Monday, August 16, 2010

Doa Bapa Kami


Doa Bapa Kami dalam bahasa Indonesia :

Bapa kami yang ada di surga,
Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu
di bumi seperti di sorga
Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan
dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya
Amin


 

Doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris :
 

Our Father in heaven,
Hallowed be your name,
Your kingdom come,
Your will be done,
On earth as in heaven.
Give us today our daily bread.
Forgive us our sins as we forgive those who sin against us.
Save us from the time of trial,
And deliver us from evil.
For the kingdom, the power, and the glory are yours,
Now and forever. Amen.]

Doa Bapa Kami bahasa Mandarin

我們在天上的父,
願人都尊祢的名為聖,
願祢的國降臨,
願祢的旨意行在地上,如同行在天上。
我們日用的飲食,今日賜給我們,
免我們的債,如同我們免了人的債,
不叫我們遇見試探,
救我們脫離兇惡,
[因為國度、權柄、榮耀,全是祢的,
直到永遠。阿們! ]





Doa Bapa kami dalam bahasa Arab

أبانا الذي في السماء ،
يكون اسم خاصتك مقدس ،
ليأت ملكوتك ،
لتكن مشيئتك
على الارض كما في السماء
يعطينا هذا اليوم
لدينا الخبز اليومي
وسوف يغفر لنا ذنوبنا ،
كما نغفر نحن أيضا الذين ظلموا منا ؛
وتؤدي بنا الا الى اغراء ،
لكن نجنا من الشرير
لأن انت صاحب الامبراطورية
والقوة والمجد إلى أبد الآبدين
آمين



Doa Bapa kami dalam bahasa Belanda :

Onze Vader, Die in de hemelen zijt,
Uw naam worde geheiligd,
Uw koninkrijk kome,
Uw wil geschiede
op aarde als in de hemel
Geef ons deze dag
ons dagelijks brood
en vergeef ons onze zonden,
zoals wij ook vergeven hen die ons pijn gedaan;
En leid ons niet in verzoeking,
maar verlos ons van het kwade
Omdat gij eigenaar van het Rijk
en macht en heerlijkheid in alle eeuwigheid
amen


Doa Bapa Kami dalam bahasa Jerman :

Unser Vater im Himmel,
Dein Name werde geheiligt,
Dein Reich komme,
Dein Wille geschehe
auf Erden wie im Himmel
Gib uns heute
Unser tägliches Brot
und vergib uns unsere Schuld,
wie auch wir vergeben auch diejenigen, die uns Unrecht getan;
Und führe uns nicht in Versuchung,
sondern erlöse uns von dem Bösen
Weil du Besitzer des Reiches
und Macht und Herrlichkeit für immer und ewig
amen


Doa Bapa Kami dalam bahasa Perancis :
Notre Père qui es aux cieux,
Ton nom soit sanctifié,
Que ton règne vienne,
Ta volonté soit faite
sur la terre comme au ciel
Donne-nous aujourd'hui
notre pain quotidien
pour nous pardonner nos fautes,
comme nous aussi nous pardonnons à ceux qui nous ont fait du tort;
Et ne nous induis pas en tentation,
mais délivre-nous du mal
Parce que tu propriétaire de l'Empire
et de la puissance et la gloire aux siècles des siècles
amen


Doa Bapa Kami dalam Bahasa Jepang :

天国誰がアート私たちの父
神聖になたの名前です
なたの王国来る
なたが行われる
地球上で天国のように
この日の私達与える
私たちの毎日のパン
そして私達に私達の欠点をゆるして下さるであろう
我々はまた、私たちを不当な扱いを受けた人々を赦すように;
そして私たちを誘惑しないつながる
しかし、我々からの悪届け
帝国ためになたの所有者
永遠栄光
アーメン


Doa Bapa Kami dalam Bahasa Latin :

Pater noster, qui es in caelis
Sanctificetur nomen tuum,
Adveniat regnum tuum,
Fiat voluntas tua
sicut in caelo et in terra
Da nobis hodie
Panem nostrum quotidianum
et dimitte nobis peccata nostra,
qui nos laeserunt, sicut et nos dimittimus;
Et ne nos inducas in tentationem;
sed líbera nos a malo
Quia, ut imperii sui
et potestas et gloria in saecula saeculorum
Amen


Doa Bapa Kami dalam Bahasa Yunani :

Πάτερ ημών ο οποίος τέχνη στον ουρανό,
Αγιασθήτω το όνομά σου,
Ελθέτω η βασιλεία σου,
Σου θα γίνει
στη γη όπως στον ουρανό
Δώστε μας σήμερα
καθημερινό ψωμί μας
και θα μας συγχωρήσει λάθη μας,
όπως εμείς συγχωρούμε και αυτούς που μας αδικηθεί?
Και να μας οδηγήσει όχι σε πειρασμό,
αλλά ρύσαι ημάς από του πονηρού
Επειδή εσύ ιδιοκτήτης της αυτοκρατορίας
και η δύναμη και η δόξα στους αιώνες των αιώνων
αμήν




Thursday, August 5, 2010

Menerima-Nya



Oleh : Pdt. DR. Erastus Sabdono.
Diambil dari : Renungan harian Truth
 



Baca: Yohanes 1:11–12
Alkitab dalam setahun: Amsal 10–12
Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya (ay. 12). Kata “menerima” di dalam teks ini, aslinya ditulis λαβον (élabon) dari akar kata λαμβάνω (lambanō) yang selain berarti “menerima”, juga berarti “menggenggam”, “mencengkeram”. Kata ini bisa menimbulkan berbagai panafsiran, tetapi biasanya orang berpikir bahwa kalau mulutnya sudah mengaku Yesus adalah Tuhan dan hatinya merasa percaya berarti ia sudah menerima-Nya, dan dirinya sudah selamat. Pertanyaan yang patut dilontarkan adalah, apakah Tuhan Yesus sudah merasa dan mengakui bahwa kita telah menerima-Nya? Ingat, banyak orang merasa sudah mengenal Tuhan Yesus dan merasa pasti diterima oleh-Nya, namun ternyata ditolak (Mat. 7:21–23).
Hendaknya kita tidak menganggap remeh arti kata “menerima” ini. Apakah tatkala mempelai wanita berkata kepada mempelai pria, “Aku menerima engkau sebagai suamiku,” berarti ia telah menerima suaminya? Mana bisa janji nikah sepanjang lima detik menjadi ukuran penerimaannya! Tahun-tahun panjang dalam kehidupannya bersama dengan suaminyalah yang kemudian akan membuktikan apakah wanita itu menerima pria tersebut sebagai suaminya secara benar. Demikian pulalah saat seseorang menyatakan dirinya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam suatu kebaktian kebangunan rohani atau pelayanan pribadi, sama sekali belum berarti ia telah menerima Tuhan Yesus dengan benar.
Yoh. 1:12 tidak mencantumkan menerima-Nya sebagai sesuatu. Hanya tertulis “menerima-Nya”, titik. Berarti untuk sungguh-sungguh menerima-Nya, kita harus mengenal secara lengkap dan utuh seluruh keberadaan-Nya yang tertulis di dalam Injil. Maka untuk dapat mengenal Tuhan dan menerima-Nya, dibutuhkan kerja keras dan waktu panjang. Lambanō—mencengkeram—harus merupakan proses berkesinambungan. Jadi kalau hari ini kita merasa telah menerima Tuhan Yesus lalu berhenti belajar, itu salah, sebab sudahkah kita mengenal-Nya secara lengkap dan utuh? Kalau belum, sesungguhnya kita belum menerima-Nya dengan benar.
Memang untuk mengenal Tuhan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hari ini Yesus masih memberi kesempatan kepada kita untuk mengenal-Nya. Kalau kita menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan-Nya untuk bertumbuh dalam pengenalan dan penerimaan kita terhadap-Nya, sesungguhnya Ia tidak menganggap kita telah menerima-Nya. Marilah berjuang terus-menerus untuk mengenal Tuhan Yesus lebih dalam lagi, sehingga Ia mengakui kita telah menerima-Nya.
Untuk sungguh-sungguh menerima Yesus,
kita harus mengenal-Nya secara lengkap dan utuh.

