Tuesday, March 22, 2011

Asuransi dan MLM

Apa Yang Salah Dari Asuransi Dan MLM?
Pdt. Bigman Sirait

Bapak Pengasuh, betapa senangnya jika dapat memiliki kesempatan menyampaikan kebingungan saya selama ini sebagai seorang Kristen. Saya ingin bertanya: 1)  Apakah yang harus saya lakukan sebagai seorang Kristen, ketika menerima penawaran mengikuti MLM yang selalu menggiurkan mendapat banyak peluang untuk mendapat penghasilan. Di sisi lain, bukankah hidup ini tidak semudah itu, walau kadang kebutuhan untuk segera dipenuhi sangat tinggi? 2) Mengikuti asuransi, memberi jaminan yang baik sebagai orang yang bijak untuk mengantisipasi setiap waktu yang tidak terduga, dan tidak menyulitkan orang lain, dari sisi keuangan, saat sakit atau pun meninggal. Tapi di sisi yang lain kadang itu membuat kita menjadi nyaman dan tidak terlalu menaruh penyerahan pada Tuhan yang memelihara. 3) Ada orang di sekeliling kita, yang selalu kesulitan. Ketika dia meminjam uang dia berjanji  akan mengembalikan, namun ternyata itu tidak dilakukan. Waktu berikutnya dia pun melakukan hal yang sama, dan kita merasa harus menolongnya dan dia berjanji menggantikan. Apakah ini sikap yang benar? Di sisi yang lain orang itu benar susah tapi tidak dapat menepati janjinya. Bagaimana pula menegurnya? Atau setiap pinjaman kita tidak perlu mengharapkan gantinya?
    Porni Latumenten
    Bekasi

