pdt.Dr.Ir.Niko Njotorahardjo

Yesus jalan kebenaran dan hidup
Yesus Tuhan Allahku
Tak seorangpun datang kepada Tuhan
hanya melalui Dia

Yesus naik ke Surga sediakan tempat  bagi kita
Dia segera datang  menjemput umatnya dalam
Kemuliaan-Nya

Haleluya, Amin
Haleluya, Amin
Haleluya, Amin
Haleluya, Amin

Monday, August 23, 2010

Pulihkan Aku Tuhan

Pulihkan Aku Tuhan


Lagu dan Lirik : Pdt. Dr. Erastus Sabdono


Pulihkan aku Tuhan dalam sisa hidupku ini
Segarkan jiwaku s'lalu oleh kuasa firman dan roh-Mu
Ubah hatiku Tuhan untuk lebih mengasihi-Mu
Mengutamakan Kau Yesus Lebih dari dunia ini


Prechorus:
Yang kuingini Engkau saja,
tinggal dalam kehendak rencana-Mu
Pisahkan diriku dari dunia ini,
semakin kudamba kerajaan-Mu


Chorus:
Oh Tuhan Yesus, kerinduan hatiku
Mutiara tak ternilai, harta milik-Mu
Keindahan-Mu memudarkan dunia
Di mataku Engkau termulia

Memuji Tuhan dalam Keteduhan


Memuji Tuhan dalam Keteduhan

Baca: Kejadian 41:38–45
Alkitab dalam setahun: 1 Yohanes 1–5

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono (diambil dari Renungan Truth)
Saat penulis masih muda, sebagai seorang hamba Tuhan, sering kali penulis membandingkan diri dengan hamba Tuhan lainnya. Dan saya mendapati diri saya masih memiliki temperamen yang buruk, tidak mau mengalah, sombong, menuntut penghargaan dan lain sebagainya. Tetapi semua keadaan pribadi saya yang buruk bisa saya sembunyikan di balik kecerdasan yang saya miliki. Di depan orang, saya tampil sedemikian rupa, hingga tampak pribadi seorang hamba Tuhan yang rendah hati, mau mengalah, dan dapat menerima semua perlakuan. Namun lain di bibir, lain di hati. Bapa di Surga yang Mahatahu mengetahui keadaan saya yang sebenarnya.
Seiring perjalanan hidup saya, dalam banyak perkara yang terjadi dalam hidup saya, saya melihat dan merasakan tangan pertolongan Tuhan yang selalu menjaga saya. Tangan Sang Penjunan, tangan Sang Majikan Agung yang melatih saya dewasa melalui segala peristiwa yang terjadi. Melalui pendewasaan itu saya bisa menerima semua pengalaman yang tidak menyenangkan, dan memperbaiki diri serta tidak membanding-bandingkan diri lagi dengan orang lain.
Untuk menjadi seorang Zafnat-Paaneah—kuasa atas tanah Mesir dan wakil Firaun—Yusuf harus melalui sumur yang dalam dahulu, harus dijual dan difitnah, bahkan dipenjara. Tetapi pada akhirnya ia bisa menjadi sosok hebat penyelamat Kanaan, keluarganya, bahkan Mesir. Di situlah Yusuf bisa berkata, “Ajaiblah Engkau Tuhan, ajaib kebijaksanaan-Mu, ajaib kecerdasan-Mu”.
Suatu hari kelak, saat semua pengetahuan menjadi sempurna, di langit baru dan bumi baru, kita akan melihat cemerlangnya berlian hidup kita. Cemerlangnya permata Tuhan dalam hidup kita melalui proses yang dahsyat tersebut. Oleh sebab itu, janganlah kita memuji Tuhan hanya dengan irama musik, dengan sorak-sorai dan tarian, tetapi hendaklah kita juga memuji-Nya dengan keteduhan hati dan dengan ucapan syukur yang tulus dan mendalam.
Ironisnya, banyak orang yang menganggap bahwa pujian syukur selalu harus diekspresikan dengan sorak-sorai, tarian dan bahkan melompat-lompat. Padahal kita bisa memuji Tuhan dalam keteduhan, dalam suasana tenang tanpa hiruk pikuk alat musik sekalipun. Dengan tetesan air mata yang tak tampak di hadapan orang lain, marilah kita belajar kebenaran firman Tuhan yang menangkap hal-hal luar biasa yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita, sehingga kita bisa menerima proses pendewasaan-Nya dan memuji Tuhan karenanya.