Tuesday, August 3, 2010

Melakukan Kehendak Bapa

Melakukan Kehendak Bapa

Oleh : Pdt. DR. Erastus Sabdono.
Diambil dari : Renungan Harian Truth
Email: info@truth-media.com



Baca: Yakobus 2:14–26
Alkitab dalam setahun: Amsal 4–6
Mengapa orang yang sudah berprestasi dalam pelayanan dengan mengusir setan dan melakukan mukjizat demi nama Yesus masih tidak dikenal oleh-Nya? Bukankah ini bertentangan dengan konsep yang diterima oleh banyak orang Kristen hari ini, bahwa dengan mengaku Yesus adalah Tuhan, mereka sudah menjadi umat-Nya? Mereka mengatakan bahwa keyakinan akan keselamatan juga semakin kuat tatkala membandingkan diri mereka dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus, apalagi bila membandingkan dengan mereka yang menghina nama Yesus. Orang-orang Kristen ini merasa sudah istimewa di mata Tuhan. Akhirnya mereka merasa puas dengan hidup Kekristenan yang telah mereka capai tanpa menyadari bahaya yang membayang di balik kepuasan itu.
Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan tidak sekadar pengakuan di bibir, tetapi harus bersumber dari kepercayaan dalam hati (Rm. 10:9–10). Mungkin kita berpikir, kalau orang bisa mengaku, pastilah itu berasal dari hatinya yang percaya. Tetapi tidak demikian, karena orang-orang yang dienyahkan oleh Tuhan (Mat. 7:23) pasti juga merasa dirinya percaya kepada Tuhan. Tetapi ternyata Tuhan Yesus tidak percaya bahwa mereka percaya kepada-Nya. Kepercayaan mereka ternyata tidak menyelamatkan mereka.
Kepercayaan yang benar dalam hati pasti terwujud dalam tindakan, sebab iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh, dan pada hakikatnya adalah mati (ay. 17, 26). Jadi iman harus disertai dengan tindakan atas pengakuan kita bahwa Yesus adalah Tuhan. Setan-setan pun percaya bahwa Yesus adalah Tuhan (ay. 19), tetapi percaya seperti itu bukan iman yang menyelamatkan. Iman yang menyelamatkan berarti tidak saja kita dapat memanggil Yesus sebagai Tuhan, tetapi juga melakukan kehendak Bapa. Melakukan kehendak Bapa sama dengan hidup dalam otoritas Tuhan Yesus, sebab Ia menyampaikan apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukan oleh umat-Nya, sehingga kita harus mendengarkan-Nya (Mat. 17:5).
Marilah kita renungkan, sejauh mana kita telah hidup dalam otoritas Tuhan? Sedalam apa kita telah belajar mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya? Orang yang sungguh-sungguh berniat menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan memperlakukan-Nya dengan proporsional sebagai Majikan Agung akan senantiasa berusaha mencari kehendak-Nya dan melakukannya. Jangan jemu-jemu mempelajari Firman-Nya, supaya kehendak-Nya nyata untuk kita lakukan dan pada saatnya nanti, Ia menerima kita sebagai hamba-Nya yang setia.
Orang yang percaya Yesus sebagai Tuhan akan
senantiasa berusaha melakukan kehendak Allah.

Sunday, July 25, 2010

Alkitab Harus Menjadi Primadona


Penulis : Pdt.DR. Erastus Sabdono. (Truth Daily)

Baca: 2 Timotius 3:1–9
Alkitab dalam setahun: 2 Samuel 8–12

Kehidupan iman orang percaya menghadapi tantangan yang semakin berat pada abad ini. Tantangan itu adalah kehidupan dunia yang semakin fasik, filosofi yang memancarkan spirit tidak takut Tuhan dan tidak memedulikan hukum-Nya. Filosofi itu antara lain materialisme (materi sebagai nilai tertinggi kehidupan), humanisme (menganggap manusia lebih penting daripada segalanya), antroposentrisme (kehidupan yang berpusat kepada diri sendiri), serta berbagai pemikiran modern lainnya yang menggiring orang Kristen semakin jauh dari pola berpikir yang Alkitabiah.
Dunia seperti ini telah menenggelamkan kehidupan iman banyak orang percaya. Banyak perilaku pasangan hidup yang merusak hakikat perkawinan, sehingga angka perceraian dan ketidaksetiaan semakin meningkat tajam. Kondisi ini membuat keluarga-keluarga Kristen tidak memberi perhatian kepada pendidikan rohani. Nilai-nilai spiritual menjadi terabaikan. Jikalau nilai-nilai spiritual tidak dihargai lagi maka praktik hidup yang tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan mewarnai kehidupan.
Tidak bisa dibantah, dewasa ini banyak orang lebih tertarik kepada layar lebar, tayangan olah raga, sinetron, gaya hidup konsumtif, chatting, hiburan di Internet dan sebagainya, daripada memburu pengenalan akan Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. Orang yang giat menggali kebenaran Firman Tuhan dianggap aneh, ekstrem, kuno, korban indoktrinasi dan sebagainya. Ini terjadi sebab banyak orang Kristen akhir-akhir ini tidak memperlakukan Firman Tuhan secara proporsional. Mereka tidak mengasihi Tuhan, terbukti dengan tidak mengasihi Firman-Nya.
Jadi sekalipun kita anggota jemaat biasa, kita tidak boleh mengabaikan pelajaran Alkitab. Alkitab harus menjadi primadona bacaan bagi kita. Dengan pemahaman mengenai kebenaran Tuhan yang mendalam, kita akan senantiasa waspada sehingga tidak akan menjadi mangsa empuk bagi para pengajar palsu yang sebenarnya sedang menipu jemaat dengan mengatasnamakan “Firman Tuhan” atau “suara Tuhan”. Sebagai orang Kristen, kita harus terus mempelajari kebenaran yang murni dan bertumbuh dewasa di dalam Tuhan. Intelektualitas bukan hanya dikembangkan dalam ilmu-ilmu sekuler, tetapi juga dalam kerohanian kita. Belajar Firman Tuhan harus dilakukan terus-menerus sampai kita menutup mata. Untuk itu kita tidak boleh berpuas diri dengan pemahaman kita saat ini, tetapi kita harus berkembang terus dalam kebenaran.

Jadikan Alkitab primadona bacaan bagi kita agar kita menjadi cerdas.

Friday, July 16, 2010

Pemahaman Yang Benar Mengenai Akhir Zaman


Dapatkan majalah TRUTH Edisi 19, yang mengangkat topik utama mengenai akhir zaman. TRUTH ingin meluruskan pemahaman mengenai akhir zaman yang saat ini sering disalahartikan oleh banyak pihak. Apakah akan ada pengangkatan sebelum Tuhan Yesus datang? Siapakah Antikristus itu? Membedah pula nubuat di Matius 24 dan Yoel 2, serta mengungkap fakta-fakta mengenai akhir zaman, kita akan diajak untuk menyikapi kedatangan Tuhan yang kedua dengan sebagaimana mestinya diajarkan oleh Alkitab.
Untuk informasi lebih lanjut hubungi Rehobot Literature di 021-56954546 ext. 30, 021-68707000, 08 7878 70 7000. Email: info@truth-media.com

Walau Tidak Meminta


Walau Tidak Meminta

Bacaan hari ini: Markus 8:1-13
Ayat mas hari ini:
Markus 8:2
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 3,4; Kisah Para Rasul 7:44-60


Belum lagi dipakai tiga bulan, sepeda motor Danang sudah hilang ketika di parkir dekat gereja. Ia kecewa sekali. Ia terus berdoa agar Tuhan mengembalikan motor itu, tetapi hasilnya nihil. Berbulan-bulan ia merasa sedih karena harus naik kendaraan umum lagi. Suatu hari ia berpikir, “Dulu sebelum memiliki motor, aku bahagia ketika naik bus atau mikrolet. Mengapa sekarang tidak?” Danang lalu belajar merasa cukup dengan apa yang ada. Setahun kemudian ia besaksi, “Kini aku bahagia lagi naik kendaraan umum. Kini prinsipku: Jika Tuhan tidak mengembalikan motorku, itu berarti aku tidak membutuhkannya!”
Tuhan Yesus memberi apa yang benar-benar kita butuhkan. Ketika melihat sejumlah besar orang kelaparan karena sudah tiga hari mengikuti-Nya, Yesus tahu bahwa mereka sangat perlu makanan. Tanpa makan, banyak yang akan jatuh pingsan. Maka, walaupun mereka tidak meminta, Yesus berinisiatif memberi mereka makan roti dan ikan dengan cara ajaib. Dia tidak akan tinggal diam saat kita berhadapan dengan sebuah kebutuhan mendesak. Sebaliknya, ketika orang Farisi meminta tanda, Yesus tidak memberikannya. Mengapa? Karena Yesus tahu bukan itu yang mereka butuhkan. Yang mereka butuhkan adalah iman, bukan tanda.
Betapa sering kita bersungut-sungut ketika Tuhan tidak memberi apa yang kita minta. Kecewa saat melihat kenyataan berbeda dengan yang kita doakan dan harapkan. Kini saatnya kita belajar menjadi dewasa. Katakan pada diri sendiri: “Jika Tuhan tidak memberikan sesuatu, itu berarti aku tidak membutuhkannya. Aku bisa hidup bahagia tanpa itu!”
Tuhan memberi apa yang kita butuhkan
bukan apa yang kita inginkan

Modal Utama

Modal Utama

Bacaan hari ini: Wahyu 3:7-13
Ayat mas hari ini: Wahyu 3:10
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 18,19; Kisah Para Rasul 20:17-38