SDR. Porni yang terkasih di  dalam Tuhan Yesus,  pertanyaan-pertanyaan yang Saudara sampaikan mari kita uraikan dengan baik untuk memperkaya logika pikir kita sesuai dengan keimanan kita.
Yang pertama soal MLM dengan tawaran yang menggiurkan. Saya pikir ini bukan soal MLM atau bukan MLM, melainkan soal sebuah penawaran kerja yang menjanjikan hasil yang besar. Adalah bijak untuk berhati-hati terhadap berbagai tawaran yang ekstra mengiurkan. Karena memang betul, mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu yang singkat bukanlah hal yang sederhana. Untuk itu saudara perlu menalar logika penawaran yang disampaikan. Produk apa yang ditawarkan, sistem apa yang diberlakukan, bagaimana dengan marketnya, dan kemungkinan untuk menciptakan transaksi. Perhatikan juga bonaviditas perusahaan yang menawarkan. Dan, yang tak kalah penting adalah ketentuan untuk bergabungnya. Karena bisa saja, apa yang saudara sebut sebagai MLM ternyata sebuah money game. Jadi harus jeli. Sudah banyak orang tertipu.
Jadi hati-hati jika diminta untuk menginvestasikan sejumlah uang. Bagimanapun juga, jika ada sebuah usaha yang bisa dengan mudah mendapatkan keuntungan besar, maka sulit membayangkan itu ditawarkan kepada umum. Jika memang betul mudah dan sangat menguntungkan pasti digarap sendiri. Sementara realita akan kebutuhan kita memang fakta yang tak terbantah, tapi juga bukan berarti cukup untuk menjadi alasan untuk segera mengiyakan. Karena jika itu suatu tawaran yang menjebak maka Saudara akan mengalami persoalan yang lebih parah. Ada sebuah slogan yang mengatakan “teliti sebelum membeli”, maka saudara juga harus menganalisis dengan seksama sebelum membuat keputusan. Alkitab juga mengajarkan pada kita azas kehati-hatian, seperti hati-hati terhadap perangkap ajaran sesat, dan yang lainnya.
Lalu soal asuransi. Seperti yang Saudara katakan, ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan, karena itu asuransi adalah sesuatu yang perlu. Tetapi Saudara juga menjadi takut karena hal itu bisa jadi seperti sebuah jaminan yang membuat kita tidak lagi terlalu menaruh harapan kepada Tuhan.
Porni yang dikasihi Tuhan, jika memang kita memang tak beriman teguh kepada Tuhan, maka pendapat saya, hal apa pun akan menjadi bumerang. Jadi ini bukan soal asuransi. Bagaimana dengan tabungan atau deposito? Atau lebih ekstrim lagi, gaji tetap yang diterima setiap bulan, apalagi jumlahnya besar, pasti bisa menciptakan comfort zone bukan? Apakah karena bisa membuat kita terjebak kenyamanan lalu kita tak usah menerima gaji? Atau jangan mau gaji besar, cukup kecil saja agar bergantung kepada Tuhan? Tidak ada korelasi langsung dalam soal ini. Tetapi ini soal bagaimana sikap Saudara terhadap materi. Uang bukan persoalan, tetapi mencintai uang itu yang persoalan. Artinya, jika uang Saudara pakai sebagai alat, maka itu akan menjadi berkat bagi sesama. Namun jika uang menjadi penjamin hidup, itu sama saja dengan menuhankan uang, dan kita menjadi budak uang. Sikap terhadap uang itulah pointnya.     Ada banyak tokoh di Alkitab Perjanjian Lama (PL) seperti Abraham, Yusuf atau Daud yang menjadi raja. Atau di dalam Perjanjian Baru (PB), seperti Yusuf Arimatea yang memilki banyak properti, Kornelius yang kepala pasukan, atau Zakeus. Begitu pula banyak yang miskin, seperti janda miskin baik di PL maupun PB. Tak ada masalah dengan kekayaan atau kemiskinan, yang masalah adalah sikap mereka. Ayub berkata,  “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil”, dan Alkitab mencatat bahwa Ayub tidak bersalah atas ucapan itu. Yang kita sorot di sini adalah kemerdekaan Ayub atas harta bendanya yang banyak. Ada dinikmati, tidak ada tidak disesali.
Jadi sekali lagi Porni yang dikasihi Tuhan, bukan soal asuransi atau tabungan, melainkan sikap kita terhadap semuanya. Asuransi itu penting sebagai back up pada realita hidup yang tak menentu, tetapi bukan jaminan atas hidup masa depan kita. Asuransi atau deposito bukan dosa. Yang dosa adalah jika menjadikan semua itu jaminan hidup, atau masa depan. Penjamin hidup kita adalah Tuhan. Tetapi kita harus tertib dalam menjalani kehidupan ini. Simpan mana yang perlu, namun jangan segan membagikan pada yang memerlukan. Ini adalah seni kehidupan tertib.
Yang terakhir, soal pinjaman yang tak dikembalikan. Membaca apa yang Saudara sampaikan saya kira harus ada pelurusan fakta dulu. Saudara katakan orang yang meminjam berniat mengembalikan tetapi kemudian hari tidak dilakukan. Lalu bahkan berikutnya meminjam lagi, alias menumpuk hutang lama. Maka dari kasus yang ada dengan mudah kita melihat tidak ada niatan untuk mengembalikan, sekalipun tekad mengembalikan diucapkan. Dan ucapan janji mengembalikanpun pada akhirnya tak lebih dari basa-basi agar pinjaman berikutnya diberikan. Jika dia orang bertanggungjawab dan benar, maka ketika hutang pertama belum terlunasi, maka dapat dipastikan dia tak akan melakukan pinjaman lagi. Karena itu kita perlu jelas terhadap kasusnya, dan perlu tegas menyikapinya.
Jadi harus diingat, kita memang punya kewajiban untuk menolong orang yang kesusahan tetapi bukan untuk membuat kesusahan (hutang tertunggak dan menumpuk). Tapi di saat yang bersamaan kita juga harus menegakkan kebenaran dengan tidak membiarkan kesalahan. Maka teguran atas ketidaksungguhan untuk mengembalikan hutang sangatlah perlu, dan sudah seharusnnya. Ini adalah bagian dari sebuah proses pendidikan agar umat hidup benar. Jadi kebenaran itu mengasihi, namun juga menegur. Jadi tak salah menegur dalam hal ini. Bahwa dia tak bisa mengembalikan karena ada kesulitan lagi, maka seharusnya dia juga tidak meminjam lagi, karena itu pasti akan makin mempersulit dirinya sendiri.
Baiklah Porni yang dikasih Tuhan, semoga jawaban-jawaban yang telah disampaikan bisa menolong saudara untk mengambil sikap yang benar. Dan kiranya dapat juga menjadi berkat bagi saudara-saudara kita pecinta Reformata yang lainnya. Tuhan memberkati.