Memuji Tuhan dengan keteduhan hati penting
untuk memahami hal-hal yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita.

Monday, August 16, 2010

Doa Bapa Kami


Doa Bapa Kami dalam bahasa Indonesia :

Bapa kami yang ada di surga,
Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu
di bumi seperti di sorga
Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan
dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya
Amin


 

Doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris :
 

Our Father in heaven,
Hallowed be your name,
Your kingdom come,
Your will be done,
On earth as in heaven.
Give us today our daily bread.
Forgive us our sins as we forgive those who sin against us.
Save us from the time of trial,
And deliver us from evil.
For the kingdom, the power, and the glory are yours,
Now and forever. Amen.]

Doa Bapa Kami bahasa Mandarin

我們在天上的父,
願人都尊祢的名為聖,
願祢的國降臨,
願祢的旨意行在地上,如同行在天上。
我們日用的飲食,今日賜給我們,
免我們的債,如同我們免了人的債,
不叫我們遇見試探,
救我們脫離兇惡,
[因為國度、權柄、榮耀,全是祢的,
直到永遠。阿們! ]





Doa Bapa kami dalam bahasa Arab

أبانا الذي في السماء ،
يكون اسم خاصتك مقدس ،
ليأت ملكوتك ،
لتكن مشيئتك
على الارض كما في السماء
يعطينا هذا اليوم
لدينا الخبز اليومي
وسوف يغفر لنا ذنوبنا ،
كما نغفر نحن أيضا الذين ظلموا منا ؛
وتؤدي بنا الا الى اغراء ،
لكن نجنا من الشرير
لأن انت صاحب الامبراطورية
والقوة والمجد إلى أبد الآبدين
آمين



Doa Bapa kami dalam bahasa Belanda :

Onze Vader, Die in de hemelen zijt,
Uw naam worde geheiligd,
Uw koninkrijk kome,
Uw wil geschiede
op aarde als in de hemel
Geef ons deze dag
ons dagelijks brood
en vergeef ons onze zonden,
zoals wij ook vergeven hen die ons pijn gedaan;
En leid ons niet in verzoeking,
maar verlos ons van het kwade
Omdat gij eigenaar van het Rijk
en macht en heerlijkheid in alle eeuwigheid
amen


Doa Bapa Kami dalam bahasa Jerman :

Unser Vater im Himmel,
Dein Name werde geheiligt,
Dein Reich komme,
Dein Wille geschehe
auf Erden wie im Himmel
Gib uns heute
Unser tägliches Brot
und vergib uns unsere Schuld,
wie auch wir vergeben auch diejenigen, die uns Unrecht getan;
Und führe uns nicht in Versuchung,
sondern erlöse uns von dem Bösen
Weil du Besitzer des Reiches
und Macht und Herrlichkeit für immer und ewig
amen


Doa Bapa Kami dalam bahasa Perancis :
Notre Père qui es aux cieux,
Ton nom soit sanctifié,
Que ton règne vienne,
Ta volonté soit faite
sur la terre comme au ciel
Donne-nous aujourd'hui
notre pain quotidien
pour nous pardonner nos fautes,
comme nous aussi nous pardonnons à ceux qui nous ont fait du tort;
Et ne nous induis pas en tentation,
mais délivre-nous du mal
Parce que tu propriétaire de l'Empire
et de la puissance et la gloire aux siècles des siècles
amen


Doa Bapa Kami dalam Bahasa Jepang :