Pdt. Eka Darmaputera dalam salah satu khotbahnya mengatakan, “Modal utama kita sebagai murid Kristus bukan terletak pada jumlah atau pun kekuasaan, melainkan pada ketaatan kita kepada Tuhan. Tidak ada artinya kita memiliki kekuatan secara lahiriah, apabila itu kita raih dengan mengorbankan prinsip-prinsip iman kita.”
Pesan ini sejajar dengan pesan dalam surat kepada Jemaat di Filadelfia. Filadelfia adalah kota termuda di antara ketujuh kota yang disebut dalam kitab Wahyu. Dibangun oleh Raja Attalus II sekitar tahun 150 sebelum Kristus. Konon Attalus membangun kota itu untuk menyatakan rasa cintanya yang begitu besar kepada Eumenes, saudara laki-lakinya. Karenanya diberi nama Filadelfia, yang berasal dari kata Yunani philadelphos, artinya: orang yang mengasihi saudara laki-lakinya.
Secara kuantitas, Jemaat Filadelfia bukanlah jemaat yang besar dan kuat. Akan tetapi, mereka taat kepada Tuhan. “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa,” demikian firman Tuhan. “Namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku” (ayat 8). Karena itu, Tuhan pun akan melindungi mereka dari pencobaan yang akan datang menimpa dunia (ayat 10).
Gereja yang berfokus pada upaya menambah jumlah pengikut, memperkuat pengaruh sosial, ekonomi, dan politik, pasti akan kecewa. Itu dasar yang rapuh. Upaya gereja harus mulai dari ketaatan kepada Tuhan. Begitu juga dalam hidup pribadi. Kekuatan kita sebagai pengikut Kristus bukan terletak pada materi, jabatan, atau kekuasaan, melainkan pada ketaatan kepada Tuhan. Fokus hidup kita haruslah tertuju pada bagaimana kita tetap taat kepada Tuhan.

Kita tidak dipanggil untuk menjadi kaya atau berhasil
kita dipanggil untuk taat—Ibu Teresa


Penulis: Ayub Yahya

Thursday, June 24, 2010

Salah Melihat


Salah Melihat

Bacaan hari ini: Matius 7:1-5
Ayat mas hari ini: Matius 7:3
Bacaan Alkitab Setahun: Ester 3-5; Kisah Para Rasul 5:22-42



Sir Percival Lowell adalah astronom ternama pada akhir abad ke-19. Ketika melihat planet Mars dari teleskop raksasa di Arizona, ia melihat ada garis-garis di planet itu. Menurutnya, itu adalah kanal-kanal buatan makhluk planet Mars. Lowell mengabdikan seluruh hidupnya untuk memetakan garis-garis itu. Namun, foto satelit kini membuktikan tidak ada kanal di Mars. Lantas apa yang dilihat Lowell? Ternyata ia melihat pembuluh-pembuluh darah di matanya sendiri saat melihat teleskop! Ia menderita penyakit langka yang kini disebut “Sindrom Lowell”.
Sama seperti Lowell, kita pun bisa salah memandang orang lain. Sifat-sifat buruk orang lain tampak begitu besar dan nyata, sehingga kita terdorong untuk menegur dan menghakiminya. Padahal tanpa sadar kita pun punya sifat buruk itu, bahkan mungkin lebih parah! Ini ibarat orang yang mau mengeluarkan serpihan kayu dari mata orang lain, padahal ada balok di matanya sendiri. Sebuah perbuatan munafik yang tidak akan berhasil. Seseorang harus menyadari dulu sifat-sifat buruknya sendiri, lalu berusaha mengatasinya. “Balok di matanya” harus dikeluarkan, sebelum bisa menegur orang dengan penuh wibawa.
Sikap suka menghakimi kerap muncul dalam keluarga. Bisa terjadi dalam hubungan antara orangtua dan anak, atau suami dan istri. Kedekatan membuat kita sangat mengenal cacat cela orang-orang yang kita kasihi. Akibatnya, kita menjadi sangat mudah menemukan kesalahan mereka. Ini yang harus kita waspadai. Lain kali, sebelum menuduh dan mencaci-maki, periksalah diri sendiri dulu. Belum tentu kita lebih baik dari mereka. Jadi, lebih baik saling menasihati daripada saling menghakimi.

Dengan menghakimi kita merasa diri hebat
Dengan saling menasihati kita akan merasa diri sederajat

Penulis: Juswantori Ichwan

Kena Batunya

Kena Batunya

Bacaan hari ini: 2 Samuel 9
Ayat mas hari ini: 2 Samuel 5:8
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 1,2; Kisah Para Rasul 7:22-43


Pengalaman buruk tertentu bisa membuat orang sentimen setengah mati kepada sesuatu atau seseorang. Sebagai contoh, karena pernah ditipu orang dari suku tertentu, seseorang menjadi benci pada semua orang dari suku itu; gusar pada segala hal yang berbau suku tersebut. Padahal itu penyamarataan yang keliru.
Dulu, ketika hendak menyerang Yerusalem, Daud pernah dihina orang Yebus, penduduk Yerusalem. Mereka menyebutnya pecundang; yang akan dikalahkan orang-orang buta dan timpang. Daud pun merasa harga dirinya diinjak-injak. Dan sejak itu, ia menjadi benci pada orang-orang timpang dan buta (2 Samuel 5:8). Namun, di kemudian hari Tuhan mengizinkan sesuatu yang aneh terjadi. Ketika ia bertekad memenuhi janji kepada sahabatnya Yonatan yang telah meninggal, yaitu menunjukkan kasih kepada keturunannya, dibawalah kepadanya anak Yonatan yang bernama Mefiboset—yang timpang kakinya! Demi membuktikan tekadnya untuk mengasihi, setiap hari Daud makan semeja dengannya. Lantas kita katakan: Daud kena batunya.
Perasaan sentimen bisa jadi cukup akrab dengan kita. Padahal perasaan itu menghalangi kita untuk bersikap adil dan mengasihi. Sentimen membuat kita cenderung menyamaratakan; pukul rata saja. Akibatnya, mungkin ada pihak tak bersalah yang jadi sasaran. Belum lagi jika perasaan sentimen itu kita tularkan pada orang-orang di sekeliling kita. Semua jadi ikut curiga, takut, dan tendensius akibat sebuah sentimen pribadi.
Mari bersikap lebih jujur dan adil dengan belajar mengatasi sentimen pribadi. Tak perlu menunggu sampai Tuhan mengizinkan pengalaman serupa Daud terjadi pada kita, bukan?

KASIH KERAP KALI PERLU DITUNJUKKAN DENGAN BUKTI
KHUSUSNYA PADA ORANG YANG KITA KECUALIKAN UNTUK DIKASIHI

Penulis: Pipi Agus Dhali

Monday, May 31, 2010

Eling


Eling

Bacaan hari ini: Ulangan 26:1-11
Ayat mas hari ini: Yosua 1:13
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 15-16; Yohanes 12:27-50


”Agama: eks kristen.” Saya kaget membaca informasi ini di akun Facebook mantan teman sekolah saya. Dulu ia termasuk rajin ke gereja. Tidak jelas apa yang terjadi atas dirinya dalam dua puluh tahun terakhir. Yang jelas kini ia telah menjadi orang berada. Memimpin perusahaan ternama. Kerja kerasnya mengumpulkan harta rupanya tidak dipandang sebagai berkat Tuhan, melainkan hasil usaha sendiri. Sayang! Ia kehilangan sikap eling. Sikap ingat asal-usul, sadar bahwa kita bisa menjadi seperti sekarang—selamat, sukses, sehat—karena campur tangan Tuhan.
Orang Israel punya cara unik untuk menjaga sikap eling. Setiap kali panen tiba, tiap keluarga harus menyisihkan hasil panen mereka untuk dipersembahkan. Sebelum diberikan, sang ayah harus memberi kesaksian tentang kebaikan Tuhan pada masa lalu, di depan imam dan keluarganya. Ia menceritakan bagaimana Tuhan telah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, menuntun di sepanjang jalan sampai tiba di Tanah Perjanjian. Ia harus menyatakan bahwa hasil panen yang ada di tangannya adalah bukti pemeliharaan Tuhan. Lalu persembahan diberikan dan semuanya sujud di hadapan Tuhan. Ritual ini menolong mereka untuk terus mengakui penyertaan Tuhan. Eling. Tidak takabur.
Supaya kita selalu eling, sering-seringlah bersaksi tentang kebaikan Tuhan. Anda baru sembuh dari sakit? Mendapat berkat? Mengalami pertolongan Tuhan? Jangan diam saja. Saksikan pada keluarga dan rekan. Katakan bahwa semua itu Anda alami karena kebaikan Tuhan. Niscaya Anda akan selalu eling. Dan, tidak pernah menjadi “eks kristen”.

