Thursday, December 9, 2010

Orang Suka Memberi, Biasanya Bahagia


Pdt.Bigman Sirait

ALASAN memberi,
pertama, karena itu perintah Tuhan. Hal ini sudah diatur dalam perjanjian Lama (PL) sampai Perjanjian Baru (PB), sehingga muncul berbagai hal yang
memberikan indikasi yang sangat kental supaya kita memberi.
Kedua, karena kita sudah menerima apapun dari Tuhan, apa yang kita punya adalah milik Tuhan. Itu sebab kita harus memberi. Sehingga istilah “diberi untuk memberi, diberkati untuk memberkati”, ini sangat penting. Jadi, kita memberi bukan supaya menerima dari Tuhan.
Alasan ketiga, karena memang harta atau uang yang kita miliki itu diberikan Tuhan untuk memuliakan
nama-Nya. 
Alasan keempat, demi harta sorgawi. Di Alkitab ada tertulis bahwa harta yang kita simpan di dunia, akan dimakan ngengat, tetapi jika disimpan di surga, harta itu abadi. Memberi tidak sama dengan masuk surga. Tapi karena Tuhan sudah memberi, maka kita memberi, dan dengan memberi terbukti bahwa kita memang milik surga. Maka jangan berhitung dengan uang persembahan, sebab harta atau uang datang dari Dia, maka
harus dikembalikan pada Dia untuk kemuliaan nama-Nya. Jadi, alasan-alasan untuk memberi harus dipahami dalam empat prinsip di atas. Kita memberi karena memang Tuhan yang memerintahkan, bukan suka-suka kita.
Sekarang kita membahas tujuan memberi:
1) Untuk rumah Tuhan, supaya pelayanan itu berjalan. Tuhan marah kepada orang Israel yang setelah pulang dari pembuangan anteng-anteng saja. Waktu mereka habis untuk memikirkan diri sendiri. Tuhan marah karena rumah-Nya dibiarkan kosong. Tuhan tidak mau rumah-Nya diabaikan.
2) Untuk hamba Tuhan, supaya ada kesejahteraan. Tetapi kesejahteraan tidak sama dengan bertumpuk harta dan kelimpahan. Pendeta perlu punya mobil untuk pelayanan, rumah yang layak, dana untuk menyekolahkan anak. Jadi, hamba Tuhan tidak dianjurkan untuk berlebih-lebihan. Kekayaan itu mestinya karena banyak memberi, bukan karena memiliki banyak.
3) Supaya ada keseimbangan. Yang kaya tidak terlalu kaya, yang miskin tidak terlalu miskin.

Sementara, syarat-syarat memberi adalah: 
 Pertama, dengan rasa syukur mengingat berkat Tuhan. Ingat, waktu kita memberi, itu karena kita sudah menerima. Maka memberi adalah sebuah kehormatan. Adanya rasa syukur, maka kita memberi.
Kedua, memberi dengan sukarela. Karena ada kesadaran diri, maka kita memberi, dan kita melakukan itu karena relasi dengan Tuhan. Kita mestinya merasa gelisah kalau tidak memberi. Itu sebab kita harus memberi dengan penuh kerelaan untuk mewujudkan rasa syukur.
Yang ketiga, jangan memberi karena paksaan. Jangan memberi hanya karena termakan retorika pengkhotbah.
Keempat, memberi harus mendatangkan suka cita yang luar biasa. Orang yang suka memberi itu biasanya bahagia. Ketika memberi dia merasa senang, dan dengan memberi kita boleh berterimakasih kepada Tuhan.
Kelima, memberi dengan tepat. Artinya, jangan memberi mutiara kepada babi. Jangan memberi persembahan kepada gereja yang hanya memperkaya diri.

Memberi bersyarat
Orang yang memberi bersyarat adalah yang berpikir bahwa dengan memberi maka dia akan menerima berlipat ganda, tetapi bukan dalam bentuk materi, kapital atau uang. Tentang ini baca baik-baik Lukas 18: 28-30, II Korintus 9: 10. Yang akan kita terima berlipat ganda adalah dalam kualitas, bukan kuantitas. Ujungnya itu hanya kebahagiaan, membuat kita lebih mampu berbuat baik lagi. Orang Kristen harus memberi dan menerima secara elegan karena Tuhan adalah sumber berkat yang luar biasa. Kita harus mencontoh Ayub. Meski harta benda dan anak anaknya habis, dia tetap mengucap syukur, dan berkata, “Tuhan yang memberi Tuhan juga yang mengambil”. Ada pula orang memberi sebagai satu wujud iman yang benar.
Contoh, janda miskin yang memberi dua peser. Dengan memberi uang itu, janda itu tidak punya uang hari itu. 
Kemudian tentang orang Samaria yang baik hati. Dia tidak tahu siapa yang dia tolong. Dia tidak peduli meskipun gara-gara menolong orang itu bisnisnya terganggu, uang, waktu, tenaga terbuang. Lalu Dorkas si pemurah. Kematiannya diratapi semua orang karena selama hidupnya selalu memberi kepada sesama.
Memberi bisa juga sebagai wujud moral yang baik. Kisah tentang seorang perwira Roma, meski kafir tetapi suka membantu membangun rumah ibadah. 

Jadi, banyak orang kafir tercatat sebagai orang baik. Karunia Tuhan selalu dekat kepada orang yang baik. Moral baik, meski tidak beriman, selangkah lagi akan bisa berubah menjadi iman. Semoga kita orang yang beriman benar sekaligus bermoral bagus. Tuhan memberi supaya kita memberi.