天国誰がアート私たちの父
神聖になたの名前です
なたの王国来る
なたが行われる
地球上で天国のように
この日の私達与える
私たちの毎日のパン
そして私達に私達の欠点をゆるして下さるであろう
我々はまた、私たちを不当な扱いを受けた人々を赦すように;
そして私たちを誘惑しないつながる
しかし、我々からの悪届け
帝国ためになたの所有者
永遠栄光
アーメン


Doa Bapa Kami dalam Bahasa Latin :

Pater noster, qui es in caelis
Sanctificetur nomen tuum,
Adveniat regnum tuum,
Fiat voluntas tua
sicut in caelo et in terra
Da nobis hodie
Panem nostrum quotidianum
et dimitte nobis peccata nostra,
qui nos laeserunt, sicut et nos dimittimus;
Et ne nos inducas in tentationem;
sed líbera nos a malo
Quia, ut imperii sui
et potestas et gloria in saecula saeculorum
Amen


Doa Bapa Kami dalam Bahasa Yunani :

Πάτερ ημών ο οποίος τέχνη στον ουρανό,
Αγιασθήτω το όνομά σου,
Ελθέτω η βασιλεία σου,
Σου θα γίνει
στη γη όπως στον ουρανό
Δώστε μας σήμερα
καθημερινό ψωμί μας
και θα μας συγχωρήσει λάθη μας,
όπως εμείς συγχωρούμε και αυτούς που μας αδικηθεί?
Και να μας οδηγήσει όχι σε πειρασμό,
αλλά ρύσαι ημάς από του πονηρού
Επειδή εσύ ιδιοκτήτης της αυτοκρατορίας
και η δύναμη και η δόξα στους αιώνες των αιώνων
αμήν




Thursday, August 5, 2010

Menerima-Nya



Oleh : Pdt. DR. Erastus Sabdono.
Diambil dari : Renungan harian Truth
 



Baca: Yohanes 1:11–12
Alkitab dalam setahun: Amsal 10–12
Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya (ay. 12). Kata “menerima” di dalam teks ini, aslinya ditulis λαβον (élabon) dari akar kata λαμβάνω (lambanō) yang selain berarti “menerima”, juga berarti “menggenggam”, “mencengkeram”. Kata ini bisa menimbulkan berbagai panafsiran, tetapi biasanya orang berpikir bahwa kalau mulutnya sudah mengaku Yesus adalah Tuhan dan hatinya merasa percaya berarti ia sudah menerima-Nya, dan dirinya sudah selamat. Pertanyaan yang patut dilontarkan adalah, apakah Tuhan Yesus sudah merasa dan mengakui bahwa kita telah menerima-Nya? Ingat, banyak orang merasa sudah mengenal Tuhan Yesus dan merasa pasti diterima oleh-Nya, namun ternyata ditolak (Mat. 7:21–23).
Hendaknya kita tidak menganggap remeh arti kata “menerima” ini. Apakah tatkala mempelai wanita berkata kepada mempelai pria, “Aku menerima engkau sebagai suamiku,” berarti ia telah menerima suaminya? Mana bisa janji nikah sepanjang lima detik menjadi ukuran penerimaannya! Tahun-tahun panjang dalam kehidupannya bersama dengan suaminyalah yang kemudian akan membuktikan apakah wanita itu menerima pria tersebut sebagai suaminya secara benar. Demikian pulalah saat seseorang menyatakan dirinya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam suatu kebaktian kebangunan rohani atau pelayanan pribadi, sama sekali belum berarti ia telah menerima Tuhan Yesus dengan benar.
Yoh. 1:12 tidak mencantumkan menerima-Nya sebagai sesuatu. Hanya tertulis “menerima-Nya”, titik. Berarti untuk sungguh-sungguh menerima-Nya, kita harus mengenal secara lengkap dan utuh seluruh keberadaan-Nya yang tertulis di dalam Injil. Maka untuk dapat mengenal Tuhan dan menerima-Nya, dibutuhkan kerja keras dan waktu panjang. Lambanō—mencengkeram—harus merupakan proses berkesinambungan. Jadi kalau hari ini kita merasa telah menerima Tuhan Yesus lalu berhenti belajar, itu salah, sebab sudahkah kita mengenal-Nya secara lengkap dan utuh? Kalau belum, sesungguhnya kita belum menerima-Nya dengan benar.
Memang untuk mengenal Tuhan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hari ini Yesus masih memberi kesempatan kepada kita untuk mengenal-Nya. Kalau kita menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan-Nya untuk bertumbuh dalam pengenalan dan penerimaan kita terhadap-Nya, sesungguhnya Ia tidak menganggap kita telah menerima-Nya. Marilah berjuang terus-menerus untuk mengenal Tuhan Yesus lebih dalam lagi, sehingga Ia mengakui kita telah menerima-Nya.
Untuk sungguh-sungguh menerima Yesus,
kita harus mengenal-Nya secara lengkap dan utuh.