Monday, March 21, 2011

Marah


Penulis: Ayub Yahya 
from : (Renungan Harian)
Baca: Kejadian 4:1-16
Ayat Mas:
Efesus 4:26
Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-hakim 10-12
Seorang ibu bercerita bahwa suaminya tanpa sepengetahuannya telah meminjamkan sejumlah besar uang kepada temannya. Teman suaminya itu rupanya tidak bertanggung jawab. Ia kabur begitu saja. Ibu ini jengkel sekali. Mengapa suaminya tidak memberi tahunya lebih dulu? Namun, nasi sudah menjadi bubur. Uangnya tidak bisa kembali. Lalu ibu itu bertanya, apakah sebagai orang kristiani ia boleh marah kepada suaminya?
Bagi sebagian orang, pertanyaan ibu itu mungkin terlalu sederhana. Namun itu kenyataan yang kerap terjadi, dan tidak boleh disepelekan. Sebab hal itu bisa terus mengganggu pikiran. Bolehkah seorang kristiani marah? Marah itu wajar. Hidup memang tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Orang-orang di sekitar kita juga tidak selalu berlaku seperti yang kita mau.
Sebagai orang kristiani, tidak salah apabila kita marah. Asal, marah untuk sesuatu yang tepat, dengan cara yang tepat, kepada orang yang tepat, dan di waktu yang tepat. Kerap yang menjadi masalah bukan marahnya, tetapi bagaimana dan untuk apa kita marah. Juga, jangan menyimpan kemarahan hingga menjadi dendam kesumat. Kemarahan yang disimpan justru akan merampas kebahagiaan kita—tidak ada orang yang bisa bahagia dengan terus menyimpan kemarahan dan dendam. Lebih dari itu, kemarahan yang terus disimpan hanya akan mendorong kita ke dalam jurang dosa. Peristiwa pembunuhan Habel oleh Kain, kakaknya, terjadi karena dipicu dan dipacu oleh kemarahan Kain yang terus dipendamnya, lalu dilampiaskan dengan membabi buta. Mari kita belajar mengelola amarah.

MARAH ITU TIDAK SALAH, KITA HANYA PERLU MENGELOLANYA

Monday, February 28, 2011

Berbahagialah

Matius 5 : 3-11
Ketika Yesus Mengajar atau terkenal dengan kotbah di Bukit :

1.      Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
2.      Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
3.     Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
4.      Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
5.      Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
6.     Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
7.      Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
8.      Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
9.      Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Berbahagialah orang yang membacanya dan melakukan kehendak-Nya dalam kehidupan sehari hari, Amin GBU.  