Jadi jangan sombong kalau bisa memberi. Sebaiknya bersyukur jika bisa memberi, sebab itu cuma kemurahan Tuhan. Orang yang kuat dalam memberi, dia belajar bergantung pada Tuhan. Makin lepas dari keterikatan pada uang, hidup makin merdeka. Ada uang, puji Tuhan, tak ada uang puji Tuhan. Orang seperti ini luar biasa, selalu happy, tidak ada yang bisa mengganggunya. Hanya satu yang bisa ganggu dia, kalau dia jatuh dan bikin dosa. Jadi sekali lagi, memberi untuk bertambah bukan berarti bertambah duitnya menjadi 20 kali lipat dan seterusnya. Jika bertambah lipat 20 sampai 30 kali lipat, itu
berbicara tentang penabur benih dan jatuh pada tanah yang subur. Dalam hal ini, bertambah artinya mengalami perubahan: yang dulu sombong jadi baik, yang dulu pelit jadi murah hati, dan sebagainya. 
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)

Tuesday, November 30, 2010

Merasa Sudah Mengenal

Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono

01 Desember 2010
Baca: Mazmur 35:10; 86:8
Alkitab dalam setahun: Wahyu 17–19

Banyak orang Kristen dewasa ini menyerukan bahwa Allah kita tidak sama dengan allah lain. Ini didasari oleh ayat-ayat dalam Perjanjian Lama. Banyak lagu yang digubah dengan syair yang memuat pernyataan ini, dan jemaat pun menyanyikannya dengan penuh keyakinan dan kebanggaan. Para worship leader dan pengkhotbah pun sering mengucapkan kalimat bernada demikian, “Siapa seperti Allah kita? Tidak ada allah yang seperti Dia!”
Pernahkah kita persoalkan, bagaimana kita tahu bahwa Allah kita berbeda dengan allah agama lain? Apanya yang berbeda? Kita tidak bisa mengatakan di mana perbedaannya, apabila kita tidak mengenal secara mendalam Allah kita, dan mengenal pula allah agama lain.
Bagaimana mungkin seseorang berkata bahwa “suatu barang” yang ada padanya adalah sesuatu yang istimewa kalau ia tidak memahami keistimewaannya? Apalagi kalau ia berkata bahwa apa yang dimilikinya itu berbeda dengan barang lain yang sejenis, tanpa pernah mempelajari atau paling tidak mengenal barang yang sejenis tersebut. Tidakkah itu bodoh? Demikianlah, kenyataannya ada orang Kristen yang bodoh seperti itu. Dengan yakin dan bangga mereka mendeklarasikan Allah kita berbeda, tetapi pernyataan itu tanpa pengertian.
Orang Kristen yang menyatakan bahwa Allahnya berbeda dengan allah yang lain berarti menyatakan bahwa ia sudah mengenal Allah dengan benar dan memahami perbedaannya dengan allah lain. Kalau sebetulnya ia belum mengenal-Nya dengan baik, sebenarnya ini menunjukkan betapa kacaunya kehidupan imannya. Keadaan seperti ini membangun damai semu, ketenangan semu dan iman yang semu pula. Sebab kalau seseorang tidak mengenal Allah yang benar, maka keadaan batiniahnya pun pasti tidak benar.
Sungguh berbahaya kebodohan orang yang merasa sudah mengenal Allah dengan benar, padahal tidak. Ia merasa berhak menasihati, bukan dinasihati. Ia merasa tidak perlu dikoreksi oleh siapapun. Paling parah, kalau ia merasa tidak perlu belajar untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Tidak jarang mereka justru menyerang ajaran yang benar atau melawan kebenaran.
Menghadapi hal ini, mari kita terus belajar kebenaran Firman Tuhan dengan benar, agar kita mengenal Allah kita dengan benar pula. Pengenalan ini akan membuka pengertian kita terhadap perbedaan antara Allah yang kita sembah dengan allah lain.
Belajarlah kebenaran Firman Tuhan dengan benar,
agar kita mengenal Allah kita dengan benar.

Monday, November 22, 2010

Doa Bukan Suatu Kewajiban


Oleh Pdt.Bigman Sirait
 
SETIAP orang Kristen pasti tahu berdoa, terlepas dari faktor apakah yang bersangkutan tidak mau atau malu ketika diminta untuk berdoa. Namun pada dasarnya semua orang bisa berdoa dan mengetahui apa itu doa. Doa tidak bisa lepas dari hidup orang benar. Persoalannya, apakah kita mengerti makna yang sesungguhnya dari doa? Ini pertanyaan yang serius, sebab jika diminta berdoa, yang kita lakukan adalah melipat tangan, menutup mata dan berkata-kata, tetapi tidak jelas apa sebenarnya yang ada dalam benak atau hati kita.

Apakah doa? Pertama-tama kita harus ingat bahwa doa bukan sebuah kewajiban. Artinya, doa itu hukumnya tidak wajib. Doa itu bukan suatu keharusan. Membaca kalimat di atas, kemungkinan besar kita rada tersentak, karena selama ini kita semua yakin bahwa yang namanya orang Kristen harus dan wajib berdoa. Tapi saya mengatakan, doa bukan kewajiban, bukan pula keharusan! Kalau doa sebuah kewajiban, maka suka atau tidak suka kita akan selalu berdoa. Jika kita berdoa sekalipun hati tidak suka, ini sesuatu yang gawat, sebab kita munafik.
Jika kita berdoa hanya karena kewajiban: lipat tangan, tutup mata, dan berkata-kata, apakah Tuhan pasti menerima? Tidak. Tuhan berkata, “Janganlah kamu berdoa seperti orang munafik, yang mengucapkan doanya, berdiri di mana-mana, tetapi hatinya tidak tahu ke mana”. Dengan kata lain, orang-orang seperti di atas melakukan doa hanya sebagai kewajiban ritual kekristenan. Bukan itu doa yang dimaui Tuhan.