Tuesday, August 3, 2010

Melakukan Kehendak Bapa

Melakukan Kehendak Bapa

Oleh : Pdt. DR. Erastus Sabdono.
Diambil dari : Renungan Harian Truth
Email: info@truth-media.com



Baca: Yakobus 2:14–26
Alkitab dalam setahun: Amsal 4–6
Mengapa orang yang sudah berprestasi dalam pelayanan dengan mengusir setan dan melakukan mukjizat demi nama Yesus masih tidak dikenal oleh-Nya? Bukankah ini bertentangan dengan konsep yang diterima oleh banyak orang Kristen hari ini, bahwa dengan mengaku Yesus adalah Tuhan, mereka sudah menjadi umat-Nya? Mereka mengatakan bahwa keyakinan akan keselamatan juga semakin kuat tatkala membandingkan diri mereka dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus, apalagi bila membandingkan dengan mereka yang menghina nama Yesus. Orang-orang Kristen ini merasa sudah istimewa di mata Tuhan. Akhirnya mereka merasa puas dengan hidup Kekristenan yang telah mereka capai tanpa menyadari bahaya yang membayang di balik kepuasan itu.
Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan tidak sekadar pengakuan di bibir, tetapi harus bersumber dari kepercayaan dalam hati (Rm. 10:9–10). Mungkin kita berpikir, kalau orang bisa mengaku, pastilah itu berasal dari hatinya yang percaya. Tetapi tidak demikian, karena orang-orang yang dienyahkan oleh Tuhan (Mat. 7:23) pasti juga merasa dirinya percaya kepada Tuhan. Tetapi ternyata Tuhan Yesus tidak percaya bahwa mereka percaya kepada-Nya. Kepercayaan mereka ternyata tidak menyelamatkan mereka.
Kepercayaan yang benar dalam hati pasti terwujud dalam tindakan, sebab iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh, dan pada hakikatnya adalah mati (ay. 17, 26). Jadi iman harus disertai dengan tindakan atas pengakuan kita bahwa Yesus adalah Tuhan. Setan-setan pun percaya bahwa Yesus adalah Tuhan (ay. 19), tetapi percaya seperti itu bukan iman yang menyelamatkan. Iman yang menyelamatkan berarti tidak saja kita dapat memanggil Yesus sebagai Tuhan, tetapi juga melakukan kehendak Bapa. Melakukan kehendak Bapa sama dengan hidup dalam otoritas Tuhan Yesus, sebab Ia menyampaikan apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukan oleh umat-Nya, sehingga kita harus mendengarkan-Nya (Mat. 17:5).
Marilah kita renungkan, sejauh mana kita telah hidup dalam otoritas Tuhan? Sedalam apa kita telah belajar mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya? Orang yang sungguh-sungguh berniat menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan memperlakukan-Nya dengan proporsional sebagai Majikan Agung akan senantiasa berusaha mencari kehendak-Nya dan melakukannya. Jangan jemu-jemu mempelajari Firman-Nya, supaya kehendak-Nya nyata untuk kita lakukan dan pada saatnya nanti, Ia menerima kita sebagai hamba-Nya yang setia.
Orang yang percaya Yesus sebagai Tuhan akan
senantiasa berusaha melakukan kehendak Allah.