Sunday, February 20, 2011

Menghayati Kehadiran Tuhan


Oleh : Pdt.Dr. Erastus Sabdono
From: Truth Daily Enlightenment

Baca: Mazmur 24:1–2
Alkitab dalam setahun: Ayub 29–31

Sesungguhnya manusia itu tidak pernah bisa bebas. Manusia harus terikat. Masalahnya adalah terikat oleh siapa, Tuhan atau Iblis. Manusia yang mau terikat dengan Tuhan harus ada dalam kesadaran terus-menerus bahwa dirinya hidup di semesta yang diperintah oleh Tuhan.
Oleh sebab itu yang terpenting adalah mendahulukan Kerajaan Allah. Di dalamnya termasuk belajar hidup dalam penghayatan bahwa kita hidup dalam pemerintahan Tuhan yang tidak kelihatan. Karena itu kita harus peduli hukum-Nya, kehendak-Nya dan rencana-Nya agar digenapi. Memang kita belum sempurna; untuk menjadi sempurna juga tidak bisa instan; tetapi menghayati kehadiran Tuhan adalah sangat perlu agar kita dapat bertumbuh dalam kesucian-Nya. Ada beberapa hal yang akan kita alami dan rasakan bila menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup ini.
Pertama, menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup ini akan menghindarkan kita berbuat salah. Kita akan memiliki perasaan takut akan Tuhan yang sangat kuat, yang membuat kita berusaha untuk mencapai kesucian seperti yang dikehendaki oleh Bapa.
Kedua, menghayati kehadiran Tuhan akan membuat kita merasakan damai sejahtera-Nya dan terbebas dari perasaan takut, cemas, khawatir dan berbagai perasaan negatif lainnya sekalipun di bumi ini banyak bahaya yang tidak pernah kita duga. Orang yang mudah memiliki perasaan negatif umumnya kurang menghayati kehadiran Tuhan.
Ketiga, menghayati kehadiran Tuhan akan membuat hati kita selalu rindu memuliakan Tuhan. Kita tidak hanya memuliakan Tuhan sesaat pada waktu menyanyi di gereja, tetapi selalu memuliakan dan menghormati Tuhan dengan benar dalam penghayatan terus-menerus. Menghormati Tuhan berarti menyadari bahwa hanya Tuhan yang layak dihormati. Kita tidak perlu berusaha mencari penghormatan atau nilai diri dari siapa pun; maka kita pun akan bersikap rendah hati.
Keempat, menghayati kehadiran Tuhan akan mendorong kita selalu bernyala-nyala dalam pembelaan bagi Tuhan. Dalam melayani Tuhan, kita akan memiliki sikap hati yang benar; tidak melayani karena menginginkan suatu upah atau hadiah—baik materi, sanjungan, pujian atau yang lain.
Kebenaran ini tidak cukup hanya diaminkan, tetapi harus diperagakan sehingga benar-benar membuktikan bahwa kita menghayati kehadiran Tuhan. Memperagakannya akan memberikan kekuatan batin yang luar biasa dalam diri kita.
Kita harus menghayati kehadiran Tuhan agar dapat bertumbuh dalam kesucian-Nya.