TUHAN MEMBERI ANDA HIDUP SELAMA 86.400 DETIK HARI INI
BERAPA YANG ANDA GUNAKAN UNTUK MENGINGAT KEBAIKAN-NYA?

Penulis: Juswantori Ichwan

Saturday, May 15, 2010

Hari-Hari Hidup


Hari-Hari Hidup

Cipt.Pdt.Dr.Erastus Sabdono.

Hari-hari hidup datang dan berlalu
Bagaikan deret awan yang ditiup angin
Hatiku bertanya, Kau bri ku jawabnya
Mengapa ku disini, di kembara dunia

Reff: Kau buka mataku, hati dan pengertianku
Hidup ini tuk mengabdi
BagiMu disingkat hariku

Kaulah tujuanku, indah kerajaan-Mu
Diujung jalanku tampak matahari
Kehidupan yang tak pernah terbenam.

Note: lagu ini dipopulerkan oleh Albert Fakdawer, dan disetiap kotbah Pak Eras sering menyanyikan lagu ini. Lagu ini mengingatkan agar kita harus merubah sikap hidup kita sesuai kebenaran Firman Tuhan, agar dapat masuk Kerajaan-Nya.

Friday, May 14, 2010

sumber kekuatan


Sumber Kekuatan

Bacaan hari ini: 1 Samuel 30:1-19
Ayat mas hari ini: 1 Samuel 30:6
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 13-14; Yohanes 2

Seorang ibu muda bercerita, “Anak kami lahir autis, suami tidak bisa menerima. Ia menyalahkan saya. Katanya, saya tidak bisa menjaga diri selama masa kehamilan. Sejak itu sikapnya berubah jadi kasar; kata-katanya pedas dan menyakitkan, bahkan tidak jarang main pukul. Tiap hari saya harus menerima kekasarannya. Lebih-lebih ketika usahanya bangkrut. Ia menganggap saya ini biang kesialan hidupnya. Saya benar-benar habis akal. Mengurus anak yang autis, menghadapai suami yang ‘gila’, belum lagi harus mencari nafkah. Kalau bukan karena iman kepada Tuhan, mungkin saya sudah nekat ambil jalan pintas.”
Ya, iman kepada Tuhan adalah jangkar yang kokoh dalam kita menjalani roda kehidupan. Terlebih di tengah kesusahan dan musibah yang terjadi. Daud merasakan betul kebenaran ini. Ketika ia dan tentaranya kembali dari perjalanan ke beberapa daerah, mereka mendapati rumah dan harta benda mereka habis dibumihanguskan orang-orang Amalek. Keluarga mereka dijadikan tawanan. Mereka begitu pedih dengan kenyataan itu (ayat 4). Dari pedih, rakyat banyak itu berubah menjadi marah kepada Daud. Hampir saja terjadi pertumpahan darah di antara mereka sendiri. Daud lalu menguatkan kepercayaan mereka kepada Tuhan (ayat 6), sehingga keadaan dapat dikendalikan.
Saat ini mungkin kita tengah mengalami pencobaan; rupa-rupa tekanan hidup dan persoalan seolah tidak kunjung berhenti, berbagai kesulitan menghantam. Dalam situasi demikian, yang terbaik adalah memperteguh iman kita kepada Tuhan. Kuatkan kepercayaan kita kepada-Nya. Ingat kasih-Nya. Berharap kepada-Nya. Dengan begitu kita akan dijaga dari tindakan yang salah.

IMAN SEUMPAMA TIANG YANG KOKOH
BAGI SEBUAH RUMAH

Penulis: Ayub Yahya

Friday, April 16, 2010

Penyakit Rohani



Penyakit Rohani

Bacaan hari ini: Galatia 5:16-24
Ayat mas hari ini: Galatia 5:24
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 27-29; Lukas 13:1-22


Yang namanya penyakit: ada penyakit jasmani, ada penyakit rohani. Penyakit rohani lebih berbahaya daripada penyakit jasmani, karena berlaku tidak hanya di dunia ini saja, tetapi juga dalam kehidupan nanti sesudah kehidupan di dunia ini. Tidak ada, misalnya, orang yang masuk neraka karena menderita diabetes atau darah tinggi. Selain itu penyakit rohani biasanya tidak disadari, kecuali oleh orang lain. Orang yang tamak, misalnya, ia tidak akan sadar kalau dirinya tamak. Malah bisa jadi tersinggung kalau dibilang tamak.
Bagaimana mengatasi penyakit rohani? Pertama-tama, kenali jenis-jenis penyakit rohani yang ada. Paulus menyebut penyakit rohani ini sebagai “perbuatan daging” (ayat 19). Lalu, lakukan “check-up” rutin, yaitu dengan melakukan evaluasi dan introspeksi diri; bisa secara pribadi, bisa bersama orang terdekat—apakah kita mengidap salah satu atau beberapa dari penyakit rohani tersebut?
Apabila ada, segeralah lakukan “penyembuhan”, bisa dengan meminta nasihat orang-orang yang kita percayai, bisa juga dengan membaca buku-buku rohani yang sesuai. Dan yang paling utama, berdoalah kepada Tuhan. Salah satu contoh bagus doa agar terbebas dari penyakit rohani ada di Amsal 30:7-9, “Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa Tuhan itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.
Kita jangan hanya peduli dengan penyakit jasmani
kita juga perlu peduli dengan penyakit rohani dalam diri kita

Penulis: Ayub Yahya

Wednesday, April 7, 2010

Jadwal Radio Suara Kebenaran Dan TV Indovision dll.



Jadwal Siaran Suara Kebenaran & Renungan Harian Truth

Update jadwal program radio Suara Kebenaran dan Renungan Harian TRUTH per Februari 2010. Ikuti terus program Suara Kebenaran dan Renungan Harian TRUTH untuk memperoleh kebenaran Firman Tuhan yang murni.
STASIUN RADIO YANG MENYIARKAN PROGRAM SUARA KEBENARAN (SK) DAN RENUNGAN HARIAN TRUTH