Jika doa suatu keharusan, berarti ada unsur terpaksa. Jika doa hanya suatu kewajiban, maka ada peluang orang berdoa dengan hati yang terpaksa, bukan dengan hati rela. Jadi, doa adalah sebuah kebutuhan yang ada pada diri setiap manusia. Orang percaya diberikan kerinduan itu oleh Tuhan. Orang percaya selalu punya kehausan: butuh akan Allah. Sama seperti kita butuh makan, tidak perlu diajari untuk itu. Bayi yang belum bisa ngomong tahu minta makan, dengan menangis. Tangisan itu secara otomatis akan timbul jika sang bayi merasa lapar. Semakin dia dewasa, dia tidak perlu menangis lagi. Kalau lapar, dia cari makan sendiri. Makan adalah suatu kebutuhan yang tidak perlu diajarkan. Makan adalah suatu kebutuhan yang dilakukan dengan kerelaan, wong kita memang butuh kok. Tetapi kalau makan suatu kewajiban, celakalah kita. Kita tidak enjoy, tidak tenang, karena terpaksa. Tetapi karena makan sebuah kebutuhan, kita pun menikmatinya. Maka doa adalah sebuah kebutuhan bagi orang percaya, yang tidak bisa tidak harus ada. Doa harus ada. Tanpa doa kita tidak mungkin hidup. Tanpa doa kita akan mati.
Doa adalah sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi, yang harus kita lakukan. Dan suatu
kebutuhan tidak pernah dilakukan dengan terpaksa. Kebutuhan dilakukan dengan sikap enjoy, menyenangkan. Bahkan kebutuhan itu akan kita cari sendiri. Kalau kita sadar doa adalah suatu kebutuhan, pasti kita tidak akan pernah berhenti berdoa, bukan? Kita akan sangat suka berdoa dan melakukannya dengan penuh sukacita, bukan karena terpaksa. Doa bukan pula suatu tradisi, yang dilakukan karena memang sudah begitu dari dulu. Misalnya doa pada waktu makan bersama keluarga di rumah. Kenapa kita berdoa sebelum makan? Untuk bersyukur. Tapi, jika kita makan permen atau minum teh botol di kantin misalnya, apakah kita berdoa? Kalau memang berdoa adalah mengucap syukur karena ada makanan, apakah permen bukan makanan? Jawabannya bisa menjadi sangat ironis dan lucu. Sebenarnya, kalau mau jujur banyak di antara kita berdoa waktu makan karena tradisi, bukan suatu kesadaran. Tetapi kalau betul-betul mau mengucap syukur, apa pun yang kita makan atau minum, harus lebih dahulu mengucapkan syukur. Jika sedang makan di restoran atau pinggir jalan, mungkin kita tidak perlu melipat tangan, tapi paling tidak bisa mengatakan, “Terimakasih Tuhan untuk permen ini.”
Doa juga bukanlah perilaku kristiani, sebab semua penganut agama melakukannya, sebagai kewajiban. Jika kita sebagai orang Kristen berdoa hanya karena kewajiban, lalu apa bedanya kita dengan mereka? Jadi, doa bukanlah perilaku kristiani yang harus kita lakukan karena kita Kristen. Tetapi doa adalah sebuah kehidupan.

Doa itu merupakan warna dominan dari perjalanan hidup orang Kristen. Mengapa? Karena yang
pertama tadi, doa adalah sebuah kebutuhan, yang harus dipenuhi. Mungkin, saat melipat tangan, tutup mata, dan berkata-kata, kita menganggap kalau kita sedang berdoa, namun sebenarnya tidak, sebab Tuhan tidak mendengar suara hati, kecuali suara mulut kita. Jika sudah demikian, kita akhirnya terjebak pada konsep yang salah. Ingat, doa bukan sekadar susunan kata yang indah, panjang dan puitis. Kalau suara mulut berbeda dengan suara hati, kita tidak sedang berdoa, tapi sedang berbasabasi, dan mencoba menipu Tuhan dengan kalimat-kalimat indah. Apakah Tuhan senang? Tidak. Kita harus selalu berhati-hati karena Tuhan tahu isi hati kita.

Doa juga bukan suatu mantera yang jika diucapkan berkali-kali akan terwujud. Banyak orang Kristen membuat doa seperti mantera, menekankan apa yang dia mau, bukan yang Tuhan mau. Jika doa menjadi semacam mantera, si pendoa menjadi seperti dukun yang membaca-baca mantera. Doa bukan kata-kata magis. Doa adalah ungkapan hati yang murni dari seorang anak Tuhan yang menyuarakan suara hati lewat mulut, yang tidak berbeda antara apa yang diucapkan dengan yang terkandung di dalam hatinya.

Puasa Bukan Ibadah


Oleh : Pdt.Bigman Sirait

Puasa – suatu aktivitas menghindari makanan dan minuman dalam jangka waktu tertentu, dikenal pada hampir semua agama. Pertengahan bulan ini misalnya, umat Islam memasuki bulan Ramadhan, saat di mana mereka menunaikan salah satu kewajiban agamanya: berpuasa sebulan penuh. Selama menjalankan ibadah agama itu, mereka harus mengekang segala hawa nafsu dari mulai matahari terbit hingga terbenam. Artinya
mereka tidak boleh makan-minum-merokok-melakukan kontak badan (bagi suami-istri), bahkan mengumbar emosi.
Bagaimana pemahaman puasa dalam kekristenan? Dalam Perjanjian Lama (PL) puasa dianggap sebagai wujud penyesalan, pengakuan dosa, perkabungan, dan pola hidup saleh. Namun dalam Perjanjian Baru (PB), puasa seperti ini dinilai sebagai paradigma lama. Puasa dalam PB dimulai oleh Yesus di padang gurun selama empat puluh hari empat puluh malam. Tetapi dalam Matius 4 dikatakan, Yesus dibawa oleh Roh ke padang
gurun untuk dicobai Iblis. Yesus berpuasa bukan untuk menunjukkan hidupnya yang saleh, bukan pula sebagai wujud penyesalan, juga bukan untuk perkabungan atau pengakuan dosa. Usai berpuasa, Dia mulai dicobai oleh iblis. Tetapi perhatikan, Yesus berhasil mengatasi godaan-godaan iblis itu bukan karena Dia berpuasa, tetapi karena Dia selalu memakai firman Allah untuk menjawab tantangan iblis. Firman Allah-lah yang
memenangkan Yesus, bukan puasanya. Yesus menjawab godaan iblis dengan firman Allah. Contoh, pada waktu iblis mengatakan, “Bukankah Engkau anak Allah? Perintahkanlah batu-batu ini supaya menjadi roti.” (Iblis tahu, saat itu Yesus lapar setelah berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam.) Tetapi apa jawab Yesus? “Ada tertulis, manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari
mulut Allah.” 
Jadi – sekali lagi – bukan karena puasa maka Yesus menang atas godaan, tetapi karena dia memakai firman Allah. Dalam Kisah Para Rasul 13 diungkapkan bagaimana para rasul berpuasa. Ayat 2
berbunyi demikian: Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus… (Perhatikan kalimat: ‘pada waktu mereka beribadah dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus…’). Jadi Roh Kudus datang dan bicara pada waktu mereka ibadah dan puasa. Tetapi bukan karena mereka puasa menyebabkan ibadah mereka menjadi lebih kuat sehingga Roh Kudus datang, tetapi Roh Kudus mau datang dalam kondisi mereka berdoa dan berpuasa. Yesus mengkritik orang Parisi yang berpuasa, karena yang dikehendaki Dia bukan puasanya tetapi sikap hati.
Mengapa sikap hati menjadi penting? Karena memang sikap hati menjadi kunci daripada ibadah. Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan seluruh hidup/diri kepada Tuhan. Dalam pasal 13 tadi ibadah dan puasa itu mempunyai dua penekanan yang lain: beribadah dan berpuasa. Artinya, puasa bukan sebagai ibadah. Berpantang kawin, berpantang makan, dalam rangka melatih diri supaya lebih suci dan murni, adalah ajaran asketis. Rasul Paulus mengatakan, latihan badani terbatas gunanya. Latihan badani di sini mengacu pada apa yang disebut dengan puasa tadi. Puasa adalah suatu latihan badani, supaya bisa mengendalikan emosi misalnya. Dan aktivitas pelatihan diri seperti itu memang sedang terjadi pada jemaat pada waktu itu. Orang-orang penganut ajaran asketis itu sangat menekankan pada prinsip-prinsip seperti itu, dan mereka adalah orang-orang Yahudi yang mempertahankan paradigma lama dari puasa, dibawa kepada konsep PB. Sehingga Paulus mengatakan bukan itu tujuannya, tetapi ibadah: ibadah yang berpusat kepada Kristus! Jadi Paulus tidak pernah menempatkan puasa lebih penting daripada ibadah atau doa, bahkan dia melihat puasa itu sebagai latihan badani yang terbatas gunanya. 