Tuesday, February 8, 2011

Dunia Tanpa Yesus

Oleh : Pdt. Dr. Erastus Sabdono
From: Truth Daily Enlightenment

Februari 2011
Baca: 2 Korintus 4:3–4
Alkitab dalam setahun: Matius 27–28

Dunia hari ini dikuasai oleh semangat hidup affluenza. Istilah ini merupakan gabungan dari kata affluence (kekayaan) dan influenza (penyakit flu). Maksudnya, keadaan di mana orang memiliki keinginan tanpa batas ke mana saja—uang, harta benda, penampilan, ketenaran—kapan saja dan di mana saja, yang semakin diumbar semakin liar tak terkendali.
Itulah dunia tanpa Yesus Sang Juruselamat. Maksudnya bukan berarti tidak ada Juruselamat, melainkan karena mereka menolak penyelamatan-Nya. Semangat hidup affluenza ini mendorong manusia untuk mencari ilah zaman ini—segala sesuatu yang dicari orang tetapi menyingkirkan Allah—dan membutakan mata hati manusia, sehingga tidak melihat cahaya Injil kemuliaan Kristus.
Saat mata hati seseorang sudah buta terhadap Injil, maka tidak akan ada keselamatan atasnya, sebab Injil adalah kuasa Allah yang menyelematkan (Rm. 1:16). Tidak mungkin seseorang dapat memiliki Tuhan Yesus tanpa Injil; tetapi kalau seseorang memiliki Injil, otomatis ia memiliki Tuhan Yesus. Dalam hal ini yang penting bukan hanya pengakuan dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan, tetapi juga dengan pengertian akan Injil yang membuat seseorang mengerti kehendak Tuhan.
Dunia tanpa Yesus tidak mengherankan kita, karena Alkitab juga menyatakan banyak penduduk dunia memang sudah menolak-Nya (Yoh. 1:12-13). Tetapi mungkin kita heran, kalau di dunia ini ternyata ada orang Kristen tanpa Yesus, gereja tanpa Yesus, persekutuan tanpa Yesus, lembaga Kristen tanpa Yesus, bahkan sekolah Alkitab tanpa Yesus. Bagaimana ini bisa terjadi?
Seseorang yang mempunyai Yesus akan melakukan hal-hal yang membuat-Nya berkenan padanya. Ia tidak mungkin bersekutu dengan orang yang memberontak kepada Bapa. Dua ribu tahun yang lalu Tuhan Yesus disalibkan oleh orangorang Yahudi yang memang merindukan Mesias tetapi dibutakan oleh ilah zaman itu sehingga tidak mengenal hikmat Allah (1Kor 2:6-8). Sekarang Tuhan Yesus disalibkan kembali oleh orang-orang Kristen yang dibutakan oleh ilah zaman ini sehingga tidak mengenal hikmat Allah yang murni. Mereka menyelenggarakan kebaktian dan berbagai kegiatan gereja, tetapi sesungguhnya tidak mengerti apa yang dikehendaki Tuhan. Tuhan menginginkan Injil keselamatan yang menyelesaikan masalah dosa diberitakan, tetapi mereka mengajarkan Injil kemakmuran yang dengan semangat affluenza berusaha memanipulasi Tuhan. Itu sama dengan menolak jalan keselamatan yang ditawarkan Tuhan. Waspadalah agar tidak dibutakan.
Tidak mungkin seseorang dapat memiliki Tuhan Yesus tanpa Injil.

Sunday, February 6, 2011

Hukum Yang Bersifat Batiniah


Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono.
From : Truth Daily Enlightenment

Februari 2011
Baca: Matius 5:17–48
Alkitab dalam setahun: Matius 15–17

Pada intinya, melayani Tuhan adalah melakukan kehendak Tuhan. Melakukan kehendak Tuhan bukan hanya melakukan hukum-hukum atau peraturan-peraturan—seperti anggapan banyak orang beragama pada umumnya. Sejatinya ini adalah pola kehidupan umat Perjanjian Lama, yaitu mereka yang belum mengenal kebenaran yang diajarkan dalam Injil. Ketika seseorang hanya terpancang pada peraturan-peraturan, sebagai akibatnya ia malah tidak melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan dengan tepat.
Pada zaman Perjanjian Baru—yaitu setelah Tuhan Yesus menggenapi Taurat-Nya (ay. 17)—maka umat pilihan dipanggil untuk melakukan kehendak Tuhan bukan hanya yang tertulis secara legal formal. Hukum legal formal artinya hukum yang sesuai dengan bunyinya. Misalnya, “Jangan membunuh”, kalau diartikan secara legal formal, tentu maksudnya, “Jangan menghabisi nyawa orang lain”. Tetapi dalam Taurat yang disempurnakan oleh Tuhan Yesus, rumusannya lain; Ia mengatakan, orang yang membenci orang lain saja sudah sama dengan membunuh (ay. 21–22). Contoh lainnya, pengertian zina menurut umat Perjanjian Lama dan agama-agama pada umumnya adalah melakukan hubungan seks di luar pernikahan. Tetapi bagi umat Perjanjian baru, terbakar hawa nafsu bila melihat lawan jenis saja sudah merupakan pelanggaran zina (ay. 27–28).
Hukum Tuhan yang bersifat batiniah (menekankan sikap batiniah) ini bernilai jauh lebih tinggi daripada hukum yang tertulis, sebab kehendak Tuhan tidak bisa dirumuskan dengan kata-kata dan kalimat. Hukum yang tertulis tak mungkin dapat mewakili kehendak Tuhan yang sempurna.
Perlu diketahui bahwa dalam bacaan Alkitab kita hari ini Tuhan Yesus tidak bermaksud menyusun syariat atau hukum, tetapi hendak membuat perbandingan antara Taurat dan hukum yang disempurnakan. Dengan menyelenggarakan hidup sesuai hukum batiniah tersebut, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa umat Perjanjian Baru adalah umat yang luar biasa dalam kelakuannya, melebihi tokoh-tokoh agama pada zamannya (ay. 20).
Untuk bisa melakukan hukum yang bersifat batiniah ini, kita tidak cukup belajar butir-butir hukum yang tertulis. Kita harus mengenal kebenaran, salah satunya dengan menggali Firman-Nya. Mengenal kebenaran akan membuat kita menjadi cerdas untuk mengerti kehendak-Nya, dan dengan melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, kita melayani-Nya.
Hukum Tuhan yang bersifat batiniah
bernilai jauh lebih tinggi daripada hukum yang tertulis.