• Bajawa: Radio Pemulihan Kasih 96.5 FM (TRUTH: setiap hari 06.30; SK: Sen/Sel/Jum 09.00, setiap hari 18.30)
• Banjarmasin: Radio Khana 89.7 FM (TRUTH: setiap hari 22.00; SK: Senin s.d. Jumat 19.00, Sabtu 19.00)
• Barong Tongkok: Radio Suaka 103 FM (TRUTH: setiap hari 06.00; SK: Minggu 06.30)
• Blitar: Radio Harmoni 107.1 FM (TRUTH: setiap hari 22.00; SK: setiap hari 05.00)
• Comal: Radio Yobel 107.9 FM (TRUTH: Setiap hari 06.30; SK: Sel/Kam 11.30)
Jabodetabek: Radio Pelita Kasih 96.3 FM (SK: Selasa 21.00, Sabtu 05.00), Heartline 100.6 FM (SK: Senin 19.00), Ravi 576 AM (SK: Selasa 06.00), RS PGI Cikini (TRUTH: setiap hari 05.00, SK: setiap hari 07.30)
• Jayapura: Radio Rock 101 FM (TRUTH: setiap hari 23.45)
• Kediri: Radio Syalom 107.2 FM (TRUTH: Senin s.d. Sabtu 12.00; SK: Minggu 06.00)
• Kotamobagu: Radio El Shaddai 105.1 FM (TRUTH: Senin s.d. Jumat 06.00; SK: Senin s.d. Jumat 12.00)
• Kuala Kapuas: Radio Bahtera Hayat 91.4 FM (TRUTH: setiap hari 06.00; SK: Sen/Rab/Sab 18.30, Jumat/Minggu 08.30)
• Kupang: Radio Lizbeth 98.4 FM (TRUTH: setiap hari 05.00; SK: Minggu 05.30, Rabu 21.00)
• Magelang: Radio GKL 106.4 FM (SK: Minggu 21.00)
• Malang: Radio Solagracia 97.4 FM (TRUTH: setiap hari 05.15, 21.45; SK: Senin s.d. Sabtu 20.00, Rabu 23.15)
• Manado: Radio Sumber Kasih 90.2 FM (TRUTH: setiap hari 15.00), Mitra Kawanua 91.0 FM (SK: Selasa 10.00), ROM2 102 FM (SK: Selasa 10.00, Kamis 06.00), Kidung Syalom 107.8 FM (TRUTH: setiap hari 05.00; SK: setiap hari 15.00, 21.00)
• Manokwari: Radio Suara Kemenangan 101 FM (TRUTH: setiap hari 06.45; SK: setiap hari 05.30)
• Masohi: Radio Kidung Syalom 91.2 FM (TRUTH: setiap hari 05.00; SK: setiap hari 15.00, 21.00)
• Nabire: Radio Swara Menara Kasih 101.1 FM (TRUTH: setiap hari 05.00; SK: Senin/Kamis 21.00)
• Palu: Radio Proskuneo 105.8 FM (TRUTH: setiap hari 22.00; SK: Kamis 16.00)
• Palangkaraya: Radio Kidung Syalom 91.6 FM (TRUTH: setiap hari 06.00; SK: Senin s.d. Jumat 19.00), Evella Channel 96.7 FM (TRUTH: setiap hari 06.00, 23.30; SK: Minggu 06.30)
• Pematangsiantar: Radio Suara Kidung Kebenaran 87.8 FM (TRUTH: setiap hari 05.30; SK: setiap hari 21.00), Siantar 94.9 FM (SK: setiap hari 06.00, Senin 19.00), Epi Ginosko 104.7 FM (SK: setiap hari 06.00, Senin 19.00)
• Probolinggo: Radio BKSM 98.8 FM (TRUTH: setiap hari 05.30; SK: setiap hari 05.45)
• Salatiga: Radio Suara Agape 107.9 FM (TRUTH: setiap hari 08.00; SK: Senin, Selasa, Rabu 18.00)
• Samarinda: Radio One Way 95.2 FM (SK: Rabu 22.00, Minggu 19.00)
• Semarang: Radio Agape 94.5 FM (TRUTH: setiap hari 09.00; SK: Minggu dan Senin 12.00), Good News 94.9 FM (TRUTH: setiap hari 22.00; SK: setiap hari 22.15), BeFM (TRUTH: setiap hari 06.00 & 15.00;
SK: setiap hari 05.30, Kamis 19.00), Keruxon 107.7 FM (SK: Sen/Rab/Jum 22.00)
• Sintang: Radio Pola Rekso 104.2 FM (SK: Minggu 07.00)
• Solo: Radio Immanuel 91.3 FM (TRUTH: setiap hari 23.15)
• Surabaya: Radio Bahtera Yuda 96.4 FM (TRUTH: setiap hari 07.00, 23.00; SK: Selasa s.d. Minggu 21.00), Nafiri 107.1 FM (SK: setiap hari 07.30, 17.00, 22.00), Sangkakala 1062 AM (SK: Rabu/Kamis 05.00, 21.00)
• Tarakan: Radio Suara Kasih 91.2 FM (TRUTH: setiap hari 09.30, 19.00; SK: Sen/Rab/Jum/Sab 15.00, Sen/Sab 23.00)
• Tarutung: Radio Bonafit 90.1 FM (TRUTH: setiap hari 23.00; SK: Senin/Rabu/Jumat 23.15)
• Tegal: Radio Swara Wacana 107.7 FM (SK: Rabu 12.00 & 21.00)
• Tomohon: Radio Kabar Baik 100 FM (SK: Rabu 22.00)
• Tondano: Radio Geovani Mart 96.5 FM (TRUTH: setiap hari 05.00; SK: Senin/Rabu 04.30, setiap hari 21.00)
• Ungaran: Radio Sahabat Sejati 107.7 FM (TRUTH: setiap hari 17.00; SK: Senin s.d. Sabtu 06.00, Rabu 21.00)
STASIUN TELEVISI YANG MENAYANGKAN PROGRAM SUARA KEBENARAN
• U Channel — Indovision Channel 95: Rabu, 07.30 WIB; Sabtu, 22.00 WIB
• Pacific TV Manado: Selasa/Kamis/Sabtu, 07.30 WITA
• TV 5 Manado: Senin s.d. Kamis, 21.30 WITA
• TV Bangka: Setiap Minggu pertama dan ketiga, 18.00 WIB
• TV Borobudur Semarang: Minggu, 14.00 WIB

Tuesday, March 30, 2010

Jangan Berhenti Memeriksa Diri


Jangan Berhenti Memeriksa Diri

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono.

Jika seseorang tidak memperagakan pribadi Kristus, berarti ia memperagakan pribadi setan. Mengenakan pribadi setan berarti ikut menceraiberaikan, bukan mengumpulkan.

Matius 16:23 dikatakan “Enyahlah iblis Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Perkataan Tuhan Yesus kepada Petrus ini sangat mengejutkan : bagaimana bisa Petrus yang selama ini telah bersama-sama dengan Tuhan Yesus tidak mengerti pikiran Tuhan? Ia mencoba menghalangi rencana Tuhan atau menjadi batu sandungan Tuhan yang mau ke Yerusalem untuk memikul salib. Petrus menjadi alat iblis yang terselubung, padahal tentunya Petrus seperti murid yang lain pernah mengusir setan, Sungguh ironis.

Ini memberikan pelajaran yang berharga bagi kita bahwa kedekatan seseorang secara fisik dengan Tuhan pun tidak menjamin ia memiliki pikiran Tuhan dan mengerti kehendak-NYa. Kalau Petrus murid Tuhan Yesus yang terkemuka bisa kerasukan setan, bukan tidak mungkin orang-orang yang selama ini dianggap rohani atau dekat dengan Tuhan dan aktif dalam pelayanan gereja bisa juga menjadi alat pelayan gereja bisa juga menjadi alat setan yang sangat terselubung. Hal ini harus kita waspadai dengan seksama.

Sebagai perenungan : Apakah kita yakin semua orang Kristen mengerti pikiran Tuhan? Orang yang mengerti pikiran Tuhan pasti memperagakan pikiran dan perasaan Tuhan. Inilah kehidupan seorang yang mengenakan pribadi Kristus. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang pasti mengubah orang lain. Sesungguhnya inilah yang dimaksud menjadi terang dan garam dunia, kehidupan sebagia saksi Kristus yang efektif. Anak Tuhan menjadi surat yang terbuka yang dibaca setiap orang (2 Kor.3:2-3). Orang yang diselamatkan karena melihat perbuatan baik seorang anak Tuhan akan menjadi orang Kristen yang sejati. Mekanisme yang benar dalam proses penyelamatan adalah : bila orang kafir melihat perbuatan baik anak Tuhan, ia dipertobatkan dan lalu didewasakan.

Sebenarnya Tuhan memiliki rencana untuk menyelamatkan orang-orang di sekitar kita bagi kerajaan Allah, tetapi berhubung kelemahan watak dan karakter kita yang terekspresikan melalui perbuatan, maka mereka tidak menjadi orang percaya yang gagal membawa orang lain kepada Tuhan menjadi batu sandungan. Orang yang tidak mengenakan pikiran Kristus akan mengenakan pikiran sendiri, sehingga semua yang dilakukannya merupakan ekspresi dari diri sendiri yang fasik. Tokoh besar dari India, Mahatma Gandi pernah menyatakan bahwa yang membuat ia tidak akan pernah menjadi orang Kristen adalah orang-orang Kristen sendiri yang tidak menampilkan kehidupan seperti Gurunya, Tuhan Yesus Kristus . Oleh sebab itu dalam pelayanan kita, kita harus menampilkan kehidupan Tuhan Yesus. Sayangnya hari ini banyak “hamba Tuhan “ lebih dekat untuk untuk disebut “selebriti”, daripada seorang “hamba” seperti Guru dan Tuhannya.

Memang untuk menjadi saksi Kristus bagi orang lain harganya sangat mahal, yaitu harus mematikan segala hal yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, sehingga dapat memperagakan pribadi setan. Mengenakan pribadi setan berarti ikut menceraiberaikan, bukan mengumpulkan. Dengan ini sekali lagi kita ditantang untuk mengambil sikap, di pihak siapa kita berdiri : Tuhan atau setan? Akhirnya jangan berhenti memeriksa diri, apakah kita masih berjalan dalam kehendak Tuhan atau tidak dalam setiap butir kehidupan yang kita jalani. Solagracia.

Friday, March 26, 2010

Korma


Korma

Bacaan hari ini: Mazmur 92
Ayat mas hari ini: Mazmur 92:13,14
Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-hakim 1-3; Lukas 4:1-30


Pohon korma itu istimewa. Ia mampu tumbuh di tengah gurun gersang di Timur Tengah. Di tengah cuaca panas dan persediaan air yang minim, korma bukan sekedar bisa bertahan hidup. Ia pun mampu berbuah. Bahkan, buahnya manis. Makin tua pohonnya, makin manis buahnya! Daya tahan pohon korma terletak pada akarnya. Ketika biji korma tumbuh, akarnya lebih dulu tumbuh menghunjam jauh ke dalam tanah. Mencari air. Baru setelah itu tumbuh batang dan daunnya.
Pemazmur menggambarkan orang beriman bagaikan pohon korma yang ditanam di bait Tuhan. Firman dan kehadiran Tuhan menjadi makanannya. Ini membuatnya bertumbuh sehat dari tahun ke tahun. Hasilnya? Setelah menjadi tua, ia tetap dapat berbuah manis sekalipun tubuh makin renta dan sakit-penyakit melanda. Ketika kecantikan fisik memudar, kecantikan batin makin nampak. Ia puas terhadap Tuhan. Ia tidak menuduh Tuhan curang (ayat 16), sehingga dapat bersaksi tentang kebaikan-Nya. Sebaliknya, orang tak beriman digambarkan seperti tumbuh-tumbuhan yang tak berbuah (ayat 8). Bertambahnya usia membuat hati mereka menjadi makin pahit, bukan makin manis. Tumpukan persoalan, dendam, dan kekecewaan memenuhi hati. Bagi mereka, masa tua menakutkan dan menyedihkan.
Cobalah periksa; dari tahun ke tahun, hidup Anda makin manis atau makin pahit? Makin suka bersyukur atau mengeluh? Makin puas dengan Tuhan dan sesama, atau makin kecewa? Makin mudah mengampuni atau makin menumpuk dendam? Tanamlah diri Anda di Bait Tuhan. Serap dan taati firman-Nya. Hidup Anda pun akan berbuah manis bagai korma!