Sunday, July 25, 2010

Alkitab Harus Menjadi Primadona


Penulis : Pdt.DR. Erastus Sabdono. (Truth Daily)

Baca: 2 Timotius 3:1–9
Alkitab dalam setahun: 2 Samuel 8–12

Kehidupan iman orang percaya menghadapi tantangan yang semakin berat pada abad ini. Tantangan itu adalah kehidupan dunia yang semakin fasik, filosofi yang memancarkan spirit tidak takut Tuhan dan tidak memedulikan hukum-Nya. Filosofi itu antara lain materialisme (materi sebagai nilai tertinggi kehidupan), humanisme (menganggap manusia lebih penting daripada segalanya), antroposentrisme (kehidupan yang berpusat kepada diri sendiri), serta berbagai pemikiran modern lainnya yang menggiring orang Kristen semakin jauh dari pola berpikir yang Alkitabiah.
Dunia seperti ini telah menenggelamkan kehidupan iman banyak orang percaya. Banyak perilaku pasangan hidup yang merusak hakikat perkawinan, sehingga angka perceraian dan ketidaksetiaan semakin meningkat tajam. Kondisi ini membuat keluarga-keluarga Kristen tidak memberi perhatian kepada pendidikan rohani. Nilai-nilai spiritual menjadi terabaikan. Jikalau nilai-nilai spiritual tidak dihargai lagi maka praktik hidup yang tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan mewarnai kehidupan.
Tidak bisa dibantah, dewasa ini banyak orang lebih tertarik kepada layar lebar, tayangan olah raga, sinetron, gaya hidup konsumtif, chatting, hiburan di Internet dan sebagainya, daripada memburu pengenalan akan Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. Orang yang giat menggali kebenaran Firman Tuhan dianggap aneh, ekstrem, kuno, korban indoktrinasi dan sebagainya. Ini terjadi sebab banyak orang Kristen akhir-akhir ini tidak memperlakukan Firman Tuhan secara proporsional. Mereka tidak mengasihi Tuhan, terbukti dengan tidak mengasihi Firman-Nya.
Jadi sekalipun kita anggota jemaat biasa, kita tidak boleh mengabaikan pelajaran Alkitab. Alkitab harus menjadi primadona bacaan bagi kita. Dengan pemahaman mengenai kebenaran Tuhan yang mendalam, kita akan senantiasa waspada sehingga tidak akan menjadi mangsa empuk bagi para pengajar palsu yang sebenarnya sedang menipu jemaat dengan mengatasnamakan “Firman Tuhan” atau “suara Tuhan”. Sebagai orang Kristen, kita harus terus mempelajari kebenaran yang murni dan bertumbuh dewasa di dalam Tuhan. Intelektualitas bukan hanya dikembangkan dalam ilmu-ilmu sekuler, tetapi juga dalam kerohanian kita. Belajar Firman Tuhan harus dilakukan terus-menerus sampai kita menutup mata. Untuk itu kita tidak boleh berpuas diri dengan pemahaman kita saat ini, tetapi kita harus berkembang terus dalam kebenaran.

Jadikan Alkitab primadona bacaan bagi kita agar kita menjadi cerdas.

Friday, July 16, 2010

Pemahaman Yang Benar Mengenai Akhir Zaman


Dapatkan majalah TRUTH Edisi 19, yang mengangkat topik utama mengenai akhir zaman. TRUTH ingin meluruskan pemahaman mengenai akhir zaman yang saat ini sering disalahartikan oleh banyak pihak. Apakah akan ada pengangkatan sebelum Tuhan Yesus datang? Siapakah Antikristus itu? Membedah pula nubuat di Matius 24 dan Yoel 2, serta mengungkap fakta-fakta mengenai akhir zaman, kita akan diajak untuk menyikapi kedatangan Tuhan yang kedua dengan sebagaimana mestinya diajarkan oleh Alkitab.
Untuk informasi lebih lanjut hubungi Rehobot Literature di 021-56954546 ext. 30, 021-68707000, 08 7878 70 7000. Email: info@truth-media.com