Sunday, January 23, 2011

Menghormati Tuhan


Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono
(Penulis Truth Daily Enlightenment)

21 Januari 2011
Baca: Yakobus 2:19
Alkitab dalam setahun: Kejadian 35–37
Saat upacara bendera, para peserta upacara menghormati Sang Saka Merah Putih. Tetapi penghormatan di upacara sesungguhnya baru simbolis, belum berarti seseorang telah mengabdi kepada bangsa dan negara serta menjunjung tinggi benderanya.
Misalnya, katakan seorang pegawai pemerintah menghormati bendera di upacara bendera, tetapi dalam pekerjaannya sehari-hari ia tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Bisakah ia disebut menghormati Sang Merah Putih? Bandingkan dengan para pahlawan kita, yang berjuang dengan mengorbankan harta, keluarga dan nyawa mereka demi berkibarnya Sang Merah Putih. Demikian pula dengan para atlet yang berlaga di berbagai kompetisi dunia dengan mengerahkan seluruh tenaga demi berkibarnya Sang Merah Putih. Dengan demikian jelaslah bahwa menghormati Sang Merah Putih tidak cukup dengan memberi hormat saat mengikuti upacara bendera. Harus ada tindakan nyata sebagai bukti sikap hormatnya kepada Sang Merah Putih. Lalu bagaimana sikap hormat kita terhadap Tuhan?
Salah satu ciri -ciri dari orang yang belum mengenal Tuhan dengan benar adalah sikapnya yang kurang menghormati Bapa di Surga. Kurang menghormati maksudnya tidak bersikap sebagaimana mestinya terhadap Tuhan. Banyak orang merasa telah menghormati Tuhan dengan beribadah di gereja, setalah itu dalam kehidupannya sehari-hari, ia tidak memiliki kesadaran untuk menghormati Tuhan.
Yakobus berkata, percaya kepada Allah Yang Maha Esa adalah baik, tetapi setan-setan juga percaya, bahkan mereka gemetar. Dalam teks aslinya, kata “gemetar” ditulis φρίσσω (frisō), artinya “berperasaan ngeri yang sangat”, “takut sampai bulu kuduknya berdiri”. Ini menunjukkan bahwa Iblis yang pernah mengalami kehadiran Tuhan di Surga mengerti kedahsyatan Tuhan Semesta Alam. Sesungguhnya betapa terhormatnya Tuhan itu.
Sikap hormat ini tidak bisa dibuat-buat; tidak bisa hanya ditunjukkan dengan kalimat doa atau sikap tubuh, tetapi harus dari sikap batin yang tersembunyi. Mudah untuk memberi kesan kepada orang bahwa kita menghormati Tuhan, tetapi tidak mudah untuk memiliki sikap hormat yang sesungguhnya.
Banyak orang merasa sudah menghormati Tuhan, tetapi kenyataannya tidak. Hanya Tuhan yang tahu isi hatinya; tetapi orang yang menghormati Tuhan pasti memiliki kekudusan yang sangat kuat, sehingga mampu memahami rahasia-rahasia Tuhan atau berhikmat tinggi.
Sikap hormat kepada Allah tidak bisa dibuat-buat, harus dari sikap batin yang tersembunyi.