Kalau ada pertanyaan: Bolehkan berpuasa? Jawabnya, tentu saja boleh. Sebab puasa itu merupakan suatu latihan badani yang cukup baik. Puasa melatih mengendalikan emosi. Tetapi yang perlu dimengerti, puasa tidak pernah bisa menentukan kualitas iman seseorang, karena kualitas iman ditentukan oleh hubungan pribadi dengan Tuhan. Puasa tidak pernah menentukan kekuatan doa kita, karena kekuatan doa ditentukan oleh sikap kita kepada Tuhan. 

Jadi, bedakan antara puasa dengan ibadah. Puasa hanya merupakan suatu latihan badani yang baik, yang mungkin bisa menolong. Tetapi awas, jangan jadikan itu ukuran tingkat kerohanian. Itulah puasa dengan paradigma baru yang diajarkan Alkitab. Doa jauh lebih penting dibanding puasa, bukan sebaliknya. Doa tidak bergantung pada puasa. Itulah sebabnya para rasul banyak membicarakan dan mengajarkan hal berdoa, tetapi
tidak pernah mereka mengajarkan berpuasa. Mereka memang menunjukkan bahwa mereka berpuasa, tetapi tidak pernah mengajarkan atau menganjurkan untuk berpuasa, yang mereka ajarkan adalah berdoa. Yesus sendiri mengajarkan ‘Doa Bapak Kami’. Tetapi Dia mengkritik orang-orang Parisi yang berpuasa.
Bolehkah menggabungkan doa dengan puasa? Boleh, tetapi harus diingat, tidak berarti dengan berpuasa maka doa menjadi lebih ampuh, tetapi sikap hati, itulah yang menentukan. Yakobus 5:16 mengatakan antara lain:…Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Bukan: doa orang yang berpuasa itu besar kuasanya. Puasa dengan paradigma baru memang perlu kita pahami, supaya orang jangan salah mengerti tentang kekristenan. Sebab tidak sedikit orang Kristen berpuasa menurut/meniru cara-cara agama lain. Ini jelas keliru, sebab memang konsep Injil tentang puasa bukan seperti itu. 

Jadi kalau mau berpuasa, lakukanlah sesuai dengan yang dikatakan Alkitab, dengan paradigma baru.Puasa adalah suatu latihan badani yang bisa saja cocok bagi seseorang, tetapi belum tentu cocok untuk orang lain. Puasa bukan suatu keharusan. Alangkah baiknya memang, kalau Anda bisa berpuasa. Sebaliknya, janganlah menilai orang yang tidak berpuasa karena sakit maag dan sebagainya sebagai kurang rohani, dan kurang baik.Dan jangan memaksakan diri berpuasa seakan-akan itu hal yang sangat penting, padahal Anda sebenarnya tidak rela. Jangan berpuasa hanya karena tuntutan hidup yang suci, sampai menahan lapar, yang bisa membuat Anda malah menjadi batu sandungan, bukan lagi menjadi berkat. Jangan ulangi kesalahan orang-orang Parisi yang sampai dikritik oleh Yesus.