Walau Tidak Meminta


Walau Tidak Meminta

Bacaan hari ini: Markus 8:1-13
Ayat mas hari ini:
Markus 8:2
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 3,4; Kisah Para Rasul 7:44-60


Belum lagi dipakai tiga bulan, sepeda motor Danang sudah hilang ketika di parkir dekat gereja. Ia kecewa sekali. Ia terus berdoa agar Tuhan mengembalikan motor itu, tetapi hasilnya nihil. Berbulan-bulan ia merasa sedih karena harus naik kendaraan umum lagi. Suatu hari ia berpikir, “Dulu sebelum memiliki motor, aku bahagia ketika naik bus atau mikrolet. Mengapa sekarang tidak?” Danang lalu belajar merasa cukup dengan apa yang ada. Setahun kemudian ia besaksi, “Kini aku bahagia lagi naik kendaraan umum. Kini prinsipku: Jika Tuhan tidak mengembalikan motorku, itu berarti aku tidak membutuhkannya!”
Tuhan Yesus memberi apa yang benar-benar kita butuhkan. Ketika melihat sejumlah besar orang kelaparan karena sudah tiga hari mengikuti-Nya, Yesus tahu bahwa mereka sangat perlu makanan. Tanpa makan, banyak yang akan jatuh pingsan. Maka, walaupun mereka tidak meminta, Yesus berinisiatif memberi mereka makan roti dan ikan dengan cara ajaib. Dia tidak akan tinggal diam saat kita berhadapan dengan sebuah kebutuhan mendesak. Sebaliknya, ketika orang Farisi meminta tanda, Yesus tidak memberikannya. Mengapa? Karena Yesus tahu bukan itu yang mereka butuhkan. Yang mereka butuhkan adalah iman, bukan tanda.
Betapa sering kita bersungut-sungut ketika Tuhan tidak memberi apa yang kita minta. Kecewa saat melihat kenyataan berbeda dengan yang kita doakan dan harapkan. Kini saatnya kita belajar menjadi dewasa. Katakan pada diri sendiri: “Jika Tuhan tidak memberikan sesuatu, itu berarti aku tidak membutuhkannya. Aku bisa hidup bahagia tanpa itu!”
Tuhan memberi apa yang kita butuhkan
bukan apa yang kita inginkan

Modal Utama

Modal Utama

Bacaan hari ini: Wahyu 3:7-13
Ayat mas hari ini: Wahyu 3:10
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 18,19; Kisah Para Rasul 20:17-38


Pdt. Eka Darmaputera dalam salah satu khotbahnya mengatakan, “Modal utama kita sebagai murid Kristus bukan terletak pada jumlah atau pun kekuasaan, melainkan pada ketaatan kita kepada Tuhan. Tidak ada artinya kita memiliki kekuatan secara lahiriah, apabila itu kita raih dengan mengorbankan prinsip-prinsip iman kita.”
Pesan ini sejajar dengan pesan dalam surat kepada Jemaat di Filadelfia. Filadelfia adalah kota termuda di antara ketujuh kota yang disebut dalam kitab Wahyu. Dibangun oleh Raja Attalus II sekitar tahun 150 sebelum Kristus. Konon Attalus membangun kota itu untuk menyatakan rasa cintanya yang begitu besar kepada Eumenes, saudara laki-lakinya. Karenanya diberi nama Filadelfia, yang berasal dari kata Yunani philadelphos, artinya: orang yang mengasihi saudara laki-lakinya.
Secara kuantitas, Jemaat Filadelfia bukanlah jemaat yang besar dan kuat. Akan tetapi, mereka taat kepada Tuhan. “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa,” demikian firman Tuhan. “Namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku” (ayat 8). Karena itu, Tuhan pun akan melindungi mereka dari pencobaan yang akan datang menimpa dunia (ayat 10).
Gereja yang berfokus pada upaya menambah jumlah pengikut, memperkuat pengaruh sosial, ekonomi, dan politik, pasti akan kecewa. Itu dasar yang rapuh. Upaya gereja harus mulai dari ketaatan kepada Tuhan. Begitu juga dalam hidup pribadi. Kekuatan kita sebagai pengikut Kristus bukan terletak pada materi, jabatan, atau kekuasaan, melainkan pada ketaatan kepada Tuhan. Fokus hidup kita haruslah tertuju pada bagaimana kita tetap taat kepada Tuhan.