Bisa menghadapi tiap hari dengan senyuman
adalah berkat istimewa dari Tuhan

Penulis: Juswantori Ichwan

Thursday, March 25, 2010

Masygullah hati- Nya / Mengapa Yesus Menangis?


Mengapa Yesus Menangis?

Baca : Yohanes 11:32-34
Alkitab dalam setahun : Lukas 23-24


artikel ini diambil dari : Renungan Truth edisi Maret 2010

Pasti kita sudah akrab dengan kisah Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus.
Dalam kisah tersebut terdapat ayat yang dalam bahasa aslinya terpendek diseluruh Alkitab: "Maka menangislah Yesus" (ayat 35).Mengapa Yesus menangis? Dengan pengertian yang benar, ayat yang terpendek ini akan menjadi ayat sangat kuat.

Penting diketahui, kata yang digunakan dalam ayat ini berbeda dengan kata yang digunakan untuk menggambarkan tangisan Maria dan orang-orang Yahudi (ayat.33). Di sana digunakan kata (klaio)yang artinya "menangis meraung-raung". Sementara Yesus hanya meneteskan air mata (edakrusen, dari akar kata (drakruo)), jauh dari kecengengan. Tetapi perlu diketahui bahwa setegar-tegarnya Tuhan Yesus, ia pun mempunyai emosi yang bisa tersentuh dan sedih yang termanifestasi dalam tangisan. Tentu Ia tidak sedih karena kehilangan sahabat-Nya, karena Ia tahu bahwa ia akan segera membangkitkan Lazarus. Jadi mengapa?

Pertama, Yesus menangis karena Ia teringat akan akibat dosa. Sebagai Allah yang Kudus, Ia benci terhadap dosa. Menyaksikan bagaimana dosa bisa merusak dan membunuh sangat menyedihkan bagi-Nya. Apakah kita merasakan hal ini juga, bagaimana dosa bisa merusak, dan membuat orang lain mati, bahkan mati tanpa pengenalan akan Tuhan yang benar, sehingga berakibat kebinasaan kekal?

Kedua, Ia melihat ketidakpercayaan pada orang-orang yang dikasihi-Nya. Ia telah mengatakan bahwa Lazarus akan bangkit, tetapi tidak ada yang percaya. Bahkan Maria, orang terakhir yang diharapkan-Nya untuk percaya, ternyata juga tidak percaya (ay.32). Demikianlah, Yesus sedih jika kita tidak percaya kepada-Nya. Hati-Nya sakit menyaksikan kita menyangsikan kebenaran Injil-Nya, seperti kebaikan-Nya dalam segala hal, termasuk dalam penderitaan (Rm.8:28).

Ketiga, Ia melihat kemunafikan orang Yahudi yang menangis meraung-raung (ay.33). ini dibuktikan dengan penggunaan kata "masygul" (embrimaomai), artinya "marah terhadap kesalahan atau ketidakadilan". Yesus sedih melihat praktik keagamaan yang munafik, yang tidak menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran, tetapi dalam daging dan kepalsuan.

Masihkah kita melakukan hal-hal yang membuat Tuhan meneteskan air mata-Nya? Masihkah kita tidak percaya kepada-Nya dan kepada Injil yang murni? Masihkah kita hanya menjadi Kristen agamawi, dan belum mau menyerahkan sepenuh hidup kita kepada-Nya? Bertobatlah.

Tinggalkanlah hal-hal yang membuat Tuhan meneteskan air mata-Nya .

Wednesday, March 24, 2010

Spektakuler (untuk mengingat kematian Tuhan Yesus)


Spektakuler

Bacaan hari ini: Yohanes 12:12-19
Ayat mas hari ini: Yohanes 12:18
Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 10-12; Lukas 1:39-56


Olimpiade ke-29 dibuka di Beijing, Cina, 8 Agustus 2008, jam 8.08 waktu setempat. Sekitar 90.000 penonton yang hadir di Stadion Bird Nest dan empat miliar pasang mata di seluruh dunia yang menyaksikan lewat televisi, dibuat terpukau dengan atraksi pembukaan berbiaya hingga US$40 miliar itu. Esok harinya headline surat kabar di seluruh dunia memuji pesta akbar pembukaan yang disebut-sebut terhebat sepanjang sejarah Olimpiade. Pujian tak pelak diberikan pada panitia penyelenggara. Satu kata yang bisa menggambarkannya: spektakuler.
Kejadian spektakuler memang mengagumkan. Orang akan dibuat kagum ketika sesuatu yang tidak terpikirkan akal, tidak pernah terbayangkan, tidak pernah diduga, terjadi. Kejadian seperti ini biasanya akan menyebar dengan cepat menjadi buah bibir. Itulah yang dialami oleh Tuhan Yesus sesaat ketika Dia memasuki Yerusalem. Orang banyak itu telah menyaksikan kejadian “spektakuler” yang Tuhan Yesus buat; orang buta melihat, orang sakit disembuhkan, orang mati dibangkitkan, orang lumpuh berjalan.
Itu sebabnya Yesus bukannya senang, tetapi justru menangisinya (Lukas 19:41). Dia tidak ingin orang-orang mengikut Dia karena kejadian spektakuler. Maka, Dia kerap berpesan kepada orang-orang yang melihat mukjizat-Nya, supaya mereka tidak bercerita kepada siapa-siapa (Markus 7:36, Matius 9:30, Lukas 8:56). Dia ingin orang mengikut Dia dengan tulus hati. Dia tahu, iman yang berpangkal pada kejadian spektakuler itu sangat rapuh. Buktinya orang banyak di Yerusalem itu; hari ini mereka mengelu-elukan Dia, beberapa hari kemudian mereka berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

DASARKAN IMAN BUKAN PADA KEJADIAN DI LUAR DIRI
TETAPI PADA KASIH DAN KETULUSAN DI DALAM HATI

Penulis: Ayub Yahya

Tuesday, February 23, 2010

Menyenangkan Tuhan


Menyenangkan Tuhan

Bacaan hari ini: 1 Tesalonika 2:1-6
Ayat mas hari ini: 1 Tesalonika 2:4
Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 4-6; Markus 4:1-20

Ada cerita tentang seorang bapak dengan anak laki-laki dan keledainya. Mereka menuntun keledainya hendak ke pasar. Sang bapak berjalan di samping, sedang anaknya duduk di atas keledai. Beberapa orang yang melihat berkata, “Anak itu tidak memiliki rasa hormat kepada orangtua, masak bapaknya berjalan, dianya sendiri naik keledai?” Tidak enak mendengar kata-kata itu, sang bapak gantian duduk di atas keledai, dan anaknya berjalan.
Orang-orang yang melihat berkata pula, “Kok tega sekali orangtua itu, enak-enak duduk di atas keledai sedang anaknya dibiarkan berjalan?” Mendengar itu, sang bapak meminta anaknya duduk di atas keledai bersamanya. Namun, orang-orang yang melihat berkata, “Kejam sekali, masak keledai tua begitu ditunggangi dua orang?” Bapak dan anak itu pun turun dari keledai dan berjalan beriringan. Ternyata omongan orang-orang tidak berhenti sampai di situ. Beberapa orang yang melihat mereka berkata pula, “Dasar bodoh, punya keledai kok tidak ditunggangi?”
Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Apabila kita berusaha menyenangkan semua orang, seperti bapak-anak dalam cerita di atas, kita akan “capek” dan “bingung” sendiri. Panggilan kita hidup di dunia ini bukanlah untuk menyenangkan hati manusia, tetapi menyenangkan hati Tuhan. Karena itu, standar atau ukuran atas sikap dan perilaku kita adalah Tuhan sendiri; apakah sikap dan tindakan kita menyenangkan Tuhan. Seperti kata Rasul Paulus, “Maka kami berbicara, bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk menyenangkan Allah yang menguji hati kita” (ayat 4).