Friday, November 19, 2010

TIPU DAYA KEKAYAAN


 Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono

Selain kekhawatiran Tuhan Yesus menjelaskan bahwa semak duri adalah tipu daya kekayaan. Mengapa kekayaan dianggap semak duri? Dalam 1 Tim.6:9-10 dijelaskan bahwa karena ingin kaya, orang akan menghalalkan segala cara, tidak tulus, dan penuh kepentingan sendiri, jadi tipu daya kekayaan merupakan semak duri, sebab hasrat ingin kaya sangat efektif untuk menggeser fokus kita dari pencarian Firman kepada hal-hal duniawi.
Tipu daya kekayaan sejajar dengan semak duri yang dikatakan bertumbuh tinggi , sebab pola pikir bahwa jadi orang kaya itu enak, menyenangkan dan patut dipertahankan adalah pola pikir yang bertumbuh. Contohnya, seorang anak yang belum pernah kedunia fantasi (Dufan) di Jakarta dan sangat ingin kesana, akan memimpikan Dufan dan bahkan  tidak bisa tidur apabila keesokan harinya ia akan pergi ke sana. Bila ia sakit, ia akan berusaha sembuh. Bila ia dijanjikan orangtuanya pergi ke Dufan jika nilai ulangannya bagus, padahal nilai ulangannya jelek, ia akan berusaha keras untuk bernilai tinggi. Dan ketika sudah pernah ke Dufan, anak tersebut  masih ingin pergi lagi, sebab ia belum puas dengan wahana –wahana disana. Kemudian  dia akan minta ke Taman Mini, Taman Safari,  pulau Sentosa di Singapura, bahkan Disneyland untuk mengulang kenikmatan yang dia rasakan di Dufan.
Ketika kita ganti Dufan dengan gaji besar,  mobil mewah, rumah megah, istri cantik, fasilitas bintang lima dan kehidupan lainnya, itu semua adalah tipu daya, sebab kenikmatannya tidak pernah memuaskan, harus diulangi dan ditambah. Karena otak kita adalah otak manusia abad ke.21, maka cukup canggihlah kita untuk berlindung di balik semua pembenaran agar tidak dianggap salah. Namun sebenarnya itu masih berkaitan langsung dengan warisan pola pikir nenek moyang kita. Lalu apa masalahnya sehingga ini menyebabkan kebenaran tidak berbuah?  Ini suatu kondisi  yang lama-lama menyedot seluruh perhatian kita, sampai kita sudah tidak mampu lagi berpikir sesuai Firman bahwa  penyelengaraan  hidup yang tidak sesuai kehendak Tuhan adalah menjijikan bagi-Nya, dan bahwa kekayaan dan fasilitas hidup adalah kesia-siaan apabila kita tidak mau diubah oleh kebenaran Injil.
Jadi berhati-hatilah, karena sekalipun tidak datang ke gereja dan mengaku kristen, artinya tetap hidup sebagai tanaman, namun kita bisa tidak berbuah akibat terhimpit dan terbonsai oleh pertumbuhan oleh pertumbuhan kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan. Tanggalkan itu semua dan fokuskan hati kita hanya kepada Kerajaan Surga, agar kita bisa berbuah.
Hati-hati dengan tipu daya kekayaan yang dapat menggeser fokus kita kepada hal-hal duniawi.

Wednesday, November 10, 2010

Berdoa Dalam Gelimang Dosa




Oleh : Pdt. Bigman Sirait
(artikel from : Reformata.com)

Reformata.com - APAKAH setiap doa akan  dijawab? Jawabannya bisa  bervariasi, tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa sikap hati kita sudah merupakan jawaban atas doa kita. Artinya, sikap hati yang buruk maka jawaban hati buruk. Sebaliknya sikap hati yang benar maka jawabannya pun pasti benar. Kalau begitu bagaimana jawaban-jawaban atas doa kita? Dalam  Yesaya 59: 1-2 dikatakan bahwa sesungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pende-ngaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar...
Allah mengerti dan tahu semua, tetapi tidak mau mendengarkan doa karena kejahatan yang dilakukan oleh manusia, hidup dalam gelimang dosa. Kita mau datang kepada Tuhan tetapi tidak mengampuni orang yang berdosa kepada kita, bagaimana Tuhan mau memperhatikan doa kita? Karena itu, ketika kita berdoa kita perlu mengakui dulu dosa-dosa kita. Sebelum berdoa kita perlu membereskan sikap hidup kita, periksa baik-baik. Bagaimana kita berdoa kalau dosa-dosa kita tidak mau kita akui? Tuhan tutup kuping, sehingga tidak ada dialog, yang ada monolog, pernyataan Saudara dalam doa.
Kalau kita berdoa dengan benar kita pasti mengalami perubahan. Tetapi kita tidak berubah meski  selalu menaikkan doa di dalam gelimang dosa. Kita selalu menaikkan doa tetapi dalam kejahatan yang kita lakukan. Kita tidak pernah mau membereskan persoalan dosa kita dengan Tuhan. Kita memang paling ngotot supaya Tuhan jawab doa kita. Kita tidak mau melihat seperti apa maunya Tuhan. Kita kecewa sama Tuhan, kalau Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita. Tetapi kita tidak pernah mau bertaya apakah kita juga mau melakukan kehendak-Nya?
Apakah doa akan dijawab? Pertama, Tuhan tidak akan mendengarkan doamu karena kejahatan dan dosa-dosamu. Maka kau perlu mengakui dosa-dosamu supaya ada dialog dengan Tuhan. Kalau tidak, doamu cuma monolog, tidak tahu siapa yang mendengarnya.
Jawaban kedua adalah: tidak. Kau sudah minta ini dan itu kepada Tuhan berulang-ulang, tetapi tidak dikabulkan karena kau meminta untuk kepuasan dirimu. Kau meminta bukan untuk kemuliaan Tuhan. Dalam hal seperti ini kita harus hati-hati sekali, itu sebab kita jangan membuka peluang dalam doa kita jika hanya untuk memuaskan diri kita sendiri (baca Yakobus 4: 3).     
Jadi jangan pikir, sekali berdoa pasti dijawab Tuhan, kalau tidak dijawab kau ngambek. Anda boleh ngambek dan tinggalkan Tuhan, silakan. Kemuliaan Tuhan tidak berkurang. Kalau DIA mau mencintai kita, itu  luar biasa sekali. Itu kerelaan yang hebat, kasih yang sangat dahsyat. Jadi hati-hati di dalam doa. jangan pikir kalau Saudara punya peranan penting di sana. Tuhan yang penting. Belajarlah dari DIA, senangkanlah hati-Nya, karena DIA adalah puncak doa.
Yang ketiga, kita sudah berdoa tetapi Tuhan bilang “tunggu”. Bisa saja Tuhan menjawab langsung saat itu juga. Tapi Tuhan menyuruh kita menunggu sebagai proses pembentukan kita. Bagaimana kita ini ketika diuji Tuhan, lulus enggak? Tunggunya berapa lama? Itu terserah Tuhan. Tetapi satu hal yang perlu kita ketahui adalah halangan apa pun yang ada, itu dalam kuasa Tuhan. Halangan itu Tuhan ijinkan sehingga jawaban atas doa kita diberikan tepat pada waktunya. Dengan menunggu, iman kita makin teruji dan makin kokoh. Bahkan dalam bersikap terhadap jawaban-jawaban Tuhan kita mesti matang dan dewasa. Jangan kekanak-kanakan, jangan memaksakan kehendak kepada Tuhan. Tuhan tahu apa yang Anda pinta, bahkan sebelum kita minta pun Tuhan sudah mengerti. Mengapa bikin Tuhan seperti tidak mengerti apa-apa? Jadi kita mesti besabar.
Kita mestinya belajar untuk mengiyakan apa yang Tuhan rencanakan. lalu berkata, “Ya Tuhan tolong mampukan kami”. Dengan berserah seperti ini dalam hidup yang penuh krisis  pun kita berjalan bersama Tuhan. Apa yang terjadi Tuhan tahu kok, Tuhan kan tidak pernah salah. Jika saat ini terjadi beragam aksi penganiayaan terhadap umat Tuhan,  itu bukan karena Tuhan sedang dikadali atau dipecundangi oleh orang lain. Tuhan mampu mengendalikan semua, tetapi kita harus belajar. Kenapa itu terjadi, dan kita berkata, “Tuhan Kau tahu mengapa ini terjadi, dan kami tidak tahu, tetapi beri kami pengertian untuk menanggung supaya kami tidak salah di hadapan-Mu”. Begitu mestinya doa kita, sehingga hidup kita menjadi hidup yang benar di hadapan-Nya.