Kita tidak dipanggil untuk menjadi kaya atau berhasil
kita dipanggil untuk taat—Ibu Teresa


Penulis: Ayub Yahya

Thursday, June 24, 2010

Salah Melihat


Salah Melihat

Bacaan hari ini: Matius 7:1-5
Ayat mas hari ini: Matius 7:3
Bacaan Alkitab Setahun: Ester 3-5; Kisah Para Rasul 5:22-42



Sir Percival Lowell adalah astronom ternama pada akhir abad ke-19. Ketika melihat planet Mars dari teleskop raksasa di Arizona, ia melihat ada garis-garis di planet itu. Menurutnya, itu adalah kanal-kanal buatan makhluk planet Mars. Lowell mengabdikan seluruh hidupnya untuk memetakan garis-garis itu. Namun, foto satelit kini membuktikan tidak ada kanal di Mars. Lantas apa yang dilihat Lowell? Ternyata ia melihat pembuluh-pembuluh darah di matanya sendiri saat melihat teleskop! Ia menderita penyakit langka yang kini disebut “Sindrom Lowell”.
Sama seperti Lowell, kita pun bisa salah memandang orang lain. Sifat-sifat buruk orang lain tampak begitu besar dan nyata, sehingga kita terdorong untuk menegur dan menghakiminya. Padahal tanpa sadar kita pun punya sifat buruk itu, bahkan mungkin lebih parah! Ini ibarat orang yang mau mengeluarkan serpihan kayu dari mata orang lain, padahal ada balok di matanya sendiri. Sebuah perbuatan munafik yang tidak akan berhasil. Seseorang harus menyadari dulu sifat-sifat buruknya sendiri, lalu berusaha mengatasinya. “Balok di matanya” harus dikeluarkan, sebelum bisa menegur orang dengan penuh wibawa.
Sikap suka menghakimi kerap muncul dalam keluarga. Bisa terjadi dalam hubungan antara orangtua dan anak, atau suami dan istri. Kedekatan membuat kita sangat mengenal cacat cela orang-orang yang kita kasihi. Akibatnya, kita menjadi sangat mudah menemukan kesalahan mereka. Ini yang harus kita waspadai. Lain kali, sebelum menuduh dan mencaci-maki, periksalah diri sendiri dulu. Belum tentu kita lebih baik dari mereka. Jadi, lebih baik saling menasihati daripada saling menghakimi.

Dengan menghakimi kita merasa diri hebat
Dengan saling menasihati kita akan merasa diri sederajat

Penulis: Juswantori Ichwan

Kena Batunya

Kena Batunya

Bacaan hari ini: 2 Samuel 9
Ayat mas hari ini: 2 Samuel 5:8
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 1,2; Kisah Para Rasul 7:22-43