PANGGILAN HIDUP KITA ADALAH MENYENANGKAN TUHAN

Penulis: Ayub Yahya

Monday, February 8, 2010

Berusaha Menjadi Sempurna

Berusaha Menjadi Sempurna

Oleh : Pdt.Dr. Erastus Sabdono

Mengapa begitu rendahnya hasrat atau minat seseorang untuk berusaha menjadi warga Kerajaan Surga yang baik? Sebab hasrat atau minat mereka telah diarahkan dalam pertualangan panjang mengingini perkara-perkara di bumi, bukan perkara-perkara yang diatas (Kol 3:1-3). Kalau kita masih tidak dapat mengikuti Tuhan Yesus dengan benar, mari kita periksa diri kita dengan jujur, masihkah kita dibelenggu oleh hasrat atau minat kepada hal-hal duniawi?

Memang selama hidup di dunia ini kita mempunyai kebutuhan hidup jasmani itu. Namun segala usaha kita untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani itu tidak boleh mengurangi usaha untuk mencapai kesempurnaan di dalam Tuhan. Jika sesorang menganggap bahwa mengusahakan kebutuhan jasmani lebih penting daripada mencapai kesempurnaan, berarti ia mempertuhankan perut dan berkategori duniawi (Fil 3:19). Pernyataan ini terkesan berlebihan dan menekan, tetapi inilah kenyataannya, bahwa Tuhan memang menghendaki orang percaya sempurna dalam seluruh kegiatan hidupnya. Untuk ini seseorang harus menanggalkan beban dan dosa (Ibr 12:1). Beban artinya keterikatan dengan dunia ini, atau percintaan dunia. Dosa yang dimaksud disini adalah keterikatan seseorang dengan keinginan daging atau hasrat dosa dalam dagingnya.

Alkitab mengatakan bahwa usaha menuju kesempurnaan ini sebagai perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Dan perlombaan ini menuntut iman yang sempurna seperti Yesus, yang ditandai dengan ketaatan-Nya kepada Bapa di Surga ( Ibr.12:2), karena itu sering disebut “perlombaan iman”. Kalau perlombaan ini wajib, mengapa hari ini banyak orang Kristen lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan jasmaninya daripada mengejar kesempurnaan? Berusaha menjadi sempurna tidak mengurangi waktu kerja, tidak berarti harus menjadi aktivis gereja, bahkan tidak harus menjadi pendeta. Berusaha menjadi sempurna berarti selalu dalam sikap berjaga-jaga, terus belajar melakukan segala sesuatu tepat seperti yang Bapa kehendaki.
Belajar memenuhi apa yang dikatakan Firman Tuhan, yaitu “jika kita makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, kita harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan. (1 kor.10:31). Berarti, justru pergumulan dalam latihan melakukan kehendak Tuhan dengan benar adalah pada waktu kita ada di kantor, toko, tempat kerja yang lain, sekolah, pergaulan, di tengah-tengah keluarga, dll. Kesempurnaan bukan hanya ditemukan pada waktu kita melakukan kegiatan di lingkungan gereja. Justru proses pembelajarannya lebih efektif saat kita di luar lingkungan kegiatan gereja, disitulah kita harus menunjukkan bahwa Kristus ada didalam diri kita dan kita tidak hanyut dalam gelombang dunia yang bergulir lebih cepat menuju kegelapan abadi, tetapi sebaliknya kita memiliki langkah maju dalam kedewasaan rohani dan sepenanggungan dengan Tuhan.

Bagi orang yang terlatih mengikuti perlombaan iman ini, maka irama hidupnya pasti selalu ingin mengutamakan Tuhan. Baginya ini adalah kebutuhan, bukan kewajiban. Ini sebagai menu kehidupan yang mutlak harus terselenggara.

Segala usaha kita untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani itu tidak boleh mengurangi usaha untuk mencapai kesempurnaan di dalam Tuhan.

Monday, February 1, 2010

Tos Kitu

Tos Kitu
Truth Daily Enlightenment (edisi January 2010)
Baca: Roma 8:18-30, Alkitab setahun: Matius 5-6

Masuk ke Desa Cibeo di daerah Baduy dalam, Rani adityasari, seorang wartawan sebuah harian nasional, menceritakan bahwa dia disambut oleh penduduk setempat di dalam teras rumah yang terbuat dari jalinan bambu dan kayu tanpa menggunakan paku satu pun. Rakitan rumah tradisional tanpa paku yang sudah turun temurun itu, menurut penduduk setempat,“Tos kitu – ya sudah begitu”. Tradisi yang kuat diwariskan dari generasi ke generasi, tanpa pedoman tertulis, namun dilakukan sangat disiplin. Seperti halnya tradisi saba desa (kunjungan ke desa lain). Praktiknya, mereka pergi ke Jakarta dalam rombongan tiga orang, dimana dua orang diantaranya sudah pernah pergi sebelumnya, kemudian pulang untuk menceritakan pengalamannya sewaktu menginap beberapa waktu di Jakarta. Uniknya, mereka berjalan ke Jakarta memakan waktu tiga hari, karena pergi tanpa beralas kaki dan tidak boleh naik kendaraan. Apabila ada anggota yang melanggar , entah bagaimana pasti ketahuan. Sekembalinya ke desa dia akan segera diusir dari Baduy Dalam. Ketika ditanya mengapa tidak boleh pakai alas kaki dan kendaraan, maka dijawab dengan senyum dan suara halus , “Tos kitu.”

Jika kita membaca Alkitab, maka kita menemukan bahwa penulis Alkitab tidak berusaha untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada, sebab memang mereka mengalami sendiri bergaul dengan Tuhan sesuai dengan pola masing-masing yang khas. Jika bertemu orang atheis yang mempertanyakan keberadaan Tuhan, daripada berdebat, kita lebih baik menjawab “ Tos kitu”. Tuhan ada dan dapat dirasakan keberadaan-Nya buat mereka yang serius ingin mengenal Dia. Para atheis tidak merasakan Tuhan ada bukan karena tidak ada bukti, melainkan karena mereka menindas bukti-bukti itu.

Namun perlu diingat bahwa menggunakan pikiran itu bukan duniawi, sebab pikiran itu diciptakan oleh Tuhan untuk memperlengkapi kita agar kita tidak bisa kita diperdaya dengan pengajaran yang mengatasnamakan Tuhan tapi menyelewengkan kebenaran Alkitab. Pengajaran yang keliru tidak boleh dibungkus dengan kalimat rohani yang mengisyaratkan kita untuk “Percaya saja”. Dalam Rm.8:28 kita diajarkan bahwa Allah turut bekerja di dalam segala hal yang mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Jadi kita harus terus menguji hati kita, apakah kita mengasihi Dia? Jika ditanya, kenapa harus begitu, ya kita jawab saja “ Tos kitu”. Dimana kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikan-Nya dengan tekun.

Iman kepada Tuhan tidak perlu bertanya mengapa harus demikian, namun harus berjalan walaupun banyak ketidakpastian.

Monday, January 25, 2010

Baptisan yang Membingungkan

Baptisan yang Membingungkan

Pdt. Bigman Sirait


Reformata.com, soal baptisan, selam atau percik, dewasa atau anak-anak, memang seringkali menimbulkan perdebatan yang sesungguhnya tidak perlu. Karena semua perdebatan lebih berwarna tafsir denominasi ketimbang pesan Alkitab itu sendiri. Mari kita coba pahami pesan Alkitab tentang baptisan. Apakah ini sejak Perjanjian Lama (PL) atau baru di Perjanjian Baru (PB). Kita mulai dengan surat Paulus yang sangat jelas dalam Kolose 2:11-12, yang menghubungkan sekaligus mempararel antara sunat dalam PL dengan baptisan dalam PB.
Dalam ayat 11 Paulus menyebut sunat yang benar bukan sekadar sunat yang dilakukan manusia melainkan Kristus. Di sini jelas sekali Yesus Kristus (PB), dihubungkan dengan sunat (PL), yaitu ritual sunat yang mencucurkan darah sebagai lambang perjanjian antara manusia yang percaya dengan Allah. Ini dengan jelas dapat kita baca dalam Kejadian 17. Seluruh anak laki-laki yang ada di rumah Abraham disunat, mulai dari Abraham (99 tahun), Ismael (13 tahun), dan semua orang yang ada di rumah Abraham, apakah itu ke-luarga atau pembantu. Ini menjadi tanda keterikatan perjanjian Abraham dengan Allah, dan semua orang yang ada di rumahnya juga mendapat berkat perjanjian karena Abraham.