Doa orang benar besar khasiatnya
Yang terakhir, jawaban doa adalah: ya. Dalam Yakobus 5: 16 dikatakan doa orang benar itu besar khasiatnya. Artinya, doa itu akan dijawab “ya”, dan diberikan kepada kita apa yang kita minta karena dinaikkan dengan sikap hati yang benar dan meminta yang benar. Kadang-kadang memang menjadi doa yang unik juga ketika kita bilang begini: “bukan kehendakku tetapi kehendak-MU-lah yang jadi”.  Bila kita mendoakan yang sakit supaya sembuh, itu kehendak kita atau kehendak Tuhan? Kita biasanya bilang itu kehendak Tuhan. Rasul Paulus sakit. Duri dalam dagingnya tidak bisa dicabut, sampai Paulus bilang, “Cukuplah kasih karunia-Mu”. Karena itulah yang dikatakan Tuhan kepadanya “Cukuplah kasih karunia-KU bagimu”. Timotius sakit pencernaan, pasti sudah didoakan Paulus, tetapi disuruh minum anggur. Artinya, di dalam doa yang benar harus dengan cara yang benar konsep yang benar.    
Akhirnya kalau kita berdoa yang benar itu, dan dijawab oleh Tuhan, kita tidak perlu besar kepala, dan lantas mengklaim diri spesialis doa orang sakit. Kalau orang yang Anda doakan sembuh dari sakitnya, itu anugerah Allah. Kata kuncinya: Bukan kehendakku, kehendak-MU-lah yang jadi. Berarti yang jadi kehendak Tuhan kan? Jadi jangan klaim diri Anda sebagai spesialis doa orang sakit.
Karena itu, mari kita berdoa dengan tepat dengan benar supaya boleh menyenangkan hati Tuhan dan akhirnya kita mengerti bagaimana DIA memuaskan hasrat hidupmu dan engkau boleh berkata dalam pengalaman hidupmu, “Sungguh Tuhan hidup dalam hidupku”. Amen.v
 (Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P Tan)

Tuesday, October 26, 2010

Nishmath Khayyim


Nishmath Khayyim
Oleh : Pdt.Dr.Erastus Sabdono

Baca : Kejadian 2:7; Galatia 5: 16-26
Alkitab dalam setahun : Matius 18-17
Tuhan menciptakan manusia dengan cara unik dan sungguh luar biasa.  Setelah membentuk tubuh manusia secara fisik, Ia menghembuskan nafas  hidup ke dalam hidungnya.  Ini suatu misteri kehidupan yang harus kita pahami, sebab pemahaman atas hal ini akan sangat mempengaruhi kualitas hidup kekristenan kita. Tanpa mengerti kebenaran ini, orang percaya tidak memiliki arah yang benar dalam proses pemulihan gambar Allah yang sudah rusak dalam kehidupan setiap individu.
Apakah arti hembusan (yippakh) dari Allah itu? Kalau manusia menghembuskan nafas, ia perlu menghirup udara terlebih dahulu , tetapi tentu tidak demikian dengan Allah. Kalau Allah menghembuskan sesuatu, pastilah ada sesuatu yang keluar dari diri-Nya. Pkh.12:7 mengatakan , “Debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya”, dan Ibr.12:19 mengatakan bahwa Allah ialah Bapa segala roh. Maka pastilah yang dihembuskan Allah adalah roh dari-Nya, yang dikaruniakan-Nya kepada manusia.
Kata “nafas hidup” dalam teks aslinya adalah (Nishmath Khayyim). Yang menarik disini, untuk kata “hidup” digunakan bentuk jamak yaitu Khayyim, bukan bentuk tunggalnya, khay. Ini menunjukan bahwa di dalam diri manusia  ada lebih dari satu komponen kehidupan, yaitu roh dari Allah dan nyawa manusia itu sendiri , yang bertalian dengan panca indra dan keinginan daging.
Seandainya manusia tidak menerima hembusan nafas Allah, bisakah manusia menjadi mahluk yang bernyawa? Mengapa tidak bisa? Bukankah hewan diciptakan Tuhan tanpa dihembusi nafas-Nya, namun tetap menjadi mahluk hidup yang bernyawa? Bisa dibayangkan seandainya manusia tidak menerima hembusan nafas Allah, manusia menjadi binatang yang cantik dan ganteng. Fisiknya manusia tapi karakternya tidak berbeda jauh dengan hewan.
Maka kita melihat perbedaan yang sangat mencolok antara manusia dengan hewan. Manusia menerima hembusan nafas Allah, sedangkan hewan tidak. Manusia  memiliki roh, tetapi Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja, tidak. Dengan penjelasan ini kita mengerti mengapa Paulus berbicara mengenai keinginan daging dan keinginan roh (Gal. 5:16-26). Keinginan daging bertalian dengan nyawa manusia , sementara keinginan roh bertalalian dengan roh yang dikaruniakan Allah.  Jadi kalau manusia hanya menuruti keinginan dagingnya, tidak ada bedanya dengan hewan.  Padahal manusia adalah mahkota dari ciptaan Allah, jadi kualitas hidupnya harus jauh lebih tinggi daripada hewan.
Keinginan daging bertalian dengan nyawa manusia, sementara keinginan roh bertalian dengan roh yang dikaruniakan Allah.