Pengalaman buruk tertentu bisa membuat orang sentimen setengah mati kepada sesuatu atau seseorang. Sebagai contoh, karena pernah ditipu orang dari suku tertentu, seseorang menjadi benci pada semua orang dari suku itu; gusar pada segala hal yang berbau suku tersebut. Padahal itu penyamarataan yang keliru.
Dulu, ketika hendak menyerang Yerusalem, Daud pernah dihina orang Yebus, penduduk Yerusalem. Mereka menyebutnya pecundang; yang akan dikalahkan orang-orang buta dan timpang. Daud pun merasa harga dirinya diinjak-injak. Dan sejak itu, ia menjadi benci pada orang-orang timpang dan buta (2 Samuel 5:8). Namun, di kemudian hari Tuhan mengizinkan sesuatu yang aneh terjadi. Ketika ia bertekad memenuhi janji kepada sahabatnya Yonatan yang telah meninggal, yaitu menunjukkan kasih kepada keturunannya, dibawalah kepadanya anak Yonatan yang bernama Mefiboset—yang timpang kakinya! Demi membuktikan tekadnya untuk mengasihi, setiap hari Daud makan semeja dengannya. Lantas kita katakan: Daud kena batunya.
Perasaan sentimen bisa jadi cukup akrab dengan kita. Padahal perasaan itu menghalangi kita untuk bersikap adil dan mengasihi. Sentimen membuat kita cenderung menyamaratakan; pukul rata saja. Akibatnya, mungkin ada pihak tak bersalah yang jadi sasaran. Belum lagi jika perasaan sentimen itu kita tularkan pada orang-orang di sekeliling kita. Semua jadi ikut curiga, takut, dan tendensius akibat sebuah sentimen pribadi.
Mari bersikap lebih jujur dan adil dengan belajar mengatasi sentimen pribadi. Tak perlu menunggu sampai Tuhan mengizinkan pengalaman serupa Daud terjadi pada kita, bukan?

KASIH KERAP KALI PERLU DITUNJUKKAN DENGAN BUKTI
KHUSUSNYA PADA ORANG YANG KITA KECUALIKAN UNTUK DIKASIHI

Penulis: Pipi Agus Dhali

Monday, May 31, 2010

Eling


Eling

Bacaan hari ini: Ulangan 26:1-11
Ayat mas hari ini: Yosua 1:13
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 15-16; Yohanes 12:27-50


”Agama: eks kristen.” Saya kaget membaca informasi ini di akun Facebook mantan teman sekolah saya. Dulu ia termasuk rajin ke gereja. Tidak jelas apa yang terjadi atas dirinya dalam dua puluh tahun terakhir. Yang jelas kini ia telah menjadi orang berada. Memimpin perusahaan ternama. Kerja kerasnya mengumpulkan harta rupanya tidak dipandang sebagai berkat Tuhan, melainkan hasil usaha sendiri. Sayang! Ia kehilangan sikap eling. Sikap ingat asal-usul, sadar bahwa kita bisa menjadi seperti sekarang—selamat, sukses, sehat—karena campur tangan Tuhan.
Orang Israel punya cara unik untuk menjaga sikap eling. Setiap kali panen tiba, tiap keluarga harus menyisihkan hasil panen mereka untuk dipersembahkan. Sebelum diberikan, sang ayah harus memberi kesaksian tentang kebaikan Tuhan pada masa lalu, di depan imam dan keluarganya. Ia menceritakan bagaimana Tuhan telah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, menuntun di sepanjang jalan sampai tiba di Tanah Perjanjian. Ia harus menyatakan bahwa hasil panen yang ada di tangannya adalah bukti pemeliharaan Tuhan. Lalu persembahan diberikan dan semuanya sujud di hadapan Tuhan. Ritual ini menolong mereka untuk terus mengakui penyertaan Tuhan. Eling. Tidak takabur.
Supaya kita selalu eling, sering-seringlah bersaksi tentang kebaikan Tuhan. Anda baru sembuh dari sakit? Mendapat berkat? Mengalami pertolongan Tuhan? Jangan diam saja. Saksikan pada keluarga dan rekan. Katakan bahwa semua itu Anda alami karena kebaikan Tuhan. Niscaya Anda akan selalu eling. Dan, tidak pernah menjadi “eks kristen”.

TUHAN MEMBERI ANDA HIDUP SELAMA 86.400 DETIK HARI INI
BERAPA YANG ANDA GUNAKAN UNTUK MENGINGAT KEBAIKAN-NYA?

Penulis: Juswantori Ichwan