Namun dalam ketentuan berikutnya, anak disunat pada usia 8 hari (Kejadian 17:12). Darah yang tertumpah itu sebagai simbol perjanjian telah digenapi dalam diri Yesus, yang darah-Nya tertumpah di kayu salib. Sama seperti dalam PL, darah domba menjadi korban penebusan dosa, yang juga digenapi dalam darah Kristus. Sangat jelas, semua yang bayang-bayang dalam PL telah genap dalam PB (Ibrani 10). Itu sebab Yesus Kristus berkata: “Aku datang bukan untuk meniadakan Taurat melainkan untuk menggenapinya” (Ma-tius 5:17). Setelah kematian Kristus di kayu salib tidak ada lagi korban domba sebagai penebus dosa. Demikian juga tidak ada lagi sunat (tertumpahnya darah) sebagai simbol perjanjian. Ganti domba korban penebus dosa, sudah jelas yaitu doa pengakuan dosa dengan hati sungguh-sungguh (1 Yohanes 1: 8-9). Lalu ganti sunat apa? Dalam Kolose, Paulus jelas mengingatkan umat, bahwa baptisan adalah ganti sunat. Baptisan adalah simbol perjanjian anugerah. Ini juga dengan jelas diungkapan oleh Petrus dalam Kisah 2:38-39. Bahwa janji Tuhan bagimu dan anak-anakmu. Apa itu karunia Roh Kudus yang dimaksud oleh Petrus, jelas jika dibaca dari ayat 1, yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus, yaitu penggenapan janji Allah. Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dan kini digenapi, Dia adalah Raja Shaloom dan kini telah datang.
Nah, sekarang soal anak atau dewasa yang dibaptis, dengan jelas pula ada contoh di Alkitab dalam kasus penyunatan keluarga Abraham. Dikatakan, ketika Abraham disunat berumur 99 tahun, dan Ismael 13 tahun. Ishak sudah pasti mengikuti peraturan yaitu 8 hari karena lahir kemudian, demikian juga dengan Yesus sebagai anak Maria dan Yusuf (Lukas 2: 21). Artinya anak-anak dibaptis itu sejalan dengan Alkitab. Namun bukan berarti dewasa tidak bisa, tapi itu tergantung pada kondisi pengenalannya akan Tuhan. Arti-nya, jika dia anak dari keluarga beriman tentu saja sejak anak-anak. Tetapi jika dia bukan dari keluarga beriman, lalu kemudian hari menerima Yesus Kristus tentu saja pada waktu itu (berapa pun usianya).


Soal pendapat bahwa anak-anak belum mengerti apa-apa, sangat tidak sejalan dengan konsep kasih karunia. Adakah orang yang mampu mengerti perjanjian kasih karunia Allah. Dan, ini juga sama dengan mengatakan bahwa ketika Allah menuntut Abraham untuk menyunatkan anak pada usia 8 hari sebagai yang salah. Karena usia 8 hari anak-anak mengerti apa? Perlu diingat bahwa ini bukan soal intelektual, atau psikologis, si anak, tetapi soal teologis yaitu kemurahan Allah kepada umat kepunyaan-Nya. Ingat pula, bukan kita yang memilih Allah tetapi Allahlah yang berinisiatif dalam perjanjian-Nya. Jadi, jika sebuah gereja membaptis anak atau dewasa dapat mempertimbangkannya dengan baik, tapi yang pasti adalah jangan melakukan baptis ulang, karena itu sama saja mengabaikan baptisan yang dilakukan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Semua baptisan formulanya kan sama, yang berbeda adalah pemahaman gerejanya. Sudah waktunya gereja bisa memilah mana yang esensial atau tidak, sehingga tidak membingungkan umat. Dibaptis itu harus, anak atau dewasa silahkan dipikirkan matang.
Sekarang soal cara baptis. Kata “baptiso” (Yunani) dalam Alkitab memiliki beberapa arti, sebagai berikut: membersihkan (Markus 7: 4, band Bilangan 19:18); membasuh (Lukas 11: 38,1 Korintus 10:1-2); memerciki (Ibrani 9:10,19,21); mencelupkan (Matius 26: 23), yang juga berarti menenggelamkan, atau selam. Jadi kata “baptiso” memiliki beberapa arti dan dipakai dalam Alkitab. Ada seorang penulis menuliskan arti kata “baptiso” dengan mengambil sebagian dan mengabaikan yang lain, ini menjadi penggelapan arti dan kurang bijaksana. Tidak jelas apakah karena memang yang dia tahu hanya itu, sehingga tindakannya tidak sengaja, entahlah. Sementara contoh baptisan yang sering dikutip adalah ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis.


Pertama harus disadari bahwa baptisan Yohanes Pembaptis berbeda dengan baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Yohanes Pembaptis membaptis dengan air dan sebagai bukti pertobatan (Matius 3:11), manusia berinisiatif. Sementara Yesus dengan kuasa Roh Kudus (tidak kelihatan, dan akan menjadi kelihatan dalam kehidupan yang benar yaitu buah Roh, (Galatia 5:22-23), dengan ritual baptisan yaitu air. Yohanes tidak membaptis dalam formula Allah Tritunggal. Sementara dalam praktek cara pembaptisan tidak jelas di sana. Dalam Matius 4:16; kata Yesus keluar dari air, sama sekali tidak menunjukkan cara, dalam bahasa Yunani memakai kata depan apo yang artinya sangat jelas, yaitu keluar dari sebuah tempat air (sungai) bukan dari air (tenggelam). Begitu pula dalam kasus sida-sida Ethiopia (Kisah 8: 38-39), tidak menunjukkan cara, karena ada yang berkata mereka keluar dari air. Jika memang begitu berarti Filipus juga telah ikut tenggelam bersama-sama.
Jadi tak satu pun kasus pembaptisan di Alkitab yang mengacu kepada caranya. Bagi saya ini mengagumkan karena menjadi ujian bagi kedewasaan umat dalam beriman. Dan sekaligus tuntutan yang tinggi untuk memahami pesan Alkitab itu sendiri, dan bukan sekadar mewarisi perbedaan di waktu lampau. Jika Anda ingin selam atau percik silahkan saja. Karena dibaptis bukan soal cara, melainkan iman kepada Allah Tri-tunggal itu, dan keterikatan kepada perjanjian kasih karunia. Hanya saja baptisan ulang jangan dipraktekkan oleh gereja sebagai tubuh Kristus. Berbahagialah anak orang beriman, karena janji itu bukan hanya untuk orang tua mereka saja melainkan juga anak-anaknya. Dan kepada setiap orang tua, ajarkanlah kepada anak-anak-mu yang sudah terikat pada perjanjian Allah, berulangkali, kapan dan di mana pun, tentang kebenaran Firman Tuhan (Ulangan 6: 4-9).

Take Me Out, Lord

Take Me Out, Lord

Bacaan : Matius 25:1-13
Alkitab Setahun : Kejadian 27-29
Diambil dari : Renungan Harian Truth Januari 2010

Para peserta realty show di salah satu stasiun tv nasional yang masih menyalakan lampunya berlomba memberikan jawaban yang sesuai dengan kehendak seorang lawan jenis yang sedang berdiri melontarkan pertayaan kepada mereka. Setiap mereka tentunya ingin dipilih oleh si lawan jenis ini, namun si penanya hanya boleh memilih satu orang saja yang paling sesuai dengan keinginan hatinya untuk menjadi pasangannya. Sebisa-bisanya peserta merangkai kalimat menjawab pertayaan si lawan jenis agar ia terpilih dan dibawa keluar dari arena realty show tersebut. Yang terpikir hanya bagaimana agar jawaban itu disukai si penanya bagaimana agar terpilih.

Di hadapan manusia, memang kita bisa memberikan jawaban yang sesuai dengan keinginan si penanya agar kita dipandang berkenan. Kita bisa tampil palsu, munafik, dan bahkan bisa berbohong. Namun tidaklah demikian ketika kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus kelak. Dihadapan- Nya kita harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan yang kita lakukan selama kita hidup (Rm.14:12). Apa yang kita tabur hari ini akan menjadi sesuatu yang harus kita tuai suatu hari, dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Itulah sebabnya kita harus terus bergumul dalam hidup ini, tetap mengerjakan keselamatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita, terus mencari kehendak Tuhan dalam hidup kita, dan melakukan kehendak-Nya dalam hidup kita sehari-hari.

Sebagian orang tidak mau tahu dan tidak peduli akan hari penghakiman tersebut, sehingga mereka hidup ceroboh seperti lima gadis yang bodoh dalam perumpamaan yang diberikan Tuhan Yesus, salah satu penyebabnya adalah karena nilai kebenaran Firman Tuhan telah didegradasi sehingga keselamatan itu kelihatannya gampang. Tuhan akan mempersilakan kita masuk dalam kemuliaan abadi bukan karena jawaban kita yang menyenangkan hati Tuhan saat itu, namun lewat iman kita kepada-Nya, yang dibuktikan dengan perbuatan kita selama kita hidup di dunia ini. Apa pun yang kita lakukan selama hidup akan berdampak pada kekekalan. Karena itu marilah kita memperthatikan bagaimana cara kita hidup: jangan seperti orang bodoh, namun kita harus berusaha mengerti dan melakukan kehendak Tuhan (Ef.5:17)
Suatu hari kelak kita dapat berseru, “Take me out, Lord,” bukan karena jawaban kita yang munafik, namun Tuhan melihat bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Dia dan beriman pada-Nya selama hidup di dunia ini.

Berjaga-jagalah dengan melakukan kehendak-Nya, sebab hari penghakiman akan segera datang.