Friday, October 22, 2010

TIDAK TERIKAT

TIDAK TERIKAT

Oleh : Pdt.Dr. Erastus Sabdono

Melpaskan keterikatan adalah persoalan hati, bukan  persoalan  fisik.
Sebagai mana kita tidak boleh terikat dengan Tuhan hanya pada waktu di gereja, demikian pula kita tidak boleh tidak terikat dengan dunia hanya pada waktu di kebaktian. Ketidakterikatan dengan dunia bukan karena kita tidak menjadi pengusaha, ketertidakterikatan dengan dunia bukan karena kita sedang beribadah di gedung gereja ; tetapi ketidakterikatan dengan dunia harus menjadi prinsip kita di segala tempat di sepanjang jam waktu hidup kita. Jika seseorang memiliki  kesempatan untuk terikat dengan sesuatu tetapi ia menolaknya, berarti  ia serius untuk tidak terikat dengan ikatan lain selain dengan Tuhan.
Kalau di agama-agama lain diajarkan bahwa untuk menjadi orang suci, seseorang harus meninggalkan kesibukan dunia , menyepi dan bertapa untuk dapat menyatu  dengan Tuhan. Seperti  konsep “Manunggaling kawula Gusti”  yang terkenal itu. Pengaruh ini ternyata masuk juga ke dalam kekristenan, sehingga orang menganggap, jika seseorang mau terus hidup dalam  persekutuan dengan Tuhan, dan hendak memiliki hubungan yang khusus dengan Tuhan, maka ia harus rajin datang ke kebaktian, bahkan supaya lebih sempurna lagi, meninggalkan pekerjaan sekuler dan menjadi pendeta. Ini konsep yang salah; sebab bagaimana Anda dapat dikatakan  perenang hebat, kalau hanya berenang di kolam sendiri dan tidak pernah bertanding ? Bagaimana Anda dapat dikatakan sebagai suami yang setia kalau tidak pernah diperhadapkan dengan wanita cantik yang bukan istri Anda? Bagaimana Anda dapat membuktikan diri sebagai orang yang mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu. Kalau Anda tidak pernah berkesempatan meraih kenikmatan dunia, gelar, kekuasaan nama besar, nama baik yang dapat kita raih? Bagaimana Anda dapat dikatakan puasa, kalau memang Anda di gurun pasir dan di sekitar Anda memang tidak ada makanan dan minuman? 
Berarti terhindar dari segala keterikatan bukan berarti menyingkirkan diri dari dunia, tetapi apakah kita mau mengusahakannya .  Apakah kita mau meninggalkan keterikatan, berani menularkannya dengan kekayaan kerajaan Surga seperti perumpamaan yang di ceritakan Yesus? Melepaskan keterikatan adalah persoalan hati, bukan persoalan fisik atau apa yang kelihatan di mata manusia.
Kekeristenan kita memuaskan hati Tuhan kalau kita dapat menjadi satu Roh dengan Dia. Ini sebuah harta yang lebih dari segala kekayaan dan harta yang dapat kita miliki. Ini masalah batin. Itulah sebabnya kekristenan tidak hanya bagian dari hidup kita tetapi seluruh kehidupan kita.

Wednesday, October 13, 2010

Kehilangan Kesempatan


Kehilangan Kesempatan
Bacaan hari ini: 2 Samuel 18:33-19:8
Ayat mas hari ini:
2 Samuel 19:7
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 43-44; 1 Tesalonika 2
Patrick Beckert adalah atlet speed skating asal Jerman di Olimpiade Musim Dingin, Februari 2010 di Vancouver, Kanada. Pada babak penyisihan, Beckert hanya berada di posisi ke-4, sehingga gagal masuk ke babak final. Ia begitu kecewa, sehingga memutuskan untuk pergi meninggalkan base camp-nya dan mematikan telepon selularnya. Tidak disangka, Enrico Fabis, atlet Italia pemegang dua medali emas, menarik diri dari pertandingan final karena cedera. Maka, terbukalah peluang untuk Beckert bertanding di babak final. Akan tetapi, karena tidak bisa dihubungi, Beckert pun akhirnya kehilangan kesempatan berharga yang diimpi-impikannya itu.
Kesedihan mendalam juga dialami Daud ketika mendengar kabar kematian Absalom, anaknya yang memberontak. Ia sungguh berduka, sehingga ia menarik diri dari tentaranya yang telah berjuang untuknya. Untunglah Yoab mengingatkan Daud tentang apa yang masih dimiliki dan layak disyukurinya (ayat 5,6), sehingga Daud pun tidak terus larut dalam kesedihan dan terhindar dari kehilangan yang lebih besar lagi, yaitu orang-orang yang setia kepadanya (ayat 7,8).
Dalam menjalani kehidupan ini, kita pun bisa saja mengalami kekecewaan; ketika harapan tidak terwujud, atau apa yang kita idam-idamkan hilang lenyap. Dalam situasi demikian, yang perlu selalu kita ingat adalah: jangan tenggelam dan berlarut-larut dengan kesedihan. Selain tidak akan menyelesaikan masalah, itu bisa mengundang kehilangan yang lain; mungkin kesempatan berharga, sahabat, atau bahkan kesehatan. Dan yang pasti, kita akan kehilangan rasa syukur atas apa yang ada. Sayang sekali, bukan?
KECEWA BERLARUT BISA MENGHANYUTKAN
KESEMPATAN DI DEPAN MATA

Penulis:
Ayub Yahya

Tuesday, October 5, 2010

Berpikir Benar agar Berlaku Benar

Berpikir Benar agar Berlaku Benar
Oleh : Pdt.DR. Erastus Sabdono


Pikiran itu berjalan sekian langkah mendahului. Pikiran menunjukkan identitas sejati seseorang, sekaligus menuntun langkahnya ke depan. Yang dimaksud pikiran di sini bukan sekadar pikiran yang muncul secara mendadak, tetapi lebih bermakna pola pikir. Karenanya jangan anggap enteng apalagi remeh teologi.
Teologi adalah kerangka pikir yang dilandasi oleh kesaksian Alkitab, baik yang jelas tersurat maupun yang secara sekilas tersirat. Menampik berteologi pada galibnya sama halnya menampik untuk berpikir benar, agar berlaku dan bersikap benar. Sayangnya, malahan banyak orang percaya yang fobia terhadap theologi. Atau paling tidak merasa hal itu tidaklah terlalu urgen bagi kehidupan keberimanan kepada Kristus. Namun disadari atau tidak, justru sikap semacam inilah yang akhirnya menjerumuskan gereja Tuhan ke jurang kesesatan.
Untuk itulah edisi TRUTH kali ini kami ketengahkan satu topik bahasan, Bahaya Ateologi. Mungkin kata ateologi terasa sangat asing atau bahkan janggal, sebab istilah ini jarang digunakan. Pada lembar-lembar awal yang akan pembaca simak, kami sajikan penjelasan arti ateologi. Dari situ kami berangkat menuju kepada pokok bahasan utamanya, untuk mengungkap adanya bahaya sebagai akibat suatu penyikapan yang kurang bertanggung jawab atas hidup keberimanan gereja.
Tanpa mengurangi arti anugerah, bahwasanya keselamatan menuntut penyikapan yang bertanggung jawab dan dewasa. Kalau Alkitab dengan tegas dan jelas memerintahkan gereja untuk bertanggung jawab atas pengharapan—yang juga bermakna keimanan—alasan apa lagi yang hendak dibuat orang untuk melalaikan tugas agung ini?
Di sini dampak ateologi bukan sekadar tak mampu menjawab tuntutan pertanggungjawaban atas keimanan gereja, tetapi juga melahirkan dekadensi moral dan degradasi nilai-nilai gereja Tuhan.
Untuk itulah edisi kali ini kami unggah untuk menyuluhi keberadaan umat Tuhan, agar terhenyak dari lelap berkepanjangan akan tanggung jawabnya menjadi umat yang dipanggil untuk hidup dalam kebenaran. Tiada kehidupan yang benar tanpa pemahaman yang benar atas makna dan nilai-nilai kehidupan yang benar, dan tidak ada kebenaran murni yang lahir di luar Kitab Suci, maka dengan tegas kami nyatakan, menggali kebenaran Kitab Suci adalah harga mati. Mari berpikir benar agar berlaku benar, seusai menyadari adanya bahaya ateologi.
Dapatkan Majalah TRUTH Edisi 20, “Bahaya Ateologi” dengan menghubungi:
Rehobot Literature
Gedung Roxy Square Lt. 3, Jl. Kyai Tapa No. 1
Jakarta 11450
Indonesia
Telepon: +62-21-5695 4546 ext. 30, +62-21-68 70 7000, 08 7878 70 7000
Email: info@truth-media.com

Monday, September 6, 2010

Video kotbah Pdt .Dr.Erastus Sabdono

Shalom,



Mari kita awali minggu ini dengan Firman Tuhan... saksikan video khotbah Pdt. Dr. Erastus Sabdono "Harta yang Sesungguhnya" di YouTube:

Bagian 1
http://www.youtube.com/watch?v=bdt-qFdDCeU

Bagian 2
http://www.youtube.com/watch?v=nkHqI8xe97Y

Sampaikan kepada keluarga dan teman-teman.... Tuhan memberkati.
Thanks Buat Pak Eras dan Pak Mark yang sudah share video ini. Tuhan Yesus Memberkati.

Monday, August 30, 2010

Bersyukur PadaMu

Bersyukur PadaMu

Cipt. Tertius Denny S.B

Bersyukur padaMu itu kesukaanku
Karna ku mau slalu bersyukur
Bersyukur padaMu itu kerinduanku
Karna ku mau slalu bersyukur


Reff : Ku tahu Engkaulah Tuhan penyelamatku
Ditangan Mu ada perlindungan Mu
Ku tahu Engkaulah yang menolong hidupku
Setiap waktu
Ku mau slalu bersyukur




Note : Lagu tersebut dinyanyikan oleh Soedarsono dalam Album vol.2 “Bersyukur” Produksi Solagracia Record.

Friday, August 27, 2010

Mati adalah Keuntungan


Mati adalah Keuntungan
Bacaan hari ini: Filipi 1:21-24
Ayat mas hari ini:
Filipi 1:21
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 120-122; 1 Korintus 9
Coyote adalah sejenis serigala yang berkembang biak sangat pesat di Amerika bagian utara. Para petani di sana memiliki pandangan yang berbeda terha­dap binatang itu. Sebagian memandang coyote sebagai binatang perusak, karena menjadi ancaman bagi hewan peliharaan, seperti kucing dan anjing. Sebagian lagi me­­­mandang coyote sebagai binatang yang bermanfaat, karena dapat melin­dungi ta­nam­an dari hama tikus dan he­wan pe­nge­rat lainnya.
Begitulah, satu hal atau keadaan da­pat dilihat dari dua sisi yang berbeda; sisi terang dan sisi kelam. Demikian juga hal kematian. Pada satu sisi kematian bisa di­lihat sebagai peristiwa kelam. Karena itu, orang akan berduka jika mengetahui saat menghadapi kematiannya mendekat. Akan tetapi, dari sisi iman, ke­matian juga bisa dilihat secara optimis. Itulah yang dilakukan oleh Paulus. Ia sedang berada di penjara, dan ia dapat merasakan betul, bahwa kematiannya tidak akan lama lagi. Namun sebaliknya, dari­pa­da berduka dan patah arang, Paulus justru menghadapinya de­ngan penuh pengharapan. “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,” demikian ia menulis (ayat 21).
Kita suatu saat, cepat atau lambat, akan diperhadapkan pa­da kenyataan ini—atau mungkin sekarang kita tengah mengha­dapi­nya, bahwa hidup kita di dunia tidak akan lama lagi. Dalam situasi demikian, marilah kita berpegang pada iman dan pengharapan kita di dalam Kristus, sehingga kita dapat menghadapinya dengan tetap tenang, tidak kehilangan sukacita. Kita dapat menyongsong saat-saat kematian yang mendekat dengan hati lapang dan kepala tegak.
DI DALAM KRISTUS KITA HADAPI KEMATIAN DENGAN SENYUM

Penulis:
Ayub Yahya